www.lpmalkalam.com- Kelompok 6 kru magang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe melaksanakan ziarah ke makam Sultan Malikussaleh di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara pada Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan ziarah tersebut diikuti oleh kru magang LPM Al-Kalam, sejumlah siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 2 Bireuen, serta peziarah dari Kabupaten Nagan Raya. Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan pemaparan sejarah makam oleh Abidon selaku penjaga sekaligus pemandu. Para pengunjung turut diberi kesempatan mengambil air yang telah didoakan sesuai dengan kepercayaan dan hajat masing-masing.
Abidon menceritakan kondisi kompleks makam saat tsunami melanda Aceh pada 2004. Menurutnya, desa tersebut porak-poranda akibat bencana, tetapi kompleks makam Sultan Malikussaleh tidak terdampak meskipun ketinggian air mencapai tiga meter.
“Dari peristiwa ini, bisa disimpulkan bahwa jangankan manusia, alam pun seolah turut menyayangi makam Sultan Malikussaleh,” ujarnya.
Abidon turut mengisahkan sejumlah tokoh penting yang pernah mengunjungi Kerajaan Samudera Pasai, di antaranya Laksamana Cheng Ho, utusan dari Tiongkok, dan Ibnu Battutah, penjelajah sekaligus ulama besar asal Maroko.
Sultan Malikussaleh memiliki nama asli Meurah Silu. Berdasarkan pemaparan Abidon, ia merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Samudera Pasai, salah satu kerajaan Islam awal di Nusantara. Setelah memeluk agama Islam, Meurah Silu menggunakan gelar Sultan Malik al-Saleh yang bermakna raja yang saleh. Ia memerintah pada 1267–1297 Masehi.
Kompleks pemakaman tersebut turut menyimpan makam putra Sultan Malikussaleh, yakni Sultan Mahmud Malik az-Zahir, serta sejumlah kerabat dan sahabatnya.
Abidon berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap pelestarian makam Sultan Malikussaleh melalui upaya pemugaran.
“Kami berharap pemerintah dapat melakukan pemugaran terhadap makam ini supaya pengunjung yang datang merasa senang melihat kondisi makam, seperti makam sultan-sultan di Pulau Jawa, misalnya,” jelasnya.









