![]() |
| Foto: IST |
HEADLINE
08 Agustus 2026
Ketika Merdeka Belum Sepenuhnya Terasa
Gamer Berpeluang Meraih Beasiswa Kuliah di Luar Negeri hingga US$15.000
![]() |
| Foto: Website University of Silicon Valley (USV) |
Setiap kategori memiliki dua tingkatan, yakni Legendary Tier dan Mastery Tier, yang penentuannya bergantung pada tingkat pencapaian yang berhasil diraih pelamar dalam game pilihannya.
Terkait besaran bantuan dana, USV menjelaskan bahwa nominal beasiswa akan disesuaikan dengan tingkatan yang diraih, ditambah hasil evaluasi esai serta kesiapan akademis masing-masing pelamar. Penerima pada Legendary Tier berpeluang memperoleh beasiswa hingga US$15.000 per tahun atau setara dengan US$5.000 per semester. Sementara itu, penerima pada Mastery Tier berpeluang memperoleh bantuan hingga US$7.500 per tahun atau setara dengan US$2.500 per semester.
Dalam keterangannya, pihak USV menyebut beasiswa ini sebagai bentuk apresiasi terhadap penguasaan, ketekunan, dan kemampuan berpikir sistematis yang ditunjukkan mahasiswa melalui pencapaian-pencapaian langka dan sulit di dunia game. Menurut USV, kualitas tersebut tidak jauh berbeda dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk meraih keunggulan akademis, mulai dari disiplin berlatih, kemampuan memecahkan masalah secara strategis, hingga semangat untuk mencapai penguasaan di atas standar minimum.
USV ingin menegaskan bahwa "penguasaan" dapat hadir dalam berbagai bentuk. Ketekunan, kemampuan berpikir sistematis, dan kreativitas dalam memecahkan masalah, meskipun diasah melalui layar dan controller, dinilai sebagai keterampilan kognitif yang sama pentingnya dengan kemampuan yang mendorong lahirnya inovasi, jiwa kewirausahaan, dan keunggulan di berbagai bidang.
Menurut pihak USV, kemampuan yang telah dibuktikan melalui game dapat menjadi bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Reporter: M. Rahul Gonzales
Editor: Redaksi
07 Agustus 2026
22 Mahasiswa MPI UIN Sultanah Nahrasiyah Lulus Jalur Non-Skripsi, Publikasi Tembus Jurnal Sinta 2, 3, dan 4
![]() |
| Foto: IST |
Proses penyelesaian studi melalui jalur non-skripsi diawali dengan penyusunan artikel ilmiah yang dibimbing oleh satu dosen pembimbing untuk setiap mahasiswa. Artikel yang telah dinyatakan layak dan berhasil diterbitkan pada jurnal nasional terakreditasi kemudian menjadi syarat utama untuk mengikuti sidang non-skripsi. Selain melengkapi seluruh persyaratan akademik, mahasiswa juga diwajibkan memperoleh surat keterangan kelayakan artikel dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe sebagai bukti bahwa artikel telah memenuhi ketentuan akademik.
Sidang non-skripsi dilaksanakan secara bertahap, mulai 24 Juni, 15 Juli, dan 28 Juli 2026, menyesuaikan kesiapan masing-masing mahasiswa dalam menyelesaikan seluruh tahapan administrasi dan akademik.
Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Sofyan Arianto, mengungkapkan rasa syukur sekaligus kebanggaannya atas keberhasilan mahasiswa MPI yang menyelesaikan studi melalui jalur publikasi ilmiah sebagai pengganti skripsi. "Tentu ini menjadi rasa syukur sekaligus kebanggaan karena 22 mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) berhasil menyelesaikan studi melalui jalur publikasi ilmiah sebagai pengganti skripsi. Capaian ini menunjukkan kemampuan mereka dalam menghasilkan penelitian yang memenuhi standar publikasi ilmiah. Prosesnya pun tidak mudah, mulai dari penyusunan penelitian, revisi, hingga pendampingan dosen pembimbing sampai artikel tersebut berhasil diterbitkan," ujarnya.
Sofyan berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain pada tahun-tahun berikutnya untuk terus meningkatkan kemampuan akademik melalui penelitian dan publikasi ilmiah. "Jalur publikasi tidak hanya menjadi alternatif penyelesaian studi, tetapi juga memperluas manfaat hasil penelitian mahasiswa. Kami juga mengapresiasi kepada seluruh dosen pembimbing atas dedikasinya dalam mendampingi mahasiswa hingga tahap publikasi," tutupnya.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Muhammad Anggung Manumanoso Prasetyo, juga mengapresiasi capaian 22 mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam yang telah berhasil menyelesaikan studi melalui jalur non-skripsi dengan publikasi pada jurnal terakreditasi. Menurutnya, prestasi tersebut tidak hanya menunjukkan keberhasilan dari sisi jumlah mahasiswa yang lulus, tetapi juga kualitas publikasi yang dihasilkan. "Alhamdulillah, prestasi yang dicapai mahasiswa MPI bukan sekadar kuantitas melainkan kualitas, karena beberapa terbit di Sinta 2 dan 3. Pencapaian ini tentu tidak terlepas dari kerja kolektif dosen pembimbing dan dosen prodi yang sejak mereka semester awal ditanamkan kesadaran akademik. Nilai-nilai yang tumbuh membentuk kompetensi kemudian menumbuhkan kepercayaan diri untuk mengambil jalur artikel," ujarnya.
Anggung menambahkan, budaya akademik yang dibangun secara berkelanjutan telah membentuk kompetensi mahasiswa sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri untuk memilih jalur publikasi ilmiah sebagai alternatif penyelesaian studi. “Harapan kami prestasi ini dipertahankan bahwa menulis adalah sarana dakwah yang efektif untuk menyebarkan kebaikan karena tidak terbatas tempat dan waktu. Sekali lagi selamat kepada mahasiswa yang telah berani mengambil tantangan selamat berkompetisi dan semoga sukses," tutupnya.
Dari 22 mahasiswa yang dinyatakan lulus melalui jalur non-skripsi, satu mahasiswa berhasil menerbitkan artikel pada jurnal Sinta 2, dua mahasiswa pada jurnal Sinta 3, dan 17 mahasiswa pada jurnal Sinta 4.
Mahasiswa yang menerbitkan artikel pada jurnal Sinta 2 ialah Muhammad Syahru. Sementara itu, mahasiswa yang berhasil mempublikasikan artikel pada jurnal Sinta 3 yaitu, Amila Shaliha dan M. Syukri Rizki Hamdalah. Adapun mahasiswa yang artikelnya terbit pada jurnal Sinta 4 yaitu, Cut Maulinda Juniar, Dini Tri Cahyati, Dinnisa Naurah Yasmine, Eliza Yanti, Ika Juliana Panjaitan, Intan Humairah, Jumaizatul Zuhra, M. Aditya Prayoga, M. Dhuha Masyhuri, Maulida Annisa Lubis, Nakasiani, Nur Amalia, Nurfitah Zahara, Nurul Azkiani, Rauzatul Aqsha, Revi Safitri, Tanty Rizky Soripada, Putri Syawalina, dan Gita Prameswari.
Capaian tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi ilmiah. Selain menjadi salah satu syarat penyelesaian studi, publikasi pada jurnal terakreditasi juga menjadi wujud kontribusi mahasiswa dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta mendukung peningkatan reputasi akademik UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe di tingkat nasional.
Penulis: Ririn Dayanti Harahap
Editor: Chalisa Najla Safira
Logat sebagai Identitas Pemuda Aceh
![]() |
| Foto: Pixabay |
06 Agustus 2026
Produksi Game Fisik Dihentikan, Sony Tetap Berjalan Walau Banyak Gamer yang Menolak
Di atas kertas, argumen Sony terdengar masuk akal. Data internal perusahaan menunjukkan bahwa disk fisik hanya menyumbang sekitar 3 persen dari total pendapatan gaming PlayStation, turun drastis dari 6 persen pada 2020, saat PlayStation 5 pertama kali dirilis dengan disc drive. Dari sudut pandang bisnis, mempertahankan lini produksi untuk segmen sekecil itu memang sulit untuk dijustifikasi.
Namun, reaksi komunitas menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal angka. Petisi Don't Kill the Disc yang digagas oleh peritel independen PNP Games telah mengumpulkan lebih dari 330 ribu tanda tangan. Argumen utamanya ialah bahwa tanpa disk fisik, gamer kehilangan hak untuk menjual kembali, meminjamkan, atau benar-benar memiliki game yang mereka beli.
Sebagian gamer bahkan menggalang aksi yang lebih konkret melalui boikot selama sepekan bertajuk PSBlackout pada 23–30 Agustus. Mereka mengajak pengguna PlayStation untuk tidak login, bermain, maupun berbelanja di platform Sony selama periode tersebut.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Seorang pengguna Reddit menceritakan pengalamannya ketika koneksi internet di rumahnya mati selama beberapa hari. Ia sama sekali tidak dapat memainkan game digital yang dimilikinya karena PlayStation 5 menolak memverifikasi lisensi digital tanpa koneksi internet. Padahal, ketika masih menggunakan disk fisik, koleksi game-nya tetap dapat dimainkan meskipun listrik atau internet padam dalam waktu yang lama.
Persoalan tersebut menyentuh inti kekhawatiran banyak gamer, yakni mengenai preservasi game, ketergantungan pada server yang sewaktu-waktu dapat dihentikan, serta hilangnya rasa memiliki karena "membeli" game pada praktiknya hanya berarti membeli lisensi akses.
Menariknya, Sony tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengubah keputusannya. Dalam earnings call, Chief Financial Officer (CFO) Sony, Lin Tao, menyatakan bahwa pihaknya akan cautiously move this forward, atau tetap melanjutkan kebijakan tersebut secara bertahap. Ia juga mengakui memahami keterikatan emosional para gamer terhadap media fisik. Pernyataan itu terdengar empatik, tetapi pesan utamanya tetap sama: keputusan tersebut tidak akan dibatalkan.
Di sinilah letak dilema sesungguhnya. Sony memiliki hak untuk mengejar efisiensi bisnis, dan tren digital memang tidak dapat dimungkiri. Namun, gamer juga memiliki hak untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya mereka beli ketika menekan tombol "Beli" hanya menghasilkan lisensi yang sewaktu-waktu dapat dicabut.
Pertanyaannya bukan lagi apakah era disk fisik akan berakhir karena tampaknya hal itu memang tak terelakkan melainkan apakah industri game bersedia memberikan jaminan kepemilikan yang layak di dunia yang serba digital. Ataukah kita hanya akan menerima kenyataan bahwa "membeli" game pada akhirnya berarti menyewa akses untuk selamanya?
Penulis: Muhammad Rahul Gonzales
Editor: Chalisa Najla Safira
05 Agustus 2026
Halaman yang Tak Pernah Selesai
![]() |
| Foto: Pixels |
www.lpmalkalam.com- Rintik hujan turun ketika Aluna masuk ke sebuah toko buku kecil di sudut jalan. Ia tidak benar-benar ingin membeli buku, hanya mencari tempat berteduh.
Tangannya berhenti di rak sastra. Seperti dulu, tanpa sadar ia membuka halaman terakhir sebuah novel sebelum kembali ke halaman pertama.
"Masih curang ternyata."
Aluna membeku. Suara itu terlalu ia kenal.
Ia menoleh perlahan.
Aksa berdiri beberapa langkah di belakangnya, membawa sebuah buku yang bahkan belum sempat ia lihat judulnya.
Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.
"Lama ya," bisik Aluna pelan.
"Lima tahun."
"Kamu masih ngitung?"
"Ga sengaja," ujar Aksa sambil tersenyum kecil.
Aluna ikut tersenyum canggung.
Rasanya aneh.
Dulu mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa kehabisan bahan obrolan. Sekarang, memulai percakapan saja rasanya seperti sedang belajar mengenal satu sama lain dari awal.
Hening kembali menghampiri, hanya terdengar suara hujan yang mengetuk kaca dan langkah pelan beberapa pengunjung yang berlalu di antara rak-rak buku.
Tak lama kemudian, pemilik toko mengganti musik yang sejak tadi diputar. Petikan gitar memenuhi ruangan, disusul lagu "Dunia yang Nanti" milik Raim Laode.
Aluna refleks menoleh ke arah speaker.
Aksa tersenyum kecil.
"Masih sering denger lagu itu?"
Aluna menggeleng pelan.
"Ga sesering dulu."
"Padahal dulu setiap pulang, lagu ini ga pernah ketinggalan."
"Soalnya waktu itu aku percaya... kalau ga semua perpisahan berarti selesai."
Aksa mengangguk pelan.
"Dulu aku juga percaya begitu."
Beberapa detik berlalu.
"Aku sempat lama ga denger lagu itu," ujar Aksa kembali.
Aluna menoleh, "Kenapa?"
Aksa mengembuskan napas pelan.
"Setiap kali diputar, rasanya kayak ditarik balik ke masa itu lagi."
Aluna mengangguk kecil seolah mengerti.
"Aku juga pernah sengaja ngelewatin kalau lagu itu muncul."
"Kalo sekarang?"
"Sekarang udah bisa didengerin."
"Karena udah ikhlas?"
Aluna tersenyum tipis sambil menggeleng.
"Ga juga. Mungkin... karena sekarang aku udah mulai ngerti."
Aksa terdiam beberapa saat.
"Aku kira cuma aku yang butuh waktu lama."
Aluna menatap buku yang masih ada di tangannya.
"Ternyata kita sama-sama cuma lagi belajar buat nerima."
Tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Mereka sama-sama tahu mengapa dulu memilih berpisah. Karena saat itu, hidup meminta mereka mengejar arah yang berbeda.
Di luar, hujan mulai reda.
Aksa melihat jam di tangannya.
"Aku duluan ya."
Aluna mengangguk.
"Hati-hati."
"Kamu juga."
Aksa melangkah menuju pintu.
Maka kudoakan kisah kita satu... di dunia yang nanti...
Sesaat sebelum keluar, tepat setelah lirik terakhir terputar, Aksa menoleh sebentar.
Aluna membalas dengan anggukan dan senyum kecil.
Lalu pintu toko kembali tertutup.
Lima tahun ternyata belum cukup untuk menghapus ingatan tentang sebuah lagu, juga tentang dua orang yang pernah percaya bahwa mereka akan sampai di tujuan yang sama.
Sore itu, di antara rak-rak buku, aroma kertas yang mulai lembap karena hujan, dan lagu yang dulu selalu mereka putar dalam perjalanan pulang, Aluna akhirnya memahami sesuatu.
Tidak semua "nanti" berarti terlambat.
Kadang, "nanti" hanyalah cara semesta memberi waktu agar dua orang bisa tumbuh tanpa harus saling menunggu.
Penulis: Chalisa Najla Safira
Editor: Zahratul
04 Agustus 2026
Bingung
Datang diam tanpa pernah diminta
Sayang terlalu kentara terlihat
Cinta terasa gengsi diucapkan
Nyaman hadir di dalam sanubari
Waspada tetap selalu menyapa
Kini kupaham apa yang terjadi
Kita berdua sama sama bingung
Kita berjalan tanpa arah pasti
Saling mendekat lalu makin jauh
Seolah hati sedang mencari arti
Namun gengsi membuat kita bisu
Mungkin kau bingung seperti diriku
Mungkin kau takut berharap jauh
Mengapa takdir memainkan rasa
Membuat hati semakin terdiam
Kita sama sama menyimpan tanya
Namun tak satu pun berani bicara
Saling nyaman namun tak menyatu
Sama-sama bingung menuju mana
Penulis: Amanda Zuhra
Editor: Chalisa Najla Safira
Mahasiswa KPM Mandiri UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Saksikan Tradisi Tepung Tawar di Desa Penampen
![]() |
| Foto: IST |
03 Agustus 2026
Penyelenggaraan Pesta Adat Karo di Jambur Desa Penampen sebagai Wujud Pelestarian Budaya
![]() |
| Foto: IST |
Mengenai Saya
- LPM AL-KALAM
- Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.









