Portal Berita Al-Kalam

Romantisisme di KKN Era Digital, Ketika Pengabdian Kabur menjadi Hasrat Viral

Foto: Pixabay www.lpmalkalam.com- Perkembangan teknologi membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan manusia. Mulai dari informasi ya...

HEADLINE

Latest Post

24 Juli 2026

Romantisisme di KKN Era Digital, Ketika Pengabdian Kabur menjadi Hasrat Viral

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Perkembangan teknologi membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan manusia. Mulai dari informasi yang dapat tersebar dengan cepat, komunikasi yang berjalan dengan lancar, dan jarak bukan menjadi penghalang untuk saling berinteraksi. Namun di balik itu, perkembangan teknologi memunculkan sebuah persoalan sosial yang nyata, yaitu kaburnya esensi pengabdian. Ternyata, kemajuan teknologi tidak diiringi dengan meningkatnya ketulusan kepedulian antarsesama.

Fenomena ini bisa dilihat dari maraknya pembuatan konten keseharian Kuliah Kerja Nyata (KKN) di media sosial, pamer drama interaksi antar teman satu tim, hingga banyaknya mahasiswa yang berlomba-lomba menciptakan citra romantis dengan warga desa demi meningkatkan popularitas. Bahkan saat menjalankan program kerja bersama rekan kelompok atau saat membantu warga di lokasi penempatan, kebanyakan mahasiswa justru lebih sibuk mengatur sudut kamera dan membuat video estetik daripada benar-benar bekerja sama secara solid atau mendengarkan keresahan masyarakat setempat.

Video atau momen kedekatan bersama rekan KKN maupun warga tersebut kemudian diunggah ke media sosial demi mendapatkan penonton tanpa memikirkan perasaan orang-orang di sekitar yang dijadikan objek konten. Ini menunjukkan bahwa nilai pengabdian telah bergeser oleh keinginan untuk menjadi yang pertama mengunggah kejadian dan mendapatkan banyak respon dari warganet.

Kebiasaan seperti ini sangatlah memprihatinkan. Perkembangan teknologi memang memudahkan seseorang untuk mendapatkan dokumentasi suatu peristiwa, tetapi tidak semua peristiwa layak untuk dijadikan konten. Dalam keadaan pengabdian masyarakat, yang seharusnya menjadi prioritas utama adalah kerja sama tim dan manfaat bagi manusia. Jika tidak mampu memberikan kontribusi secara langsung, setidaknya teknologi bisa digunakan untuk mendukung kebutuhan kelompok atau dikoordinasikan dengan pihak berwenang.

Penggunaan teknologi untuk mencari popularitas instan di tengah kegiatan sosial juga merupakan hal yang seharusnya tidak dilakukan apalagi dinormalisasikan. Kedua hal ini dapat menjadi bukti nyata penyalahgunaan teknologi yang mengakibatkan hilangnya esensi pengabdian. Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk sarana membantu sesama, bukan malah digunakan untuk mengejar popularitas di atas penderitaan atau kesederhanaan orang lain. Jangan sampai perkembangan teknologi malah mengurangi nilai-nilai kemanusiaan. Karena sebenarnya pengabdian tidak diukur dari jumlah tayangan atau komentar orang-orang, melainkan dari tindakan nyata yang kita lakukan ketika masyarakat membutuhkan bantuan.


Penulis: Ilham Dwi Temas Miwa 

Editor: Chalisa Najla Safira

Negeri yang Kucari

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Di layar kaca, wajah-wajah berjanji

Kata-kata manis mengalir tanpa henti

Namun di jalan, keringat masih membasahi

Harga terus naik, upah seakan tak berarti


Aku mendengar kisah pembangunan megah, 

Gedung-gedung menjulang, jalan tol terbentang

Namun, di sudut-sudut kota yang tak tersentuh

Masih ada perut lapar menunggu uluran


Masih ada harapan yang belum bertumbuh

Media ramai, tagar datang silih berganti

Suara rakyat perlahan tenggelam sendiri

Yang bertanya kerap dipandang curiga


Yang memilih diam justru dipuji adanya

Lalu, di manakah ruang untuk menyampaikan suara?

Namun aku masih percaya pada negeri ini

Pada anak-anak muda yang tak lelah berdiri


Pada tangan-tangan kecil yang terus bekerja

Merajut harapan di tengah luka yang tersisa

Sebab negeri ini belum kehilangan cahaya

Bukan karena semuanya telah sempurna


Melainkan karena kita belum menyerah

Negeri ini bukan hanya milik mereka yang berkuasa

Tetapi juga milik kita

Yang terus menjaga harapan dan asa


Penulis: Razwa Syuib

Editor: Chalisa Najla Safira

Di Balik Nama "Sejahtra": Harapan, Doa, atau Beban?

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Namaku Sejahtra. Sebuah nama yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang begitu besar. Sejak lahir, namaku adalah doa. Doa agar aku hidup dalam kesejahteraan, kebahagiaan, keberkahan, dan mampu membawa manfaat bagi orang lain.

Namun, seiring bertambahnya usia, aku mulai bertanya-tanya. Apakah nama ini hanya sebuah harapan, atau justru menjadi beban?

Hidupku tidak selalu berjalan seperti arti namaku. Aku pernah menghadapi banyak kesulitan, tekanan, kegagalan, rasa lelah, dan masa-masa ketika aku merasa jauh dari kata "sejahtera." Ada hari-hari ketika aku mempertanyakan diri sendiri: mengapa seseorang yang bernama Sejahtra justru harus melalui begitu banyak ujian?

Lalu, aku menyadari sesuatu.

Mungkin orang tuaku tidak sedang menamai siapa aku saat itu. Mereka sedang mendoakan siapa aku akan menjadi.

Nama bukanlah cerminan keadaan hari ini. Nama adalah arah perjalanan.

Karena itu, aku memilih untuk terus belajar. Aku menulis, mengikuti perlombaan, aktif berorganisasi, mencoba hal-hal baru, dan tidak berhenti berkembang. Setiap langkah kecil menjadi cara untuk mendekatkan diriku pada makna nama yang telah diberikan sejak lahir.

Hari ini, ketika aku dipercaya menjadi Google Student Ambassador, aku merasa perjalanan itu mulai menemukan maknanya. Amanah ini bukan sekadar gelar, tetapi pengingat bahwa aku harus menjadi pribadi yang mampu membawa manfaat melalui teknologi, pendidikan, dan inovasi.

Menjadi Google Student Ambassador membuatku percaya bahwa kesejahteraan bukan hanya tentang memiliki banyak hal. Sejahtera adalah ketika ilmu yang dimiliki bisa dibagikan, kesempatan yang diterima bisa membuka jalan bagi orang lain, dan setiap pencapaian menjadi alasan untuk terus rendah hati.

Kini, aku tidak lagi bertanya apakah namaku adalah harapan, doa, atau beban.

Aku percaya namaku adalah ketiganya.

Harapan yang ditanamkan oleh orang tuaku.

Doa yang terus menyertaiku di setiap langkah.

Dan beban yang berubah menjadi tanggung jawab untuk terus bertumbuh.

Aku mungkin belum sepenuhnya menjadi "Sejahtra." Masih banyak mimpi yang ingin kuraih dan tantangan yang harus kulewati. Tetapi, setiap hari aku berusaha sedikit demi sedikit agar hidupku benar-benar mencerminkan namaku.

Karena pada akhirnya, seseorang tidak dikenang karena nama yang ia miliki, melainkan karena bagaimana ia memberi makna pada nama itu.

Dan aku memilih untuk menjadikan "Sejahtra" bukan sekadar nama, melainkan tujuan hidup.


Penulis: Sejahtera

Editor: Redaksi

23 Juli 2026

188 Mahasiswa UIN SUNA Lhokseumawe Resmi Dilepas dalam Program KPM Mandiri Tematik Ekoteologi

Foto: Putri Ruqaiyah
www.lpmalkalam.com- Pelepasan mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe Tahun 2026 melalui Program KPM Mandiri Tematik Ekoteologi berlangsung di halaman Biro UIN SUNA Lhokseumawe pada Kamis (23/7/2026) pukul 08.45–10.00 WIB.

Sebanyak 188 mahasiswa dinyatakan lulus setelah mengikuti proses wawancara yang mencakup penilaian program kerja, koordinasi dengan geuchik, serta kekompakan tim. Para peserta selanjutnya dibagi ke dalam 19 kelompok untuk melaksanakan pengabdian di lokasi yang telah ditentukan.

Taufiq selaku Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyampaikan bahwa Program KPM Mandiri Tematik Ekoteologi merupakan program Kementerian Agama yang berfokus pada penguatan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan.

“Mahasiswa ditugaskan untuk memetakan berbagai persoalan yang berkaitan dengan ekoteologi, seperti pengelolaan sampah agar dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai guna. Hal inilah yang ingin digaungkan kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurut Taufiq pelaksanaan KPM Mandiri tahun ini diharapkan mampu mengidentifikasi hasil observasi di lapangan, menemukan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, serta menawarkan program kerja yang tepat dan dapat diimplementasikan dengan baik.

Ia juga berharap KPM Mandiri dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk menempuh pendidikan, meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan sebagai sarana mengubah kehidupan, serta menunjukkan bahwa Islam memiliki konsep yang relevan dan berkelanjutan dalam menjawab isu-isu lingkungan, khususnya di wilayah minoritas Muslim.


Penulis: Rizky Ramadhani

Editor: Redaksi

22 Juli 2026

Petani Menanam Bibit Padi di Sawah Desa Tanjung Baroh

Foto: Bellivia A-Kamariana
www.lpmalkalam.com- Seorang petani tampak membungkukkan badan saat menanam bibit padi di area persawahan Desa Tanjung Baroh, Kecamatan Samudera Pase pada Selasa (21/07/2026). 

Aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses penanaman padi yang dilakukan sebagai tahap awal masa tanam. Meski harus bekerja di tengah genangan air dan di bawah terik matahari, petani tetap menjalankan pekerjaannya dengan penuh ketelitian agar bibit padi dapat tumbuh dengan baik. Hamparan sawah yang membentang luas mencerminkan semangat dan kerja keras para petani dalam menjaga keberlangsungan produksi pertanian sebagai salah satu sumber pangan masyarakat.


Penulis: Bellivia Al-Kamariana

Editor: Chalisa Najla Safira

Gempa Berkekuatan Magnitudo 5,6 Guncang Gayo Lues pada Rabu Siang

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang Kabupaten Gayo Lues, Aceh, pada Rabu (22/07/2026) pukul 11.18 WIB.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di darat sekitar 41 kilometer timur laut Kabupaten Gayo Lues, tepatnya pada koordinat 4,03° LU dan 97,62° BT.

Guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah dengan intensitas berbeda berdasarkan skala Modified Mercalli Intensity (MMI), yaitu V MMI di Gayo Lues; III–IV MMI di Aceh Barat Daya; III MMI di Aceh Selatan, Medan, Sibolga, dan Deli Serdang; II–III MMI di Lhokseumawe; serta II MMI di Langsa.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi gempa susulan. "Hati-hati terhadap gempa bumi susulan yang mungkin terjadi," demikian imbauan BMKG. Informasi ini berdasarkan data resmi BMKG yang diperbarui pada Rabu (22/07/2026) pukul 11.23 WIB.


Penulis: Muhammad Rahul Gonzales

Editor: Redaksi

21 Juli 2026

Semangat Pekebun di Tengah Teriknya Hari

Foto: Bellivia Al-Kamariana
www.lpmalkalam.com- Seorang pekebun terlihat sedang membersihkan lahan di sebuah kebun milik warga pada Kamis (16/07/2026). Dengan menggunakan cangkul, ia tetap bekerja merawat tanaman sekaligus membersihkan rumput liar agar tanaman tetap terjaga dan tumbuh dengan baik. Pekerjaan yang dilakukannya setiap hari ini menjadi bukti bahwa setiap hasil panen yang dinikmati masyarakat lahir dari kerja keras, kesabaran, dan semangat para pekebun yang tidak pernah lelah mengolah tanah demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan masyarakat.


Penulis: Bellivia Al-Kamariana

Editor: Chalisa Najla Safira

Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe Gelar Webinar Internasional Peringati 20 Tahun Berdiri

Foto: Zahratul
www.lpmalkalam.com- Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe menyelenggarakan webinar internasional dalam rangka memperingati hari jadi ke-20 sekolah dengan mengusung tema Perspectives on Sukma Bangsa School: Two Decades of Transformative Education, Collaboration, and Global Citizenship pada Selasa (21/07/2026).

Kegiatan diawali dengan registrasi peserta di lobi Sekolah Sukma Bangsa, kemudian dibuka oleh pembawa acara dan dilanjutkan dengan pemutaran film yang mengulas perjalanan Sekolah Sukma Bangsa selama dua dekade.

Ketua Sukma Foundation, Lestari Moerdijat, menyampaikan sambutan bertajuk Twenty Years of Sekolah Sukma Bangsa: Nurturing Hope, Humanizing Education. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Rektor Sukma Foundation, Ahmad Baidhowi AR.

Webinar ini menghadirkan sejumlah pakar pendidikan dari berbagai negara, yakni Eero Ropo dari Tampere University, Finlandia; Tahir Shad dari Washington College, Amerika Serikat; Yuji Uesugi dari Waseda University, Jepang; serta Jean Greyling dan Ryan Le Roux dari LEVA Foundation, Afrika Selatan.

Selain pemateri internasional, kegiatan ini juga menghadirkan sesi Expert Respondent: Indonesian Perspectives yang diisi oleh Komaruddin Hidayat dan Ahmad Humam Hamid dari Universitas Syiah Kuala. Sementara itu, sesi Expert Respondent: Aceh Perspectives menghadirkan Iryana Muhammad dari Universitas Malikussaleh dan Baiquni dari Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.

Dalam webinar tersebut, para narasumber membahas berbagai isu pendidikan global, di antaranya tantangan perubahan iklim, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam dunia pendidikan, serta strategi membangun sistem pendidikan yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada kewargaan global.

Salah satu pemateri, Tahir Shad, menyampaikan bahwa hubungan Washington College dengan Sekolah Sukma Bangsa telah terjalin sejak 2012 melalui program kolaborasi yang melibatkan mahasiswa Washington College untuk tinggal dan mengajar di Sekolah Sukma Bangsa. 

Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadikan Sekolah Sukma Bangsa sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai budaya, nilai, dan cara pandang sekaligus mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan. "Penting bagi Sekolah Sukma Bangsa untuk terus menjaga keberagaman, kolaborasi, dan komunikasi. Sekolah ini telah menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai budaya dan membuka peluang bagi siswa untuk berkembang di masa depan," ujar Tahir Shad.

Kegiatan ditutup dengan sesi penutup yang dipandu oleh Syamsir Alam selaku Dewan Pengawas Yayasan Sukma sekaligus Penasihat Kurikulum.


Penulis: Zahratul

Editor: Redaksi

20 Juli 2026

Fomo: Takut Tertinggal Menjadi Standar Kehidupan Remaja

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Media sosial awalnya dirancang untuk mempermudah komunikasi dan akses informasi bagi manusia. Akan tetapi, di era digital saat ini, media sosial sering kali dijadikan patokan kebahagiaan, terutama di kalangan remaja. Saat seseorang membagikan lokasi wisata, momen berkesan, atau barang yang digunakan, banyak orang yang melihatnya merasa tertarik untuk merasakan pengalaman serupa. Dari situlah muncul fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu ketakutan akan kehilangan kesempatan yang sedang dialami atau dimiliki orang lain.

Fenomena FOMO sering terjadi pada remaja yang mencari pengakuan atau validasi melalui media sosial. Saat suatu tren menjadi viral, timbul anggapan bahwa seseorang belum dianggap "modern" jika belum mencoba hal tersebut. Sebagai hasilnya, mengikuti tren kini bukan sekadar pilihan, tetapi seolah menjadi keharusan untuk tetap diterima dalam masyarakat. Situasi ini secara bertahap menjadi sesuatu yang dianggap normal di antara para remaja.

Di saat teknologi berkembang pesat, kehidupan di dunia digital tampak lebih menarik dibandingkan dengan kehidupan nyata. Apa yang terlihat di media sosial sering kali adalah representasi yang telah dipilih dan diatur sedemikian rupa agar tampak ideal. Sayangnya, banyak remaja mengambil gambaran itu sebagai tolok ukur kehidupan yang harus diraih, tanpa menyadari bahwa tidak semua yang tampil di media sosial mencerminkan kebenaran.

Fenomena FOMO juga memberikan konsekuensi negatif, baik untuk remaja maupun untuk orang dewasa. Banyak remaja yang mengikuti tren viral menggunakan uang orang tua untuk membeli barang atau merasakan pengalaman yang sebenarnya bukanlah kebutuhan. Kebiasaan ini bisa menimbulkan tekanan untuk selalu memenuhi standar kehidupan yang tinggi. Namun, keadaan ekonomi setiap keluarga bervariasi dan tidak semua individu memiliki kemampuan untuk menjalani gaya hidup yang dipamerkan di media sosial.

Saatnya remaja tidak lagi menjadikan media sosial sebagai patokan kebahagiaan. Mengikuti tren bukan suatu keharusan, apalagi jika dapat merugikan kesehatan mental, stabilitas keuangan, dan rasa percaya diri. Menjadi diri sendiri, menghargai apa yang dimiliki, dan berkonsentrasi pada proses pengembangan diri jauh lebih berharga dibandingkan mengejar pengakuan yang hanya berlangsung beberapa detik di layar perangkat. Remaja harus menyadari bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya tidak bergantung pada seberapa terkenal kehidupan mereka, tetapi pada kemampuan untuk menghargai diri sendiri dan menjalani hidup sesuai nilai dan potensi yang dimiliki.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Chalisa Najla Safira

19 Juli 2026

Hujan yang Tak Pernah Kusesali

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com-

Langit kembali memeluk mendung

Sebelum sore sempat menjadi jingga

Sementara aku memeluk kenangan yang diam-diam bertumbuh

Di tempat yang tak pernah lagi kau singgahi


Gerimis jatuh begitu pelan

Seolah takut membangunkan rindu yang rapuh

Yang telah lama terlelap di dalam dada

Namun selalu terjaga setiap kali kau terlintas


Aku pernah percaya

Hujan selalu membawa kabar yang baik

Nyatanya, ia hanya membawa ingatan

Tentang seseorang yang dahulu pernah kupanggil rumah


Tak ada yang benar-benar berubah

Selain langkah kita yang memilih arah berbeda

Langit masih setia menaungi bumi

Sedang kita tak lagi berjalan di bawah doa yang sama


Barangkali menitipkan harap memang demikian

Tak selalu berakhir dengan saling memiliki

Kadang cukup dengan mengenang dalam diam

Tanpa menyalahkan waktu yang terus berlalu


Maka, bila hujan datang lagi

Biarlah ia jatuh setenang biasanya

Aku akan belajar melepaskanmu tanpa banyak kata

Sebab pada akhirnya, setiap hujan selalu tahu jalan pulangnya.


Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Zahratul

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.