Portal Berita Al-Kalam

Awan

  Foto: Bellivia Al-Kamariana www.lpmalkalam.com- Di langit yang luas membiru, awan berjalan tanpa ragu. Kadang perlahan tertiup angin, kada...

HEADLINE

Latest Post

24 Mei 2026

Awan

 

Foto: Bellivia Al-Kamariana

www.lpmalkalam.com-

Di langit yang luas membiru,

awan berjalan tanpa ragu.

Kadang perlahan tertiup angin,

kadang berlari saat badai datang.


Pagi hari ia tampak cerah,

putih lembut seperti kapas.

Menghias langit dengan indah,

membuat hati terasa lepas.


Saat senja mulai menyapa,

awan berubah warna perlahan.

Jingga, merah, lalu keemasan,

seolah langit sedang melukis harapan.


Kadang awan juga menangis,

menurunkan hujan ke bumi.

Membasahi jalan yang kering,

menenangkan hati yang sepi.


Dari awan aku belajar,

tidak semua mendung itu buruk.

Sebab setelah hujan turun,

pelangi datang dengan cantik dan lembut.


Awan tidak pernah memilih tempat,

ia datang kepada siapa saja.

Di laut, gunung, maupun kota,

ia tetap setia menghiasi angkasa.


Aku suka memandang awan,

karena di sana banyak cerita.

Tentang mimpi yang belum tercapai,

tentang harapan yang masih dijaga.


Andai aku bisa seperti awan,

bebas melangkah tanpa beban.

Tetap tenang meski diterpa angin,

tetap indah walau terus berubah arah.


Langit dan awan seakan bersahabat,

saling menemani tanpa kata.

Dan aku hanyalah manusia kecil,

yang diam-diam kagum melihatnya.



Penulis: Bellivia Al-Kamariana

Editor: Zahratul

23 Mei 2026

Ruang Diskusi atau Arena Konflik


Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Baru-baru ini, lingkungan Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, menjadi sorotan akibat terjadinya pertikaian antar mahasiswa dari Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian. Konflik tersebut diduga bermula dari cekcok antar oknum organisasi mahasiswa yang kemudian berkembang menjadi tindakan saling menyerang. Akibatnya, sejumlah fasilitas fakultas mengalami kerusakan bahkan terbakar, serta terdapat mahasiswa yang menjadi korban dalam insiden tersebut.

Peristiwa ini tentu sangat disayangkan, mengingat kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya pemikiran kritis, diskusi ilmiah, dan penyelesaian masalah secara dewasa. Mahasiswa sering disebut sebagai agen perubahan dan kaum intelektual. Namun, tindakan anarkis yang terjadi justru menunjukkan hilangnya sikap idealis dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi persoalan.

Tindakan menyerang fasilitas kampus maupun sesama mahasiswa bukanlah bentuk keberanian ataupun solidaritas. Sebaliknya, tindakan tersebut hanya memperlihatkan tingginya ego antar kelompok tanpa memikirkan dampak jangka panjang yang ditimbulkan. Kerusakan fasilitas bukan hanya merugikan satu pihak, melainkan seluruh civitas akademika. Kampus yang seharusnya menjadi ruang belajar bersama justru berubah menjadi arena konflik yang dipenuhi amarah.

Selain itu, konflik seperti ini mencerminkan rendahnya kemampuan dalam mengendalikan emosi dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Sebagai mahasiswa, seharusnya penyelesaian konflik dilakukan melalui dialog, mediasi, dan pemikiran rasional, bukan dengan kekerasan. Sikap kritis bukan berarti bertindak agresif, melainkan mampu mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan yang dilakukan.

Jika kasus seperti ini terus terjadi tanpa adanya pembenahan dari kedua belah pihak, maka nilai-nilai intelektualitas di lingkungan kampus akan semakin memudar. Mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu menunjukkan kedewasaan dalam bersikap dan bertindak.

Pada akhirnya, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa status 'mahasiswa' bukan sekadar identitas pendidikan, melainkan tanggung jawab moral untuk berpikir kritis, menjaga idealisme, dan menyelesaikan masalah secara bijaksana. Kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya solusi, bukan tempat tumbuhnya permusuhan.


Penulis: Daffa Alkausar

Editor: Chalisa Najla Safira


21 Mei 2026

Arah yang Berbeda

 

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Museum seni dipenuhi dengan temaram lampu dan langkah pelan para pengunjung. Di setiap dinding tergantung lukisan dengan cerita masing-masing.

Sore itu, Kala datang sendirian, hanya untuk menghindari hiruk-pikuk kota dan pikirannya sendiri.

Langkahnya terhenti di depan sebuah lukisan besar.

Lukisan dua ekor burung yang sedang terbang di langit senja. Awalnya terlihat berdampingan, tetapi semakin ke atas, arah terbang mereka mulai berbeda. Yang satu menuju cahaya senja, satunya lagi ke langit gelap yang dipenuhi awan.

Di bawah lukisan itu tertulis:

“Tidak semua perjalanan yang dimulai bersama akan berakhir bahagia.”

Netra Kala terpaku cukup lama sampai suara seseorang terdengar di sampingnya.

“Masih suka ngeliatin lukisan sambil bengong?”

Napas Kala terasa berat sesaat.

Naren.

Nama yang selama ini berusaha Kala kubur dalam-dalam kini berdiri tepat di sampingnya.

Kala menoleh perlahan.Naren menatapnya dengan senyum kecil yang masih sama seperti dulu, hangat.

“Aku kira kamu ga suka museum,” bisik Kala pelan.

“Aku juga kira kamu udah ga suka tempat sepi.”

Mereka tertawa kecil, canggung, sangat canggung.

Sudah hampir tiga tahun sejak hubungan mereka berakhir. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kebencian. Hanya keadaan yang perlahan memaksa mereka berjalan ke arah berbeda, tetapi rasanya lebih menyakitkan dibanding berakhir karena pertengkaran.

Naren harus mengejar mimpinya ke luar kota, sedangkan Kala memilih tetap tinggal demi keluarganya.

Awalnya mereka berjanji akan bertahan.

Tetapi ternyata kadang janji akan kalah oleh jarak, waktu, dan impian yang tinggi.

Kini mereka dipertemukan lagi secara aneh di depan lukisan dua burung yang terbang menjauh satu sama lain.

“Lucu ya,” gumam Naren sambil menatap lukisan itu. “Kayak kita.”

Kala tersenyum tipis.

"Iya, kayak kita. Awalnya jalan bareng tapi harus pisah karena tujuannya beda." 

“Aku sempat benci sama perpisahan kita,” lanjut Kala jujur. “Aku pikir semesta jahat banget.”

Naren diam beberapa detik sebelum akhirnya ikut berkata pelan, “Aku juga.”

Hening kembali datang.

Tetapi kali ini bukan hening yang canggung. Melainkan hening dua orang yang pernah saling mengenal terlalu dalam.

Dari speaker museum tiba-tiba terdengar alunan lagu lembut. Awalnya hanya instrumen pelan, sampai liriknya mengisi ruangan.

“Dipertemukan semesta… walau berakhir tak bahagia…”

Kala langsung menunduk kecil sambil tertawa getir.

“Semestanya nyindir ya?” katanya.

Naren ikut tertawa pelan, meski matanya tampak menyimpan banyak hal yang tidak bisa terucap.

Untuk sesaat, Kala berharap waktu berhenti di sana saja. Di ruangan sunyi itu, di depan lukisan dua burung yang pernah terbang berdampingan sebelum akhirnya memilih arah masing-masing.

Namun mereka sama-sama tahu, beberapa orang memang hanya ditakdirkan bertemu untuk menjadi cerita, bukan bersama selamanya.

Lampu museum mulai diredupkan tanda jam tutup hampir tiba.

“Aku harus pergi,” kata Naren akhirnya.

Kala mengangguk pelan. “Aku juga.”

Mereka berjalan ke arah pintu keluar bersama, tetapi tidak saling menyentuh lagi seperti dulu.

Sesampainya di persimpangan depan museum, langkah mereka berhenti.

“Kala,” panggil Naren.

“Hmm?”

“Makasih ya… pernah jadi rumah.”

Kala tersenyum kecil walau matanya mulai berkaca.

“Kamu juga.”

Setelah itu mereka benar-benar pergi ke arah berbeda. Sama seperti dua burung di dalam lukisan itu.


Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Putri Ruqaiyah

20 Mei 2026

Pencemaran Laut dan Rendahnya Kepedulian Manusia

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Laut dikenal sebagai simbol keindahan dan ketenangan alam. Hamparan air biru, suara ombak, serta angin pantai yang menjadi saksi bisu manusia dalam melepas peluh dan kesahnya. Namun di balik keindahannya, laut kini membawa pesan kepedulian kepada manusia karena kondisinya yang tercemar bahkan dirusak dengan keji tanpa kepedulian terhadap lingkungan alam.

Saat ini sampah plastik, menjadi masalah utama dalam merusak keindahan lautan. Banyak masyarakat yang membuang sampah ke pantai tanpa memikirkan risiko yang akan terjadi ke depannya. Akibatnya, sampah tersebut terbawa oleh arus ombak hingga mencemari laut dan juga membahayakan kehidupan di dalam laut. Sangat banyak hewan laut yang mati terjebak di antara limbah yang mengapung dan menjadi racun di lautan.

Masalah ini terjadi karena kurangnya kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan. Banyak orang masih beranggapan bahwa laut mampu membersihkan dirinya sendiri, padahal pencemaran lingkungan yang terus terjadi dapat menjadi dampak besar bagi kehidupan manusia ke depannya. Lautan yang tercemar tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memengaruhi mata pencaharian para nelayan dan juga sektor pariwisata.

Selain masyarakat, pemerintah juga menjadi peran penting dalam menjaga kelestarian laut. Aturan mengenai larangan pembuangan sampah dan limbah secara sembarangan harus ditertibkan agar pencemaran dapat dikurangi. Edukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian laut perlu dilakukan, terutama kepada generasi muda untuk meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui ombaknya, laut selalu memperingatkan pada manusia alam membutuhkan cinta dan kasih sayang. Jika manusia terus bersikap mengabaikan, maka keindahan laut perlahan akan pudar dan lenyap. Karena itu, menjaga laut bukan hanya tanggung jawab sebagian orang tetapi kewajiban bersama untuk masa depan lebih baik dan lingkungan terjaga.


Penulis: Rozatun Navais

Editor: Chalisa Najla Safira

19 Mei 2026

Bunga di Ujung Musim

Foto: Pexels 
www.alkalam.com- Pada suatu hari, di sebuah desa kecil, hiduplah seorang gadis yang bernama Alina yang sangat menyukai bunga. Setiap pagi ia selalu menyiram tanaman di halaman rumahnya dengan penuh perhatian, namun dari sekian banyak bunga yang ia tanam hanya satu yang paling dia sukai, yaitu sebuah bunga kecil berwarna kuning yang tumbuh di sudut taman.

Bunga itu tampak berbeda karena tidak seindah mawar, tidak seharum melati, dan sering kali layu saat musim kemarau datang. Namun setiap kali hujan pertama turun, bunga itu selalu mekar kembali dengan lebih indah dari sebelumnya.

Suatu hari, Alina merasa sedih karena gagal dalam sebuah perlombaan yang sangat ia harapkan, ia duduk termenung di dekat taman memandangi bunga kuning kesayangannya yang tampak layu. 

"Kenapa kamu masih bertahan?" bisiknya pelan. 

Beberapa hari kemudian, hujan turun deras setelah kemarau panjang. Alina berlari keluar rumah dan melihat bunga itu kembali mekar bahkan lebih cerah dari sebelumnya. Saat itu ia tersadar bahwa bunga kecil itu mengandung sebuah pelajaran penting baginya.

Bunga itu mengajarkan bahwa kegagalan dan kesulitan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses untuk tumbuh lebih kuat, seperti bunga yang layu lalu mekar kembali. Manusia pun bisa bangkit setelah jatuh. 

Sejak saat itu, Alina tidak lagi mudah menyerah, ia percaya bahwa setiap kesulitan yang ia hadapi adalah "musim kemarau" yang akan berlalu, dan suatu saat ia akan "mekar" kembali dengan lebih baik. 

Setiap kesulitan dalam hidup mengandung pelajaran dan harapan. Jangan menyerah karena setelah masa sulit akan selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali.


Penulis: Zilfira

Editor: Chalisa Najla Safira

Tuntutan 18 Tahun Nadiem Makarim: Wujud Keadilan atau Pengadilan Kebijakan Pemerintah?

Foto: Kompas.Com

www.alkalam.com- Sidang pembacaan tuntutan terhadap mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim baru-baru ini mengguncang ruang publik. Dituntut 18 tahun penjara ditambah denda dan kewajiban mengembalikan kerugian negara senilai Rp2.100.000.000 (dua miliar seratus juta rupiah), kasus ini memunculkan kebingungan di masyarakat.

Publik bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang mantan menteri dituntut dengan angka yang lebih fantastis dibandingkan pelaku tindak pidana terorisme atau pembunuhan. Apakah ini murni penegakan keadilan hukum, atau sebuah pengadilan terhadap kebijakan pemerintah masa lalu.

Dari sudut pandang jaksa penuntut umum (JPU), tuntutan ini berakar pada dugaan penyalahgunaan wewenang dalam pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) yang dianggap merugikan negara hingga Rp2.100.000.000 (dua miliar seratus juta rupiah).

Jaksa menuding kebijakan tersebut sarat akan kepentingan bisnis untuk menggiring ekosistem pendidikan ke raksasa teknologi tertentu. Bagi penegak hukum, angka kerugian negara dan dugaan ketidakwajaran aset merupakan fakta yang tidak dapat dinegosiasikan.

Namun, narasi tersebut dibantah oleh pihak Nadiem dan para pendukungnya. Nadiem secara vokal menyatakan bahwa kebijakan digitalisasi pendidikan tersebut merupakan bagian dari mandat presiden untuk mempercepat transformasi digital nasional. Ironisnya, dalam persidangan tidak ditemukan bukti adanya aliran dana korupsi ke kantong pribadi mantan bos Gojek tersebut.

Banyak pengamat dan figur publik menilai bahwa mantan menteri tersebut sedang menghadapi risiko kriminalisasi akibat diskresi kebijakan di masa pandemi yang justru dapat menciptakan ketakutan bagi kaum profesional atau teknokrat untuk terjun membantu pemerintahan.

Pada akhirnya kasus ini harus menjadi refleksi bersama mengenai batas antara kebijakan publik dan tindak pidana. Jika sebuah kebijakan pemerintah di kemudian hari dapat dikriminalisasi tanpa adanya bukti niat jahat (mens rea) atau keuntungan pribadi maka ekosistem birokrasi berada dalam ancaman. Majelis hakim kini memegang palu penentu di mana putusan nanti tidak hanya mengadili Nadiem Makarim tetapi juga menjadi preseden bagaimana negara memandang inovasi dan kebijakan di masa depan.


Penulis: Cut Saputri

Editor: Putri Ruqaiyah


PRESMA UIN SUNA Lhokseumawe Desak Pemkot Tindaklanjut Jalan Rusak dan Minim Penerangan

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiah (SUNA) Lhokseumawe, Fauzan Azima mendesak Pemerintah Kota Lhokseumawe segera menindaklanjuti persoalan infrastruktur berupa jalan rusak dan minimnya penerangan jalan yang dinilai membahayakan warga. Hal itu disampaikan dalam wawancara via WhatsApp yang dilakukan pada Minggu (15/05/2026).

Desakan itu disampaikan setelah sebelumnya perwakilan mahasiswa melakukan audiensi di Kantor Wali Kota Lhokseumawe. Aksi tersebut dipicu oleh banyaknya laporan dari mahasiswa dan warga terkait jalan berlubang, minimnya penerangan, serta meningkatnya kasus kecelakaan di malam hari di beberapa titik kota.

Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan bahwa kondisi sejumlah ruas jalan sudah sangat memprihatinkan. Kerusakan jalan dan minimnya lampu penerangan dinilai menimbulkan keresahan dan mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pada malam hari. Menurutnya, persoalan ini bukan lagi sekadar infrastruktur, melainkan menyangkut keselamatan publik. Keluhan yang terus masuk dari warga menjadi dasar mereka membawa isu tersebut langsung ke pemerintah kota.

Pihaknya menyatakan aspirasi yang disampaikan sudah diterima pemerintah kota. Namun, mahasiswa menekankan masyarakat membutuhkan langkah nyata, bukan sekadar janji dan pertemuan. Saat ini dibutuhkan percepatan perbaikan jalan serta penambahan penerangan di titik-titik rawan. Mahasiswa meminta pemerintah menetapkan jadwal perbaikan yang jelas di lapangan. Pemantauan berkala dinilai penting agar pengerjaan tidak berhenti di tengah jalan.

Ia juga menyoroti dampak terbesar dari kondisi tersebut, yakni meningkatnya risiko kecelakaan dan rasa tidak aman di masyarakat. Jalan rusak dan gelap dinilai rawan menyebabkan pengendara terjatuh, sekaligus memicu tindak kriminalitas dan mengganggu aktivitas ekonomi pada malam hari.

Mereka menegaskan pemerintah tidak boleh menunggu hingga persoalan semakin parah setelah adanya korban kecelakaan dan keresahan publik yang terus meningkat. “Saya berharap Pemerintah Kota Lhokseumawe segera hadir dengan tindakan konkret berupa percepatan perbaikan jalan dan pemerataan penerangan. Masyarakat juga perlu terus mengawal isu ini supaya tidak berhenti jadi wacana saja,” ujarnya.


Penulis: Intan Sarifah

Editor: Putri Ruqaiyah

17 Mei 2026

Mahasiswi UIN SUNA Ikut Konferensi Pendidikan Islam Tingkat ASEAN

 

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe mengikuti konferensi pendidikan Islam tingkat Association of Southeast Asian Nations atau Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang berlangsung di Malaysia, Thailand, dan Singapura pada Rabu–Selasa (06–12/05/2026).

Haura Lailatul Fitrah merupakan mahasiswi semester 2 Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI), Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD), UIN SUNA Lhokseumawe. Kegiatan konferensi tersebut diikuti sebagai bentuk pengembangan wawasan internasional serta pengalaman akademik mahasiswa di tingkat ASEAN.

Dalam proses seleksi, Haura mengikuti pendaftaran sejak 17 Februari 2026 dengan memenuhi beberapa tahapan, termasuk penyusunan paper. Mahasiswi semester 2 tersebut mengaku awalnya mengetahui kegiatan itu dari informasi yang dibagikan kepada mahasiswa, hingga akhirnya tertarik mengikuti seleksi.

Ia menyebutkan melalui kegiatan ini, ia mampu mengenali budaya baru serta bertemu dengan peserta dari berbagai negara ASEAN. Selain itu, para peserta konferensi juga berdiskusi mengenai sistem dan perkembangan pendidikan Islam di masing-masing negara.

Haura menyebutkan bahwa konferensi tersebut menjadi pengalaman berharga karena mendorong mahasiswa untuk berani keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru di tingkat internasional. “Jangan takut untuk mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman, karena setiap kesempatan pasti membawa pelajaran dan pengalaman berharga,” ujarnya melalui wawancara WhatsApp.


Penulis: Zahratul

Editor: Putri Ruqaiyah

16 Mei 2026

Dilema Desil: Statistik Bernilai Kemelaratan


 Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Hidup di negara yang penuh dengan isu nasional, membuat masyarakat Indonesia tidak bisa menjalani aktivitas dengan tenang. Akhir-akhir ini muncul istilah "Desil" yang menambah kegundahan masyarakat. Desil merupakan tingkat kesejahteraan sosial masyarakat dibuat untuk membatasi pengeluaran negara baik dari segi pendidikan maupun jaminan kesehatan, yang dinilai berupa angka 1 (sangat miskin) sampai dengan 10 (sangat sejahtera). 

Kegundahan warga dimulai karena tidak sesuainya pembagian angka dengan realitas yang ada. Masyarakat golongan bawah tetap digolongkan ke dalam golongan tinggi sehingga sulit untuk menerima Bantuan Sosial (Bansos) dan juga ditolak jaminan kesehatan seperti Bantuan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS). 

Beberapa kelompok masyarakat merasakan adanya inflasi yang sangat berdampak negati karena mereka tetap patuh membayar pajak, tetapi tidak dapat menerima hubungan timbal balik dari pemerintah, seperti kenaikan harga pangan dan berkurangnya bantuan.

Kenyataannya, sampai saat ini masyarakat masih belum bisa menerima ketetapan angka yang diberikan oleh para pejabat melalui media digital yang dianggap tidak adil dan tidak sesuai dengan realita. Seharusnya para pemerintah tetap menyelidiki secara lebih mendalam tentang tingkatan sosial masyarakat sebelum menetapkan angka yang mengakibatkan runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap suatu hukum negara.

Namun, sampai saat ini masyarakat masih berharap angka desil yang sudah berlaku masih bisa diperbaiki sesuai dengan nilai-nilai keadilan masyarakat. 



Penulis: Annisa Maulianda


Editor: Chalisa Najla Safira


Ketika Ajang Akademik Kehilangan Nilai Keadilan

Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com- Sebuah perlombaan akademik seharusnya menjadi tempat bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan berpikir, keberanian menyampaikan pendapat, serta hasil dari proses belajar yang telah dijalani. Namun, belakangan ini muncul perdebatan dalam sebuah ajang pengetahuan yang membuat banyak orang mempertanyakan bagaimana sistem penilaian dijalankan. Situasi tersebut menjadi perhatian publik karena ada peserta yang dianggap memberikan jawaban tepat, tetapi tetap dinyatakan salah oleh pihak penilai. Perbedaan keputusan itu akhirnya memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat.

Hal ini bukan hanya soal menang atau kalah dalam perlombaan, melainkan juga menyangkut pentingnya keadilan dan profesionalisme dalam dunia pendidikan. Peserta tentu berharap setiap jawaban dinilai secara objektif dan konsisten. Ketika penjelasan dari pihak penilai kurang jelas atau keputusan terlihat berbeda antara satu peserta dan peserta lainnya, kepercayaan terhadap kompetisi dapat menurun. Apalagi, di era media sosial saat ini, sebuah kejadian dapat dengan cepat menyebar luas dan menjadi perhatian publik.

Di sisi lain, sikap peserta yang tetap tenang saat menyampaikan pendapat justru mendapat banyak apresiasi. Cara berbicara yang sopan, percaya diri, dan tetap menghargai pihak lain menunjukkan kedewasaan dalam bersikap. Perbedaan pendapat sebenarnya dapat disampaikan dengan baik tanpa harus menimbulkan suasana yang memanas. Sikap seperti ini juga menjadi contoh positif bagi pelajar lain dalam menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan.

Kejadian tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara kompetisi akademik agar lebih teliti, transparan, dan profesional dalam mengambil keputusan. Sebab, pada akhirnya tujuan utama perlombaan pendidikan bukan hanya menentukan siapa yang menjadi juara, tetapi juga membangun semangat belajar, sportivitas, dan rasa percaya diri para peserta.


Penulis: Lutfiatil Syaqirah


Editor: Chalisa Najla Safira

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.