HEADLINE
16 Mei 2026
Ketika Ajang Akademik Kehilangan Nilai Keadilan
![]() |
| Foto: Pexels |
www.lpmalkalam.com- Sebuah perlombaan akademik seharusnya menjadi tempat bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan berpikir, keberanian menyampaikan pendapat, serta hasil dari proses belajar yang telah dijalani. Namun, belakangan ini muncul perdebatan dalam sebuah ajang pengetahuan yang membuat banyak orang mempertanyakan bagaimana sistem penilaian dijalankan. Situasi tersebut menjadi perhatian publik karena ada peserta yang dianggap memberikan jawaban tepat, tetapi tetap dinyatakan salah oleh pihak penilai. Perbedaan keputusan itu akhirnya memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat.
Hal ini bukan hanya soal menang atau kalah dalam perlombaan, melainkan juga menyangkut pentingnya keadilan dan profesionalisme dalam dunia pendidikan. Peserta tentu berharap setiap jawaban dinilai secara objektif dan konsisten. Ketika penjelasan dari pihak penilai kurang jelas atau keputusan terlihat berbeda antara satu peserta dan peserta lainnya, kepercayaan terhadap kompetisi dapat menurun. Apalagi, di era media sosial saat ini, sebuah kejadian dapat dengan cepat menyebar luas dan menjadi perhatian publik.
Di sisi lain, sikap peserta yang tetap tenang saat menyampaikan pendapat justru mendapat banyak apresiasi. Cara berbicara yang sopan, percaya diri, dan tetap menghargai pihak lain menunjukkan kedewasaan dalam bersikap. Perbedaan pendapat sebenarnya dapat disampaikan dengan baik tanpa harus menimbulkan suasana yang memanas. Sikap seperti ini juga menjadi contoh positif bagi pelajar lain dalam menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan.
Kejadian tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara kompetisi akademik agar lebih teliti, transparan, dan profesional dalam mengambil keputusan. Sebab, pada akhirnya tujuan utama perlombaan pendidikan bukan hanya menentukan siapa yang menjadi juara, tetapi juga membangun semangat belajar, sportivitas, dan rasa percaya diri para peserta.
Penulis: Lutfiatil Syaqirah
Editor: Chalisa Najla Safira
Dua Mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah Raih Gelar Agam dan Wakil I Agam Aceh Utara 2026
![]() |
| Foto: IST |
www.lpmalkalam.com- Dua mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe berhasil menorehkan prestasi dalam ajang Pemilihan Agam-Inong Aceh Utara 2026 yang berlangsung di Aula Setdakab Aceh Utara pada Senin (27/4/2026).
Panitia pelaksana, Muhammad Hatta, SST.Pa menyampaikan bahwa para finalis yang lolos telah melewati serangkaian tahapan seleksi yang ketat, mulai dari verifikasi administrasi, tes wawancara, hingga uji kecakapan berbahasa Aceh, Indonesia, dan Inggris.
Setelah melalui seluruh rangkaian seleksi, Fahrul Rozi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), berhasil terpilih sebagai Wakil I Agam Aceh Utara 2026. Sementara itu, Shahibul Kautsar, mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Syari’ah (Fasya), berhasil meraih gelar Agam Aceh Utara 2026.
Fahrul Rozi mengatakan bahwa keikutsertaannya dalam ajang tersebut didorong oleh keinginan untuk mengembangkan diri sekaligus memperkenalkan potensi wisata dan budaya Aceh Utara kepada masyarakat luas. Ia mengaku tantangan terbesar selama proses seleksi ialah membangun rasa percaya diri dan menjaga konsistensi karena peserta tidak hanya dinilai dari penampilan, tetapi juga kualitas diri, wawasan, serta kesiapan mental. “Saya berharap dapat menjadi representasi pemuda yang aktif, inspiratif, dan mampu berkontribusi dalam memajukan pariwisata serta budaya Aceh Utara,” ujarnya.
Sementara itu, Shahibul Kautsar mengungkapkan bahwa motivasinya mengikuti ajang tersebut ialah untuk memperkenalkan sejarah dan budaya Aceh Utara serta menjadi penghubung antara sejarah Samudera Pasai dan inovasi generasi muda.
Ia menambahkan bahwa proses seleksi tidak hanya menguji kemampuan fisik dan intelektual, tetapi juga ketahanan mental, kedisiplinan, serta adab peserta selama masa karantina. “Saya berharap dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata berbasis komunitas. Saya ingin melihat produk lokal dikenal lebih luas, baik secara nasional maupun internasional,” ujarnya.
Penulis: Amanda Zuhra
Editor: Putri Ruqaiyah
15 Mei 2026
Language Expo Digelar, Latih Bakat dan Kemampuan Bahasa Asing
![]() |
| Foto: Intan Sarifah |
13 Mei 2026
Malam, Hujan, dan Tangis yang Disembunyikan
![]() |
| Foto: Pexels |
www.lpmalkalam.com- Malam itu hujan mengguyur Kota Bandung. Lampu jalan memantul di genangan air, seperti serpihan kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai dipungut.
09 Mei 2026
Rapat Perdana LPM Al-Kalam Periode 2026-2027
08 Mei 2026
Sepasang Sepatu Usang dan Mimpi yang Tak Pernah Padam
![]() |
| Foto: Pexels |
07 Mei 2026
Ormawa Fasya Gelar Kelas Umum Bersama Haji Uma
![]() |
| Foto: Putri Ruqaiyah |
06 Mei 2026
Mimpi dari Bangku Paling Belakang
![]() |
| Foto: Pexels |
Pagi ini, guru wali kelas memberikan tugas sederhana untuk siswa. Seluruh siswa diberikan waktu untuk menuliskan cita-cita mereka pada selembar kertas dan kemudian diceritakan di depan kelas.
Suasana kelas sangat ramai. Teman-teman Zayyan sangat bersemangat menceritakan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi polisi, guru, bahkan pilot. Namun, Zayyan hanya diam sambil menatap kertas kosong di mejanya.
Guru wali kelas menyadari hal itu.
"Kenapa belum ditulis, Yan?" tanyanya.
"Saya takut cita-cita saya terlalu tinggi, Bu," ucap Zayyan sambil menunduk.
"Memangnya apa cita-citamu?"
Zayyan menarik napas pelan sebelum menjawab.
"Saya ingin jadi dokter. Saya ingin membantu orang sakit yang tidak punya biaya, seperti ibu saya."
Ibu guru tersenyum haru. "Gak ada cita-cita yang terlalu tinggi kalau kamu sertai dengan doa dan usaha," ucapnya sambil tersenyum.
Kalimat itu membuat Zayyan kembali bersemangat. Ia mulai menulis cita-citanya dengan penuh keyakinan.
Usai waktu yang diberikan habis, siswa diminta untuk membacakan apa yang mereka tulis di depan kelas.
Hingga tiba giliran Zayyan.
Dengan suara yang sedikit bergetar, Zayyan membacakan tulisannya.
"Saya belajar bahwa pendidikan tidak melihat siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang paling mau belajar dan berusaha. Saya percaya dengan doa dan usaha, suatu hari nanti bisa membawa saya menjadi dokter untuk membantu banyak orang dan membahagiakan keluarga saya."
Suasana kelas menjadi hening, banyak siswa yang tersentuh mendengar kalimat Zayyan.
Usai Zayyan membacakan tulisannya, Ibu guru menghampirinya.
"Jangan pernah berhenti bermimpi ya, Yan. Sekolah akan membantu siswa yang mau berjuang," ujarnya sambil tersenyum.
Hari ini, untuk pertama kalinya Zayyan merasa mimpinya bukanlah hal yang mustahil. Dari bangku paling belakang, Ia yakin bahwa pendidikan bisa membawanya ke masa depan yang menjanjikan.
Penulis: Chalisa Najla Safira
Editor: Tiara Khalisna
05 Mei 2026
Asap di Jalan, Racun di Rumah: Ketika Rokok Menguasai Tangan, Membutakan Nurani, dan Menjadi Simbol Kebodohan Kolektif
![]() |
| Foto: Qonita Sholihat |
- Merokok di jalan adalah bentuk pelanggaran etika sosial dan potensi bahaya lalu lintas.
- Merokok di depan anak adalah bentuk kekerasan pasif yang membunuh secara perlahan.
Mengenai Saya
- LPM AL-KALAM
- Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.









