Portal Berita Al-Kalam

ICE 2026 Hadirkan Akademisi Internasional dan Bank Indonesia Bahas Inovasi Pendidikan di Era AI

Foto: Rozatun Navais www.lpmalkalam.com- Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA...

HEADLINE

Latest Post

28 Juli 2026

ICE 2026 Hadirkan Akademisi Internasional dan Bank Indonesia Bahas Inovasi Pendidikan di Era AI

Foto: Rozatun Navais
www.lpmalkalam.com- Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe berkolaborasi dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menggelar The 2nd International Conference on Education (ICE) 2026 di Aula Biro Lantai 3 kampus setempat pada Selasa (28/7/2026).

Konferensi yang mengusung tema Human-Centered Innovation for Education and Society in the Era of Artificial Intelligence ini diawali dengan pembukaan oleh Darmadi selaku Wakil Rektor III. Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri yang dibagi ke dalam dua sesi, yaitu pagi dan siang. Pada sesi pertama, panitia menghadirkan Ainol Mardhiah dari International Islamic University Malaysia sebagai pemateri pertama dengan moderator Rafika Nuzula.

Kegiatan berlangsung melalui pemaparan materi dan sesi tanya jawab serta diakhiri dengan praktik speaking menggunakan AI speaker. Setelah penyampaian materi selesai, panitia memberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi kepada pemateri atas kontribusinya dalam kegiatan tersebut.

Selain menghadirkan pemateri utama, kegiatan ini juga mengundang Irmansyah selaku Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Unit Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah (IPUR) Bank Indonesia. Dalam pemaparannya, Irmansyah menekankan pentingnya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan rupiah. Ia menjelaskan cara penyimpanan uang rupiah yang baik, peran Bank Indonesia dalam pengelolaan mata uang, serta proses distribusi uang hingga sampai kepada masyarakat. 

"Melalui The 2nd International Conference on Education 2026, FTIK UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe bersama FKIP UMSU berharap kegiatan ini mampu memperkuat kolaborasi akademik, memperluas jaringan kerja internasional, serta menjadi wadah lahirnya gagasan inovatif untuk mengembangkan pendidikan di era globalisasi dan teknologi kecerdasan buatan," ungkap Darmadi.

Pemateri kedua, Tariq Khan dari University of Malakand, Pakistan, dan pemateri ketiga, Khalsiah, hadir setelah Istirahat, Salat, dan Makan (ISOMA).

Reporter: Rozatun Navais

Editor: Zahratul

Surga Sampah

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Aku tinggal di sebuah daerah yang dijuluki Serambi Mekah. Tanah kaya akan sumber daya alam, penuh sejarah yang terpatri dalam setiap sudutnya. Masjid berdiri megah di tiap penjuru kota, menjadi saksi bisu perjalanan zaman.

Dari cerita orang tua, aku mendengar kisah tentang masa silam, ketika mata uang yang digunakan adalah koin emas, mereka menyebutnya dirham. Saat itu, Kerajaan Samudera Pasai tengah berada di puncak kejayaannya. Itulah gambaran masa lalu, sebuah nostalgia, tentang kejayaan yang pernah ada.

Kini aku menatap diriku sendiri, seorang bocah berusia 16 tahun, dengan baju lusuh, hasil pemberian orang baik hati. Di hadapanku, gunungan sampah seakan menyambut kedatanganku.

Sejak usia lima tahun, aku sudah ikut bapak bekerja, memilah satu per satu sampah yang bisa dijual, dan yang tidak. Dari sinilah kami menggantungkan hidup, sebagai pemulung.

Sejak pukul tiga pagi, tanpa perlu dibangunkan, kami otomatis terjaga. Itulah waktu kami mulai mencari rezeki.
 
Sejak saat itu, aku dan bapak sudah mengais sampah, di tempat pembuangan rumah sakit, penampungan sampah kota, hingga menyusuri jalanan. Bahkan, kami pernah memungut sampah di pesta orang kaya. Untungnya, mereka tidak mengusir kami.

Menjelang malam, bapak mengajakku memilah sampah di rumah-rumah makan. Saat pertama kali datang ke sana, hatiku sedih. Begitu banyak makanan terbuang, sementara di gubuk tempat kami tinggal, kadang kami harus menahan lapar karena tak ada yang bisa dimakan. 
Namun, lama-kelamaan aku mulai terbiasa. Kami datang ke rumah makan bukan untuk makan malam, melainkan untuk mencari sisa makanan yang bisa kami bawa pulang.

Tentang ibu, jangan tanyakan padaku, karena aku sendiri pun tak tahu. Bapak bilang, ibu meninggal saat melahirkanku. Namun, dari bisik-bisik tetangga di sekitar gubuk kami, aku mendengar cerita yang berbeda. Kata mereka, ibu pergi setelah aku lahir. Ia tak sanggup lagi menjalani hidup yang terlalu melarat, terlalu penuh kekurangan. 

Apa ibu tidak rindu padaku, bu? Apa karena aku bau sampah, makanya ibu tidak pernah kembali lagi ke sini sampai hari ini, bahkan mungkin selamanya.

Ah, aku tak ingin terlalu melankolis tentang ibuku yang wajahnya tak kuketahui,  lebih baik kuceritakan tentang sekolah saja. Setiap Senin sampai Jumat, aku pergi sekolah. Bapak selalu bilang, aku harus jadi anak yang sukses. “Supaya nanti kamu bisa jadi presiden,” katanya, “jangan jadi pemulung seperti bapak lagi. Capek, Nak.”

Maka aku pun pergi sekolah, duduk mendengarkan guru yang mendongeng di depan kelas, tentang simbiosis mutualisme dan hal-hal lain yang asing namun menarik.

Otakku berusaha menyerap semua materi itu, tapi perutku terus memberontak, meminta diisi nasi. Pagi hari, aku nyaris tak pernah sarapan. Siang pun begitu, kecuali jika ada sedikit rezeki. Malam hari? Hanya jika ada sisa makanan.

Dulu aku punya seorang kakak. Tapi Tuhan lebih dulu ingin memeluknya. Ia meninggal karena demam berdarah. Waktu itu, kami belum punya BPJS, Dan berobat terasa mustahil. Dalam kondisi seperti itu, mati seolah lebih mudah, daripada hidup yang terus terlunta-lunta.

Aku pernah bertanya pada bapak, kenapa aku tidak diizinkan menjadi pengamen atau pengemis saja. Lalu bapak menjawab, “Selama sampah masih berserakan, hasil buangan manusia itu, kenapa kita harus mengemis pada manusia? Mungkin saja mereka memberi karena terpaksa.” Ah, aku bersyukur sekali punya bapak sekuat dan seteguh itu.

Kini, bapak pun telah pergi. Bukan karena demam berdarah seperti kakakku dulu, tapi karena Tuberkulosis (TBC) yang perlahan-lahan menggerogoti tubuhnya, hingga akhirnya mengambilnya selamanya.

Sekarang aku sendiri, tinggal di gubuk  ini. Sepi. Sunyi.

Dingin.

Kadang aku bertanya, kepada siapa lagi aku harus bersandar? Pernah terlintas di benakku, mungkin lebih baik jika aku ikut mati saja, supaya bisa bertemu lagi dengan bapak dan kakak di surga. Di sana, mungkin kami tak perlu lagi memikirkan makan.

Tapi lalu aku teringat kata-kata ustaz dari kampung sebelah. Katanya, orang yang sengaja mengakhiri hidupnya sendiri, tempatnya bukan di surga, melainkan di neraka. Aduh... kenapa serba salah begini? Hidupku di dunia sudah semelarat  ini, masa akhirat pun harus penuh sengsara?

Lalu, dalam kesunyian itu, aku teringat satu pesan bapak yang tak pernah hilang dari ingatanku, “Kamu harus belajar, Nak… belajar yang sungguh-sungguh. Biar sukses. Biar bisa jadi presiden.”

Kadang aku berpikir, buat apa aku bersusah payah? Toh, bahkan ada wakil presiden yang ijazahnya saja dipertanyakan. Apa gunanya belajar mati-matian kalau dunia tetap berpihak pada yang curang?

Tapi… sekali lagi, aku teringat pesan bapak sebelum ia pergi, “Aku harus belajar, harus sukses, harus jadi presiden.” Itu bukan sekadar harapan, itu wasiat satu-satunya warisan paling berharga dari bapakku.

Saat aku berjalan ke warung dekat gubuk untuk mengutang beras seperti biasa, meski biasanya tak pernah diberikan, mataku tertumbuk pada televisi yang menyala di sudut warung.

Sekilas, aku menangkap berita tentang pejabat korupsi. Angka-angka uang yang disebutkan itu tak main-main, sangat besar, menggunung sampai sulit kubayangkan.

Di dalam kepalaku, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul, apakah aku akan menjadi seperti mereka suatu hari nanti?

Seorang pejabat yang korupsi, menghalalkan segala cara demi kekuasaan dan harta?

Gemetar, ragu, mimpi menjadi presiden yang dulu bapak tanamkan, tiba-tiba terasa berat dan penuh dilema. Aku tidak ingin kehilangan jati diriku, tapi aku juga tahu dunia ini tidak mudah untuk orang seperti aku. Namun, suara kecil di hatiku kembali mengingatkan, tentang pesan bapak. Jadilah pemimpin yang berbeda. Jangan biarkan diri terjerumus seperti mereka.


Penulis: Zahratul 

Editor: Chalisa Najla Safira

27 Juli 2026

Inspiratif! Sejahtra, Mahasiswa UIN SUNA, Sukses Gelar Seminar "Beyond the Search: Maksimalkan Produktivitas Mahasiswa dengan Google AI Mode & Gemini" sebagai Google Student Ambassador

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Berawal dari semangat untuk membagikan manfaat teknologi, Sejahtra, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe, sukses menggelar seminar "Beyond the Search: Maksimalkan Produktivitas Mahasiswa dengan Google AI Mode & Gemini" sebagai bagian dari kontribusinya sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Biro UIN SUNA ini dibuka langsung oleh Rektor UIN SUNA, Prof. Dr. Danial, M.Ag., yang memberikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan program edukasi teknologi Google di lingkungan kampus. Acara juga semakin semarak dengan penampilan Tari Saman yang menyambut para peserta.

Seminar ini menjadi semakin istimewa karena Sejahtra merupakan salah satu Google Student Ambassador 2026 yang berhasil meraih prestasi sebagai Top 40 Trailblazer dari sekitar 200 Google Student Ambassador yang terpilih di Indonesia. Pencapaian tersebut diraih melalui proses seleksi yang kompetitif serta berbagai kontribusi nyata dalam mengedukasi pemanfaatan teknologi AI di kalangan mahasiswa.

Dalam seminar tersebut, Sejahtra membawakan materi mengenai Google AI Mode dan Gemini sebagai AI companion untuk dunia akademik. Peserta diajak memahami cara memanfaatkan AI secara etis, menyusun prompt yang efektif, merangkum jurnal, mengembangkan ide penelitian, hingga meningkatkan produktivitas belajar tanpa mengesampingkan kemampuan berpikir kritis.

Melalui kegiatan ini, Sejahtra berharap semakin banyak mahasiswa yang tidak hanya mengenal teknologi AI, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara bertanggung jawab untuk belajar, berinovasi, dan menciptakan dampak positif. Seminar ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu membawa inovasi global ke lingkungan kampus sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya di era transformasi digital.


Penulis: Rilis (Sejahtra)

Editor: Redaksi

Google Student Ambassador 2026: Awal Perjalanan Sejahtra Menginspirasi Generasi Muda

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Di balik setiap pencapaian besar, selalu ada proses panjang yang jarang dilihat orang. Begitu pula perjalanan Sejahtra, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe, yang berhasil menjadi Google Student Ambassador 2026. Pencapaian tersebut bukan hadir karena keberuntungan, melainkan hasil dari keberanian untuk mencoba, konsistensi dalam belajar, dan tekad untuk terus berkembang meski menghadapi berbagai tantangan.

Sejak menjadi mahasiswa, Sejahtra percaya bahwa masa kuliah bukan hanya tentang memperoleh nilai yang baik, tetapi juga tentang menciptakan dampak bagi lingkungan sekitar. Keyakinan itulah yang mendorongnya aktif mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri, perlombaan, organisasi, hingga mempelajari teknologi yang dapat membantu proses belajar mahasiswa.

Kesempatan menjadi Google Student Ambassador menjadi salah satu titik penting dalam perjalanannya. Proses seleksi yang ketat mempertemukannya dengan mahasiswa-mahasiswa terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mulai dari menyusun portofolio, menyelesaikan berbagai tantangan, hingga menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan kepemimpinan menjadi bagian dari perjalanan yang harus dilalui. Semua proses tersebut mengajarkannya bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar jika disertai usaha yang sungguh-sungguh.

Namun, bagi Sejahtra, pencapaian tidak berhenti ketika dinyatakan lolos sebagai Google Student Ambassador. Justru setelah itu muncul tanggung jawab yang lebih besar, yaitu bagaimana ilmu dan kesempatan yang diperoleh dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Berangkat dari semangat tersebut, ia menginisiasi workshop Google AI Mode & Gemini di kampusnya agar mahasiswa dapat mengenal kecerdasan buatan secara lebih bijak, produktif, dan bertanggung jawab.

Menurutnya, kecerdasan buatan bukanlah alat untuk mencari jalan pintas dalam menyelesaikan tugas, melainkan partner belajar yang mampu membantu mahasiswa memahami materi, merangkum jurnal, menyusun ide penelitian, hingga meningkatkan produktivitas. Ia ingin mengubah cara pandang mahasiswa terhadap AI, dari sekadar mesin pencari jawaban menjadi alat yang mendukung proses berpikir kritis dan kreativitas.

Perjalanan ini juga mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Berasal dari daerah tidak menghalangi seseorang untuk memperoleh kesempatan di tingkat nasional maupun internasional. Selama ada kemauan untuk terus belajar, mencoba hal-hal baru, dan berani keluar dari zona nyaman, peluang akan selalu terbuka.

Sejahtra percaya bahwa kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari banyaknya penghargaan yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Karena itu, setiap pengalaman, prestasi, dan kesempatan yang diraihnya selalu ia usahakan menjadi jalan untuk berbagi ilmu, menginspirasi mahasiswa lain, dan menghadirkan perubahan positif di lingkungan sekitarnya.

Baginya, perjalanan ini masih sangat panjang. Menjadi Google Student Ambassador bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus belajar, berinovasi, dan mengajak lebih banyak mahasiswa memanfaatkan teknologi secara cerdas. Ia berharap kisahnya dapat menjadi pengingat bahwa mimpi besar bisa diraih oleh siapa saja yang berani memulai, tetap konsisten, dan tidak pernah menyerah dalam menghadapi setiap tantangan.


Penulis: Rilis (Sejahtra)

Editor: Redaksi

Polemik Masa Keanggotaan Pengurus Sema UIN SUNA, AD/ART Jadi Sorotan

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Polemik mengenai dugaan pelanggaran Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Senat Mahasiswa (Sema) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe tengah menjadi sorotan mahasiswa. Sorotan tersebut mengarah pada dugaan pelanggaran masa keanggotaan oleh Ketua Sema, Bendahara, Ketua Komisi III, dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Sema U yang telah mengikuti sidang tugas akhir.

Dalam AD/ART Sema U tertulis bahwa masa keanggotaan berakhir apabila salah satu ketentuan di dalamnya terpenuhi, salah satunya pada poin d yang menyatakan, “Telah lulus, kecuali sisa masa kepengurusan kurang dari enam bulan.” Berdasarkan ketentuan tersebut, dipahami bahwa pengurus yang telah lulus masih dapat melanjutkan masa keanggotaannya apabila sisa masa kepengurusannya kurang dari enam bulan.

Meskipun terdapat laporan mengenai empat pengurus yang telah melaksanakan sidang, pihak LPM Al-Kalam hanya memperoleh informasi kontak Rafika selaku Ketua Sema. Oleh karena itu, pada Selasa (12/07/2026) pukul 18.49 WIB, wawancara dilakukan melalui WhatsApp. Dalam wawancara tersebut, Rafika membenarkan bahwa dirinya telah melaksanakan sidang pada Rabu (15/07/2026). Rafika juga menegaskan bahwa pelaksanaan sidang tersebut tidak memengaruhi masa jabatannya sebagai Ketua Sema.

“Mengenai masa jabatan Sema dan Dema UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, sesuai dengan konsideran/berita acara Musyawarah Mahasiswa, berakhir pada awal Februari 2027. Masa jabatan terhitung sejak Agustus hingga Musma yang akan datang pada Januari 2027, sehingga sisa masa jabatan kurang dari enam bulan. Musma diselenggarakan pada Januari 2027 karena mempertimbangkan bahwa pada 8 Februari 2027 sudah memasuki bulan Ramadan,” tegasnya.

Selain itu, Rafika juga menyatakan bahwa secara administratif dirinya belum dinyatakan lulus oleh pihak kampus. Berdasarkan bukti yang diterima LPM Al-Kalam, percakapan dengan Jamil selaku staf Akademik Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) menjelaskan bahwa penetapan kelulusan pada PDDikti dan Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) harus memenuhi beberapa ketentuan sebagai berikut:
  • Kelulusan pada SIAKAD dilakukan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Yudisium.
  • Kelulusan pada SIAKAD dilakukan berdasarkan Nomor Ijazah Nasional (NINA).
  • SK Yudisium diajukan secara kolektif untuk satu angkatan pada masa sidang yang sama.
  • NINA diajukan ke PDDikti melalui biro rektorat secara kolektif untuk seluruh fakultas berdasarkan masa sidang pada tahun akademik yang bersangkutan.
Meskipun penetapan kelulusan pada PDDikti dan SIAKAD harus memenuhi persyaratan tersebut, berdasarkan hasil konfirmasi yang disampaikan Siddik selaku Kepala Akademik Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), mahasiswa dinyatakan sah lulus sejak kelulusan dibacakan oleh ketua sidang pada saat pelaksanaan sidang.

Selain itu, informasi yang diperoleh LPM Al-Kalam mengarah pada penghitungan masa jabatan kepengurusan yang dimulai setelah pelantikan pengurus. Pelantikan tersebut dilaksanakan pada Selasa (31/03/2026). Dengan demikian, apabila dihitung sejak tanggal pelantikan hingga Rafika melaksanakan sidang, masa kepengurusan baru berjalan selama 107 hari atau sekitar 3 bulan 17 hari. Berdasarkan perhitungan tersebut, apabila masa jabatan dihitung sejak pelantikan, maka para pengurus yang telah disebutkan dan telah melaksanakan sidang berpotensi dinyatakan melanggar AD/ART Sema Universitas.


Penulis: Ririn Dayanti Harahap

Editor: Redaksi


26 Juli 2026

Anies Baswedan Resmikan Jembatan Titian Persatuan Kemerleng di Aceh Tengah

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Anies Baswedan meresmikan Jembatan Titian Persatuan Kemerleng dalam agenda kunjungan kerja di kawasan pedalaman Tanah Gayo yang diselenggarakan melalui kolaborasi Humanies Project dan Aksi Bersama. Kegiatan tersebut berlangsung di Kampung Kemerleng, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah pada Jumat (24/7/2026).

Berdasarkan informasi yang dimuat pada laman resmi KBA News, jembatan gantung sepanjang 26 meter itu dibangun untuk mempermudah akses masyarakat Kampung Kemerleng yang selama ini menghadapi keterbatasan mobilitas akibat kondisi geografis. Kehadiran jembatan tersebut diharapkan dapat memangkas waktu tempuh warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Pembangunan Jembatan Titian Persatuan Kemerleng didanai melalui donasi masyarakat yang dihimpun oleh Humanies Project dan Aksi Bersama. Proses pembangunannya juga melibatkan partisipasi aktif warga setempat hingga jembatan berhasil diselesaikan dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Dalam peresmian tersebut, Anies Baswedan menyampaikan bahwa jembatan tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antarwilayah, tetapi juga memiliki makna sosial bagi masyarakat. "Jembatan ini bukan sekadar menyambungkan dua tepi sungai. Jembatan ini menyambungkan keputusasaan dengan harapan, ketertinggalan dengan kemajuan, serta kesulitan dengan kemudahan," ujar Anies dalam keterangan yang diterima KBA News.

Anies Baswedan juga berharap Jembatan Titian Persatuan Kemerleng dapat dirawat dan dimanfaatkan secara bersama oleh masyarakat. Ia mengajak warga untuk menjaga jembatan tersebut serta menyelesaikan setiap permasalahan yang mungkin muncul melalui musyawarah. Menurutnya, jembatan itu diharapkan dapat menjadi penghubung menuju masa depan yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.


Penulis: Cut Saputri

Editor: Redaksi

Workshop Google Gemini, GSA Nurul Ghaffari Bekali Mahasiswa dengan Literasi AI

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang begitu pesat menuntut dunia pendidikan tinggi untuk terus beradaptasi. Merespons tantangan tersebut, Google Student Ambassador (GSA) 2026, Nurul Ghaffari, sukses menginisiasi dan menggelar Workshop Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Google Gemini bagi kalangan mahasiswa. Kegiatan interaktif ini diselenggarakan sebagai langkah nyata dalam meningkatkan literasi digital serta efisiensi pembelajaran akademik di lingkungan kampus.

Workshop yang berlangsung antusias ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dan program studi. Tingginya angka partisipasi peserta menunjukkan besarnya rasa ingin tahu serta kebutuhan mahasiswa terhadap pemanfaatan teknologi AI yang tepat guna untuk mendukung aktivitas perkuliahan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, materi difokuskan pada pengenalan dasar Large Language Models (LLM), prinsip kerja AI modern, hingga teknik penyusunan instruksi (prompting) yang efektif dan presisi. Peserta tidak hanya diperkenalkan pada konsep teoretis, tetapi juga diajak mengeksplorasi berbagai fitur unggulan Google Gemini yang dirancang khusus untuk mempermudah produktivitas akademik.

Sebagai penyelenggara utama sekaligus Google Student Ambassador yang memprakarsai acara ini, Nurul Ghaffari menegaskan bahwa pemahaman akan teknologi AI saat ini bukan lagi sekadar tren atau pilihan opsional, melainkan sebuah kompetensi dasar yang wajib dimiliki oleh mahasiswa di era transformasi digital.

"Melalui workshop ini, tujuannya adalah mengubah cara pandang dan pendekatan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi. Google Gemini hadir bukan untuk menggantikan proses berpikir kritis ataupun kreativitas manusia, melainkan sebagai asisten cerdas (partner) yang dapat melipatgandakan efisiensi belajar, mengolah data riset, hingga membantu penyusunan ide-ide inovatif secara lebih terstruktur," ujar Nurul di sela-sela kegiatan.

Rangkaian acara ini juga dirancang dengan pendekatan praktis melalui sesi hands-on workshop. Pada sesi ini, para peserta diajak untuk mencoba secara langsung berbagai simulasi penggunaan Google Gemini. Beberapa studi kasus yang dipraktikkan, antara lain penyusunan kerangka tulisan ilmiah, pemrosesan data sederhana, pencarian referensi belajar, hingga pembuatan draf presentasi yang efektif. Suasana workshop terasa sangat hidup dengan tingginya dinamika diskusi dan interaksi sesi tanya jawab antara peserta dan penyelenggara.

Tidak hanya fokus pada kemudahan teknis, workshop ini juga menyelipkan penekanan penting mengenai etika penggunaan AI (AI Ethics). Para peserta diingatkan untuk selalu menjaga integritas akademik, menghindari plagiarisme, serta menggunakan AI secara bijak sebagai alat bantu analisis, bukan sebagai jalan pintas yang mengabaikan kejujuran ilmiah.

Melalui suksesnya penyelenggaraan workshop mandiri ini, diharapkan para mahasiswa mampu mengintegrasikan teknologi Google Gemini ke dalam rutinitas akademik mereka secara bertanggung jawab. Inisiatif ini sekaligus menjadi bukti nyata kepemimpinan serta komitmen Google Student Ambassador dalam menciptakan ekosistem kampus yang siap beradaptasi dan berdaya saing di tengah arus pesat perkembangan teknologi masa depan.


Penulis: Rilis (Nurul Ghaffari)

Editor: Redaksi

25 Juli 2026

Tiga Mahasiswa UIN SUNA Torehkan Prestasi pada Ajang CBP Rupiah 2026

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe berhasil masuk Top 10 Besar dan menjuarai Duta Muda pada ajang perlombaan Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Lhokseumawe. Kegiatan berlangsung di KPwBI Lhokseumawe pada Sabtu (11/7/2026)

Jihan Fanyra berhasil meraih juara II, sementara Muhammad Khalilullah dan Andika Bayu Kurnia menduduki Top 10 Besar pada ajang tersebut. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UIN SUNA memiliki potensi besar dalam mengedukasi masyarakat terkait pejuang rupiah. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mencari para pemuda Lhokseumawe sebagai fasilitator dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap fungsi rupiah dan sebagai agen edukasi dalam menjelaskan simbol identitas bangsa.

Jihan menyampaikan bahwa ia merasa bangga atas diri sendiri karena sudah melawan keraguan saat pertama kali memulai. Jihan juga berkata di balik kejuaraannya, sangat banyak tantangan yang dihadapi mulai dari padatnya jadwal kuliah dan tugas pada ajang perlombaan, tetapi itu tidak menjadi alasan agar ia mundur. Sejak awal memulai, Jihan tidak merasa kalah, karena berani memulai sudah menjadi kemenangan baginya.

Menurutnya, kunci dari kejuaraan tersebut adalah belajar. Karena banyak perbedaan ajang Duta CBP Rupiah dengan Duta lainnya. Duta CBP Rupiah mutlak difokuskan pada uang rupiah mulai dari filosofis, metode melihat keaslian uang rupiah, dan hal-hal yang ada didalamnya.  

Jihan menyampaikan bahwa sekecil apapun langkah yang kita ambil jangan pernah lupakan rida dan doa orang tua serta guru. Ia juga berpesan kepada para mahasiswa agar percaya pada potensi yang dimiliki, melakukan apa yang mampu dilakukan, jangan pernah merasa minder atau takut gagal, serta selalu bersyukur jika dikelilingi oleh orang-orang hebat.

"Kampus sangat support, baik itu dosen, pimpinan fakultas serta pimpinan kampus yang selalu memberikan dukungan mulai dari awal sampai saya akhirnya alhamdulillah mendapatkan juara 2 pada ajang Duta Muda CBP Rupiah," tambahnya.

Setelah pencapaian pada ajang ini, Jihan memiliki target agar terus menjadi fasilitator terbaik dalam agen paham rupiah sebagai penyampai edukasi kepada anak muda supaya bisa memandang rupiah bukan sekadar bernilai transaksi tetapi juga sebagai kedaulatan negara.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Chalisa Najla Safira

24 Juli 2026

Romantisisme di KKN Era Digital, Ketika Pengabdian Kabur menjadi Hasrat Viral

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Perkembangan teknologi membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan manusia. Mulai dari informasi yang dapat tersebar dengan cepat, komunikasi yang berjalan dengan lancar, dan jarak bukan menjadi penghalang untuk saling berinteraksi. Namun di balik itu, perkembangan teknologi memunculkan sebuah persoalan sosial yang nyata, yaitu kaburnya esensi pengabdian. Ternyata, kemajuan teknologi tidak diiringi dengan meningkatnya ketulusan kepedulian antarsesama.

Fenomena ini bisa dilihat dari maraknya pembuatan konten keseharian Kuliah Kerja Nyata (KKN) di media sosial, pamer drama interaksi antar teman satu tim, hingga banyaknya mahasiswa yang berlomba-lomba menciptakan citra romantis dengan warga desa demi meningkatkan popularitas. Bahkan saat menjalankan program kerja bersama rekan kelompok atau saat membantu warga di lokasi penempatan, kebanyakan mahasiswa justru lebih sibuk mengatur sudut kamera dan membuat video estetik daripada benar-benar bekerja sama secara solid atau mendengarkan keresahan masyarakat setempat.

Video atau momen kedekatan bersama rekan KKN maupun warga tersebut kemudian diunggah ke media sosial demi mendapatkan penonton tanpa memikirkan perasaan orang-orang di sekitar yang dijadikan objek konten. Ini menunjukkan bahwa nilai pengabdian telah bergeser oleh keinginan untuk menjadi yang pertama mengunggah kejadian dan mendapatkan banyak respon dari warganet.

Kebiasaan seperti ini sangatlah memprihatinkan. Perkembangan teknologi memang memudahkan seseorang untuk mendapatkan dokumentasi suatu peristiwa, tetapi tidak semua peristiwa layak untuk dijadikan konten. Dalam keadaan pengabdian masyarakat, yang seharusnya menjadi prioritas utama adalah kerja sama tim dan manfaat bagi manusia. Jika tidak mampu memberikan kontribusi secara langsung, setidaknya teknologi bisa digunakan untuk mendukung kebutuhan kelompok atau dikoordinasikan dengan pihak berwenang.

Penggunaan teknologi untuk mencari popularitas instan di tengah kegiatan sosial juga merupakan hal yang seharusnya tidak dilakukan apalagi dinormalisasikan. Kedua hal ini dapat menjadi bukti nyata penyalahgunaan teknologi yang mengakibatkan hilangnya esensi pengabdian. Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk sarana membantu sesama, bukan malah digunakan untuk mengejar popularitas di atas penderitaan atau kesederhanaan orang lain. Jangan sampai perkembangan teknologi malah mengurangi nilai-nilai kemanusiaan. Karena sebenarnya pengabdian tidak diukur dari jumlah tayangan atau komentar orang-orang, melainkan dari tindakan nyata yang kita lakukan ketika masyarakat membutuhkan bantuan.


Penulis: Ilham Dwi Temas Miwa 

Editor: Chalisa Najla Safira

Negeri yang Kucari

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Di layar kaca, wajah-wajah berjanji

Kata-kata manis mengalir tanpa henti

Namun di jalan, keringat masih membasahi

Harga terus naik, upah seakan tak berarti


Aku mendengar kisah pembangunan megah, 

Gedung-gedung menjulang, jalan tol terbentang

Namun, di sudut-sudut kota yang tak tersentuh

Masih ada perut lapar menunggu uluran


Masih ada harapan yang belum bertumbuh

Media ramai, tagar datang silih berganti

Suara rakyat perlahan tenggelam sendiri

Yang bertanya kerap dipandang curiga


Yang memilih diam justru dipuji adanya

Lalu, di manakah ruang untuk menyampaikan suara?

Namun aku masih percaya pada negeri ini

Pada anak-anak muda yang tak lelah berdiri


Pada tangan-tangan kecil yang terus bekerja

Merajut harapan di tengah luka yang tersisa

Sebab negeri ini belum kehilangan cahaya

Bukan karena semuanya telah sempurna


Melainkan karena kita belum menyerah

Negeri ini bukan hanya milik mereka yang berkuasa

Tetapi juga milik kita

Yang terus menjaga harapan dan asa


Penulis: Razwa Syuib

Editor: Chalisa Najla Safira

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.