![]() |
| Foto: Pixabay |
HEADLINE
24 Juli 2026
Negeri yang Kucari
Namun di jalan, keringat masih membasahi
Aku mendengar kisah pembangunan megah,
Namun, di sudut-sudut kota yang tak tersentuh
Masih ada harapan yang belum bertumbuh
Media ramai, tagar datang silih berganti
Suara rakyat perlahan tenggelam sendiri
Yang memilih diam justru dipuji adanya
Lalu, di manakah ruang untuk menyampaikan suara?
Namun aku masih percaya pada negeri ini
Pada tangan-tangan kecil yang terus bekerja
Merajut harapan di tengah luka yang tersisa
Sebab negeri ini belum kehilangan cahaya
Melainkan karena kita belum menyerah
Negeri ini bukan hanya milik mereka yang berkuasa
Tetapi juga milik kita
Yang terus menjaga harapan dan asa
Penulis: Razwa Syuib
Editor: Chalisa Najla Safira
Di Balik Nama "Sejahtra": Harapan, Doa, atau Beban?
![]() |
| Foto: IST |
Namun, seiring bertambahnya usia, aku mulai bertanya-tanya. Apakah nama ini hanya sebuah harapan, atau justru menjadi beban?
Hidupku tidak selalu berjalan seperti arti namaku. Aku pernah menghadapi banyak kesulitan, tekanan, kegagalan, rasa lelah, dan masa-masa ketika aku merasa jauh dari kata "sejahtera." Ada hari-hari ketika aku mempertanyakan diri sendiri: mengapa seseorang yang bernama Sejahtra justru harus melalui begitu banyak ujian?
Lalu, aku menyadari sesuatu.
Mungkin orang tuaku tidak sedang menamai siapa aku saat itu. Mereka sedang mendoakan siapa aku akan menjadi.
Nama bukanlah cerminan keadaan hari ini. Nama adalah arah perjalanan.
Karena itu, aku memilih untuk terus belajar. Aku menulis, mengikuti perlombaan, aktif berorganisasi, mencoba hal-hal baru, dan tidak berhenti berkembang. Setiap langkah kecil menjadi cara untuk mendekatkan diriku pada makna nama yang telah diberikan sejak lahir.
Hari ini, ketika aku dipercaya menjadi Google Student Ambassador, aku merasa perjalanan itu mulai menemukan maknanya. Amanah ini bukan sekadar gelar, tetapi pengingat bahwa aku harus menjadi pribadi yang mampu membawa manfaat melalui teknologi, pendidikan, dan inovasi.
Menjadi Google Student Ambassador membuatku percaya bahwa kesejahteraan bukan hanya tentang memiliki banyak hal. Sejahtera adalah ketika ilmu yang dimiliki bisa dibagikan, kesempatan yang diterima bisa membuka jalan bagi orang lain, dan setiap pencapaian menjadi alasan untuk terus rendah hati.
Kini, aku tidak lagi bertanya apakah namaku adalah harapan, doa, atau beban.
Aku percaya namaku adalah ketiganya.
Harapan yang ditanamkan oleh orang tuaku.
Doa yang terus menyertaiku di setiap langkah.
Dan beban yang berubah menjadi tanggung jawab untuk terus bertumbuh.
Aku mungkin belum sepenuhnya menjadi "Sejahtra." Masih banyak mimpi yang ingin kuraih dan tantangan yang harus kulewati. Tetapi, setiap hari aku berusaha sedikit demi sedikit agar hidupku benar-benar mencerminkan namaku.
Karena pada akhirnya, seseorang tidak dikenang karena nama yang ia miliki, melainkan karena bagaimana ia memberi makna pada nama itu.
Dan aku memilih untuk menjadikan "Sejahtra" bukan sekadar nama, melainkan tujuan hidup.
Penulis: Sejahtera
Editor: Redaksi
23 Juli 2026
188 Mahasiswa UIN SUNA Lhokseumawe Resmi Dilepas dalam Program KPM Mandiri Tematik Ekoteologi
22 Juli 2026
Petani Menanam Bibit Padi di Sawah Desa Tanjung Baroh
![]() |
| Foto: Bellivia A-Kamariana |
Gempa Berkekuatan Magnitudo 5,6 Guncang Gayo Lues pada Rabu Siang
![]() |
| Foto: IST |
21 Juli 2026
Semangat Pekebun di Tengah Teriknya Hari
![]() |
| Foto: Bellivia Al-Kamariana |
Editor: Chalisa Najla Safira
Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe Gelar Webinar Internasional Peringati 20 Tahun Berdiri
![]() |
| Foto: Zahratul |
Kegiatan diawali dengan registrasi peserta di lobi Sekolah Sukma Bangsa, kemudian dibuka oleh pembawa acara dan dilanjutkan dengan pemutaran film yang mengulas perjalanan Sekolah Sukma Bangsa selama dua dekade.
Ketua Sukma Foundation, Lestari Moerdijat, menyampaikan sambutan bertajuk Twenty Years of Sekolah Sukma Bangsa: Nurturing Hope, Humanizing Education. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Rektor Sukma Foundation, Ahmad Baidhowi AR.
Webinar ini menghadirkan sejumlah pakar pendidikan dari berbagai negara, yakni Eero Ropo dari Tampere University, Finlandia; Tahir Shad dari Washington College, Amerika Serikat; Yuji Uesugi dari Waseda University, Jepang; serta Jean Greyling dan Ryan Le Roux dari LEVA Foundation, Afrika Selatan.
Selain pemateri internasional, kegiatan ini juga menghadirkan sesi Expert Respondent: Indonesian Perspectives yang diisi oleh Komaruddin Hidayat dan Ahmad Humam Hamid dari Universitas Syiah Kuala. Sementara itu, sesi Expert Respondent: Aceh Perspectives menghadirkan Iryana Muhammad dari Universitas Malikussaleh dan Baiquni dari Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.
Dalam webinar tersebut, para narasumber membahas berbagai isu pendidikan global, di antaranya tantangan perubahan iklim, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam dunia pendidikan, serta strategi membangun sistem pendidikan yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada kewargaan global.
Salah satu pemateri, Tahir Shad, menyampaikan bahwa hubungan Washington College dengan Sekolah Sukma Bangsa telah terjalin sejak 2012 melalui program kolaborasi yang melibatkan mahasiswa Washington College untuk tinggal dan mengajar di Sekolah Sukma Bangsa.
Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadikan Sekolah Sukma Bangsa sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai budaya, nilai, dan cara pandang sekaligus mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan. "Penting bagi Sekolah Sukma Bangsa untuk terus menjaga keberagaman, kolaborasi, dan komunikasi. Sekolah ini telah menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai budaya dan membuka peluang bagi siswa untuk berkembang di masa depan," ujar Tahir Shad.
Kegiatan ditutup dengan sesi penutup yang dipandu oleh Syamsir Alam selaku Dewan Pengawas Yayasan Sukma sekaligus Penasihat Kurikulum.
20 Juli 2026
Fomo: Takut Tertinggal Menjadi Standar Kehidupan Remaja
![]() |
| Foto: Pixabay |
19 Juli 2026
Hujan yang Tak Pernah Kusesali
Mengenai Saya
- LPM AL-KALAM
- Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.





.png)



