www.lpmalkalam.com- Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah dan genangan air yang memantulkan lampu-lampu kapal. Aku berdiri di ujung dermaga, berteduh di bawah atap seng toko kelontong yang sudah tutup. Di sebelahku, seorang wanita tua berkerudung lusuh sedang merapikan jualan ikan asinnya ke dalam keranjang bambu. Kami berdua hening, hanya ditemani deburan ombak yang berulang dan dengung mesin kapal dari kejauhan.
Tanpa menatapku, ia memecah kesunyian dengan suara lembut namun dalam.
"Menurutmu, ke mana mengalirnya air laut yang dulu pernah kita seberangi?"
Aku terpaku. Bukan pertanyaan itu yang membuatku membisu, melainkan makna di baliknya: Ke mana perginya sosok muda kita yang dulu begitu berani menerjang badai? Ke mana perginya jiwa impian yang percaya bahwa seluruh lautan bisa ia taklukkan? Kita sering kehilangan versi terbaik dari diri sendiri saat sibuk mendayung menuruti arus kehidupan.
Wanita itu tersenyum tipis, usapan jarinya yang keriput dengan telaten merapikan sisa dagangan.
"Jika pada akhirnya kita selalu merindukan daratan yang kita tinggalkan," lanjutnya sambil mengikat keranjang, "mengapa kita begitu bernafsu berlayar sejauh ini?"
Pertanyaan kedua itu menghantamku lebih keras. Aku teringat betapa seringnya kita berpacu dengan waktu, mengorbankan hari ini demi mengejar esok, lalu saat esok itu tiba, kita justru menangisi hari kemarin yang telah hilang. Kita berlari agar tak tertinggal, tetapi di puncak perjalanan, kita justru merasa asing dengan tempat kita berdiri.
Wanita tua itu bangkit, memikul keranjangnya dengan perlahan, lalu menatap garis cakrawala yang kian kabur ditelan malam.
"Mungkin pelayaran ini bukan tentang menemukan pelabuhan yang sempurna," ucapnya lirih sebelum melangkah pergi. "Tapi tentang keberanian untuk terus berlayar, meski kita tak pernah benar-benar paham ke mana arah angin membawa kita."
Malam itu, di tengah hembusan angin laut yang dingin, aku tidak lagi berniat mencari arah atau jawaban pasti. Aku hanya berdiri di sana, membiarkan gelombang demi gelombang menghantam dermaga, dan belajar menerima setiap keraguan tanpa harus memaksa kehidupan memberikan alasannya.
Penulis: Amanda Zuhra
Editor: Chalisa Najla Safira









