Portal Berita Al-Kalam

Dilema Desil: Statistik Bernilai Kemelaratan

  Foto: Pixels www.lpmalkalam.com- Hidup di negara yang penuh dengan isu nasional, membuat masyarakat Indonesia tidak bisa menjalani aktivi...

HEADLINE

Latest Post

16 Mei 2026

Dilema Desil: Statistik Bernilai Kemelaratan


 Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Hidup di negara yang penuh dengan isu nasional, membuat masyarakat Indonesia tidak bisa menjalani aktivitas dengan tenang. Akhir-akhir ini muncul istilah "Desil" yang menambah kegundahan masyarakat. Desil merupakan tingkat kesejahteraan sosial masyarakat dibuat untuk membatasi pengeluaran negara baik dari segi pendidikan maupun jaminan kesehatan, yang dinilai berupa angka 1 (sangat miskin) sampai dengan 10 (sangat sejahtera). 

Kegundahan warga dimulai karena tidak sesuainya pembagian angka dengan realitas yang ada. Masyarakat golongan bawah tetap digolongkan ke dalam golongan tinggi sehingga sulit untuk menerima Bantuan Sosial (Bansos) dan juga ditolak jaminan kesehatan seperti Bantuan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS). 

Beberapa kelompok masyarakat merasakan adanya inflasi yang sangat berdampak negati karena mereka tetap patuh membayar pajak, tetapi tidak dapat menerima hubungan timbal balik dari pemerintah, seperti kenaikan harga pangan dan berkurangnya bantuan.

Kenyataannya, sampai saat ini masyarakat masih belum bisa menerima ketetapan angka yang diberikan oleh para pejabat melalui media digital yang dianggap tidak adil dan tidak sesuai dengan realita. Seharusnya para pemerintah tetap menyelidiki secara lebih mendalam tentang tingkatan sosial masyarakat sebelum menetapkan angka yang mengakibatkan runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap suatu hukum negara.

Namun, sampai saat ini masyarakat masih berharap angka desil yang sudah berlaku masih bisa diperbaiki sesuai dengan nilai-nilai keadilan masyarakat. 



Penulis: Annisa Maulianda


Editor: Chalisa Najla Safira


Ketika Ajang Akademik Kehilangan Nilai Keadilan

Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com- Sebuah perlombaan akademik seharusnya menjadi tempat bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan berpikir, keberanian menyampaikan pendapat, serta hasil dari proses belajar yang telah dijalani. Namun, belakangan ini muncul perdebatan dalam sebuah ajang pengetahuan yang membuat banyak orang mempertanyakan bagaimana sistem penilaian dijalankan. Situasi tersebut menjadi perhatian publik karena ada peserta yang dianggap memberikan jawaban tepat, tetapi tetap dinyatakan salah oleh pihak penilai. Perbedaan keputusan itu akhirnya memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat.

Hal ini bukan hanya soal menang atau kalah dalam perlombaan, melainkan juga menyangkut pentingnya keadilan dan profesionalisme dalam dunia pendidikan. Peserta tentu berharap setiap jawaban dinilai secara objektif dan konsisten. Ketika penjelasan dari pihak penilai kurang jelas atau keputusan terlihat berbeda antara satu peserta dan peserta lainnya, kepercayaan terhadap kompetisi dapat menurun. Apalagi, di era media sosial saat ini, sebuah kejadian dapat dengan cepat menyebar luas dan menjadi perhatian publik.

Di sisi lain, sikap peserta yang tetap tenang saat menyampaikan pendapat justru mendapat banyak apresiasi. Cara berbicara yang sopan, percaya diri, dan tetap menghargai pihak lain menunjukkan kedewasaan dalam bersikap. Perbedaan pendapat sebenarnya dapat disampaikan dengan baik tanpa harus menimbulkan suasana yang memanas. Sikap seperti ini juga menjadi contoh positif bagi pelajar lain dalam menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan.

Kejadian tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara kompetisi akademik agar lebih teliti, transparan, dan profesional dalam mengambil keputusan. Sebab, pada akhirnya tujuan utama perlombaan pendidikan bukan hanya menentukan siapa yang menjadi juara, tetapi juga membangun semangat belajar, sportivitas, dan rasa percaya diri para peserta.


Penulis: Lutfiatil Syaqirah


Editor: Chalisa Najla Safira

Dua Mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah Raih Gelar Agam dan Wakil I Agam Aceh Utara 2026

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Dua mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe berhasil menorehkan prestasi dalam ajang Pemilihan Agam-Inong Aceh Utara 2026 yang berlangsung di Aula Setdakab Aceh Utara pada Senin (27/4/2026).

Panitia pelaksana, Muhammad Hatta, SST.Pa menyampaikan bahwa para finalis yang lolos telah melewati serangkaian tahapan seleksi yang ketat, mulai dari verifikasi administrasi, tes wawancara, hingga uji kecakapan berbahasa Aceh, Indonesia, dan Inggris.

Setelah melalui seluruh rangkaian seleksi, Fahrul Rozi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), berhasil terpilih sebagai Wakil I Agam Aceh Utara 2026. Sementara itu, Shahibul Kautsar, mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Syari’ah (Fasya), berhasil meraih gelar Agam Aceh Utara 2026.

Fahrul Rozi mengatakan bahwa keikutsertaannya dalam ajang tersebut didorong oleh keinginan untuk mengembangkan diri sekaligus memperkenalkan potensi wisata dan budaya Aceh Utara kepada masyarakat luas. Ia mengaku tantangan terbesar selama proses seleksi ialah membangun rasa percaya diri dan menjaga konsistensi karena peserta tidak hanya dinilai dari penampilan, tetapi juga kualitas diri, wawasan, serta kesiapan mental. “Saya berharap dapat menjadi representasi pemuda yang aktif, inspiratif, dan mampu berkontribusi dalam memajukan pariwisata serta budaya Aceh Utara,” ujarnya.

Sementara itu, Shahibul Kautsar mengungkapkan bahwa motivasinya mengikuti ajang tersebut ialah untuk memperkenalkan sejarah dan budaya Aceh Utara serta menjadi penghubung antara sejarah Samudera Pasai dan inovasi generasi muda.

Ia menambahkan bahwa proses seleksi tidak hanya menguji kemampuan fisik dan intelektual, tetapi juga ketahanan mental, kedisiplinan, serta adab peserta selama masa karantina. “Saya berharap dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata berbasis komunitas. Saya ingin melihat produk lokal dikenal lebih luas, baik secara nasional maupun internasional,” ujarnya.


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Putri Ruqaiyah

15 Mei 2026

Language Expo Digelar, Latih Bakat dan Kemampuan Bahasa Asing

Foto: Intan Sarifah 

www.lpmalkalam.com- Organisasi Mahasantri (Ormasa) bagian bahasa Ma’had Al-Jami’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiah (SUNA) Lhokseumawe kembali menggelar Language Expo 2026 di Lobi lantai 2 Gedung Ma’had Al-Jami’ah setempat pada Jumat (15/05/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu (15–17/05/2026) tersebut mengusung tema 'Journey Through Stories: Where the Words Become Magic.' Acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara (MC), kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran.

Ketua Qismun Bahasa, Asyifa Nabila, dalam sambutannya mengajak seluruh peserta untuk mempererat persatuan antar bidang. Ia menyampaikan bahwa menang dan kalah dalam perlombaan merupakan hal yang biasa, sedangkan yang terpenting adalah semangat yang dimiliki setiap peserta.

Tujuan diadakannya expo tersebut adalah untuk melatih bakat dan minat mahasantri serta agar mereka dapat menerapkan bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Ketua Qismun Bahasa juga berharap para peserta ke depannya dapat mengikuti kegiatan yang lebih besar di luar kampus.

Senada dengan itu, Ketua Umum menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta dan panitia yang telah mempersiapkan acara. Ia berharap expo tersebut dapat menjadi sarana menjalin kebersamaan dan mengambil hikmah, 'Dengan menguasai bahasa asing, kita bisa berkeliling dunia,' tegasnya.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan yel-yel, penampilan storytelling dari bagian bahasa, serta pengumuman penilaian lomba. Kemeriahan berlanjut melalui lomba Who Am I, penampilan iklan oleh bagian Humas, dan drama dari bagian Kebersihan yang sekaligus menjadi penutup seluruh rangkaian acara.

“Expo Qismun Bahasa diharapkan mampu memperkuat semangat kompetisi sehat sekaligus mempererat silaturahmi antaranggota,” tegasnya.


Penulis: Intan Sarifah


Editor: Putri Ruqaiyah

13 Mei 2026

Malam, Hujan, dan Tangis yang Disembunyikan

Foto: Pexels 


www.lpmalkalam.comMalam itu hujan mengguyur Kota Bandung. Lampu jalan memantul di genangan air, seperti serpihan kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai dipungut.

Di halte tua dekat kampus, seorang gadis duduk sendiri sambil memeluk tasnya erat.

Namanya Kanaya.

Sudah hampir dua jam ia berada di sana, bukan karena menunggu seseorang, melainkan karena tidak tahu harus pulang ke mana dalam keadaan hatinya yang begitu berantakan.

Hari itu dosennya kembali menolak proposal skripsinya. Orang tuanya di rumah terus menanyakan kapan ia lulus. Teman-temannya satu per satu mulai sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Dan orang yang dulu selalu menjadi tempat pulangnya bahkan kini tidak lagi menanyakan bagaimana kabarnya.

Kadang hidup terasa aneh.
Kita tumbuh sambil kehilangan banyak hal, lalu dipaksa tetap berjalan seolah semuanya baik-baik saja.

Naya menatap langit gelap. Hujan belum juga berhenti.

“Aku capek,” bisiknya lirih, nyaris kalah oleh suara hujan. Kalimat sederhana yang selama ini selalu ia telan sendiri.

Di samping halte, ada seorang pria penjual kopi yang masih membuka gerobaknya. Uap panas dari cangkir kopi naik perlahan menembus dingin malam.

“Kenapa belum pulang?” tanyanya.

Naya hanya tersenyum kecil.

“Kadang orang bukan nggak mau pulang,” lanjut pria itu sambil menuang kopi. “Mereka cuma belum siap kalau setelah perjalanan sejauh ini, ternyata nggak ada lagi tempat yang bisa dipanggil rumah.”

Kalimat itu menghantam dada Naya begitu saja. Karena ternyata benar, yang paling melelahkan bukan tugas kuliah, bukan revisi, bukan pula hujan panjang malam itu.

Melainkan perasaan bahwa tak lagi punya tempat untuk dimengerti.

Naya menunduk. Matanya mulai panas. Ia selalu terlihat kuat di hadapan semua orang. Selalu berusaha jadi pendengar yang baik. Selalu bilang, “Aku nggak apa-apa,” bahkan ketika isi kepalanya berisik sepanjang malam.

Tak ada yang tahu betapa sering ia menangis diam-diam di kamarnya agar suaranya tidak terdengar.

Tak ada yang tahu kalau akhir-akhir ini ia bahkan malas membuka media sosial karena hidup orang lain terlihat begitu menyenangkan, sementara ia merasa dirinya tidak seberuntung itu.

“Nangis boleh kok,” kata pria itu pelan. “Manusia bukan robot.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Naya menangis tanpa menahannya sedikit pun.

Hujan masih turun. Kendaraan masih berlalu lalang. Orang-orang masih sibuk dengan urusannya. Tetapi malam itu, di halte kecil yang hampir terlupakan, ada seseorang yang akhirnya jujur pada dirinya sendiri bahwa ia lelah.

Beberapa menit kemudian, tangis Naya mulai mereda. Ia menghapus air matanya pelan.

“Kalau hidup seberat ini … nanti bakal membaik nggak, ya?”

Pria itu tersenyum kecil.

“Hujan aja tahu kapan harus berhenti. Masa luka manusia nggak sih?”

Naya terdiam.

Mungkin hidup tidak selalu menghadiahkan jawaban cepat. Kadang yang bisa dilakukan hanya bertahan dan terus melangkah.

Dan mungkin, dewasa memang tentang belajar menerima bahwa tidak semua kehilangan harus kembali, tidak semua luka harus segera sembuh. Beberapa rasa sakit hanya akan berubah menjadi bagian dari diri kita.

Malam semakin larut. Hujan mulai mereda.

Naya berdiri perlahan sambil menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Tidak sepenuhnya sembuh, namun tidak sepenuhnya membaik juga. Tapi setidaknya, cukup untuk melanjutkan hidupnya esok hari.


Penulis: Julia Sabela



Editor: Chalisa Najla Safira




09 Mei 2026

Rapat Perdana LPM Al-Kalam Periode 2026-2027

 

Foto: Muhammad Fajri Unsyurah

www.lpmalkalam.com- Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe periode 2026-2027 mengadakan rapat perdana di Gedung Kesekretariatan LPM Al-Kalam pada Sabtu (02/05/2026).

Rapat dimulai sejak pukul 08.30 WIB yang dibuka oleh Pemimpin Umum (Pimum) LPM Al-Kalam, Zahira Putri Meola. Agenda utama rapat perdana ini membahas serta mengesahkan program kerja dari masing-masing divisi. Setiap kepala divisi dan redaktur diberikan kesempatan untuk memaparkan rencana program kerja selama satu periode kepengurusan. 

Pemaparan proker dimulai dari Divisi Redaksi, dilanjutkan oleh Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang), Divisi Perusahaan, Divisi Kesekretariatan, dan diakhiri oleh Badan Pengurus Harian (BPH). Beberapa program yang diajukan mendapatkan masukan dan saran untuk penyempurnaan agar lebih efektif dan realistis dalam pelaksanaannya.

Sebelum rapat ditutup, Meola turut menyampaikan harapannya kepada seluruh pengurus. "Melalui rapat perdana mengenai program kerja kakak berharap agar semua proker terjalankan sesuai dengan yang sudah di sepakati. Proker ini bukanlah suatu beban tapi jalan untuk menciptakan karya khususnya di ranah jurnalistik," ujarnya.


Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Ririn Dayanti Harahap









08 Mei 2026

Sepasang Sepatu Usang dan Mimpi yang Tak Pernah Padam

 

Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com- Pagi itu, suasana di SMA Nusa Bangsa terlihat lebih ramai dari biasanya. Siswa-siswi berlarian di lapangan dengan semangat. Di tengah keramaian itu, tampak seorang siswa justru berjalan pelan sambil menunduk. Ia adalah Andre. Sepatu yang dipakainya tampak usang dengan tali yang hampir putus. 

Andre berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai sopir angkot, sedangkan ibunya pedagang kue kecil-kecilan di rumah. Keadaan itu sering membuat Andre merasa minder dengan teman-temannya. 

"Kenapa murung gitu, Dre?" tanya Raka, sahabatnya. 

Andre tersenyum kecil. "Kadang aku malu, Rak. Sepatuku begini, buku tugasku juga belum lengkap."

Raka menepuk pundaknya pelan. "Bukan soal apa yang kamu pakai, tapi sejauh mana kamu mau berjuang."

Ucapan itu membuat Andre terdiam. 

Dua hari lagi sekolah akan mengadakan lomba pidato antarsiswa. Pemenangnya akan menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti perlombaan tingkat kota. Melihat pengumuman di mading, Raka langsung menoleh ke arah Andre. 

"Kamu ikut, kan?"

Andre menggeleng cepat. "Aku nggak mungkin menang. Banyak yang lebih hebat, Rak."

"Jangan ngeremehin diri sendiri. Kamu punya kemampuan berbicara yang bagus," balas Raka yakin. 

Awalnya Andre ragu, tetapi akhirnya ia memberanikan diri untuk mendaftar. 

Tepat di hari perlombaan dimulai, aula sekolah terasa menegangkan. Satu per satu peserta tampil membawakan pidatonya. Andre yang duduk di kursi peserta terus menggenggam kertas dengan tangan gemetar. 

Ketika nomor undiannya dipanggil, ia berjalan perlahan menuju podium. Napasnya terasa berat. 

"Saya percaya..." ucap Andre pelan, "...bahwa mimpi tidak pernah memilih siapa yang pantas. Kadang justru mereka yang berjalan dengan keterbatasan adalah orang-orang yang paling kuat bertahan."

Suasana aula mendadak hening. 

Semakin lama suara Andre terdengar semakin mantap. Kata demi kata keluar dengan penuh keyakinan. Semua siswa memperhatikannya dengan serius, sementara beberapa guru terlihat tersenyum bangga dari bangku belakang. 

Saat pengumuman pemenang tiba, Andre hanya bisa menunduk pasrah. 

"Juara pertama lomba pidato diraih oleh...
Andre Bagaskara!"

Tepuk tangan langsung memenuhi aula. Andre terpaku sesaat, seolah tidak percaya namanya dipanggil. Raka berdiri paling depan sambil bersorak bangga. 

"Selamat, Dre!"

Andre tersenyum haru. Untuk pertama kalinya, ia merasa dirinya benar-benar berarti. 

Sebelum pulang, Pak Angga menghampirinya. 

"Kamu anak hebat, Andre," ujarnya. "Jangan pernah malu dengan keadaanmu. Tidak semua orang yang hidup sederhana kehilangan kesempatan untuk berhasil."

Andre mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. 

Hari itu, Andre belajar satu hal penting. Terkadang mimpi besar memang lahir dari langkah-langkah kecil dan perjuangan yang tiada henti.


Penulis: Julia Sabela


Editor: Chalisa Najla Safira

07 Mei 2026

Ormawa Fasya Gelar Kelas Umum Bersama Haji Uma

 

Foto: Putri Ruqaiyah


www.lpmalkalam.com- Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Syariah (Fasya) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menyelenggarakan Kuliah Umum bersama Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) di Aula Biro kampus setempat pada Kamis (07/05/2026).

Kegiatan tersebut mengusung tema 'Relasi Kewenangan Pusat dan Daerah dalam Negara Kesatuan: Menguji Eksistensi Qanun Aceh di Tengah Arus Unifikasi Hukum Nasional.' Rangkaian acara ini diawali dengan pembacaan Ayat Suci Al-Quran, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne Aceh, serta Mars UIN SUNA. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Panitia yaitu Al Muhajir, yang dilanjutkan oleh  Hasanul Aftar selaku Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), serta sambutan sekaligus pembukaan oleh Wakil Rektor (Warek) III UIN SUNA Lhokseumawe, Dr. Darmadi, M.Si.

Dalam sambutannya, Darmadi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Darmadi juga menyampaikan perjalanan transformasi kelembagaan kampus dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) hingga akhirnya berstatus menjadi UIN. Selain itu, ia turut menyinggung peran anggota DPD RI, H. Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, dalam proses transformasi tersebut.

Setelah rangkaian seremoni dilaksanakan, kegiatan dilanjutkan kepada acara inti dengan menghadirkan Haji Sudirman, S.Sos., M.Sos., anggota DPD RI/MPR RI, sebagai pemateri. Dalam pemaparannya, Haji Uma membahas kedudukan serta dinamika Qanun Aceh di tengah arus unifikasi hukum nasional. Haji uma juga menegaskan pentingnya kajian lapangan terhadap implementasi Qanun di masyarakat.

“Kita perlu mencari tahu dan menganalisis keberhasilan penerapan qanun di gampong, khususnya dalam menyelesaikan perkara tindak pidana ringan atau tipiring hingga tuntas,” ujarnya.

Acara ditutup dengan sesi diskusi, penyerahan sertifikat kepada pemateri, serta foto bersama dengan seluruh peserta yang hadir pada kegiatan tersebut.



Penulis: Intan Sarifah


Editor: Tiara Khalisna

06 Mei 2026

Mimpi dari Bangku Paling Belakang

Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com- Zayyan, siswa yang selalu duduk di bangku paling belakang. Bukan karena malas, tetapi karena Zayyan sering datang terlambat ke sekolah sebab harus membantu ibunya menyiapkan jualan di pasar terlebih dahulu. 

Pagi ini, guru wali kelas memberikan tugas sederhana untuk siswa. Seluruh siswa diberikan waktu untuk menuliskan cita-cita mereka pada selembar kertas dan kemudian diceritakan di depan kelas. 

Suasana kelas sangat ramai. Teman-teman Zayyan sangat bersemangat menceritakan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi polisi, guru, bahkan pilot. Namun, Zayyan hanya diam sambil menatap kertas kosong di mejanya.

Guru wali kelas menyadari hal itu.

"Kenapa belum ditulis, Yan?" tanyanya.

"Saya takut cita-cita saya terlalu tinggi, Bu," ucap Zayyan sambil menunduk.

"Memangnya apa cita-citamu?" 

Zayyan menarik napas pelan sebelum menjawab.

"Saya ingin jadi dokter. Saya ingin membantu orang sakit yang tidak punya biaya, seperti ibu saya."

Ibu guru tersenyum haru. "Gak ada cita-cita yang terlalu tinggi kalau kamu sertai dengan doa dan usaha," ucapnya sambil tersenyum.

Kalimat itu membuat Zayyan kembali bersemangat. Ia mulai menulis cita-citanya dengan penuh keyakinan.

Usai waktu yang diberikan habis, siswa diminta untuk membacakan apa yang mereka tulis di depan kelas.

Hingga tiba giliran Zayyan.

Dengan suara yang sedikit bergetar, Zayyan membacakan tulisannya.

"Saya belajar bahwa pendidikan tidak melihat siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang paling mau belajar dan berusaha. Saya percaya dengan doa dan usaha, suatu hari nanti bisa membawa saya menjadi dokter untuk membantu banyak orang dan membahagiakan keluarga saya." 

Suasana kelas menjadi hening, banyak siswa yang tersentuh mendengar kalimat Zayyan.

Usai Zayyan membacakan tulisannya, Ibu guru menghampirinya.

"Jangan pernah berhenti bermimpi ya, Yan. Sekolah akan membantu siswa yang mau berjuang," ujarnya sambil tersenyum.

Hari ini, untuk pertama kalinya Zayyan merasa mimpinya bukanlah hal yang mustahil. Dari bangku paling belakang, Ia yakin bahwa pendidikan bisa membawanya ke masa depan yang menjanjikan.


Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Tiara Khalisna

05 Mei 2026

Asap di Jalan, Racun di Rumah: Ketika Rokok Menguasai Tangan, Membutakan Nurani, dan Menjadi Simbol Kebodohan Kolektif

 

Foto: Qonita Sholihat 

Penulis: Muhammad Alif Maulana

www.lpmalkalam.com- Ada dua pemandangan yang semakin hari semakin menjijikkan di negeri ini, orang yang merokok sambil mengendarai kendaraan, dan orang tua yang dengan santainya menyebarkan asap di depan anak-anaknya, baik itu balita maupun yang sudah lebih besar. Padahal, kebiasaan orang tua merokok di depan anak dapat membuat anak meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Keduanya sama-sama mencerminkan rendahnya kesadaran dan tingginya egois.

Bayangkan, seseorang berkendara di jalan umum, menyalakan rokok, lalu tanpa pikir panjang menyebarkan asap ke udara atau lebih parah lagi membuang puntung rokok sembarangan. Asapnya bisa mengenai kendaraan di belakang, bahkan bisa mengenai wajah pengendara motor lain sehingga dapat membuat orang lain celaka. Ini bukan hanya tentang etika atau adab sebagai manusia, karena kita bukan hewan, tetapi juga soal keselamatan dan tanggung jawab moral etika. Tangan yang seharusnya fokus memegang setir justru digunakan untuk memegang rokok. Ketika puntung rokok jatuh, puntung tersebut bisa saja mengenai pengendara lain, menimbulkan luka bakar kecil atau bahkan memicu kecelakaan besar.

Ironisnya, sebagian dari mereka merasa itu hal biasa. Padahal, tidak ada yang lebih egois daripada mengorbankan keselamatan orang lain demi kepuasan menghisap asap beracun. Lebih menyedihkannya lagi, ketika seorang ayah dengan bangga merokok di depan anaknya, seperti sedang menunjukkan kedewasaan atau sesuatu yang wajar bagi mereka. Padahal, yang dilihat sang anak bukanlah sosok tangguh, tapi contoh nyata dari kebodohan dan ajaran sesat yang diwariskan. Asap yang dihirup anak-anak jauh lebih berbahaya. Paru-paru mereka masih bersih, namun perlahan diracuni oleh seorang yang seharusnya melindungi.

Kemudian ketika anak itu tumbuh dan ikut merokok, siapa yang harus disalahkan? Sekolah? Lingkungan? Tidak. Contoh pertama datang dari rumah, yaitu dari orang tua.

Kita hidup di masyarakat yang larangan merokok di ruang publik gencar diumumkan, tapi kesadaran masyarakat masih tetap rendah. Banyak yang merasa merokok itu hak pribadi, tapi lupa bahwa hak orang lain untuk menghirup udara bersih juga sama pentingnya. Sudah saatnya kita berbicara tegas.
  • Merokok di jalan adalah bentuk pelanggaran etika sosial dan potensi bahaya lalu lintas.
  • Merokok di depan anak adalah bentuk kekerasan pasif yang membunuh secara perlahan.
Jangan tunggu regulasi baru untuk berhenti bersikap bodoh. Kesadaran tidak perlu undang-undang, tapi hati nurani. Jika masih ada yang merasa bangga merokok sambil berkendara atau di depan anaknya, mungkin bukan hanya asap rokok yang menutup matanya tapi juga kesadaran kemanusiaannya yang sudah padam.



Editor: Chalisa Najla Safira

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.