Portal Berita Al-Kalam

Makam Sultan Malikussaleh Jadi Ruang Mengenal Sejarah Islam di Aceh

Foto: Muna Magfirah (Magang) www.lpmalkalam.com-  Kelompok 6 kru magang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN)...

HEADLINE

Latest Post

01 November 2026

Makam Sultan Malikussaleh Jadi Ruang Mengenal Sejarah Islam di Aceh

Foto: Muna Magfirah (Magang)

www.lpmalkalam.com- Kelompok 6 kru magang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe melaksanakan ziarah ke makam Sultan Malikussaleh di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara pada Sabtu (31/10/2026).

Kegiatan ziarah tersebut diikuti oleh kru magang LPM Al-Kalam, sejumlah siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 2 Bireuen, serta peziarah dari Kabupaten Nagan Raya. Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan pemaparan sejarah makam oleh Abidon selaku penjaga sekaligus pemandu. Para pengunjung turut diberi kesempatan mengambil air yang telah didoakan sesuai dengan kepercayaan dan hajat masing-masing.

Abidon menceritakan kondisi kompleks makam saat tsunami melanda Aceh pada 2004. Menurutnya, desa tersebut porak-poranda akibat bencana, tetapi kompleks makam Sultan Malikussaleh tidak terdampak meskipun ketinggian air mencapai tiga meter.

“Dari peristiwa ini, bisa disimpulkan bahwa jangankan manusia, alam pun seolah turut menyayangi makam Sultan Malikussaleh,” ujarnya.

Abidon turut mengisahkan sejumlah tokoh penting yang pernah mengunjungi Kerajaan Samudera Pasai, di antaranya Laksamana Cheng Ho, utusan dari Tiongkok, dan Ibnu Battutah, penjelajah sekaligus ulama besar asal Maroko.

Sultan Malikussaleh memiliki nama asli Meurah Silu. Berdasarkan pemaparan Abidon, ia merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Samudera Pasai, salah satu kerajaan Islam awal di Nusantara. Setelah memeluk agama Islam, Meurah Silu menggunakan gelar Sultan Malik al-Saleh yang bermakna raja yang saleh. Ia memerintah pada 1267–1297 Masehi.

Kompleks pemakaman tersebut turut menyimpan makam putra Sultan Malikussaleh, yakni Sultan Mahmud Malik az-Zahir, serta sejumlah kerabat dan sahabatnya.

Abidon berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap pelestarian makam Sultan Malikussaleh melalui upaya pemugaran.

“Kami berharap pemerintah dapat melakukan pemugaran terhadap makam ini supaya pengunjung yang datang merasa senang melihat kondisi makam, seperti makam sultan-sultan di Pulau Jawa, misalnya,” jelasnya.


Reporter: Syifa Nazuwa (Magang)

Editor: Zahratul


31 Oktober 2026

Samudraku

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- 

Pernahkah kau mendengar angin berbisik di telingamu?

Suara bagaikan gelombang air yang memerdukan telinga

Sang pengalih dari kenyataan pahit

Membuatku berada dalam lamunan indahmu


Mata cokelatku memandangi birumu

Wahai samudra, seberapa dalam dirimu? 

Sudah berapa banyak yang engkau telan?

Kau begitu indah


Namun, menyimpan terlalu banyak rahasia 

Hingga membuatku ragu untuk mengenalmu terlalu dalam

Bulan dan matahari

Mengapa hanya bintang-bintang itu yang berani tenggelam di laut cantikmu?


Bulan dapat mengendalikan caramu bertindak

Matahari membuatmu terlihat lebih menawan, memanjakan mataku

Wahai samudraku, sangat ingin rasanya aku mengenalmu lebih dalam

Sayangnya, fanaku tak akan sanggup menggapai dasarmu


Aku terkikis, tercekik saat mencoba mengenalmu lebih dalam

Mengapa? Mengapa aku tak bisa mengerti wujud dirimu yang sebenarnya

Wahai samudraku?

Aku seakan tersesat di dalam kedalaman birumu


Aku tenggelam begitu jauh

Salahkah jika aku ingin mengenalmu lebih dalam?

Kini, aku mengerti

Dirimu begitu penuh misteri


Tetapi terlihat begitu memesona pada saat yang bersamaan

Tak akan mampu aku kembali menyelam ke kedalamanmu

Dirimu yang memesona masih bisa kupandang melalui cermin yang berbeda

Tak akan pernah kulupakan caramu memanjakan telingaku

Caramu membuatku lupa akan kenyataan pahit ini, samudraku

Suara desiran ombak birumu membuatku nyaman


Oh, samudraku,

Engkau begitu indah, seperti namamu


Penulis: Rahma Salsabila (Magang)
Editor: Zahratul

Kenangan

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- 

Lembayung senja melabuhkan cahayanya

Melodi kenangan mengalun dalam jiwa

Seperti seruling yang merdu berseri

Mengiringi langkah, menyatu dalam irama


Di lorong waktu yang tak terhingga

Mengukir cerita kenangan yang takkan pernah pudar

Senyummu yang selalu menguatkan langkah kakiku

Doamu yang selalu menyertai perjalanan hidupku


Walau kini waktu telah memisahkan

Kisahmu dan namamu tetap terukir indah di hatiku 

Pelukanmu dan kenanganmu, kini hanya dalam memori kisah yang abadi 


Damailah engkau di sana

Bersama selimut, cinta kasih, abadi

Doa-doaku akan selalu mengalir menemanimu

Hingga takdir mempertemukan kita kembali


Penulis: Keyla Afrida Rahmassheina (Magang)

Editor: Zahratul

Kekayaan SDA Aceh Belum Sejahterakan Masyarakat, GDI Soroti Pengawasan Investasi

Foto: ist/Waspada Aceh
www.lpmalkalam.com- Gampong Development Institute (GDI) menilai kekayaan sumber daya alam (SDA) Aceh belum banyak dirasakan oleh masyarakat karena pengawasan dan penegakan hukum di sektor investasi masih lemah. Hal tersebut disampaikan dalam diskusi kelompok terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) yang diselenggarakan GDI di Sada Coffee, Banda Aceh pada Jumat (30/10/2026).

Ketua GDI, Saifuddin, menyebutkan bahwa pengelolaan SDA bukan hanya berkaitan dengan potensi ekonomi, melainkan juga tata kelola pemerintahan, kepastian hukum, dan arah kebijakan investasi. FGD tersebut digelar untuk mengkaji penyebab Aceh, yang kaya akan SDA, masih bergulat dengan persoalan kemiskinan, keterbatasan lapangan kerja, kerusakan lingkungan, serta pendapatan daerah yang belum optimal.

"FGD ini kita lakukan untuk mengkaji secara mendalam mengapa Aceh dengan kekayaan sumber daya alam yang begitu besar masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kemiskinan, keterbatasan lapangan kerja, persoalan lingkungan, hingga belum optimalnya pendapatan daerah," kata Saifuddin, dikutip dari Waspada Aceh.

Saifuddin menjelaskan bahwa tanpa tata kelola yang baik, investasi hanya akan menghasilkan keuntungan jangka pendek. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kebijakan yang transparan, kepastian hukum, pengawasan perizinan yang ketat, serta keberpihakan kepada masyarakat lokal.

Dalam diskusi tersebut, dampak investasi terhadap lingkungan juga menjadi sorotan. Sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan pembangunan infrastruktur dinilai harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan serta risiko bencana.

"Investasi memang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja. Namun, investasi tidak boleh mengabaikan lingkungan dan hak masyarakat," ujar Saifuddin.

GDI juga meminta Pemerintah Aceh mengevaluasi kontribusi para investor, mulai dari pendapatan asli daerah (PAD), penerimaan negara yang dikembalikan ke daerah, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan usaha masyarakat.

Selain itu, GDI mendorong hilirisasi agar Aceh tidak terus bergantung pada penjualan bahan mentah. Industri pengolahan dinilai dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat rantai usaha lokal.

Keterbukaan informasi disebut sebagai salah satu syarat penting agar masyarakat dapat turut melakukan pengawasan. Data yang perlu dibuka kepada publik meliputi perizinan, kewajiban perusahaan, produksi, tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR), penerimaan daerah, serta dampak lingkungan.

Menurut Saifuddin, pembenahan tata kelola SDA perlu melibatkan berbagai pihak, yakni pemerintah, DPRA, DPRK, akademisi, pelaku usaha, masyarakat sipil, serta warga yang tinggal di sekitar wilayah investasi. Ia mengingatkan bahwa minimnya transparansi dan keterlibatan masyarakat berpotensi memicu konflik lahan serta perselisihan antara perusahaan dan warga setempat.

Saifuddin menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan SDA tidak cukup diukur dari besarnya investasi atau nilai produksi.

"Ukuran keberhasilan pengelolaan sumber daya alam bukan hanya besarnya investasi atau nilai produksi, melainkan sejauh mana kekayaan tersebut mampu mengurangi kemiskinan, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, dan menjamin keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang," ujarnya.

FGD tersebut menghadirkan akademisi sekaligus praktisi lingkungan hidup Aceh, Dr. M. Zulfikar, serta Alfian dari Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA). Peserta lainnya berasal dari kalangan akademisi, praktisi lingkungan dan sosial ekonomi, Forum LSM, Gerak Aceh, aktivis lingkungan, serta media.

GDI berharap forum tersebut dapat menghasilkan kajian dan rekomendasi kebijakan berbasis data. Saifuddin menegaskan bahwa masyarakat Aceh tidak menolak investasi maupun pertambangan. Namun, investasi harus dijalankan secara legal, mematuhi hukum, bertanggung jawab terhadap lingkungan, dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.

Ia juga meminta agar pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap investasi ilegal serta perusahaan yang melanggar aturan atau merusak lingkungan.

Reporter: Julia Sabela
Editor: Chalisa Najla Safira

30 Oktober 2026

Ormasa Ma’had Al-Jami’ah Bawah Gelar Penutupan Hari Santri dan Pembagian Penghargaan

Foto: Badratun Nafis (Magang)
www.lpmalkalam.com- Organisasi Mahasantri (Ormasa) Ma’had Al-Jami’ah Bawah Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menyelenggarakan acara penutupan Hari Santri dan pembagian penghargaan kepada para pemenang lomba di Gedung V Al-Jami’ah Bawah pada Jumat (30/10/2026).

Acara tersebut merupakan rangkaian penutup peringatan Hari Santri yang diisi dengan pembagian penghargaan kepada mahasantri yang berhasil memenangkan perlombaan. Kegiatan ini juga dilanjutkan dengan makan bersama yang dihadiri oleh ustaz dan ustazah.

Kegiatan tersebut dipandu oleh Fadla Alfi dan Nailul Mazaya selaku pembawa acara. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Rahmatul Azkia, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian kata sambutan oleh Fadhilatul Una.

Fauzan selaku Direktur Ma’had Al-Jami’ah Bawah menyampaikan sambutan sekaligus menutup rangkaian acara. Dalam sambutannya, Fauzan menyampaikan, “Kalau ingin kesuksesan, harus dengan niat dan tekad yang semangat.”

Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Darul Aula selaku pengurus Ma’had Al-Jami’ah Bawah. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian penghargaan kepada mahasantri yang berhasil meraih juara dalam berbagai perlombaan.

Adapun kategori perlombaan yang diumumkan meliputi kitab kuning, vokal solo, video kreasi, Ranking 1, dan fashion show. Nama-nama yang tercatat dalam pembagian tersebut adalah Fauzan untuk kategori kitab kuning, Zulkarnaini untuk vokal solo, Darul Aula untuk video kreasi, Fitri Maulina untuk Ranking 1, dan Annisa untuk fashion show.

Acara kemudian ditutup dengan persembahan lagu oleh paduan suara mahasantri Ma’had Al-Jami’ah Bawah, dan diakhiri dengan sesi foto bersama.


Reportet: Badratun Nafis (Magang)

Editor: Chalisa Najla Safira

29 Oktober 2026

Sidang Senat Terbuka UIN SUNA Lhokseumawe Kukuhkan 450 Wisudawan

Foto: Putri Ruqaiyah
www.lpmalkalam.com- Sivitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Pascasarjana dan Sarjana Angkatan XII Tahun 2026 di Gedung Serbaguna kampus setempat pada Kamis (29/10/2026).

Iskandar selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan menyampaikan bahwa wisuda kali ini diikuti oleh 450 wisudawan, yang terdiri dari 8 lulusan Pascasarjana dan 442 lulusan Sarjana. Adapun rincian jumlah lulusan Sarjana berdasarkan fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) sebanyak 106 orang, Fakultas Syariah (Fasya) 45 orang, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) sebanyak 86 orang, serta Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) sebanyak 205 orang.

Berdasarkan predikat kelulusan, sebanyak 155 wisudawan meraih predikat cum laude, 290 wisudawan memperoleh predikat sangat memuaskan, dan 5 wisudawan meraih predikat memuaskan. Lima lulusan terbaik yang disebutkan dalam laporan tersebut ialah Syihan Elfayza, Rifda Alhusna, Asyifa Nabila, Raudhatul Jannah, dan Wahidiyah Rien Maulani Fansuri.

Salah seorang wisudawati, Indira Ulfa, mengungkapkan rasa bahagia dan syukurnya setelah menyelesaikan pendidikan. Ia juga mengaku merasa haru dan sedih karena harus berpisah dengan teman-teman yang selama ini menemani masa perkuliahannya.

“Semoga ilmu yang sudah didapat bisa bermanfaat bagi orang lain, terus berkembang, dan menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga wisuda ini bukan menjadi akhir, tetapi awal dari perjalanan baru yang membawa banyak kebaikan,” tambahnya.


Reporter: Putri Ruqaiyah

Editor: Redaksi

27 Oktober 2026

Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Tempat Aman Bagi Anak

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang. Namun, dugaan kekerasan seksual terhadap seorang anak perempuan berusia 3,5 tahun di Bandung, Jawa Barat, sebagaimana diberitakan Popmama.com, menjadi pengingat bahwa ancaman dapat datang dari orang terdekat sekalipun.

Kasus ini semakin memprihatinkan karena ayah kandung korban yang diduga terlibat diketahui berprofesi sebagai dokter umum serta memiliki klinik dan apotek. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dan profesi terhormat tidak otomatis menjamin seseorang memiliki perilaku yang baik. Meski demikian, dugaan tersebut tetap harus dibuktikan melalui proses hukum yang adil.

Perlindungan anak tidak cukup hanya mengandalkan kepercayaan kepada keluarga. Pemerintah dan aparat penegak hukum harus menangani kasus ini secara profesional, sementara korban perlu mendapatkan pendampingan medis dan psikologis. Edukasi tentang batasan tubuh, pengasuhan tanpa kekerasan, serta jalur pelaporan yang aman juga perlu diperkuat.

Menurut penulis, kehormatan seseorang tidak semestinya hanya dinilai dari profesi atau kedudukannya, tetapi juga dari tanggung jawab dan perilakunya. Perlindungan anak harus menjadi prioritas bersama, sebab tidak ada anak yang pantas kehilangan rasa aman, terlebih di rumahnya sendiri.


Penulis: Chilla Puspita Aura (Magang)

Editor: Chalisa Najla Safira

Benci

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- 

Hingga kini

Tak mampu kutemui tawa yang memberi 

Tanpa pernah mengharapkan balas budi


Sampai pada akhirnya aku benci

Benci jika harus berada

Di tengah-tengah ramai yang tak pernah 

Menjadi diri sendiri


Menjadi benci

Membuatku satu langkah 

Kehilangan arti dari memberi


Membuatku lupa

Jika bunga tetap harus disirami

Walau mungkin dapat layu dan mati

Tak menyisakan keindahannya untuk kunikmati


Kepada diri sendiri


Terima kasih telah sadar kembali

Terima kasih untuk terus bangkit

Dari setiap patah yang begitu perih


Sampaikan salamku

Kepada diriku yang kemarin

Kirimkan pesan kepadanya

Jika aku akan pergi


Menuju pagi

Di mana dapat kudatangi sunyi

Dan berbincang kepada tenang

Perihal hari ini


Penulis: Fadilatul Jannah (Magang)

Editor: Chalisa Najla Safira

26 Oktober 2026

Hujan Deras dan Angin Kencang Hantam Lhokseumawe, Kawasan Waduk Alami Kerusakan

Foto: RMOLACEH
www.lpmalkalam.com- Cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang menerjang kawasan Jalan Waduk, Kota Lhokseumawe pada Minggu (25/10/2026).

Berdasarkan informasi yang disampaikan melalui program RRI Lhokseumawe, cuaca ekstrem tersebut mengakibatkan sejumlah kerusakan. Pelaksana Tugas (Plt.) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Lhokseumawe, Said Bachtiar, mengatakan bahwa sebanyak 28 pohon tumbang di sekitar Waduk Pusong. Selain itu, sebanyak 28 kios milik warga dilaporkan terdampak peristiwa tersebut.

“Sedang dilakukan pembersihan pohon-pohon yang tumbang. Di sekitar waduk ini terdapat 28 pohon yang tumbang dan 28 kios yang terdampak,” ujar Said.

BPBD bersama petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Lhokseumawe berupaya menangani dampak kejadian tersebut. Upaya yang dilakukan meliputi evakuasi dan pembersihan pohon tumbang serta penanganan kios milik warga yang mengalami kerusakan.

Hingga saat ini, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem di Kota Lhokseumawe dan sekitarnya. Warga juga diminta menghindari lokasi yang masih terdapat pohon tumbang atau bangunan yang berisiko roboh.

Selain itu, masyarakat diharapkan mengikuti arahan petugas demi menjaga keselamatan hingga akses jalan dan lingkungan sekitar dinyatakan aman.


Reporter: Keyla Afrida Rahmassheina (Magang)

Editor: Chalisa Najla Safira

25 Oktober 2026

Kelompok Satu Kru Magang LPM Al-Kalam Telusuri Sejarah Makam Teungku di Lhokseumawe

Foto: Rahmah (Magang)
www.lpmalkalam.com- Kelompok Satu Kru Magang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe melakukan kunjungan lapangan untuk menelusuri sejarah makam Teungku di Lhokseumawe. Kegiatan peliputan tersebut berlangsung di Gampong Banda Masen, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe pada Sabtu (24/10/2026).

Berdasarkan prasasti yang tertera di situs cagar budaya tersebut, Teungku di Lhokseumawe diperkirakan hidup pada abad ke-14, yakni sekitar tahun 1398 Masehi, dan gugur sebagai syuhada dalam peperangan kaum muslimin. Beliau diyakini sebagai ulama yang mendirikan pusat Kota Lhokseumawe kuno di sepanjang Sungai Cunda. Kawasan tersebut dahulu merupakan kota pelabuhan strategis bagi para mualim pada masa Kerajaan Samudra Pasai. Besarnya pengaruh beliau disebut-sebut menjadi salah satu alasan nama Teungku di Lhokseumawe diabadikan sebagai nama kota tersebut. Meski demikian, kebenaran historis mengenai riwayat hidup dan peran beliau masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Dalam proses pengumpulan data di lapangan, para kru magang menghadapi kendala berupa keterbatasan informasi mengenai sejarah makam tersebut. Di lokasi situs, tim tidak menemukan juru pelihara atau petugas khusus yang bertanggung jawab atas perawatan makam secara resmi.

Tim magang kemudian mewawancarai salah seorang warga setempat bernama Jubaidah. Ia tinggal di sekitar lokasi makam, tetapi bukan merupakan warga asli daerah tersebut. Dalam wawancara itu, Jubaidah mengungkapkan bahwa makam yang ada saat ini merupakan lokasi pemindahan yang ketiga.

"Makam yang pertama saya tidak tahu. Makam yang kedua itu yang di sebelah sana, sekarang sudah jadi tambak. Dan ini adalah makam yang ketiga," tutur Jubaidah saat memberikan keterangan kepada tim.

Menurut Jubaidah, pemindahan makam dari lokasi pertama hingga ke lokasi saat ini dilakukan karena lahan sebelumnya hendak dialihfungsikan oleh warga untuk keperluan lain. Ia juga menjelaskan bahwa informasi mengenai asal-usul ulama tersebut semakin tidak diketahui oleh masyarakat sekitar. Kondisi ini diduga berkaitan dengan minimnya dokumen tertulis serta tidak adanya dayah atau pesantren aktif yang secara khusus meneruskan pengetahuan mengenai sejarah beliau.

Selain menghadapi keterbatasan data, tim peliputan juga mengalami kendala bahasa saat berkomunikasi dengan narasumber. Wawancara awalnya berlangsung kurang lancar karena tim menggunakan bahasa Indonesia. Komunikasi kemudian menjadi lebih terbuka setelah tim beralih menggunakan bahasa Aceh.

Menghadapi berbagai keterangan lisan yang belum didukung bukti tertulis yang memadai, Kelompok Satu Kru Magang LPM Al-Kalam memilih untuk tetap mencatat penuturan warga sebagai bagian dari data lapangan. Namun, informasi tersebut diperlakukan sebagai keterangan awal yang masih memerlukan verifikasi lebih lanjut. Langkah ini dilakukan untuk menjaga akurasi pemberitaan dan menghindari penarikan kesimpulan sepihak dalam penulisan sejarah lokal.


Reporter: Nuraisyah Br. Siagian (Magang)

Editor: Chalisa Najla Safira

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.