![]() |
| Foto: Pixels |
Lalu, kita pulang.
Bukan sekadar pulang ke sebuah bangunan beratap, tetapi pulang pada ketenangan yang selama ini dicari, pulang pada tempat yang menerima kita tanpa syarat. Tempat yang tidak bertanya tentang kekalahan, tidak mempermasalahkan berapa kali kita terjatuh, dan tidak menuntut sejauh mana kita telah melangkah. Tempat yang hanya hadir, membuka ruang, dan mempersilakan kita beristirahat dari dunia luar yang melelahkan.
Aneh, bukan? Di luar sana, kita sering dipaksa merangkai kata untuk menjelaskan diri. Menjelaskan pilihan yang kita ambil, menjelaskan mimpi yang sedang diperjuangkan, bahkan menjelaskan luka yang belum benar-benar sembuh dan tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Namun, ada tempat yang tidak membutuhkan penjelasan apa pun. Tempat yang mampu memahami lelah hanya dari sorot mata yang redup, mengerti sedih tanpa harus mendengar seluruh cerita. Di sana, diam terasa seperti bahasa yang dimengerti.
Mungkin karena itu manusia selalu mencari tempat untuk kembali. Sebab setinggi apa pun seseorang terbang, ia tetap membutuhkan tempat untuk mendarat. Sejauh apa pun seseorang menyelam, ia tetap membutuhkan daratan untuk bernapas.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa jauh kita berkelana. Setelah menempuh begitu banyak jalan, yang paling dicari bukanlah tepuk tangan atau pengakuan, melainkan sebuah tempat yang tetap membuka pintunya, menyediakan telinga untuk mendengar cerita, dan menerima tanpa peduli seberapa besar luka yang dibawa. Tempat yang tetap ada, bahkan ketika kita datang dengan hati yang lelah dan langkah yang hampir menyerah.
Ketika hari esok kembali datang dengan segala cerita dan tantangan barunya, kita memilih untuk melangkah lagi. Bukan karena sudah tidak lelah, melainkan karena kita tahu bahwa selalu ada tempat untuk pulang ketika dunia terasa terlalu berat untuk dihadapi sendirian.
Penulis: Chalisa Najla Safira
Editor: Zahratul








