Portal Berita Al-Kalam

Globalisasi Pendidikan dan Krisis Identitas: Urgensi Strategi Selektif Berbasis Melayu Islam Beraja (MIB) di Brunei Darussalam

  Foto: Pexels  www.lpmalkalam.com- Penulis; Naufal El Fany, Muhammad Fahri Husaezi, Haura Lailatul Fitrah, Intan Sohipah, Azifah Azzrah, Na...

HEADLINE

Latest Post

04 Mei 2026

Globalisasi Pendidikan dan Krisis Identitas: Urgensi Strategi Selektif Berbasis Melayu Islam Beraja (MIB) di Brunei Darussalam

 

Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com-

Penulis; Naufal El Fany, Muhammad Fahri Husaezi, Haura Lailatul Fitrah, Intan Sohipah, Azifah Azzrah, Nadya Alfianuri Fauziah, Euis Ratna Hikmatussufa

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pendidikan tradisional dalam menjaga identitas nasional Brunei Darussalam yang berlandaskan falsafah Melayu Islam Beraja (MIB), serta mengkaji tantangan globalisasi terhadap sistem pendidikan Islam. Globalisasi mendorong perubahan dalam metode, kurikulum, dan orientasi pendidikan ke arah yang lebih pragmatis dan berorientasi pasar, yang berpotensi memicu pergeseran nilai moral dan spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), melalui analisis berbagai literatur yang relevan. Data diperoleh dari sumber primer berupa artikel ilmiah tentang pendidikan Islam di Brunei, serta sumber sekunder terkait globalisasi dan ideologi pendidikan. Analisis dilakukan dengan teknik content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan tradisional berperan sebagai penjaga identitas nasional melalui pembentukan adab, karakter, dan nilai spiritual yang berbasis relasi guru–murid yang kuat. Namun, globalisasi berpotensi menghadirkan tantangan berupa penetrasi ideologi sekuler, pergeseran orientasi pendidikan, serta risiko disrupsi moral dan etika. Hal ini menunjukkan adanya ketegangan antara nilai tradisional dan pengaruh global dalam sistem pendidikan. Kesimpulannya, diperlukan strategi selektif dalam mengadopsi inovasi global agar tetap selaras dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, sistem pendidikan di Brunei Darussalam dapat tetap adaptif tanpa kehilangan identitas dan integritas keislamannya.

Kata kunci: Pendidikan tradisional, globalisasi, identitas nasional, Melayu Islam Beraja, pendidikan Islam.

ABSTRACT

This study aims to analyze the role of traditional education in preserving the national identity of Brunei Darussalam, which is grounded in the philosophy of Malay Islamic Monarchy (MIB), as well as to examine the challenges of globalization on the Islamic education system. Globalization has driven changes in educational methods, curricula, and orientations toward more pragmatic and market-oriented approaches, which potentially lead to shifts in moral and spiritual values. This research employs a qualitative approach using a library research method, through the analysis of relevant literature. The data are derived from primary sources in the form of scholarly articles on Islamic education in Brunei, as well as secondary sources related to globalization and educational ideology. The data are analyzed using content analysis techniques. The findings indicate that traditional education plays a crucial role in maintaining national identity through the formation of adab (proper conduct), character, and spiritual values, which are rooted in strong teacher-student relationships. However, globalization presents significant challenges, including the penetration of secular ideologies, shifts in educational orientation, and the risk of moral and ethical disruption. This reflects a tension between traditional values and global influences within the education system. In conclusion, a selective approach is necessary in adopting global innovations to ensure alignment with Islamic values. Through this approach, the education system in Brunei Darussalam can remain adaptive while preserving its identity and Islamic integrity.

Keywords: Traditional education, globalization, national identity, Malay Islamic Monarchy, Islamic education.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Globalisasi telah membawa transformasi signifikan dalam sistem pendidikan, baik pada aspek metode, kurikulum, maupun orientasi nilai. Perkembangan teknologi dan arus informasi mendorong pendidikan bergerak ke arah yang lebih pragmatis, kompetitif, dan berorientasi pada pasar. Namun, di sisi lain, globalisasi juga memunculkan tantangan serius berupa pergeseran nilai moral, nilI spiritual, dan identitas budaya.

Dalam konteks Brunei Darussalam, pendidikan memiliki peran strategis karena berlandaskan falsafah Melayu Islam Beraja (MIB), yang menempatkan Islam sebagai inti kehidupan bernegara. Oleh karena itu, sistem pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai instrumen ideologis dalam menjaga keberlanjutan identitas nasional. Keterbukaan terhadap inovasi global yang tidak selektif berpotensi mengikis nilai-nilai inti tersebut.

Sejumlah penelitian terdahulu telah mengkaji pendidikan Islam di Brunei dari berbagai perspektif. Penelitian Thoriquttyas et al. (2021) menunjukkan bahwa integrasi nilai Islam dalam kurikulum nasional berperan penting dalam menjaga identitas bangsa. Sementara itu, Mahadi et al. (2023) menyoroti peran pendidikan tradisional sebagai mekanisme ketahanan budaya dalam menghadapi arus globalisasi.

Meskipun demikian, sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada deskripsi sistem pendidikan atau perannya dalam menjaga identitas, dan belum secara mendalam mengkaji ketegangan antara pendidikan tradisional dengan penetrasi ideologi global serta implikasinya terhadap disrupsi moral dan etika. Selain itu, kajian mengenai strategi selektif dalam merespons globalisasi pendidikan juga masih terbatas.

Berdasarkan celah tersebut, penelitian ini menawarkan kebaruan dengan mengintegrasikan analisis peran pendidikan tradisional sebagai penjaga identitas nasional dengan kajian kritis terhadap tantangan ideologi global serta risiko disrupsi moral dalam pendidikan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pendekatan selektif sebagai strategi adaptif, sehingga inovasi global dapat diadopsi tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam yang menjadi fondasi utama sistem pendidikan di Brunei Darussalam.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), yang berfokus pada analisis konseptual terhadap peran pendidikan tradisional dalam menjaga identitas nasional Brunei Darussalam di tengah arus globalisasi. Pendekatan ini dipilih karena penelitian tidak melibatkan pengumpulan data lapangan, melainkan mengkaji dan menafsirkan berbagai sumber literatur yang relevan.

Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari artikel ilmiah yang secara langsung membahas sistem pendidikan Islam di Brunei Darussalam, seperti Thoriquttyas et al., dan Mahadi et al., Sementara itu, data sekunder berasal dari literatur teoritis yang berkaitan dengan globalisasi dan pendidikan, termasuk pemikiran Anthony Giddens tentang globalisasi, Michael W. Apple mengenai ideologi pendidikan, serta Robert W. Hefner terkait dinamika pendidikan Islam dalam konteks modern.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan cara mengidentifikasi, menyeleksi, dan mengkaji sumber-sumber yang relevan dan kredibel. Analisis data menggunakan teknik analisis isi (content analysis), yang dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data secara tematik, serta penarikan kesimpulan secara interpretatif. Melalui metode ini, penelitian berupaya menghasilkan pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan antara pendidikan tradisional, identitas nasional, dan tantangan globalisasi dalam konteks Brunei Darussalam.

Rumusan Masalah

Bagaimana peran pendidikan tradisional dalam menjaga identitas nasional Brunei Darussalam yang berlandaskan falsafah Melayu Islam Beraja (MIB)?
Apa keunggulan metode pendidikan tradisional dalam pembentukan adab dan karakter peserta didik?
Bagaimana pengaruh globalisasi terhadap perubahan nilai moral dan orientasi pendidikan di Brunei Darussalam?
Apa saja tantangan ideologis yang dihadapi sistem pendidikan Brunei dalam menghadapi arus globalisasi?
Bagaimana strategi selektif yang dapat diterapkan untuk menjaga keseimbangan antara inovasi global dan nilai-nilai Islam.

Tujuan Penelitian

Menganalisis peran pendidikan tradisional sebagai penjaga identitas nasional Brunei Darussalam yang berbasis falsafah Melayu Islam Beraja (MIB).
Mengkaji keunggulan metode pendidikan tradisional dalam membentuk adab, karakter, dan nilai spiritual peserta didik.
Mengidentifikasi dampak globalisasi terhadap pergeseran nilai moral dan orientasi pendidikan.
Menganalisis tantangan ideologis yang muncul dalam sistem pendidikan akibat pengaruh globalisasi.
Merumuskan strategi selektif dalam mengadopsi inovasi global tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam.

PEMBAHASAN

Pendidikan Tradisional sebagai Penjaga Identitas Nasional

Dalam konteks Brunei Darussalam, pendidikan tradisional tidak dapat dipahami hanya sebagai sarana penyampaian ilmu, melainkan sebagai instrumen strategis dalam menjaga keberlanjutan identitas nasional. Sistem ini berfungsi secara aktif dalam mereproduksi nilai-nilai ideologis yang bersumber dari prinsip Melayu Islam Beraja (MIB), yang menjadi fondasi utama kehidupan bernegara. Jika sistem ini terlalu terbuka terhadap inovasi global yang sering berbasis nilai Barat atau sekuler, terdapat risiko besar nilai-nilai inti akan terkikis.

Peran tersebut tampak dalam kebijakan pendidikan yang mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam kurikulum nasional. Pendidikan agama tidak ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai inti dalam pembentukan karakter peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa negara memposisikan pendidikan sebagai alat ideologis untuk memastikan kesinambungan identitas bangsa di tengah perubahan zaman (Thoriquttyas et al., 2021: 198-200)

Lebih jauh, dalam menghadapi tekanan globalisasi, pendidikan tradisional berfungsi sebagai mekanisme ketahanan budaya. Arus global yang membawa nilai sekularisme dan individualisme berpotensi mengikis batas-batas nilai lokal yang berbasis Islam. Dalam situasi seperti ini, keberadaan sistem pendidikan tradisional menjadi penting sebagai benteng yang menjaga orisinalitas identitas keislaman dan budaya Melayu agar tidak larut dalam arus homogenisasi global (Mahadi et al., 2023: 338).

Keunggulan Metode Tradisional: Relasi Guru-Murid dan Pembentukan Adab

Keunggulan utama pendidikan tradisional Islam seperti halaqah, hafalan, dan kajian kitab terletak pada pendekatan pembelajarannya yang bersifat holistik, di mana proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai-nilai spiritual, hal ini sejalan dengan pandangan bahwa “The aim of education in Islam is therefore to produce a good man.” (Al-Attas, 1987: 150), yang menunjukkan bahwa tujuan utama pendidikan adalah pembentukan manusia beradab, bukan sekadar penguasaan ilmu. Pola pembelajaran ini menempatkan hubungan langsung antara guru dan murid sebagai pusat proses pendidikan, sehingga memungkinkan terjadinya internalisasi nilai, adab, dan etika secara lebih mendalam.

Dalam konteks ini, kedekatan relasional antara guru dan murid menjadi elemen penting yang membedakan pendidikan tradisional dengan sistem pendidikan modern yang cenderung bersifat impersonal dan berbasis sistem. Proses pembelajaran tidak hanya berlangsung secara kognitif, tetapi juga melalui keteladanan (uswah) yang diberikan oleh guru dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks Brunei Darussalam, karakteristik pendidikan tradisional tersebut masih dapat ditemukan dalam sistem pendidikan Islam yang terintegrasi dengan nilai-nilai Melayu Islam Beraja (MIB). Hal ini menunjukkan adanya komitmen untuk mempertahankan model pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan moral dan identitas keagamaan peserta didik. Dengan demikian, pendidikan berfungsi sebagai sarana pembentukan manusia yang beradab dan berakar pada nilai-nilai Islam, bukan sekadar sebagai mekanisme produksi tenaga kerja (Thoriquttyas et al., 2021: 200).

Risiko Disrupsi Moral dan Etika dalam Globalisasi Pendidikan

Transformasi pendidikan akibat globalisasi tidak hanya terjadi pada aspek teknis, tetapi juga menyentuh dimensi nilai. Digitalisasi, standardisasi kurikulum, serta orientasi pada pasar tenaga kerja telah menggeser arah pendidikan menjadi lebih pragmatis. Menurut Fazal Rizvi dan Bob Lingard, pendidikan global kini cenderung bergerak dalam logika kompetisi dan performativitas, sehingga dimensi pembentukan karakter sering kali terabaikan (Rizvi & Lingard, 2009: 98).

Dalam konteks Brunei Darussalam, kecenderungan ini menjadi persoalan serius karena bertentangan dengan tujuan pendidikan Islam yang menempatkan akhlak sebagai prioritas utama. Ketika pendidikan terlalu berorientasi pada efisiensi dan produktivitas, terdapat risiko bahwa nilai-nilai moral dan spiritual akan terpinggirkan. Padahal, aspek inilah yang justru menjadi inti dari sistem pendidikan berbasis MIB.

Oleh karena itu, tidak semua bentuk inovasi dapat diterima secara langsung. Diperlukan mekanisme seleksi yang cermat agar pengaruh global tidak merusak struktur nilai yang telah mapan. Tanpa sikap kritis, modernisasi pendidikan justru dapat menjadi pintu masuk bagi disrupsi moral dan etika dalam masyarakat (Mahadi et al., 2023: 338)

Tantangan Ideologi Global dalam Pendidikan
Globalisasi pendidikan pada dasarnya tidak hanya membawa inovasi, tetapi juga menyertakan nilai dan ideologi tertentu. Dalam pandangan Michael W. Apple, pendidikan selalu berada dalam kerangka kepentingan ideologis, sehingga tidak pernah benar-benar netral (Apple, 2004: 67). Artinya, adopsi sistem pendidikan global juga berarti menerima cara pandang yang melatarbelakanginya.

Bagi Brunei Darussalam, kondisi ini menghadirkan tantangan tersendiri. Ideologi global yang cenderung sekuler dapat berbenturan dengan prinsip Melayu Islam Beraja (MIB) yang menempatkan agama sebagai pusat kehidupan. Ketegangan ini menunjukkan bahwa globalisasi bukan sekadar fenomena teknis, melainkan juga ideologis.

Lebih lanjut, Robert W. Hefner menegaskan bahwa pendidikan Islam saat ini berada dalam tarik-menarik antara tradisi dan modernitas (Hefner, 2009: 212). Jika tidak dikelola dengan baik, penetrasi nilai global dapat mendorong terjadinya sekularisasi secara bertahap, di mana dimensi spiritual semakin tersisih dari sistem pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak hanya adaptif, tetapi juga kritis dan selektif dalam menghadapi arus global.

Pergeseran Nilai Moral-Spiritual dan Strategi Selektif

Globalisasi juga membawa dampak langsung terhadap perubahan orientasi nilai dalam masyarakat. Perkembangan teknologi informasi memungkinkan masuknya berbagai ide dan gaya hidup yang tidak selalu selaras dengan ajaran Islam. Dalam analisis Anthony Giddens, globalisasi menciptakan perubahan sosial yang mampu memengaruhi cara berpikir, pola hidup, serta sistem nilai masyarakat (Giddens, 2003: 64).

Dalam dunia pendidikan, kondisi ini tercermin pada meningkatnya kecenderungan materialisme, di mana keberhasilan lebih diukur melalui capaian ekonomi dibandingkan kualitas moral dan spiritual. Fenomena ini sejalan dengan temuan Rizvi dan Lingard yang menunjukkan dominasi logika ekonomi dalam sistem pendidikan global (Rizvi & Lingard, 2009: 98).

Jika dibiarkan, pergeseran ini dapat mengubah fungsi pendidikan dari pembentukan akhlak menjadi sekadar sarana produksi sumber daya manusia. Dalam konteks Brunei Darussalam, hal ini berpotensi melemahkan peran pendidikan sebagai penjaga identitas keislaman. Sebagai upaya menghadapi kondisi tersebut, pendekatan selektif menjadi pilihan yang paling rasional. Pendekatan ini menekankan pentingnya menyaring setiap pengaruh global berdasarkan kesesuaiannya dengan nilai Islam. Dengan demikian, inovasi yang bersifat teknis tetap dapat diadopsi, sementara nilai yang bertentangan dapat ditolak. Strategi ini memungkinkan Brunei untuk tetap terbuka terhadap perkembangan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai negara yang berlandaskan Melayu Islam Beraja (Mahadi et al., 2023: 338).

Kesimpulan

Pendidikan tradisional di Brunei Darussalam memiliki peran penting sebagai penjaga identitas nasional yang berlandaskan falsafah Melayu Islam Beraja (MIB). Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter, adab, dan nilai-nilai keislaman.

Keunggulan pendidikan tradisional terletak pada pendekatan holistik yang menekankan hubungan erat antara guru dan murid, sehingga memungkinkan internalisasi nilai secara mendalam. Hal ini sejalan dengan pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang baik (a good man).

Di sisi lain, globalisasi membawa tantangan berupa pergeseran nilai moral dan masuknya ideologi yang tidak selalu sejalan dengan prinsip MIB. Oleh karena itu, diperlukan strategi selektif dalam menyikapi pengaruh global, yaitu dengan mengambil aspek positifnya tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam. Dengan pendekatan ini, pendidikan di Brunei dapat tetap adaptif sekaligus menjaga identitas dan integritasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, S. M. N. (1987). Islam and Secularism (1st ed.). Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).

Apple, M. (2004). Ideology and Curriculum (3rd ed.). Routledge.

Giddens, A. (2003). Runaway World: how globalization is reshaping our lives. New York : Routledge.

Hefner, R. W. (2009). Making Modern Muslims: The Politics of Islamic Education in Southeast Asia. University of Hawai’i Press.

Mahadi, M., A. Rahman, S. K., & Jaidi, N. (2023). The Role of Brunei’s Philosophy in The Education System to Face the Challenges of Globalization (Peranan Falsafah Brunei Dalam Sistem Pendidikan Bagi Menghadapi Cabaran Globalisasi).

International Journal of Advanced Research in Education and Society, 5(4), 335–350.
Rizvi, F., & Lingard, B (2009).

Globalizing Education Policy. Routledge.
Thoriquttyas, T., Nasih, A. M., Sultoni, A., & Yani, A. (2021). 

Malay, Islam, Beraja and The [Islamic] Educational Philosophy in Brunei Darussalam. Edukasia : Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 16(2), 193. 


Penulis: Naufal El Fany, dkk. Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, UIN Sultanah Nahrasyiah Lhokseumawe.

Editor: Putri Ruqayyah 

03 Mei 2026

Larangan Pers di Ruang Wisuda: Menghambat Akses Informasi Publik


Foto: Pexels 
www.lpmalkalam.com- Pembatasan akses pers ke ruang wisuda tanpa alasan yang jelas merupakan kebijakan yang patut dipertanyakan, terutama dari perspektif transparansi publik. Pers tidak sekadar hadir sebagai tamu undangan, melainkan memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat secara cepat, akurat, dan berimbang. Ketika akses tersebut dibatasi, secara tidak langsung hak publik untuk memperoleh informasi juga ikut terhambat.

Wisuda bukan semata-mata agenda seremonial internal lembaga pendidikan. Lebih dari itu, kegiatan ini memiliki nilai sosial yang luas karena menjadi simbol pencapaian akademik sekaligus kebanggaan bagi keluarga dan masyarakat. Dalam konteks ini, kehadiran pers menjadi jembatan penting bagi publik yang tidak dapat hadir secara langsung untuk tetap memperoleh informasi yang relevan.

Di sisi lain, pihak penyelenggara tentu memiliki kewenangan dalam mengatur jalannya acara demi menjaga ketertiban dan kekhidmatan. Namun demikian, setiap bentuk pembatasan seharusnya disertai alasan yang jelas, transparan, dan rasional. Tanpa kejelasan tersebut, kebijakan yang diambil justru berpotensi menimbulkan persepsi negatif serta kecurigaan publik.

Sebagai solusi, penyelenggara dapat menerapkan sistem akses terbatas dengan pengaturan yang terukur, seperti pembatasan jumlah jurnalis atau penentuan area peliputan tertentu. Dengan langkah ini, keseimbangan antara kelancaran acara dan fungsi pers sebagai penyampai informasi tetap dapat terjaga.

Pada akhirnya, komitmen sebuah institusi terhadap keterbukaan informasi akan sangat menentukan tingkat kepercayaan publik. Memberikan ruang bagi pers untuk menjalankan tugasnya secara profesional bukanlah ancaman, melainkan bagian dari upaya membangun citra yang kredibel dan akuntabel.

Penulis: Daffa Alkausar 

Editor: Putri Ruqayyah 

Sosialisasi Komunikasi Gender dalam Menjaga Tubuh di MTs Lueng Daneun

 

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri Tematik Kebencanaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe melaksanakan kegiatan sosialisasi edukasi gender kepada siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Swasta Lueng Daneun, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen pada Selasa (24/04/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program sosialisasi tentang gender dengan fokus utama memberikan pemahaman mengenai gender dan komunikasi kepada siswa. Materi yang disampaikan meliputi pengertian komgenderunikasi gender, manfaat komunikasi, contoh komunikasi yang baik dan buruk, komunikasi gender di media sosial, serta cara menyikapi seseorang yang berkomunikasi secara tidak baik.

Sosialisasi ini dilaksanakan pada hari Selasa, bertepatan dengan bulan Ramadan dan diikuti oleh seluruh siswa yang hadir pada hari tersebut. Kegiatan berlangsung di aula Madrasah Tsanawiyah (MTs) Swasta Lueng Daneun. Para guru menyambut dengan ramah kehadiran mahasiswa KPM yang akan melaksanakan kegiatan sosialisasi. 

Sebelum kegiatan dimulai, siswa masih melaksanakan kegiatan mengaji di kelas masing-masing. Oleh karena itu, mahasiswa KPM terlebih dahulu berkumpul di ruang guru dan berbincang dengan para guru mengenai kondisi pascabanjir, baik di lingkungan sekolah maupun secara pribadi.

Setelah sekitar setengah jam berbincang, mahasiswa diarahkan ke aula karena para siswa telah selesai mengaji dan berkumpul bersama guru untuk mengikuti kegiatan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga tubuh melalui komunikasi gender yang baik. Pada saat pelaksanaan, tidak hanya siswa yang antusias, tetapi juga para dewan guru. 

Kegiatan diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh Annisa Bela Fitra, dilanjutkan dengan perkenalan mahasiswa KPM serta menyapa siswa. Materi sosialisasi disampaikan oleh Annisa Rizkia Ramadhani. Sebelum masuk ke inti materi, pemateri terlebih dahulu menampilkan gambar terkait gender agar siswa memiliki gambaran awal.

Materi diawali dengan penjelasan tentang pengertian gender. Selama ini, banyak masyarakat yang memahami gender hanya sebagai jenis kelamin, padahal gender mencakup peran, sikap, dan tanggung jawab yang dibentuk oleh masyarakat bagi laki-laki dan perempuan. Selanjutnya, dijelaskan mengenai komunikasi gender, yaitu cara berbicara dan bersikap dengan baik serta sopan untuk menghargai dan menghormati orang lain.

Pemateri juga menjelaskan manfaat komunikasi gender yang baik, yaitu untuk menjaga keselamatan, kesehatan, serta harga diri atau kehormatan seseorang. Selain itu, diberikan pula contoh komunikasi gender yang baik dan buruk, termasuk dalam penggunaan media sosial. Pada bagian akhir materi, disampaikan solusi dalam menghadapi seseorang yang memiliki komunikasi yang kurang baik.

Setelah penyampaian materi, mahasiswa memberikan pertanyaan pemantik kepada siswa untuk menguji pemahaman mereka. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan ice breaking mengenai area privasi tubuh agar siswa lebih memahami pentingnya menjaga tubuh masing-masing. Setelah itu, kembali diberikan pertanyaan untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan.

Kegiatan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu edukatif berjudul Area Privasiku yang dipandu oleh Ananta Rola Ariga dan Vika Ayu Lestari. Selanjutnya, kegiatan ditutup dengan sesi penyegaran melalui lagu edukatif tentang larangan saling mengejek.

Di akhir kegiatan, dilakukan dokumentasi bersama siswa dan para guru. Sebelum berpamitan, mahasiswa KPM bersalaman dan berbincang ringan dengan para guru. Mereka memberikan apresiasi terhadap materi yang disampaikan karena dinilai relevan dan bermanfaat bagi siswa. Siswa juga terlihat sangat antusias, menyimak dengan penuh perhatian, serta menikmati pesan-pesan positif yang diberikan.

Kegiatan ini menjadi langkah kecil, namun nyata, dalam membangun generasi yang sadar gender dan terlindungi dari tindakan pelecehan. Terima kasih kepada UIN Suna, MTs Swasta Lueng Daneun, serta semua pihak yang telah terlibat.

Penulis: Vika Ayu Lestari, Mahasiswa KPM Kelompok 15 Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.

Editor: Zuhra

02 Mei 2026

Hari Pendidikan Nasional: Bukan Sekedar Upacara

 

Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com- "Hari Pendidikan Nasional lebih dari sekedar upacara peringatan." Tanggal 2 Mei sering dianggap hanya sebagai hari pendidikan nasional untuk upacara. Padahal makna Hari Pendidikan Nasional jauh lebih dalam dari sekadar kegiatan seremonial. Hari inilah yang membantu kita berpikir dan mengungkap sejauh manakah Indonesia membantu berkembangnya para siswa.

Peringatan hari pendidikan Nasional ini tidak terlepas dari sosok hebat yaitu Ki Hajar Dewantara yang menegaskan bahwa pendidikan itu adalah untuk memerdekakan manusia bukan hanya sebuah alat transfer pengetahuan. Sehingga dapat dipahami sebagai seorang siswa bukan hanya pintar dilihat dari nilai dan bukan hanya pintar di akademik saja tetapi juga bisa berpikir sendiri dan mendirikan karakter yang baik serta siap menghadapi kehidupan di masa yang akan datang.

Tapi kenyataan yang di hadapi masyarakat Indonesia masih terlalu banyak masalah di dunia pendidikan, seperti kurang fasilitas di banyaknya daerah, bahkan sekarang, munculnya wacana penghapusan atau perubahan jurusan di perguruan tinggi. Menganggapi wacana ini membuat kita bertanya, sebenarnya pendidikan untuk apa? 

Tidak sedikit siswa yang belajar cuman fokus soal nilai melainkan untuk benar-benar memahami pelajaran, akibat itulah sekarang belajar menjadi sebuah aspek kewajiban bukan kebutuhan. Di era digitalisasi dan modernisasi menjadi tantangan yang paling sulit dihadapi. Kehadiran keduanya memang memudahkan proses belajar, tetapi jika tidak dibarengi dengan pemikiran itu akan membawa semua pada salah paham.

Menurut penulis hari pendidikan Nasional bukan disimbolkan sebagai hari untuk seremonial saja tetapi, sebagai evaluasi siswa serta mahasiswa untuk mendorong lebih maju dan bukan hanya memikirkan soal nilai serta siap menghadapi kehidupan seterusnya. Pada akhirnya dari pada hari Pendidikan Nasional di simbolkan untuk upacara lebih baik digunakan untuk memperbaiki sistem pendidikan, jika makna ini dapat dihidupkan kembali maka hari pendidikan Nasional bukan hanya sebuah hari peringatan melainkan menjadi sebuah hari titik tolak perubahan yang nyata.

Penulis: Intan Sarifah
Editor: Ririn Dayanti Harahap 

01 Mei 2026

Day Care tanpa Izin Marak di Yogyakarta dan Banda Aceh: Pengasuh Tidak Bersertifikat


Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com- Maraknya kasus day care (tempat pengasuhan anak) yang tersebar di media masa akibat perizin yang tidak resmi di Yogyakarta dan Banda Aceh menjadi peringatan akan bahaya trauma pada anak sejak dini. Kasus ini telah menarik perhatian serius berbagai pihak. Salah satu bentuk kekerasan yang terjadi adalah pengikatan kaki anak saat tidur dengan alasan agar tidak mengganggu anak lain dan tidak rewel.

Di Yogyakarta, tepatnya di Day Care Little Aresha terdapat 13 tersangka pelaku kekerasan terhadap anak. Di antaranya terdapat ketua yayasan dan kepala sekolah, serta 11 orang lainnya yang merupakan pengasuh. Para pengasuh mengungkapkan bahwa tindakan kekerasan tersebut dilakukan atas perintah kedua pihak tersebut.

Selain itu, tempat penitipan anak tersebut diketahui tidak memiliki izin operasional. Lembaga tersebut juga tidak terdaftar sebagai satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maupun Taman Kanak-Kanak (TK). Para ahli menyatakan bahwa kekerasan seperti ini dapat berdampak pada gangguan kesehatan mental anak. Oleh karena itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Kota Yogyakarta melakukan terapi psikologis terhadap korban serta bekerja sama dengan dinas kesehatan untuk melakukan skrining tumbuh kembang anak.

Sementara itu di Banda Aceh, tepatnya di Baby Preneur, terdapat enam pelaku kekerasan terhadap anak. Salah satu dari enam tersangka tersebut merupakan pengelola yayasan. Akibat kejadian ini, tempat pengasuhan anak tersebut telah ditutup oleh Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Kalilullah. Ia memastikan bahwa kasus ini akan ditangani hingga tuntas.

Kasus ini menjadi peringatan bahwa perlindungan anak tidak boleh diabaikan. Perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama. Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga pengasuhan, dan orang tua, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang aman serta mendukung tumbuh kembang optimal bagi generasi penerus bangsa.

Penulis: Cut Saputri
Editor: Putri Ruqaiyah

30 April 2026

Dibalik Panasnya Lhokseumawe: Ada Keluarga yang Berjuang Menunggu Keluarnya Wisudawan

 

Foto: Zahira Putri Meola

www.lpmalkalam.com- Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka Wisuda Angkatan ke-XII Tahun 2026 di Gedung Serbaguna kampus setempat pada Rabu (29/04/2026).

‎Menurut Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang dikutip dari laman www.bmkg.go.id, cuaca di Alue Awe hari ini mencapai 26°C. Namun, dibalik panas yang terik itu, terdapat keluarga yang setia menunggu wisudawan/wisudawati keluar dari Gedung tersebut.

‎Meski harus berpanas-panasan, air keringat bercucuran, bukanlah penghalang untuk menunggu sang wisudawan. Perjuangan orang tua dalam menghadiri wisuda anaknya merupakan suasana haru dan bahagia.

‎Karena daya tampung gedung terbatas, panitia hanya memberikan satu undangan masuk untuk setiap wisudawan. Akibatnya, banyak orang tua yang akhirnya harus menunggu di luar. Sebagian ada yang menonton melalui layar lebar yang disediakan di samping gedung (dekat musala), sebagian lainnya hanya mengandalkan suara dari pengeras suara.

“Demi mecapai kesuksesan anak, saya otomatis harus memberikan yang terbaik kepada anak saya," ujar Muhammad Yusuf, salah satu orang tua dari wisudawan.

‎Selain itu, Jamilah, salah satu orang tua dari wisudawan juga sabar menunggu anaknya keluar dari ruangan. Jamilah mengatakan bahwa ia selalu memberikan motivasi kepada anaknya, agar kuliahnya terlaksana dengan baik. "Harapan saya untuk anak saya kedepannya adalah, semoga dia bisa menjadi anak yang bermanfaat, tercapai cita-cita yang selama ini ia impikan," ujarnya.

‎Banyak orang tua, keluarga, dan sahabat yang tak kuasa menahan air mata haru saat melihat wisudawan keluar dari ruangan, pertanda telah resmi menyelesaikan pendidikannya. Ucapan selamat juga tak luput dari mulut mereka. Tentunya, momen ini merupakan simbol dari berbagai perjuangan dan rintangan yang panjang. Momen tersebut menjadi bukti nyata dari cinta, doa, dan pengorbanan yang akhirnya berbuah kebahagiaan.


‎Reporter: Luthfiatil Syaqirah 

‎Editor: Tiara Khalisna 

29 April 2026

Wisuda Angkatan XII: UIN SUNA Lhokseumawe Lepas 760 Magister dan Sarjana

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka Wisuda Angkatan ke-XII Tahun 2026 di Gedung Serbaguna kampus setempat pada Rabu (29/04/2026). 
‎Selain wisuda perdana sejak bertransformasi menjadi Universitas, momentum ini dirayakan dengan pencapaian prestisius berupa Akreditasi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Negeri (BAN-PTN).
‎Rektor UIN SUNA Lhokseumawe, Prof. Dr. Danial, M.Ag., menyatakan bahwa predikat Akreditasi Unggul yang baru diraih institusi merupakan kado istimewa bagi 760 lulusan Angkatan XII yang diwisuda.

Foto: IST

Dr. Danial kembali berpesan agar para lulusan baru ini dapat mengabdikan diri di tengah-tengah masyarakat serta berharap para stakeholder dapat memberdayakan wisudawan agar bermanfaat bagi masyarakat. Dr. Danial juga menegaskan bahwa gelar ini bukan akhir. "Wisuda bukanlah akhir pembelajaran, tapi awal dari belajar tentang kehidupan," tambahnya.

Sebagai bentuk apresiasi, Dr. Danial mengumumkan bahwa lulusan yang meraih predikat Cumlaude akan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih lanjut. Tercatat sebanyak 760 lulusan resmi dikukuhkan, terdiri dari 128 wisudawan program Magister/Pascasarjana (S2) dan 632 wisudawan program Sarjana (S1). Menariknya, dari total tersebut, terdapat 244 lulusan atau sekitar 32% yang meraih predikat Cumlaude.

Dalam laporannya, Wakil Rektor (Warek) Bidang Akademik dan Kelembagaan/Warek I, Dr. Iskandar, M.S.I., menjelaskan bahwa guna menjaga kelancaran dan kekhidmatan di tengah status akreditasi baru yang prestisius ini, prosesi dibagi menjadi dua sesi, yakni Sesi Pagi (07.30—12.00 WIB) yang diikuti oleh 407 wisudawan dan Sesi Siang (13.00—16.30 WIB) yang diikuti oleh 353 wisudawan. 

Adapun sidang senat terbuka ini turut dihadiri oleh Wakil Walikota Lhokseumawe, Husaini, S.E., dan Asisten 1 Sekretaris Daerah Aceh Utara, Forkopimda Lhokseumawe dan Aceh Utara serta Stakeholder yang telah menjalin kerjasama dengan UIN SUNA Lhokseumawe.

Momen ini menjadi sangat spesial karena merupakan wisuda perdana sejak bertransformasi dari IAIN menjadi Universitas, sekaligus merayakan pencapaian predikat Akreditasi 'Unggul' dari BAN-PTN.


Penulis: Rozatun Navais

Editor: Tiara Khalisna


27 April 2026

‎Hari Ketiga MUBES VIII LPM Al-Kalam: Penutupan, Regenerasi, dan Penuh Haru

Foto: M. Alif Maulana 

www.lpmalkalam.com- Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menggelar hari terakhir Musyawarah Besar (MUBES) ke-VIII bertempat di Gedung Sekretariat LPM Al-Kalam pada Minggu (26/04/2026).

‎Kegiatan hari ketiga diawali dengan persiapan panitia sejak pukul 08.00 WIB, dilanjutkan dengan Sidang Pleno VI yang membahas serta mengesahkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sebagai landasan utama organisasi ke depan. Sidang resmi ditutup oleh presidium ditandai dengan ketukan palu sebanyak 3 kali.

‎Rangkaian acara dilanjutkan dengan digelarnya Al-Kalam Award oleh Divisi Litbang (Penelitian dan Pengembangan) yang memberikan apresiasi kepada kru terbaik dan teraktif selama satu periode. Penghargaan ini menjadi bentuk motivasi sekaligus penghargaan atas dedikasi anggota.

Foto: M.Alif Maulana

‎Acara kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video kilas balik perjalanan LPM Al-Kalam selama periode 2025–2026, yang mengingatkan kembali berbagai momen, perjuangan, dan pencapaian organisasi.

‎Sebagai penutup, perwakilan pengurus demisioner menyampaikan kesan dan pesan selama masa kepengurusan. Suasana haru mulai terasa saat sesi ini. Para anggota saling mengutarakan dan menyampaikan kenangan serta harapan, menciptakan momen emosional yang penuh makna. Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan ini, MUBES VIII LPM Al-Kalam resmi ditutup pada pukul 15.30 WIB.

‎Melalui MUBES ini, diharapkan LPM Al-Kalam dapat terus berkembang, menjaga solidaritas, serta melahirkan generasi penerus yang lebih progresif dan bertanggung jawab dalam menjalankan roda organisasi.

Reporter: Putri Ruqaiyah

‎Editor: Tiara Khalisna 

26 April 2026

Hari Kedua MUBES ke-VIII LPM Al-Kalam: Pengesahan Kandidat Baru, Penerus Estafet Kepemimpinan

Foto: Nurul Fadilah

www.lpmalkalam.com– Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) menggelar Musyawarah Besar (MUBES) ke-VIII pada hari kedua, bertempat di Lumoa Coffe Roastery pada Sabtu (25/04/2026).

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari hari pertama yang telah dilaksanakan pada Jumat (24/04). Pada hari kedua, panitia telah menyusun rangkaian kegiatan sejak pukul 07.00 WIB untuk persiapan, dan acara resmi dimulai pada pukul 09.00 WIB.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Sidang Pleno IV yang memaparkan laporan kegiatan selama masa jabatan oleh ketua dari masing-masing divisi, yaitu Kesekretariatan oleh Yusri, Perusahaan oleh Muhammad Izzat Saputra, Penelitian dan Pengembangan (Litbang) oleh Zahira Putri Meola, Redaksi oleh Indira Ulfa Rizkya, serta Pemimpin Umum beserta Badan Pengurus Harian (BPH) oleh Muhammad Syahru, Fitdaturrahmi, dan Intan Nuraini.

Di penghujung masa jabatannya, Muhammad Syahru menyampaikan, “Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh kru, pengurus, dewan pengurus, yang telah memaksimalkan tenaga, pikiran, dan waktu untuk mengembangkan diri di LPM Al-Kalam, khususnya kepada Sekretaris Umum dan Bendahara Umum yang telah memberikan kontribusi terbaik. Semoga setelah menjadi alumni dan demisioner tetap dapat berkontribusi untuk LPM Al-Kalam,” ujarnya.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan Sidang Pleno V yang diisi oleh para calon kandidat BPH. Hasil Sidang Pleno V menetapkan Zahira Putri Meola sebagai Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam periode 2026–2027. Selain itu, Zuhra ditetapkan sebagai Sekretaris Umum, Qonita Sholihat sebagai Bendahara Umum, Ririn Dayanti Harahap sebagai Pemimpin Redaksi, Tiara Khalisna sebagai Pemimpin Penelitian dan Pengembangan (Litbang), Alif Maulana sebagai Pemimpin Perusahaan, serta Faris sebagai Kepala Kesekretariatan.

Rangkaian kegiatan pada hari kedua ditutup pada Sabtu siang dan akan berlanjut pada hari Minggu sebagai penutup kegiatan MUBES ke-VIII.


Reporter: Annisa Maulianda

Editor: Putri Ruqaiyah

 

24 April 2026

MUBES VIII LPM Al-Kalam Resmi Digelar, Satukan Gagasan Menuju Masa Depan

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe resmi menggelar Musyawarah Besar (MUBES) ke-VIII. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut, mulai tanggal 24 hingga 26 April 2026, bertempat di Lumoa Coffee Roastery. Pembukaan kegiatan dilaksanakan pada hari Jumat (24/04/2026).

Kegiatan ini mengusung tema “Menyatukan Gagasan, Merawat Kebersamaan, Menuju Masa Depan”. Pada hari pertama, panitia telah melakukan persiapan sejak pukul 07.00 WIB, dan acara secara resmi dimulai pada pukul 09.00 WIB.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Aceh, serta sambutan dari Ketua Panitia, Pemimpin Umum , alumni serta pembina LPM Al-Kalam.

Acara secara resmi dibuka oleh Pembina LPM Al-Kalam Bapak Ir. Muhammad Ilham, S.T., M.I.T., sekaligus memberikan arahan kepada seluruh peserta. Beliau menyampaikan "Semoga acara Musyawarah Besar ini bisa berjalan dengan khidmat, saya juga berharap untuk kedepannya semoga LPM Al-Kalam dapat terus memberikan kritik dan saran yang membangun bagi kampus kita,” ujarnya.

Pemimpin Umum LPM Al-Kalam, Muhammad Syahru juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh divisi atas kontribusi yang telah diberikan selama kepengurusan walaupun dalam periode tersebut terdapat berbagai keluh kesah yang dihadapi, namun seluruh anggota tetap menunjukkan semangat untuk bertahan dan berjuang tanpa ada yang menyerah. 

Selain itu, ia menegaskan bahwa LPM Al-Kalam tidak hanya berfokus pada jurnalistik, tetapi juga menjadi wadah pengembangan diri serta pembelajaran dalam berorganisasi yang baik.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan Sidang Pleno I yang membahas tata tertib sidang dan Sidang Pleno II terkait pemilihan presidium sidang tetap. 

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan ISHOMA. Usai ISHOMA, kegiatan kembali dilanjutkan dengan Sidang Pleno III, yaitu penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) oleh seluruh kepanitiaan program kerja LPM Al-Kalam periode 2025–2026.

Rangkaian kegiatan hari pertama ditutup pada sore hari dan acara MUBES VIII akan berlanjut pada hari berikutnya dengan agenda lanjutan sidang pleno.



Reporter: Chalisa Najla Safira

Editor: Putri Ruqaiyah
 

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.