Portal Berita Al-Kalam

Jejak di Tepi Pelabuhan

Foto: Pixabay www.lpmalkalam.com- Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah dan genangan air yang memantulkan lampu-lampu kapal. A...

HEADLINE

Latest Post

13 Agustus 2026

Jejak di Tepi Pelabuhan

Foto: Pixabay

www.lpmalkalam.com- Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah dan genangan air yang memantulkan lampu-lampu kapal. Aku berdiri di ujung dermaga, berteduh di bawah atap seng toko kelontong yang sudah tutup. Di sebelahku, seorang wanita tua berkerudung lusuh sedang merapikan jualan ikan asinnya ke dalam keranjang bambu. Kami berdua hening, hanya ditemani deburan ombak yang berulang dan dengung mesin kapal dari kejauhan.

Tanpa menatapku, ia memecah kesunyian dengan suara lembut namun dalam.

"Menurutmu, ke mana mengalirnya air laut yang dulu pernah kita seberangi?"

Aku terpaku. Bukan pertanyaan itu yang membuatku membisu, melainkan makna di baliknya: Ke mana perginya sosok muda kita yang dulu begitu berani menerjang badai? Ke mana perginya jiwa impian yang percaya bahwa seluruh lautan bisa ia taklukkan? Kita sering kehilangan versi terbaik dari diri sendiri saat sibuk mendayung menuruti arus kehidupan.

Wanita itu tersenyum tipis, usapan jarinya yang keriput dengan telaten merapikan sisa dagangan.

"Jika pada akhirnya kita selalu merindukan daratan yang kita tinggalkan," lanjutnya sambil mengikat keranjang, "mengapa kita begitu bernafsu berlayar sejauh ini?"

Pertanyaan kedua itu menghantamku lebih keras. Aku teringat betapa seringnya kita berpacu dengan waktu, mengorbankan hari ini demi mengejar esok, lalu saat esok itu tiba, kita justru menangisi hari kemarin yang telah hilang. Kita berlari agar tak tertinggal, tetapi di puncak perjalanan, kita justru merasa asing dengan tempat kita berdiri.

Wanita tua itu bangkit, memikul keranjangnya dengan perlahan, lalu menatap garis cakrawala yang kian kabur ditelan malam.

"Mungkin pelayaran ini bukan tentang menemukan pelabuhan yang sempurna," ucapnya lirih sebelum melangkah pergi. "Tapi tentang keberanian untuk terus berlayar, meski kita tak pernah benar-benar paham ke mana arah angin membawa kita."

Malam itu, di tengah hembusan angin laut yang dingin, aku tidak lagi berniat mencari arah atau jawaban pasti. Aku hanya berdiri di sana, membiarkan gelombang demi gelombang menghantam dermaga, dan belajar menerima setiap keraguan tanpa harus memaksa kehidupan memberikan alasannya.


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

KPM Mandiri UIN SUNA Berpartisipasi dalam Posyandu di Desa Penampen

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri Ekoteologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe turut berpartisipasi dalam kegiatan Posyandu bersama masyarakat Desa Penampen, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, pada Senin (10/8/2026).

Kegiatan Posyandu merupakan salah satu kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat yang rutin dilaksanakan di Desa Penampen. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KPM ikut membantu para kader Posyandu dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam pemeriksaan dan pemantauan kesehatan ibu serta anak.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa membantu berbagai proses pelayanan Posyandu, seperti mendampingi proses penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan anak. Mahasiswa juga turut membantu mengarahkan masyarakat selama kegiatan berlangsung agar pelayanan dapat berjalan dengan tertib dan lancar.

Keikutsertaan mahasiswa KPM dalam kegiatan Posyandu tidak hanya menjadi bentuk dukungan terhadap kegiatan masyarakat, tetapi juga memberikan pengalaman secara langsung kepada mahasiswa mengenai pelaksanaan pelayanan kesehatan di tingkat desa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat berinteraksi dengan masyarakat sekaligus memahami pentingnya perhatian terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Kegiatan Posyandu berlangsung dengan suasana yang cukup aktif dan penuh kebersamaan. Kehadiran mahasiswa KPM mendapat sambutan baik dari para kader dan masyarakat Desa Penampen. Kegiatan ini juga menjadi salah satu kesempatan bagi mahasiswa untuk membangun komunikasi serta hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat selama menjalankan program KPM.

Melalui keterlibatan dalam kegiatan Posyandu, mahasiswa Kelompok 19 KPM Mandiri berharap dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat Desa Penampen. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat terus dilaksanakan secara rutin sebagai upaya bersama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan ibu dan anak.


Penulis: Rilis

Editor: Redaksi 

Mahasiswa KPM Mandiri UIN SUNA Gelar Kelas Terbuka di Desa Penampen

 
Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri Ekoteologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe melaksanakan kegiatan Kelas Terbuka bagi anak-anak Desa Penampen, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, pada Sabtu (8/8/2026).

Kegiatan Kelas Terbuka dilaksanakan sebagai salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, khususnya dalam memberikan ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak. Kegiatan tersebut diisi dengan berbagai aktivitas edukatif, permainan, serta pembelajaran kreatif yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.

Dalam pelaksanaannya, anak-anak mengikuti kegiatan dengan antusias dan penuh semangat. Mahasiswa KPM mendampingi anak-anak melalui kegiatan belajar sambil bermain, seperti membaca, berhitung, menggambar, serta permainan edukatif yang dapat membantu meningkatkan kreativitas dan kemampuan anak.

Melalui kegiatan Kelas Terbuka, mahasiswa Kelompok 19 KPM Mandiri tidak hanya memberikan pengalaman belajar kepada anak-anak, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan masyarakat. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam mendukung perkembangan potensi anak melalui kegiatan yang edukatif, kreatif, dan menyenangkan.

Kegiatan Kelas Terbuka diharapkan dapat memberikan manfaat bagi anak-anak Desa Penampen serta menumbuhkan semangat belajar dan rasa percaya diri. Mahasiswa KPM juga berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sehingga anak-anak memiliki ruang yang positif untuk belajar, bermain, dan mengembangkan potensi mereka.

Penulis: Rilis

Editor: Redaksi

Mahasiswa KPM Mandiri Berpartisipasi dalam Gotong Royong di Desa Penampen

 

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri Ekoteologi kelompok 19 Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe turut berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong bersama masyarakat Desa Penampen, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, pada Rabu (5/8/2026).

Kegiatan gotong royong tersebut dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap kebersihan dan lingkungan desa. Dalam kegiatan ini, mahasiswa bersama perangkat desa dan warga bekerja sama membersihkan lingkungan sekitar, seperti membersihkan jalan desa, mengumpulkan sampah, serta merapikan area yang membutuhkan perhatian.

Pelaksanaan gotong royong berlangsung dengan saling bekerja sama dalam menyelesaikan berbagai kegiatan tanpa membedakan latar belakang. Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa KPM untuk berinteraksi dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat Desa Penampen.

Melalui kegiatan gotong royong, mahasiswa Kelompok 19 KPM Mandiri memperoleh pengalaman langsung mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Gotong royong juga mencerminkan kepedulian dan rasa tanggung jawab bersama dalam menciptakan lingkungan desa yang bersih, nyaman, dan tertata.

Masyarakat Desa Penampen berharap semangat gotong royong dapat terus dipertahankan dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut diharapkan mampu mempererat hubungan antara masyarakat dan mahasiswa KPM sekaligus menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan desa.


Penulis: Rilis

Editor: Redaksi

12 Agustus 2026

Fenomena Feodalisme Ketika Memperingati Kemerdekaan

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Teman-teman sadar tidak bahwa ada budaya yang masih dicerca hingga sekarang, namun tanpa disadari masih lekat dilakukan? Budaya itu adalah feodalisme. Feodalisme sering dibahas terjadi di lingkungan pesantren dan akademik, namun yang jarang kita sadari, padahal tampak jelas dan mudah dilihat, justru terjadi pada pelaksanaan Upacara Peringatan Kemerdekaan Indonesia.

Ketika upacara tersebut dilaksanakan, ada segelintir orang yang ditempatkan di bawah tenda teduh yang dihias sedemikian rupa. Namun di sisi lain, ada yang harus berpanas-panasan di bawah terik matahari demi menunjukkan nasionalisme.

Orang-orang di bawah tenda itu biasanya dipilih untuk mengurus kepentingan masyarakat, namun pada saat yang sama mereka justru melakukan feodalisme, bahkan di hari kemerdekaan itu sendiri. Mereka memosisikan diri seakan memiliki status hierarki yang lebih tinggi dari mereka yang berdiri di bawah terik matahari.

Feodalisme modern tidak selalu hadir dalam bentuk seorang bawahan yang membungkuk di hadapan atasannya. Ia dapat hadir secara lebih halus, salah satunya melalui perbedaan perlakuan berdasarkan jabatan dan status, seperti yang terjadi dalam upacara kemerdekaan tadi.

Namun, bukan berarti setiap pejabat atau orang yang berada di bawah tenda dapat langsung dikatakan melakukan feodalisme. Fasilitas tersebut bisa saja diberikan karena alasan yang wajar, seperti faktor kesehatan, usia, tugas protokoler, atau kebutuhan tertentu yang memang harus dipertimbangkan. Persoalan baru muncul ketika fasilitas khusus itu diberikan semata-mata berdasarkan jabatan atau status sosial, tanpa alasan yang jelas dan proporsional, dan di situlah kita patut bertanya apakah pemberiannya benar-benar karena kebutuhan objektif, atau karena jabatan dianggap memberikan hak istimewa?

Jika alasannya semata-mata karena status, maka persoalannya bukan lagi sekadar tenda atau tempat berteduh. Persoalannya adalah cara kita memandang kesetaraan. Orang yang memiliki jabatan publik pada dasarnya memperoleh amanah untuk melayani masyarakat, bukan kedudukan yang membuat mereka lebih berhak atas kenyamanan dibandingkan masyarakat yang mereka layani.

Ironisnya, praktik semacam ini justru bisa berlangsung dalam upacara yang memperingati kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan seharusnya menjadi simbol bahwa setiap warga negara memiliki kedudukan yang setara. Karena itu, peringatan kemerdekaan seharusnya tidak hanya menjadi ritual mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat apakah nilai kesetaraan itu benar-benar kita praktikkan hari ini.


Penulis: Muhammad Rahul Gonzales

Editor: Chalisa Najla Safira

Makna di Balik Sebuah Pohon

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Dari sekian perjuangan yang dijalani, kali ini ia mencoba pantang mundur kembali. Terdapat seorang anak laki-laki bernama Bayu, sang pemimpi yang suka berkompetisi. Setiap ada perlombaan, ia selalu sigap mendaftarkan diri dan mengikuti lomba yang diminati. 

Dengan modal tekad dan keberanian yang kuat, diikutinya hingga selesai dan sampai pengumuman itu tiba rasanya tidak membuahkan hasil. Sekali... dua kali... bahkan berkali-kali rasanya nihil. Kekalahan yang terus-menerus itu yang harus ia terima. Lelah. Ingin berputus asa rasanya. 

Bayu merebahkan dirinya di kasur seraya menangis karena kegagalan yang dialami. Derai air mata terus membasahi pipinya. Hal tersebut membuatnya kehilangan daya untuk melakukan segalanya. 

Namun, ia teringat dan meresapi sebuah perumpamaan "Pohon walaupun diterpa angin kencang tetap berdiri kokoh." Jika direnungkan, kalimat tersebut benar adanya. Ia tetap berdiri kuat dan tidak pernah menyalahi angin atas terpaan terhadapnya bahkan pohon tersebut dapat memberikan manfaat untuk sekitar. 

Mengingat akan hal itu, ia akhirnya memetik banyak pelajaran berharga hanya dengan mengamati keteguhan sebuah pohon. Pohon itu seolah-olah bukan hanya sekadar tumbuh, melainkan mengajarkan pesan tersirat tentang pentingnya untuk terus bangkit, berdiri kokoh, memiliki keteguhan hati, prinsip hidup yang kuat, mental yang tangguh, dan bertahan hidup walau diterpa dengan situasi yang paling sulit sekalipun.


Penulis: Rizky Ramadhani

Editor: Chalisa Najla Safira

10 Agustus 2026

Jejak Aksara

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- 

Aku tak pandai merangkai kata

Seindah bait Chairil, sang pujangga

Melambung tinggi menembus angkasa

Meninggalkan jejak dalam sukma


Aku pun bukan pujangga cinta

Seliat Sapardi dalam bercerita

Mengukir rindu dalam aksara

Menyentuh hati tiada tara


Namun, jika suatu hari nanti

Kau temukan namamu di sini

Tersemat halus dalam tulisan ini

Itu cara jujur mencintai


Hanya itu yang mampu kuberi

Sederhana tanpa basa-basi

Mengalir dari hati ke hati

Wujud kasih yang hakiki


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

Kontradiksi Diri

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- 

Aku adalah sosok yang membingungkan

Wajah ceria menyembunyikan lara

Tersenyum indah menutupi kesedihan

Tampak bahagia di tengah riak duka


Langkah berani namun menyimpan malu

Mengulurkan tangan peduli tiap masa

Terkadang dingin bagai batu yang kaku

Hati yang hangat mendadak hampa rasa


Menjadi obat penawar segala luka

Mampu menyembuhkan perih hati orang

Namun, menyakiti pada saat yang sama

Menorehkan duka di balik kasih sayang


Bertekad kuat untuk terus berkembang

Menatap masa depan penuh cita asa

Namun, tangan sendiri yang menghancurkan

Merusak mimpi yang baru saja terbina


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

Mahar Tinggi di Tanah Rencong, Sebuah Penghormatan atau Gerbang Awal Menuju Zina

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Perkembangan zaman membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam urusan tradisi pernikahan. Mulai dari tata cara resepsi yang semakin modern, prosesi lamaran yang berjalan dengan megah, hingga standar adat yang kerap mengikuti perkembangan. Namun, di balik itu, tradisi tersebut memunculkan sebuah persoalan sosial yang nyata, yaitu tingginya tuntutan mahar atau uang hantaran jeulame. Ternyata sakralnya ikatan pernikahan tidak diiringi dengan kemudahan proses pelaksanaannya bagi kaum muda.

Fenomena ini bisa dilihat dari maraknya penetapan mahar dengan nominal fantastis, kebiasaan mematok standar ekonomi yang memberatkan pihak laki-laki, hingga banyaknya pasangan yang harus menunda pernikahan karena terkendala biaya adat. Bahkan saat niat baik untuk menghalalkan hubungan sudah bulat, keluarga atau lingkungan sekitar kerap menuntut standar mahar yang tinggi atas nama gengsi dan bentuk penghormatan terhadap perempuan, tanpa melihat kemampuan keuangan yang sebenarnya.

Tuntutan biaya yang memberatkan tersebut kemudian memicu keresahan tersendiri tanpa memikirkan dampak psikologis maupun risiko sosial yang ditimbulkannya. Ini menunjukkan bahwa esensi pernikahan yang sakral telah bergeser oleh keinginan untuk memenuhi gengsi sosial dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat sekitar.

Kebiasaan seperti ini sangatlah memprihatinkan. Adat dan tradisi memang penting untuk dijaga sebagai identitas budaya, tetapi tidak semua standar materi layak dijadikan tolok ukur kemuliaan seseorang. Padahal, jika direnungkan kembali, agama sebenarnya tidak mempersulit, dan ajaran Islam sendiri selalu menekankan agar proses menuju kehalalan dibuat semudah mungkin demi menjaga kehormatan diri.

Dalam ajaran agama, yang seharusnya menjadi prioritas utama adalah kemudahan menikah. Jika mahar dipatok terlalu tinggi hingga menyulitkan, setidaknya tradisi bisa disesuaikan agar tidak menjadi batu sandungan bagi generasi muda yang ingin berbuat baik.

Menjadikan tradisi mahar yang memberatkan sebagai ajang pamer status sosial juga merupakan hal yang seharusnya tidak dilakukan, apalagi dinormalisasikan. Kedua hal ini dapat menjadi bukti nyata penyimpangan nilai yang justru berisiko menjerumuskan pada hal-hal yang dilarang agama, seperti perbuatan zina akibat tertundanya pernikahan yang sah.

Tradisi seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana menyempurnakan separuh agama dengan mudah, bukan malah digunakan untuk mempersulit proses ibadah demi mengejar kepuasan citra diri semata. Jangan sampai aturan adat malah menjauhkan nilai-nilai kebaikan. Karena sebenarnya kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa besar jumlah mahar atau kemewahan pesta yang diberikan, melainkan dari keberkahan niat dan kemudahan menuju jalan yang halal.


Penulis: Ilham Dwi Temas Miwa

Editor: Chalisa Najla Safira

09 Agustus 2026

Bahasa Aceh Mulai Malu Dituturkan di Ibu Kota

Foto: Daffa Alkausar
www.lpmalkalam.com- Bahasa Aceh merupakan bagian penting dari identitas dan warisan budaya masyarakat Aceh. Namun, di kawasan ibu kota seperti Banda Aceh, semakin banyak generasi muda yang enggan menggunakan bahasa Aceh dalam percakapan sehari-hari. Sebagian merasa lebih percaya diri menggunakan bahasa Indonesia, bahkan menganggap bahasa daerah terkesan kuno atau kurang modern. Akibatnya, bahasa Aceh mulai jarang terdengar di lingkungan sekolah, kampus, tempat kerja, hingga ruang publik.

Rasa malu menggunakan bahasa Aceh merupakan tantangan yang perlu disadari bersama. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan jati diri dan budaya suatu masyarakat. Jika generasi muda terus meninggalkan bahasa Aceh karena gengsi atau takut dianggap tidak keren, lambat laun bahasa tersebut akan semakin terpinggirkan.

Melestarikan bahasa Aceh bukan berarti menolak penggunaan bahasa Indonesia atau bahasa asing. Justru, kemampuan menguasai banyak bahasa merupakan kelebihan. Yang terpenting adalah tetap bangga menggunakan bahasa Aceh dalam lingkungan yang sesuai agar identitas budaya tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.


Penulis: Daffa Alkausar

Editor: Chalisa Najla Safira

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.