![]() |
| Foto: Pixels |
HEADLINE
14 Juli 2026
13 Juli 2026
Retorika Luka
Bersyukurlah jemariku gemar merawat aksara
Sebab saat kau runtuh kehilangan harga
Aku memilih diam dan menjauhkan prasangka
Ketika perangaimu mulai kehilangan pekerti
Dan laku tabiatmu tak lagi mampu kuhormati
Lidahku enggan mengotori diri dengan caci
Sebab amarah hanya akan merugikan hati
Alih-alih melumurkan makian yang sia-sia
Kupeluk sepi demi menenun bait-bait doa
Kuganti setiap perih menjadi baris diksi
Mengubur kecewa dalam sunyinya selembar puisi
Kusulam semua ini dengan sisa-sisa jemari
Sebagai penawar muak yang sempat menghampiri
Agar kelak saat ingatan memaksaku menoleh kembali
Bayangmu tak lagi menjelma racun di dalam diri
Kini biarlah aksara yang berbicara lirih
Mengganti benci menjadi penutup rasa perih
Sebab membalasmu hanya membuang waktu
Lebih baik kau lumat dalam keheningan baitku
Penulis: Amanda Zuhra
Editor: Chalisa Najla Safira
UIN SUNA Bagikan Almamater Edisi Terbaru, FTIK Catat Antrean Terpanjang
![]() |
| Foto: Muhammad Rahul Gonzales |
Pembagian almamater tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa angkatan 2025. Dalam proses pengambilan, mahasiswa diwajibkan mengantre sesuai dengan fakultas masing-masing serta menunjukkan Kartu Hasil Studi (KHS) kepada petugas sebagai syarat pengambilan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, antrean mahasiswa dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) tampak lebih panjang dibandingkan dengan antrean mahasiswa dari fakultas lainnya.
Rahainu Saputri, selaku staf administrasi, mengatakan bahwa kegiatan pembagian almamater berlangsung lancar. Hingga saat ini, sekitar 500 almamater telah dibagikan. “Mahasiswa yang mengalami kendala terkait ukuran almamater dapat melaporkannya kepada petugas,” katanya.
Salah seorang mahasiswa, Muhammad Munawar Rajeb, mengatakan bahwa pelayanan yang diberikan berjalan dengan baik dan antrean juga sangat teratur. “Harapan saya, ke depannya pembagian almamater ini dapat dilakukan secara merata untuk setiap angkatan,” ujarnya.
12 Juli 2026
Ma'had Al-Jami'ah UIN SUNA Gelar Perpisahan Mahasantri Semester 8
![]() |
| Foto: Intan Sarifah |
11 Juli 2026
Fenomena Individualisme di Era Perkembangan Teknologi
![]() |
| Foto: Pixels |
Dahulu, komunikasi dan interaksi sosial jauh lebih terasa seperti kegiatan yang sering dilakukan dengan tatap muka, gotong royong atau kerja bakti, dan silaturahmi menandakan interaksi sosial yang masih sangat kental di kalangan masyarakat. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kebiasaan tersebut mulai memudar secara perlahan. Terkadang masyarakat sekarang lebih memilih kegiatan yang dilaksanakan secara virtual sehingga kebersamaan menurun dan cenderung memiliki rasa individualisme.
Individualisme adalah sikap atau pandangan seseorang yang hanya berorientasi pada diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Hal inilah yang membuat rasa empati menurun dan berkurangnya kedekatan hubungan antarindividu. Globalisasi menjadi penyebab hal tersebut. Menyajikan informasi yang cepat, luas, hingga lintas batas sehingga seseorang tidak perlu datang menghampiri orang atau tempatnya secara langsung. Globalisasi juga membuat seseorang hanya berfokus pada gawai sehingga mengabaikan orang di sekitar.
Selain itu, faktor perkembangan teknologi yang lain seperti internet mempermudah pencarian berbagai topik. Belajar maupun bekerja kini dapat dilakukan secara otodidak, tidak perlu membutuhkan bantuan orang lain. Perubahan dari segi ekonomi juga dapat memicu hal ini seperti seseorang yang terpaksa bekerja dengan jadwal yang padat hingga kurang mempunyai waktu dan perhatian untuk orang lain.
Pada dasarnya, individualisme merupakan sikap yang berdampak negatif dan menjadi tantangan di era saat ini. Perkembangan teknologi tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena yang menjadi masalah bukan pada alat, melainkan pengguna. Pengguna harus bisa menyeimbangkan antara dunia maya dan dunia nyata agar terhindar dari hal tersebut serta demi marwah dan nilai solidaritas tetap terjaga.
Penulis: Rizky Ramadhani
Editor: Chalisa Najla Safira
Melampaui Transkrip Nilai: Mengapa Kuliah Bukan Sekadar Berburu Ijazah?
![]() |
| Foto: Pixels |
Jika motivasi utama hanya memperoleh dokumen formal, maka makna pendidikan tinggi telah mengalami penyempitan yang sangat mendasar. Dampaknya langsung terasa pada ketatnya persaingan kerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengangguran lulusan universitas masih konsisten menembus angka 1 juta orang. Industri modern kini lebih memprioritaskan kemampuan memecahkan masalah (problem solving), komunikasi, kepemimpinan, dan ketahanan mental.
Kompetensi esensial ini sayangnya jarang didapat oleh mahasiswa yang pasif di kelas dan abai terhadap organisasi, penelitian, atau perlombaan. Akibatnya, terjadi kesenjangan besar (skill mismatch) antara teori kampus dan kebutuhan nyata lapangan kerja. Memiliki nilai akademik yang baik tentu patut diapresiasi, namun kuliah seharusnya menjadi laboratorium sosial untuk bereksperimen dan memperluas jaringan profesional.
Oleh karena itu, paradigma berpikir mahasiswa harus diubah sejak dini dengan mengambil langkah nyata. Mahasiswa harus berani keluar dari zona nyaman akademis melalui keterlibatan aktif dalam organisasi kampus, kompetisi ilmiah, hingga program praktis seperti magang bersertifikat di Kampus Merdeka. Kampus bukan tempat mencetak robot berijazah, melainkan wadah penempaan karakter. Dengan aktif membangun portofolio dan jejaring sejak semester awal, mahasiswa akan tumbuh menjadi lulusan yang matang, kompeten, dan siap berdampak nyata bagi masyarakat.
Penulis: Cut Saputri
Editor: Chalisa Najla Safira
09 Juli 2026
Kelak, Namamu Tak Lagi Bergema
![]() |
| Foto: Pixabay |
05 Juli 2026
PSGA UIN SUNA Raih Juara Harapan I Perguruan Tinggi Responsif Gender Se-Indonesia
Sebelumnya, UIN SUNA Lhokseumawe berhasil masuk nominasi PTRG Award sebagai bentuk pengakuan atas komitmen kampus dalam mengimplementasikan pengarusutamaan gender serta menciptakan lingkungan akademik yang inklusif, setara, dan bebas dari kekerasan berbasis gender. Pada ajang tersebut, UIN SUNA diwakili oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Muhammad Anggung, bersama Kepala PSGA, Nurul Hikmah.
Nurul Hikmah menjelaskan bahwa Konsolidasi Nasional Kerja-Kerja PSGA menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi antarpengelola PSGA di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Menurutnya, forum tersebut tidak hanya menjadi ajang menyamakan persepsi dan mengevaluasi program kerja, tetapi juga merumuskan strategi dalam mengoptimalkan pengarusutamaan gender di lingkungan perguruan tinggi.
Nurul juga menyampaikan bahwa nominasi PTRG Award merupakan bentuk apresiasi dari Direktorat PTKI kepada perguruan tinggi yang menunjukkan komitmen dalam mewujudkan kampus yang responsif terhadap isu gender. Masuknya UIN SUNA Lhokseumawe sebagai salah satu nominasi dinilai menjadi indikator bahwa kebijakan dan berbagai program yang dijalankan kampus telah berada pada arah yang tepat.
Sementara itu, Ketua LPPM UIN SUNA Lhokseumawe, Muhammad Anggung, menegaskan bahwa partisipasi kampus dalam forum nasional tersebut merupakan wujud komitmen nyata untuk membangun layanan perlindungan serta menghadirkan lingkungan pendidikan yang adil dan aman bagi seluruh civitas academica. "Ini merupakan komitmen nyata UIN SUNA Lhokseumawe sebagai bentuk from commitment to impact adalah simpul ekosistem layanan perlindungan," ujarnya.
Anggung juga berharap keikutsertaan dalam Konsolidasi Nasional PSGA dapat menghasilkan gagasan dan strategi baru yang semakin memperkuat implementasi program-program responsif gender di lingkungan UIN SUNA Lhokseumawe.
Penulis: Chalisa Najla Safira dan Intan Sarifah
Editor: Zahratul
04 Juli 2026
LPM Al-Kalam Gelar Workshop Jurnalistik 2026
![]() |
| Foto: Wahyu Ramadan |
03 Juli 2026
Jalan Kesuksesan
Mengenai Saya
- LPM AL-KALAM
- Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.









