HEADLINE
26 Agustus 2026
25 Agustus 2026
Matahari yang Tak Mengenal Teduh
www.lpmalkalam.com-
Matahari menggantung terik di atas kepala
24 Agustus 2026
Teater Ketidakadilan
www.lpmalkalam.com- Tudung saji plastik warna merah di atas meja makan rumah Hana sudah retak di bagian gagangnya. Ibu selalu menutup piring berisi ikan goreng atau sayur lodeh dengan benda itu.
“Biar nggak dihinggapi lalat, Han. Biar tetep bersih,” kata Ibu suatu hari.
Hana tidak pernah menyangka bahwa suatu saat, cara berpikir seperti tudung saji itu akan melekat pada tubuh perempuan.
Malam itu hujan gerimis. Hana berjalan tergesa dari halte bus menuju gang rumah. Rok panjangnya agak basah di bagian bawah, dan jilbab lebar yang dikenakannya ditarik sedikit ke depan untuk menghalau angin malam yang menusuk. Di persimpangan yang agak remang, langkahnya terhenti saat melihat Alea, tetangga sebelah rumahnya.
Alea sedang berdiri gemetar di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip. Kaus oblong dan celana jeans di atas lutut yang dikenakannya tampak kuyup. Di depannya, dua pemuda bermotor berhenti, melontarkan siulan godaan dan kalimat-kalimat vulgar yang membuat perut Hana mual.
“Cuih... makanan basi! Jam segini baru pulang pakai baju kurang bahan!” celetuk salah satu pemuda itu sebelum tertawa keras bersama temannya. Alea hanya menunduk rapat, menyilangkan kedua tangan di dada untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan dan ketakutan.
Hana berniat menghampiri Alea, tapi pergerakannya tertahan ketika motor itu justru berbalik arah dan mendekatinya. “Wah, kalau yang ini beda. Makanan siap saji, nih. Masih hangat dan tertutup rapat,” ujar si pengemudi motor dengan tatapan melecehkan. Tangannya terulur meraih ujung jilbab Hana.
Jantung Hana berdegup kencang seperti hendak melompat keluar. Ada rasa takut yang luar biasa mencekik lehernya. Kedua tangan Hana spontan menyilang di dada, menahan kebas dan gemetar yang menyapu seluruh tubuh. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak sekuat tenaga memanggil warga. Suara teriakan itu membuat kedua pemuda tadi terkejut dan langsung memacu motor pergi menghilang di kegelapan malam.
Hana segera menghampiri Alea. Mereka berdua berdiri di bawah remang lampu jalan, sama-sama gemetar, sama-sama menanggung rasa takut yang menyayat.
“Kamu nggak apa-apa, Al?” bisik Hana lirih.
Alea menatap Hana dengan mata berair. “Aku benci, Han. Kenapa mereka selalu merasa berhak menghakimi tubuh kita? Kamu pakai jilbab rapat dibilang ‘siap saji,’ aku pakai baju santai dibilang ‘basi.’ Mau pakai apa pun, kita selalu disalahkan.”
Kata-kata Alea menampar kesadaran Hana. Di mata para pemangsa di panggung pementasan ketidakadilan ini, tubuh perempuan hanyalah santapan. Jika tertutup rapat, dianggap menyajikan hidangan hangat; jika terbuka, dianggap barang sisa yang layak dihina. Padahal yang membusuk sebenarnya bukan pakaian mereka, melainkan pikiran orang-orang itu.
Malam itu, Hana dan Alea berjalan berdampingan menembus sisa gerimis. Mereka tidak sedang membarter nyawa untuk membeli tiket teater absurd ini, tetapi mereka memilih untuk terus melangkah dan saling menjaga.
Penulis: Amanda Zuhra
Editor: Zahratul
22 Agustus 2026
Riuh Pasar Menjelang Maulid
![]() |
| Foto: Annisa Maulianda |
21 Agustus 2026
Kisah Milik Kita
![]() |
| Foto: Pixels |
www.lpmalkalam.com- Mungkin selama ini kita terlalu sibuk bertanya, “Kenapa bukan aku yang dipilih?”
Kita terlalu sering menunggu seseorang menyadari keberadaan kita, menunggu seseorang memanggil nama kita, menunggu kisah yang kita inginkan akhirnya terjadi.
Padahal, hidup tidak selalu tentang bagaimana seseorang melihat kita. Ada hari saat kita hanya menjadi pemeran kecil dalam cerita orang lain. Datang sebentar, meninggalkan sesuatu, lalu pergi tanpa pernah tahu bagaimana kisah itu berakhir.
Tapi tidak apa-apa. Karena kita juga punya cerita sendiri. Cerita yang membuat kita tidak harus dipilih, tidak harus dikenang, dan tidak harus berakhir seperti yang kita inginkan.
Mungkin yang perlu kita lakukan bukan lagi mencari tempat dalam cerita orang lain, melainkan mulai pelan-pelan menulis halaman milik kita sendiri.
Karena pada akhirnya kita akan sadar, bahwa kita adalah tokoh utama dalam kisah kita sendiri, tidak dalam kisah orang lain. Setiap orang memiliki alur ceritanya masing-masing, dan hidup tidak pernah meminta kita menjadi bagian dari cerita siapapun kecuali milik kita sendiri.
Penulis: Chalisa Najla Safira
Editor: Zahratul
20 Agustus 2026
Seperti Langit
![]() |
| Foto: Pixels |
19 Agustus 2026
Jirani Coffee House: Antara Rasa, Suasana, dan Kenyamanan
![]() |
| Foto: Pixels |
FUAD UIN SUNA Bekali 158 Mahasiswa dengan Pengalaman Dunia Kerja melalui OJT
Api Semangat Para Pahlawan
18 Agustus 2026
Merdeka, Katanya
Putih telah pucat tergerus
Harapan warga kian memudar
Di tanah Indonesia tercinta
Ada perut yang rela dirobek
Makhluk kehilangan rumahnya
Bertahan hidup demi esok
Di atas mimbar nan megah
"Merdeka", katanya berulang
Menembus langit penuh janji
Sedang di sudut bibir jalanan
Di bawah pajangan bendera
Masih ada memungut sampah
Mencari sesuap nasi hangat
Penulis: Amanda Zuhra
Editor: Redaksi
Mengenai Saya
- LPM AL-KALAM
- Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.









