Portal Berita Al-Kalam

Kurban 2026 UIN SUNA Salur 100 Paket untuk Korban Banjir

Foto: Wahyu Ramadan  www.lpmalkalam.com- Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah...

HEADLINE

Latest Post

28 Mei 2026

Kurban 2026 UIN SUNA Salur 100 Paket untuk Korban Banjir

Foto: Wahyu Ramadan 

www.lpmalkalam.com- Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menyelenggarakan kurban 2026 di depan Gedung Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) pada kamis, (28/05/2026).

Dalam merealisasikan kegiatan ini, pengumpulan dana kurban dilakukan dalam bentuk arisan dengan pembagian dana sebesar Rp2.100.000 /orang, yang dapat diangsur selama 12 bulan. Hasil pengumpulan dana sejak Juni 2025 mendekati waktu pelaksanaan pada tahun ini, mendapatkan sebanyak 14 ekor hewan kurban dengan pembagian; 4 kambing, 4 lembu, dan 6 domba. Daging-daging qurban tersebut akan disembelih dan diplastikan untuk kemudian dibagikan. 

Nur Anwar selalu ketua panitia menyampaikan bahwa penerima daging kurban diklasifikasikan pada 1/3 bagian untuk shahibul kurban, pegawai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu, pegawai Non- Aparatur Sipil Negara (ASN), pekerja, warga sekitar, 100 paket untuk korban banjir di Tumpok Teungoh, dan mahasiswa yang tidak pulang kampung. Ia juga menegaskan bahwa pelaksanaan kurban bukanlah suatu kewajiban, hanya saja 

“Semoga berjalan dengan lancar, penuh berkah sehingga membawa kebaikan bagi shahibul kurban dan juga untuk kampus tercinta kita dan semoga kedepan lebih banyak lagi warga kampus yang berqurban di kampus tercinta kita,” ujarnya.

Foto: Wahyu Ramadan 

Muhammad Nasir selaku Geuchik gampong Tumpok Teungoh, yang menerima bantuan kurban langsung dengan Rektor UIN SUNA (Danial) sebagai simbolisasi. Ia menyampaikan bahwa distribusi pada warga akan dilakukan dengan pembagian kupon guna meminimalisir warga luar gampong mengambil daging kurban. Ia juga menyampaikan harapannya mewakili masyarakat gampong kepada kampus UIN SUNA Lhokseumawe. 

“Semoga ke depan ini mungkin ada lebih dari 100. Kami berdoa selalu semoga kampus ini bisa lebih maju sebagaimana yang kita harapkan ke depan nanti kampus ini. Alhamdulillah, berkat doa-doa dari pada warga kami yang menerima kurban ini, kampus ini akan lebih maju ke depan nanti," harapnya.


Penulis: Wahyu Ramadan

Editor: Redaks

27 Mei 2026

Waktu yang Perlu Dijeda

 

Foto: Pixabay 

www.lpmalkalam.com- Pada malam hari raya, sudah menjadi kebiasaan bagi seseorang untuk berkumpul bersama orang-orang tersayang. Rini, seorang gadis yang ingin bercengkerama dan menghabiskan banyak waktu bersama keluarga, kini harus menghadapi realita yang menuntutnya memikul berbagai tanggung jawab, terutama sebagai pelajar. Tugas demi tugas, deadline demi deadline, datang silih berganti tanpa henti.

Suatu waktu di kampung, Mbah Aniah datang menghampirinya seraya berkata.

“Kamu mau kan bermalam di sini?”

“Lihat dulu, Mbah,” ucap Rini sambil tersenyum.

Awalnya, Rini tidak terlalu menghiraukan pertanyaan itu. Ia mengira ucapan tersebut hanyalah basa-basi. Padahal, wajar jika neneknya menanyakan hal seperti itu, mengingat Rini adalah salah satu cucu yang jarang pulang, dan kalau pun pulang hanya pada hari-hari besar saja. Sementara itu, pikirannya terus dipenuhi berbagai hal yang tidak kunjung usai.

Beberapa jam kemudian, Mbah Aniah kembali menghampiri Rini dengan pertanyaan yang sama.
“Kamu mau kan bermalam di sini?”

Rini tertegun sambil menatap raut wajah neneknya yang tampak sedih sekaligus penuh harap. Rasanya tak tega melihat perempuan tua itu berdiri menanti jawaban dari cucu yang begitu ia sayangi. Di sisi lain, jantung Rini berdebar, pikirannya berputar, dan rasa bingung membuatnya hanya mampu terdiam sesaat.

“Kapan lagi kamu mau bermalam di sini? Padahal cuma setahun sekali,” sahut Mbah Aniah pelan.

Setelah mendengar hal itu, Rini menyadari bahwa pertanyaan tersebut ternyata memiliki makna yang selama ini gagal ia pahami. Resah, sangat resah. Seolah terjadi pergulatan batin antara keinginan untuk berkumpul bersama keluarga dan tuntutan untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.

Namun, Rini teringat pesan ibunya yang pernah berkata bahwa jika ada kesempatan untuk berkumpul dengan orang tersayang, terutama dengan Mbah, maka lakukanlah. Jika tidak, pasti akan ada rasa sedih yang tertinggal. Apa yang dikatakan ibunya terasa benar. Meski begitu, Rini merasa ia tetap harus mencari cara agar dapat memanfaatkan waktunya sebaik mungkin demi menjalankan keduanya.

“Apa aku bermalam dua hari saja, ya? Kayaknya bisa,” gumamnya.

“Baiklah, Mbah,” ucap Rini akhirnya. Mbah Aniah pun tersenyum bahagia.

Jika dipikir-pikir, memang ada waktunya seseorang perlu menjeda diri dari segala aktivitas yang selama ini dijalani. Keluarga adalah tempat beristirahat dari penatnya kehidupan, agar hati tidak lelah dan ikatan kasih tetap tumbuh kuat. Dua hari mungkin terasa singkat, tetapi bisa menjadi sangat bermakna jika dimanfaatkan dengan baik.

Pada akhirnya, sekeras apa pun dunia, keluarga tetap menjadi tempat kita berpulang. Di sanalah cinta dan kasih selalu menunggu. Di tengah waktu yang terus berputar dan padatnya aktivitas, sudah sepatutnya kita meluangkan sedikit ruang untuk orang-orang tercinta. Sebab, terkadang yang mereka butuhkan bukan sekadar hangatnya sapaan atau panjangnya percakapan, melainkan kehadiran dan kebersamaan.


Penulis: Rizky Ramadhani 

Editor: Zahratul

26 Mei 2026

Meugang: Bukan Sekadar Daging, tetapi Warisan Budaya

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Meugang, dalam masyarakat Aceh, dikenal sebagai hari yang dipenuhi oleh daging. Sebenarnya, tradisi ini bukan sekadar tentang daging, melainkan tradisi turun-temurun di Aceh ketika seluruh masyarakat memasak dan menghidangkan daging untuk keluarga mereka. Meugang biasanya berlangsung dua hari sebelum Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Masyarakat menyebutnya sebagai meugang kecil (dua hari sebelum Lebaran) dan meugang besar (satu hari sebelum Lebaran).

Tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh. Menurut masyarakat Aceh, daging yang dihidangkan merupakan bentuk rasa syukur sekaligus simbol kebersamaan dalam kehidupan sosial. Dahulu, pada masa Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau, dan hewan ternak lainnya disembelih untuk dibagikan kepada fakir miskin dan anak yatim. Hal tersebut menjadi bukti bahwa tradisi meugang sangat lekat dengan nilai keberkahan dan kepedulian sosial.

Setiap sudut kota maupun desa di Aceh merayakan hari besar ini. Meskipun terdapat sedikit perbedaan di beberapa daerah, tradisi meugang tetap memiliki makna yang sama bagi seluruh masyarakat Aceh. Menjelang hari meugang, masyarakat Aceh sangat antusias menyiapkan berbagai hewan ternak untuk diperjual belikan demi terciptanya pemerataan ekonomi. Ketika hari meugang tiba, banyak masyarakat dari berbagai profesi menghentikan aktivitas pekerjaan mereka untuk merayakan tradisi warisan leluhur ini.

Daging yang dibeli kemudian dimasak menjadi berbagai hidangan khas Aceh, seperti kari, kuah beulangong (gulai khas Aceh), sie reuboh (daging rebus asam pedas), dan sop daging. Uniknya, masyarakat Aceh tidak pernah menganggap tradisi ini sebagai beban. Baik kalangan atas maupun bawah tetap berusaha agar keluarga mereka dapat menikmati daging pada hari meugang.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Zahratul

Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN SUNA Laksanakan PkM di SMP Negeri 1 Nisam

 

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Mahasiswa Semester 4 Unit 1 Program Studi (Prodi) Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Nisam, Kabupaten Aceh Utara pada Rabu (20/05/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tugas mata kuliah Profesi Keguruan yang bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Kegiatan tersebut didampingi oleh dosen pembimbing lapangan (DPL), Sahri Nova Yoga, M.Pd.

Sebelum pelaksanaan kegiatan, mahasiswa terlebih dahulu mendapatkan pengarahan, bimbingan, koreksi, dan perbaikan terkait proses pembelajaran selama kegiatan PkM berlangsung. Selain itu, mahasiswa juga menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai pedoman dalam proses mengajar di kelas.

Setelah seluruh tahapan persiapan dilakukan, mahasiswa melaksanakan kegiatan mengajar di kelas VII yang terdiri atas lima kelas. Setiap kelas diisi oleh tiga mahasiswa untuk mendampingi proses pembelajaran.

Dalam kegiatan pembelajaran, mahasiswa mengajarkan materi tentang cara menyusun pantun melalui metode puzzle. Metode tersebut dilakukan dengan menyusun potongan-potongan kalimat menjadi pantun yang utuh sehingga membuat proses belajar lebih interaktif dan menarik bagi siswa.

Sahri Nova Yoga, M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan melatih kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia pendidikan secara langsung “Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk lebih siap menjadi pendidik yang kreatif dan inovatif,” ujarnya.


Penulis: Zahratul

Editor: Chalisa Najla Safira

25 Mei 2026

Ruang Kerinduan

 

Foto: Pixabay

 www.lpmalkalam.com- 

Di dalam kamar, buku-buku usang mengepung malam

dengan secangkir kopi, rindu ini tetap gagal kuredam

ada harum masakan ibu yang singgah dalam ingatan

sementara tiket pulang ke kampung halaman berganti 

tugas dan ujian.

Kabar selalu kudapat lewat layar handphone yang 

berpijar

suara ibu dan ayah membuat hati semakin bergetar

aku ingin pulang, tetapi harus tertahan

di dalam doa dan kenyataan yang memang harus 

diperjuangkan.


Kampung tempat kulahir terasa begitu jauh

di atas kasur sunyi, lelah perlahan runtuh

Ibu, buah hatimu ini belum bisa kembali

karena ada cita-cita yang masih harus kubeli.



Penulis: Ilham Dwi Temas Miwa 

Editor: Putri Ruqaiyah

24 Mei 2026

Awan

 

Foto: Bellivia Al-Kamariana

www.lpmalkalam.com-

Di langit yang luas membiru,

awan berjalan tanpa ragu.

Kadang perlahan tertiup angin,

kadang berlari saat badai datang.


Pagi hari ia tampak cerah,

putih lembut seperti kapas.

Menghias langit dengan indah,

membuat hati terasa lepas.


Saat senja mulai menyapa,

awan berubah warna perlahan.

Jingga, merah, lalu keemasan,

seolah langit sedang melukis harapan.


Kadang awan juga menangis,

menurunkan hujan ke bumi.

Membasahi jalan yang kering,

menenangkan hati yang sepi.


Dari awan aku belajar,

tidak semua mendung itu buruk.

Sebab setelah hujan turun,

pelangi datang dengan cantik dan lembut.


Awan tidak pernah memilih tempat,

ia datang kepada siapa saja.

Di laut, gunung, maupun kota,

ia tetap setia menghiasi angkasa.


Aku suka memandang awan,

karena di sana banyak cerita.

Tentang mimpi yang belum tercapai,

tentang harapan yang masih dijaga.


Andai aku bisa seperti awan,

bebas melangkah tanpa beban.

Tetap tenang meski diterpa angin,

tetap indah walau terus berubah arah.


Langit dan awan seakan bersahabat,

saling menemani tanpa kata.

Dan aku hanyalah manusia kecil,

yang diam-diam kagum melihatnya.



Penulis: Bellivia Al-Kamariana

Editor: Zahratul

23 Mei 2026

Ruang Diskusi atau Arena Konflik


Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Baru-baru ini, lingkungan Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, menjadi sorotan akibat terjadinya pertikaian antar mahasiswa dari Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian. Konflik tersebut diduga bermula dari cekcok antar oknum organisasi mahasiswa yang kemudian berkembang menjadi tindakan saling menyerang. Akibatnya, sejumlah fasilitas fakultas mengalami kerusakan bahkan terbakar, serta terdapat mahasiswa yang menjadi korban dalam insiden tersebut.

Peristiwa ini tentu sangat disayangkan, mengingat kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya pemikiran kritis, diskusi ilmiah, dan penyelesaian masalah secara dewasa. Mahasiswa sering disebut sebagai agen perubahan dan kaum intelektual. Namun, tindakan anarkis yang terjadi justru menunjukkan hilangnya sikap idealis dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi persoalan.

Tindakan menyerang fasilitas kampus maupun sesama mahasiswa bukanlah bentuk keberanian ataupun solidaritas. Sebaliknya, tindakan tersebut hanya memperlihatkan tingginya ego antar kelompok tanpa memikirkan dampak jangka panjang yang ditimbulkan. Kerusakan fasilitas bukan hanya merugikan satu pihak, melainkan seluruh civitas akademika. Kampus yang seharusnya menjadi ruang belajar bersama justru berubah menjadi arena konflik yang dipenuhi amarah.

Selain itu, konflik seperti ini mencerminkan rendahnya kemampuan dalam mengendalikan emosi dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Sebagai mahasiswa, seharusnya penyelesaian konflik dilakukan melalui dialog, mediasi, dan pemikiran rasional, bukan dengan kekerasan. Sikap kritis bukan berarti bertindak agresif, melainkan mampu mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan yang dilakukan.

Jika kasus seperti ini terus terjadi tanpa adanya pembenahan dari kedua belah pihak, maka nilai-nilai intelektualitas di lingkungan kampus akan semakin memudar. Mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu menunjukkan kedewasaan dalam bersikap dan bertindak.

Pada akhirnya, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa status 'mahasiswa' bukan sekadar identitas pendidikan, melainkan tanggung jawab moral untuk berpikir kritis, menjaga idealisme, dan menyelesaikan masalah secara bijaksana. Kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya solusi, bukan tempat tumbuhnya permusuhan.


Penulis: Daffa Alkausar

Editor: Chalisa Najla Safira


21 Mei 2026

Arah yang Berbeda

 

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Museum seni dipenuhi dengan temaram lampu dan langkah pelan para pengunjung. Di setiap dinding tergantung lukisan dengan cerita masing-masing.

Sore itu, Kala datang sendirian, hanya untuk menghindari hiruk-pikuk kota dan pikirannya sendiri.

Langkahnya terhenti di depan sebuah lukisan besar.

Lukisan dua ekor burung yang sedang terbang di langit senja. Awalnya terlihat berdampingan, tetapi semakin ke atas, arah terbang mereka mulai berbeda. Yang satu menuju cahaya senja, satunya lagi ke langit gelap yang dipenuhi awan.

Di bawah lukisan itu tertulis:

“Tidak semua perjalanan yang dimulai bersama akan berakhir bahagia.”

Netra Kala terpaku cukup lama sampai suara seseorang terdengar di sampingnya.

“Masih suka ngeliatin lukisan sambil bengong?”

Napas Kala terasa berat sesaat.

Naren.

Nama yang selama ini berusaha Kala kubur dalam-dalam kini berdiri tepat di sampingnya.

Kala menoleh perlahan.Naren menatapnya dengan senyum kecil yang masih sama seperti dulu, hangat.

“Aku kira kamu ga suka museum,” bisik Kala pelan.

“Aku juga kira kamu udah ga suka tempat sepi.”

Mereka tertawa kecil, canggung, sangat canggung.

Sudah hampir tiga tahun sejak hubungan mereka berakhir. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kebencian. Hanya keadaan yang perlahan memaksa mereka berjalan ke arah berbeda, tetapi rasanya lebih menyakitkan dibanding berakhir karena pertengkaran.

Naren harus mengejar mimpinya ke luar kota, sedangkan Kala memilih tetap tinggal demi keluarganya.

Awalnya mereka berjanji akan bertahan.

Tetapi ternyata kadang janji akan kalah oleh jarak, waktu, dan impian yang tinggi.

Kini mereka dipertemukan lagi secara aneh di depan lukisan dua burung yang terbang menjauh satu sama lain.

“Lucu ya,” gumam Naren sambil menatap lukisan itu. “Kayak kita.”

Kala tersenyum tipis.

"Iya, kayak kita. Awalnya jalan bareng tapi harus pisah karena tujuannya beda." 

“Aku sempat benci sama perpisahan kita,” lanjut Kala jujur. “Aku pikir semesta jahat banget.”

Naren diam beberapa detik sebelum akhirnya ikut berkata pelan, “Aku juga.”

Hening kembali datang.

Tetapi kali ini bukan hening yang canggung. Melainkan hening dua orang yang pernah saling mengenal terlalu dalam.

Dari speaker museum tiba-tiba terdengar alunan lagu lembut. Awalnya hanya instrumen pelan, sampai liriknya mengisi ruangan.

“Dipertemukan semesta… walau berakhir tak bahagia…”

Kala langsung menunduk kecil sambil tertawa getir.

“Semestanya nyindir ya?” katanya.

Naren ikut tertawa pelan, meski matanya tampak menyimpan banyak hal yang tidak bisa terucap.

Untuk sesaat, Kala berharap waktu berhenti di sana saja. Di ruangan sunyi itu, di depan lukisan dua burung yang pernah terbang berdampingan sebelum akhirnya memilih arah masing-masing.

Namun mereka sama-sama tahu, beberapa orang memang hanya ditakdirkan bertemu untuk menjadi cerita, bukan bersama selamanya.

Lampu museum mulai diredupkan tanda jam tutup hampir tiba.

“Aku harus pergi,” kata Naren akhirnya.

Kala mengangguk pelan. “Aku juga.”

Mereka berjalan ke arah pintu keluar bersama, tetapi tidak saling menyentuh lagi seperti dulu.

Sesampainya di persimpangan depan museum, langkah mereka berhenti.

“Kala,” panggil Naren.

“Hmm?”

“Makasih ya… pernah jadi rumah.”

Kala tersenyum kecil walau matanya mulai berkaca.

“Kamu juga.”

Setelah itu mereka benar-benar pergi ke arah berbeda. Sama seperti dua burung di dalam lukisan itu.


Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Putri Ruqaiyah

20 Mei 2026

Pencemaran Laut dan Rendahnya Kepedulian Manusia

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Laut dikenal sebagai simbol keindahan dan ketenangan alam. Hamparan air biru, suara ombak, serta angin pantai yang menjadi saksi bisu manusia dalam melepas peluh dan kesahnya. Namun di balik keindahannya, laut kini membawa pesan kepedulian kepada manusia karena kondisinya yang tercemar bahkan dirusak dengan keji tanpa kepedulian terhadap lingkungan alam.

Saat ini sampah plastik, menjadi masalah utama dalam merusak keindahan lautan. Banyak masyarakat yang membuang sampah ke pantai tanpa memikirkan risiko yang akan terjadi ke depannya. Akibatnya, sampah tersebut terbawa oleh arus ombak hingga mencemari laut dan juga membahayakan kehidupan di dalam laut. Sangat banyak hewan laut yang mati terjebak di antara limbah yang mengapung dan menjadi racun di lautan.

Masalah ini terjadi karena kurangnya kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan. Banyak orang masih beranggapan bahwa laut mampu membersihkan dirinya sendiri, padahal pencemaran lingkungan yang terus terjadi dapat menjadi dampak besar bagi kehidupan manusia ke depannya. Lautan yang tercemar tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memengaruhi mata pencaharian para nelayan dan juga sektor pariwisata.

Selain masyarakat, pemerintah juga menjadi peran penting dalam menjaga kelestarian laut. Aturan mengenai larangan pembuangan sampah dan limbah secara sembarangan harus ditertibkan agar pencemaran dapat dikurangi. Edukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian laut perlu dilakukan, terutama kepada generasi muda untuk meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui ombaknya, laut selalu memperingatkan pada manusia alam membutuhkan cinta dan kasih sayang. Jika manusia terus bersikap mengabaikan, maka keindahan laut perlahan akan pudar dan lenyap. Karena itu, menjaga laut bukan hanya tanggung jawab sebagian orang tetapi kewajiban bersama untuk masa depan lebih baik dan lingkungan terjaga.


Penulis: Rozatun Navais

Editor: Chalisa Najla Safira

19 Mei 2026

Bunga di Ujung Musim

Foto: Pexels 
www.alkalam.com- Pada suatu hari, di sebuah desa kecil, hiduplah seorang gadis yang bernama Alina yang sangat menyukai bunga. Setiap pagi ia selalu menyiram tanaman di halaman rumahnya dengan penuh perhatian, namun dari sekian banyak bunga yang ia tanam hanya satu yang paling dia sukai, yaitu sebuah bunga kecil berwarna kuning yang tumbuh di sudut taman.

Bunga itu tampak berbeda karena tidak seindah mawar, tidak seharum melati, dan sering kali layu saat musim kemarau datang. Namun setiap kali hujan pertama turun, bunga itu selalu mekar kembali dengan lebih indah dari sebelumnya.

Suatu hari, Alina merasa sedih karena gagal dalam sebuah perlombaan yang sangat ia harapkan, ia duduk termenung di dekat taman memandangi bunga kuning kesayangannya yang tampak layu. 

"Kenapa kamu masih bertahan?" bisiknya pelan. 

Beberapa hari kemudian, hujan turun deras setelah kemarau panjang. Alina berlari keluar rumah dan melihat bunga itu kembali mekar bahkan lebih cerah dari sebelumnya. Saat itu ia tersadar bahwa bunga kecil itu mengandung sebuah pelajaran penting baginya.

Bunga itu mengajarkan bahwa kegagalan dan kesulitan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses untuk tumbuh lebih kuat, seperti bunga yang layu lalu mekar kembali. Manusia pun bisa bangkit setelah jatuh. 

Sejak saat itu, Alina tidak lagi mudah menyerah, ia percaya bahwa setiap kesulitan yang ia hadapi adalah "musim kemarau" yang akan berlalu, dan suatu saat ia akan "mekar" kembali dengan lebih baik. 

Setiap kesulitan dalam hidup mengandung pelajaran dan harapan. Jangan menyerah karena setelah masa sulit akan selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali.


Penulis: Zilfira

Editor: Chalisa Najla Safira

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.