Portal Berita Al-Kalam

Fenomena Feodalisme Ketika Memperingati Kemerdekaan

Foto: Pixels www.lpmalkalam.com- Teman-teman sadar tidak bahwa ada budaya yang masih dicerca hingga sekarang, namun tanpa disadari masih le...

HEADLINE

Latest Post

12 Agustus 2026

Fenomena Feodalisme Ketika Memperingati Kemerdekaan

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Teman-teman sadar tidak bahwa ada budaya yang masih dicerca hingga sekarang, namun tanpa disadari masih lekat dilakukan? Budaya itu adalah feodalisme. Feodalisme sering dibahas terjadi di lingkungan pesantren dan akademik, namun yang jarang kita sadari, padahal tampak jelas dan mudah dilihat, justru terjadi pada pelaksanaan Upacara Peringatan Kemerdekaan Indonesia.

Ketika upacara tersebut dilaksanakan, ada segelintir orang yang ditempatkan di bawah tenda teduh yang dihias sedemikian rupa. Namun di sisi lain, ada yang harus berpanas-panasan di bawah terik matahari demi menunjukkan nasionalisme.

Orang-orang di bawah tenda itu biasanya dipilih untuk mengurus kepentingan masyarakat, namun pada saat yang sama mereka justru melakukan feodalisme, bahkan di hari kemerdekaan itu sendiri. Mereka memosisikan diri seakan memiliki status hierarki yang lebih tinggi dari mereka yang berdiri di bawah terik matahari.

Feodalisme modern tidak selalu hadir dalam bentuk seorang bawahan yang membungkuk di hadapan atasannya. Ia dapat hadir secara lebih halus, salah satunya melalui perbedaan perlakuan berdasarkan jabatan dan status, seperti yang terjadi dalam upacara kemerdekaan tadi.

Namun, bukan berarti setiap pejabat atau orang yang berada di bawah tenda dapat langsung dikatakan melakukan feodalisme. Fasilitas tersebut bisa saja diberikan karena alasan yang wajar, seperti faktor kesehatan, usia, tugas protokoler, atau kebutuhan tertentu yang memang harus dipertimbangkan. Persoalan baru muncul ketika fasilitas khusus itu diberikan semata-mata berdasarkan jabatan atau status sosial, tanpa alasan yang jelas dan proporsional, dan di situlah kita patut bertanya apakah pemberiannya benar-benar karena kebutuhan objektif, atau karena jabatan dianggap memberikan hak istimewa?

Jika alasannya semata-mata karena status, maka persoalannya bukan lagi sekadar tenda atau tempat berteduh. Persoalannya adalah cara kita memandang kesetaraan. Orang yang memiliki jabatan publik pada dasarnya memperoleh amanah untuk melayani masyarakat, bukan kedudukan yang membuat mereka lebih berhak atas kenyamanan dibandingkan masyarakat yang mereka layani.

Ironisnya, praktik semacam ini justru bisa berlangsung dalam upacara yang memperingati kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan seharusnya menjadi simbol bahwa setiap warga negara memiliki kedudukan yang setara. Karena itu, peringatan kemerdekaan seharusnya tidak hanya menjadi ritual mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat apakah nilai kesetaraan itu benar-benar kita praktikkan hari ini.


Penulis: Muhammad Rahul Gonzales

Editor: Chalisa Najla Safira

Makna di Balik Sebuah Pohon

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Dari sekian perjuangan yang dijalani, kali ini ia mencoba pantang mundur kembali. Terdapat seorang anak laki-laki bernama Bayu, sang pemimpi yang suka berkompetisi. Setiap ada perlombaan, ia selalu sigap mendaftarkan diri dan mengikuti lomba yang diminati. 

Dengan modal tekad dan keberanian yang kuat, diikutinya hingga selesai dan sampai pengumuman itu tiba rasanya tidak membuahkan hasil. Sekali... dua kali... bahkan berkali-kali rasanya nihil. Kekalahan yang terus-menerus itu yang harus ia terima. Lelah. Ingin berputus asa rasanya. 

Bayu merebahkan dirinya di kasur seraya menangis karena kegagalan yang dialami. Derai air mata terus membasahi pipinya. Hal tersebut membuatnya kehilangan daya untuk melakukan segalanya. 

Namun, ia teringat dan meresapi sebuah perumpamaan "Pohon walaupun diterpa angin kencang tetap berdiri kokoh." Jika direnungkan, kalimat tersebut benar adanya. Ia tetap berdiri kuat dan tidak pernah menyalahi angin atas terpaan terhadapnya bahkan pohon tersebut dapat memberikan manfaat untuk sekitar. 

Mengingat akan hal itu, ia akhirnya memetik banyak pelajaran berharga hanya dengan mengamati keteguhan sebuah pohon. Pohon itu seolah-olah bukan hanya sekadar tumbuh, melainkan mengajarkan pesan tersirat tentang pentingnya untuk terus bangkit, berdiri kokoh, memiliki keteguhan hati, prinsip hidup yang kuat, mental yang tangguh, dan bertahan hidup walau diterpa dengan situasi yang paling sulit sekalipun.


Penulis: Rizky Ramadhani

Editor: Chalisa Najla Safira

10 Agustus 2026

Jejak Aksara

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- 

Aku tak pandai merangkai kata

Seindah bait Chairil, sang pujangga

Melambung tinggi menembus angkasa

Meninggalkan jejak dalam sukma


Aku pun bukan pujangga cinta

Seliat Sapardi dalam bercerita

Mengukir rindu dalam aksara

Menyentuh hati tiada tara


Namun, jika suatu hari nanti

Kau temukan namamu di sini

Tersemat halus dalam tulisan ini

Itu cara jujur mencintai


Hanya itu yang mampu kuberi

Sederhana tanpa basa-basi

Mengalir dari hati ke hati

Wujud kasih yang hakiki


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

Kontradiksi Diri

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- 

Aku adalah sosok yang membingungkan

Wajah ceria menyembunyikan lara

Tersenyum indah menutupi kesedihan

Tampak bahagia di tengah riak duka


Langkah berani namun menyimpan malu

Mengulurkan tangan peduli tiap masa

Terkadang dingin bagai batu yang kaku

Hati yang hangat mendadak hampa rasa


Menjadi obat penawar segala luka

Mampu menyembuhkan perih hati orang

Namun, menyakiti pada saat yang sama

Menorehkan duka di balik kasih sayang


Bertekad kuat untuk terus berkembang

Menatap masa depan penuh cita asa

Namun, tangan sendiri yang menghancurkan

Merusak mimpi yang baru saja terbina


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

Mahar Tinggi di Tanah Rencong, Sebuah Penghormatan atau Gerbang Awal Menuju Zina

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Perkembangan zaman membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam urusan tradisi pernikahan. Mulai dari tata cara resepsi yang semakin modern, prosesi lamaran yang berjalan dengan megah, hingga standar adat yang kerap mengikuti perkembangan. Namun, di balik itu, tradisi tersebut memunculkan sebuah persoalan sosial yang nyata, yaitu tingginya tuntutan mahar atau uang hantaran jeulame. Ternyata sakralnya ikatan pernikahan tidak diiringi dengan kemudahan proses pelaksanaannya bagi kaum muda.

Fenomena ini bisa dilihat dari maraknya penetapan mahar dengan nominal fantastis, kebiasaan mematok standar ekonomi yang memberatkan pihak laki-laki, hingga banyaknya pasangan yang harus menunda pernikahan karena terkendala biaya adat. Bahkan saat niat baik untuk menghalalkan hubungan sudah bulat, keluarga atau lingkungan sekitar kerap menuntut standar mahar yang tinggi atas nama gengsi dan bentuk penghormatan terhadap perempuan, tanpa melihat kemampuan keuangan yang sebenarnya.

Tuntutan biaya yang memberatkan tersebut kemudian memicu keresahan tersendiri tanpa memikirkan dampak psikologis maupun risiko sosial yang ditimbulkannya. Ini menunjukkan bahwa esensi pernikahan yang sakral telah bergeser oleh keinginan untuk memenuhi gengsi sosial dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat sekitar.

Kebiasaan seperti ini sangatlah memprihatinkan. Adat dan tradisi memang penting untuk dijaga sebagai identitas budaya, tetapi tidak semua standar materi layak dijadikan tolok ukur kemuliaan seseorang. Padahal, jika direnungkan kembali, agama sebenarnya tidak mempersulit, dan ajaran Islam sendiri selalu menekankan agar proses menuju kehalalan dibuat semudah mungkin demi menjaga kehormatan diri.

Dalam ajaran agama, yang seharusnya menjadi prioritas utama adalah kemudahan menikah. Jika mahar dipatok terlalu tinggi hingga menyulitkan, setidaknya tradisi bisa disesuaikan agar tidak menjadi batu sandungan bagi generasi muda yang ingin berbuat baik.

Menjadikan tradisi mahar yang memberatkan sebagai ajang pamer status sosial juga merupakan hal yang seharusnya tidak dilakukan, apalagi dinormalisasikan. Kedua hal ini dapat menjadi bukti nyata penyimpangan nilai yang justru berisiko menjerumuskan pada hal-hal yang dilarang agama, seperti perbuatan zina akibat tertundanya pernikahan yang sah.

Tradisi seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana menyempurnakan separuh agama dengan mudah, bukan malah digunakan untuk mempersulit proses ibadah demi mengejar kepuasan citra diri semata. Jangan sampai aturan adat malah menjauhkan nilai-nilai kebaikan. Karena sebenarnya kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa besar jumlah mahar atau kemewahan pesta yang diberikan, melainkan dari keberkahan niat dan kemudahan menuju jalan yang halal.


Penulis: Ilham Dwi Temas Miwa

Editor: Chalisa Najla Safira

09 Agustus 2026

Bahasa Aceh Mulai Malu Dituturkan di Ibu Kota

Foto: Daffa Alkausar
www.lpmalkalam.com- Bahasa Aceh merupakan bagian penting dari identitas dan warisan budaya masyarakat Aceh. Namun, di kawasan ibu kota seperti Banda Aceh, semakin banyak generasi muda yang enggan menggunakan bahasa Aceh dalam percakapan sehari-hari. Sebagian merasa lebih percaya diri menggunakan bahasa Indonesia, bahkan menganggap bahasa daerah terkesan kuno atau kurang modern. Akibatnya, bahasa Aceh mulai jarang terdengar di lingkungan sekolah, kampus, tempat kerja, hingga ruang publik.

Rasa malu menggunakan bahasa Aceh merupakan tantangan yang perlu disadari bersama. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan jati diri dan budaya suatu masyarakat. Jika generasi muda terus meninggalkan bahasa Aceh karena gengsi atau takut dianggap tidak keren, lambat laun bahasa tersebut akan semakin terpinggirkan.

Melestarikan bahasa Aceh bukan berarti menolak penggunaan bahasa Indonesia atau bahasa asing. Justru, kemampuan menguasai banyak bahasa merupakan kelebihan. Yang terpenting adalah tetap bangga menggunakan bahasa Aceh dalam lingkungan yang sesuai agar identitas budaya tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.


Penulis: Daffa Alkausar

Editor: Chalisa Najla Safira

MARVEL Tลkon: Fighting Souls Akhirnya Rilis, Catat 12 Ribu Pemain Aktif

Foto: Website steamDB

www.lpmalkalam.com- Penerbit PlayStation Publishing LLC merilis gim MARVEL Tลkon: Fighting Souls melalui platform distribusi gim digital Steam dengan harga Rp879.000 pada Kamis (6/8/2026).

MARVEL Tลkon: Fighting Souls mengusung format 4v4 tag battle, di mana setiap pemain membawa empat karakter dalam satu tim. Pemain dapat melakukan pergantian karakter serta melancarkan serangan kombinasi selama pertandingan. Gim ini mengusung tiga genre utama, yaitu Fighting, Tag Team Fighting, dan 2.5D Fighting.

Gim tersebut dikembangkan oleh ARC SYSTEM WORKS CO., LTD. Gim ini memperoleh 12.232 pemain aktif, dengan jumlah pemain aktif secara bersamaan mencapai puncak 24.498 pemain pada 7 Agustus 2026. Gim ini juga mengamankan peringkat ke-5 dalam daftar penjualan terlaris di Steam.

Adapun spesifikasi minimum yang diperlukan untuk memainkan gim ini adalah sebagai berikut:

  • Sistem Operasi (OS): Windows 11
  • Prosesor (CPU): Intel Core i5-8400 atau AMD Ryzen 5 1600X
  • Memori (RAM): 16 GB
  • Kartu Grafis (GPU): NVIDIA GeForce RTX 2060 6 GB atau AMD Radeon RX 6600 XT 8 GB
  • Penyimpanan (Storage): tersedia ruang kosong sebesar 27 GB

Berdasarkan data terbaru dari SteamDB, secara keseluruhan gim ini mendapatkan predikat Mixed dengan tingkat kepuasan sebesar 45,81% dari total lebih dari 2.000 ulasan yang terkumpul. Sebanyak 1.040 pemain memberikan ulasan positif. Namun, jumlah tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan dengan ulasan negatif yang mencapai 1.253 ulasan.


Reporter M. Rahul Gonzales

Editor: Redaksi


08 Agustus 2026

Suarakan Aspirasi Kampus, DEMA UIN Sultanah Nahrasiyah Ikuti Munas BEM SI di Jambi

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe mengikuti Musyawarah Nasional (Munas) Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan di Universitas Jambi (UNJA) pada Senin (27/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium UNIFAC UNJA tersebut dibuka oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir. Agenda tahunan ini dihadiri oleh Gubernur Jambi, Rektor UNJA, serta 150 delegasi yang mewakili BEM dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Dalam Musyawarah Nasional tersebut, Presiden Mahasiswa Fauzan Azima hadir langsung untuk mewakili DEMA UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. Fauzan mengikuti seluruh rangkaian sidang pleno dan sidang komisi untuk menyampaikan pandangan serta isu-isu strategis mahasiswa. Selain itu, ia juga membangun jaringan kerja sama dengan BEM dari berbagai perguruan tinggi sebagai upaya memperkuat kolaborasi antarmahasiswa.

Munas kali ini difokuskan pada evaluasi kepengurusan nasional BEM SI periode sebelumnya, pemilihan kepengurusan baru, serta perumusan arah dan strategi gerakan mahasiswa ke depan. Beberapa isu strategis yang dibahas dalam sidang meliputi tantangan pendidikan, demokrasi, peran pemuda, hingga jaminan kesejahteraan masyarakat.

Melalui rangkaian sidang Munas tersebut, para delegasi menyepakati beberapa keputusan penting. Di antaranya adalah penyusunan rekomendasi sikap BEM SI terhadap berbagai isu nasional. Selain menjadi ruang untuk bertukar gagasan dan inovasi, momentum ini juga berfungsi untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan mahasiswa serta memperkuat komitmen kolaborasi antar-BEM dalam mengawal kebijakan publik dan kepentingan masyarakat.

Keikutsertaan dalam kegiatan ini turut memperkuat persatuan dan konsolidasi gerakan mahasiswa secara nasional. Dalam wawancara, Fauzan mengatakan, “Munas BEM SI XIX memiliki dampak yang sangat positif karena dapat mendorong BEM kampus agar lebih aktif dalam mengawal kebijakan publik, menyuarakan aspirasi mahasiswa, serta menghadirkan program yang bermanfaat bagi sivitas akademika dan masyarakat.”


Reporter: Cut Saputri & Intan Sarifah

Editor: Redaksi

Ketika Merdeka Belum Sepenuhnya Terasa

 
Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Setiap bulan Agustus, merah putih kembali memenuhi langit Indonesia. Bendera dikibarkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan kisah perjuangan para pahlawan kembali dikenang. Kita merayakan kemerdekaan dengan penuh kebanggaan. Namun, di balik kemeriahan itu, ada satu pertanyaan yang mungkin perlu kita renungkan: sudahkah kemerdekaan benar-benar terasa dalam kehidupan seluruh rakyat Indonesia?

Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tapi lebih dari itu. Kemerdekaan seharusnya memberikan ruang bagi setiap masyarakat untuk hidup dengan layak, mendapatkan keadilan, memperoleh pendidikan, serta memiliki kesempatan untuk menentukan masa depannya. Sebab, apa arti kemerdekaan jika masih ada orang yang setiap hari harus berjuang keras hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup?

Di tengah kehidupan masyarakat, persoalan seperti harga kebutuhan, kesempatan kerja, pendidikan, dan kesenjangan masih menjadi bagian dari kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Ada orang tua yang bekerja dari pagi hingga malam demi keluarganya. Ada anak muda yang berusaha mencari pekerjaan dan membangun masa depan. Ada pula masyarakat yang masih berharap agar suara mereka didengar dan hak mereka diperlakukan dengan adil.

Belum lagi persoalan korupsi yang terus menjadi tantangan. Ketika amanah yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat justru disalahgunakan, dampaknya tidak berhenti pada kerugian negara. Kepercayaan masyarakat pun ikut terkikis. Pada titik inilah kemerdekaan kembali dipertanyakan: apakah rakyat benar-benar memiliki rasa aman dan percaya bahwa kepentingan mereka diperjuangkan?

Membicarakan masalah yang masih terjadi di Indonesia bukan berarti kita tidak mencintai negeri ini. Justru karena kita peduli, kita berani melihat apa yang masih kurang dan membicarakannya. Menurut saya, mencintai Indonesia bukan berarti harus selalu mengatakan semuanya sudah baik. Ada kalanya kita perlu mengkritik dan menyampaikan keresahan, supaya kemerdekaan yang kita rayakan setiap tahun tidak hanya berhenti pada upacara dan perlombaan, tetapi juga membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat.

Kemerdekaan seharusnya dapat dirasakan dalam hal-hal sederhana seperti ketika seseorang tidak takut memperjuangkan haknya, ketika hukum tidak membeda-bedakan, ketika pendidikan dapat dijangkau, ketika kerja keras memiliki kesempatan untuk menghasilkan kehidupan yang layak, dan ketika suara masyarakat tidak dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting.

Indonesia sudah lama merdeka, tetapi rasanya masih banyak hal yang perlu kita perjuangkan. Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga dan meneruskannya lewat apa yang kita lakukan hari ini.

Maka, di tengah perayaan kemerdekaan tahun ini, mungkin kita tidak hanya perlu bertanya sudah berapa lama Indonesia merdeka, tetapi juga sudah sejauh mana kemerdekaan itu dirasakan oleh rakyatnya.

Sebab pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bendera yang berkibar di langit Indonesia. Kemerdekaan adalah ketika setiap orang yang hidup di bawahnya memiliki kesempatan untuk hidup dengan adil, aman, dan tetap memiliki harapan.


Penulis: Bellivia Al-Kamariana

Editor: Chalisa Najla Safira

Gamer Berpeluang Meraih Beasiswa Kuliah di Luar Negeri hingga US$15.000

Foto: Website University of Silicon Valley (USV)
www.lpmalkalam.com- University of Silicon Valley (USV) mengumumkan program beasiswa bernama Max Achievement Scholarship yang ditujukan bagi para gamer yang berhasil menuntaskan pencapaian tertentu dalam permainan digital. Informasi ini pertama kali dibagikan melalui akun Instagram resmi USV pada Sabtu (11/7/2026).

Mengutip laman resmi USV, beasiswa ini terbuka dalam tujuh kategori, yakni MMORPG & Live Service Games, Completionist & Trophy Hunting, Roguelike & Roguelite, Souls-like & Challenging Action Games, Strategy, Simulation & Analytical Mastery, Survival, Sandbox & Creation, serta Skill-Based Precision Challengest.

Setiap kategori memiliki dua tingkatan, yakni Legendary Tier dan Mastery Tier, yang penentuannya bergantung pada tingkat pencapaian yang berhasil diraih pelamar dalam game pilihannya.

Terkait besaran bantuan dana, USV menjelaskan bahwa nominal beasiswa akan disesuaikan dengan tingkatan yang diraih, ditambah hasil evaluasi esai serta kesiapan akademis masing-masing pelamar. Penerima pada Legendary Tier berpeluang memperoleh beasiswa hingga US$15.000 per tahun atau setara dengan US$5.000 per semester. Sementara itu, penerima pada Mastery Tier berpeluang memperoleh bantuan hingga US$7.500 per tahun atau setara dengan US$2.500 per semester.

Dalam keterangannya, pihak USV menyebut beasiswa ini sebagai bentuk apresiasi terhadap penguasaan, ketekunan, dan kemampuan berpikir sistematis yang ditunjukkan mahasiswa melalui pencapaian-pencapaian langka dan sulit di dunia game. Menurut USV, kualitas tersebut tidak jauh berbeda dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk meraih keunggulan akademis, mulai dari disiplin berlatih, kemampuan memecahkan masalah secara strategis, hingga semangat untuk mencapai penguasaan di atas standar minimum.

USV ingin menegaskan bahwa "penguasaan" dapat hadir dalam berbagai bentuk. Ketekunan, kemampuan berpikir sistematis, dan kreativitas dalam memecahkan masalah, meskipun diasah melalui layar dan controller, dinilai sebagai keterampilan kognitif yang sama pentingnya dengan kemampuan yang mendorong lahirnya inovasi, jiwa kewirausahaan, dan keunggulan di berbagai bidang.

Menurut pihak USV, kemampuan yang telah dibuktikan melalui game dapat menjadi bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik.


Reporter: M. Rahul Gonzales

Editor: Redaksi

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.