Portal Berita Al-Kalam

Dari Peusijuek hingga Pesan Rektor: Potret Hari Pertama PBAK UIN SUNA

Foto: Putri Ruqaiyah www.lpmalkalam.com- Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasi...

HEADLINE

Latest Post

01 September 2026

Dari Peusijuek hingga Pesan Rektor: Potret Hari Pertama PBAK UIN SUNA

Foto: Putri Ruqaiyah
www.lpmalkalam.com- Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe resmi dibuka pada Selasa (1/9/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan di Gedung Serbaguna tersebut berlangsung selama tiga hari, yaitu 1–3 September 2026, dengan mengusung tema “Dari Nahrasiyah untuk Peradaban: Membangun Mahasiswa Berilmu, Berintegritas, dan Berdaya Saing Global.”

Kegiatan dibuka oleh Munawar Khalil selaku Ketua Senat UIN SUNA. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Lutfi, menyanyikan Mars UIN SUNA oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gesbika, serta laporan panitia oleh Darmadi selaku Wakil Rektor (Warek) III UIN SUNA.

Dalam laporannya, Darmadi menyampaikan, “Selamat datang Nahrasiyah muda di kampus peradaban.” Ia juga menyebutkan bahwa mahasiswa baru akan mendapatkan berbagai pengetahuan tambahan, terutama mengenai pengembangan ekoteologi, Kurikulum Cinta, serta berbagai program Kementerian Agama (Kemenag) yang berdampak.

Selanjutnya, Danial selaku Rektor UIN SUNA memberikan sambutan dan arahan kepada seluruh mahasiswa baru. Ia menyampaikan bahwa menjadi mahasiswa tidak hanya sekadar datang ke kampus, tetapi juga membawa semangat untuk melakukan perubahan bagi dunia.

Dalam wawancara, Danial menyampaikan bahwa PBAK bertujuan agar mahasiswa mampu berpikir kritis. Selain itu, PBAK menjadi awal pembentukan karakter serta wadah bagi mahasiswa untuk berdiskusi. “Mahasiswa terlihat sangat antusias dalam PBAK. Diharapkan kalian, kakak, bisa membantu menjaga semangat mereka agar menjadi manusia yang berdampak,” ujarnya.
Foto: Putri Ruqaiyah
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan prosesi peusijuk (tepung tawar) dan pemasangan badge kepada mahasiswa baru oleh Rektor dan Warek III, yang disertai lantunan selawat Nabi.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan sejumlah pemateri. Iskandar menyampaikan materi bertema “Menuju Kampus Peradaban: Berbasis Pendidikan, Inklusif, dan Berdaya Saing Global”. Materi selanjutnya mengenai pencegahan kekerasan seksual disampaikan oleh Malahayati selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) UIN SUNA.

Dalam pemaparannya, Malahayati menyampaikan, “Di sini kita bisa saling menjaga agar tindakan kekerasan seksual tidak pernah terjadi, terutama di lingkungan kampus kita.” Ia juga menyarankan mahasiswa yang merasa tidak aman dan tidak nyaman untuk melapor kepada pihak yang dapat memberikan perlindungan serta mengarahkan mereka ke jalan yang tepat.

Tidak hanya itu, hari pertama PBAK juga menghadirkan materi “Moderasi Beragama dalam Kehidupan Mahasiswa” yang disampaikan oleh Munawar Rizki Jailani. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ISHOMA.

Rangkaian kegiatan berikutnya diisi oleh pemateri dari Kepala Kejaksaan Tinggi Lhokseumawe dan Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Lhokseumawe. Rangkaian kegiatan hari pertama PBAK UIN SUNA Lhokseumawe selesai pada pukul 17.00 WIB.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Zahratul

31 Agustus 2026

Merajut Rasi, Memeluk Mimpi

Foto: Pixabay

www.lpmalkalam.com- Sejak kecil, Launa selalu menatap langit malam dari jendela kamarnya yang sempit, menghitung bintang seolah sedang merajut masa depannya sendiri. Baginya, setiap kerlip di atas sana adalah janji sebuah cita-cita yang harus ia gapai suatu hari nanti.

Memiliki tekad yang bulat adalah modal utamanya untuk terbang tinggi dan menggapai kesuksesan yang awalnya terasa mustahil. Namun, kenyataan tidak seindah hamparan rasi bintang di langit. Pintu studio seninya terkunci pagi itu, menyisakan tumpukan surat tagihan sewa yang belum dibayar. Fase keterpurukan, kelelahan, dan rasa tidak mampu menjadi ujian batin yang nyata dalam perjuangannya. Di depan pintu terkunci inilah keraguan sering kali berbisik, mencoba meyakinkan Launa bahwa impian yang sedang dikejarnya hanyalah sebuah khayalan yang terlalu tinggi. 

Langkah kaki yang tergesa memecah keheningan koridor saat Kafka, sahabat sekaligus rekan kerjanya, datang dengan napas memburu dan tertegun melihat segel merah di gagang pintu. "Lau... mereka benar-benar menguncinya?" tanya Kafka dengan suara bergetar.

Launa menyerahkan selembar kertas tagihan sewa kepada Kafka yang membacanya dengan tangan gemetar. Kafka bersandar pada dinding koridor yang dingin, tampak putus asa. "Mungkin ini tanda kalau kita harus berhenti, Lau. Kita sudah mencoba segalanya selama setahun ini, tapi hasilnya? Ambisi kita mungkin terlalu muluk." 

Namun, saat menatap kembali kertas di tangan sahabatnya, sebersit kilat keteguhan muncul di mata Launa. Ia sadar badai keputusasaan ini bukan tanda baginya untuk berhenti, melainkan gerbang menuju keteguhan hati. "Tidak, Kaf. Kegagalan atau kesalahan langkah ini adalah hal biasa yang harus kita evaluasi, bukan ditangisi," balas Launa mantap sambil menepuk pundak Kafka. 

"Setiap peluh yang menetes dan waktu yang kita korbankan selama ini adalah investasi berharga. Studio ini mungkin dikunci hari ini, tapi kreativitas kita tidak bisa dipenjara. Kita belum kalah, Kaf." 

Mendengar ketegasan Launa, perlahan garis-garis keputusasaan di wajah Kafka mengendur hingga sebuah senyuman tipis muncul di bibirnya, "Kamu benar. Rasi bintang yang kita rancang sejak dulu tidak boleh redup hanya karena satu tagihan ini." 

Pada akhirnya, waktu membuktikan bahwa Launa yang memilih bertahan tidak akan lagi merasa kecil di tengah luasnya dunia. Kerja keras yang dievaluasi bersama Kafka perlahan membuahkan hasil hingga karya seni mereka mulai dikenal luas. Cita-cita yang awalnya terasa sejauh jutaan tahun cahaya, kini berubah menjadi realitas yang berhasil digenggamnya. Menatap masa depan yang cerah, jiwa tangguh Launa tersenyum menyadari bahwa perjuangan panjangnya selama ini telah membuahkan hasil.


Penulis: Cut Saputri

Editor: Chalisa Najla Safira

29 Agustus 2026

Hasrat akan Kebaruan

Foto: Pixabay

www.lpmalkalam.com-

Hidup tetap berjalan lumrah

Melakukan hal-hal yang sudah kaprah

Sejak fajar menyingsing hingga larut senja

Tetap tak ada yang berbeda


Rasanya hampa

Seperti tidak hidup di dua dunia

Tidak sedih dan tidak juga senang

Hanya kosong yang dirasa secara berulang-ulang


Mungkin karena sudah terlalu lama menetap dalam nestapa

Hingga sukacita terlihat biasa sahaja

Mencoba berontak dari dekapan suasana yang membeku

Agar menjemput hidup yang baharu


Berhasrat akan kebaruan

Agar hidupnya sebuah tujuan

Sudah seyogianya seperti itu

Agar jiwa tak lagi terbelenggu


Penulis: Rizky Ramadhani

Editor: Chalisa Najla Safira

28 Agustus 2026

Dari Sudut Air Terjun Blang Kolam yang Kumuh

Foto: Daffa Alkausar
www.lpmalkalam.com- Air Terjun Blang Kolam dikenal sebagai salah satu objek wisata alam yang memiliki keindahan dan suasana yang masih alami. Namun, kini keindahan tersebut mulai terganggu oleh tumpukan sampah yang ditinggalkan pengunjung, mulai dari sisa makanan hingga sampah plastik yang sulit terurai.

Tidak adanya petugas khusus untuk membersihkan kawasan tersebut membuat sampah semakin menumpuk. Seorang tukang parkir di lokasi mengatakan bahwa sampah biasanya akan terbawa arus ketika hujan turun dan debit air meningkat. Namun, membiarkan sampah terbawa arus bukanlah solusi karena dapat mencemari aliran sungai serta berdampak pada lingkungan dan masyarakat sekitar.

Persoalan ini seharusnya menjadi perhatian bersama. Pemerintah perlu meningkatkan pengelolaan kebersihan kawasan wisata, sementara pengunjung harus memiliki kesadaran untuk membawa kembali sampah mereka atau membuangnya pada tempat yang telah disediakan.

Air Terjun Blang Kolam bukan sekadar air yang jatuh dari ketinggian, tetapi juga bagian dari keindahan alam yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Jika tidak dijaga, keindahan yang diwariskan kepada generasi berikutnya mungkin hanya akan tinggal cerita.


Penulis: Daffa Alkausar

Editor: Redaksi



27 Agustus 2026

Ketika Pertalite di Ketol Nyaris Seharga Pertamax, Siapa yang Diuntungkan?

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Perkembangan zaman membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Mulai dari akses transportasi yang semakin lancar, distribusi barang yang berjalan lebih cepat, hingga kendaraan bermotor yang kini menjadi salah satu sarana utama mobilitas masyarakat.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan sosial yang nyata, yaitu melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di tingkat eceran. Kestabilan harga resmi yang ditetapkan pemerintah ternyata belum diiringi dengan pemerataan ketersediaan pasokan hingga ke pelosok desa.

Fenomena ini dapat dilihat secara langsung di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Di wilayah tersebut, harga Pertalite eceran sudah jauh dari harga normal akibat kelangkaan yang kerap terjadi. Warga terpaksa merogoh kocek hingga Rp15.000 per liter, angka yang hampir setara dengan harga Pertamax. Padahal, bagi masyarakat yang setiap hari mengandalkan sepeda motor untuk bekerja atau mengangkut hasil kebun, selisih harga tersebut tentu sangat membebani pengeluaran.

Kondisi yang menyulitkan masyarakat ini sering kali dibiarkan tanpa adanya solusi cepat. Seolah-olah, beban ekonomi yang harus ditanggung masyarakat kecil bukan menjadi persoalan yang mendesak. Dari sini terlihat bahwa niat pemerintah dalam memberikan subsidi dapat kehilangan manfaatnya di tengah perjalanan akibat rantai distribusi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Situasi ini tentu memprihatinkan. Kebijakan subsidi memang telah ditetapkan secara nasional, tetapi pengawasan di tingkat daerah masih perlu diperkuat. Jika dipikirkan kembali, apakah kebijakan yang ada benar-benar telah membantu masyarakat kecil atau justru membuat mereka semakin terjepit?

Pemerataan hak seharusnya menjadi perhatian utama, bukan hanya bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota besar, tetapi juga bagi mereka yang berada di daerah terpencil. Jika pasokan BBM di daerah pelosok sering mengalami hambatan, pihak berwenang seharusnya lebih tegas dalam mengawasi jalur distribusinya agar tidak mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.

Membiarkan harga BBM bersubsidi melonjak di tingkat eceran demi keuntungan sepihak merupakan persoalan yang tidak boleh dianggap biasa. Kondisi ini menjadi bukti bahwa lemahnya pengawasan dapat membuat masyarakat di pelosok harus menanggung beban ekonomi yang lebih berat.

Subsidi seharusnya menjadi penopang untuk meringankan kehidupan masyarakat secara adil, bukan berubah menjadi komoditas yang sulit diperoleh oleh masyarakat di tingkat akar rumput.

Jangan sampai ketimpangan distribusi membuat keadilan sosial hanya menjadi slogan kosong. Sebab, keberhasilan subsidi tidak semata-mata diukur dari baiknya angka yang tercatat di atas kertas, tetapi juga dari seberapa mudah masyarakat di pelosok dapat merasakan manfaatnya secara nyata.


Penulis: Ilham Dwi Temasmiwa

Editor: Redaksi

26 Agustus 2026

FTIK UIN SUNA Lhokseumawe Bekali 372 Mahasiswa Jelang PPL dan PLP

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe melaksanakan kegiatan Coaching Peserta Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan Program Latihan Profesi (PLP) Tahun Akademik 2026/2027 di Gedung Serbaguna kampus setempat pada Rabu (26/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 26–28 Agustus 2026, tersebut mengusung tema “Transformasi Pedagogi Digital: Menyiapkan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Responsif Artificial Intelligence (AI) yang Adaptif dan Inovatif.”

Sebanyak 372 mahasiswa dari tujuh program studi di lingkungan FTIK mengikuti kegiatan coaching sebagai bagian dari persiapan sebelum melaksanakan PPL dan PLP di lapangan. Peserta terdiri atas 86 mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI), 24 mahasiswa Tadris Matematika (TMA), 45 mahasiswa Tadris Bahasa Inggris (TBI), 38 mahasiswa Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), 67 mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), 54 mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam (MPI), dan 34 mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia (TBIN).

Pelaksanaan PPL dan PLP dijadwalkan berlangsung selama dua bulan dengan didampingi oleh 37 dosen pembimbing lapangan (DPL). Para dosen pembimbing bertugas memberikan pendampingan, arahan, serta evaluasi kepada mahasiswa selama melaksanakan praktik di lapangan.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Master of Ceremony, Ririn Dayanti Harahap dari Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBIn), kemudian dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Quran oleh Ulfia Desna dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA). Rangkaian acara berikutnya adalah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diikuti oleh seluruh peserta dan tamu undangan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Rektor I UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Iskandar, beserta jajaran, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jumat Barus, beserta jajaran, serta seluruh mahasiswa peserta PPL dan PLP.

Selanjutnya, Ketua Panitia, Susi Yusrianti, menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jumat Barus.
Agenda berikutnya berupa bimbingan dan arahan sekaligus pembukaan kegiatan Coaching PPL dan PLP Tahun Akademik 2026/2027 FTIK UIN SUNA Lhokseumawe oleh Wakil Rektor I, Iskandar.

Coaching selama tiga hari tersebut membahas persiapan mahasiswa dalam melaksanakan PPL dan PLP, termasuk tugas dan tanggung jawab selama berada di lokasi praktik serta pelaksanaan kegiatan di bawah pendampingan dosen pembimbing lapangan.

Tema “Transformasi Pedagogi Digital” menjadi fokus dalam pelaksanaan kegiatan dengan pembahasan mengenai perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan. Mahasiswa mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari proses pembelajaran yang adaptif dan inovatif.

Setelah mengikuti coaching, sebanyak 372 mahasiswa akan melaksanakan praktik lapangan selama dua bulan dengan pendampingan dari 37 dosen pembimbing lapangan. Pelaksanaan PPL dan PLP tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa melalui pengalaman langsung di lingkungan pendidikan.

Rangkaian seremonial pembukaan kemudian ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Abu Bakar Sidiq dari Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI). Pada Pukul 10.00—12.00 WIB acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Jon Darmawan selaku Wakil Kepala Sekolah (Wakepsek) Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 7 Lhokseumawe dengan judul materinya "Transformasi Pembelajaran di Era AI: Model-model Pembelajaran Terkini untuk Guru Masa Depan."

Kegiatan kembali dilanjutkan pada pukul 13.40 dengan penyampaian materi "Digital Leadership and Digital Administration dalam Praktik Manajemen di Sekolah dan Madrasah" oleh Sofyan Arianto selaku Ketua Prodi (Kaprodi) Manajemen Pendidikan Islam kampus setempat. Materi terakhir disampaikan  oleh Susi Yusrianti selaku Wakil Dekan (wadek) 1 FTIK kampus setempat dengan yang membahas mengenai "Sistem Pelaksanaan dan Penilaian PPL/PLP."


Reporter: Ririn Dayanti Harahap 

Penulis: Putri Ruqaiyah

Editor: Redaksi



25 Agustus 2026

Matahari yang Tak Mengenal Teduh

Foto: Bellivia Al-Kamariana

www.lpmalkalam.com-

Matahari menggantung terik di atas kepala

Menumpahkan bara dari langit yang membiru

Tak ada awan yang cukup tebal untuk bersembunyi

Tak ada angin yang cukup dingin untuk menenangkan


Jalanan memantulkan cahaya

Tanah menyimpan panas yang panjang 

Dan keringat menjadi saksi betapa teriknya hari ini

Daun-daun bergoyang mencari kesejukan


Manusia berlindung di bawah bayang-bayang

Sementara matahari tetap menyala 

Seolah ia tak pernah tahu 

Betapa lelahnya bumi menerima panas


Mungkin, matahari tidak sedang menyiksa

Ia hanya sedang mengajarkan 

Bahwa kehidupan tak selalu menghadirkan teduh

Ada hari ketika langkah terasa berat


Ada waktu ketika hati ingin menyerah

tetapi semuanya tetap harus dilalui

Sebab setelah terik yang panjang

Senja selalu menemukan jalannya


Dan setelah panas yang melelahkan

Akan selalu ada waktu 

Untuk kembali merasa tenang


Penulis: Bellivia Al-Kamariana

Editor: Zahratul

24 Agustus 2026

Teater Ketidakadilan

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Tudung saji plastik warna merah di atas meja makan rumah Hana sudah retak di bagian gagangnya. Ibu selalu menutup piring berisi ikan goreng atau sayur lodeh dengan benda itu.

“Biar nggak dihinggapi lalat, Han. Biar tetep bersih,” kata Ibu suatu hari.

Hana tidak pernah menyangka bahwa suatu saat, cara berpikir seperti tudung saji itu akan melekat pada tubuh perempuan.

Malam itu hujan gerimis. Hana berjalan tergesa dari halte bus menuju gang rumah. Rok panjangnya agak basah di bagian bawah, dan jilbab lebar yang dikenakannya ditarik sedikit ke depan untuk menghalau angin malam yang menusuk. Di persimpangan yang agak remang, langkahnya terhenti saat melihat Alea, tetangga sebelah rumahnya.

Alea sedang berdiri gemetar di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip. Kaus oblong dan celana jeans di atas lutut yang dikenakannya tampak kuyup. Di depannya, dua pemuda bermotor berhenti, melontarkan siulan godaan dan kalimat-kalimat vulgar yang membuat perut Hana mual.

“Cuih... makanan basi! Jam segini baru pulang pakai baju kurang bahan!” celetuk salah satu pemuda itu sebelum tertawa keras bersama temannya. Alea hanya menunduk rapat, menyilangkan kedua tangan di dada untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan dan ketakutan.

Hana berniat menghampiri Alea, tapi pergerakannya tertahan ketika motor itu justru berbalik arah dan mendekatinya. “Wah, kalau yang ini beda. Makanan siap saji, nih. Masih hangat dan tertutup rapat,” ujar si pengemudi motor dengan tatapan melecehkan. Tangannya terulur meraih ujung jilbab Hana.

Jantung Hana berdegup kencang seperti hendak melompat keluar. Ada rasa takut yang luar biasa mencekik lehernya. Kedua tangan Hana spontan menyilang di dada, menahan kebas dan gemetar yang menyapu seluruh tubuh. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak sekuat tenaga memanggil warga. Suara teriakan itu membuat kedua pemuda tadi terkejut dan langsung memacu motor pergi menghilang di kegelapan malam.

Hana segera menghampiri Alea. Mereka berdua berdiri di bawah remang lampu jalan, sama-sama gemetar, sama-sama menanggung rasa takut yang menyayat.

“Kamu nggak apa-apa, Al?” bisik Hana lirih.

Alea menatap Hana dengan mata berair. “Aku benci, Han. Kenapa mereka selalu merasa berhak menghakimi tubuh kita? Kamu pakai jilbab rapat dibilang ‘siap saji,’ aku pakai baju santai dibilang ‘basi.’ Mau pakai apa pun, kita selalu disalahkan.”

Kata-kata Alea menampar kesadaran Hana. Di mata para pemangsa di panggung pementasan ketidakadilan ini, tubuh perempuan hanyalah santapan. Jika tertutup rapat, dianggap menyajikan hidangan hangat; jika terbuka, dianggap barang sisa yang layak dihina. Padahal yang membusuk sebenarnya bukan pakaian mereka, melainkan pikiran orang-orang itu.

Malam itu, Hana dan Alea berjalan berdampingan menembus sisa gerimis. Mereka tidak sedang membarter nyawa untuk membeli tiket teater absurd ini, tetapi mereka memilih untuk terus melangkah dan saling menjaga.


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Zahratul

22 Agustus 2026

Riuh Pasar Menjelang Maulid


Foto: Annisa Maulianda

Warga berbelanja kebutuhan pokok menjelang Maulid Nabi Muhammad Saw di Pasar Bale Canang, Dewantara pada Sabtu (22/08/ 2026). 

Masyarakat Aceh mempunyai adat tersendiri dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw. tepatnya pada 12 Rabiulawal, yaitu dengan mengadakan kenduri di masjid-masjid. Beberapa hari sebelum Maulid, masyarakat sudah menyiapkan berbagai macam keperluan untuk memasak. Mereka berbelanja mulai dari rempah-rempah, kebutuhan pangan utama, hingga perlengkapan memasak lainnya. 

Suasana riuh kendaraan dan tawar menawar antara penjual dan pembeli membuat pasar terasa hidup. Suara para ibu yang sibuk memilih bawang, tomat dan rempah khas Aceh memberi tanda bahwa Maulid akan tiba. Di tengah meningkatnya harga barang dipasar tidak menghambat semangat warga untuk tetap berbelanja agar memenuhi persiapan kenduri. Hal ini menjadi pertanda bahwa masyarakat Aceh masih mengikat erat tali adat keagamaannya.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Zahratul

21 Agustus 2026

Kisah Milik Kita

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Mungkin selama ini kita terlalu sibuk bertanya, “Kenapa bukan aku yang dipilih?”

Kita terlalu sering menunggu seseorang menyadari keberadaan kita, menunggu seseorang memanggil nama kita, menunggu kisah yang kita inginkan akhirnya terjadi.

Padahal, hidup tidak selalu tentang bagaimana seseorang melihat kita. Ada hari saat kita hanya menjadi pemeran kecil dalam cerita orang lain. Datang sebentar, meninggalkan sesuatu, lalu pergi tanpa pernah tahu bagaimana kisah itu berakhir.

Tapi tidak apa-apa. Karena kita juga punya cerita sendiri. Cerita yang membuat kita tidak harus dipilih, tidak harus dikenang, dan tidak harus berakhir seperti yang kita inginkan.

Mungkin yang perlu kita lakukan bukan lagi mencari tempat dalam cerita orang lain, melainkan mulai pelan-pelan menulis halaman milik kita sendiri.

Karena pada akhirnya kita akan sadar, bahwa kita adalah tokoh utama dalam kisah kita sendiri, tidak dalam kisah orang lain. Setiap orang memiliki alur ceritanya masing-masing, dan hidup tidak pernah meminta kita menjadi bagian dari cerita siapapun kecuali milik kita sendiri.


Penulis: Chalisa Najla Safira 

Editor: Zahratul

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.