Portal Berita Al-Kalam

Menempuh yang Melepuh

  Foto: Pixabay

HEADLINE

Latest Post

20 Mei 2026

Pencemaran Laut dan Rendahnya Kepedulian Manusia

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Laut dikenal sebagai simbol keindahan dan ketenangan alam. Hamparan air biru, suara ombak, serta angin pantai yang menjadi saksi bisu manusia dalam melepas peluh dan kesahnya. Namun di balik keindahannya, laut kini membawa pesan kepedulian kepada manusia karena kondisinya yang tercemar bahkan dirusak dengan keji tanpa kepedulian terhadap lingkungan alam.

Saat ini sampah plastik, menjadi masalah utama dalam merusak keindahan lautan. Banyak masyarakat yang membuang sampah ke pantai tanpa memikirkan risiko yang akan terjadi ke depannya. Akibatnya, sampah tersebut terbawa oleh arus ombak hingga mencemari laut dan juga membahayakan kehidupan di dalam laut. Sangat banyak hewan laut yang mati terjebak di antara limbah yang mengapung dan menjadi racun di lautan.

Masalah ini terjadi karena kurangnya kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan. Banyak orang masih beranggapan bahwa laut mampu membersihkan dirinya sendiri, padahal pencemaran lingkungan yang terus terjadi dapat menjadi dampak besar bagi kehidupan manusia ke depannya. Lautan yang tercemar tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memengaruhi mata pencaharian para nelayan dan juga sektor pariwisata.

Selain masyarakat, pemerintah juga menjadi peran penting dalam menjaga kelestarian laut. Aturan mengenai larangan pembuangan sampah dan limbah secara sembarangan harus ditertibkan agar pencemaran dapat dikurangi. Edukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian laut perlu dilakukan, terutama kepada generasi muda untuk meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui ombaknya, laut selalu memperingatkan pada manusia alam membutuhkan cinta dan kasih sayang. Jika manusia terus bersikap mengabaikan, maka keindahan laut perlahan akan pudar dan lenyap. Karena itu, menjaga laut bukan hanya tanggung jawab sebagian orang tetapi kewajiban bersama untuk masa depan lebih baik dan lingkungan terjaga.


Penulis: Rozatun Navais

Editor: Chalisa Najla Safira

19 Mei 2026

Bunga di Ujung Musim

Foto: Pexels 
www.alkalam.com- Pada suatu hari, di sebuah desa kecil, hiduplah seorang gadis yang bernama Alina yang sangat menyukai bunga. Setiap pagi ia selalu menyiram tanaman di halaman rumahnya dengan penuh perhatian, namun dari sekian banyak bunga yang ia tanam hanya satu yang paling dia sukai, yaitu sebuah bunga kecil berwarna kuning yang tumbuh di sudut taman.

Bunga itu tampak berbeda karena tidak seindah mawar, tidak seharum melati, dan sering kali layu saat musim kemarau datang. Namun setiap kali hujan pertama turun, bunga itu selalu mekar kembali dengan lebih indah dari sebelumnya.

Suatu hari, Alina merasa sedih karena gagal dalam sebuah perlombaan yang sangat ia harapkan, ia duduk termenung di dekat taman memandangi bunga kuning kesayangannya yang tampak layu. 

"Kenapa kamu masih bertahan?" bisiknya pelan. 

Beberapa hari kemudian, hujan turun deras setelah kemarau panjang. Alina berlari keluar rumah dan melihat bunga itu kembali mekar bahkan lebih cerah dari sebelumnya. Saat itu ia tersadar bahwa bunga kecil itu mengandung sebuah pelajaran penting baginya.

Bunga itu mengajarkan bahwa kegagalan dan kesulitan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses untuk tumbuh lebih kuat, seperti bunga yang layu lalu mekar kembali. Manusia pun bisa bangkit setelah jatuh. 

Sejak saat itu, Alina tidak lagi mudah menyerah, ia percaya bahwa setiap kesulitan yang ia hadapi adalah "musim kemarau" yang akan berlalu, dan suatu saat ia akan "mekar" kembali dengan lebih baik. 

Setiap kesulitan dalam hidup mengandung pelajaran dan harapan. Jangan menyerah karena setelah masa sulit akan selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali.


Penulis: Zilfira

Editor: Chalisa Najla Safira

Tuntutan 18 Tahun Nadiem Makarim: Wujud Keadilan atau Pengadilan Kebijakan Pemerintah?

Foto: Kompas.Com

www.alkalam.com- Sidang pembacaan tuntutan terhadap mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim baru-baru ini mengguncang ruang publik. Dituntut 18 tahun penjara ditambah denda dan kewajiban mengembalikan kerugian negara senilai Rp2.100.000.000 (dua miliar seratus juta rupiah), kasus ini memunculkan kebingungan di masyarakat.

Publik bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang mantan menteri dituntut dengan angka yang lebih fantastis dibandingkan pelaku tindak pidana terorisme atau pembunuhan. Apakah ini murni penegakan keadilan hukum, atau sebuah pengadilan terhadap kebijakan pemerintah masa lalu.

Dari sudut pandang jaksa penuntut umum (JPU), tuntutan ini berakar pada dugaan penyalahgunaan wewenang dalam pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) yang dianggap merugikan negara hingga Rp2.100.000.000 (dua miliar seratus juta rupiah).

Jaksa menuding kebijakan tersebut sarat akan kepentingan bisnis untuk menggiring ekosistem pendidikan ke raksasa teknologi tertentu. Bagi penegak hukum, angka kerugian negara dan dugaan ketidakwajaran aset merupakan fakta yang tidak dapat dinegosiasikan.

Namun, narasi tersebut dibantah oleh pihak Nadiem dan para pendukungnya. Nadiem secara vokal menyatakan bahwa kebijakan digitalisasi pendidikan tersebut merupakan bagian dari mandat presiden untuk mempercepat transformasi digital nasional. Ironisnya, dalam persidangan tidak ditemukan bukti adanya aliran dana korupsi ke kantong pribadi mantan bos Gojek tersebut.

Banyak pengamat dan figur publik menilai bahwa mantan menteri tersebut sedang menghadapi risiko kriminalisasi akibat diskresi kebijakan di masa pandemi yang justru dapat menciptakan ketakutan bagi kaum profesional atau teknokrat untuk terjun membantu pemerintahan.

Pada akhirnya kasus ini harus menjadi refleksi bersama mengenai batas antara kebijakan publik dan tindak pidana. Jika sebuah kebijakan pemerintah di kemudian hari dapat dikriminalisasi tanpa adanya bukti niat jahat (mens rea) atau keuntungan pribadi maka ekosistem birokrasi berada dalam ancaman. Majelis hakim kini memegang palu penentu di mana putusan nanti tidak hanya mengadili Nadiem Makarim tetapi juga menjadi preseden bagaimana negara memandang inovasi dan kebijakan di masa depan.


Penulis: Cut Saputri

Editor: Putri Ruqaiyah


PRESMA UIN SUNA Lhokseumawe Desak Pemkot Tindaklanjut Jalan Rusak dan Minim Penerangan

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiah (SUNA) Lhokseumawe, Fauzan Azima mendesak Pemerintah Kota Lhokseumawe segera menindaklanjuti persoalan infrastruktur berupa jalan rusak dan minimnya penerangan jalan yang dinilai membahayakan warga. Hal itu disampaikan dalam wawancara via WhatsApp yang dilakukan pada Minggu (15/05/2026).

Desakan itu disampaikan setelah sebelumnya perwakilan mahasiswa melakukan audiensi di Kantor Wali Kota Lhokseumawe. Aksi tersebut dipicu oleh banyaknya laporan dari mahasiswa dan warga terkait jalan berlubang, minimnya penerangan, serta meningkatnya kasus kecelakaan di malam hari di beberapa titik kota.

Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan bahwa kondisi sejumlah ruas jalan sudah sangat memprihatinkan. Kerusakan jalan dan minimnya lampu penerangan dinilai menimbulkan keresahan dan mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pada malam hari. Menurutnya, persoalan ini bukan lagi sekadar infrastruktur, melainkan menyangkut keselamatan publik. Keluhan yang terus masuk dari warga menjadi dasar mereka membawa isu tersebut langsung ke pemerintah kota.

Pihaknya menyatakan aspirasi yang disampaikan sudah diterima pemerintah kota. Namun, mahasiswa menekankan masyarakat membutuhkan langkah nyata, bukan sekadar janji dan pertemuan. Saat ini dibutuhkan percepatan perbaikan jalan serta penambahan penerangan di titik-titik rawan. Mahasiswa meminta pemerintah menetapkan jadwal perbaikan yang jelas di lapangan. Pemantauan berkala dinilai penting agar pengerjaan tidak berhenti di tengah jalan.

Ia juga menyoroti dampak terbesar dari kondisi tersebut, yakni meningkatnya risiko kecelakaan dan rasa tidak aman di masyarakat. Jalan rusak dan gelap dinilai rawan menyebabkan pengendara terjatuh, sekaligus memicu tindak kriminalitas dan mengganggu aktivitas ekonomi pada malam hari.

Mereka menegaskan pemerintah tidak boleh menunggu hingga persoalan semakin parah setelah adanya korban kecelakaan dan keresahan publik yang terus meningkat. “Saya berharap Pemerintah Kota Lhokseumawe segera hadir dengan tindakan konkret berupa percepatan perbaikan jalan dan pemerataan penerangan. Masyarakat juga perlu terus mengawal isu ini supaya tidak berhenti jadi wacana saja,” ujarnya.


Penulis: Intan Sarifah

Editor: Putri Ruqaiyah

17 Mei 2026

Mahasiswi UIN SUNA Ikut Konferensi Pendidikan Islam Tingkat ASEAN

 

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe mengikuti konferensi pendidikan Islam tingkat Association of Southeast Asian Nations atau Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang berlangsung di Malaysia, Thailand, dan Singapura pada Rabu–Selasa (06–12/05/2026).

Haura Lailatul Fitrah merupakan mahasiswi semester 2 Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI), Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD), UIN SUNA Lhokseumawe. Kegiatan konferensi tersebut diikuti sebagai bentuk pengembangan wawasan internasional serta pengalaman akademik mahasiswa di tingkat ASEAN.

Dalam proses seleksi, Haura mengikuti pendaftaran sejak 17 Februari 2026 dengan memenuhi beberapa tahapan, termasuk penyusunan paper. Mahasiswi semester 2 tersebut mengaku awalnya mengetahui kegiatan itu dari informasi yang dibagikan kepada mahasiswa, hingga akhirnya tertarik mengikuti seleksi.

Ia menyebutkan melalui kegiatan ini, ia mampu mengenali budaya baru serta bertemu dengan peserta dari berbagai negara ASEAN. Selain itu, para peserta konferensi juga berdiskusi mengenai sistem dan perkembangan pendidikan Islam di masing-masing negara.

Haura menyebutkan bahwa konferensi tersebut menjadi pengalaman berharga karena mendorong mahasiswa untuk berani keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru di tingkat internasional. “Jangan takut untuk mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman, karena setiap kesempatan pasti membawa pelajaran dan pengalaman berharga,” ujarnya melalui wawancara WhatsApp.


Penulis: Zahratul

Editor: Putri Ruqaiyah

16 Mei 2026

Dilema Desil: Statistik Bernilai Kemelaratan


 Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Hidup di negara yang penuh dengan isu nasional, membuat masyarakat Indonesia tidak bisa menjalani aktivitas dengan tenang. Akhir-akhir ini muncul istilah "Desil" yang menambah kegundahan masyarakat. Desil merupakan tingkat kesejahteraan sosial masyarakat dibuat untuk membatasi pengeluaran negara baik dari segi pendidikan maupun jaminan kesehatan, yang dinilai berupa angka 1 (sangat miskin) sampai dengan 10 (sangat sejahtera). 

Kegundahan warga dimulai karena tidak sesuainya pembagian angka dengan realitas yang ada. Masyarakat golongan bawah tetap digolongkan ke dalam golongan tinggi sehingga sulit untuk menerima Bantuan Sosial (Bansos) dan juga ditolak jaminan kesehatan seperti Bantuan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS). 

Beberapa kelompok masyarakat merasakan adanya inflasi yang sangat berdampak negati karena mereka tetap patuh membayar pajak, tetapi tidak dapat menerima hubungan timbal balik dari pemerintah, seperti kenaikan harga pangan dan berkurangnya bantuan.

Kenyataannya, sampai saat ini masyarakat masih belum bisa menerima ketetapan angka yang diberikan oleh para pejabat melalui media digital yang dianggap tidak adil dan tidak sesuai dengan realita. Seharusnya para pemerintah tetap menyelidiki secara lebih mendalam tentang tingkatan sosial masyarakat sebelum menetapkan angka yang mengakibatkan runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap suatu hukum negara.

Namun, sampai saat ini masyarakat masih berharap angka desil yang sudah berlaku masih bisa diperbaiki sesuai dengan nilai-nilai keadilan masyarakat. 



Penulis: Annisa Maulianda


Editor: Chalisa Najla Safira


Ketika Ajang Akademik Kehilangan Nilai Keadilan

Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com- Sebuah perlombaan akademik seharusnya menjadi tempat bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan berpikir, keberanian menyampaikan pendapat, serta hasil dari proses belajar yang telah dijalani. Namun, belakangan ini muncul perdebatan dalam sebuah ajang pengetahuan yang membuat banyak orang mempertanyakan bagaimana sistem penilaian dijalankan. Situasi tersebut menjadi perhatian publik karena ada peserta yang dianggap memberikan jawaban tepat, tetapi tetap dinyatakan salah oleh pihak penilai. Perbedaan keputusan itu akhirnya memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat.

Hal ini bukan hanya soal menang atau kalah dalam perlombaan, melainkan juga menyangkut pentingnya keadilan dan profesionalisme dalam dunia pendidikan. Peserta tentu berharap setiap jawaban dinilai secara objektif dan konsisten. Ketika penjelasan dari pihak penilai kurang jelas atau keputusan terlihat berbeda antara satu peserta dan peserta lainnya, kepercayaan terhadap kompetisi dapat menurun. Apalagi, di era media sosial saat ini, sebuah kejadian dapat dengan cepat menyebar luas dan menjadi perhatian publik.

Di sisi lain, sikap peserta yang tetap tenang saat menyampaikan pendapat justru mendapat banyak apresiasi. Cara berbicara yang sopan, percaya diri, dan tetap menghargai pihak lain menunjukkan kedewasaan dalam bersikap. Perbedaan pendapat sebenarnya dapat disampaikan dengan baik tanpa harus menimbulkan suasana yang memanas. Sikap seperti ini juga menjadi contoh positif bagi pelajar lain dalam menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan.

Kejadian tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara kompetisi akademik agar lebih teliti, transparan, dan profesional dalam mengambil keputusan. Sebab, pada akhirnya tujuan utama perlombaan pendidikan bukan hanya menentukan siapa yang menjadi juara, tetapi juga membangun semangat belajar, sportivitas, dan rasa percaya diri para peserta.


Penulis: Lutfiatil Syaqirah


Editor: Chalisa Najla Safira

Dua Mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah Raih Gelar Agam dan Wakil I Agam Aceh Utara 2026

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Dua mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe berhasil menorehkan prestasi dalam ajang Pemilihan Agam-Inong Aceh Utara 2026 yang berlangsung di Aula Setdakab Aceh Utara pada Senin (27/4/2026).

Panitia pelaksana, Muhammad Hatta, SST.Pa menyampaikan bahwa para finalis yang lolos telah melewati serangkaian tahapan seleksi yang ketat, mulai dari verifikasi administrasi, tes wawancara, hingga uji kecakapan berbahasa Aceh, Indonesia, dan Inggris.

Setelah melalui seluruh rangkaian seleksi, Fahrul Rozi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), berhasil terpilih sebagai Wakil I Agam Aceh Utara 2026. Sementara itu, Shahibul Kautsar, mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Syari’ah (Fasya), berhasil meraih gelar Agam Aceh Utara 2026.

Fahrul Rozi mengatakan bahwa keikutsertaannya dalam ajang tersebut didorong oleh keinginan untuk mengembangkan diri sekaligus memperkenalkan potensi wisata dan budaya Aceh Utara kepada masyarakat luas. Ia mengaku tantangan terbesar selama proses seleksi ialah membangun rasa percaya diri dan menjaga konsistensi karena peserta tidak hanya dinilai dari penampilan, tetapi juga kualitas diri, wawasan, serta kesiapan mental. “Saya berharap dapat menjadi representasi pemuda yang aktif, inspiratif, dan mampu berkontribusi dalam memajukan pariwisata serta budaya Aceh Utara,” ujarnya.

Sementara itu, Shahibul Kautsar mengungkapkan bahwa motivasinya mengikuti ajang tersebut ialah untuk memperkenalkan sejarah dan budaya Aceh Utara serta menjadi penghubung antara sejarah Samudera Pasai dan inovasi generasi muda.

Ia menambahkan bahwa proses seleksi tidak hanya menguji kemampuan fisik dan intelektual, tetapi juga ketahanan mental, kedisiplinan, serta adab peserta selama masa karantina. “Saya berharap dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata berbasis komunitas. Saya ingin melihat produk lokal dikenal lebih luas, baik secara nasional maupun internasional,” ujarnya.


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Putri Ruqaiyah

15 Mei 2026

Language Expo Digelar, Latih Bakat dan Kemampuan Bahasa Asing

Foto: Intan Sarifah 

www.lpmalkalam.com- Organisasi Mahasantri (Ormasa) bagian bahasa Ma’had Al-Jami’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiah (SUNA) Lhokseumawe kembali menggelar Language Expo 2026 di Lobi lantai 2 Gedung Ma’had Al-Jami’ah setempat pada Jumat (15/05/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu (15–17/05/2026) tersebut mengusung tema 'Journey Through Stories: Where the Words Become Magic.' Acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara (MC), kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran.

Ketua Qismun Bahasa, Asyifa Nabila, dalam sambutannya mengajak seluruh peserta untuk mempererat persatuan antar bidang. Ia menyampaikan bahwa menang dan kalah dalam perlombaan merupakan hal yang biasa, sedangkan yang terpenting adalah semangat yang dimiliki setiap peserta.

Tujuan diadakannya expo tersebut adalah untuk melatih bakat dan minat mahasantri serta agar mereka dapat menerapkan bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Ketua Qismun Bahasa juga berharap para peserta ke depannya dapat mengikuti kegiatan yang lebih besar di luar kampus.

Senada dengan itu, Ketua Umum menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta dan panitia yang telah mempersiapkan acara. Ia berharap expo tersebut dapat menjadi sarana menjalin kebersamaan dan mengambil hikmah, 'Dengan menguasai bahasa asing, kita bisa berkeliling dunia,' tegasnya.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan yel-yel, penampilan storytelling dari bagian bahasa, serta pengumuman penilaian lomba. Kemeriahan berlanjut melalui lomba Who Am I, penampilan iklan oleh bagian Humas, dan drama dari bagian Kebersihan yang sekaligus menjadi penutup seluruh rangkaian acara.

“Expo Qismun Bahasa diharapkan mampu memperkuat semangat kompetisi sehat sekaligus mempererat silaturahmi antaranggota,” tegasnya.


Penulis: Intan Sarifah


Editor: Putri Ruqaiyah

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.