![]() |
| Foto: IST |
Foto: Nurul Fadilah www.lpmalkalam.com - Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) L...
![]() |
| Foto: IST |
![]() |
| Foto: Zahira Putri Meola |
![]() |
| Foto: IST |
Setelah waktu ibadah salat Jumat (13/02), kegiatan gotong royong diawali dengan membersihkan peralatan pecah belah milik desa yang berlangsung di Meunasah Desa.
Esoknya, pada Sabtu (14/02), kegiatan dilanjutkan dengan membersihkan Kantor Kepala Desa, mulai dari pagi hingga petang. Pembersihan kantor ini memakan waktu yang cukup lama dikarenakan kantor tersebut belum tersentuh sama sekali semenjak bencana banjir terjadi. Lumpur yang mengendap dan mengeras turut menghambat proses pembersihan. Namun, setelah dibersihkan dalam beberapa kali proses, kantor tersebut dapat kembali bersih, meski cat di tembok sudah tidak layak.
![]() |
| Foto: IST |
Kepala Desa Pante Gaki Bale, Amri Syahfari, mengungkapkan harapan yang besar agar segala hal dapat kembali normal, anak-anak dapat kembali bersekolah, mengaji, dan segala fasilitas yang ada dapat dipergunakan kembali.
Reporter: Zuhra
![]() |
| Foto: IST |
Melalui observasi tersebut, para mahasiswa yang turun masih melihat banyaknya batu dan gelondongan kayu yang berserakan disepanjang aliran sungai yang kini sudah membesar diakibatkan oleh banjir bandang dan tanah longsor pada Rabu (26/11). Para mahasiswa melihat kejanggalan terhadap dahan pohon yang tersebar di wilayah banjir bandang. Kejanggalan ini dibuktikan dengan adanya potongan rapi pada dahan pohon yang berada pada bagian bawah dahan.
Menurut informasi yang didapatkan, beberapa waktu lalu sudah masuk alat berat untuk membersihkan gelondongan kayu dan bebatuan. Namun, hingga saat ini keadaan masih belum membaik, masih terdapat banyak sekali bebatuan dan juga gelondongan kayu di wilayah setempat.
Salah satu korban dalam bencana yang ada di wilayah setempat, Suryani, mengatakan bahwa rumah dan lahan perkebunan warga yang berada di kawasan hilir sungai Uning Mas sudah luluh lantak sejak November lalu. Suryani juga mengatakan bahwa upaya yang dilakukannya untuk terhindar dari bencana ini adalah dengan menaiki bukit yang mengarah ke Desa Ulu Naron, Kecamatan Pintu Rime Gayo pada Kamis (27/11) pukul 07.00 WIB.
Melalui hasil wawancara, diketahui bahwa Suryani sempat tergelincir dan hampir jatuh bersamaan dengan longsor susulan pada Kamis pagi. Suryani juga menyebutkan bahwa sebelum menaiki bukit, ia dan keluarga berencana untuk turun ke rumah Sekertaris Desa (Sekdes) hanya saja jalan sudah terputus lebih dahulu sebelum sempat untuk dilalui.
Para masyarakat yang terkena bencana diketahui sudah ada yang menyewa atau tinggal bersama dengan keluarga lainnya. Aktivitas beberapa masyarakat juga sudah berlangsung baik pascabencana 2 bulan silam. Namun, melalui survei lokasi dan masyarakat, mahasiswa KPM UIN SUNA wilayah setempat melihat masih terdapat trauma yang dirasakan oleh masyarakat setempat.
"Kami sampai sekarang masih trauma dek. Kami kemarin itu baru belanja ga ada yang bisa diselamatkan, duit juga ga keingat untuk diambil," ujar Suryani.
Reporter: Ririn Dayanti Harahap
Editor: Tiara Khalisna
![]() |
| Foto: IST |
Diskusi ini dilakukan guna menyesuaikan program kerja (proker) dengan kebutuhan atau kegiatan desa 20 hari kedepannya, terhitung sejak tanggal (12/02-03/03). Diskusi dimulai dengan penyampaian proker oleh Ketua Kelompok 12, Said Iqramul Fahrabi. Selanjutnya, Amri, selaku Kepala Desa, menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan warga Desa Pante Gaki Bale kedepannya. Mahasiswa Kelompok 12 pun menyesuaikan kegiatan warga desa dengan proker yang telah disusun.
Ditengah diskusi berlangsung, Amri turut bercerita tentang kondisi pascabencana banjir yang terjadi pada tanggal (26/11) lalu. Menurut informasi yang didapatkan, tercatat sekitar 50 rumah warga hanyut terbawa arus banjir, 5 warga dikabarkan meninggal, dan 1 warga dinyatakan hilang sampai saat ini. Untuk mengenang korban yang tidak ditemukan hingga saat ini, warga mengadakan tahlilan pada Kamis malam (12/02).
Sebagai langkah awal pengabdian mahasiswa Kelompok 12, mereka turut hadir dan membantu kegiatan tahlilan tersebut hingga selesai. "Semoga program yang telah direncanakan saat pengabdian selama 20 hari ke depan tidak hanya berjalan dengan baik, tetapi juga dapat menyesuaikan dengan kebutuhan warga sehingga memberikan dampak positif yang berkelanjutan." ungkap Said.
Reporter: Zuhra
![]() |
| Foto: IST |
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan melalui laman resmi uinsuna.ac.id pengabdian dilakukan di 7 Kabupaten/Kota yang terdampak bencana. KPM Tematik Kebencanaan ini dilaksanakan dari tanggal (11/02-08/03/2026).
![]() |
| Foto: IST |
"Selain itu beberapa program juga termasuk mendorong penguatan ekonomi masyarakat dan digitalisasi desa, hal ini merupakan strategi pemulihan jangka panjang. Hingga nantinya mereka mendampingi masyarakat, anak-anak, agar dapat bangkit dan kembali menjalani aktivitas dengan semangat," ujarnya.
Program KPM Tematik Kebencanaan menjadi wujud nyata komitmen UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe sebagai “Kampus Peradaban” yang tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik, tetapi juga mengambil peran strategis di tengah masyarakat dalam mengatasi berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan.
Reporter: Neiva Zaida Hasanah Saragih
Editor: Tiara Khalisna
![]() |
| Foto: IST |
Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh siswa-siswi kelas III MAS Azzanjabil, ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan seputar dunia kampus. Pertanyaan tersebut meliputi akreditasi, jurusan, kehidupan perkuliahan, biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT), beasiswa yang ditawarkan, hingga kegiatan yang ada di Ma’had Al-Jami’ah UIN SUNA Lhokseumawe.
Selain itu, para siswa juga menanyakan jalur pendaftaran, seperti perbedaan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), SPAN-PTKIN (Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) dan UM-PTKIN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri), perbedaan jalur SNBP/SNBT dengan SPAN-PTKIN/UM-PTKIN, serta pengaruhnya terhadap biaya UKT.
Sosialisasi ini dilakukan oleh mahasiswa penerima Beasiswa KIP (Kartu Indonesia Pintar) yang berasal dari wilayah Kabupaten Bireuen dan terbagi ke dalam beberapa kelompok. Sosialisasi di MAS Azzanjabil dilaksanakan oleh Kelompok 4 yang terdiri atas lima anggota, yaitu Dian Raffa (ketua kelompok) dan Fitria Ulfa dari Jurusan Ekonomi Syariah (ES), Moza Fatma Syafira dan Cut Syifa Zahra Najad dari Jurusan Perbankan Syariah (PBS), serta Tiara Khalisna dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam (BKI).
Dian Raffa selaku ketua kelompok mengatakan bahwa tujuan sosialisasi ini adalah memberikan pemahaman yang luas kepada siswa-siswi kelas III yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agar memahami informasi, kebijakan, program, dan aturan yang berlaku, serta mendorong partisipasi aktif mereka dalam mendukung dan menjalankan program yang disampaikan.
“Harapan saya dari sosialisasi ini adalah agar mereka tidak hanya mengetahui informasi yang disampaikan, tetapi juga memahami dunia perkampusan. Semoga kegiatan ini dapat membangkitkan semangat para siswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi sehingga dapat melahirkan generasi yang berkualitas dan berprestasi,” ujar Dian.
Reporter: Tiara Khalisna
Editor: Putri Ruqaiyah
![]() |
| Foto: IST |
Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Program tersebut diikuti oleh siswa-siswi Kelas IV-VI.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa KPM menyampaikan materi tentang pengertian bullying, jenis-jenis perundungan, dampak yang ditimbulkan, serta cara mencegah dan melaporkan tindakan tersebut. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui diskusi ringan dan pemutaran video pembelajaran yang sesuai dengan usia anak sekolah dasar.
Salah satu perwakilan kelompok, Tiffani Andriani, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai empati dan sikap saling menghargai.
“Kami ingin dari kegiatan ini adik-adik bisa memahami bahwa mengejek, mengucilkan, atau menyakiti teman bukanlah hal yang wajar. Kami juga mendorong mereka agar berani berbicara kepada guru atau orang tua jika mengalami atau menyaksikan tindakan bullying,” ujarnya.
Pihak sekolah menyambut baik kegiatan tersebut. Salah seorang guru menyampaikan bahwa pendekatan yang dilakukan mahasiswa dinilai efektif karena menggunakan metode yang menyenangkan sehingga siswa lebih mudah memahami pesan yang disampaikan.
Selain penyampaian materi, mahasiswa juga mengadakan sesi refleksi bersama para siswa. Dalam kegiatan ini, siswa dibagikan selembar kertas untuk menuliskan pengalaman perundungan yang pernah mereka rasakan. Tulisan tersebut kemudian dikumpulkan dan ditanggapi oleh mahasiswa dengan memberikan motivasi serta penguatan secara positif dan membangun, agar siswa merasa didengar, dihargai, dan lebih percaya diri dalam menghadapi situasi serupa di kemudian hari.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran siswa mengenai bahaya bullying semakin meningkat serta tercipta budaya sekolah yang positif. Semangat kebersamaan dan kepedulian sosial yang ditanamkan sejak dini dinilai penting dalam membentuk karakter generasi muda yang berakhlak baik dan saling menghargai.
Penulis: Tiffani Andriani, Mahasiswa KPM Kelompok 70 UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Editor: Tiara Khalisna