| Foto: Wahyu Ramadan |
| Foto: Wahyu Ramadan |
Foto: Wahyu Ramadan www.lpmalkalam.com- Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah...
| Foto: Wahyu Ramadan |
| Foto: Wahyu Ramadan |
![]() |
| Foto: Pixabay |
![]() |
| Foto: Pixels |
![]() |
| Foto: IST |
![]() |
| Foto: Pixabay |
![]() |
| Foto: Bellivia Al-Kamariana |
![]() |
| Foto: Pixels |
www.lpmalkalam.com- Baru-baru ini, lingkungan Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, menjadi sorotan akibat terjadinya pertikaian antar mahasiswa dari Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian. Konflik tersebut diduga bermula dari cekcok antar oknum organisasi mahasiswa yang kemudian berkembang menjadi tindakan saling menyerang. Akibatnya, sejumlah fasilitas fakultas mengalami kerusakan bahkan terbakar, serta terdapat mahasiswa yang menjadi korban dalam insiden tersebut.
Peristiwa ini tentu sangat disayangkan, mengingat kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya pemikiran kritis, diskusi ilmiah, dan penyelesaian masalah secara dewasa. Mahasiswa sering disebut sebagai agen perubahan dan kaum intelektual. Namun, tindakan anarkis yang terjadi justru menunjukkan hilangnya sikap idealis dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi persoalan.
Tindakan menyerang fasilitas kampus maupun sesama mahasiswa bukanlah bentuk keberanian ataupun solidaritas. Sebaliknya, tindakan tersebut hanya memperlihatkan tingginya ego antar kelompok tanpa memikirkan dampak jangka panjang yang ditimbulkan. Kerusakan fasilitas bukan hanya merugikan satu pihak, melainkan seluruh civitas akademika. Kampus yang seharusnya menjadi ruang belajar bersama justru berubah menjadi arena konflik yang dipenuhi amarah.
Selain itu, konflik seperti ini mencerminkan rendahnya kemampuan dalam mengendalikan emosi dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Sebagai mahasiswa, seharusnya penyelesaian konflik dilakukan melalui dialog, mediasi, dan pemikiran rasional, bukan dengan kekerasan. Sikap kritis bukan berarti bertindak agresif, melainkan mampu mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan yang dilakukan.
Jika kasus seperti ini terus terjadi tanpa adanya pembenahan dari kedua belah pihak, maka nilai-nilai intelektualitas di lingkungan kampus akan semakin memudar. Mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu menunjukkan kedewasaan dalam bersikap dan bertindak.
Pada akhirnya, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa status 'mahasiswa' bukan sekadar identitas pendidikan, melainkan tanggung jawab moral untuk berpikir kritis, menjaga idealisme, dan menyelesaikan masalah secara bijaksana. Kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya solusi, bukan tempat tumbuhnya permusuhan.
Penulis: Daffa Alkausar
Editor: Chalisa Najla Safira
![]() |
| Foto: Pixels |
www.lpmalkalam.com- Museum seni dipenuhi dengan temaram lampu dan langkah pelan para pengunjung. Di setiap dinding tergantung lukisan dengan cerita masing-masing.
Sore itu, Kala datang sendirian, hanya untuk menghindari hiruk-pikuk kota dan pikirannya sendiri.
Langkahnya terhenti di depan sebuah lukisan besar.
Lukisan dua ekor burung yang sedang terbang di langit senja. Awalnya terlihat berdampingan, tetapi semakin ke atas, arah terbang mereka mulai berbeda. Yang satu menuju cahaya senja, satunya lagi ke langit gelap yang dipenuhi awan.
Di bawah lukisan itu tertulis:
“Tidak semua perjalanan yang dimulai bersama akan berakhir bahagia.”
Netra Kala terpaku cukup lama sampai suara seseorang terdengar di sampingnya.
“Masih suka ngeliatin lukisan sambil bengong?”
Napas Kala terasa berat sesaat.
Naren.
Nama yang selama ini berusaha Kala kubur dalam-dalam kini berdiri tepat di sampingnya.
Kala menoleh perlahan.Naren menatapnya dengan senyum kecil yang masih sama seperti dulu, hangat.
“Aku kira kamu ga suka museum,” bisik Kala pelan.
“Aku juga kira kamu udah ga suka tempat sepi.”
Mereka tertawa kecil, canggung, sangat canggung.
Sudah hampir tiga tahun sejak hubungan mereka berakhir. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kebencian. Hanya keadaan yang perlahan memaksa mereka berjalan ke arah berbeda, tetapi rasanya lebih menyakitkan dibanding berakhir karena pertengkaran.
Naren harus mengejar mimpinya ke luar kota, sedangkan Kala memilih tetap tinggal demi keluarganya.
Awalnya mereka berjanji akan bertahan.
Tetapi ternyata kadang janji akan kalah oleh jarak, waktu, dan impian yang tinggi.
Kini mereka dipertemukan lagi secara aneh di depan lukisan dua burung yang terbang menjauh satu sama lain.
“Lucu ya,” gumam Naren sambil menatap lukisan itu. “Kayak kita.”
Kala tersenyum tipis.
"Iya, kayak kita. Awalnya jalan bareng tapi harus pisah karena tujuannya beda."
“Aku sempat benci sama perpisahan kita,” lanjut Kala jujur. “Aku pikir semesta jahat banget.”
Naren diam beberapa detik sebelum akhirnya ikut berkata pelan, “Aku juga.”
Hening kembali datang.
Tetapi kali ini bukan hening yang canggung. Melainkan hening dua orang yang pernah saling mengenal terlalu dalam.
Dari speaker museum tiba-tiba terdengar alunan lagu lembut. Awalnya hanya instrumen pelan, sampai liriknya mengisi ruangan.
“Dipertemukan semesta… walau berakhir tak bahagia…”
Kala langsung menunduk kecil sambil tertawa getir.
“Semestanya nyindir ya?” katanya.
Naren ikut tertawa pelan, meski matanya tampak menyimpan banyak hal yang tidak bisa terucap.
Untuk sesaat, Kala berharap waktu berhenti di sana saja. Di ruangan sunyi itu, di depan lukisan dua burung yang pernah terbang berdampingan sebelum akhirnya memilih arah masing-masing.
Namun mereka sama-sama tahu, beberapa orang memang hanya ditakdirkan bertemu untuk menjadi cerita, bukan bersama selamanya.
Lampu museum mulai diredupkan tanda jam tutup hampir tiba.
“Aku harus pergi,” kata Naren akhirnya.
Kala mengangguk pelan. “Aku juga.”
Mereka berjalan ke arah pintu keluar bersama, tetapi tidak saling menyentuh lagi seperti dulu.
Sesampainya di persimpangan depan museum, langkah mereka berhenti.
“Kala,” panggil Naren.
“Hmm?”
“Makasih ya… pernah jadi rumah.”
Kala tersenyum kecil walau matanya mulai berkaca.
“Kamu juga.”
Setelah itu mereka benar-benar pergi ke arah berbeda. Sama seperti dua burung di dalam lukisan itu.
Penulis: Chalisa Najla Safira
Editor: Putri Ruqaiyah
![]() |
| Foto: Pixels |
![]() |
| Foto: Pexels |