Portal Berita Al-Kalam

Suarakan Aspirasi Kampus, DEMA UIN Sultanah Nahrasiyah Ikuti Munas BEM SI di Jambi

Foto: IST www.lpmalkalam.com- Pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseuma...

HEADLINE

Latest Post

08 Agustus 2026

Suarakan Aspirasi Kampus, DEMA UIN Sultanah Nahrasiyah Ikuti Munas BEM SI di Jambi

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe mengikuti Musyawarah Nasional (Munas) Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan di Universitas Jambi (UNJA) pada Senin (27/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium UNIFAC UNJA tersebut dibuka oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir. Agenda tahunan ini dihadiri oleh Gubernur Jambi, Rektor UNJA, serta 150 delegasi yang mewakili BEM dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Dalam Musyawarah Nasional tersebut, Presiden Mahasiswa Fauzan Azima hadir langsung untuk mewakili DEMA UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. Fauzan mengikuti seluruh rangkaian sidang pleno dan sidang komisi untuk menyampaikan pandangan serta isu-isu strategis mahasiswa. Selain itu, ia juga membangun jaringan kerja sama dengan BEM dari berbagai perguruan tinggi sebagai upaya memperkuat kolaborasi antarmahasiswa.

Munas kali ini difokuskan pada evaluasi kepengurusan nasional BEM SI periode sebelumnya, pemilihan kepengurusan baru, serta perumusan arah dan strategi gerakan mahasiswa ke depan. Beberapa isu strategis yang dibahas dalam sidang meliputi tantangan pendidikan, demokrasi, peran pemuda, hingga jaminan kesejahteraan masyarakat.

Melalui rangkaian sidang Munas tersebut, para delegasi menyepakati beberapa keputusan penting. Di antaranya adalah penyusunan rekomendasi sikap BEM SI terhadap berbagai isu nasional. Selain menjadi ruang untuk bertukar gagasan dan inovasi, momentum ini juga berfungsi untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan mahasiswa serta memperkuat komitmen kolaborasi antar-BEM dalam mengawal kebijakan publik dan kepentingan masyarakat.

Keikutsertaan dalam kegiatan ini turut memperkuat persatuan dan konsolidasi gerakan mahasiswa secara nasional. Dalam wawancara, Fauzan mengatakan, “Munas BEM SI XIX memiliki dampak yang sangat positif karena dapat mendorong BEM kampus agar lebih aktif dalam mengawal kebijakan publik, menyuarakan aspirasi mahasiswa, serta menghadirkan program yang bermanfaat bagi sivitas akademika dan masyarakat.”


Reporter: Cut Saputri & Intan Sarifah

Editor: Redaksi

Ketika Merdeka Belum Sepenuhnya Terasa

 
Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Setiap bulan Agustus, merah putih kembali memenuhi langit Indonesia. Bendera dikibarkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan kisah perjuangan para pahlawan kembali dikenang. Kita merayakan kemerdekaan dengan penuh kebanggaan. Namun, di balik kemeriahan itu, ada satu pertanyaan yang mungkin perlu kita renungkan: sudahkah kemerdekaan benar-benar terasa dalam kehidupan seluruh rakyat Indonesia?

Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tapi lebih dari itu. Kemerdekaan seharusnya memberikan ruang bagi setiap masyarakat untuk hidup dengan layak, mendapatkan keadilan, memperoleh pendidikan, serta memiliki kesempatan untuk menentukan masa depannya. Sebab, apa arti kemerdekaan jika masih ada orang yang setiap hari harus berjuang keras hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup?

Di tengah kehidupan masyarakat, persoalan seperti harga kebutuhan, kesempatan kerja, pendidikan, dan kesenjangan masih menjadi bagian dari kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Ada orang tua yang bekerja dari pagi hingga malam demi keluarganya. Ada anak muda yang berusaha mencari pekerjaan dan membangun masa depan. Ada pula masyarakat yang masih berharap agar suara mereka didengar dan hak mereka diperlakukan dengan adil.

Belum lagi persoalan korupsi yang terus menjadi tantangan. Ketika amanah yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat justru disalahgunakan, dampaknya tidak berhenti pada kerugian negara. Kepercayaan masyarakat pun ikut terkikis. Pada titik inilah kemerdekaan kembali dipertanyakan: apakah rakyat benar-benar memiliki rasa aman dan percaya bahwa kepentingan mereka diperjuangkan?

Membicarakan masalah yang masih terjadi di Indonesia bukan berarti kita tidak mencintai negeri ini. Justru karena kita peduli, kita berani melihat apa yang masih kurang dan membicarakannya. Menurut saya, mencintai Indonesia bukan berarti harus selalu mengatakan semuanya sudah baik. Ada kalanya kita perlu mengkritik dan menyampaikan keresahan, supaya kemerdekaan yang kita rayakan setiap tahun tidak hanya berhenti pada upacara dan perlombaan, tetapi juga membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat.

Kemerdekaan seharusnya dapat dirasakan dalam hal-hal sederhana seperti ketika seseorang tidak takut memperjuangkan haknya, ketika hukum tidak membeda-bedakan, ketika pendidikan dapat dijangkau, ketika kerja keras memiliki kesempatan untuk menghasilkan kehidupan yang layak, dan ketika suara masyarakat tidak dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting.

Indonesia sudah lama merdeka, tetapi rasanya masih banyak hal yang perlu kita perjuangkan. Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga dan meneruskannya lewat apa yang kita lakukan hari ini.

Maka, di tengah perayaan kemerdekaan tahun ini, mungkin kita tidak hanya perlu bertanya sudah berapa lama Indonesia merdeka, tetapi juga sudah sejauh mana kemerdekaan itu dirasakan oleh rakyatnya.

Sebab pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bendera yang berkibar di langit Indonesia. Kemerdekaan adalah ketika setiap orang yang hidup di bawahnya memiliki kesempatan untuk hidup dengan adil, aman, dan tetap memiliki harapan.


Penulis: Bellivia Al-Kamariana

Editor: Chalisa Najla Safira

Gamer Berpeluang Meraih Beasiswa Kuliah di Luar Negeri hingga US$15.000

Foto: Website University of Silicon Valley (USV)
www.lpmalkalam.com- University of Silicon Valley (USV) mengumumkan program beasiswa bernama Max Achievement Scholarship yang ditujukan bagi para gamer yang berhasil menuntaskan pencapaian tertentu dalam permainan digital. Informasi ini pertama kali dibagikan melalui akun Instagram resmi USV pada Sabtu (11/7/2026).

Mengutip laman resmi USV, beasiswa ini terbuka dalam tujuh kategori, yakni MMORPG & Live Service Games, Completionist & Trophy Hunting, Roguelike & Roguelite, Souls-like & Challenging Action Games, Strategy, Simulation & Analytical Mastery, Survival, Sandbox & Creation, serta Skill-Based Precision Challengest.

Setiap kategori memiliki dua tingkatan, yakni Legendary Tier dan Mastery Tier, yang penentuannya bergantung pada tingkat pencapaian yang berhasil diraih pelamar dalam game pilihannya.

Terkait besaran bantuan dana, USV menjelaskan bahwa nominal beasiswa akan disesuaikan dengan tingkatan yang diraih, ditambah hasil evaluasi esai serta kesiapan akademis masing-masing pelamar. Penerima pada Legendary Tier berpeluang memperoleh beasiswa hingga US$15.000 per tahun atau setara dengan US$5.000 per semester. Sementara itu, penerima pada Mastery Tier berpeluang memperoleh bantuan hingga US$7.500 per tahun atau setara dengan US$2.500 per semester.

Dalam keterangannya, pihak USV menyebut beasiswa ini sebagai bentuk apresiasi terhadap penguasaan, ketekunan, dan kemampuan berpikir sistematis yang ditunjukkan mahasiswa melalui pencapaian-pencapaian langka dan sulit di dunia game. Menurut USV, kualitas tersebut tidak jauh berbeda dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk meraih keunggulan akademis, mulai dari disiplin berlatih, kemampuan memecahkan masalah secara strategis, hingga semangat untuk mencapai penguasaan di atas standar minimum.

USV ingin menegaskan bahwa "penguasaan" dapat hadir dalam berbagai bentuk. Ketekunan, kemampuan berpikir sistematis, dan kreativitas dalam memecahkan masalah, meskipun diasah melalui layar dan controller, dinilai sebagai keterampilan kognitif yang sama pentingnya dengan kemampuan yang mendorong lahirnya inovasi, jiwa kewirausahaan, dan keunggulan di berbagai bidang.

Menurut pihak USV, kemampuan yang telah dibuktikan melalui game dapat menjadi bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik.


Reporter: M. Rahul Gonzales

Editor: Redaksi

07 Agustus 2026

22 Mahasiswa MPI UIN Sultanah Nahrasiyah Lulus Jalur Non-Skripsi, Publikasi Tembus Jurnal Sinta 2, 3, dan 4

 

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Sebanyak 22 mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe berhasil menyelesaikan studi melalui jalur non-skripsi setelah artikel ilmiah mereka diterbitkan di jurnal nasional terakreditasi Science and Technology Index (Sinta) 2, Sinta 3, dan Sinta 4.

Proses penyelesaian studi melalui jalur non-skripsi diawali dengan penyusunan artikel ilmiah yang dibimbing oleh satu dosen pembimbing untuk setiap mahasiswa. Artikel yang telah dinyatakan layak dan berhasil diterbitkan pada jurnal nasional terakreditasi kemudian menjadi syarat utama untuk mengikuti sidang non-skripsi. Selain melengkapi seluruh persyaratan akademik, mahasiswa juga diwajibkan memperoleh surat keterangan kelayakan artikel dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe sebagai bukti bahwa artikel telah memenuhi ketentuan akademik.

Sidang non-skripsi dilaksanakan secara bertahap, mulai 24 Juni, 15 Juli, dan 28 Juli 2026, menyesuaikan kesiapan masing-masing mahasiswa dalam menyelesaikan seluruh tahapan administrasi dan akademik.

Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Sofyan Arianto, mengungkapkan rasa syukur sekaligus kebanggaannya atas keberhasilan mahasiswa MPI yang menyelesaikan studi melalui jalur publikasi ilmiah sebagai pengganti skripsi. "Tentu ini menjadi rasa syukur sekaligus kebanggaan karena 22 mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) berhasil menyelesaikan studi melalui jalur publikasi ilmiah sebagai pengganti skripsi. Capaian ini menunjukkan kemampuan mereka dalam menghasilkan penelitian yang memenuhi standar publikasi ilmiah. Prosesnya pun tidak mudah, mulai dari penyusunan penelitian, revisi, hingga pendampingan dosen pembimbing sampai artikel tersebut berhasil diterbitkan," ujarnya.

Sofyan berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain pada tahun-tahun berikutnya untuk terus meningkatkan kemampuan akademik melalui penelitian dan publikasi ilmiah. "Jalur publikasi tidak hanya menjadi alternatif penyelesaian studi, tetapi juga memperluas manfaat hasil penelitian mahasiswa. Kami juga mengapresiasi kepada seluruh dosen pembimbing atas dedikasinya dalam mendampingi mahasiswa hingga tahap publikasi," tutupnya.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Muhammad Anggung Manumanoso Prasetyo, juga mengapresiasi capaian 22 mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam yang telah berhasil menyelesaikan studi melalui jalur non-skripsi dengan publikasi pada jurnal terakreditasi. Menurutnya, prestasi tersebut tidak hanya menunjukkan keberhasilan dari sisi jumlah mahasiswa yang lulus, tetapi juga kualitas publikasi yang dihasilkan. "Alhamdulillah, prestasi yang dicapai mahasiswa MPI bukan sekadar kuantitas melainkan kualitas, karena beberapa terbit di Sinta 2 dan 3. Pencapaian ini tentu tidak terlepas dari kerja kolektif dosen pembimbing dan dosen prodi yang sejak mereka semester awal ditanamkan kesadaran akademik. Nilai-nilai yang tumbuh membentuk kompetensi kemudian menumbuhkan kepercayaan diri untuk mengambil jalur artikel," ujarnya. 

Anggung menambahkan, budaya akademik yang dibangun secara berkelanjutan telah membentuk kompetensi mahasiswa sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri untuk memilih jalur publikasi ilmiah sebagai alternatif penyelesaian studi. “Harapan kami prestasi ini dipertahankan bahwa menulis adalah sarana dakwah yang efektif untuk menyebarkan kebaikan karena tidak terbatas tempat dan waktu. Sekali lagi selamat kepada mahasiswa yang telah berani mengambil tantangan selamat berkompetisi dan semoga sukses," tutupnya.

Dari 22 mahasiswa yang dinyatakan lulus melalui jalur non-skripsi, satu mahasiswa berhasil menerbitkan artikel pada jurnal Sinta 2, dua mahasiswa pada jurnal Sinta 3, dan 17 mahasiswa pada jurnal Sinta 4.

Mahasiswa yang menerbitkan artikel pada jurnal Sinta 2 ialah Muhammad Syahru. Sementara itu, mahasiswa yang berhasil mempublikasikan artikel pada jurnal Sinta 3 yaitu, Amila Shaliha dan M. Syukri Rizki Hamdalah. Adapun mahasiswa yang artikelnya terbit pada jurnal Sinta 4 yaitu, Cut Maulinda Juniar, Dini Tri Cahyati, Dinnisa Naurah Yasmine, Eliza Yanti, Ika Juliana Panjaitan, Intan Humairah, Jumaizatul Zuhra, M. Aditya Prayoga, M. Dhuha Masyhuri, Maulida Annisa Lubis, Nakasiani, Nur Amalia, Nurfitah Zahara, Nurul Azkiani, Rauzatul Aqsha, Revi Safitri, Tanty Rizky Soripada, Putri Syawalina, dan Gita Prameswari.

Capaian tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi ilmiah. Selain menjadi salah satu syarat penyelesaian studi, publikasi pada jurnal terakreditasi juga menjadi wujud kontribusi mahasiswa dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta mendukung peningkatan reputasi akademik UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe di tingkat nasional.


Penulis: Ririn Dayanti Harahap 

Editor: Chalisa Najla Safira

Logat sebagai Identitas Pemuda Aceh

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Bahasa merupakan salah satu ciri khas masyarakat di suatu daerah. Indonesia kaya akan adat dan budaya. Dari keberagaman tersebut lahirlah berbagai bahasa yang membedakan masyarakat di setiap daerah. Namun, perbedaan itu tidak membuat warga harus dipandang sebelah mata atau didiskriminasi.

Di Aceh, masyarakat dikenal memiliki logat yang sangat khas. Bahasa Aceh sarat akan makna sehingga tidak dapat diartikan begitu saja tanpa memahami kaidah dan konteks penggunaannya. Hal inilah yang membuat masyarakat Aceh tetap terbawa logat daerahnya ketika berbicara dalam bahasa Indonesia.

Di era modern, sebagian generasi muda Aceh mulai merasa malu menggunakan bahasa daerahnya. Mereka menganggap logat Aceh sebagai suatu kekurangan dan ciri khas yang kurang enak didengar. Perasaan tersebut muncul akibat banyaknya komentar di media sosial yang menganggap logat Aceh terdengar aneh ketika digunakan saat berbahasa Indonesia.

Di tengah banyaknya para ibu yang masih mempertahankan budaya berbahasa daerah, masih sedikit anak-anak di Aceh yang diajarkan bahasa daerah sejak dini. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai alasan yang dimiliki para orang tua. Memilih bahasa ibu memang perlu dipertimbangkan dengan baik, tetapi bukan berarti harus mengesampingkan bahasa daerah yang menjadi bagian dari identitas budaya. Hal ini menjadi salah satu faktor berkurangnya penggunaan bahasa daerah di Indonesia.

Logat bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan ciri khas yang menjadi bagian dari identitas seseorang. Logat tidak seharusnya dijadikan bahan tertawaan, apalagi diremehkan di ruang media maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai pemuda, sudah sepatutnya kita turut melestarikan budaya Aceh, terutama bahasa daerah, serta menumbuhkan kembali kebanggaan generasi muda untuk menggunakan bahasa daerah secara santun dan benar.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Redaksi

06 Agustus 2026

Produksi Game Fisik Dihentikan, Sony Tetap Berjalan Walau Banyak Gamer yang Menolak

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Sony resmi mengumumkan bahwa produksi disk fisik untuk semua game baru yang dirilis di konsol PlayStation akan dihentikan mulai Januari 2028. Setelah tanggal tersebut, game baru, baik dari Sony maupun pengembang pihak ketiga, hanya akan tersedia melalui PlayStation Store dan peritel dalam format digital. Sony berdalih bahwa keputusan ini merupakan respons terhadap pergeseran preferensi konsumen ke arah digital. Perusahaan juga menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak akan berdampak pada game yang telah dirilis atau yang akan dirilis sebelum Januari 2028 dalam format disk.

Di atas kertas, argumen Sony terdengar masuk akal. Data internal perusahaan menunjukkan bahwa disk fisik hanya menyumbang sekitar 3 persen dari total pendapatan gaming PlayStation, turun drastis dari 6 persen pada 2020, saat PlayStation 5 pertama kali dirilis dengan disc drive. Dari sudut pandang bisnis, mempertahankan lini produksi untuk segmen sekecil itu memang sulit untuk dijustifikasi.

Namun, reaksi komunitas menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal angka. Petisi Don't Kill the Disc yang digagas oleh peritel independen PNP Games telah mengumpulkan lebih dari 330 ribu tanda tangan. Argumen utamanya ialah bahwa tanpa disk fisik, gamer kehilangan hak untuk menjual kembali, meminjamkan, atau benar-benar memiliki game yang mereka beli.

Sebagian gamer bahkan menggalang aksi yang lebih konkret melalui boikot selama sepekan bertajuk PSBlackout pada 23–30 Agustus. Mereka mengajak pengguna PlayStation untuk tidak login, bermain, maupun berbelanja di platform Sony selama periode tersebut.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Seorang pengguna Reddit menceritakan pengalamannya ketika koneksi internet di rumahnya mati selama beberapa hari. Ia sama sekali tidak dapat memainkan game digital yang dimilikinya karena PlayStation 5 menolak memverifikasi lisensi digital tanpa koneksi internet. Padahal, ketika masih menggunakan disk fisik, koleksi game-nya tetap dapat dimainkan meskipun listrik atau internet padam dalam waktu yang lama.

Persoalan tersebut menyentuh inti kekhawatiran banyak gamer, yakni mengenai preservasi game, ketergantungan pada server yang sewaktu-waktu dapat dihentikan, serta hilangnya rasa memiliki karena "membeli" game pada praktiknya hanya berarti membeli lisensi akses.

Menariknya, Sony tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengubah keputusannya. Dalam earnings call, Chief Financial Officer (CFO) Sony, Lin Tao, menyatakan bahwa pihaknya akan cautiously move this forward, atau tetap melanjutkan kebijakan tersebut secara bertahap. Ia juga mengakui memahami keterikatan emosional para gamer terhadap media fisik. Pernyataan itu terdengar empatik, tetapi pesan utamanya tetap sama: keputusan tersebut tidak akan dibatalkan.

Di sinilah letak dilema sesungguhnya. Sony memiliki hak untuk mengejar efisiensi bisnis, dan tren digital memang tidak dapat dimungkiri. Namun, gamer juga memiliki hak untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya mereka beli ketika menekan tombol "Beli" hanya menghasilkan lisensi yang sewaktu-waktu dapat dicabut.

Pertanyaannya bukan lagi apakah era disk fisik akan berakhir karena tampaknya hal itu memang tak terelakkan melainkan apakah industri game bersedia memberikan jaminan kepemilikan yang layak di dunia yang serba digital. Ataukah kita hanya akan menerima kenyataan bahwa "membeli" game pada akhirnya berarti menyewa akses untuk selamanya?


Penulis: Muhammad Rahul Gonzales

Editor: Chalisa Najla Safira

05 Agustus 2026

Halaman yang Tak Pernah Selesai

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Rintik hujan turun ketika Aluna masuk ke sebuah toko buku kecil di sudut jalan. Ia tidak benar-benar ingin membeli buku, hanya mencari tempat berteduh.

Tangannya berhenti di rak sastra. Seperti dulu, tanpa sadar ia membuka halaman terakhir sebuah novel sebelum kembali ke halaman pertama.

"Masih curang ternyata." 

Aluna membeku. Suara itu terlalu ia kenal.

Ia menoleh perlahan.

Aksa berdiri beberapa langkah di belakangnya, membawa sebuah buku yang bahkan belum sempat ia lihat judulnya.

Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.

"Lama ya," bisik Aluna pelan.

"Lima tahun."

"Kamu masih ngitung?"

"Ga sengaja," ujar Aksa sambil tersenyum kecil.

Aluna ikut tersenyum canggung.

Rasanya aneh.

Dulu mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa kehabisan bahan obrolan. Sekarang, memulai percakapan saja rasanya seperti sedang belajar mengenal satu sama lain dari awal.

Hening kembali menghampiri, hanya terdengar suara hujan yang mengetuk kaca dan langkah pelan beberapa pengunjung yang berlalu di antara rak-rak buku.

Tak lama kemudian, pemilik toko mengganti musik yang sejak tadi diputar. Petikan gitar memenuhi ruangan, disusul lagu "Dunia yang Nanti" milik Raim Laode.

Aluna refleks menoleh ke arah speaker.

Aksa tersenyum kecil.

"Masih sering denger lagu itu?"

Aluna menggeleng pelan.

"Ga sesering dulu."

"Padahal dulu setiap pulang, lagu ini ga pernah ketinggalan."

"Soalnya waktu itu aku percaya... kalau ga semua perpisahan berarti selesai."

Aksa mengangguk pelan.

"Dulu aku juga percaya begitu."

Beberapa detik berlalu.

"Aku sempat lama ga denger lagu itu," ujar Aksa kembali.

Aluna menoleh, "Kenapa?"

Aksa mengembuskan napas pelan.

"Setiap kali diputar, rasanya kayak ditarik balik ke masa itu lagi."

Aluna mengangguk kecil seolah mengerti.

"Aku juga pernah sengaja ngelewatin kalau lagu itu muncul."

"Kalo sekarang?"

"Sekarang udah bisa didengerin."

"Karena udah ikhlas?"

Aluna tersenyum tipis sambil menggeleng.

"Ga juga. Mungkin... karena sekarang aku udah mulai ngerti."

Aksa terdiam beberapa saat.

"Aku kira cuma aku yang butuh waktu lama."

Aluna menatap buku yang masih ada di tangannya.

"Ternyata kita sama-sama cuma lagi belajar buat nerima."

Tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Mereka sama-sama tahu mengapa dulu memilih berpisah. Karena saat itu, hidup meminta mereka mengejar arah yang berbeda. 

Di luar, hujan mulai reda.

Aksa melihat jam di tangannya.

"Aku duluan ya."

Aluna mengangguk.

"Hati-hati."

"Kamu juga."

Aksa melangkah menuju pintu.

Maka kudoakan kisah kita satu... di dunia yang nanti...

Sesaat sebelum keluar, tepat setelah lirik terakhir terputar, Aksa menoleh sebentar.

Aluna membalas dengan anggukan dan senyum kecil.

Lalu pintu toko kembali tertutup.

Lima tahun ternyata belum cukup untuk menghapus ingatan tentang sebuah lagu, juga tentang dua orang yang pernah percaya bahwa mereka akan sampai di tujuan yang sama.

Sore itu, di antara rak-rak buku, aroma kertas yang mulai lembap karena hujan, dan lagu yang dulu selalu mereka putar dalam perjalanan pulang, Aluna akhirnya memahami sesuatu.

Tidak semua "nanti" berarti terlambat.

Kadang, "nanti" hanyalah cara semesta memberi waktu agar dua orang bisa tumbuh tanpa harus saling menunggu.


Penulis: Chalisa Najla Safira 

Editor: Zahratul

04 Agustus 2026

Bingung

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com-

Perasaan apa yang tumbuh perlahan

Datang diam tanpa pernah diminta

Sayang terlalu kentara terlihat

Cinta terasa gengsi diucapkan


Nyaman hadir di dalam sanubari

Waspada tetap selalu menyapa

Kini kupaham apa yang terjadi

Kita berdua sama sama bingung


Kita berjalan tanpa arah pasti

Saling mendekat lalu makin jauh

Seolah hati sedang mencari arti

Namun gengsi membuat kita bisu


Mungkin kau bingung seperti diriku

Mungkin kau takut berharap jauh

Mengapa takdir memainkan rasa

Membuat hati semakin terdiam


Kita sama sama menyimpan tanya

Namun tak satu pun berani bicara

Saling nyaman namun tak menyatu

Sama-sama bingung menuju mana


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

Mahasiswa KPM Mandiri UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Saksikan Tradisi Tepung Tawar di Desa Penampen

 

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri Kelompok 19 Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menghadiri sekaligus menyaksikan pelaksanaan tradisi tepung tawar yang diselenggarakan di Desa Penampen, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo pada Jumat (31/7/2026).

Tradisi tepung tawar merupakan salah satu rangkaian upacara adat yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Penampen, khususnya dalam prosesi pernikahan adat. Tradisi ini dilaksanakan sebagai bentuk doa dan harapan agar pihak yang menerima tepung tawar senantiasa memperoleh keselamatan, keberkahan, kesehatan, serta kehidupan yang harmonis.

Dalam pelaksanaannya, tokoh adat dan anggota keluarga secara bergantian memberikan tepung tawar kepada pihak yang menjadi tujuan prosesi. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan khidmat dan disaksikan oleh keluarga besar, tokoh masyarakat, serta warga Desa Penampen yang turut menghadiri kegiatan tersebut.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KPM Mandiri Kelompok 19 memperoleh kesempatan untuk mengenal secara langsung nilai-nilai budaya masyarakat Karo. Tradisi tepung tawar tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian upacara adat, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai syukur, penghormatan, kebersamaan, dan kekeluargaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Kehadiran mahasiswa KPM Mandiri dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap pelestarian budaya lokal. Masyarakat Desa Penampen juga berharap tradisi tepung tawar tetap dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya Karo serta diwariskan kepada generasi muda agar tetap terjaga keberlangsungannya.


Penulis: Rilis 

Editor: Redaksi

03 Agustus 2026

Penyelenggaraan Pesta Adat Karo di Jambur Desa Penampen sebagai Wujud Pelestarian Budaya

 

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Kelompok 19 KPM Mandiri Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menghadiri sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan penyelenggaraan pesta adat Karo yang dilaksanakan di Jambur Desa Penampen, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo pada Sabtu (25/7/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara pernikahan adat masyarakat Karo yang dihadiri oleh keluarga kedua mempelai, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta warga Desa Penampen. Prosesi adat berlangsung dengan tertib sesuai dengan tradisi masyarakat Karo dan dipimpin oleh para tetua adat yang memastikan setiap tahapan berjalan sesuai dengan nilai-nilai serta aturan adat yang berlaku.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Kelompok 19 KPM Mandiri turut menyaksikan secara langsung pelaksanaan budaya lokal sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat. Pesta adat tersebut tidak hanya menjadi bagian dari prosesi pernikahan, tetapi juga mencerminkan kuatnya nilai gotong royong, kebersamaan, dan rasa kekeluargaan yang masih terjaga di tengah masyarakat Desa Penampen.

Kehadiran mahasiswa KPM diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian budaya daerah. Melalui penyelenggaraan pesta adat di jambur desa, masyarakat Desa Penampen menunjukkan komitmennya untuk menjaga dan mewariskan budaya Karo kepada generasi muda agar tetap lestari sebagai identitas budaya yang memperkuat persatuan dan keharmonisan masyarakat.


Penulis: Rilis 

Editor: Redaksi

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.