Portal Berita Al-Kalam

22 Mahasiswa MPI UIN Sultanah Nahrasiyah Lulus Jalur Non-Skripsi, Publikasi Tembus Jurnal Sinta 2, 3, dan 4

  Foto: IST www.lpmalkalam.com-  Sebanyak 22 mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (...

HEADLINE

Latest Post

07 Agustus 2026

22 Mahasiswa MPI UIN Sultanah Nahrasiyah Lulus Jalur Non-Skripsi, Publikasi Tembus Jurnal Sinta 2, 3, dan 4

 

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Sebanyak 22 mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe berhasil menyelesaikan studi melalui jalur non-skripsi setelah artikel ilmiah mereka diterbitkan di jurnal nasional terakreditasi Science and Technology Index (Sinta) 2, Sinta 3, dan Sinta 4.

Proses penyelesaian studi melalui jalur non-skripsi diawali dengan penyusunan artikel ilmiah yang dibimbing oleh satu dosen pembimbing untuk setiap mahasiswa. Artikel yang telah dinyatakan layak dan berhasil diterbitkan pada jurnal nasional terakreditasi kemudian menjadi syarat utama untuk mengikuti sidang non-skripsi. Selain melengkapi seluruh persyaratan akademik, mahasiswa juga diwajibkan memperoleh surat keterangan kelayakan artikel dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe sebagai bukti bahwa artikel telah memenuhi ketentuan akademik.

Sidang non-skripsi dilaksanakan secara bertahap, mulai 24 Juni, 15 Juli, dan 28 Juli 2026, menyesuaikan kesiapan masing-masing mahasiswa dalam menyelesaikan seluruh tahapan administrasi dan akademik.

Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Sofyan Arianto, mengungkapkan rasa syukur sekaligus kebanggaannya atas keberhasilan mahasiswa MPI yang menyelesaikan studi melalui jalur publikasi ilmiah sebagai pengganti skripsi. "Tentu ini menjadi rasa syukur sekaligus kebanggaan karena 22 mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) berhasil menyelesaikan studi melalui jalur publikasi ilmiah sebagai pengganti skripsi. Capaian ini menunjukkan kemampuan mereka dalam menghasilkan penelitian yang memenuhi standar publikasi ilmiah. Prosesnya pun tidak mudah, mulai dari penyusunan penelitian, revisi, hingga pendampingan dosen pembimbing sampai artikel tersebut berhasil diterbitkan," ujarnya.

Sofyan berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain pada tahun-tahun berikutnya untuk terus meningkatkan kemampuan akademik melalui penelitian dan publikasi ilmiah. "Jalur publikasi tidak hanya menjadi alternatif penyelesaian studi, tetapi juga memperluas manfaat hasil penelitian mahasiswa. Kami juga mengapresiasi kepada seluruh dosen pembimbing atas dedikasinya dalam mendampingi mahasiswa hingga tahap publikasi," tutupnya.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Muhammad Anggung Manumanoso Prasetyo, juga mengapresiasi capaian 22 mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam yang telah berhasil menyelesaikan studi melalui jalur non-skripsi dengan publikasi pada jurnal terakreditasi. Menurutnya, prestasi tersebut tidak hanya menunjukkan keberhasilan dari sisi jumlah mahasiswa yang lulus, tetapi juga kualitas publikasi yang dihasilkan. "Alhamdulillah, prestasi yang dicapai mahasiswa MPI bukan sekadar kuantitas melainkan kualitas, karena beberapa terbit di Sinta 2 dan 3. Pencapaian ini tentu tidak terlepas dari kerja kolektif dosen pembimbing dan dosen prodi yang sejak mereka semester awal ditanamkan kesadaran akademik. Nilai-nilai yang tumbuh membentuk kompetensi kemudian menumbuhkan kepercayaan diri untuk mengambil jalur artikel," ujarnya. 

Anggung menambahkan, budaya akademik yang dibangun secara berkelanjutan telah membentuk kompetensi mahasiswa sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri untuk memilih jalur publikasi ilmiah sebagai alternatif penyelesaian studi. “Harapan kami prestasi ini dipertahankan bahwa menulis adalah sarana dakwah yang efektif untuk menyebarkan kebaikan karena tidak terbatas tempat dan waktu. Sekali lagi selamat kepada mahasiswa yang telah berani mengambil tantangan selamat berkompetisi dan semoga sukses," tutupnya.

Dari 22 mahasiswa yang dinyatakan lulus melalui jalur non-skripsi, satu mahasiswa berhasil menerbitkan artikel pada jurnal Sinta 2, dua mahasiswa pada jurnal Sinta 3, dan 17 mahasiswa pada jurnal Sinta 4.

Mahasiswa yang menerbitkan artikel pada jurnal Sinta 2 ialah Muhammad Syahru. Sementara itu, mahasiswa yang berhasil mempublikasikan artikel pada jurnal Sinta 3 yaitu, Amila Shaliha dan M. Syukri Rizki Hamdalah. Adapun mahasiswa yang artikelnya terbit pada jurnal Sinta 4 yaitu, Cut Maulinda Juniar, Dini Tri Cahyati, Dinnisa Naurah Yasmine, Eliza Yanti, Ika Juliana Panjaitan, Intan Humairah, Jumaizatul Zuhra, M. Aditya Prayoga, M. Dhuha Masyhuri, Maulida Annisa Lubis, Nakasiani, Nur Amalia, Nurfitah Zahara, Nurul Azkiani, Rauzatul Aqsha, Revi Safitri, Tanty Rizky Soripada, Putri Syawalina, dan Gita Prameswari.

Capaian tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi ilmiah. Selain menjadi salah satu syarat penyelesaian studi, publikasi pada jurnal terakreditasi juga menjadi wujud kontribusi mahasiswa dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta mendukung peningkatan reputasi akademik UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe di tingkat nasional.


Penulis: Ririn Dayanti Harahap 

Editor: Chalisa Najla Safira

Logat sebagai Identitas Pemuda Aceh

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Bahasa merupakan salah satu ciri khas masyarakat di suatu daerah. Indonesia kaya akan adat dan budaya. Dari keberagaman tersebut lahirlah berbagai bahasa yang membedakan masyarakat di setiap daerah. Namun, perbedaan itu tidak membuat warga harus dipandang sebelah mata atau didiskriminasi.

Di Aceh, masyarakat dikenal memiliki logat yang sangat khas. Bahasa Aceh sarat akan makna sehingga tidak dapat diartikan begitu saja tanpa memahami kaidah dan konteks penggunaannya. Hal inilah yang membuat masyarakat Aceh tetap terbawa logat daerahnya ketika berbicara dalam bahasa Indonesia.

Di era modern, sebagian generasi muda Aceh mulai merasa malu menggunakan bahasa daerahnya. Mereka menganggap logat Aceh sebagai suatu kekurangan dan ciri khas yang kurang enak didengar. Perasaan tersebut muncul akibat banyaknya komentar di media sosial yang menganggap logat Aceh terdengar aneh ketika digunakan saat berbahasa Indonesia.

Di tengah banyaknya para ibu yang masih mempertahankan budaya berbahasa daerah, masih sedikit anak-anak di Aceh yang diajarkan bahasa daerah sejak dini. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai alasan yang dimiliki para orang tua. Memilih bahasa ibu memang perlu dipertimbangkan dengan baik, tetapi bukan berarti harus mengesampingkan bahasa daerah yang menjadi bagian dari identitas budaya. Hal ini menjadi salah satu faktor berkurangnya penggunaan bahasa daerah di Indonesia.

Logat bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan ciri khas yang menjadi bagian dari identitas seseorang. Logat tidak seharusnya dijadikan bahan tertawaan, apalagi diremehkan di ruang media maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai pemuda, sudah sepatutnya kita turut melestarikan budaya Aceh, terutama bahasa daerah, serta menumbuhkan kembali kebanggaan generasi muda untuk menggunakan bahasa daerah secara santun dan benar.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Redaksi

06 Agustus 2026

Produksi Game Fisik Dihentikan, Sony Tetap Berjalan Walau Banyak Gamer yang Menolak

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Sony resmi mengumumkan bahwa produksi disk fisik untuk semua game baru yang dirilis di konsol PlayStation akan dihentikan mulai Januari 2028. Setelah tanggal tersebut, game baru, baik dari Sony maupun pengembang pihak ketiga, hanya akan tersedia melalui PlayStation Store dan peritel dalam format digital. Sony berdalih bahwa keputusan ini merupakan respons terhadap pergeseran preferensi konsumen ke arah digital. Perusahaan juga menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak akan berdampak pada game yang telah dirilis atau yang akan dirilis sebelum Januari 2028 dalam format disk.

Di atas kertas, argumen Sony terdengar masuk akal. Data internal perusahaan menunjukkan bahwa disk fisik hanya menyumbang sekitar 3 persen dari total pendapatan gaming PlayStation, turun drastis dari 6 persen pada 2020, saat PlayStation 5 pertama kali dirilis dengan disc drive. Dari sudut pandang bisnis, mempertahankan lini produksi untuk segmen sekecil itu memang sulit untuk dijustifikasi.

Namun, reaksi komunitas menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal angka. Petisi Don't Kill the Disc yang digagas oleh peritel independen PNP Games telah mengumpulkan lebih dari 330 ribu tanda tangan. Argumen utamanya ialah bahwa tanpa disk fisik, gamer kehilangan hak untuk menjual kembali, meminjamkan, atau benar-benar memiliki game yang mereka beli.

Sebagian gamer bahkan menggalang aksi yang lebih konkret melalui boikot selama sepekan bertajuk PSBlackout pada 23–30 Agustus. Mereka mengajak pengguna PlayStation untuk tidak login, bermain, maupun berbelanja di platform Sony selama periode tersebut.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Seorang pengguna Reddit menceritakan pengalamannya ketika koneksi internet di rumahnya mati selama beberapa hari. Ia sama sekali tidak dapat memainkan game digital yang dimilikinya karena PlayStation 5 menolak memverifikasi lisensi digital tanpa koneksi internet. Padahal, ketika masih menggunakan disk fisik, koleksi game-nya tetap dapat dimainkan meskipun listrik atau internet padam dalam waktu yang lama.

Persoalan tersebut menyentuh inti kekhawatiran banyak gamer, yakni mengenai preservasi game, ketergantungan pada server yang sewaktu-waktu dapat dihentikan, serta hilangnya rasa memiliki karena "membeli" game pada praktiknya hanya berarti membeli lisensi akses.

Menariknya, Sony tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengubah keputusannya. Dalam earnings call, Chief Financial Officer (CFO) Sony, Lin Tao, menyatakan bahwa pihaknya akan cautiously move this forward, atau tetap melanjutkan kebijakan tersebut secara bertahap. Ia juga mengakui memahami keterikatan emosional para gamer terhadap media fisik. Pernyataan itu terdengar empatik, tetapi pesan utamanya tetap sama: keputusan tersebut tidak akan dibatalkan.

Di sinilah letak dilema sesungguhnya. Sony memiliki hak untuk mengejar efisiensi bisnis, dan tren digital memang tidak dapat dimungkiri. Namun, gamer juga memiliki hak untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya mereka beli ketika menekan tombol "Beli" hanya menghasilkan lisensi yang sewaktu-waktu dapat dicabut.

Pertanyaannya bukan lagi apakah era disk fisik akan berakhir karena tampaknya hal itu memang tak terelakkan melainkan apakah industri game bersedia memberikan jaminan kepemilikan yang layak di dunia yang serba digital. Ataukah kita hanya akan menerima kenyataan bahwa "membeli" game pada akhirnya berarti menyewa akses untuk selamanya?


Penulis: Muhammad Rahul Gonzales

Editor: Chalisa Najla Safira

05 Agustus 2026

Halaman yang Tak Pernah Selesai

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Rintik hujan turun ketika Aluna masuk ke sebuah toko buku kecil di sudut jalan. Ia tidak benar-benar ingin membeli buku, hanya mencari tempat berteduh.

Tangannya berhenti di rak sastra. Seperti dulu, tanpa sadar ia membuka halaman terakhir sebuah novel sebelum kembali ke halaman pertama.

"Masih curang ternyata." 

Aluna membeku. Suara itu terlalu ia kenal.

Ia menoleh perlahan.

Aksa berdiri beberapa langkah di belakangnya, membawa sebuah buku yang bahkan belum sempat ia lihat judulnya.

Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.

"Lama ya," bisik Aluna pelan.

"Lima tahun."

"Kamu masih ngitung?"

"Ga sengaja," ujar Aksa sambil tersenyum kecil.

Aluna ikut tersenyum canggung.

Rasanya aneh.

Dulu mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa kehabisan bahan obrolan. Sekarang, memulai percakapan saja rasanya seperti sedang belajar mengenal satu sama lain dari awal.

Hening kembali menghampiri, hanya terdengar suara hujan yang mengetuk kaca dan langkah pelan beberapa pengunjung yang berlalu di antara rak-rak buku.

Tak lama kemudian, pemilik toko mengganti musik yang sejak tadi diputar. Petikan gitar memenuhi ruangan, disusul lagu "Dunia yang Nanti" milik Raim Laode.

Aluna refleks menoleh ke arah speaker.

Aksa tersenyum kecil.

"Masih sering denger lagu itu?"

Aluna menggeleng pelan.

"Ga sesering dulu."

"Padahal dulu setiap pulang, lagu ini ga pernah ketinggalan."

"Soalnya waktu itu aku percaya... kalau ga semua perpisahan berarti selesai."

Aksa mengangguk pelan.

"Dulu aku juga percaya begitu."

Beberapa detik berlalu.

"Aku sempat lama ga denger lagu itu," ujar Aksa kembali.

Aluna menoleh, "Kenapa?"

Aksa mengembuskan napas pelan.

"Setiap kali diputar, rasanya kayak ditarik balik ke masa itu lagi."

Aluna mengangguk kecil seolah mengerti.

"Aku juga pernah sengaja ngelewatin kalau lagu itu muncul."

"Kalo sekarang?"

"Sekarang udah bisa didengerin."

"Karena udah ikhlas?"

Aluna tersenyum tipis sambil menggeleng.

"Ga juga. Mungkin... karena sekarang aku udah mulai ngerti."

Aksa terdiam beberapa saat.

"Aku kira cuma aku yang butuh waktu lama."

Aluna menatap buku yang masih ada di tangannya.

"Ternyata kita sama-sama cuma lagi belajar buat nerima."

Tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Mereka sama-sama tahu mengapa dulu memilih berpisah. Karena saat itu, hidup meminta mereka mengejar arah yang berbeda. 

Di luar, hujan mulai reda.

Aksa melihat jam di tangannya.

"Aku duluan ya."

Aluna mengangguk.

"Hati-hati."

"Kamu juga."

Aksa melangkah menuju pintu.

Maka kudoakan kisah kita satu... di dunia yang nanti...

Sesaat sebelum keluar, tepat setelah lirik terakhir terputar, Aksa menoleh sebentar.

Aluna membalas dengan anggukan dan senyum kecil.

Lalu pintu toko kembali tertutup.

Lima tahun ternyata belum cukup untuk menghapus ingatan tentang sebuah lagu, juga tentang dua orang yang pernah percaya bahwa mereka akan sampai di tujuan yang sama.

Sore itu, di antara rak-rak buku, aroma kertas yang mulai lembap karena hujan, dan lagu yang dulu selalu mereka putar dalam perjalanan pulang, Aluna akhirnya memahami sesuatu.

Tidak semua "nanti" berarti terlambat.

Kadang, "nanti" hanyalah cara semesta memberi waktu agar dua orang bisa tumbuh tanpa harus saling menunggu.


Penulis: Chalisa Najla Safira 

Editor: Zahratul

04 Agustus 2026

Bingung

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com-

Perasaan apa yang tumbuh perlahan

Datang diam tanpa pernah diminta

Sayang terlalu kentara terlihat

Cinta terasa gengsi diucapkan


Nyaman hadir di dalam sanubari

Waspada tetap selalu menyapa

Kini kupaham apa yang terjadi

Kita berdua sama sama bingung


Kita berjalan tanpa arah pasti

Saling mendekat lalu makin jauh

Seolah hati sedang mencari arti

Namun gengsi membuat kita bisu


Mungkin kau bingung seperti diriku

Mungkin kau takut berharap jauh

Mengapa takdir memainkan rasa

Membuat hati semakin terdiam


Kita sama sama menyimpan tanya

Namun tak satu pun berani bicara

Saling nyaman namun tak menyatu

Sama-sama bingung menuju mana


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

Mahasiswa KPM Mandiri UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Saksikan Tradisi Tepung Tawar di Desa Penampen

 

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri Kelompok 19 Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menghadiri sekaligus menyaksikan pelaksanaan tradisi tepung tawar yang diselenggarakan di Desa Penampen, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo pada Jumat (31/7/2026).

Tradisi tepung tawar merupakan salah satu rangkaian upacara adat yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Penampen, khususnya dalam prosesi pernikahan adat. Tradisi ini dilaksanakan sebagai bentuk doa dan harapan agar pihak yang menerima tepung tawar senantiasa memperoleh keselamatan, keberkahan, kesehatan, serta kehidupan yang harmonis.

Dalam pelaksanaannya, tokoh adat dan anggota keluarga secara bergantian memberikan tepung tawar kepada pihak yang menjadi tujuan prosesi. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan khidmat dan disaksikan oleh keluarga besar, tokoh masyarakat, serta warga Desa Penampen yang turut menghadiri kegiatan tersebut.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KPM Mandiri Kelompok 19 memperoleh kesempatan untuk mengenal secara langsung nilai-nilai budaya masyarakat Karo. Tradisi tepung tawar tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian upacara adat, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai syukur, penghormatan, kebersamaan, dan kekeluargaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Kehadiran mahasiswa KPM Mandiri dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap pelestarian budaya lokal. Masyarakat Desa Penampen juga berharap tradisi tepung tawar tetap dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya Karo serta diwariskan kepada generasi muda agar tetap terjaga keberlangsungannya.


Penulis: Rilis 

Editor: Redaksi

03 Agustus 2026

Penyelenggaraan Pesta Adat Karo di Jambur Desa Penampen sebagai Wujud Pelestarian Budaya

 

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Kelompok 19 KPM Mandiri Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menghadiri sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan penyelenggaraan pesta adat Karo yang dilaksanakan di Jambur Desa Penampen, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo pada Sabtu (25/7/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara pernikahan adat masyarakat Karo yang dihadiri oleh keluarga kedua mempelai, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta warga Desa Penampen. Prosesi adat berlangsung dengan tertib sesuai dengan tradisi masyarakat Karo dan dipimpin oleh para tetua adat yang memastikan setiap tahapan berjalan sesuai dengan nilai-nilai serta aturan adat yang berlaku.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Kelompok 19 KPM Mandiri turut menyaksikan secara langsung pelaksanaan budaya lokal sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat. Pesta adat tersebut tidak hanya menjadi bagian dari prosesi pernikahan, tetapi juga mencerminkan kuatnya nilai gotong royong, kebersamaan, dan rasa kekeluargaan yang masih terjaga di tengah masyarakat Desa Penampen.

Kehadiran mahasiswa KPM diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian budaya daerah. Melalui penyelenggaraan pesta adat di jambur desa, masyarakat Desa Penampen menunjukkan komitmennya untuk menjaga dan mewariskan budaya Karo kepada generasi muda agar tetap lestari sebagai identitas budaya yang memperkuat persatuan dan keharmonisan masyarakat.


Penulis: Rilis 

Editor: Redaksi

Meraih Mimpi

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com-

Di setiap fajar yang menyapa

Kutatap langit penuh harapan

Kuyakini setiap langkah kecil

Akan mengantarkanku menuju impian


Jalan yang kulalui tak selalu mudah

Kadang terjal, kadang berliku

Namun, semangat tak pernah padam

Karena mimpi selalu memanggilku


Kegagalan bukan akhir perjalanan

Melainkan pelajaran yang berharga

Air mata menjadi saksi perjuangan

Doa menguatkan setiap langkah yang ada


Aku belajar untuk tetap percaya

Bahwa usaha tak akan sia-sia

Dengan tekad yang terus menyala

Kubangun masa depan penuh makna


Tak peduli seberapa jauh tujuan

Tak gentar menghadapi tantangan

Selama hati tetap berani bermimpi

Harapan akan selalu menemani


Suatu hari nanti, saat mimpi terwujud

Kukenang setiap perjuangan yang kulalui

Karena keberhasilan tak datang seketika

Melainkan hadiah bagi mereka 

Yang pantang menyerah dan terus berusaha


Penulis: Zilfira

Editor: Chalisa Najla Safira

02 Agustus 2026

Kolaborasi KPM Mandiri Kelompok 05 UIN SUNA dan Duta Baca UIN SUNA Gerakkan Literasi di Dayah Tauthiatul Muttaqin

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri Kelompok 05 Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe dan Duta Baca UIN SUNA Lhokseumawe menyelenggarakan gerakan literasi dengan tema "Membangun Kegiatan Membaca Masyarakat"  yang bertempat di Dayah Tauthiatul Muttaqin, Gampong Ulee Pulo pada Sabtu (01/08/2026).

Kegiatan tersebut dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama dimulai dengan pembukaan oleh Duta baca yaitu Falsya Marchanda, Rafa Ananda, dan Zahratul. Selanjutnya, dilakukan pengenalan anggota KPM Mandiri Kelompok 05 UIN SUNA. Setelah sesi pengenalan, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking untuk mencairkan suasana serta membangun keakraban antara anggota KPM dan anak-anak di Dayah Tauthiatul Muttaqin.

Pada sesi kedua, kegiatan diawali dengan pembagian kelompok beserta mentor yang akan memandu masing-masing kelompok. Selanjutnya, Duta Baca membagikan buku bacaan kepada setiap kelompok. Kegiatan membaca berlangsung selama beberapa menit, kemudian dilanjutkan dengan sesi storytelling mengenai hasil bacaan yang telah dibaca sebelumnya. Anak-anak yang berani tampil dan menceritakan kembali isi bacaan diberikan reward sebagai bentuk apresiasi.

Sesi berikutnya dilaksanakan setelah salat Asar. Pada sesi ini, setiap anak ditanyakan mengenai cita-cita mereka. Selanjutnya, tangan anak-anak diberi warna menggunakan cat air, kemudian dicetak pada kain dan dilengkapi dengan tanda tangan masing-masing. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara KPM Mandiri Kelompok 05 UIN SUNA dan Duta Baca UIN SUNA.

Kegiatan gerakan literasi ini turut didukung oleh Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Cahaya Surga Meunasah Alue, Kota Lhokseumawe, melalui penyediaan beragam koleksi buku bacaan yang diperuntukkan bagi anak-anak.

Tyzhar Akmaluddin, selaku ketua KPM Mandiri Kelompok 05 UIN Sultanah Nahrasiyah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian dan kontribusi mahasiswa dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan masyarakat melalui penguatan budaya literasi. "Kegiatan ini bukan hanya sekadar membaca buku. Kami ingin menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan, penuh permainan, cerita, dan interaksi sehingga anak-anak merasa bahwa membaca adalah aktivitas yang mengasyikkan. Harapannya, setelah kegiatan ini mereka akan semakin akrab dengan buku dan menjadikan membaca sebagai kebiasaan yang dilakukan setiap hari," ujar Tyzhar.


Reporter: Zahratul 

Editor: Chalisa Najla Safira

31 Juli 2026

Antrian Panjang BBM di SPBU, Warga Rela Panas-Panasan Demi Mengisi Bensin

Foto: Luthfiah Iklima Panggabean
www.lpmalkalam.com- Antrean kendaraan roda dua mengular panjang di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Cunda, Lhokseumawe pada Jumat (31/7/2026).

Puluhan sepeda motor telah berbaris sejak siang hari untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM). Berdasarkan pantauan di lokasi, antrean dimulai dari depan gerbang SPBU hingga memanjang ke badan jalan. Mayoritas pengendara merupakan warga yang hendak beraktivitas, mulai dari pelajar, ibu rumah tangga, hingga para pekerja. Meski cuaca cukup terik, mereka tetap bertahan menunggu giliran untuk mengisi BBM.

Kondisi tersebut menyebabkan arus lalu lintas di sekitar lokasi sedikit melambat karena sebagian kendaraan yang mengantre hingga memakan bahu jalan. Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya antrean panjang tersebut. Pihak pengelola SPBU maupun instansi terkait juga belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab antrean ataupun kondisi pasokan BBM di lokasi.

Luthfiah Iklima Panggabean salah seorang mahasiswa yang ikut mengantre berharap kondisi tersebut dapat segera teratasi agar masyarakat tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM.


Reporter: Luthfiatil Syaqirah

Editor: Redaksi


Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.