Senja memandang punggung Samudra, punggung yang biasanya menjadi tempatnya berteduh dari badai dunia, namun malam ini terasa sejauh cakrawala.
"Kamu kenapa pergi?" tanya Senja, suaranya parau, nyaris tenggelam oleh desau angin di luar jendela. Samudra tidak segera berbalik. Jemarinya memainkan pinggiran cangkir, menatap kosong pada sisa-sisa air yang mengeruh.
"Biar kamu nggak capek," jawab Samudra lirih, sebuah kalimat yang terdengar seperti hantaman ombak pada tebing karang yang rapuh.
"Capek kenapa?" Senja mengejar, matanya menuntut kejelasan dari sepasang netra yang kini berbalik menatapnya dengan kelelahan yang teramat sangat.
"Jagain aku yang nggak pernah sampai." Samudra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan luka paling dalam. Ada rasa bersalah yang mengkristal di sudut matanya. Ia tahu, perjalanan mereka selama ini hanyalah labirin tanpa ujung, di mana Senja terus berlari mengejar ketidakpastiannya.
"Lalu aku harus apa?" Nada suara Senja bergetar, menahan sesak yang mendadak menghimpit dada.
"Pulang ke yang bisa jagamu tanpa kamu minta."
"Aku maunya kamu, Samudra!" Potong Senja cepat, seolah-olah dengan menegaskan nama itu, takdir akan melunak dan mengubah arah angin.
Namun, Samudra menggeleng perlahan. Tatapannya meluruh, dipenuhi kelembutan yang menyakitkan. "Tapi aku bukan rumah yang kamu cari, Senja."
Senja terpaku. Kalimat itu terasa asing, dingin, sekaligus mematikan. "Kok gitu?"
Samudra menghela napas panjang, meresapi setiap jengkal kenangan yang berserakan di antara mereka sebelum akhirnya berkata, "Rumah itu tempat kamu nggak takut jadi berantakan. Dan kamu... masih rapi banget di depanku."
Samudra menjeda sejenak, menatap gaun Senja yang tak pernah kusut, senyum perempuan itu yang selalu dipaksakan simetris, dan tangisnya yang selalu disembunyikan di balik punggung. "Kamu selalu berpura-pura utuh, padahal aku tahu kamu sedang patah. Bersamaku, kamu tidak pernah berani runtuh."
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga, membasahi pipi Senja. Sudut matanya memerah. "Lalu aku harus ke mana?" Tanyanya, kehilangan arah, seperti kompas yang kehilangan kutubnya.
Samudra melangkah mendekat, menghapus air mata di pipi Senja untuk terakhir kalinya, lalu berbisik pelan, hampir menyerupai doa, "Ke seseorang yang waktu kamu diam, dia tahu kamu lagi nggak baik-baik saja. Yang tanpa tanya, udah nyiapin bahunya. Yang bikin kamu lupa caranya pura-pura kuat... dan orang itu bukan aku." Kata-kata itu menjadi penutup yang mutlak. Samudra berbalik, melangkah menuju pintu, dan hilang di balik kepekatan malam yang dingin.
Seketika itu juga, keheningan kembali merajai ruangan. Terdengar lagi detak jam di dinding, begitu nyaring, menghitung detik-detik kehilangan yang merayap maju. Bersamaan dengan itu, suara hati Senja juga akhirnya mengerti, bahwa mencintai adakala adalah tentang melepaskan genggaman, agar ia bisa menemukan tempat di mana boleh rapuh tanpa takut dihakimi.
Penulis: Amanda Zuhra
Editor: Zahratul





.jpeg)



