![]() |
| Foto: Putri Ruqaiyah |
Foto: Putri Ruqaiyah www.lpmalkalam.com- Seminar Budaya Canang Cereukeuh di Era Generasi Z mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak ...
![]() |
| Foto: Putri Ruqaiyah |
![]() |
| Foto: Pixels |
![]() |
| Foto: Muhammad Rahul Gonzales |
Peluncuran tersebut dihadiri oleh Dekan FUAD, Mahdi; Ketua Program Studi KPI, Zanzibar; dosen KPI sekaligus pegiat media, Riza Mirza; Kepala Biro Serambi Indonesia wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara, Jafaruddin; serta mahasiswa KPI UIN SUNA.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa KPI di bidang jurnalistik, khususnya dalam penulisan berita. Kehadiran dua portal berita tersebut diharapkan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan menulis sekaligus menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas.
Fadhil Aulia Farisky selaku Ketua Redaksi UINside.id mengatakan bahwa peluncuran UINside.id dan Telisik.id merupakan langkah penting dalam pengembangan jurnalistik kampus. “Pengetahuan saja tidak cukup, tetapi harus diikuti dengan pengaplikasian. Keinginan saja juga tidak cukup, melainkan perlu dibuktikan melalui aksi nyata,” ujarnya.
Ia berharap kedua portal berita tersebut dapat terus menghadirkan informasi yang akurat, berkualitas, dan bermanfaat bagi pembaca.
Sementara itu, Ketua Program Studi KPI, Zanzibar, berharap keberadaan kedua media mahasiswa tersebut dapat terus berlanjut dan dikembangkan oleh angkatan berikutnya. “Kami berharap peluncuran dua portal berita ini tidak berhenti di Angkatan 2023, tetapi dapat diteruskan oleh angkatan-angkatan berikutnya sehingga UINside.id dan Telisik.id terus berkembang,” katanya.
Dekan FUAD, Mahdi, menilai jurnalistik memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Menurutnya, kehadiran UINside.id dan Telisik.id diharapkan mampu menjadi media pembelajaran sekaligus memberikan kontribusi positif bagi perkembangan jurnalistik kampus.
![]() |
| Foto: Pixels |
Tradisi ini dilaksanakan dengan cara masyarakat memasak dan makan bersama di area persawahan menjelang musim tanam padi sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang telah diberikan.
Kenduri Blang dipercaya sebagai bentuk doa dan ikhtiar masyarakat agar terhindar dari berbagai rintangan ketika memulai musim tanam. Masyarakat meyakini bahwa setiap usaha hendaknya diawali dengan doa dan ikhtiar kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar memperoleh hasil yang terbaik.
Selain itu, Kenduri Blang juga menjadi tradisi memasak dan makan bersama di dekat area persawahan yang bertujuan mempererat hubungan antarmasyarakat. Melalui tradisi ini, nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas sosial terus dipupuk dan dilestarikan.
Di era modern, Kenduri Blang bukan sekadar kenduri dan doa bersama, tetapi juga menjadi wadah musyawarah para petani menjelang musim tanam. Dalam musyawarah tersebut dibahas berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan persawahan, seperti pembagian air irigasi secara adil dan penentuan jadwal tanam padi.
Pelestarian Kenduri Blang kini menjadi tantangan tersendiri, terutama karena banyak generasi muda yang kurang tertarik pada bidang pertanian dan menganggap tradisi tersebut tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Padahal, Kenduri Blang mengandung nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan musyawarah yang penting dalam membentuk karakter generasi muda. Oleh karena itu, pelestarian tradisi ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mendukung keberlanjutan sektor pertanian sebagai penopang ketahanan pangan masyarakat.
![]() |
| Foto: Pixels |
![]() |
| Foto: Pixels |
![]() |
| Foto: Putri Ruqaiyah |
![]() |
| Foto: Muhammad Rahul Gonzales |