Portal Berita Al-Kalam

Prodi KPI UIN SUNA Luncurkan Dua Portal Berita

Foto: Muhammad Rahul Gonzales www.lpmalkalam.com- Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri (UIN)...

HEADLINE

Latest Post

28 Juni 2026

Bahasa Langit

 

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com-

Bulan menggantung di cakrawala sunyi

Menjadi mata yang mengintip diam

Menjadi saksi bagaimana jarak memendek

Dalam percakapan yang enggan usai


Malam menadah sisa langkah

Langit merapikan gugusan cahaya

Ada tawa yang sengaja kutinggalkan

Bersemayam pada palung yang tak terjamah


Jalan menjelma sungai yang mengalir landai

Menghanyutkan hangat di muara tanpa nama

Angin menyimpan riwayat tanpa bunyi

Di balik daun yang menolak gugur


Semesta bekerja dalam diam

Menanam debar tanpa perlu tumbuh

Di ambang pintu aku merasa ganjil

Bukan sandang bukan pula aksara


Jiwa tertinggal di kedalaman matamu

Sejak itu langit tak lagi serupa

Bintang tetap menyala di kejauhan

Menjadi saksi doa yang pernah ada


Perjumpaan hanyalah musim yang singgah

Luruh bersama embun di pucuk waktu

Menyisakan aroma pada lembar ingatan

Sebagai jejak yang tak perlu dicari


Bila nanti kau kembali bertandang

Jangan mencari senyum yang lama

Ia telah menjadi bahasa langit

Yang hanya dikenang tanpa dipanggil


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

25 Juni 2026

Menyimpan dalam Kata

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Barangkali aku memilih menulis

Karena waktu pandai membawa pergi

Sedangkan aksara yang kutinggalkan

Selalu punya cara untuk abadi


Tak semua rasa sanggup diucapkan

Tak semua rindu dapat disampaikan

Ada yang memilih hidup dalam diam

Terkurung rapi di lembar yang kutuliskan


Manusia datang lalu berlalu

Meninggalkan jejak yang kian samar

Namun tulisan tetap setia menunggu

Menjaga kenangan agar tak pudar


Pada setiap kalimat yang lahir

Ada serpih diri yang kusimpan

Bukan untuk dipuja dunia

Melainkan untuk melawan kehilangan


Mungkin suatu hari semua berubah

Jarak menjadikan kita asing

Tetapi kata tak pernah berpindah

Ia menetap dalam sunyi yang bening


Aku percaya setiap tulisan

Adalah rumah bagi sebuah rasa

Tempat yang tak dapat disentuh waktu

Meski musim terus berganti arah


Maka jika kelak kau bertanya

Mengapa aku begitu gemar menulis

Jawabannya sesederhana ini

Aku ingin merawat apa yang nyaris habis


Sebab kenangan pasti memudar

Dan perjumpaan punya akhirnya

Namun selama kata masih bernapas

Akan selalu ada yang tetap hidup di dalamnya


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

24 Juni 2026

Putri Kecil di Hati Ayah

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Di genggaman tangan yang dahulu hangat

Aku belajar melangkah tanpa takut

Langkah kecilku yang sering tersesat

Kau arahkan perlahan tanpa pernah mengeluh


Suaramu tenang, tak pernah meninggi

Namun ketegasannya selalu sampai di hati

Dari caramu diam aku mengerti

Bahwa cinta tak selalu harus terucap setiap hari


Aku putri kecil di hatimu, Ayah

Meski waktu terus berlari menjauh

Di matamu aku tetap sederhana dan indah

Walau dunia perlahan mulai mengubahku


Dahulu aku selalu ada di sampingmu

Tertawa tanpa beban di setiap waktu

Kini jarak dan usia menuntunku

Menjadi seseorang yang dahulu tak pernah kuketahui


Pelukanmu adalah rumah ternyaman

Tempat segala lelahku luruh

Namun kini aku belajar perlahan

Berdiri sendiri meski hatiku rapuh


Ayah, ada rindu yang tak selalu tersampaikan

Ada lelah yang tak ingin kutunjukkan

Karena aku tahu, di balik perhatian yang diam

Kau selalu menyimpan doa yang tak terucapkan


Saat aku jatuh dan hampir menyerah

Aku teringat wajahmu yang sederhana

Yang mengajarkanku arti ketabahan

Meski hidup tak selalu ramah menyapa


Ayah, jika suatu hari aku terlihat kuat

Percayalah, itu karena ajaranmu yang melekat

Jika aku mampu bertahan meski penat

Itu karena dahulu kau tak pernah menyerah saat keadaan berat


Namun ada sedih yang diam-diam tinggal

Saat aku tak lagi duduk lama di sampingmu

Saat waktu kita mulai terpisah oleh jarak dan kesibukan

Dan aku sibuk mengejar tujuan hidupku


Maaf jika aku mulai jarang pulang

Maaf jika tawaku tak lagi seperti dahulu

Bukan karena hatiku menghilang

Melainkan karena aku sedang belajar menjadi pribadi yang kauharapkan


Karena aku tak pernah benar-benar pergi

Aku hanya tumbuh, seperti yang kauajarkan

Meski langkahku kini berjalan jauh

Hatiku tetap kembali kepadamu setiap hari


Dan di setiap doa yang kupanjatkan dalam diam

Ada namamu yang selalu kusebut perlahan

Ada harapan yang tak pernah tenggelam

Untuk membuatmu bangga, walau perlahan


Suatu hari nanti, saat aku berhasil berdiri

Dengan segala luka yang pernah kulewati

Aku ingin kembali dan berkata dengan pasti

“Ayah, aku berhasil, seperti yang kaupercayai.”


Penulis: Zilfira 

 Editor: Chalisa Najla Safira

18 Juni 2026

Cahaya dari Pasai

Foto: Zahratul
www.lpmalkalam.com- 

Harummu, Nahrasiyah

Masih tercium dalam pusaran waktu

Menjelma akan nama universitas

Tempatku mencapai ilmu


Sultanah Pasai

Dengan tanda-tanda tak menyerah

Meski abad telah berganti rupa 
bahkan arah

Berapa abad telah berlalu?


Namun indah itu masih hidup membahana 

Dikenang bukan hanya oleh batu nisan

Juga oleh semangat perempuan yang ingin digdaya


Wahai putri Pasai

Pinjamkan sedikit keberanianmu

Kepada pembelajar

Yang masih belajar meneguhkan langkah

Di tengah gelombang zaman yang penuh dilema



Kudatangi makammu yang berukir ayat-ayat suci

Kuresapi tiap hurufnya seperti doa yang menuntun diri

Di antara hingarnya semesta

Aku mendengar bisikanmu:

"Berjuanglah, takhta sejati adalah ilmu dan keteguhan hati"


Sultanahku

Aku pun melangkah lagi

Menjunjung namamu di dada

Bukan sebagai legenda

Melainkan cahaya yang menuntun gagahnya 


Perempuan masa kini

Sultanahku, pada kebesaran namamu sejarah kerap

Berbicara, akan perempuan dengan perjuangan

Dengan keanggunan yang mencerdaskan


Penulis: Zahratul 

Editor: Chalisa Najla Safira

17 Juni 2026

Tentang Aku

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- 

Aku adalah kisah yang belum usai

Terpahat sunyi di lembar waktu

Harapku bersemi di celah retak

Mimpiku hidup di balik ragu

Dan aku tetap memilih melangkah


Aku bukan langit yang selalu terang

Kadang mendung memeluk langkahku

Hujan luruh tanpa memberi tanda

Namun pelangi tak pernah lupa pulang

Membawa warna untuk jiwaku


Aku menyimpan banyak kata

Yang tak sempat menjadi suara

Kubisikkan pada angin senja

Lalu kubiarkan langit menjaganya

Hingga waktu mengerti maknanya


Aku belajar dari kehilangan

Yang datang tanpa mengetuk pintu

Air mata pernah menjadi teman

Namun harapan tak pernah pergi

Ia tinggal di dalam dadaku


Aku melangkah tanpa tergesa

Mengejar mimpi dengan tenang

Meski jalan penuh kerikil

Aku percaya setiap jejak

Akan menemukan tujuannya


Aku bukan manusia sempurna

Aku hanya hati yang bertahan

Dengan rapuh yang kusembunyikan

Dan kuat yang terus kutumbuhkan

Di setiap pagi yang datang


Aku memuja cakrawala luas

Laut yang menyimpan rahasia

Dan senja yang mengajarkan pulang

Dari mereka aku belajar

bahwa indah lahir dari kesabaran


Aku adalah aku yang sederhana

Dengan luka yang menjadi aksara

Dengan mimpi yang tak pernah padam

Dan doa yang selalu kupeluk

Hingga semesta memanggil namaku


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

15 Juni 2026

Cinta dan Cita-Cita

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Almamater ini menjadi saksi dalam sebuah perjuangan

Dibasuhi keringat, disinari kerasnya kehidupan

Aku meniti masa depan yang penuh dengan ketegangan

Menggapai cita sembari berbagi kasih dalam sebuah ikatan


Sering kali malam tidak cukup panjang untuk menyelesaikan bab

Tugas tertumpuk hingga badan tertunduk dan terkantuk

Tetapi hangat pesan darimu selalu menjadi obat yang paling tajam

Menghilangkan keresahan saat dunia terasa begitu kejam


Sukses takkan datang dengan sendirinya

Ia menuntut waktu, air mata, dan keberanian untuk mencoba

Maka biarlah jarak dan kesibukan menjadi penguji yang utama

Berdoa agar rasa ini cukup kuat agar kita terus bersama


Jangan melepaskan genggam tanganku saat puncak terlihat tinggi

Sebab kau adalah tujuan saat aku kehilangan arah

Cita-cita ini memang tinggi, namun cintamu membuatku tetap teguh

Untuk terus bermimpi, meski langkah kaki harus bersimbah peluh


Penulis: Ilham Dwi Temas Miwa

Editor: Chalisa Najla Safira

Selamat Milad, Kampusku

 

Foto: Rizki Ramadhani

www.lpmalkalam.com- 

Kala itu, langit mulai merekah di atas gedung

Angin-angin yang berembus pun tak terhitung

Menjadi pertanda awal suksesnya puncak acara

Yang akan menjadi kenangan sepanjang masa


Sudut kampus yang biasanya bergema karena riuhnya 
setiap tempat

Seketika hening karena perayaan penuh khidmat

Bukan seremonial biasa,

Melainkan bentuk syukur atas bertambahnya usia


Kini, memasuki lima puluh tujuh usiamu

Telah banyak engkau mencetak sejarah dalam lingkup ilmu

Kau bukan hanya sekilas gedung raya, 

Melainkan rumah bagi insan yang ingin cendekia


Selamat milad, kampusku

Semoga semakin banyak peradaban yang lahir darimu

Tetaplah menjadi kawah candradimuka

Walau rintangan terkadang menerpa


Penulis: Rizky Ramadhani

Editor: Chalisa Najla Safira

11 Juni 2026

Di Balik Senja yang Kupandangi

Foto: Amanda Zuhra
www.lpmalkalam.com- 

​Aku berdiri di tepian pantai

Membiarkan kaki dibasuh buih 

Menatap matahari yang perlahan luruh meredup

Memasuki pelukan ufuk dengan tenang

Aku terpaku dalam keheningan senja yang syahdu


Di balik senja yang kupandangi ini 

Aku menemukan jejak yang kini jadi cahaya

Angin laut berbisik tenang membawa pesan
 
Meski beberapa nama telah dilarung waktu entah kemana

Mereka tetap menetap abadi di tiap aksara yang kutuliskan


​Aku berjalan bersama mereka merayakan hal sederhana

Dengan tawa yang masih bergema manis ditelinga 

Lalu, musim pun berganti dengan lembut

Membawa kita ke persimpangan jalan yang berbeda

Bukan untuk saling melupakan dalam kesedihan


Melainkan untuk mekar di taman kehidupan masing-masing

​Rindu datang seperti ombak yang hadir dengan hangat

Lalu kembali ke samudera sebagai pengingat diri

Bahwa keindahan memang tidak selalu harus digenggam erat

Cukup disyukuri keberadaannya dalam sanubari


​Aku juga tidak menyalahkan waktu yang telah berlalu

Pun tak memohon masa lalu untuk kembali lagi

Sebab, ada pertemuan yang hadir bukan untuk menetap

Melainkan untuk menjadi kompas yang mengajariku cara mencintai 

Hidup dengan lebih bijak di sisa waktu ini


​Dan jika senja kembali mengingatkanku pada mereka

Aku akan mengenangnya dengan benderang cahaya

Seperti langit yang menerima matahari tenggelam dengan syukur

Perpisahan hanyalah cara semesta memberi ruang

Untuk esok yang indah dan penuh dengan harapan


Sebab pada akhirnya yang berharga kini terasa

Bukan durasi singkat atau lama ia menetap

Melainkan sedalam apa jejak hangat yang tertinggal di jiwa

Maka di balik senja aku tak mengeja kehilangan

Melainkan alasan merayakan luasnya semesta


​Aku sungguh beruntung dipertemukan dengan mereka

Yang membuat duniaku jauh lebih berwarna lagi

Seperti cahaya yang hadir memberi warna indah

Cerita yang tersimpan abadi dalam ingatan ini

Menjadi kenangan manis dalam perjalanan hidup


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

07 Juni 2026

Pusingnya Tanpa Duit

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- 

Saku kering tak ada sepeser pun

Kepala terasa berdenyut, berat terasa

Segala kebutuhan menanti di depan mata

Namun tangan kosong tak mampu berbuat apa

 
Ingin makan, kantong tak punya bekal

Ingin berobat, di mana uang dicari

Setiap langkah terasa terhalang tembok tinggi

Pikiran melayang, bingung tak bertepi

 
Orang lain lewat tersenyum tenang

Sedang aku di sini menahan gelisah

Dunia terasa sempit, jalan seolah tertutup

Hanya doa dan harapan jadi pegangan jiwa

 
Walau pusing melanda hati dan pikiran

Aku takkan diam terus terpuruk

Cari rezeki dengan jalan yang lurus

Semoga esok hari nasib lebih terang benderang


Penulis: Muhammad Iftal

Editor: Chalisa Najla Safira

06 Juni 2026

Di Balik Luka yang Tersenyum

Foto: Pixels
www.lpmalkalamcom- 

Di wajah tenang tersimpan sunyi

Ada kisah lama yang belum pergi

Senyum itu tampak begitu indah

Namun bukan bahagia yang sedang ia rasa


Ia melangkah seperti biasa

Menyapa hari tanpa banyak bicara

Seolah hidupnya baik baik saja

Padahal di dalam dada tersimpan luka


Langkahnya ringan di mata dunia

Seakan tak pernah disentuh nestapa

Namun di balik tatap yang biasa

Terdapat retak yang tak terlihat siapa siapa


Ia belajar kuat dari waktu ke waktu

Meski lelah tak pernah benar benar berlalu

Ia simpan rapuh jauh di dalam kalbu

Dan menutup pilu dengan senyum yang syahdu


Tak semua ingin ia ceritakan

Tak semua luka perlu diungkapkan

Ada duka yang cukup dipeluk sendirian

Dalam sepi yang panjang dan menyesakkan


Malam menjadi tempatnya kembali

Saat dunia terlelap dan sunyi

Air mata jatuh tanpa saksi

Membasuh letih yang mengendap di hati


Namun pagi selalu datang menyapa

Membawa cahaya di sela luka

Ia rapikan kembali hatinya yang terluka

Lalu melangkah tanpa banyak bertanya


Di balik luka yang tersenyum hari ini

Masih ada harapan yang tetap menemani

Meski jalannya tak selalu mudah dilalui

Ia percaya bahagia akan datang menghampiri


Dan saat waktu menjawab segalanya

Tak ada lagi luka yang harus disembunyikan

Senyumnya bukan sekadar topeng belaka

Melainkan tanda bahwa ia telah menemukan ketenangan


Penulis: Zilfira

Editor: Redaksi


03 Juni 2026

Aku

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Aku

Aku ini siapa?

Aku datang dari mana?


Aku

hanyalah seorang hamba

seluruh tubuhku berlumuran dosa


Aku

jua sosok yang hina

yang mendamba surga

tanpa ingat siapa diriku sebenarnya


Aku, aku, dan aku

Hanya ciptaan Tuhan semata

makhluk-Nya yang paling pelupa

dengan amal yang tak seberapa

namun enggan dekat pada neraka


Aku

sekali lagi berkata

bahwa aku mendamba surga

Walau diri ini terus bertanya

siapakah sebenarnya aku?


Penulis: Luthfiatil Syaqirah 

Editor: Putri Ruqaiyah

30 Mei 2026

Catatan Kaki Perjuangan

Foto: Zahratul
www.lpmalkalam.com-

Di lembar-lembar makalah yang mulai lusuh

Kutemukan jejak tinta yang menggigil lelah

Ada coretan, ada silang merah

Dan tak jarang, sisa air mata yang diam-diam luruh


Di sana juga tertempel sisa-sisa semangat

Tak terlihat, tapi melekat

Hanya mataku yang mampu membaca luka-luka itu

Sebab mata lain terlalu sibuk menilai angka


Kucari inspirasi dalam debu buku-buku tua

Kubuka lembar-lembar baru yang masih wangi tinta

Kubaca bait demi bait

Mengejar pemikiran di antara catatan kaki


Wahai referensi

Bisakah sekali saja kau lahir dari hatiku

Bukan dari halaman yang dipaksakan


Agar nanti kukatakan pada dosen

“Bu, biarkan ini jadi ilham

Jangan lagi pulpenmu menyilang harapanku.”


Tapi apalah daya

Setelah semua ilham kutawarkan

Dunia ini masih menuntut dengan mata dingin


Kini aku mahasiswa

Sedang bertarung melawan malas, pesimis

Dan takdir yang menulis

Aku sebagai pengangguran

Setelah keluar dari gedung penuh janji ini

Tak kubiarkan kata-kata itu tumbuh jadi akar di benakku


Demi bara semangat yang kutemukan

Dari doa ayah dan ibu di kampung nun jauh di mata

Mereka hanya punya sepetak ladang

Namun cukup luas untuk menanam harapan

Mengantarkanku hingga ke bangku kuliah ini


Di antara inspirasi yang tercerai

Semangat yang nyaris habis

Kutitipkan harap

Semoga Allah berkenan

Memberkahi tiap jengkal perjuangan ini


Penulis: Zahratul

Editor: Chalisa Najla Safira

25 Mei 2026

Ruang Kerinduan

 

Foto: Pixabay

 www.lpmalkalam.com- 

Di dalam kamar, buku-buku usang mengepung malam

dengan secangkir kopi, rindu ini tetap gagal kuredam

ada harum masakan ibu yang singgah dalam ingatan

sementara tiket pulang ke kampung halaman berganti 

tugas dan ujian.

Kabar selalu kudapat lewat layar handphone yang 

berpijar

suara ibu dan ayah membuat hati semakin bergetar

aku ingin pulang, tetapi harus tertahan

di dalam doa dan kenyataan yang memang harus 

diperjuangkan.


Kampung tempat kulahir terasa begitu jauh

di atas kasur sunyi, lelah perlahan runtuh

Ibu, buah hatimu ini belum bisa kembali

karena ada cita-cita yang masih harus kubeli.



Penulis: Ilham Dwi Temas Miwa 

Editor: Putri Ruqaiyah

24 Mei 2026

Awan

 

Foto: Bellivia Al-Kamariana

www.lpmalkalam.com-

Di langit yang luas membiru,

awan berjalan tanpa ragu.

Kadang perlahan tertiup angin,

kadang berlari saat badai datang.


Pagi hari ia tampak cerah,

putih lembut seperti kapas.

Menghias langit dengan indah,

membuat hati terasa lepas.


Saat senja mulai menyapa,

awan berubah warna perlahan.

Jingga, merah, lalu keemasan,

seolah langit sedang melukis harapan.


Kadang awan juga menangis,

menurunkan hujan ke bumi.

Membasahi jalan yang kering,

menenangkan hati yang sepi.


Dari awan aku belajar,

tidak semua mendung itu buruk.

Sebab setelah hujan turun,

pelangi datang dengan cantik dan lembut.


Awan tidak pernah memilih tempat,

ia datang kepada siapa saja.

Di laut, gunung, maupun kota,

ia tetap setia menghiasi angkasa.


Aku suka memandang awan,

karena di sana banyak cerita.

Tentang mimpi yang belum tercapai,

tentang harapan yang masih dijaga.


Andai aku bisa seperti awan,

bebas melangkah tanpa beban.

Tetap tenang meski diterpa angin,

tetap indah walau terus berubah arah.


Langit dan awan seakan bersahabat,

saling menemani tanpa kata.

Dan aku hanyalah manusia kecil,

yang diam-diam kagum melihatnya.



Penulis: Bellivia Al-Kamariana

Editor: Zahratul

07 Januari 2026

Para Bedebah Oligarki

Foto: Media Indonesia 

www.lpmalkalam.com– 

Biarku bisikan pada algojo oligarki penguasa

Negeri nan elok ini sudah berkecamuk kala itu

Para kaparat duduk di atas kursi kuasa bebas hukum

Tak bergerak menanggapi seruan alam mematikan


Wahai para bedebah-bedebah sekalian

Kala nyawa sudah tak berharga bagimu tuan

Harapanku sudah kau buat mati ditelan dusta

Dusta akan ucapan keadaan sudah baik-baik saja


Kupandangi seonggok kayu digrogoti jamur angka

Ulah para bedebah oligarki kekuasaan tanah kosong

Dengan mengongkang kaki menutup mata dan telinga

Tak ada kepedulianmu atas imbas keserakahanmu


Sungguh elok rupamu kawan

Rupa yang menutup kejahatan

Rupa duka dipoles lakon dan kamera

Padahal kau adalah pelaku sebenarnya

Kini rakyat dan satwa menjemput ajalnya

ajal ulah sang bedebah oligarki


Penulis: Ririn Dayanti Harahap 
 

25 November 2025

Pelukan dari Dalam Diri

Foto: Pixabay.com

www.lpmalkalam.com

Ada hari-hari ketika aku menatap kaca,

bukan untuk melihat paras,

melainkan mencari alasan

mengapa aku layak tinggal di dunia ini.

Aku berdiri lama, diam,

seakan menunggu seseorang dari balik cermin

untuk berkata, “Hei, kamu cukup.”


Aku pernah membiarkan luka orang lain

menginjak harga diriku.

Aku menjadi terlalu baik

sampai lupa menanyakan pada diri sendiri,

“Apakah aku baik juga pada diriku?”


Aku pernah mencari cinta

di genggaman tangan yang tak ingin menggenggamku erat.

Aku berharap pelukan asing

dapat menyembuhkan patah hatiku sendiri,

tanpa kusadari bahwa pelukan paling tulus

mungkin justru berasal dari dada ini,

dari napasku yang masih setia pergi dan kembali.


Aku pernah letih mengejar standar yang tak kumengerti.

Selalu ingin dianggap hebat,

padahal aku hanya ingin diterima apa adanya.

Aku berdarah-darah membuktikan sesuatu

yang bahkan tak pernah kumau sejak awal.

Dan saat kelelahan itu menelan hatiku,

aku baru sadar:

aku tak sedang berlari demi mimpi,

aku sedang kabur dari diriku sendiri.


Namun di tengah gelap yang sunyi,

aku mulai berani bertanya:

“Apakah semua ini sepadan

jika akhirnya aku kehilangan diriku?”


Dari pertanyaan itu,

lahir keberanian untuk berhenti sementara.

Bukan karena menyerah,

tetapi karena aku ingin mengerti rasa sakitku sendiri.

Aku mulai berbicara pelan pada hati

yang selama ini kupaksa diam.

Dan untuk pertama kalinya,

aku menangis bukan karena lemah,

tetapi karena mulai berani jujur.


Perlahan, aku belajar menerima setiap retakanku.

Aku belajar bahwa tidak apa-apa

jika jalanku lebih lambat,

selama aku tetap melangkah.

Aku belajar bahwa tenang

lebih berarti daripada terlihat sempurna.

Aku belajar bahwa membahagiakan diri

bukan dosa, melainkan kewajiban.


Aku belajar menepuk pundakku sendiri

dan berkata, “Terima kasih, kamu sudah bertahan sejauh ini.”

Aku mulai mencintai kelelahan yang kupunya,

karena itu bukti bahwa aku berjuang.

Aku mulai memeluk setiap kecewa,

karena di baliknya tumbuh keikhlasan.


Kini, aku sedang membangun rumah

dari doa, penerimaan, dan harapan.

Bukan rumah mewah yang butuh pengakuan,

tetapi rumah yang hangat untuk jiwaku pulang kapan saja.


Di rumah itu, aku tidak harus kuat setiap waktu.

Aku bisa menangis tanpa takut dihakimi.

Aku bisa tertawa meski tak sempurna.

Aku bisa menjadi versi diriku

tanpa perlu menyamar menjadi orang lain.


Hari ini, aku belum selesai.

Aku masih rapuh, masih belajar,

masih menyusun serpih-serpih percaya pada diri.

Namun kini aku tahu,

meski terlambat pun tak masalah,

karena aku akhirnya pulang.


Pulang ke dalam diri

tempat cinta yang asli tumbuh,

dan tempat aku akhirnya mengerti

bahwa aku layak dicintai,

bahkan oleh diriku sendiri.


Penulis: Daffa Alkausar (Magang)

Editor: Putri Ruqaiyah

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.