![]() |
| Foto: Pixels |
Foto: Muhammad Rahul Gonzales www.lpmalkalam.com- Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri (UIN)...
![]() |
| Foto: Pixels |
![]() |
| Foto: Rizki Ramadhani |
![]() |
| Foto: Pixels |
Di wajah tenang tersimpan sunyi
Ada kisah lama yang belum pergi
Senyum itu tampak begitu indah
Namun bukan bahagia yang sedang ia rasa
Ia melangkah seperti biasa
Menyapa hari tanpa banyak bicara
Seolah hidupnya baik baik saja
Padahal di dalam dada tersimpan luka
Langkahnya ringan di mata dunia
Seakan tak pernah disentuh nestapa
Namun di balik tatap yang biasa
Terdapat retak yang tak terlihat siapa siapa
Ia belajar kuat dari waktu ke waktu
Meski lelah tak pernah benar benar berlalu
Ia simpan rapuh jauh di dalam kalbu
Dan menutup pilu dengan senyum yang syahdu
Tak semua ingin ia ceritakan
Tak semua luka perlu diungkapkan
Ada duka yang cukup dipeluk sendirian
Dalam sepi yang panjang dan menyesakkan
Malam menjadi tempatnya kembali
Saat dunia terlelap dan sunyi
Air mata jatuh tanpa saksi
Membasuh letih yang mengendap di hati
Namun pagi selalu datang menyapa
Membawa cahaya di sela luka
Ia rapikan kembali hatinya yang terluka
Lalu melangkah tanpa banyak bertanya
Di balik luka yang tersenyum hari ini
Masih ada harapan yang tetap menemani
Meski jalannya tak selalu mudah dilalui
Ia percaya bahagia akan datang menghampiri
Dan saat waktu menjawab segalanya
Tak ada lagi luka yang harus disembunyikan
Senyumnya bukan sekadar topeng belaka
Melainkan tanda bahwa ia telah menemukan ketenangan
Penulis: Zilfira
Editor: Redaksi
![]() |
| Foto: Pixabay |
![]() |
| Foto: Zahratul |
![]() |
| Foto: Pixabay |
![]() |
| Foto: Bellivia Al-Kamariana |
![]() |
| Foto: Media Indonesia |
Biarku bisikan pada algojo oligarki penguasa
Negeri nan elok ini sudah berkecamuk kala itu
Para kaparat duduk di atas kursi kuasa bebas hukum
Tak bergerak menanggapi seruan alam mematikan
Wahai para bedebah-bedebah sekalian
Kala nyawa sudah tak berharga bagimu tuan
Harapanku sudah kau buat mati ditelan dusta
Dusta akan ucapan keadaan sudah baik-baik saja
Kupandangi seonggok kayu digrogoti jamur angka
Ulah para bedebah oligarki kekuasaan tanah kosong
Dengan mengongkang kaki menutup mata dan telinga
Tak ada kepedulianmu atas imbas keserakahanmu
Sungguh elok rupamu kawan
Rupa yang menutup kejahatan
Rupa duka dipoles lakon dan kamera
Padahal kau adalah pelaku sebenarnya
Kini rakyat dan satwa menjemput ajalnya
ajal ulah sang bedebah oligarki
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
Ada hari-hari ketika aku menatap kaca,
bukan untuk melihat paras,
melainkan mencari alasan
mengapa aku layak tinggal di dunia ini.
Aku berdiri lama, diam,
seakan menunggu seseorang dari balik cermin
untuk berkata, “Hei, kamu cukup.”
Aku pernah membiarkan luka orang lain
menginjak harga diriku.
Aku menjadi terlalu baik
sampai lupa menanyakan pada diri sendiri,
“Apakah aku baik juga pada diriku?”
Aku pernah mencari cinta
di genggaman tangan yang tak ingin menggenggamku erat.
Aku berharap pelukan asing
dapat menyembuhkan patah hatiku sendiri,
tanpa kusadari bahwa pelukan paling tulus
mungkin justru berasal dari dada ini,
dari napasku yang masih setia pergi dan kembali.
Aku pernah letih mengejar standar yang tak kumengerti.
Selalu ingin dianggap hebat,
padahal aku hanya ingin diterima apa adanya.
Aku berdarah-darah membuktikan sesuatu
yang bahkan tak pernah kumau sejak awal.
Dan saat kelelahan itu menelan hatiku,
aku baru sadar:
aku tak sedang berlari demi mimpi,
aku sedang kabur dari diriku sendiri.
Namun di tengah gelap yang sunyi,
aku mulai berani bertanya:
“Apakah semua ini sepadan
jika akhirnya aku kehilangan diriku?”
Dari pertanyaan itu,
lahir keberanian untuk berhenti sementara.
Bukan karena menyerah,
tetapi karena aku ingin mengerti rasa sakitku sendiri.
Aku mulai berbicara pelan pada hati
yang selama ini kupaksa diam.
Dan untuk pertama kalinya,
aku menangis bukan karena lemah,
tetapi karena mulai berani jujur.
Perlahan, aku belajar menerima setiap retakanku.
Aku belajar bahwa tidak apa-apa
jika jalanku lebih lambat,
selama aku tetap melangkah.
Aku belajar bahwa tenang
lebih berarti daripada terlihat sempurna.
Aku belajar bahwa membahagiakan diri
bukan dosa, melainkan kewajiban.
Aku belajar menepuk pundakku sendiri
dan berkata, “Terima kasih, kamu sudah bertahan sejauh ini.”
Aku mulai mencintai kelelahan yang kupunya,
karena itu bukti bahwa aku berjuang.
Aku mulai memeluk setiap kecewa,
karena di baliknya tumbuh keikhlasan.
Kini, aku sedang membangun rumah
dari doa, penerimaan, dan harapan.
Bukan rumah mewah yang butuh pengakuan,
tetapi rumah yang hangat untuk jiwaku pulang kapan saja.
Di rumah itu, aku tidak harus kuat setiap waktu.
Aku bisa menangis tanpa takut dihakimi.
Aku bisa tertawa meski tak sempurna.
Aku bisa menjadi versi diriku
tanpa perlu menyamar menjadi orang lain.
Hari ini, aku belum selesai.
Aku masih rapuh, masih belajar,
masih menyusun serpih-serpih percaya pada diri.
Namun kini aku tahu,
meski terlambat pun tak masalah,
karena aku akhirnya pulang.
Pulang ke dalam diri
tempat cinta yang asli tumbuh,
dan tempat aku akhirnya mengerti
bahwa aku layak dicintai,
bahkan oleh diriku sendiri.
Penulis: Daffa Alkausar (Magang)