![]() |
| Foto: Annisa Maulianda |
HEADLINE
22 Agustus 2026
01 Maret 2026
Ramadan di Mereudu: War Takjil semarakkan Kawasan Pidie Jaya
![]() |
| foto: Intan Sarifah |
Di sekitar Pasar Mereudu hingga sepanjang jalan, para pedagang mulai membuka lapak sejak pukul 15.00 WIB. Mereka menawarkan berbagai jenis makanan, mulai dari makanan khas Aceh seperti lontong kari, mi caluk, mi Aceh, dan lemang, hingga aneka takjil seperti gorengan, es teler, es buah, dan lain-lain. Suasana penuh kegembiraan sudah terasa sejak siang hingga menjelang waktu berbuka puasa.
Menjelang waktu berbuka, semakin banyak warga berdatangan untuk membeli takjil, baik untuk dikonsumsi langsung maupun dibawa pulang. Kegiatan berburu takjil ini juga dapat mempererat tali silaturahmi antarwarga karena beberapa pedagang menyediakan tempat duduk sederhana. Di sanalah warga dapat saling bertukar kabar sambil menunggu waktu berbuka.
Suasana ramai namun tetap tertib ini telah menjadi ciri khas Mereudu setiap bulan Ramadan. Aroma beragam takjil yang lezat serta suara tawa dan sapaan warga semakin memperkuat nuansa kebersamaan dan keberkahan.
Penulis: Intan Sarifah
16 Februari 2026
Dari Langkah Tanpa Rencana, Latar Keluarga Sederhana, hingga Menjadi Presiden Mahasiswa dan Lulus Sarjana
![]() |
| Foto: IST |
25 November 2025
Cakru LPM Al-Kalam Mengikuti Kegiatan Pelatihan Jurnalistik dan Pekan Kebudayaan Daerah Mahasiswa dengan Antusias
![]() |
| Foto: Fika Munayya |
Bagi penulis, acara ini bukanlah kegiatan biasa. Penulis menganggap pelatihan ini sebagai kesempatan untuk memperoleh dan memahami ilmu-ilmu jurnalistik yang disampaikan langsung oleh para jurnalis profesional. Di sini, para peserta dapat bertanya secara langsung mengenai hal-hal yang ingin mereka ketahui dan pelajari terkait dunia penulisan jurnalistik.
Acara berlangsung dengan lancar. Berbagai peserta aktif bertanya kepada pemateri selama kegiatan ini berlangsung. Jam mulai menunjukkan pukul 11.00, menandakan bahwa acara telah berlangsung cukup lama tanpa terasa. Penulis tersenyum bahagia. Ia berharap suatu saat nanti dapat kembali bertemu dengan para jurnalis hebat untuk terus mencari ilmu tentang jurnalistik. Penulis juga yakin akan ada banyak cerita bermakna yang akan ia temui di hari-hari mendatang.
Penulis: Cut Saputri (Magang)
14 November 2025
Ketika Hobi Jadi Rezeki
![]() |
| Foto: Razwa Syuib (magang) |
Ketika aku bertanya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu karya, ibu itu hanya tersenyum dan bilang, ”Tergantung nak. Kalau gantungan, ga lama buatnya, paling sejaman. Kalau kotak tisu kaktus, itu bisa sehari, soalnya agak rumit." Setiap hasil rajutannya punya bentuk dan fugsi berbeda-beda, ada gantungan mobil, tempat tisu, dompet, dan lainnya. Uniknya, pembeli yang datang kebanyakan dari luar daerah, misalnya dari jakarta yang beli buat oleh-oleh karena bentuknya lucu dan beda dari yang lain.
Dari cerita ibu itu, aku jadi sadar bahwa sesuatu yang kita suka bisa jadi jalan rezeki kalau ditekuni. Hobi yang awalnya cuma buat senang-senang malah bisa bantu ekonomi keluarga. Di zaman sekarang, karya buatan tangan seperti ini, justru punya nilai tersendiri karena di buat dengan sabar dan penuh cinta. Makanya, penting banget buat kita menghargai dan mendukung para pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang berkreasi dari hal-hal sederhana seperti merajut.
Penulis: Razwa Syuib (Magang)
Editor: Tiara Khalisna
03 November 2025
Waduk Jeulikat Lhokseumawe Terbengkalai, Warga Harap Pemerintah Turun Tangan
![]() |
| Foto: Daffa Alkausar (magang) |
Waduk Jeulikat mulai dibangun pada tahun 2014 dan resmi beroperasi pada 2016. Pada masa awal pembukaan, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan lokal hingga luar daerah karena menawarkan pemandangan indah dan suasana tenang. Kawasan wisata tersebut juga dilengkapi fasilitas seperti bebek dayung, jembatan, dan taman bunga yang menjadi daya tarik utama pengunjung.
Namun, sejak pandemi Covid-19 melanda pada 2019, aktivitas wisata di waduk tersebut terhenti total. Tidak ada lagi pengunjung, dan pengelolaan pun berhenti karena keterbatasan dana. Akibatnya, fasilitas rusak, tumbuhan liar menutupi sebagian area, dan waduk berubah menjadi kawasan sunyi tanpa aktivitas.
Salah seorang pengunjung asal Aceh Tamiang, Samsiah, mengaku kecewa setelah melihat langsung kondisi Waduk Jeulikat. “Waktu saya lihat di Google Maps itu bagus, tapi setelah datang ke lokasi, sangat mengecewakan. Sunyi, tidak terawat, dan tampak berantakan. Jadi saya tidak tertarik lagi,” ujarnya.
Kondisi waduk yang tidak terurus itu juga menimbulkan kekhawatiran warga sekitar. Minimnya pengawasan membuat kawasan tersebut berisiko menjadi lokasi berbahaya, bahkan sempat menelan korban jiwa akibat area yang tidak terjaga.
Penjaga waduk, Mirsa Arianda, menjelaskan bahwa Waduk Jeulikat bukan milik pemerintah daerah, melainkan milik pribadi. Hal tersebut membuat pengelolaan dan pembiayaan sepenuhnya bergantung pada pemilik. “Sebenarnya waduk ini bukan ditelantarkan, tapi berhenti beroperasi sejak pandemi karena tidak ada pengunjung. Setelah itu, dana pengelolaan habis, jadi tidak bisa lagi membayar petugas dan menjaga kebersihan,” jelasnya.
Mirsa menambahkan, pemilik waduk kini berencana menghidupkan kembali kawasan wisata tersebut. “Ada rencana untuk membangun ulang dan menata kembali area wisata ini. Kami menunggu waktu dan kondisi yang tepat agar bisa dikelola kembali secara aman dan baik,” ujarnya dengan optimistis.
Meski terbengkalai, Waduk Jeulikat masih menyimpan potensi besar. Pemandangan alam yang dikelilingi perbukitan hijau menawarkan keindahan yang layak dikembangkan kembali. Warga berharap agar Pemerintah Kota Lhokseumawe dapat memberikan perhatian lebih, baik melalui kerja sama, pendampingan, maupun promosi wisata. “Dengan penataan ulang dan dukungan yang tepat, Waduk Jeulikat berpotensi kembali menjadi destinasi unggulan Lhokseumawe bukan hanya untuk rekreasi, tetapi juga sebagai sumber ekonomi baru bagi masyarakat setempat melalui usaha kecil dan layanan wisata,” harap salah satu warga sekitar.
Penulis: Intan Sarifah, Daffa Alkausar, Muhammad Iftal, Luthfiatil Syaqirah (magang)
Editor: Putri Ruqaiyah
29 Oktober 2025
Bazar F-AERO: Wadah bagi Para Pedagang dan Mahasiswa untuk Meningkatkan Skill Berwirausaha
![]() |
| Foto: Rizky Ramadhani (Magang) |
Seluruh pedagang dan mahasiswa lainnya ikut memeriahkan acara ini dan bahkan beberapa mahasiswa berpartisipasi untuk turun langsung berjualan. Barang yang dijual pun beraneka ragam, sesuai dengan kebutuhan anak muda zaman sekarang.
Acara ini menjadi wadah bagi para pedagang dan mahasiswa dalam memajukan Unit Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta menjadi tempat untuk melatih kreativitas mahasiswa dalam berwirausaha. Hal tersebut merupakan wujud dari tujuan organisasi mahasiswa yang dapat memberikan kontribusi. Dari hal tersebut terciptalah dampak positif yang akan berdampak untuk masyarakat.
Melalui acara ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam meningkatkan keterampilan berwirausaha sekaligus mempererat silahturahmi antar pedagang dengan mahasiswa. "Semoga semakin maju dan semakin sukses lagi acara ini untuk ke depannya serta semoga hasil jualan kami bisa laku keras," ujar salah satu mahasiswa yang turut bergabung dalam kegiatan ini.
Penulis: Rizky Ramadhani (Magang)
Editor: Zuhra
Santri Masa Kini: Cerdas, Unggul, dan Tangguh dalam Akhlak
![]() |
| Foto: Intan Sarifah (Magang) |
Semangat itu tampak nyata dalam kegiatan Musabaqah Jami’ah yang digelar oleh Ma’had Al-Jami’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe. Lomba yang meliputi Musabaqah Baca Kitab Kuning, Debat Bahasa Arab, dan Debat Bahasa Inggris ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi cerminan bahwa santri masa kini tidak hanya berkutat pada kitab kuning, melainkan juga mampu menguasai bahasa dan berpikir kritis.
Tema yang diusung, “Santri Cerdas Literasi Turats, Unggul Berdebat, dan Tangguh dalam Akhlak,” mengandung pesan yang sangat relevan. Santri dituntut untuk tidak kehilangan akar tradisi keilmuan Islam (turats), tetapi juga harus berani menatap dunia luar dengan kemampuan intelektual dan keterampilan global.
Kecerdasan literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca teks klasik, tetapi juga memahami konteks zaman. Penguasaan bahasa Arab dan Inggris menjadi bukti bahwa santri siap berdialog dengan dunia, menyampaikan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tengah arus globalisasi yang sering kali menantang moralitas dan akhlak.
Namun, di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, santri harus tetap tangguh menjaga akhlak. Ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan generasi pintar yang kehilangan arah. Di sinilah letak keistimewaan seorang santri: ilmu dan adab berjalan seiring, bukan saling meniadakan.
Perayaan Hari Santri seharusnya menjadi refleksi, bukan hanya peringatan. Sudah sejauh mana santri berperan di masyarakat? Apakah santri hanya menjadi simbol kesalehan, atau benar-benar menjadi agen perubahan sosial?
Jika santri mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas, antara ilmu dan akhlak, maka tidak diragukan lagi — merekalah generasi yang akan membawa cahaya Islam ke tengah kegelapan zaman.
24 Oktober 2025
BKI Saweu: Melindungi Generasi Muda dari Bullying dan Kekerasan dengan Edukasi Konseling
![]() |
| Foto: IST |
Fokus pada materi yang dipilih berupa bullying, keamanan seksual, dan etika menghargai guru, bukan hanya sekadar tema yang populer tetapi respons terhadap realitas sosial yang mendesak. Program BKI Saweu memahami urgensi ini dan mengemas ilmu konseling yang sering terasa berat dan akademis menjadi edukasi yang aplikatif, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
1. Lebih dari Sekadar Program Pengabdian Masyarakat
BKI Saweu menciptakan ekosistem perlindungan anak yang inklusif. Program ini tidak hanya mengedukasi, tetapi juga membuka ruang dialog di mana anak-anak merasa aman untuk bertanya, berbagi, dan belajar mengenali risiko tanpa stigma. Dalam jangka panjang, dampaknya bisa jauh melampaui sesi edukasi: anak-anak yang terliterasi dengan baik tentang batasan diri dan hak-hak mereka akan tumbuh menjadi individu yang lebih tangguh, kritis, dan mampu melindungi diri sendiri maupun orang lain.
2. Model Program Kemahasiswaan yang Inspiratif
BKI Saweu layak menjadi model bagi program kemahasiswaan lainnya, ia membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan menara gading, melainkan sumber daya yang harus mengalir ke masyarakat. Ketika ilmu konseling dibawa keluar dari ruang kelas dan diterjemahkan menjadi aksi nyata, di situlah perubahan sosial yang bermakna dimulai.
Penulis: Cut Saputri (Magang)
Editor: Zuhra
23 Oktober 2025
Peugah Haba Energi Aceh dan Harapan Baru
![]() |
| Foto: Intan Sarifah (Magang) |
Tema yang diangkat, yaitu “Potensi dan Strategi Pengelolaan Migas Aceh dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Regional dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat” menegaskan bahwa energi bukan hanya soal produksi minyak dan gas, tetapi juga bagaimana pengelolaannya dapat memberi dampak nyata terhadap kesejahteraan rakyat. Kehadiran Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Aceh sebagai inisiator menunjukkan bahwa mahasiswa ingin mengambil bagian dalam membangun paradigma energi yang berkeadilan, transparan, dan berkelanjutan.
Dari suasana acara terlihat bahwa ruang ini bukan hanya tempat bertanya, tetapi juga tempat lahirnya kesadaran kolektif: Aceh memiliki potensi besar, namun tanpa pengelolaan yang tepat, kekayaan migas hanya akan menjadi angka dalam laporan tanpa menyentuh kehidupan masyarakat. Diskusi semacam ini menjadi penting karena membuka cakrawala mahasiswa tentang hubungan strategis antara energi dan ekonomi regional. Mahasiswa yang hadir bukan hanya sebagai pendengar, tetapi juga sebagai agen perubahan yang akan mengawal agar pengelolaan energi Aceh tidak jatuh pada eksploitasi tanpa keberpihakan.
Melalui acara ini, terbentuklah jembatan antara ilmu, kesadaran sosial, dan aksi. Jika kesadaran ini terus dijaga, maka generasi muda Aceh tidak hanya menjadi saksi atas eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga menjadi bagian dari pengelolaannya yang adil dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Kini, tugas utama mahasiswa adalah menjaga agar semangat ini tidak berhenti di ruang seminar, melainkan terus hidup dalam langkah-langkah nyata menuju kemandirian energi Aceh yang berkelanjutan.
Penulis: Daffa Alkausar (Magang)
14 Oktober 2025
Buku Cetak vs Digital: Pilihan Membaca Mahasiswa di Era Modern
![]() |
| Foto: Pexels |
Bagi sebagian mahasiswa, membaca lewat aplikasi digital lebih disukai karena praktis dan tidak membutuhkan biaya tambahan. Inayah Assyifa, mahasiswa semester 1, mengaku lebih nyaman membaca secara digital.
“Lewat aplikasi digital karena tidak harus membayar, kalau buku kan harus beli dulu dan bisa saja rusak. Selain itu, lebih mempermudah saat ingin membaca karena nggak perlu repot bawa buku lagi,” ujarnya.
Meski demikian, Inayah juga menyadari risiko dari kebiasaan membaca digital. “HP itu ada radiasinya, bisa bikin mata cepat rusak kalau terlalu lama dipakai,” tambahnya.
Di sisi lain, ada juga mahasiswa yang tetap setia dengan buku cetak. Yuli Sabila Geubrina, mahasiswa semester 3, mengaku lebih nyaman membaca dari buku cetak.
“Aku lebih suka baca buku cetak karena lebih nyaman. Dari kecil udah terbiasa baca buku, apalagi dulu buku pelajaran pasti bentuknya cetak. Sejak SMP juga sering baca cerita atau novel. Menurutku, kalau baca buku cetak lebih mudah konsentrasi, dan gampang kalau mau tandai bagian yang sudah dibaca,” jelasnya.
Menurut Yuli, tren membaca digital wajar saja karena lebih praktis dan mudah diakses. Namun, ia menegaskan bahwa buku cetak tetap memiliki keistimewaan tersendiri.
“Menurutku wajar aja kalau digital lebih praktis. Tapi tetap ada sisi positif dari buku cetak, karena pengalaman membacanya beda dan lebih berkesan,” ujarnya.
Fenomena perbedaan preferensi ini menunjukkan adanya kelebihan dan kekurangan pada masing-masing media. Membaca digital menawarkan kemudahan, akses cepat, dan biaya lebih murah, namun berisiko membuat mata cepat lelah serta mengurangi fokus. Sementara itu, membaca buku cetak memberikan kenyamanan, konsentrasi lebih baik, serta pengalaman yang lebih berkesan, meski cenderung lebih mahal dan kurang praktis dibawa ke mana-mana.
Dengan semakin berkembangnya era digital, pergeseran budaya membaca ini menegaskan bahwa literasi mahasiswa kian beragam. Pilihan antara buku cetak maupun digital kembali pada kenyamanan masing-masing individu. Yang terpenting, semangat literasi tetap terjaga agar budaya membaca terus tumbuh seiring dengan kemampuan generasi muda beradaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dari pengalaman membaca itu sendiri.
Penulis: Amanda Zuhra
23 September 2025
Aceh Multikultural: Mengungkap Warisan Toleransi di Balik Lensa Sejarah
![]() |
| Foto: Raisa Salsabiila |
Aceh, sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, kerap dipandang dari luar sebagai wilayah yang keras dan tertutup. Gambaran ini diperkuat dengan jejak sejarah seperti pemberontakan dan konflik bersenjata. Meski begitu, jika kita melihat lebih jauh melalui sisi budaya dan sejarahnya, Aceh justru memiliki warisan toleransi yang panjang dan kaya, yang bisa menjadi sumber inspirasi berharga bagi bangsa Indonesia hari ini.
Letak geografis Aceh yang berada di ujung barat Nusantara menjadikannya pintu gerbang penting jalur perdagangan dunia. Sejak abad ke-9, ketika kerajaan Islam Perlak berdiri, kemudian Samudera Pasai pada abad ke-13, hingga Aceh Darussalam pada abad ke-16, pelabuhan-pelabuhan di kawasan ini ramai dikunjungi pedagang dari Arab, Turki, Persia, India, Tiongkok, dan juga Eropa. Pertemuan lintas bangsa tersebut tidak hanya membawa komoditas dagang, tetapi juga melahirkan akulturasi budaya yang memperkuat sikap terbuka masyarakat. Para penguasa Aceh memahami benar bahwa perdagangan, diplomasi, dan penyebaran agama saling terkait. Karena itu, kitab-kitab agama diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu-Jawi agar dapat dipahami berbagai kalangan, sementara ulama dari mancanegara ikut menetap di Aceh dan memperkaya tradisi intelektual setempat.
Puncak kejayaan Aceh terjadi pada abad ke-17 di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu, Aceh bukan hanya kekuatan maritim yang disegani, tetapi juga pusat diplomasi regional. Banda Aceh berkembang sebagai kota kosmopolitan yang dihuni beragam komunitas. Catatan para pelancong menyebut adanya kampung-kampung etnis seperti Gampong Jawa, Gampong Keudah, dan Surin. Bahkan beberapa sultan berasal dari luar, seperti keturunan Arab maupun Bugis, dan hal itu diterima secara terbuka oleh rakyat Aceh. Kondisi ini menggambarkan keterbukaan Aceh terhadap perbedaan, sesuatu yang jarang ditemui di kerajaan lain pada masa itu.
Dalam aspek keagamaan, jejak toleransi juga jelas terlihat. Walaupun Islam menjadi identitas mayoritas, agama lain tetap diberi ruang. Pada abad ke-19, Belanda membangun rumah ibadah seperti Gereja Katolik Hati Kudus (dikenal dengan sebutan Gereja Ayam) dan gereja Protestan Indische Kerk, yang kemudian berkembang menjadi GPIB Banda Aceh. Hingga kini, bangunan-bangunan itu masih berdiri kokoh. Tidak ada upaya menghapus atau meruntuhkannya, justru dirawat sebagai bagian dari mosaik budaya. Fakta ini menunjukkan bahwa Aceh mampu menjaga simbol-simbol keragaman, meski pernah dilanda konflik.
Toleransi di Aceh bahkan melampaui sekadar hidup berdampingan. Contoh menarik adalah diplomasi “lada sicupak” dengan Turki Utsmani pada abad ke-16. Kerja sama ini tidak hanya memperkuat perekonomian, tetapi juga mempererat hubungan antarbangsa. Tradisi keterbukaan semacam ini membuat Aceh semakin kaya secara budaya sekaligus berperan penting di kancah internasional.
Dari sejarah panjang itu, jelas bahwa toleransi di Aceh bukan sekedar teori, melainkan bagian dari praktik kehidupan sehari-hari. Sering kali Aceh dicap intoleran, padahal sejarahnya membuktikan sebaliknya, masyarakat di sana telah hidup berdampingan dengan bangsa dan agama lain selama berabad-abad. Dari sini kita bisa belajar bahwa toleransi tidak cukup hanya berarti saling membiarkan, melainkan juga pengakuan hak, penghormatan atas perbedaan, dan kerja sama aktif.
Aceh pada hakikatnya menjadi bukti bahwa identitas Islam yang kuat tidak menutup peluang untuk hidup harmonis dengan keberagaman. Dari pelabuhan yang kosmopolitan, keberadaan rumah ibadah lintas agama, hingga hubungan diplomasi internasional, semuanya menunjukkan wajah Aceh yang plural, terbuka, dan penuh kearifan. Semangat toleransi yang diwariskan sejak ratusan tahun silam bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi energi moral yang tetap relevan bagi Indonesia masa kini. Jika diwarisi dan dipraktikkan secara konsisten, nilai-nilai toleransi Aceh dapat menjadi fondasi penting bagi persatuan bangsa dalam menghadapi tantangan global.
Penulis: Raisa Salsabiila
31 Agustus 2025
Organisasi Itu Seru! Kisah Kebersamaan Pramuka dan LPM Al-Kalam di PBAK 2025
![]() |
| Dok: LPM Al-Kalam |
Selama tiga hari rangkaian PBAK berlangsung, kedua organisasi ini berhasil menghadirkan suasana yang menyenangkan di sela-sela kegiatan mahasiswa baru. Stand open recruitment menjadi salah satu momen yang penuh warna. Bukan sekadar ajang memperkenalkan diri, tetapi juga ruang untuk berbagi energi positif kepada mahasiswa baru.
Di akhir kegiatan, puncak kebersamaan semakin terasa ketika Pramuka dan LPM Al-Kalam berkolaborasi berjualan bersama. Suasana yang penuh tawa, kerja sama, dan kreativitas menjadi bukti nyata bahwa organisasi adalah ruang kebersamaan yang tak kalah penting dibandingkan ruang belajar di kelas.
![]() |
| Dok: LPM Al-Kalam |
Dewan Ketua Racana Pramuka UIN SUNA, baik Ketua Putra, Deni Prayogi, maupun Ketua Putri, Dewi Prilia Wulandari bersama Pemimpin Umum LPM Al-Kalam Muhammad Syahru menegaskan komitmennya untuk mengajak seluruh mahasiswa baru 2025 aktif dalam organisasi apapun bentuknya.
“Organisasi adalah ruang untuk melatih diri, menempa karakter, dan tentu saja tetap tegak lurus dalam belajar serta menjunjung tinggi kebenaran,” tegas mereka.
Melalui kebersamaan seperti ini, PBAK bukan hanya menjadi ajang perkenalan kampus, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan semangat berorganisasi, berkolaborasi, dan membangun solidaritas antar mahasiswa.
Penulis: M. Syukri Rizki Hamdalah, Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Rilisan
14 Agustus 2025
Daun Sirsak, Si Hijau yang Menyimpan Banyak Khasiat
![]() |
| Foto: Pexels.com |
Secara ilmiah, sirsak mempunyai nama latin Annona muricata. Pohon ini biasanya tumbuh di daerah tropis, seperti Indonesia. Daun ini kaya akan senyawa bioaktif seperti acetogenin, tanin, flavonoid, dan alkaloid yang khususnya alkon aporfin, seperti annonamine yang terbukti secara ilmiah sebagai zat dengan antioksidan, antimikroba, antiradang, dan antikanker potensial. Penggunaan secara tradisional meliputi pengobatan demam, nyeri, gangguan pencernaan, dan infeksi kulit.
Manfaat daun sirsak sebagai berikut:
1. Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
Kandungan vitamin C dan antioksidan membantu melawan radikal bebas serta menjaga sistem imun agar tetap prima.
2. Membantu Menurunkan Tekanan Darah
Kandungan senyawa dalam daun sirsak dipercaya mampu melebarkan pembuluh darah dan melancarkan peredaran darah.
3. Mengurangi Nyeri Dan Peradangan
Rebusan daun sirsak bisa membantu meredakan rasa nyeri sendi dan pegal linu.
4. Mendukung Terapi Kanker
Banyak hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak daun sirsak mempunyai antikanker, walaupun penggunaannya harus bersamaan dengan saran medis.
5. Menjaga Kesehatan Pencernaan
Rutin mengonsumsi air rebusan daun sirsak secara teratur bisa membantu mengatasi masalah pencernaan seperti sembelit atau perut kembung.
Cara Membuat Ramuan Daun Sirsak
Bahan:
1. 5-10 lembar daun sirsak segar (pilihlah daun yang sudah tua tapi masih hijau)
2. 3 gelas air (± 750 ml)
Langkah pembuatan:
1. Bersihkan daun sirsak dengan mencucinya agar debu atau kotoran hilang
2. Masukkan daun sirsak ke dalam panci kemudian tambahkan 3 gelas air
3. Rebus dengan air kecil sampai air di panci tersisa kira-kira 1 gelas.
4. Saring air rebusan dan biarkan agak hangat
5. Minum 1 kali sehari atau sesuai anjuran, biasanya setelah makan.
Meskipun daun sirsak banyak manfaatnya, penggunaan untuk pengobatan sebaiknya di dampingi konsultasi dengan pihak medis, terutama untuk ibu hamil, menyusui, atau penderita penyakit kronis. “Alam menyediakan banyak obat, tapi kebijaksanaan manusia yang menentukan bagaimana kita memanfaatkannya.”
Penulis: Nadiyatul Rahimah Sinaga
Editor: Tiara Khalisna
07 Agustus 2025
Pante Kirau: Destinasi Wisata Ala-Ala Takengon
![]() |
| Foto: Nurul Fadilah |
Sebutan "Pante Kirau" sendiri belum begitu dikenal luas dan hanya populer di kalangan masyarakat tertentu. Nama lainnya yang lebih sering terdengar adalah Pante Bahagia.
Di destinasi wisata ini, pengunjung disuguhkan panorama keindahan sungai yang jernih dan berkelok-kelok, berpadu dengan pemandangan pegunungan di sekelilingnya yang memanjakan mata. Suasananya seolah-olah membawa kita ke Takengon, Aceh Tengah, yang memang terkenal dengan keindahan alamnya.
Dengan tiket masuk seharga Rp5.000, pengunjung sudah bisa merasakan serunya bermain di sungai. Fasilitas tempat istirahat dan parkir juga disediakan secara gratis. Untuk keamanan, pengunjung yang ingin berenang tidak perlu khawatir akan tenggelam karena tersedia jaket pelampung yang disewakan oleh para pedagang di lokasi. Jaket pelampung ini wajib digunakan sebagai langkah antisipasi terhadap hal-hal yang tidak diinginkan.
Selain itu, hanya dengan Rp15.000, pengunjung bisa menyewa ban pelampung untuk sensasi berenang yang lebih seru. Tidak hanya itu, destinasi ini juga menawarkan arung jeram dengan tarif yang sangat terjangkau, yakni hanya Rp25.000 per perahu.
Hingga saat ini, destinasi wisata yang dibuka pada awal April dan terus berkembang ini masih tergolong sangat ramai, terutama pada hari-hari libur. Pante Kirau menjadi salah satu ikon wisata baru di Aceh Utara yang ramai dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar daerah.
Ingin merasakan sensasi bermain di sungai seperti di Takengon? Pante Kirau solusinya! Nikmati keindahan panorama sungai layaknya di Takengon tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Penulis: Nurul Fadilah
27 Juli 2025
Air Laut Pasang di Ujong Blang: Sumber Kehidupan dan Pesona Alam Pesisir Lhokseumawe
![]() |
| Foto: Qurrata A'yuni |
www.lpmalkalam.com - Fenomena air laut pasang di Pantai Ujong Blang, Lhokseumawe, merupakan siklus alamiah yang terjadi akibat pengaruh gravitasi bulan dan matahari. Sebagai kawasan pesisir yang langsung berhadapan dengan Selat Malaka, Ujong Blang mengalami pasang surut laut secara rutin, dan hal ini telah menjadi bagian dari ritme kehidupan masyarakat setempat.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), prediksi pasang surut di wilayah Lhokseumawe, termasuk tinggi dan waktu pasang, didasarkan pada data astronomi seperti posisi matahari, bulan, dan bumi serta data hidrologi yang mencakup kedalaman laut dan topografi pantai.
![]() |
| Foto: Qurrata A'yuni |
Selain nilai ekonomi, air pasang juga menghadirkan daya tarik wisata. Banyak pengunjung datang untuk menikmati suasana pantai, berswafoto, atau bahkan berenang saat kondisi memungkinkan. Keindahan alam yang dipadu dengan aktivitas masyarakat lokal menjadikan Pantai Ujong Blang sebagai destinasi yang memikat, baik secara visual maupun budaya.
Secara keseluruhan, fenomena air laut pasang di Ujong Blang tidak hanya menjadi bagian dari keseharian masyarakat, tetapi juga berperan penting dalam keberlanjutan sosial, ekonomi, dan ekologi wilayah pesisir. Oleh karena itu, proses pengelolaan dan pemanfaatannya perlu terus diarahkan pada prinsip kehati-hatian dan pelestarian lingkungan, agar warisan alam ini tetap lestari bagi generasi mendatang.
Penulis: Qurrata A'yuni
Editor: Putri Ruqaiyah
18 Juni 2025
LGBT Menyerang, Muda-Mudi Dihadang: Respons Al-Qur'an terhadap Perilaku Fahisyah yang Dapat Merusak Moral Anak Bangsa
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
Karya: Galih Novdiantoro, Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe (Rilis)
Editor: Putri Ruqaiyah
22 Februari 2025
Liburan semester di Sidikalang: Antara Alam, Kuliner , dan Keluarga
![]() |
| Foto: Juramaida Ziliwu |
Liburan di kampung halaman juga memberikan kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga besar dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Mengikuti kegiatan tradisional atau sekadar berbincang dengan tetangga dapat memperkaya pengalaman dan memperdalam pemahaman tentang budaya lokal.
Jauh dari hiruk-pikuk kota besar, Sidikalang menawarkan suasana tenang yang ideal untuk refleksi dan relaksasi. Menghabiskan waktu di alam terbuka, seperti berjalan-jalan di sekitar desa atau menikmati pemandangan pegunungan, dapat membantu menyegarkan pikiran sebelum kembali ke rutinitas sehari-hari. Secara keseluruhan, liburan semester di kampung halaman seperti Sidikalang tidak hanya menawarkan keindahan alam dan kuliner khas, tetapi juga kesempatan untuk mempererat hubungan keluarga dan menikmati ketenangan yang jarang ditemui di perkotaan.
Oleh: Juramaida Ziliwu
Editor: Redaksi
05 Desember 2024
Perjalanan Juramaida ke Kota Lhokseumawe: Mewujudkan Impian Kuliah di IAIN Lhokseumawe
![]() |
| Foto: www.iainlhokseumawe.ac.id |
Setelah berpamitan dengan keluargaku, aku mengemas ransel dengan hati-hati. Aku memasukkan buku-buku pelajaran, beberapa pakaian, dan makanan ringan yang disiapkan ibuku. "Jaga diri, ya, Maida. Belajar yang baik dan jangan lupa berdoa," kata ibu sambil memelukku erat. Dengan semangat dan harapan, aku melangkah keluar rumah menuju Terminal Amplas di Medan.
Sesampainya di terminal, suasana ramai langsung menyambutku. Bus-bus besar berdiri di sepanjang jalan, dan penumpang datang dan pergi. Aku membeli tiket untuk bus yang menuju Lhokseumawe. Sambil menunggu, aku melihat sekeliling, merasakan kebisingan dan kesibukan yang membuatku sedikit cemas. Namun, rasa semangatku untuk kuliah mengalahkan semua ketakutan itu.
Setelah beberapa saat, bus yang ditunggu akhirnya tiba. Aku mencari tempat duduk dan merasa lega ketika bisa duduk di samping jendela. Dengan senyum di wajah, aku melihat pemandangan kota Medan yang mulai menjauh. Setelah bus melaju, aku menyaksikan pemandangan alam yang indah—sawah hijau yang membentang, bukit-bukit yang berdiri megah, dan pohon-pohon yang menghiasi sepanjang perjalanan. Perjalanan ini bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi juga tentang menuju cita-cita.
Selama perjalanan, aku berbincang dengan penumpang di sampingku, seorang mahasiswa dari Medan yang juga akan kuliah di Lhokseumawe. Kami berbagi cerita tentang harapan dan pengalaman hidup. Aku merasa senang bisa bertemu dengan orang-orang baru yang memiliki tujuan yang sama.
Setelah lima belas jam perjalanan, bus akhirnya memasuki Kota Lhokseumawe. Aku bisa melihat laut di kejauhan dan merasakan angin segar yang menerpa wajahku. Tak lama kemudian, bus berhenti di terminal, dan aku melangkah keluar dengan penuh rasa syukur. Aku memesan grab untuk membawaku ke kampus.
Di grab, aku memperhatikan suasana Lhokseumawe yang berbeda dari Medan. Jalanan yang lebih sepi, rumah-rumah yang sederhana, dan suara ombak di dekat pantai memberikan nuansa baru. Aku merasa bersemangat ketika grab akhirnya tiba di depan Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe.
Sesampainya di kampus, aku takjub melihat gedung-gedung yang megah dan suasana yang hangat. Aku segera menuju gedung rektorat untuk mendaftar ulang dan mengikuti orientasi mahasiswa baru. Di sana, aku bertemu dengan banyak teman baru, dan kebersamaan itu membuatku merasa lebih nyaman dan bersemangat.
Orientasi berlangsung selama beberapa hari, diisi dengan berbagai kegiatan yang mengenalkan mahasiswa baru pada lingkungan kampus. Aku belajar banyak tentang visi misi kampus, fasilitas yang tersedia, dan berbagai kegiatan kemahasiswaan. Aku merasa beruntung bisa menjadi bagian dari institusi yang memiliki komitmen tinggi dalam pendidikan agama.
Hari-hari berlalu, aku mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan baru di Lhokseumawe. Aku aktif mengikuti kelas dan berusaha belajar dengan giat. Setiap malam, saat mengerjakan tugas, aku selalu teringat akan pesan ibu untuk tidak lupa berdoa dan bersyukur atas kesempatan ini.
Dengan tekad dan semangat yang kuat, aku yakin bahwa perjalanan dari Medan ke Lhokseumawe ini adalah langkah awal menuju masa depan yang gemilang. Aku siap menghadapi segala tantangan dan meraih impian untuk menjadi seorang sarjana yang berkualitas dan berkontribusi bagi masyarakat. Di dalam hati, aku percaya bahwa setiap usaha dan doa tidak akan sia-sia.
Oleh: Juramaida Ziliwu (Magang)
Editor: Redaksi
26 Oktober 2024
Bur Telege, Destinasi Wisata Negeri di Atas Awan Takengon yang Menyatu dengan Alam
![]() |
| Foto: Zuhra |
![]() |
| Foto: Zuhra |
Mengenai Saya
- LPM AL-KALAM
- Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.






















