Portal Berita Al-Kalam

Dari Peusijuek hingga Pesan Rektor: Potret Hari Pertama PBAK UIN SUNA

Foto: Putri Ruqaiyah www.lpmalkalam.com- Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasi...

HEADLINE

Latest Post

27 Juli 2026

Inspiratif! Sejahtra, Mahasiswa UIN SUNA, Sukses Gelar Seminar "Beyond the Search: Maksimalkan Produktivitas Mahasiswa dengan Google AI Mode & Gemini" sebagai Google Student Ambassador

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Berawal dari semangat untuk membagikan manfaat teknologi, Sejahtra, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe, sukses menggelar seminar "Beyond the Search: Maksimalkan Produktivitas Mahasiswa dengan Google AI Mode & Gemini" sebagai bagian dari kontribusinya sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Biro UIN SUNA ini dibuka langsung oleh Rektor UIN SUNA, Prof. Dr. Danial, M.Ag., yang memberikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan program edukasi teknologi Google di lingkungan kampus. Acara juga semakin semarak dengan penampilan Tari Saman yang menyambut para peserta.

Seminar ini menjadi semakin istimewa karena Sejahtra merupakan salah satu Google Student Ambassador 2026 yang berhasil meraih prestasi sebagai Top 40 Trailblazer dari sekitar 200 Google Student Ambassador yang terpilih di Indonesia. Pencapaian tersebut diraih melalui proses seleksi yang kompetitif serta berbagai kontribusi nyata dalam mengedukasi pemanfaatan teknologi AI di kalangan mahasiswa.

Dalam seminar tersebut, Sejahtra membawakan materi mengenai Google AI Mode dan Gemini sebagai AI companion untuk dunia akademik. Peserta diajak memahami cara memanfaatkan AI secara etis, menyusun prompt yang efektif, merangkum jurnal, mengembangkan ide penelitian, hingga meningkatkan produktivitas belajar tanpa mengesampingkan kemampuan berpikir kritis.

Melalui kegiatan ini, Sejahtra berharap semakin banyak mahasiswa yang tidak hanya mengenal teknologi AI, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara bertanggung jawab untuk belajar, berinovasi, dan menciptakan dampak positif. Seminar ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu membawa inovasi global ke lingkungan kampus sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya di era transformasi digital.


Penulis: Rilis (Sejahtra)

Editor: Redaksi

Google Student Ambassador 2026: Awal Perjalanan Sejahtra Menginspirasi Generasi Muda

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Di balik setiap pencapaian besar, selalu ada proses panjang yang jarang dilihat orang. Begitu pula perjalanan Sejahtra, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe, yang berhasil menjadi Google Student Ambassador 2026. Pencapaian tersebut bukan hadir karena keberuntungan, melainkan hasil dari keberanian untuk mencoba, konsistensi dalam belajar, dan tekad untuk terus berkembang meski menghadapi berbagai tantangan.

Sejak menjadi mahasiswa, Sejahtra percaya bahwa masa kuliah bukan hanya tentang memperoleh nilai yang baik, tetapi juga tentang menciptakan dampak bagi lingkungan sekitar. Keyakinan itulah yang mendorongnya aktif mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri, perlombaan, organisasi, hingga mempelajari teknologi yang dapat membantu proses belajar mahasiswa.

Kesempatan menjadi Google Student Ambassador menjadi salah satu titik penting dalam perjalanannya. Proses seleksi yang ketat mempertemukannya dengan mahasiswa-mahasiswa terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mulai dari menyusun portofolio, menyelesaikan berbagai tantangan, hingga menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan kepemimpinan menjadi bagian dari perjalanan yang harus dilalui. Semua proses tersebut mengajarkannya bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar jika disertai usaha yang sungguh-sungguh.

Namun, bagi Sejahtra, pencapaian tidak berhenti ketika dinyatakan lolos sebagai Google Student Ambassador. Justru setelah itu muncul tanggung jawab yang lebih besar, yaitu bagaimana ilmu dan kesempatan yang diperoleh dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Berangkat dari semangat tersebut, ia menginisiasi workshop Google AI Mode & Gemini di kampusnya agar mahasiswa dapat mengenal kecerdasan buatan secara lebih bijak, produktif, dan bertanggung jawab.

Menurutnya, kecerdasan buatan bukanlah alat untuk mencari jalan pintas dalam menyelesaikan tugas, melainkan partner belajar yang mampu membantu mahasiswa memahami materi, merangkum jurnal, menyusun ide penelitian, hingga meningkatkan produktivitas. Ia ingin mengubah cara pandang mahasiswa terhadap AI, dari sekadar mesin pencari jawaban menjadi alat yang mendukung proses berpikir kritis dan kreativitas.

Perjalanan ini juga mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Berasal dari daerah tidak menghalangi seseorang untuk memperoleh kesempatan di tingkat nasional maupun internasional. Selama ada kemauan untuk terus belajar, mencoba hal-hal baru, dan berani keluar dari zona nyaman, peluang akan selalu terbuka.

Sejahtra percaya bahwa kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari banyaknya penghargaan yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Karena itu, setiap pengalaman, prestasi, dan kesempatan yang diraihnya selalu ia usahakan menjadi jalan untuk berbagi ilmu, menginspirasi mahasiswa lain, dan menghadirkan perubahan positif di lingkungan sekitarnya.

Baginya, perjalanan ini masih sangat panjang. Menjadi Google Student Ambassador bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus belajar, berinovasi, dan mengajak lebih banyak mahasiswa memanfaatkan teknologi secara cerdas. Ia berharap kisahnya dapat menjadi pengingat bahwa mimpi besar bisa diraih oleh siapa saja yang berani memulai, tetap konsisten, dan tidak pernah menyerah dalam menghadapi setiap tantangan.


Penulis: Rilis (Sejahtra)

Editor: Redaksi

26 Juli 2026

Workshop Google Gemini, GSA Nurul Ghaffari Bekali Mahasiswa dengan Literasi AI

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang begitu pesat menuntut dunia pendidikan tinggi untuk terus beradaptasi. Merespons tantangan tersebut, Google Student Ambassador (GSA) 2026, Nurul Ghaffari, sukses menginisiasi dan menggelar Workshop Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Google Gemini bagi kalangan mahasiswa. Kegiatan interaktif ini diselenggarakan sebagai langkah nyata dalam meningkatkan literasi digital serta efisiensi pembelajaran akademik di lingkungan kampus.

Workshop yang berlangsung antusias ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dan program studi. Tingginya angka partisipasi peserta menunjukkan besarnya rasa ingin tahu serta kebutuhan mahasiswa terhadap pemanfaatan teknologi AI yang tepat guna untuk mendukung aktivitas perkuliahan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, materi difokuskan pada pengenalan dasar Large Language Models (LLM), prinsip kerja AI modern, hingga teknik penyusunan instruksi (prompting) yang efektif dan presisi. Peserta tidak hanya diperkenalkan pada konsep teoretis, tetapi juga diajak mengeksplorasi berbagai fitur unggulan Google Gemini yang dirancang khusus untuk mempermudah produktivitas akademik.

Sebagai penyelenggara utama sekaligus Google Student Ambassador yang memprakarsai acara ini, Nurul Ghaffari menegaskan bahwa pemahaman akan teknologi AI saat ini bukan lagi sekadar tren atau pilihan opsional, melainkan sebuah kompetensi dasar yang wajib dimiliki oleh mahasiswa di era transformasi digital.

"Melalui workshop ini, tujuannya adalah mengubah cara pandang dan pendekatan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi. Google Gemini hadir bukan untuk menggantikan proses berpikir kritis ataupun kreativitas manusia, melainkan sebagai asisten cerdas (partner) yang dapat melipatgandakan efisiensi belajar, mengolah data riset, hingga membantu penyusunan ide-ide inovatif secara lebih terstruktur," ujar Nurul di sela-sela kegiatan.

Rangkaian acara ini juga dirancang dengan pendekatan praktis melalui sesi hands-on workshop. Pada sesi ini, para peserta diajak untuk mencoba secara langsung berbagai simulasi penggunaan Google Gemini. Beberapa studi kasus yang dipraktikkan, antara lain penyusunan kerangka tulisan ilmiah, pemrosesan data sederhana, pencarian referensi belajar, hingga pembuatan draf presentasi yang efektif. Suasana workshop terasa sangat hidup dengan tingginya dinamika diskusi dan interaksi sesi tanya jawab antara peserta dan penyelenggara.

Tidak hanya fokus pada kemudahan teknis, workshop ini juga menyelipkan penekanan penting mengenai etika penggunaan AI (AI Ethics). Para peserta diingatkan untuk selalu menjaga integritas akademik, menghindari plagiarisme, serta menggunakan AI secara bijak sebagai alat bantu analisis, bukan sebagai jalan pintas yang mengabaikan kejujuran ilmiah.

Melalui suksesnya penyelenggaraan workshop mandiri ini, diharapkan para mahasiswa mampu mengintegrasikan teknologi Google Gemini ke dalam rutinitas akademik mereka secara bertanggung jawab. Inisiatif ini sekaligus menjadi bukti nyata kepemimpinan serta komitmen Google Student Ambassador dalam menciptakan ekosistem kampus yang siap beradaptasi dan berdaya saing di tengah arus pesat perkembangan teknologi masa depan.


Penulis: Rilis (Nurul Ghaffari)

Editor: Redaksi

24 Juli 2026

Di Balik Nama "Sejahtra": Harapan, Doa, atau Beban?

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Namaku Sejahtra. Sebuah nama yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang begitu besar. Sejak lahir, namaku adalah doa. Doa agar aku hidup dalam kesejahteraan, kebahagiaan, keberkahan, dan mampu membawa manfaat bagi orang lain.

Namun, seiring bertambahnya usia, aku mulai bertanya-tanya. Apakah nama ini hanya sebuah harapan, atau justru menjadi beban?

Hidupku tidak selalu berjalan seperti arti namaku. Aku pernah menghadapi banyak kesulitan, tekanan, kegagalan, rasa lelah, dan masa-masa ketika aku merasa jauh dari kata "sejahtera." Ada hari-hari ketika aku mempertanyakan diri sendiri: mengapa seseorang yang bernama Sejahtra justru harus melalui begitu banyak ujian?

Lalu, aku menyadari sesuatu.

Mungkin orang tuaku tidak sedang menamai siapa aku saat itu. Mereka sedang mendoakan siapa aku akan menjadi.

Nama bukanlah cerminan keadaan hari ini. Nama adalah arah perjalanan.

Karena itu, aku memilih untuk terus belajar. Aku menulis, mengikuti perlombaan, aktif berorganisasi, mencoba hal-hal baru, dan tidak berhenti berkembang. Setiap langkah kecil menjadi cara untuk mendekatkan diriku pada makna nama yang telah diberikan sejak lahir.

Hari ini, ketika aku dipercaya menjadi Google Student Ambassador, aku merasa perjalanan itu mulai menemukan maknanya. Amanah ini bukan sekadar gelar, tetapi pengingat bahwa aku harus menjadi pribadi yang mampu membawa manfaat melalui teknologi, pendidikan, dan inovasi.

Menjadi Google Student Ambassador membuatku percaya bahwa kesejahteraan bukan hanya tentang memiliki banyak hal. Sejahtera adalah ketika ilmu yang dimiliki bisa dibagikan, kesempatan yang diterima bisa membuka jalan bagi orang lain, dan setiap pencapaian menjadi alasan untuk terus rendah hati.

Kini, aku tidak lagi bertanya apakah namaku adalah harapan, doa, atau beban.

Aku percaya namaku adalah ketiganya.

Harapan yang ditanamkan oleh orang tuaku.

Doa yang terus menyertaiku di setiap langkah.

Dan beban yang berubah menjadi tanggung jawab untuk terus bertumbuh.

Aku mungkin belum sepenuhnya menjadi "Sejahtra." Masih banyak mimpi yang ingin kuraih dan tantangan yang harus kulewati. Tetapi, setiap hari aku berusaha sedikit demi sedikit agar hidupku benar-benar mencerminkan namaku.

Karena pada akhirnya, seseorang tidak dikenang karena nama yang ia miliki, melainkan karena bagaimana ia memberi makna pada nama itu.

Dan aku memilih untuk menjadikan "Sejahtra" bukan sekadar nama, melainkan tujuan hidup.


Penulis: Rilis (Sejahtera)

Editor: Redaksi

30 Oktober 2025

Menepi dari Hiruk Pikuk: Lhok Buloh Tawarkan Wisata Air Bernuansa Alami

Foto: Bellivia Al-Kamariana (Magang)

www.lpmalkalam.com- Kelompok Satu Calon Kru (Cakru) Magang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe mengunjungi kawasan wisata air Lhok Buloh di Desa Cot Beudak, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara pada Minggu (26/10/2025).

Destinasi wisata yang berada di antara lereng bukit tersebut menawarkan suasana alami dan aliran sungai yang jernih, sehingga menjadi pilihan warga yang ingin mencari ketenangan dan melepas penat. Pengunjung terlihat ramai dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Wisata ini cocok dikunjungi dengan siapapun, baik dengan teman ataupun keluarga.

Wisata sungai ini dikelola oleh warga setempat sehingga keasrian lingkungan masih terjaga. Selain menjadi tempat rekreasi, Lhok Buloh juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui aktivitas jual beli makanan dan kebutuhan wisatawan.


Penulis: Zahratul (Magang)

Editor: Tiara Khalisna
 

17 Oktober 2025

Nahrasiyah Art Festival: Ketika Sejarah Berbicara, Mutu Berbunyi dan Dunia Mendengar

Foto: Cut Saputri (Magang)

www.lpmalkalam.com- Dalam hiruk-pikuk festival seni yang ada di berbagai daerah Indonesia, muncul sebuah pertanyaan: Apakah kita semua hanya sekadar merayakan atau kita sudah benar-benar merawat warisan budaya? 

Nahrasiyah Art Festival hadir dengan jawaban yang sangat tepat. Dengan membawa tema Merangkai Sejarah, Menjaga Mutu, dan Menggugah Dunia, festival ini bukan hanya sekadar pemeran seni biasa, melainkan sebuah pengakuan nilai budaya yang berani menegaskan posisinya di tengah arus globalisasi. 

Merangkai Sejarah, Menjaga Mutu, dan Menggugah Dunia

1. Sejarah dalam konteks Nahrasiyah bukan hanya museum yang beku, melainkan ia adalah sesuatu yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. 

2. Mutu bukan hanya soal estetika. Ia juga berbicara tentang kemampuan karya untuk berkomunikasi dengan audiens. 

3. Yang tak kalah penting adalah konsistensi. Dunia tidak akan tergugah oleh satu kali penyelenggaraan yang spektakuler, tetapi oleh jangka panjang dalam membangun reputasi dan identitas yang kuat.

Harapan Kita untuk Masa Depan

Nahrasiyah Art Festival telah menunjukkan potensi besar sebagai platform yang tidak hanya merayakan seni, tetapi juga aktif dalam merawat warisan budaya dan membuka dialog dengan dunia. Ketiga pilar temanya bukan hanya sekedar slogan, melainkan kerangka kerja yang operasional dan terukur. 


Penulis: Cut Saputri (Magang)

Editor: Alya Nadila 

Suara dari Gaza Palestina: Syeikh Saeb Al-Hafidz, Kisah Inspiratif dari Tanah Para Nabi

Foto: Intan Sarifah

www.lpmalkalam.com- Usai kuliah umum yang disampaikan oleh Syeikh Saeb Hilles, Al-Hafidz dari Gaza Palestina, resonansinya masih terasa begitu kuat dalam benak dan hati kita. Lebih dari sekadar menghadiri sebuah acara, ini adalah pengalaman spiritual yang mendalam sebuah suntikan energi positif yang membangkitkan semangat dan harapan baru.

Mendengarkan langsung kisah-kisah dari Gaza Palestina melalui seorang syeikh yang hidup dan berjuang di tengah segala keterbatasan sungguh membuka mata dan menyentuh hati kita semua. Bukan hanya tentang penderitaan dan kesulitan, tetapi juga tentang keteguhan iman, kekuatan persaudaraan, serta semangat untuk terus belajar dan berkontribusi.

Syeikh Saeb Hilles, Al-Hafidz, berhasil menyampaikan pesan-pesan tersebut dengan begitu sederhana namun mengena, membuat kita semua merasa terhubung dan memiliki rasa tanggung jawab untuk berbuat sesuatu. Kita disadarkan bahwa Gaza Palestina bukan hanya milik penduduk di sana, tetapi juga milik kita semua.

Penulis sangat terkesan dengan salah satu kisah yang beliau sampaikan, yaitu tentang seorang kakek di Gaza yang berjalan sambil berkata, “Rohku, rohku.” Kisah tersebut memberikan perspektif baru bagi penulis, sekaligus memotivasi kita semua untuk lebih peduli terhadap mereka dan tidak lupa untuk berinfak jika mampu.

Lebih dari itu, acara ini juga menjadi pengingat bahwa kita tidak sendiri. Di belahan dunia lain, ada saudara-saudara kita yang terus berjuang dengan gigih, dan kita memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan dukungan. Kehadiran Syeikh Saeb Hilles, Al-Hafidz, adalah simbol persaudaraan yang kuat. Semoga semangat ini terus membara dalam diri kita semua.

Penulis berharap, apa yang telah kita dapatkan dari kuliah umum ini tidak hanya berhenti di sini. Mari kita sebarkan pesan-pesan kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita. Mari kita terus belajar, berkontribusi, dan berdoa untuk saudara-saudara kita di Gaza Palestina.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan dan perlindungan kepada mereka, serta menjadikan kita semua bagian dari solusi untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan di bumi Gaza Palestina.


 Penulis: Intan Sarifah (Magang)

19 Agustus 2025

Resensi Novel The Midnight Library

Foto: Gramedia.com


www.lpmalkalam.com-

Resensi Novel The Midnight Library


Identitas Buku

Judul: The Midnight Library

Penulis: Matt Haig

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2020

Jumlah Halaman: 368 halaman

Genre: Fiksi, Fantasi, Filosofi, Self-help

ISBN: 9786020649320

Harga: Rp109.000,-


Tentang Penulis

Matt Haig lahir pada 3 Juli 1975. Ia adalah pengarang novel dan jurnalis berkebangsaan Inggris. Ia menulis buku fiksi dan nonfiksi untuk anak-anak maupun dewasa. Haig pernah memenangi penghargaan Blue Peter Award dan The Smarties Book Prize. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa.

Sinopsis Singkat

Pernahkah kamu membayangkan seperti apa hidupmu jika dulu mengambil keputusan yang berbeda? Pertanyaan ini menjadi inti dari novel The Midnight Library karya Matt Haig. Melalui kisahnya, pembaca diajak merenung tentang penyesalan, pilihan hidup, dan arti menerima diri sendiri.

Novel ini membawa pembaca menyelami kehidupan Nora Seed, seorang perempuan yang merasa hidupnya penuh kegagalan dan kesedihan. Ia merasa tidak ada lagi alasan untuk bertahan, sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, di antara hidup dan mati, Nora tiba-tiba mendapati dirinya terbangun di sebuah perpustakaan misterius yang disebut Midnight Library.

Di perpustakaan itu, ia menjelajahi berbagai kemungkinan hidup untuk memutuskan apa yang membuat hidup pantas dijalani. Setelah melalui berbagai penyesalan dan kegagalan, akankah Nora Seed akhirnya menemukan kebahagiaan sejati?

Dengan ditemani pustakawan bernama Mrs. Elm, Nora menjelajahi kehidupan-kehidupan tersebut, mencari jawaban tentang arti kebahagiaan. Perjalanannya mengajarkan bahwa kesempurnaan hidup bukanlah menghapus semua penyesalan, melainkan menerima diri dengan segala kekurangan dan kemungkinan.

"Segala sesuatunya akan lebih mudah kalau kita paham tidak ada satu pun cara hidup yang bisa memberimu kekebalan terhadap kesedihan. Bahwa kesedihan adalah intrinsik kebahagiaan. Kau tidak bisa mendapatkan yang satu tanpa mengalami yang lain." (The Midnight Library, hlm. 230)

Kelebihan

Novel ini mengangkat isu penyesalan dan makna hidup yang relevan dengan kehidupan. Kisahnya dekat dengan realitas yang dialami banyak orang. Bahasa yang digunakan ringan dan nyaman dibaca. Sangat cocok bagi pembaca yang ingin merenung tanpa terbebani narasi yang rumit.

Kekurangan

Beberapa bagian terasa berulang saat Nora berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain, sehingga alurnya terkesan panjang. Penyelesaian konflik di akhir cerita juga terkesan terburu-buru, sehingga sebagian pembaca mungkin berharap ada eksplorasi lebih mendalam.

Kesimpulan

The Midnight Library adalah novel yang memadukan fantasi dan filosofi hidup dengan indah. Novel ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi cermin untuk melihat kembali pilihan-pilihan hidup. Sangat direkomendasikan untuk pembaca remaja hingga dewasa yang menyukai kisah reflektif, inspiratif, dan meninggalkan kesan mendalam.


Penulis: Indira Ulfa Rizkya

Editor: Putri Ruqaiyah

16 Agustus 2025

Home Town Cha-Cha-Cha: Salah Satu Serial Drama Korea yang Harus Ditonton

Foto: IST

www.lpmalkalam.com - Serial drama Korea Selatan berjudul Home Town Cha-Cha-Cha menjadi salah satu drama terbaik yang menyentuh hati dan meninggalkan kesan mendalam bagi penonton. Drama dengan jumlah 16 episode ini tayang pertama kali pada tahun 2021 dan diperankan oleh Shin Min-a serta Kim Seon-ho.

Menariknya, serial drama ini tidak hanya berlatar di perkotaan Seoul, tetapi juga di desa tepi laut bernama Gongjin, tempat Shin Min-a dan Kim Seon-ho membangun kembali kehidupan mereka. Meski bergenre romansa dan komedi, kehidupan sehari-hari tokoh utama beserta orang di sekitarnya mampu meninggalkan kesan mendalam bagi penonton, penuh makna, dan sarat pelajaran. Bahkan, saya yang baru menonton empat tahun setelah drama ini tayang merasa tertarik sepenuhnya untuk masuk dan hidup di dalamnya.

Shin Min-a berperan sebagai Yoon Hye-jin, seorang dokter gigi asal Seoul. Sebelumnya, ia tak pernah membayangkan akan pindah ke Desa Gongjin dan membuka klinik di sana. Berbeda dengan Hong Du-sik, yang diperankan oleh Kim Seon-ho, Desa Gongjin adalah kampung halamannya. Hong Du-sik memiliki panggilan khas yang tak pernah absen di desa tersebut, yaitu Hong Banjang—ketua desa yang dikenal oleh semua warga. Meski disebut “pengangguran,” ia memegang peranan penting karena keuletannya membuat ia selalu diandalkan oleh warga setempat.

Siapa sangka, meskipun disebut pengangguran, Hong Banjang memiliki jadwal harian yang padat? Ia lulusan Teknik dari Universitas Negeri Seoul, namun memilih kembali ke kampung halaman karena alasan yang tak diketahui warga desa, hingga menjadi salah satu misteri Gongjin. Meski begitu, ia mahir dalam banyak hal dan senang membantu sesama. Rasa kekeluargaan yang kuat di Desa Gongjin menjadi salah satu alasan warga begitu menyayanginya.

Di sisi lain, Hye-jin membutuhkan waktu untuk beradaptasi dari kehidupan kota ke pedesaan. Sikapnya yang awalnya cenderung arogan membuat sebagian warga tidak nyaman. Bahkan, pesan yang disampaikan Hong Banjang saat menegur Hye-jin karena dianggap menghina nasib salah satu warga masih teringat jelas di benak saya: “Hidup tak selalu adil bagi semua orang. Ada orang yang jalannya penuh lubang dan tidak mulus. Ada juga orang yang berlari sekuat tenaga lalu menemui jurang di ujung jalannya.”

Sungguh dalam. Pesan Hong Banjang kepada Hye-jin terasa seolah ditujukan untuk siapa pun yang menontonnya. Benar-benar tidak ada yang tahu seperti apa jalan hidup seseorang. Melalui drama ini, saya kembali diingatkan akan hal itu.

Tak hanya menyuguhkan romansa dan komedi ringan, drama ini juga sarat rasa kekeluargaan, tolong-menolong, kasih sayang, serta pembelajaran yang disampaikan bukan hanya lewat kata-kata, tetapi juga aksi para tokohnya.

Saya rasa, drama Korea ini cocok bagi siapa saja yang ingin menonton tayangan ringan namun nyaman di hati. Terlebih, banyak hal menarik yang tersaji di dalamnya. Menonton serial drama Home Town Cha-Cha-Cha membuat kita tak hanya menjadi penonton, tetapi juga seolah diajak masuk ke dalam ceritanya. 

Lihatlah di sekitar kalian. Kalian akan menyadari bahwa kalian dikelilingi hal-hal berharga.”


Penulis: Alya Nadila

Editor: Putri Ruqaiyah

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.