![]() |
| Foto: Pixabay |
HEADLINE
07 Agustus 2026
06 Agustus 2026
Produksi Game Fisik Dihentikan, Sony Tetap Berjalan Walau Banyak Gamer yang Menolak
Di atas kertas, argumen Sony terdengar masuk akal. Data internal perusahaan menunjukkan bahwa disk fisik hanya menyumbang sekitar 3 persen dari total pendapatan gaming PlayStation, turun drastis dari 6 persen pada 2020, saat PlayStation 5 pertama kali dirilis dengan disc drive. Dari sudut pandang bisnis, mempertahankan lini produksi untuk segmen sekecil itu memang sulit untuk dijustifikasi.
Namun, reaksi komunitas menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal angka. Petisi Don't Kill the Disc yang digagas oleh peritel independen PNP Games telah mengumpulkan lebih dari 330 ribu tanda tangan. Argumen utamanya ialah bahwa tanpa disk fisik, gamer kehilangan hak untuk menjual kembali, meminjamkan, atau benar-benar memiliki game yang mereka beli.
Sebagian gamer bahkan menggalang aksi yang lebih konkret melalui boikot selama sepekan bertajuk PSBlackout pada 23–30 Agustus. Mereka mengajak pengguna PlayStation untuk tidak login, bermain, maupun berbelanja di platform Sony selama periode tersebut.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Seorang pengguna Reddit menceritakan pengalamannya ketika koneksi internet di rumahnya mati selama beberapa hari. Ia sama sekali tidak dapat memainkan game digital yang dimilikinya karena PlayStation 5 menolak memverifikasi lisensi digital tanpa koneksi internet. Padahal, ketika masih menggunakan disk fisik, koleksi game-nya tetap dapat dimainkan meskipun listrik atau internet padam dalam waktu yang lama.
Persoalan tersebut menyentuh inti kekhawatiran banyak gamer, yakni mengenai preservasi game, ketergantungan pada server yang sewaktu-waktu dapat dihentikan, serta hilangnya rasa memiliki karena "membeli" game pada praktiknya hanya berarti membeli lisensi akses.
Menariknya, Sony tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengubah keputusannya. Dalam earnings call, Chief Financial Officer (CFO) Sony, Lin Tao, menyatakan bahwa pihaknya akan cautiously move this forward, atau tetap melanjutkan kebijakan tersebut secara bertahap. Ia juga mengakui memahami keterikatan emosional para gamer terhadap media fisik. Pernyataan itu terdengar empatik, tetapi pesan utamanya tetap sama: keputusan tersebut tidak akan dibatalkan.
Di sinilah letak dilema sesungguhnya. Sony memiliki hak untuk mengejar efisiensi bisnis, dan tren digital memang tidak dapat dimungkiri. Namun, gamer juga memiliki hak untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya mereka beli ketika menekan tombol "Beli" hanya menghasilkan lisensi yang sewaktu-waktu dapat dicabut.
Pertanyaannya bukan lagi apakah era disk fisik akan berakhir karena tampaknya hal itu memang tak terelakkan melainkan apakah industri game bersedia memberikan jaminan kepemilikan yang layak di dunia yang serba digital. Ataukah kita hanya akan menerima kenyataan bahwa "membeli" game pada akhirnya berarti menyewa akses untuk selamanya?
Penulis: Muhammad Rahul Gonzales
Editor: Chalisa Najla Safira
24 Juli 2026
Romantisisme di KKN Era Digital, Ketika Pengabdian Kabur menjadi Hasrat Viral
![]() |
| Foto: Pixabay |
20 Juli 2026
Fomo: Takut Tertinggal Menjadi Standar Kehidupan Remaja
![]() |
| Foto: Pixabay |
14 Juli 2026
Menurunnya Minat Baca di Era Konten Singkat
![]() |
| Foto: Pixels |
11 Juli 2026
Fenomena Individualisme di Era Perkembangan Teknologi
![]() |
| Foto: Pixels |
Dahulu, komunikasi dan interaksi sosial jauh lebih terasa seperti kegiatan yang sering dilakukan dengan tatap muka, gotong royong atau kerja bakti, dan silaturahmi menandakan interaksi sosial yang masih sangat kental di kalangan masyarakat. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kebiasaan tersebut mulai memudar secara perlahan. Terkadang masyarakat sekarang lebih memilih kegiatan yang dilaksanakan secara virtual sehingga kebersamaan menurun dan cenderung memiliki rasa individualisme.
Individualisme adalah sikap atau pandangan seseorang yang hanya berorientasi pada diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Hal inilah yang membuat rasa empati menurun dan berkurangnya kedekatan hubungan antarindividu. Globalisasi menjadi penyebab hal tersebut. Menyajikan informasi yang cepat, luas, hingga lintas batas sehingga seseorang tidak perlu datang menghampiri orang atau tempatnya secara langsung. Globalisasi juga membuat seseorang hanya berfokus pada gawai sehingga mengabaikan orang di sekitar.
Selain itu, faktor perkembangan teknologi yang lain seperti internet mempermudah pencarian berbagai topik. Belajar maupun bekerja kini dapat dilakukan secara otodidak, tidak perlu membutuhkan bantuan orang lain. Perubahan dari segi ekonomi juga dapat memicu hal ini seperti seseorang yang terpaksa bekerja dengan jadwal yang padat hingga kurang mempunyai waktu dan perhatian untuk orang lain.
Pada dasarnya, individualisme merupakan sikap yang berdampak negatif dan menjadi tantangan di era saat ini. Perkembangan teknologi tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena yang menjadi masalah bukan pada alat, melainkan pengguna. Pengguna harus bisa menyeimbangkan antara dunia maya dan dunia nyata agar terhindar dari hal tersebut serta demi marwah dan nilai solidaritas tetap terjaga.
Penulis: Rizky Ramadhani
Editor: Chalisa Najla Safira
Melampaui Transkrip Nilai: Mengapa Kuliah Bukan Sekadar Berburu Ijazah?
![]() |
| Foto: Pixels |
Jika motivasi utama hanya memperoleh dokumen formal, maka makna pendidikan tinggi telah mengalami penyempitan yang sangat mendasar. Dampaknya langsung terasa pada ketatnya persaingan kerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengangguran lulusan universitas masih konsisten menembus angka 1 juta orang. Industri modern kini lebih memprioritaskan kemampuan memecahkan masalah (problem solving), komunikasi, kepemimpinan, dan ketahanan mental.
Kompetensi esensial ini sayangnya jarang didapat oleh mahasiswa yang pasif di kelas dan abai terhadap organisasi, penelitian, atau perlombaan. Akibatnya, terjadi kesenjangan besar (skill mismatch) antara teori kampus dan kebutuhan nyata lapangan kerja. Memiliki nilai akademik yang baik tentu patut diapresiasi, namun kuliah seharusnya menjadi laboratorium sosial untuk bereksperimen dan memperluas jaringan profesional.
Oleh karena itu, paradigma berpikir mahasiswa harus diubah sejak dini dengan mengambil langkah nyata. Mahasiswa harus berani keluar dari zona nyaman akademis melalui keterlibatan aktif dalam organisasi kampus, kompetisi ilmiah, hingga program praktis seperti magang bersertifikat di Kampus Merdeka. Kampus bukan tempat mencetak robot berijazah, melainkan wadah penempaan karakter. Dengan aktif membangun portofolio dan jejaring sejak semester awal, mahasiswa akan tumbuh menjadi lulusan yang matang, kompeten, dan siap berdampak nyata bagi masyarakat.
Penulis: Cut Saputri
Editor: Chalisa Najla Safira
02 Juli 2026
Generasi Z dan Tanggung Jawab Melestarikan Canang Cereukeuh
![]() |
| Foto: Putri Ruqaiyah |
Bahaya Merokok di Jalan: Kebiasaan Sepele yang Merugikan Banyak Orang
![]() |
| Foto: Pixels |
Merokok di jalan merupakan kebiasaan yang kurang mencerminkan kepedulian terhadap orang lain. Setiap orang memang memiliki hak untuk merokok, tetapi hak tersebut tidak boleh mengganggu hak orang lain untuk menikmati udara yang bersih. Terlebih lagi, ketika seseorang merokok sambil mengendarai kendaraan, konsentrasi dapat terganggu sehingga berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan.
Selain membahayakan kesehatan, kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan juga dapat mencemari lingkungan dan bahkan memicu kebakaran. Hal-hal yang terlihat kecil seperti ini sering kali diabaikan, padahal dampaknya dapat dirasakan oleh banyak orang.
Kesadaran untuk menjaga kesehatan diri sendiri, tetapi juga kepedulian terhadap orang lain. Merokok di tempat yang semestinya dan membuang puntung rokok pada tempatnya merupakan bentuk tanggung jawab sebagai anggota masyarakat. Lingkungan yang sehat tidak hanya bergantung pada aturan, tetapi juga pada kesadaran setiap individu.
Penulis: Bellivia Al-Kamariana
Editor: Chalisa Najla Safira
29 Juni 2026
Tradisi Kenduri Blang: Menjaga Budaya, Mengikat Solidaritas
![]() |
| Foto: Pixels |
Tradisi ini dilaksanakan dengan cara masyarakat memasak dan makan bersama di area persawahan menjelang musim tanam padi sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang telah diberikan.
Kenduri Blang dipercaya sebagai bentuk doa dan ikhtiar masyarakat agar terhindar dari berbagai rintangan ketika memulai musim tanam. Masyarakat meyakini bahwa setiap usaha hendaknya diawali dengan doa dan ikhtiar kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar memperoleh hasil yang terbaik.
Selain itu, Kenduri Blang juga menjadi tradisi memasak dan makan bersama di dekat area persawahan yang bertujuan mempererat hubungan antarmasyarakat. Melalui tradisi ini, nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas sosial terus dipupuk dan dilestarikan.
Di era modern, Kenduri Blang bukan sekadar kenduri dan doa bersama, tetapi juga menjadi wadah musyawarah para petani menjelang musim tanam. Dalam musyawarah tersebut dibahas berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan persawahan, seperti pembagian air irigasi secara adil dan penentuan jadwal tanam padi.
Pelestarian Kenduri Blang kini menjadi tantangan tersendiri, terutama karena banyak generasi muda yang kurang tertarik pada bidang pertanian dan menganggap tradisi tersebut tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Padahal, Kenduri Blang mengandung nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan musyawarah yang penting dalam membentuk karakter generasi muda. Oleh karena itu, pelestarian tradisi ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mendukung keberlanjutan sektor pertanian sebagai penopang ketahanan pangan masyarakat.
28 Juni 2026
Krisis Empati di Tengah Perkembangan Teknologi
![]() |
| Foto: Pixels |
13 Juni 2026
Langkah di Balik Mimpi
Rizki berasal dari keluarga sederhana di sebuah desa. Sejak diterima di perguruan tinggi, ia bertekad untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat membanggakan kedua orang tuanya. Namun, kehidupan mahasiswa ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.
Suatu hari, dosen memberikan tugas kelompok yang harus dikumpulkan dalam waktu satu minggu. Di saat yang sama, organisasi kampus tempat Rizki aktif sedang mempersiapkan sebuah acara besar. Belum lagi, ia harus bekerja paruh waktu pada malam hari untuk menambah uang saku.
“Bagaimana aku bisa menyelesaikan semuanya?” gumam Rizki sambil menatap daftar tugas di layar laptopnya.
Meski merasa lelah, Rizki tidak menyerah. Ia mulai menyusun jadwal harian dengan lebih teratur. Pagi hingga siang digunakan untuk kuliah, sore untuk rapat organisasi, dan malam hari untuk bekerja serta menyelesaikan tugas.
Hari demi hari berlalu. Rasa lelah sering datang, tetapi dukungan teman-teman membuatnya tetap semangat. Mereka saling membantu mengerjakan tugas dan mengingatkan satu sama lain ketika ada yang mulai kehilangan motivasi.
Akhirnya, hari presentasi tiba. Kelompok Rizki berhasil mempresentasikan tugas dengan baik dan mendapat apresiasi dari dosen. Acara organisasi yang mereka persiapkan juga berjalan lancar.
Sepulang dari kampus, Rizki duduk di taman sambil tersenyum. Ia menyadari bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mendapatkan nilai yang tinggi, tetapi juga belajar mengatur waktu, bekerja sama, dan bertanggung jawab.
Saat melihat pesan dari ibunya yang berbunyi, “Tetap semangat belajar, Nak. Kami bangga padamu,” mata Rizki berkaca-kaca. Semua rasa lelah yang ia rasakan seakan terbayar.
Sejak hari itu, Rizki semakin yakin bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, adalah langkah menuju mimpi yang ingin ia capai. Dan sebagai mahasiswa, ia percaya bahwa masa kuliah adalah tempat terbaik untuk belajar menjadi pribadi yang lebih kuat dan dewasa.
Penulis: Razwa Syuib
Editor: Chalisa Najla Safira
12 Juni 2026
Meneguhkan Peran UIN SUNA di Usia 57 Tahun
![]() |
| Foto: Putri Ruqaiyah |
Perjalanan tersebut tentu tidak ditempuh dalam waktu yang singkat. Sejak berdiri pada 12 Juni 1969, kampus ini tumbuh bersama perubahan zaman, menjawab berbagai tantangan, dan terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat. Berbagai capaian yang diraih hingga saat ini, mulai dari penguatan kelembagaan, peningkatan sarana dan prasarana, hingga lahirnya ribuan alumni yang berkiprah di berbagai bidang, menjadi bukti bahwa cita-cita besar yang dirintis para pendiri terus berkembang dan memberikan manfaat nyata.
Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, peran perguruan tinggi tidak lagi sebatas menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik. Dunia membutuhkan generasi yang mampu memadukan kecerdasan intelektual dengan kekuatan moral dan spiritual. Dalam konteks tersebut, UIN Sultanah Nahrasiyah memiliki posisi yang strategis sebagai institusi yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kehadiran kampus ini menjadi penting karena mampu menghadirkan ruang pembelajaran yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu, tetapi juga pembentukan karakter. Mahasiswa didorong untuk menjadi pribadi yang kritis, inovatif, dan profesional tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan tanggung jawab sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.
Sebagai bagian dari keluarga besar UIN Sultanah Nahrasiyah, rasa syukur patut dipanjatkan atas perjalanan panjang yang telah dilalui. Penghargaan yang setinggi-tingginya layak diberikan kepada para pendiri yang telah meletakkan fondasi kampus ini dengan penuh ketulusan dan pengorbanan. Apresiasi yang sama juga patut disampaikan kepada para dosen, tenaga kependidikan, pimpinan, mahasiswa, serta seluruh sivitas akademika yang terus menjaga semangat pengabdian dan kualitas institusi dari masa ke masa.
Kontribusi mereka mungkin tidak selalu tercatat dalam setiap lembar sejarah, tetapi jejak pengabdiannya dapat dirasakan melalui berbagai kemajuan yang telah dicapai. Berkat kerja keras dan dedikasi yang berkelanjutan, UIN Sultanah Nahrasiyah mampu berkembang menjadi perguruan tinggi Islam yang terus berupaya menjawab kebutuhan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai yang menjadi jati dirinya.
Memasuki usia ke-57 tahun, UIN Sultanah Nahrasiyah tidak hanya merayakan capaian masa lalu, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk melangkah lebih maju pada masa yang akan datang. Tantangan dunia pendidikan akan terus berubah, namun semangat untuk melahirkan generasi unggul, memperkuat tradisi akademik, serta memberikan kontribusi bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan harus tetap menjadi arah perjuangan bersama.
Pada akhirnya, kampus ini bukan sekadar tempat menuntut ilmu. UIN Sultanah Nahrasiyah adalah ruang tumbuhnya harapan, lahirnya gagasan, dan terbangunnya masa depan yang lebih baik. Di usia emas ke-57 tahun, rasa syukur dan kebanggaan atas perjalanan yang telah ditempuh menjadi energi untuk terus merawat keunggulan dan menyalakan peradaban bagi generasi yang akan datang.
Penulis: Cut Saputri
Editor: Zahratul
11 Juni 2026
Lipstick Effect: Gaya Hidup di Tengah Tekanan Ekonomi
![]() |
| Foto: Pixels |
Sekilas, tingginya konsumsi ini dianggap sebagai tanda bahwa kondisi ekonomi masyarakat sedang baik-baik saja. Namun, anggapan tersebut belum tentu benar. Dalam banyak kasus, lipstick effect justru muncul ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi. Karena sulit membeli aset besar atau mencapai tujuan finansial jangka panjang, mereka mencari kepuasan melalui konsumsi yang lebih terjangkau, seperti nongkrong, membeli pakaian baru, atau produk kecantikan.
Media sosial turut memperkuat fenomena ini. Banyak orang terdorong untuk menjaga citra dan gengsi agar terlihat mengikuti tren yang sedang berkembang. Akibatnya, keputusan membeli sering kali didasarkan pada keinginan, bukan kebutuhan.
Oleh karena itu, maraknya budaya nongkrong dan belanja bukan selalu pertanda ekonomi yang sehat. Ekonomi yang baik seharusnya ditandai dengan meningkatnya kesejahteraan, kemampuan menabung, dan stabilitas keuangan masyarakat. Jika gaya hidup lebih diprioritaskan daripada kebutuhan pokok dan perencanaan masa depan, maka fenomena tersebut justru menjadi cerminan adanya masalah dalam pola konsumsi masyarakat saat ini.
Penulis: Daffa Alkausar
Editor: Chalisa Najla Safira
08 Juni 2026
Selalu Ada Tempat untuk Pulang
![]() |
| Foto: Pixels |
Lalu, kita pulang.
Bukan sekadar pulang ke sebuah bangunan beratap, tetapi pulang pada ketenangan yang selama ini dicari, pulang pada tempat yang menerima kita tanpa syarat. Tempat yang tidak bertanya tentang kekalahan, tidak mempermasalahkan berapa kali kita terjatuh, dan tidak menuntut sejauh mana kita telah melangkah. Tempat yang hanya hadir, membuka ruang, dan mempersilakan kita beristirahat dari dunia luar yang melelahkan.
Aneh, bukan? Di luar sana, kita sering dipaksa merangkai kata untuk menjelaskan diri. Menjelaskan pilihan yang kita ambil, menjelaskan mimpi yang sedang diperjuangkan, bahkan menjelaskan luka yang belum benar-benar sembuh dan tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Namun, ada tempat yang tidak membutuhkan penjelasan apa pun. Tempat yang mampu memahami lelah hanya dari sorot mata yang redup, mengerti sedih tanpa harus mendengar seluruh cerita. Di sana, diam terasa seperti bahasa yang dimengerti.
Mungkin karena itu manusia selalu mencari tempat untuk kembali. Sebab setinggi apa pun seseorang terbang, ia tetap membutuhkan tempat untuk mendarat. Sejauh apa pun seseorang menyelam, ia tetap membutuhkan daratan untuk bernapas.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa jauh kita berkelana. Setelah menempuh begitu banyak jalan, yang paling dicari bukanlah tepuk tangan atau pengakuan, melainkan sebuah tempat yang tetap membuka pintunya, menyediakan telinga untuk mendengar cerita, dan menerima tanpa peduli seberapa besar luka yang dibawa. Tempat yang tetap ada, bahkan ketika kita datang dengan hati yang lelah dan langkah yang hampir menyerah.
Ketika hari esok kembali datang dengan segala cerita dan tantangan barunya, kita memilih untuk melangkah lagi. Bukan karena sudah tidak lelah, melainkan karena kita tahu bahwa selalu ada tempat untuk pulang ketika dunia terasa terlalu berat untuk dihadapi sendirian.
Penulis: Chalisa Najla Safira
Editor: Zahratul
01 Juni 2026
Sebilah Cinta di Hari Kurban
![]() |
| Foto: Pexels |
www.lpmalkalam.com- Hari Raya Iduladha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan. Ia adalah cermin batin yang memaksa kita bertanya apa yang benar-benar kita pegang erat, dan apakah kita sanggup melepaskannya ketika Allah meminta?
Setiap tahun, di halaman rumah dan lapangan masjid kampung, pisau diasah dan takbir dikumandangkan. Kita menyaksikan proses itu dengan tenang, seolah maknanya sudah kita mengerti sejak kecil. Padahal, mungkin selama ini kita hanya melihat hewan yang disembelih, bukan pergulatan batin Ibrahim.
Nabi Ibrahim bukanlah manusia yang tidak memiliki perasaan. Justru sebaliknya, ia adalah seorang ayah yang sangat mencintai putranya, Ismail, yang lahir setelah penantian panjang. Maka, langkahnya menuju Mina bukanlah langkah yang ringan. Bebannya lebih berat daripada setiap batu yang diinjaknya di bukit itu. Kisah ini bukan tentang ketidakpedulian, melainkan tentang cinta yang begitu dalam hingga sanggup dikalahkan oleh kepatuhan.
Di sinilah letak salah paham yang sering kita bawa. Kita mengira bahwa orang yang berkorban adalah orang yang tidak mencintai apa yang ia korbankan. Padahal, yang benar justru sebaliknya. Pengorbanan yang sejati hanya mungkin lahir dari cinta yang nyata. Bila tidak ada kecintaan, tidak ada yang namanya pengorbanan. Yang ada hanyalah pelepasan biasa.
Pertanyaannya bukan soal hewan mana yang kita sembelih hari ini. Tetapi apa yang masih kita genggam terlalu erat? Nama seseorang yang sudah seharusnya kita ikhlaskan? Rencana lama yang terus kita pertahankan, bukan karena masih baik bagi kita, melainkan karena kita takut mengakui bahwa jalan lain telah lama terbuka, sementara kita memilih menutup mata terhadapnya?
Iduladha mengajarkan bahwa keikhlasan bukanlah ketidakpedulian. Tangan yang gemetar namun tetap membuka genggaman justru lebih mulia daripada tangan yang melepas sesuatu yang memang tidak pernah dicintai. Kesunyian terberat bukan terletak pada pisau yang jatuh, melainkan pada keputusan di dalam dada sebelum pisau itu diangkat.
Takbir masih bergema, dan mungkin ia bukan hanya untuk merayakan ketaatan Ibrahim ribuan tahun lalu. Ia juga hadir untuk menguatkan kita yang hari ini masih berdiri di lapangan yang sama, membawa beban yang tidak terlihat, dan berjuang mempelajari satu hal paling sulit dalam hidup adalah melepaskan karena cinta, bukan karena tidak peduli.
Penulis: Cut Saputri
Editor: Chalisa Najla Safira
30 Mei 2026
Sampai Mana Batas Sebuah Candaan?
![]() |
| Foto: Pixabay |
www.lpmalkalam.com- Pernahkah kamu merasa tersinggung oleh candaan teman, lalu ditertawakan oleh banyak orang karena lelucon yang menurutmu menyinggung, tetapi justru dianggap “baperan”? Atau pernahkah kamu melontarkan candaan yang menurutmu lucu, tetapi ternyata membuat orang lain terdiam dan menjauh dengan raut wajah yang berubah seketika?
Belakangan ini, pembahasan tentang batas gurauan semakin sering muncul, terutama di media sosial dan dalam pergaulan sehari-hari. Banyak orang menutup argumen mereka dengan dalih gurauan, seolah-olah hal itu menjadi pembenaran atas segala ucapan. Batas antara bercanda dan menghina pun semakin tipis. Tidak sedikit yang berlindung di balik kalimat “kan cuma bercanda”, padahal kata-kata yang diucapkan bisa saja melukai perasaan orang lain.
Dalam sebuah unggahan akun @mudahbergaul, Dimas Alwin, S.Psi., menulis kalimat tegas, “Stop normalisasi bercanda dan malah bilang orang lain yang baperan!” Kalimat sederhana tersebut menyindir kebiasaan sebagian masyarakat yang kerap meremehkan perasaan orang lain dengan dalih “hanya bercanda”. Padahal, tidak semua orang memiliki batas kenyamanan yang sama dalam menerima candaan. Unggahan itu menjadi pengingat bahwa sebelum menilai orang lain terlalu sensitif, mungkin kita perlu terlebih dahulu mengukur kepekaan diri sendiri.
Di lingkungan kampus, candaan sering muncul sebagai bentuk keakraban. Namun, tidak semua candaan pantas dilontarkan. Lelucon tentang fisik, latar belakang keluarga, atau pengalaman pribadi dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat. Bahkan, korbannya bisa membawa beban tersebut jauh setelah tawa berhenti. Karena itu, empati dan kesadaran sosial menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan komunikasi yang sehat dan saling menghargai.
Bercanda bukan sekadar perkara benar atau salah, melainkan soal memahami tempat, waktu, dan perasaan orang lain. Cara kita memilih dan menyampaikan kata-kata akan menentukan apakah candaan itu menghadirkan tawa atau justru meninggalkan luka. Menghargai perasaan orang lain bukanlah bentuk sikap “baper”, melainkan bukti bahwa kita memahami sisi manusiawi dalam berkomunikasi.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti menjadikan kata “baper” sebagai ejekan. Sebaliknya, anggaplah istilah itu sebagai pengingat bahwa setiap orang memiliki batas yang berbeda dalam menerima candaan. Sebab, dunia tidak kekurangan orang yang pandai melucu. Yang kita butuhkan adalah lebih banyak orang yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.
Penulis: Amanda Zuhra
Editor: Chalisa Najla Safira
26 Mei 2026
Meugang: Bukan Sekadar Daging, tetapi Warisan Budaya
![]() |
| Foto: Pixels |
23 Mei 2026
Ruang Diskusi atau Arena Konflik
![]() |
| Foto: Pixels |
www.lpmalkalam.com- Baru-baru ini, lingkungan Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, menjadi sorotan akibat terjadinya pertikaian antar mahasiswa dari Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian. Konflik tersebut diduga bermula dari cekcok antar oknum organisasi mahasiswa yang kemudian berkembang menjadi tindakan saling menyerang. Akibatnya, sejumlah fasilitas fakultas mengalami kerusakan bahkan terbakar, serta terdapat mahasiswa yang menjadi korban dalam insiden tersebut.
Peristiwa ini tentu sangat disayangkan, mengingat kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya pemikiran kritis, diskusi ilmiah, dan penyelesaian masalah secara dewasa. Mahasiswa sering disebut sebagai agen perubahan dan kaum intelektual. Namun, tindakan anarkis yang terjadi justru menunjukkan hilangnya sikap idealis dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi persoalan.
Tindakan menyerang fasilitas kampus maupun sesama mahasiswa bukanlah bentuk keberanian ataupun solidaritas. Sebaliknya, tindakan tersebut hanya memperlihatkan tingginya ego antar kelompok tanpa memikirkan dampak jangka panjang yang ditimbulkan. Kerusakan fasilitas bukan hanya merugikan satu pihak, melainkan seluruh civitas akademika. Kampus yang seharusnya menjadi ruang belajar bersama justru berubah menjadi arena konflik yang dipenuhi amarah.
Selain itu, konflik seperti ini mencerminkan rendahnya kemampuan dalam mengendalikan emosi dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Sebagai mahasiswa, seharusnya penyelesaian konflik dilakukan melalui dialog, mediasi, dan pemikiran rasional, bukan dengan kekerasan. Sikap kritis bukan berarti bertindak agresif, melainkan mampu mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan yang dilakukan.
Jika kasus seperti ini terus terjadi tanpa adanya pembenahan dari kedua belah pihak, maka nilai-nilai intelektualitas di lingkungan kampus akan semakin memudar. Mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu menunjukkan kedewasaan dalam bersikap dan bertindak.
Pada akhirnya, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa status 'mahasiswa' bukan sekadar identitas pendidikan, melainkan tanggung jawab moral untuk berpikir kritis, menjaga idealisme, dan menyelesaikan masalah secara bijaksana. Kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya solusi, bukan tempat tumbuhnya permusuhan.
Penulis: Daffa Alkausar
Editor: Chalisa Najla Safira
20 Mei 2026
Pencemaran Laut dan Rendahnya Kepedulian Manusia
![]() |
| Foto: Pixels |
Mengenai Saya
- LPM AL-KALAM
- Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.



















