Portal Berita Al-Kalam

Kita Merekam, tetapi Lupa Menolong

Foto: Pixels www.lpmalkalam.com- Ada pemandangan yang semakin mudah ditemukan di tengah kehidupan digital. Saat terjadi keributan, kecelaka...

HEADLINE

Latest Post

08 September 2026

Kita Merekam, tetapi Lupa Menolong

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Ada pemandangan yang semakin mudah ditemukan di tengah kehidupan digital. Saat terjadi keributan, kecelakaan, atau tindak kekerasan di tempat umum, ponsel segera terangkat. Orang-orang langsung berkumpul, kamera diarahkan, dan kejadian yang seharusnya mengundang pertolongan justru berubah menjadi tontonan.

Menurut pendapat penulis, keadaan ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan meningkatnya kepedulian manusia. Kita semakin mudah mendapatkan informasi, tetapi juga semakin mudah menjadi penonton dari penderitaan orang lain. Masalahnya bukan terletak pada kamera, melainkan pada pilihan kita ketika menggunakannya. Saat melihat seseorang menjadi korban kekerasan, apakah hal pertama yang kita pikirkan adalah merekam atau mencari bantuan?

Sebuah rekaman terkadang memang diperlukan sebagai bukti. Namun, masalah muncul ketika rekaman tersebut disebarluaskan tanpa mempertimbangkan kondisi korban atau bahkan dijadikan bahan hiburan. Kita sering lupa bahwa rekaman yang hanya berlangsung beberapa menit bagi penonton dapat menjadi pengalaman traumatis bagi korban.

Yang lebih dikhawatirkan adalah respons setelah video tersebar. Kolom komentar sering menjadi ruang penghakiman. Korban disalahkan, pelaku dijadikan bahan lelucon, dan penonton berlomba-lomba memberikan pendapat hanya berdasarkan potongan video yang belum tentu menggambarkan keseluruhan kejadian.

Kebiasaan ini perlu dihentikan. Kita terlalu terbiasa mengabadikan setiap kejadian sampai lupa bahwa tidak semua hal layak dijadikan tontonan. Ketika seseorang sedang terluka atau ketakutan, yang dibutuhkan bukan banyaknya penonton, melainkan pertolongan.

Dalam situasi yang cukup berbahaya, keselamatan diri tetap menjadi pertimbangan utama. Sebagai penonton, kita juga memiliki tanggung jawab atas apa yang kita lakukan setelah melihat sebuah kejadian. Tidak semua hal harus direkam, dikomentari, dan disebarluaskan.

Teknologi seharusnya membantu manusia menjadi lebih peduli, bukan membuat kita terbiasa melihat penderitaan sebagai hiburan. Setiap tindakan kita di ruang digital turut menentukan hal-hal yang seharusnya mendapatkan perhatian.

Saat kekerasan terjadi di depan mata, merekam bukan satu-satunya pilihan karena kita masih bisa memilih untuk peduli.


Penulis: Julia Sabela

Editor: Redaksi

28 Agustus 2026

Dari Sudut Air Terjun Blang Kolam yang Kumuh

Foto: Daffa Alkausar
www.lpmalkalam.com- Air Terjun Blang Kolam dikenal sebagai salah satu objek wisata alam yang memiliki keindahan dan suasana yang masih alami. Namun, kini keindahan tersebut mulai terganggu oleh tumpukan sampah yang ditinggalkan pengunjung, mulai dari sisa makanan hingga sampah plastik yang sulit terurai.

Tidak adanya petugas khusus untuk membersihkan kawasan tersebut membuat sampah semakin menumpuk. Seorang tukang parkir di lokasi mengatakan bahwa sampah biasanya akan terbawa arus ketika hujan turun dan debit air meningkat. Namun, membiarkan sampah terbawa arus bukanlah solusi karena dapat mencemari aliran sungai serta berdampak pada lingkungan dan masyarakat sekitar.

Persoalan ini seharusnya menjadi perhatian bersama. Pemerintah perlu meningkatkan pengelolaan kebersihan kawasan wisata, sementara pengunjung harus memiliki kesadaran untuk membawa kembali sampah mereka atau membuangnya pada tempat yang telah disediakan.

Air Terjun Blang Kolam bukan sekadar air yang jatuh dari ketinggian, tetapi juga bagian dari keindahan alam yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Jika tidak dijaga, keindahan yang diwariskan kepada generasi berikutnya mungkin hanya akan tinggal cerita.


Penulis: Daffa Alkausar

Editor: Redaksi



27 Agustus 2026

Ketika Pertalite di Ketol Nyaris Seharga Pertamax, Siapa yang Diuntungkan?

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Perkembangan zaman membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Mulai dari akses transportasi yang semakin lancar, distribusi barang yang berjalan lebih cepat, hingga kendaraan bermotor yang kini menjadi salah satu sarana utama mobilitas masyarakat.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan sosial yang nyata, yaitu melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di tingkat eceran. Kestabilan harga resmi yang ditetapkan pemerintah ternyata belum diiringi dengan pemerataan ketersediaan pasokan hingga ke pelosok desa.

Fenomena ini dapat dilihat secara langsung di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Di wilayah tersebut, harga Pertalite eceran sudah jauh dari harga normal akibat kelangkaan yang kerap terjadi. Warga terpaksa merogoh kocek hingga Rp15.000 per liter, angka yang hampir setara dengan harga Pertamax. Padahal, bagi masyarakat yang setiap hari mengandalkan sepeda motor untuk bekerja atau mengangkut hasil kebun, selisih harga tersebut tentu sangat membebani pengeluaran.

Kondisi yang menyulitkan masyarakat ini sering kali dibiarkan tanpa adanya solusi cepat. Seolah-olah, beban ekonomi yang harus ditanggung masyarakat kecil bukan menjadi persoalan yang mendesak. Dari sini terlihat bahwa niat pemerintah dalam memberikan subsidi dapat kehilangan manfaatnya di tengah perjalanan akibat rantai distribusi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Situasi ini tentu memprihatinkan. Kebijakan subsidi memang telah ditetapkan secara nasional, tetapi pengawasan di tingkat daerah masih perlu diperkuat. Jika dipikirkan kembali, apakah kebijakan yang ada benar-benar telah membantu masyarakat kecil atau justru membuat mereka semakin terjepit?

Pemerataan hak seharusnya menjadi perhatian utama, bukan hanya bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota besar, tetapi juga bagi mereka yang berada di daerah terpencil. Jika pasokan BBM di daerah pelosok sering mengalami hambatan, pihak berwenang seharusnya lebih tegas dalam mengawasi jalur distribusinya agar tidak mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.

Membiarkan harga BBM bersubsidi melonjak di tingkat eceran demi keuntungan sepihak merupakan persoalan yang tidak boleh dianggap biasa. Kondisi ini menjadi bukti bahwa lemahnya pengawasan dapat membuat masyarakat di pelosok harus menanggung beban ekonomi yang lebih berat.

Subsidi seharusnya menjadi penopang untuk meringankan kehidupan masyarakat secara adil, bukan berubah menjadi komoditas yang sulit diperoleh oleh masyarakat di tingkat akar rumput.

Jangan sampai ketimpangan distribusi membuat keadilan sosial hanya menjadi slogan kosong. Sebab, keberhasilan subsidi tidak semata-mata diukur dari baiknya angka yang tercatat di atas kertas, tetapi juga dari seberapa mudah masyarakat di pelosok dapat merasakan manfaatnya secara nyata.


Penulis: Ilham Dwi Temasmiwa

Editor: Redaksi

19 Agustus 2026

Jirani Coffee House: Antara Rasa, Suasana, dan Kenyamanan

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Aroma kopi segar menyambut begitu pintu terbuka. Dinding bata, rak kayu penuh cangkir unik, dan lampu hangat menciptakan suasana yang tenang dan akrab. Papan menu tulisan tangan di tengah dinding menjadi jendela keramahan tempat ini.
 
Saat secangkir kopi hangat tersaji, manis karamel, lembut susu, dan rasa kopi yang berkarakter setiap tegukan terasa seperti pelukan yang melepas lelah. Suara mesin kopi, tawa pelan, dan obrolan hangat menyatu menjadi irama damai, jauh dari kebisingan luar.
 
Di sini, rasa bukan sekadar enak. Suasananya menenangkan, kenyamanan terasa seperti di rumah sendiri. Jirani Coffee House bukan sekadar kedai kopi, tetapi juga ruang untuk beristirahat, bernapas, dan menikmati momen sederhana yang penuh kedamaian.
 

Penulis: Iftal Ghifari

Editor: Chalisa Najla Safira

14 Agustus 2026

Tak Kenal, Maka Tak Kimpul?

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Di tengah arus masyarakat Indonesia yang sedang sibuk mencari makanan hits di kafe-kafe ternama, muncul makanan yang bernama kimpul. Menurut Wikipedia, kimpul adalah tanaman yang termasuk dalam suku talas-talasan (Araceae) dengan bentuk pati dan dapat dikonsumsi.

Kimpul awalnya diperkenalkan akun Black Sheep di aplikasi TikTok dengan konten-kontennya yang berisi makanan ketahanan pangan berbasis umbi-umbian seperti kimpul, growol, gembolo, gembili, tiwul, dan tempe benguk. 

Rasanya yang hampir menyerupai kentang membuat beberapa influencer mencoba membuat makanan yang berbahan dasar kimpul. Beberapa makanan yang berhasil dimodifikasi dengan kimpul misalnya kimpuljeon, dumpling kimpul, kimpul chewy cookie, sushi kimpul, dan mango sticky kimpul.

Sebagai warga Indonesia kita patut bangga dengan salah satu bahan makanan ini dan harus melestarikannya. Karena kimpul tersebut, selain harganya yang terjangkau juga termasuk mudah untuk dibudidayakan atau ditemukan di pasar tradisional. Menuju 81 tahun kemerdekaan Indonesia, selamat mencoba kimpul. 


Penulis: Zahratul

Editor: Chalisa Najla Safira

12 Agustus 2026

Fenomena Feodalisme Ketika Memperingati Kemerdekaan

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Teman-teman sadar tidak bahwa ada budaya yang masih dicerca hingga sekarang, namun tanpa disadari masih lekat dilakukan? Budaya itu adalah feodalisme. Feodalisme sering dibahas terjadi di lingkungan pesantren dan akademik, namun yang jarang kita sadari, padahal tampak jelas dan mudah dilihat, justru terjadi pada pelaksanaan Upacara Peringatan Kemerdekaan Indonesia.

Ketika upacara tersebut dilaksanakan, ada segelintir orang yang ditempatkan di bawah tenda teduh yang dihias sedemikian rupa. Namun di sisi lain, ada yang harus berpanas-panasan di bawah terik matahari demi menunjukkan nasionalisme.

Orang-orang di bawah tenda itu biasanya dipilih untuk mengurus kepentingan masyarakat, namun pada saat yang sama mereka justru melakukan feodalisme, bahkan di hari kemerdekaan itu sendiri. Mereka memosisikan diri seakan memiliki status hierarki yang lebih tinggi dari mereka yang berdiri di bawah terik matahari.

Feodalisme modern tidak selalu hadir dalam bentuk seorang bawahan yang membungkuk di hadapan atasannya. Ia dapat hadir secara lebih halus, salah satunya melalui perbedaan perlakuan berdasarkan jabatan dan status, seperti yang terjadi dalam upacara kemerdekaan tadi.

Namun, bukan berarti setiap pejabat atau orang yang berada di bawah tenda dapat langsung dikatakan melakukan feodalisme. Fasilitas tersebut bisa saja diberikan karena alasan yang wajar, seperti faktor kesehatan, usia, tugas protokoler, atau kebutuhan tertentu yang memang harus dipertimbangkan. Persoalan baru muncul ketika fasilitas khusus itu diberikan semata-mata berdasarkan jabatan atau status sosial, tanpa alasan yang jelas dan proporsional, dan di situlah kita patut bertanya apakah pemberiannya benar-benar karena kebutuhan objektif, atau karena jabatan dianggap memberikan hak istimewa?

Jika alasannya semata-mata karena status, maka persoalannya bukan lagi sekadar tenda atau tempat berteduh. Persoalannya adalah cara kita memandang kesetaraan. Orang yang memiliki jabatan publik pada dasarnya memperoleh amanah untuk melayani masyarakat, bukan kedudukan yang membuat mereka lebih berhak atas kenyamanan dibandingkan masyarakat yang mereka layani.

Ironisnya, praktik semacam ini justru bisa berlangsung dalam upacara yang memperingati kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan seharusnya menjadi simbol bahwa setiap warga negara memiliki kedudukan yang setara. Karena itu, peringatan kemerdekaan seharusnya tidak hanya menjadi ritual mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat apakah nilai kesetaraan itu benar-benar kita praktikkan hari ini.


Penulis: Muhammad Rahul Gonzales

Editor: Chalisa Najla Safira

10 Agustus 2026

Mahar Tinggi di Tanah Rencong, Sebuah Penghormatan atau Gerbang Awal Menuju Zina

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Perkembangan zaman membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam urusan tradisi pernikahan. Mulai dari tata cara resepsi yang semakin modern, prosesi lamaran yang berjalan dengan megah, hingga standar adat yang kerap mengikuti perkembangan. Namun, di balik itu, tradisi tersebut memunculkan sebuah persoalan sosial yang nyata, yaitu tingginya tuntutan mahar atau uang hantaran jeulame. Ternyata sakralnya ikatan pernikahan tidak diiringi dengan kemudahan proses pelaksanaannya bagi kaum muda.

Fenomena ini bisa dilihat dari maraknya penetapan mahar dengan nominal fantastis, kebiasaan mematok standar ekonomi yang memberatkan pihak laki-laki, hingga banyaknya pasangan yang harus menunda pernikahan karena terkendala biaya adat. Bahkan saat niat baik untuk menghalalkan hubungan sudah bulat, keluarga atau lingkungan sekitar kerap menuntut standar mahar yang tinggi atas nama gengsi dan bentuk penghormatan terhadap perempuan, tanpa melihat kemampuan keuangan yang sebenarnya.

Tuntutan biaya yang memberatkan tersebut kemudian memicu keresahan tersendiri tanpa memikirkan dampak psikologis maupun risiko sosial yang ditimbulkannya. Ini menunjukkan bahwa esensi pernikahan yang sakral telah bergeser oleh keinginan untuk memenuhi gengsi sosial dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat sekitar.

Kebiasaan seperti ini sangatlah memprihatinkan. Adat dan tradisi memang penting untuk dijaga sebagai identitas budaya, tetapi tidak semua standar materi layak dijadikan tolok ukur kemuliaan seseorang. Padahal, jika direnungkan kembali, agama sebenarnya tidak mempersulit, dan ajaran Islam sendiri selalu menekankan agar proses menuju kehalalan dibuat semudah mungkin demi menjaga kehormatan diri.

Dalam ajaran agama, yang seharusnya menjadi prioritas utama adalah kemudahan menikah. Jika mahar dipatok terlalu tinggi hingga menyulitkan, setidaknya tradisi bisa disesuaikan agar tidak menjadi batu sandungan bagi generasi muda yang ingin berbuat baik.

Menjadikan tradisi mahar yang memberatkan sebagai ajang pamer status sosial juga merupakan hal yang seharusnya tidak dilakukan, apalagi dinormalisasikan. Kedua hal ini dapat menjadi bukti nyata penyimpangan nilai yang justru berisiko menjerumuskan pada hal-hal yang dilarang agama, seperti perbuatan zina akibat tertundanya pernikahan yang sah.

Tradisi seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana menyempurnakan separuh agama dengan mudah, bukan malah digunakan untuk mempersulit proses ibadah demi mengejar kepuasan citra diri semata. Jangan sampai aturan adat malah menjauhkan nilai-nilai kebaikan. Karena sebenarnya kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa besar jumlah mahar atau kemewahan pesta yang diberikan, melainkan dari keberkahan niat dan kemudahan menuju jalan yang halal.


Penulis: Ilham Dwi Temas Miwa

Editor: Chalisa Najla Safira

09 Agustus 2026

Bahasa Aceh Mulai Malu Dituturkan di Ibu Kota

Foto: Daffa Alkausar
www.lpmalkalam.com- Bahasa Aceh merupakan bagian penting dari identitas dan warisan budaya masyarakat Aceh. Namun, di kawasan ibu kota seperti Banda Aceh, semakin banyak generasi muda yang enggan menggunakan bahasa Aceh dalam percakapan sehari-hari. Sebagian merasa lebih percaya diri menggunakan bahasa Indonesia, bahkan menganggap bahasa daerah terkesan kuno atau kurang modern. Akibatnya, bahasa Aceh mulai jarang terdengar di lingkungan sekolah, kampus, tempat kerja, hingga ruang publik.

Rasa malu menggunakan bahasa Aceh merupakan tantangan yang perlu disadari bersama. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan jati diri dan budaya suatu masyarakat. Jika generasi muda terus meninggalkan bahasa Aceh karena gengsi atau takut dianggap tidak keren, lambat laun bahasa tersebut akan semakin terpinggirkan.

Melestarikan bahasa Aceh bukan berarti menolak penggunaan bahasa Indonesia atau bahasa asing. Justru, kemampuan menguasai banyak bahasa merupakan kelebihan. Yang terpenting adalah tetap bangga menggunakan bahasa Aceh dalam lingkungan yang sesuai agar identitas budaya tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.


Penulis: Daffa Alkausar

Editor: Chalisa Najla Safira

08 Agustus 2026

Ketika Merdeka Belum Sepenuhnya Terasa

 
Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Setiap bulan Agustus, merah putih kembali memenuhi langit Indonesia. Bendera dikibarkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan kisah perjuangan para pahlawan kembali dikenang. Kita merayakan kemerdekaan dengan penuh kebanggaan. Namun, di balik kemeriahan itu, ada satu pertanyaan yang mungkin perlu kita renungkan: sudahkah kemerdekaan benar-benar terasa dalam kehidupan seluruh rakyat Indonesia?

Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tapi lebih dari itu. Kemerdekaan seharusnya memberikan ruang bagi setiap masyarakat untuk hidup dengan layak, mendapatkan keadilan, memperoleh pendidikan, serta memiliki kesempatan untuk menentukan masa depannya. Sebab, apa arti kemerdekaan jika masih ada orang yang setiap hari harus berjuang keras hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup?

Di tengah kehidupan masyarakat, persoalan seperti harga kebutuhan, kesempatan kerja, pendidikan, dan kesenjangan masih menjadi bagian dari kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Ada orang tua yang bekerja dari pagi hingga malam demi keluarganya. Ada anak muda yang berusaha mencari pekerjaan dan membangun masa depan. Ada pula masyarakat yang masih berharap agar suara mereka didengar dan hak mereka diperlakukan dengan adil.

Belum lagi persoalan korupsi yang terus menjadi tantangan. Ketika amanah yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat justru disalahgunakan, dampaknya tidak berhenti pada kerugian negara. Kepercayaan masyarakat pun ikut terkikis. Pada titik inilah kemerdekaan kembali dipertanyakan: apakah rakyat benar-benar memiliki rasa aman dan percaya bahwa kepentingan mereka diperjuangkan?

Membicarakan masalah yang masih terjadi di Indonesia bukan berarti kita tidak mencintai negeri ini. Justru karena kita peduli, kita berani melihat apa yang masih kurang dan membicarakannya. Menurut saya, mencintai Indonesia bukan berarti harus selalu mengatakan semuanya sudah baik. Ada kalanya kita perlu mengkritik dan menyampaikan keresahan, supaya kemerdekaan yang kita rayakan setiap tahun tidak hanya berhenti pada upacara dan perlombaan, tetapi juga membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat.

Kemerdekaan seharusnya dapat dirasakan dalam hal-hal sederhana seperti ketika seseorang tidak takut memperjuangkan haknya, ketika hukum tidak membeda-bedakan, ketika pendidikan dapat dijangkau, ketika kerja keras memiliki kesempatan untuk menghasilkan kehidupan yang layak, dan ketika suara masyarakat tidak dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting.

Indonesia sudah lama merdeka, tetapi rasanya masih banyak hal yang perlu kita perjuangkan. Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga dan meneruskannya lewat apa yang kita lakukan hari ini.

Maka, di tengah perayaan kemerdekaan tahun ini, mungkin kita tidak hanya perlu bertanya sudah berapa lama Indonesia merdeka, tetapi juga sudah sejauh mana kemerdekaan itu dirasakan oleh rakyatnya.

Sebab pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bendera yang berkibar di langit Indonesia. Kemerdekaan adalah ketika setiap orang yang hidup di bawahnya memiliki kesempatan untuk hidup dengan adil, aman, dan tetap memiliki harapan.


Penulis: Bellivia Al-Kamariana

Editor: Chalisa Najla Safira

07 Agustus 2026

Logat sebagai Identitas Pemuda Aceh

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Bahasa merupakan salah satu ciri khas masyarakat di suatu daerah. Indonesia kaya akan adat dan budaya. Dari keberagaman tersebut lahirlah berbagai bahasa yang membedakan masyarakat di setiap daerah. Namun, perbedaan itu tidak membuat warga harus dipandang sebelah mata atau didiskriminasi.

Di Aceh, masyarakat dikenal memiliki logat yang sangat khas. Bahasa Aceh sarat akan makna sehingga tidak dapat diartikan begitu saja tanpa memahami kaidah dan konteks penggunaannya. Hal inilah yang membuat masyarakat Aceh tetap terbawa logat daerahnya ketika berbicara dalam bahasa Indonesia.

Di era modern, sebagian generasi muda Aceh mulai merasa malu menggunakan bahasa daerahnya. Mereka menganggap logat Aceh sebagai suatu kekurangan dan ciri khas yang kurang enak didengar. Perasaan tersebut muncul akibat banyaknya komentar di media sosial yang menganggap logat Aceh terdengar aneh ketika digunakan saat berbahasa Indonesia.

Di tengah banyaknya para ibu yang masih mempertahankan budaya berbahasa daerah, masih sedikit anak-anak di Aceh yang diajarkan bahasa daerah sejak dini. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai alasan yang dimiliki para orang tua. Memilih bahasa ibu memang perlu dipertimbangkan dengan baik, tetapi bukan berarti harus mengesampingkan bahasa daerah yang menjadi bagian dari identitas budaya. Hal ini menjadi salah satu faktor berkurangnya penggunaan bahasa daerah di Indonesia.

Logat bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan ciri khas yang menjadi bagian dari identitas seseorang. Logat tidak seharusnya dijadikan bahan tertawaan, apalagi diremehkan di ruang media maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai pemuda, sudah sepatutnya kita turut melestarikan budaya Aceh, terutama bahasa daerah, serta menumbuhkan kembali kebanggaan generasi muda untuk menggunakan bahasa daerah secara santun dan benar.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Redaksi

06 Agustus 2026

Produksi Game Fisik Dihentikan, Sony Tetap Berjalan Walau Banyak Gamer yang Menolak

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Sony resmi mengumumkan bahwa produksi disk fisik untuk semua game baru yang dirilis di konsol PlayStation akan dihentikan mulai Januari 2028. Setelah tanggal tersebut, game baru, baik dari Sony maupun pengembang pihak ketiga, hanya akan tersedia melalui PlayStation Store dan peritel dalam format digital. Sony berdalih bahwa keputusan ini merupakan respons terhadap pergeseran preferensi konsumen ke arah digital. Perusahaan juga menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak akan berdampak pada game yang telah dirilis atau yang akan dirilis sebelum Januari 2028 dalam format disk.

Di atas kertas, argumen Sony terdengar masuk akal. Data internal perusahaan menunjukkan bahwa disk fisik hanya menyumbang sekitar 3 persen dari total pendapatan gaming PlayStation, turun drastis dari 6 persen pada 2020, saat PlayStation 5 pertama kali dirilis dengan disc drive. Dari sudut pandang bisnis, mempertahankan lini produksi untuk segmen sekecil itu memang sulit untuk dijustifikasi.

Namun, reaksi komunitas menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal angka. Petisi Don't Kill the Disc yang digagas oleh peritel independen PNP Games telah mengumpulkan lebih dari 330 ribu tanda tangan. Argumen utamanya ialah bahwa tanpa disk fisik, gamer kehilangan hak untuk menjual kembali, meminjamkan, atau benar-benar memiliki game yang mereka beli.

Sebagian gamer bahkan menggalang aksi yang lebih konkret melalui boikot selama sepekan bertajuk PSBlackout pada 23–30 Agustus. Mereka mengajak pengguna PlayStation untuk tidak login, bermain, maupun berbelanja di platform Sony selama periode tersebut.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Seorang pengguna Reddit menceritakan pengalamannya ketika koneksi internet di rumahnya mati selama beberapa hari. Ia sama sekali tidak dapat memainkan game digital yang dimilikinya karena PlayStation 5 menolak memverifikasi lisensi digital tanpa koneksi internet. Padahal, ketika masih menggunakan disk fisik, koleksi game-nya tetap dapat dimainkan meskipun listrik atau internet padam dalam waktu yang lama.

Persoalan tersebut menyentuh inti kekhawatiran banyak gamer, yakni mengenai preservasi game, ketergantungan pada server yang sewaktu-waktu dapat dihentikan, serta hilangnya rasa memiliki karena "membeli" game pada praktiknya hanya berarti membeli lisensi akses.

Menariknya, Sony tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengubah keputusannya. Dalam earnings call, Chief Financial Officer (CFO) Sony, Lin Tao, menyatakan bahwa pihaknya akan cautiously move this forward, atau tetap melanjutkan kebijakan tersebut secara bertahap. Ia juga mengakui memahami keterikatan emosional para gamer terhadap media fisik. Pernyataan itu terdengar empatik, tetapi pesan utamanya tetap sama: keputusan tersebut tidak akan dibatalkan.

Di sinilah letak dilema sesungguhnya. Sony memiliki hak untuk mengejar efisiensi bisnis, dan tren digital memang tidak dapat dimungkiri. Namun, gamer juga memiliki hak untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya mereka beli ketika menekan tombol "Beli" hanya menghasilkan lisensi yang sewaktu-waktu dapat dicabut.

Pertanyaannya bukan lagi apakah era disk fisik akan berakhir karena tampaknya hal itu memang tak terelakkan melainkan apakah industri game bersedia memberikan jaminan kepemilikan yang layak di dunia yang serba digital. Ataukah kita hanya akan menerima kenyataan bahwa "membeli" game pada akhirnya berarti menyewa akses untuk selamanya?


Penulis: Muhammad Rahul Gonzales

Editor: Chalisa Najla Safira

24 Juli 2026

Romantisisme di KKN Era Digital, Ketika Pengabdian Kabur menjadi Hasrat Viral

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Perkembangan teknologi membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan manusia. Mulai dari informasi yang dapat tersebar dengan cepat, komunikasi yang berjalan dengan lancar, dan jarak bukan menjadi penghalang untuk saling berinteraksi. Namun di balik itu, perkembangan teknologi memunculkan sebuah persoalan sosial yang nyata, yaitu kaburnya esensi pengabdian. Ternyata, kemajuan teknologi tidak diiringi dengan meningkatnya ketulusan kepedulian antarsesama.

Fenomena ini bisa dilihat dari maraknya pembuatan konten keseharian Kuliah Kerja Nyata (KKN) di media sosial, pamer drama interaksi antar teman satu tim, hingga banyaknya mahasiswa yang berlomba-lomba menciptakan citra romantis dengan warga desa demi meningkatkan popularitas. Bahkan saat menjalankan program kerja bersama rekan kelompok atau saat membantu warga di lokasi penempatan, kebanyakan mahasiswa justru lebih sibuk mengatur sudut kamera dan membuat video estetik daripada benar-benar bekerja sama secara solid atau mendengarkan keresahan masyarakat setempat.

Video atau momen kedekatan bersama rekan KKN maupun warga tersebut kemudian diunggah ke media sosial demi mendapatkan penonton tanpa memikirkan perasaan orang-orang di sekitar yang dijadikan objek konten. Ini menunjukkan bahwa nilai pengabdian telah bergeser oleh keinginan untuk menjadi yang pertama mengunggah kejadian dan mendapatkan banyak respon dari warganet.

Kebiasaan seperti ini sangatlah memprihatinkan. Perkembangan teknologi memang memudahkan seseorang untuk mendapatkan dokumentasi suatu peristiwa, tetapi tidak semua peristiwa layak untuk dijadikan konten. Dalam keadaan pengabdian masyarakat, yang seharusnya menjadi prioritas utama adalah kerja sama tim dan manfaat bagi manusia. Jika tidak mampu memberikan kontribusi secara langsung, setidaknya teknologi bisa digunakan untuk mendukung kebutuhan kelompok atau dikoordinasikan dengan pihak berwenang.

Penggunaan teknologi untuk mencari popularitas instan di tengah kegiatan sosial juga merupakan hal yang seharusnya tidak dilakukan apalagi dinormalisasikan. Kedua hal ini dapat menjadi bukti nyata penyalahgunaan teknologi yang mengakibatkan hilangnya esensi pengabdian. Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk sarana membantu sesama, bukan malah digunakan untuk mengejar popularitas di atas penderitaan atau kesederhanaan orang lain. Jangan sampai perkembangan teknologi malah mengurangi nilai-nilai kemanusiaan. Karena sebenarnya pengabdian tidak diukur dari jumlah tayangan atau komentar orang-orang, melainkan dari tindakan nyata yang kita lakukan ketika masyarakat membutuhkan bantuan.


Penulis: Ilham Dwi Temas Miwa 

Editor: Chalisa Najla Safira

20 Juli 2026

Fomo: Takut Tertinggal Menjadi Standar Kehidupan Remaja

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Media sosial awalnya dirancang untuk mempermudah komunikasi dan akses informasi bagi manusia. Akan tetapi, di era digital saat ini, media sosial sering kali dijadikan patokan kebahagiaan, terutama di kalangan remaja. Saat seseorang membagikan lokasi wisata, momen berkesan, atau barang yang digunakan, banyak orang yang melihatnya merasa tertarik untuk merasakan pengalaman serupa. Dari situlah muncul fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu ketakutan akan kehilangan kesempatan yang sedang dialami atau dimiliki orang lain.

Fenomena FOMO sering terjadi pada remaja yang mencari pengakuan atau validasi melalui media sosial. Saat suatu tren menjadi viral, timbul anggapan bahwa seseorang belum dianggap "modern" jika belum mencoba hal tersebut. Sebagai hasilnya, mengikuti tren kini bukan sekadar pilihan, tetapi seolah menjadi keharusan untuk tetap diterima dalam masyarakat. Situasi ini secara bertahap menjadi sesuatu yang dianggap normal di antara para remaja.

Di saat teknologi berkembang pesat, kehidupan di dunia digital tampak lebih menarik dibandingkan dengan kehidupan nyata. Apa yang terlihat di media sosial sering kali adalah representasi yang telah dipilih dan diatur sedemikian rupa agar tampak ideal. Sayangnya, banyak remaja mengambil gambaran itu sebagai tolok ukur kehidupan yang harus diraih, tanpa menyadari bahwa tidak semua yang tampil di media sosial mencerminkan kebenaran.

Fenomena FOMO juga memberikan konsekuensi negatif, baik untuk remaja maupun untuk orang dewasa. Banyak remaja yang mengikuti tren viral menggunakan uang orang tua untuk membeli barang atau merasakan pengalaman yang sebenarnya bukanlah kebutuhan. Kebiasaan ini bisa menimbulkan tekanan untuk selalu memenuhi standar kehidupan yang tinggi. Namun, keadaan ekonomi setiap keluarga bervariasi dan tidak semua individu memiliki kemampuan untuk menjalani gaya hidup yang dipamerkan di media sosial.

Saatnya remaja tidak lagi menjadikan media sosial sebagai patokan kebahagiaan. Mengikuti tren bukan suatu keharusan, apalagi jika dapat merugikan kesehatan mental, stabilitas keuangan, dan rasa percaya diri. Menjadi diri sendiri, menghargai apa yang dimiliki, dan berkonsentrasi pada proses pengembangan diri jauh lebih berharga dibandingkan mengejar pengakuan yang hanya berlangsung beberapa detik di layar perangkat. Remaja harus menyadari bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya tidak bergantung pada seberapa terkenal kehidupan mereka, tetapi pada kemampuan untuk menghargai diri sendiri dan menjalani hidup sesuai nilai dan potensi yang dimiliki.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Chalisa Najla Safira

14 Juli 2026

Menurunnya Minat Baca di Era Konten Singkat

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Zaman sekarang, hampir semua orang mendapatkan informasi dari media sosial. Cukup dengan membuka TikTok, Instagram, atau YouTube, seseorang akan mendapatkan berbagai informasi dalam waktu yang singkat. Hal ini memang mempermudah, tetapi juga dapat membuat banyak orang lebih jarang membaca buku atau artikel yang informasinya lebih lengkap. 

Konten singkat memang sangat menarik, karena tidak perlu menghabiskan waktu untuk memahaminya. Kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat dan tampilan yang disajikan juga lebih menarik. Namun, karena terlalu sering melihat konten yang singkat, banyak orang yang menjadi tidak tertarik untuk membaca tulisan yang panjang. Akibatnya, mereka hanya mengetahui informasi secara garis besarnya saja tanpa memahami isi pembahasannya. 

Bagi mahasiswa, membaca merupakan hal yang sangat penting. Banyak buku, jurnal, atau artikel ilmiah yang tidak bisa dijelaskan secara detail melalui video singkat. Jika hanya mengandalkan media sosial, pengetahuan yang didapat sering kali kurang mendalam. Padahal, mahasiswa dituntut untuk memahami materi, bukan hanya mengatahui ringkasannya saja. 

Media sosial bukanlah hal yang harus disalahkan, karena semua itu tergantung bagaimana kita menggunakannya. Konten singkat dapat membantu kita untuk mengenal suatu topik pembahasan. Namun, setelah itu sebaiknya kita mencari informasi dan sumber yang lebih lengkap agar pemahaman yang kita dapatkan bisa meningkat. 

Oleh karena itu, kita perlu kembali membiasakan diri untuk membaca. Tidak harus langsung membaca buku yang tebal. Kita bisa memulainya dengan membaca beberapa halaman setiap harinya, membaca artikel, atau mengurangi waktu untuk bermain media sosial. Jika hal ini dilakukan secara rutin, kebiasaan membaca akan mudah untuk terbentuk kembali. 

Membaca tetap menjadi kebiasaan penting meski kita hidup di era digital seperti sekarang. Teknologi memang membantu kita untuk lebih mudah mendapatkan informasi, tetapi kita juga harus menggunakannya dengan bijak. Dengan tetap meluangkan waktu untuk membaca, itu dapat menambah wawasan, melatih cara berpikir kritis, dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas.


Penulis: Julia sabela

Editor: Chalisa Najla Safira

11 Juli 2026

Fenomena Individualisme di Era Perkembangan Teknologi

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini telah membawa banyak perubahan dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Perubahan tersebut meliputi cepat dan mudahnya akses dalam berinteraksi. Namun, di balik kemudahan itu muncul fenomena yang sangat memprihatinkan, yaitu rasa individualisme di kehidupan sosial. 

Dahulu, komunikasi dan interaksi sosial jauh lebih terasa seperti kegiatan yang sering dilakukan dengan tatap muka, gotong royong atau kerja bakti, dan silaturahmi menandakan interaksi sosial yang masih sangat kental di kalangan masyarakat. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kebiasaan tersebut mulai memudar secara perlahan. Terkadang masyarakat sekarang lebih memilih kegiatan yang dilaksanakan secara virtual sehingga kebersamaan menurun dan cenderung memiliki rasa individualisme. 

Individualisme adalah sikap atau pandangan seseorang yang hanya berorientasi pada diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Hal inilah yang membuat rasa empati menurun dan berkurangnya kedekatan hubungan antarindividu. Globalisasi menjadi penyebab hal tersebut. Menyajikan informasi yang cepat, luas, hingga lintas batas sehingga seseorang tidak perlu datang menghampiri orang atau tempatnya secara langsung. Globalisasi juga membuat seseorang hanya berfokus pada gawai sehingga mengabaikan orang di sekitar. 

Selain itu, faktor perkembangan teknologi yang lain seperti internet mempermudah pencarian berbagai topik. Belajar maupun bekerja kini dapat dilakukan secara otodidak, tidak perlu membutuhkan bantuan orang lain. Perubahan dari segi ekonomi juga dapat memicu hal ini seperti seseorang yang terpaksa bekerja dengan jadwal yang padat hingga kurang mempunyai waktu dan perhatian untuk orang lain. 

Pada dasarnya, individualisme merupakan sikap yang berdampak negatif dan menjadi tantangan di era saat ini. Perkembangan teknologi tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena yang menjadi masalah bukan pada alat, melainkan pengguna. Pengguna harus bisa menyeimbangkan antara dunia maya dan dunia nyata agar terhindar dari hal tersebut serta demi marwah dan nilai solidaritas tetap terjaga.


Penulis: Rizky Ramadhani

Editor: Chalisa Najla Safira

Melampaui Transkrip Nilai: Mengapa Kuliah Bukan Sekadar Berburu Ijazah?

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Realitas perguruan tinggi saat ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan karena banyak mahasiswa menganggap kuliah hanya sebatas formalitas administratif untuk berburu gelar. Fokus mereka sering kali tersita hanya untuk mengejar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi dan lulus tepat waktu. Padahal, selembar ijazah sama sekali tidak menjamin kesiapan seseorang dalam menghadapi kompleksitas dunia kerja. 

Jika motivasi utama hanya memperoleh dokumen formal, maka makna pendidikan tinggi telah mengalami penyempitan yang sangat mendasar. Dampaknya langsung terasa pada ketatnya persaingan kerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengangguran lulusan universitas masih konsisten menembus angka 1 juta orang. Industri modern kini lebih memprioritaskan kemampuan memecahkan masalah (problem solving), komunikasi, kepemimpinan, dan ketahanan mental. 

Kompetensi esensial ini sayangnya jarang didapat oleh mahasiswa yang pasif di kelas dan abai terhadap organisasi, penelitian, atau perlombaan. Akibatnya, terjadi kesenjangan besar (skill mismatch) antara teori kampus dan kebutuhan nyata lapangan kerja. Memiliki nilai akademik yang baik tentu patut diapresiasi, namun kuliah seharusnya menjadi laboratorium sosial untuk bereksperimen dan memperluas jaringan profesional.

Oleh karena itu, paradigma berpikir mahasiswa harus diubah sejak dini dengan mengambil langkah nyata. Mahasiswa harus berani keluar dari zona nyaman akademis melalui keterlibatan aktif dalam organisasi kampus, kompetisi ilmiah, hingga program praktis seperti magang bersertifikat di Kampus Merdeka. Kampus bukan tempat mencetak robot berijazah, melainkan wadah penempaan karakter. Dengan aktif membangun portofolio dan jejaring sejak semester awal, mahasiswa akan tumbuh menjadi lulusan yang matang, kompeten, dan siap berdampak nyata bagi masyarakat.


Penulis: Cut Saputri

Editor: Chalisa Najla Safira

02 Juli 2026

Generasi Z dan Tanggung Jawab Melestarikan Canang Cereukeuh

 

Foto: Putri Ruqaiyah
www.lpmalkalam.com- Seminar Budaya Canang Cereukeuh di Era Generasi Z mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab tokoh seni atau tokoh adat. Generasi Z juga memiliki peran penting untuk mengenal, memahami, dan melestarikan warisan budaya daerah. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus budaya global, banyak generasi muda yang lebih cenderung mengikuti tren dari luar daripada mengenal budaya yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri.

Kesenian dapat dilestarikan melalui pendidikan, seni, dan nilai-nilai agama. Gagasan ini relevan dengan kondisi saat ini ketika banyak generasi muda mudah terpengaruh oleh budaya luar dan mulai melupakan budaya daerahnya sendiri. Ungkapan Aceh, "Menyo kon geutanyo, so sit lom. Menyo kon jino, pajan sit lom," mengandung makna yang mendalam bagi Generasi Z. Ungkapan tersebut mengingatkan bahwa jika pelestarian budaya terus ditunda, warisan budaya dikhawatirkan akan semakin terlupakan dan kehilangan peminat. 

Oleh karena itu, upaya pelestarian budaya harus dimulai sejak sekarang melalui berbagai cara yang selaras dengan perkembangan zaman, seperti memanfaatkan media sosial, menyelenggarakan kegiatan seni dan budaya, serta mengadakan kegiatan edukatif di lingkungan pendidikan. Seminar seperti ini memiliki peran penting karena tidak hanya memberikan pemahaman tentang kebudayaan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa budaya merupakan identitas yang membedakan suatu daerah dari daerah lainnya. 

Generasi Z perlu memiliki strategi sebagai penerus yang mampu mengolaborasikan perkembangan teknologi dengan upaya pelestarian budaya. Dengan demikian, Canang Cereukeuh tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi juga tetap hidup, berkembang, dan dikenal oleh generasi mendatang.


Penulis: Rozatun Navais

Editor: Chalisa Najla Safira

Bahaya Merokok di Jalan: Kebiasaan Sepele yang Merugikan Banyak Orang

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Merokok di jalan masih sering dianggap sebagai hal yang wajar. Banyak orang merasa bahwa selama berada di ruang terbuka, asap rokok tidak akan mengganggu orang lain. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Asap rokok tetap dapat terhirup oleh pejalan kaki, pengendara lain, anak-anak, hingga ibu hamil yang berada di sekitar.

Merokok di jalan merupakan kebiasaan yang kurang mencerminkan kepedulian terhadap orang lain. Setiap orang memang memiliki hak untuk merokok, tetapi hak tersebut tidak boleh mengganggu hak orang lain untuk menikmati udara yang bersih. Terlebih lagi, ketika seseorang merokok sambil mengendarai kendaraan, konsentrasi dapat terganggu sehingga berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan.

Selain membahayakan kesehatan, kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan juga dapat mencemari lingkungan dan bahkan memicu kebakaran. Hal-hal yang terlihat kecil seperti ini sering kali diabaikan, padahal dampaknya dapat dirasakan oleh banyak orang.

Kesadaran untuk menjaga kesehatan diri sendiri, tetapi juga kepedulian terhadap orang lain. Merokok di tempat yang semestinya dan membuang puntung rokok pada tempatnya merupakan bentuk tanggung jawab sebagai anggota masyarakat. Lingkungan yang sehat tidak hanya bergantung pada aturan, tetapi juga pada kesadaran setiap individu.


Penulis: Bellivia Al-Kamariana

Editor: Chalisa Najla Safira

29 Juni 2026

Tradisi Kenduri Blang: Menjaga Budaya, Mengikat Solidaritas

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Aceh dikenal dengan adat dan budaya yang masih sangat kental. Di era modern ini, masyarakat Aceh masih melestarikan tradisi leluhur, salah satunya Kenduri Blang. Kenduri berarti jamuan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur, sedangkan blang dalam bahasa Aceh berarti sawah.

Tradisi ini dilaksanakan dengan cara masyarakat memasak dan makan bersama di area persawahan menjelang musim tanam padi sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang telah diberikan.

Kenduri Blang dipercaya sebagai bentuk doa dan ikhtiar masyarakat agar terhindar dari berbagai rintangan ketika memulai musim tanam. Masyarakat meyakini bahwa setiap usaha hendaknya diawali dengan doa dan ikhtiar kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar memperoleh hasil yang terbaik.

Selain itu, Kenduri Blang juga menjadi tradisi memasak dan makan bersama di dekat area persawahan yang bertujuan mempererat hubungan antarmasyarakat. Melalui tradisi ini, nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas sosial terus dipupuk dan dilestarikan.

Di era modern, Kenduri Blang bukan sekadar kenduri dan doa bersama, tetapi juga menjadi wadah musyawarah para petani menjelang musim tanam. Dalam musyawarah tersebut dibahas berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan persawahan, seperti pembagian air irigasi secara adil dan penentuan jadwal tanam padi.

Pelestarian Kenduri Blang kini menjadi tantangan tersendiri, terutama karena banyak generasi muda yang kurang tertarik pada bidang pertanian dan menganggap tradisi tersebut tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Padahal, Kenduri Blang mengandung nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan musyawarah yang penting dalam membentuk karakter generasi muda. Oleh karena itu, pelestarian tradisi ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mendukung keberlanjutan sektor pertanian sebagai penopang ketahanan pangan masyarakat.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Zahratul

28 Juni 2026

Krisis Empati di Tengah Perkembangan Teknologi

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Perkembangan teknologi membawa  perubahan yang signifikan dalam kehidupan manusia. Mulai dari informasi yang dapat tersebar dengan cepat, komunikasi yang berjalan dengan lancar, dan jarak bukan menjadi penghalang untuk saling berinteraksi. Namun di balik itu, perkembangan teknologi memunculkan sebuah persoalan sosial yang nyata, yaitu krisis empati. Ternyata kemajuan teknologi tidak diiringi dengan meningkatnya kepedulian antarsesama. 

Fenomena ini bisa dilihat dari maraknya komentar kasar di media sosial, cyberbullying, hingga banyaknya warganet yang menghakimi seseorang tanpa mencari tahu kebenaran. Bahkan saat ada kecelakaan atau musibah lainnya, kebanyakan orang justru memilih untuk mengabadikan peristiwa tersebut daripada langsung memberikan pertolongan kepada korban. 

Video atau foto tersebut kemudian diunggah ke media sosial demi mendapatkan viewers tanpa memikirkan perasaan korban atau keluarga korban. Ini menunjukkan bahwa empati telah tergeser oleh keinginan untuk menjadi yang pertama mengunggah kejadian dan mendapatkan banyak respon dari warganet. 

Kebiasaan seperti ini sangatlah memprihatinkan. Perkembangan teknologi memang memudahkan seseorang untuk mendapatkan dokumentasi suatu peristiwa, tetapi tidak semua peristiwa layak untuk dijadikan konten. Dalam keadaan darurat, yang seharusnya menjadi prioritas utama adalah keselamatan manusia. Jika tidak mampu memberikan pertolongan secara langsung, setidaknya teknologi bisa digunakan untuk menghubungi pihak berwenang atau orang-orang di sekitar. 

Penggunaan teknologi untuk menyebar kebencian, fitnah, dan cyberbullying juga merupakan hal yang seharusnya tidak dilakukan apalagi dinormalisasikan. Kedua hal ini dapat menjadi bukti nyata penyalahgunaan teknologi yang mengakibatkan hilangnya rasa empati. 

Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk sarana membantu sesama, bukan malah digunakan untuk mengejar popularitas di atas penderitaan orang lain. Jangan sampai perkembangan teknologi malah mengurangi nilai-nilai kemanusiaan. Karena sebenarnya empati tidak diukur dari jumlah tayangan atau komentar orang-orang, melainkan dari tindakan nyata yang kita lakukan ketika orang lain membutuhkan pertolongan.

 
Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Zahratul

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.