Portal Berita Al-Kalam

Petani Menanam Bibit Padi di Sawah Desa Tanjung Baroh

Foto: Bellivia A-Kamariana www.lpmalkalam.com- Seorang petani tampak membungkukkan badan saat menanam bibit padi di area persawahan Desa Ta...

HEADLINE

Latest Post

20 Juli 2026

Fomo: Takut Tertinggal Menjadi Standar Kehidupan Remaja

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Media sosial awalnya dirancang untuk mempermudah komunikasi dan akses informasi bagi manusia. Akan tetapi, di era digital saat ini, media sosial sering kali dijadikan patokan kebahagiaan, terutama di kalangan remaja. Saat seseorang membagikan lokasi wisata, momen berkesan, atau barang yang digunakan, banyak orang yang melihatnya merasa tertarik untuk merasakan pengalaman serupa. Dari situlah muncul fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu ketakutan akan kehilangan kesempatan yang sedang dialami atau dimiliki orang lain.

Fenomena FOMO sering terjadi pada remaja yang mencari pengakuan atau validasi melalui media sosial. Saat suatu tren menjadi viral, timbul anggapan bahwa seseorang belum dianggap "modern" jika belum mencoba hal tersebut. Sebagai hasilnya, mengikuti tren kini bukan sekadar pilihan, tetapi seolah menjadi keharusan untuk tetap diterima dalam masyarakat. Situasi ini secara bertahap menjadi sesuatu yang dianggap normal di antara para remaja.

Di saat teknologi berkembang pesat, kehidupan di dunia digital tampak lebih menarik dibandingkan dengan kehidupan nyata. Apa yang terlihat di media sosial sering kali adalah representasi yang telah dipilih dan diatur sedemikian rupa agar tampak ideal. Sayangnya, banyak remaja mengambil gambaran itu sebagai tolok ukur kehidupan yang harus diraih, tanpa menyadari bahwa tidak semua yang tampil di media sosial mencerminkan kebenaran.

Fenomena FOMO juga memberikan konsekuensi negatif, baik untuk remaja maupun untuk orang dewasa. Banyak remaja yang mengikuti tren viral menggunakan uang orang tua untuk membeli barang atau merasakan pengalaman yang sebenarnya bukanlah kebutuhan. Kebiasaan ini bisa menimbulkan tekanan untuk selalu memenuhi standar kehidupan yang tinggi. Namun, keadaan ekonomi setiap keluarga bervariasi dan tidak semua individu memiliki kemampuan untuk menjalani gaya hidup yang dipamerkan di media sosial.

Saatnya remaja tidak lagi menjadikan media sosial sebagai patokan kebahagiaan. Mengikuti tren bukan suatu keharusan, apalagi jika dapat merugikan kesehatan mental, stabilitas keuangan, dan rasa percaya diri. Menjadi diri sendiri, menghargai apa yang dimiliki, dan berkonsentrasi pada proses pengembangan diri jauh lebih berharga dibandingkan mengejar pengakuan yang hanya berlangsung beberapa detik di layar perangkat. Remaja harus menyadari bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya tidak bergantung pada seberapa terkenal kehidupan mereka, tetapi pada kemampuan untuk menghargai diri sendiri dan menjalani hidup sesuai nilai dan potensi yang dimiliki.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Chalisa Najla Safira

14 Juli 2026

Menurunnya Minat Baca di Era Konten Singkat

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Zaman sekarang, hampir semua orang mendapatkan informasi dari media sosial. Cukup dengan membuka TikTok, Instagram, atau YouTube, seseorang akan mendapatkan berbagai informasi dalam waktu yang singkat. Hal ini memang mempermudah, tetapi juga dapat membuat banyak orang lebih jarang membaca buku atau artikel yang informasinya lebih lengkap. 

Konten singkat memang sangat menarik, karena tidak perlu menghabiskan waktu untuk memahaminya. Kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat dan tampilan yang disajikan juga lebih menarik. Namun, karena terlalu sering melihat konten yang singkat, banyak orang yang menjadi tidak tertarik untuk membaca tulisan yang panjang. Akibatnya, mereka hanya mengetahui informasi secara garis besarnya saja tanpa memahami isi pembahasannya. 

Bagi mahasiswa, membaca merupakan hal yang sangat penting. Banyak buku, jurnal, atau artikel ilmiah yang tidak bisa dijelaskan secara detail melalui video singkat. Jika hanya mengandalkan media sosial, pengetahuan yang didapat sering kali kurang mendalam. Padahal, mahasiswa dituntut untuk memahami materi, bukan hanya mengatahui ringkasannya saja. 

Media sosial bukanlah hal yang harus disalahkan, karena semua itu tergantung bagaimana kita menggunakannya. Konten singkat dapat membantu kita untuk mengenal suatu topik pembahasan. Namun, setelah itu sebaiknya kita mencari informasi dan sumber yang lebih lengkap agar pemahaman yang kita dapatkan bisa meningkat. 

Oleh karena itu, kita perlu kembali membiasakan diri untuk membaca. Tidak harus langsung membaca buku yang tebal. Kita bisa memulainya dengan membaca beberapa halaman setiap harinya, membaca artikel, atau mengurangi waktu untuk bermain media sosial. Jika hal ini dilakukan secara rutin, kebiasaan membaca akan mudah untuk terbentuk kembali. 

Membaca tetap menjadi kebiasaan penting meski kita hidup di era digital seperti sekarang. Teknologi memang membantu kita untuk lebih mudah mendapatkan informasi, tetapi kita juga harus menggunakannya dengan bijak. Dengan tetap meluangkan waktu untuk membaca, itu dapat menambah wawasan, melatih cara berpikir kritis, dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas.


Penulis: Julia sabela

Editor: Chalisa Najla Safira

11 Juli 2026

Fenomena Individualisme di Era Perkembangan Teknologi

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini telah membawa banyak perubahan dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Perubahan tersebut meliputi cepat dan mudahnya akses dalam berinteraksi. Namun, di balik kemudahan itu muncul fenomena yang sangat memprihatinkan, yaitu rasa individualisme di kehidupan sosial. 

Dahulu, komunikasi dan interaksi sosial jauh lebih terasa seperti kegiatan yang sering dilakukan dengan tatap muka, gotong royong atau kerja bakti, dan silaturahmi menandakan interaksi sosial yang masih sangat kental di kalangan masyarakat. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kebiasaan tersebut mulai memudar secara perlahan. Terkadang masyarakat sekarang lebih memilih kegiatan yang dilaksanakan secara virtual sehingga kebersamaan menurun dan cenderung memiliki rasa individualisme. 

Individualisme adalah sikap atau pandangan seseorang yang hanya berorientasi pada diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Hal inilah yang membuat rasa empati menurun dan berkurangnya kedekatan hubungan antarindividu. Globalisasi menjadi penyebab hal tersebut. Menyajikan informasi yang cepat, luas, hingga lintas batas sehingga seseorang tidak perlu datang menghampiri orang atau tempatnya secara langsung. Globalisasi juga membuat seseorang hanya berfokus pada gawai sehingga mengabaikan orang di sekitar. 

Selain itu, faktor perkembangan teknologi yang lain seperti internet mempermudah pencarian berbagai topik. Belajar maupun bekerja kini dapat dilakukan secara otodidak, tidak perlu membutuhkan bantuan orang lain. Perubahan dari segi ekonomi juga dapat memicu hal ini seperti seseorang yang terpaksa bekerja dengan jadwal yang padat hingga kurang mempunyai waktu dan perhatian untuk orang lain. 

Pada dasarnya, individualisme merupakan sikap yang berdampak negatif dan menjadi tantangan di era saat ini. Perkembangan teknologi tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena yang menjadi masalah bukan pada alat, melainkan pengguna. Pengguna harus bisa menyeimbangkan antara dunia maya dan dunia nyata agar terhindar dari hal tersebut serta demi marwah dan nilai solidaritas tetap terjaga.


Penulis: Rizky Ramadhani

Editor: Chalisa Najla Safira

Melampaui Transkrip Nilai: Mengapa Kuliah Bukan Sekadar Berburu Ijazah?

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Realitas perguruan tinggi saat ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan karena banyak mahasiswa menganggap kuliah hanya sebatas formalitas administratif untuk berburu gelar. Fokus mereka sering kali tersita hanya untuk mengejar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi dan lulus tepat waktu. Padahal, selembar ijazah sama sekali tidak menjamin kesiapan seseorang dalam menghadapi kompleksitas dunia kerja. 

Jika motivasi utama hanya memperoleh dokumen formal, maka makna pendidikan tinggi telah mengalami penyempitan yang sangat mendasar. Dampaknya langsung terasa pada ketatnya persaingan kerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengangguran lulusan universitas masih konsisten menembus angka 1 juta orang. Industri modern kini lebih memprioritaskan kemampuan memecahkan masalah (problem solving), komunikasi, kepemimpinan, dan ketahanan mental. 

Kompetensi esensial ini sayangnya jarang didapat oleh mahasiswa yang pasif di kelas dan abai terhadap organisasi, penelitian, atau perlombaan. Akibatnya, terjadi kesenjangan besar (skill mismatch) antara teori kampus dan kebutuhan nyata lapangan kerja. Memiliki nilai akademik yang baik tentu patut diapresiasi, namun kuliah seharusnya menjadi laboratorium sosial untuk bereksperimen dan memperluas jaringan profesional.

Oleh karena itu, paradigma berpikir mahasiswa harus diubah sejak dini dengan mengambil langkah nyata. Mahasiswa harus berani keluar dari zona nyaman akademis melalui keterlibatan aktif dalam organisasi kampus, kompetisi ilmiah, hingga program praktis seperti magang bersertifikat di Kampus Merdeka. Kampus bukan tempat mencetak robot berijazah, melainkan wadah penempaan karakter. Dengan aktif membangun portofolio dan jejaring sejak semester awal, mahasiswa akan tumbuh menjadi lulusan yang matang, kompeten, dan siap berdampak nyata bagi masyarakat.


Penulis: Cut Saputri

Editor: Chalisa Najla Safira

02 Juli 2026

Bahaya Merokok di Jalan: Kebiasaan Sepele yang Merugikan Banyak Orang

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Merokok di jalan masih sering dianggap sebagai hal yang wajar. Banyak orang merasa bahwa selama berada di ruang terbuka, asap rokok tidak akan mengganggu orang lain. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Asap rokok tetap dapat terhirup oleh pejalan kaki, pengendara lain, anak-anak, hingga ibu hamil yang berada di sekitar.

Merokok di jalan merupakan kebiasaan yang kurang mencerminkan kepedulian terhadap orang lain. Setiap orang memang memiliki hak untuk merokok, tetapi hak tersebut tidak boleh mengganggu hak orang lain untuk menikmati udara yang bersih. Terlebih lagi, ketika seseorang merokok sambil mengendarai kendaraan, konsentrasi dapat terganggu sehingga berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan.

Selain membahayakan kesehatan, kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan juga dapat mencemari lingkungan dan bahkan memicu kebakaran. Hal-hal yang terlihat kecil seperti ini sering kali diabaikan, padahal dampaknya dapat dirasakan oleh banyak orang.

Kesadaran untuk menjaga kesehatan diri sendiri, tetapi juga kepedulian terhadap orang lain. Merokok di tempat yang semestinya dan membuang puntung rokok pada tempatnya merupakan bentuk tanggung jawab sebagai anggota masyarakat. Lingkungan yang sehat tidak hanya bergantung pada aturan, tetapi juga pada kesadaran setiap individu.


Penulis: Bellivia Al-Kamariana

Editor: Chalisa Najla Safira

29 Juni 2026

Tradisi Kenduri Blang: Menjaga Budaya, Mengikat Solidaritas

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Aceh dikenal dengan adat dan budaya yang masih sangat kental. Di era modern ini, masyarakat Aceh masih melestarikan tradisi leluhur, salah satunya Kenduri Blang. Kenduri berarti jamuan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur, sedangkan blang dalam bahasa Aceh berarti sawah.

Tradisi ini dilaksanakan dengan cara masyarakat memasak dan makan bersama di area persawahan menjelang musim tanam padi sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang telah diberikan.

Kenduri Blang dipercaya sebagai bentuk doa dan ikhtiar masyarakat agar terhindar dari berbagai rintangan ketika memulai musim tanam. Masyarakat meyakini bahwa setiap usaha hendaknya diawali dengan doa dan ikhtiar kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar memperoleh hasil yang terbaik.

Selain itu, Kenduri Blang juga menjadi tradisi memasak dan makan bersama di dekat area persawahan yang bertujuan mempererat hubungan antarmasyarakat. Melalui tradisi ini, nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas sosial terus dipupuk dan dilestarikan.

Di era modern, Kenduri Blang bukan sekadar kenduri dan doa bersama, tetapi juga menjadi wadah musyawarah para petani menjelang musim tanam. Dalam musyawarah tersebut dibahas berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan persawahan, seperti pembagian air irigasi secara adil dan penentuan jadwal tanam padi.

Pelestarian Kenduri Blang kini menjadi tantangan tersendiri, terutama karena banyak generasi muda yang kurang tertarik pada bidang pertanian dan menganggap tradisi tersebut tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Padahal, Kenduri Blang mengandung nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan musyawarah yang penting dalam membentuk karakter generasi muda. Oleh karena itu, pelestarian tradisi ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mendukung keberlanjutan sektor pertanian sebagai penopang ketahanan pangan masyarakat.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Zahratul

28 Juni 2026

Krisis Empati di Tengah Perkembangan Teknologi

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Perkembangan teknologi membawa  perubahan yang signifikan dalam kehidupan manusia. Mulai dari informasi yang dapat tersebar dengan cepat, komunikasi yang berjalan dengan lancar, dan jarak bukan menjadi penghalang untuk saling berinteraksi. Namun di balik itu, perkembangan teknologi memunculkan sebuah persoalan sosial yang nyata, yaitu krisis empati. Ternyata kemajuan teknologi tidak diiringi dengan meningkatnya kepedulian antarsesama. 

Fenomena ini bisa dilihat dari maraknya komentar kasar di media sosial, cyberbullying, hingga banyaknya warganet yang menghakimi seseorang tanpa mencari tahu kebenaran. Bahkan saat ada kecelakaan atau musibah lainnya, kebanyakan orang justru memilih untuk mengabadikan peristiwa tersebut daripada langsung memberikan pertolongan kepada korban. 

Video atau foto tersebut kemudian diunggah ke media sosial demi mendapatkan viewers tanpa memikirkan perasaan korban atau keluarga korban. Ini menunjukkan bahwa empati telah tergeser oleh keinginan untuk menjadi yang pertama mengunggah kejadian dan mendapatkan banyak respon dari warganet. 

Kebiasaan seperti ini sangatlah memprihatinkan. Perkembangan teknologi memang memudahkan seseorang untuk mendapatkan dokumentasi suatu peristiwa, tetapi tidak semua peristiwa layak untuk dijadikan konten. Dalam keadaan darurat, yang seharusnya menjadi prioritas utama adalah keselamatan manusia. Jika tidak mampu memberikan pertolongan secara langsung, setidaknya teknologi bisa digunakan untuk menghubungi pihak berwenang atau orang-orang di sekitar. 

Penggunaan teknologi untuk menyebar kebencian, fitnah, dan cyberbullying juga merupakan hal yang seharusnya tidak dilakukan apalagi dinormalisasikan. Kedua hal ini dapat menjadi bukti nyata penyalahgunaan teknologi yang mengakibatkan hilangnya rasa empati. 

Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk sarana membantu sesama, bukan malah digunakan untuk mengejar popularitas di atas penderitaan orang lain. Jangan sampai perkembangan teknologi malah mengurangi nilai-nilai kemanusiaan. Karena sebenarnya empati tidak diukur dari jumlah tayangan atau komentar orang-orang, melainkan dari tindakan nyata yang kita lakukan ketika orang lain membutuhkan pertolongan.

 
Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Zahratul

13 Juni 2026

Langkah di Balik Mimpi

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Pagi itu, kampus sudah ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang. Di antara mereka, ada seorang mahasiswa bernama Rizki, mahasiswa semester empat yang sedang berjuang menyelesaikan tugas kuliah, organisasi, dan pekerjaan sampingan sekaligus.

Rizki berasal dari keluarga sederhana di sebuah desa. Sejak diterima di perguruan tinggi, ia bertekad untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat membanggakan kedua orang tuanya. Namun, kehidupan mahasiswa ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.

Suatu hari, dosen memberikan tugas kelompok yang harus dikumpulkan dalam waktu satu minggu. Di saat yang sama, organisasi kampus tempat Rizki aktif sedang mempersiapkan sebuah acara besar. Belum lagi, ia harus bekerja paruh waktu pada malam hari untuk menambah uang saku.

“Bagaimana aku bisa menyelesaikan semuanya?” gumam Rizki sambil menatap daftar tugas di layar laptopnya.

Meski merasa lelah, Rizki tidak menyerah. Ia mulai menyusun jadwal harian dengan lebih teratur. Pagi hingga siang digunakan untuk kuliah, sore untuk rapat organisasi, dan malam hari untuk bekerja serta menyelesaikan tugas.

Hari demi hari berlalu. Rasa lelah sering datang, tetapi dukungan teman-teman membuatnya tetap semangat. Mereka saling membantu mengerjakan tugas dan mengingatkan satu sama lain ketika ada yang mulai kehilangan motivasi.

Akhirnya, hari presentasi tiba. Kelompok Rizki berhasil mempresentasikan tugas dengan baik dan mendapat apresiasi dari dosen. Acara organisasi yang mereka persiapkan juga berjalan lancar.

Sepulang dari kampus, Rizki duduk di taman sambil tersenyum. Ia menyadari bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mendapatkan nilai yang tinggi, tetapi juga belajar mengatur waktu, bekerja sama, dan bertanggung jawab.

Saat melihat pesan dari ibunya yang berbunyi, “Tetap semangat belajar, Nak. Kami bangga padamu,” mata Rizki berkaca-kaca. Semua rasa lelah yang ia rasakan seakan terbayar.

Sejak hari itu, Rizki semakin yakin bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, adalah langkah menuju mimpi yang ingin ia capai. Dan sebagai mahasiswa, ia percaya bahwa masa kuliah adalah tempat terbaik untuk belajar menjadi pribadi yang lebih kuat dan dewasa.


Penulis: Razwa Syuib 

Editor: Chalisa Najla Safira

12 Juni 2026

Meneguhkan Peran UIN SUNA di Usia 57 Tahun

Foto: Putri Ruqaiyah
www.lpmalkalam.com-
Usia ke-57 tahun menjadi tonggak penting dalam perjalanan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe. Peringatan yang jatuh pada 12 Juni 2026 ini bukan hanya menjadi momentum perayaan, tetapi juga ruang refleksi atas perjalanan panjang sebuah institusi pendidikan yang telah berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, dan kemajuan masyarakat selama lebih dari setengah abad.

Perjalanan tersebut tentu tidak ditempuh dalam waktu yang singkat. Sejak berdiri pada 12 Juni 1969, kampus ini tumbuh bersama perubahan zaman, menjawab berbagai tantangan, dan terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat. Berbagai capaian yang diraih hingga saat ini, mulai dari penguatan kelembagaan, peningkatan sarana dan prasarana, hingga lahirnya ribuan alumni yang berkiprah di berbagai bidang, menjadi bukti bahwa cita-cita besar yang dirintis para pendiri terus berkembang dan memberikan manfaat nyata.

Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, peran perguruan tinggi tidak lagi sebatas menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik. Dunia membutuhkan generasi yang mampu memadukan kecerdasan intelektual dengan kekuatan moral dan spiritual. Dalam konteks tersebut, UIN Sultanah Nahrasiyah memiliki posisi yang strategis sebagai institusi yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kehadiran kampus ini menjadi penting karena mampu menghadirkan ruang pembelajaran yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu, tetapi juga pembentukan karakter. Mahasiswa didorong untuk menjadi pribadi yang kritis, inovatif, dan profesional tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan tanggung jawab sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

Sebagai bagian dari keluarga besar UIN Sultanah Nahrasiyah, rasa syukur patut dipanjatkan atas perjalanan panjang yang telah dilalui. Penghargaan yang setinggi-tingginya layak diberikan kepada para pendiri yang telah meletakkan fondasi kampus ini dengan penuh ketulusan dan pengorbanan. Apresiasi yang sama juga patut disampaikan kepada para dosen, tenaga kependidikan, pimpinan, mahasiswa, serta seluruh sivitas akademika yang terus menjaga semangat pengabdian dan kualitas institusi dari masa ke masa.

Kontribusi mereka mungkin tidak selalu tercatat dalam setiap lembar sejarah, tetapi jejak pengabdiannya dapat dirasakan melalui berbagai kemajuan yang telah dicapai. Berkat kerja keras dan dedikasi yang berkelanjutan, UIN Sultanah Nahrasiyah mampu berkembang menjadi perguruan tinggi Islam yang terus berupaya menjawab kebutuhan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai yang menjadi jati dirinya.

Memasuki usia ke-57 tahun, UIN Sultanah Nahrasiyah tidak hanya merayakan capaian masa lalu, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk melangkah lebih maju pada masa yang akan datang. Tantangan dunia pendidikan akan terus berubah, namun semangat untuk melahirkan generasi unggul, memperkuat tradisi akademik, serta memberikan kontribusi bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan harus tetap menjadi arah perjuangan bersama.

Pada akhirnya, kampus ini bukan sekadar tempat menuntut ilmu. UIN Sultanah Nahrasiyah adalah ruang tumbuhnya harapan, lahirnya gagasan, dan terbangunnya masa depan yang lebih baik. Di usia emas ke-57 tahun, rasa syukur dan kebanggaan atas perjalanan yang telah ditempuh menjadi energi untuk terus merawat keunggulan dan menyalakan peradaban bagi generasi yang akan datang.


Penulis: Cut Saputri

Editor: Zahratul

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.