Portal Berita Al-Kalam

Scroll Tanpa Henti: Hiburan atau Kebiasaan?

Foto: Pixabay www.lpmalkalam.com- Sekarang ini, hampir setiap hari kita tidak lepas dari media sosial. Membuka HP awalnya hanya ingin meliha...

HEADLINE

Latest Post

19 September 2026

Scroll Tanpa Henti: Hiburan atau Kebiasaan?

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Sekarang ini, hampir setiap hari kita tidak lepas dari media sosial. Membuka HP awalnya hanya ingin melihat satu atau dua video, tetapi tanpa terasa sudah berjam-jam berlalu. Jempol terus menggeser layar dari satu video ke video lainnya. Kadang kita sendiri lupa sebenarnya tadi membuka media sosial untuk apa. Hal seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi kalau terus dilakukan, lama-lama bisa menjadi sebuah kebiasaan.

Media sosial memang menjadi salah satu hiburan yang paling mudah didapatkan. Saat sedang bosan, lelah setelah kuliah, atau hanya ingin mengisi waktu kosong, kita hanya perlu membuka TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai aplikasi lainnya. Ada banyak hal yang bisa ditemukan, mulai dari hiburan, informasi, sampai konten yang menambah pengetahuan. Karena itu, tidak salah jika media sosial digunakan sebagai hiburan.

Masalahnya muncul ketika “sebentar” berubah menjadi terlalu lama. Niatnya hanya scroll beberapa menit, tetapi akhirnya pekerjaan yang seharusnya dilakukan malah tertunda. Waktu untuk belajar, membaca, beristirahat, bahkan berbicara dengan orang di sekitar bisa ikut berkurang. Yang lebih sering terjadi, kita baru sadar sudah terlalu lama bermain HP setelah melihat waktu.

Kebiasaan scroll tanpa henti bukan sepenuhnya salah media sosial. Kita juga perlu belajar mengatur diri sendiri. Media sosial memang dirancang agar kita terus menemukan konten baru, tetapi keputusan untuk berhenti tetap ada pada diri kita. Jika setiap kali bosan langsung mengambil HP, lama-kelamaan kita bisa terbiasa mencari hiburan dari layar tanpa memikirkan apakah kita benar-benar membutuhkannya.

Bukan berarti kita harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Menggunakannya untuk hiburan tentu boleh, apalagi setelah menyelesaikan aktivitas yang penting. Namun, kita juga perlu tahu kapan waktunya berhenti. Jangan sampai waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat justru habis hanya karena satu video yang dilanjutkan dengan video lainnya.

Pada akhirnya, scroll bukanlah masalah selama kita masih bisa mengendalikannya. Hiburan tetap dibutuhkan, tetapi jangan sampai hiburan berubah menjadi kebiasaan yang menghabiskan waktu tanpa kita sadari. Mungkin mulai sekarang, sebelum membuka media sosial, kita bisa bertanya kepada diri sendiri: “Aku memang lagi butuh hiburan, atau hanya sedang mencari alasan untuk terus scroll?”


Penulis: Bellivia Al-Kamariana

Editor: Chalisa Najla Safira

17 September 2026

Kuliah Itu Scam atau Investasi Masa Depan?

Foto: M. Rahul Gonzales
www.lpmalkalam.com- Buat apa kuliah? Capek, buang waktu, uang, tenaga hanya untuk mendengar dosen, mengerjakan tugas, dan presentasi. Setelah lulus pun belum tentu dapat pekerjaan.”

Pandangan seperti ini semakin sering terdengar, terlebih ketika masih banyak sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan. Namun, apakah kuliah benar-benar hanya tentang ijazah dan pekerjaan?

Kuliah sejatinya bukan sekadar duduk di ruang kelas. Perguruan tinggi menjadi tempat seseorang belajar berpikir kritis, melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, mengatur waktu, berdiskusi, menerima perbedaan pendapat, serta mencari solusi secara matang. Pengalaman berorganisasi, intra maupun ekstra kampus, juga mengajarkan kepemimpinan, komunikasi, tanggung jawab, dan membangun jejaring dengan berbagai kalangan.

Kuliah tidak menjamin seseorang langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Gelar akademik bukan tiket otomatis menuju kesuksesan. Dunia kerja juga membutuhkan keterampilan, pengalaman, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar.

Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar “apakah kuliah itu scam?” tetapi “untuk apa kita kuliah?” jika hanya mengejar ijazah, mungkin kuliah terasa seperti pemborosan. Tetapi, kalau dimanfaatkan untuk membentuk pola pikir, karakter, keterampilan, dan jaringan, kuliah merupakan investasi jangka panjang.

Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya tentang mencari pekerjaan, tetapi tentang mempersiapkan diri agar mampu menghadapi kehidupan. Kuliah mungkin tidak menjamin kesuksesan, tetapi bagaimana seseorang menjalani proses di dalamnya dapat menentukan sejauh mana ia siap menciptakan peluang untuk masa depannya.


Penulis: Daffa Alkausar

Editor: Zahratul

11 September 2026

Ketika Kota Berhenti Sekejap

Foto: Luthfiatil Syaqirah
www.lpmalkalam.com- Pagi hari di persimpangan kota sering terasa seperti adegan di mana waktu melambat. Lampu merah menjadi titik di mana laju kendaraan mesti terhenti, dan bagi banyak orang yang terburu-buru, berhenti itu terasa merugikan.

Di kota seperti Banda Aceh, ketika aktivitas berangkat kerja dan sekolah memuncak, jeda beberapa menit di tiap persimpangan cukup membuat sebagian masyarakat kehilangan kesabaran. Namun pandangan yang melihat lampu merah semata sebagai penghambat merupakan pemahaman yang dangkal. Sebenarnya, lampu lalu lintas memainkan peran fundamental dalam menjaga keselamatan dan ketertiban.

Pada pagi hari, persimpangan menyatukan beragam pengguna jalan seperti pejalan kaki, pelajar, pengendara sepeda motor, angkutan umum, dan mobil pribadi yang bergerak dalam ritme berbeda. Tanpa sinyal yang mengatur giliran, konflik antarpengguna akan meningkat dan kemungkinan kecelakaan menjadi jauh lebih besar.

Mengapa pelanggaran lampu merah masih kerap terjadi? Faktor utamanya adalah tekanan waktu dan kebiasaan berlalu lintas yang longgar terhadap aturan. Ketika seseorang dikejar waktu, dorongan untuk menerobos menjadi kuat, ketika banyak orang melakukan hal yang sama, perilaku itu terasa normal dan menular.

Akibatnya bukan hanya risiko tabrakan, insiden di persimpangan sering menimbulkan rantai kemacetan yang lebih panjang karena pengereman mendadak atau kecelakaan kecil yang menghambat arus. 

Siapa yang harus bertanggung jawab mengubah kondisi ini? Tanggung jawabnya menyebar, individu harus menerapkan disiplin diri, keluarga dan sekolah menanamkan kebiasaan tepat waktu, sementara pemerintah dan pengelola lalu lintas perlu memastikan peralatan sinyal bekerja optimal dan tata ulang waktu siklus lampu bila diperlukan. 

Kapan perubahan itu harus dimulai? Tidak perlu menunggu, perubahan harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari sekarang juga, agar manfaatnya terasa segera. Bagaimana strategi praktis untuk mengurangi pelanggaran? Gabungan upaya yang saling mendukung paling efektif, penegakan hukum yang konsisten untuk efek jera, kampanye edukasi publik yang menekankan bahaya dan konsekuensi, serta perbaikan desain persimpangan dan manajemen lalu lintas untuk membuat kepatuhan lebih mudah. 

Selain itu, mengubah perilaku individu misalnya berangkat sedikit lebih awal merupakan langkah sederhana namun ampuh. Di manakah dampak positif akan terasa paling nyata? Di ruas-ruas utama yang padat pada jam sibuk. Di sana, sedikit peningkatan kepatuhan terhadap lampu merah dapat menurunkan insiden, meminimalkan hambatan mendadak, dan membuat arus lalu lintas lebih lancar serta lebih dapat diprediksi.

Singkatnya, lampu merah pagi bukan sekadar jeda yang mengganggu rutinitas; ia adalah mekanisme keselamatan yang menjaga hak dan nyawa setiap pengguna jalan. Mengubah cara pandang terhadapnya dari penghalang menjadi instrumen keteraturan memerlukan kontribusi semua pihak. Dengan disiplin kolektif dan kebijakan yang tepat, berhenti sejenak di persimpangan akan berbuah pada ketertiban dan keselamatan yang lebih luas.


Penulis: Luthfiatil Syaqirah

Editor: Chalisa Najla Safira

08 September 2026

Kita Merekam, tetapi Lupa Menolong

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Ada pemandangan yang semakin mudah ditemukan di tengah kehidupan digital. Saat terjadi keributan, kecelakaan, atau tindak kekerasan di tempat umum, ponsel segera terangkat. Orang-orang langsung berkumpul, kamera diarahkan, dan kejadian yang seharusnya mengundang pertolongan justru berubah menjadi tontonan.

Menurut pendapat penulis, keadaan ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan meningkatnya kepedulian manusia. Kita semakin mudah mendapatkan informasi, tetapi juga semakin mudah menjadi penonton dari penderitaan orang lain. Masalahnya bukan terletak pada kamera, melainkan pada pilihan kita ketika menggunakannya. Saat melihat seseorang menjadi korban kekerasan, apakah hal pertama yang kita pikirkan adalah merekam atau mencari bantuan?

Sebuah rekaman terkadang memang diperlukan sebagai bukti. Namun, masalah muncul ketika rekaman tersebut disebarluaskan tanpa mempertimbangkan kondisi korban atau bahkan dijadikan bahan hiburan. Kita sering lupa bahwa rekaman yang hanya berlangsung beberapa menit bagi penonton dapat menjadi pengalaman traumatis bagi korban.

Yang lebih dikhawatirkan adalah respons setelah video tersebar. Kolom komentar sering menjadi ruang penghakiman. Korban disalahkan, pelaku dijadikan bahan lelucon, dan penonton berlomba-lomba memberikan pendapat hanya berdasarkan potongan video yang belum tentu menggambarkan keseluruhan kejadian.

Kebiasaan ini perlu dihentikan. Kita terlalu terbiasa mengabadikan setiap kejadian sampai lupa bahwa tidak semua hal layak dijadikan tontonan. Ketika seseorang sedang terluka atau ketakutan, yang dibutuhkan bukan banyaknya penonton, melainkan pertolongan.

Dalam situasi yang cukup berbahaya, keselamatan diri tetap menjadi pertimbangan utama. Sebagai penonton, kita juga memiliki tanggung jawab atas apa yang kita lakukan setelah melihat sebuah kejadian. Tidak semua hal harus direkam, dikomentari, dan disebarluaskan.

Teknologi seharusnya membantu manusia menjadi lebih peduli, bukan membuat kita terbiasa melihat penderitaan sebagai hiburan. Setiap tindakan kita di ruang digital turut menentukan hal-hal yang seharusnya mendapatkan perhatian.

Saat kekerasan terjadi di depan mata, merekam bukan satu-satunya pilihan karena kita masih bisa memilih untuk peduli.


Penulis: Julia Sabela

Editor: Redaksi

28 Agustus 2026

Dari Sudut Air Terjun Blang Kolam yang Kumuh

Foto: Daffa Alkausar
www.lpmalkalam.com- Air Terjun Blang Kolam dikenal sebagai salah satu objek wisata alam yang memiliki keindahan dan suasana yang masih alami. Namun, kini keindahan tersebut mulai terganggu oleh tumpukan sampah yang ditinggalkan pengunjung, mulai dari sisa makanan hingga sampah plastik yang sulit terurai.

Tidak adanya petugas khusus untuk membersihkan kawasan tersebut membuat sampah semakin menumpuk. Seorang tukang parkir di lokasi mengatakan bahwa sampah biasanya akan terbawa arus ketika hujan turun dan debit air meningkat. Namun, membiarkan sampah terbawa arus bukanlah solusi karena dapat mencemari aliran sungai serta berdampak pada lingkungan dan masyarakat sekitar.

Persoalan ini seharusnya menjadi perhatian bersama. Pemerintah perlu meningkatkan pengelolaan kebersihan kawasan wisata, sementara pengunjung harus memiliki kesadaran untuk membawa kembali sampah mereka atau membuangnya pada tempat yang telah disediakan.

Air Terjun Blang Kolam bukan sekadar air yang jatuh dari ketinggian, tetapi juga bagian dari keindahan alam yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Jika tidak dijaga, keindahan yang diwariskan kepada generasi berikutnya mungkin hanya akan tinggal cerita.


Penulis: Daffa Alkausar

Editor: Redaksi



27 Agustus 2026

Ketika Pertalite di Ketol Nyaris Seharga Pertamax, Siapa yang Diuntungkan?

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Perkembangan zaman membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Mulai dari akses transportasi yang semakin lancar, distribusi barang yang berjalan lebih cepat, hingga kendaraan bermotor yang kini menjadi salah satu sarana utama mobilitas masyarakat.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan sosial yang nyata, yaitu melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di tingkat eceran. Kestabilan harga resmi yang ditetapkan pemerintah ternyata belum diiringi dengan pemerataan ketersediaan pasokan hingga ke pelosok desa.

Fenomena ini dapat dilihat secara langsung di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Di wilayah tersebut, harga Pertalite eceran sudah jauh dari harga normal akibat kelangkaan yang kerap terjadi. Warga terpaksa merogoh kocek hingga Rp15.000 per liter, angka yang hampir setara dengan harga Pertamax. Padahal, bagi masyarakat yang setiap hari mengandalkan sepeda motor untuk bekerja atau mengangkut hasil kebun, selisih harga tersebut tentu sangat membebani pengeluaran.

Kondisi yang menyulitkan masyarakat ini sering kali dibiarkan tanpa adanya solusi cepat. Seolah-olah, beban ekonomi yang harus ditanggung masyarakat kecil bukan menjadi persoalan yang mendesak. Dari sini terlihat bahwa niat pemerintah dalam memberikan subsidi dapat kehilangan manfaatnya di tengah perjalanan akibat rantai distribusi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Situasi ini tentu memprihatinkan. Kebijakan subsidi memang telah ditetapkan secara nasional, tetapi pengawasan di tingkat daerah masih perlu diperkuat. Jika dipikirkan kembali, apakah kebijakan yang ada benar-benar telah membantu masyarakat kecil atau justru membuat mereka semakin terjepit?

Pemerataan hak seharusnya menjadi perhatian utama, bukan hanya bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota besar, tetapi juga bagi mereka yang berada di daerah terpencil. Jika pasokan BBM di daerah pelosok sering mengalami hambatan, pihak berwenang seharusnya lebih tegas dalam mengawasi jalur distribusinya agar tidak mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.

Membiarkan harga BBM bersubsidi melonjak di tingkat eceran demi keuntungan sepihak merupakan persoalan yang tidak boleh dianggap biasa. Kondisi ini menjadi bukti bahwa lemahnya pengawasan dapat membuat masyarakat di pelosok harus menanggung beban ekonomi yang lebih berat.

Subsidi seharusnya menjadi penopang untuk meringankan kehidupan masyarakat secara adil, bukan berubah menjadi komoditas yang sulit diperoleh oleh masyarakat di tingkat akar rumput.

Jangan sampai ketimpangan distribusi membuat keadilan sosial hanya menjadi slogan kosong. Sebab, keberhasilan subsidi tidak semata-mata diukur dari baiknya angka yang tercatat di atas kertas, tetapi juga dari seberapa mudah masyarakat di pelosok dapat merasakan manfaatnya secara nyata.


Penulis: Ilham Dwi Temasmiwa

Editor: Redaksi

19 Agustus 2026

Jirani Coffee House: Antara Rasa, Suasana, dan Kenyamanan

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Aroma kopi segar menyambut begitu pintu terbuka. Dinding bata, rak kayu penuh cangkir unik, dan lampu hangat menciptakan suasana yang tenang dan akrab. Papan menu tulisan tangan di tengah dinding menjadi jendela keramahan tempat ini.
 
Saat secangkir kopi hangat tersaji, manis karamel, lembut susu, dan rasa kopi yang berkarakter setiap tegukan terasa seperti pelukan yang melepas lelah. Suara mesin kopi, tawa pelan, dan obrolan hangat menyatu menjadi irama damai, jauh dari kebisingan luar.
 
Di sini, rasa bukan sekadar enak. Suasananya menenangkan, kenyamanan terasa seperti di rumah sendiri. Jirani Coffee House bukan sekadar kedai kopi, tetapi juga ruang untuk beristirahat, bernapas, dan menikmati momen sederhana yang penuh kedamaian.
 

Penulis: Iftal Ghifari

Editor: Chalisa Najla Safira

14 Agustus 2026

Tak Kenal, Maka Tak Kimpul?

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Di tengah arus masyarakat Indonesia yang sedang sibuk mencari makanan hits di kafe-kafe ternama, muncul makanan yang bernama kimpul. Menurut Wikipedia, kimpul adalah tanaman yang termasuk dalam suku talas-talasan (Araceae) dengan bentuk pati dan dapat dikonsumsi.

Kimpul awalnya diperkenalkan akun Black Sheep di aplikasi TikTok dengan konten-kontennya yang berisi makanan ketahanan pangan berbasis umbi-umbian seperti kimpul, growol, gembolo, gembili, tiwul, dan tempe benguk. 

Rasanya yang hampir menyerupai kentang membuat beberapa influencer mencoba membuat makanan yang berbahan dasar kimpul. Beberapa makanan yang berhasil dimodifikasi dengan kimpul misalnya kimpuljeon, dumpling kimpul, kimpul chewy cookie, sushi kimpul, dan mango sticky kimpul.

Sebagai warga Indonesia kita patut bangga dengan salah satu bahan makanan ini dan harus melestarikannya. Karena kimpul tersebut, selain harganya yang terjangkau juga termasuk mudah untuk dibudidayakan atau ditemukan di pasar tradisional. Menuju 81 tahun kemerdekaan Indonesia, selamat mencoba kimpul. 


Penulis: Zahratul

Editor: Chalisa Najla Safira

12 Agustus 2026

Fenomena Feodalisme Ketika Memperingati Kemerdekaan

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Teman-teman sadar tidak bahwa ada budaya yang masih dicerca hingga sekarang, namun tanpa disadari masih lekat dilakukan? Budaya itu adalah feodalisme. Feodalisme sering dibahas terjadi di lingkungan pesantren dan akademik, namun yang jarang kita sadari, padahal tampak jelas dan mudah dilihat, justru terjadi pada pelaksanaan Upacara Peringatan Kemerdekaan Indonesia.

Ketika upacara tersebut dilaksanakan, ada segelintir orang yang ditempatkan di bawah tenda teduh yang dihias sedemikian rupa. Namun di sisi lain, ada yang harus berpanas-panasan di bawah terik matahari demi menunjukkan nasionalisme.

Orang-orang di bawah tenda itu biasanya dipilih untuk mengurus kepentingan masyarakat, namun pada saat yang sama mereka justru melakukan feodalisme, bahkan di hari kemerdekaan itu sendiri. Mereka memosisikan diri seakan memiliki status hierarki yang lebih tinggi dari mereka yang berdiri di bawah terik matahari.

Feodalisme modern tidak selalu hadir dalam bentuk seorang bawahan yang membungkuk di hadapan atasannya. Ia dapat hadir secara lebih halus, salah satunya melalui perbedaan perlakuan berdasarkan jabatan dan status, seperti yang terjadi dalam upacara kemerdekaan tadi.

Namun, bukan berarti setiap pejabat atau orang yang berada di bawah tenda dapat langsung dikatakan melakukan feodalisme. Fasilitas tersebut bisa saja diberikan karena alasan yang wajar, seperti faktor kesehatan, usia, tugas protokoler, atau kebutuhan tertentu yang memang harus dipertimbangkan. Persoalan baru muncul ketika fasilitas khusus itu diberikan semata-mata berdasarkan jabatan atau status sosial, tanpa alasan yang jelas dan proporsional, dan di situlah kita patut bertanya apakah pemberiannya benar-benar karena kebutuhan objektif, atau karena jabatan dianggap memberikan hak istimewa?

Jika alasannya semata-mata karena status, maka persoalannya bukan lagi sekadar tenda atau tempat berteduh. Persoalannya adalah cara kita memandang kesetaraan. Orang yang memiliki jabatan publik pada dasarnya memperoleh amanah untuk melayani masyarakat, bukan kedudukan yang membuat mereka lebih berhak atas kenyamanan dibandingkan masyarakat yang mereka layani.

Ironisnya, praktik semacam ini justru bisa berlangsung dalam upacara yang memperingati kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan seharusnya menjadi simbol bahwa setiap warga negara memiliki kedudukan yang setara. Karena itu, peringatan kemerdekaan seharusnya tidak hanya menjadi ritual mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat apakah nilai kesetaraan itu benar-benar kita praktikkan hari ini.


Penulis: Muhammad Rahul Gonzales

Editor: Chalisa Najla Safira

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.