Portal Berita Al-Kalam

UIN SUNA Lhokseumawe Gelar UM-PTKIN 2026 untuk 489 Peserta

Foto: Putri Ruqaiyah www.lpmalkalam.com- Pelaksanaan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) Tahun 2026 di Universit...

HEADLINE

Latest Post

08 Juni 2026

Selalu Ada Tempat untuk Pulang

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Ada hari-hari ketika dunia terasa terlalu ramai. Terlalu banyak suara yang meminta untuk didengarkan, terlalu banyak langkah yang memaksa kita berlari lebih kencang. Pada hari-hari seperti itu, manusia sering lupa bahwa lelah adalah bagian dari dirinya, dan beristirahat bukanlah sebuah kekalahan.

Lalu, kita pulang.

Bukan sekadar pulang ke sebuah bangunan beratap, tetapi pulang pada ketenangan yang selama ini dicari, pulang pada tempat yang menerima kita tanpa syarat. Tempat yang tidak bertanya tentang kekalahan, tidak mempermasalahkan berapa kali kita terjatuh, dan tidak menuntut sejauh mana kita telah melangkah. Tempat yang hanya hadir, membuka ruang, dan mempersilakan kita beristirahat dari dunia luar yang melelahkan.

Aneh, bukan? Di luar sana, kita sering dipaksa merangkai kata untuk menjelaskan diri. Menjelaskan pilihan yang kita ambil, menjelaskan mimpi yang sedang diperjuangkan, bahkan menjelaskan luka yang belum benar-benar sembuh dan tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Namun, ada tempat yang tidak membutuhkan penjelasan apa pun. Tempat yang mampu memahami lelah hanya dari sorot mata yang redup, mengerti sedih tanpa harus mendengar seluruh cerita. Di sana, diam terasa seperti bahasa yang dimengerti.

Mungkin karena itu manusia selalu mencari tempat untuk kembali. Sebab setinggi apa pun seseorang terbang, ia tetap membutuhkan tempat untuk mendarat. Sejauh apa pun seseorang menyelam, ia tetap membutuhkan daratan untuk bernapas.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa jauh kita berkelana. Setelah menempuh begitu banyak jalan, yang paling dicari bukanlah tepuk tangan atau pengakuan, melainkan sebuah tempat yang tetap membuka pintunya, menyediakan telinga untuk mendengar cerita, dan menerima tanpa peduli seberapa besar luka yang dibawa. Tempat yang tetap ada, bahkan ketika kita datang dengan hati yang lelah dan langkah yang hampir menyerah.

Ketika hari esok kembali datang dengan segala cerita dan tantangan barunya, kita memilih untuk melangkah lagi. Bukan karena sudah tidak lelah, melainkan karena kita tahu bahwa selalu ada tempat untuk pulang ketika dunia terasa terlalu berat untuk dihadapi sendirian.


Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Zahratul

01 Juni 2026

Sebilah Cinta di Hari Kurban

Foto: Pexels

www.lpmalkalam.com- Hari Raya Iduladha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan. Ia adalah cermin batin yang memaksa kita bertanya apa yang benar-benar kita pegang erat, dan apakah kita sanggup melepaskannya ketika Allah meminta?

Setiap tahun, di halaman rumah dan lapangan masjid kampung, pisau diasah dan takbir dikumandangkan. Kita menyaksikan proses itu dengan tenang, seolah maknanya sudah kita mengerti sejak kecil. Padahal, mungkin selama ini kita hanya melihat hewan yang disembelih, bukan pergulatan batin Ibrahim.

Nabi Ibrahim bukanlah manusia yang tidak memiliki perasaan. Justru sebaliknya, ia adalah seorang ayah yang sangat mencintai putranya, Ismail, yang lahir setelah penantian panjang. Maka, langkahnya menuju Mina bukanlah langkah yang ringan. Bebannya lebih berat daripada setiap batu yang diinjaknya di bukit itu. Kisah ini bukan tentang ketidakpedulian, melainkan tentang cinta yang begitu dalam hingga sanggup dikalahkan oleh kepatuhan.

Di sinilah letak salah paham yang sering kita bawa. Kita mengira bahwa orang yang berkorban adalah orang yang tidak mencintai apa yang ia korbankan. Padahal, yang benar justru sebaliknya. Pengorbanan yang sejati hanya mungkin lahir dari cinta yang nyata. Bila tidak ada kecintaan, tidak ada yang namanya pengorbanan. Yang ada hanyalah pelepasan biasa.

Pertanyaannya bukan soal hewan mana yang kita sembelih hari ini. Tetapi apa yang masih kita genggam terlalu erat? Nama seseorang yang sudah seharusnya kita ikhlaskan? Rencana lama yang terus kita pertahankan, bukan karena masih baik bagi kita, melainkan karena kita takut mengakui bahwa jalan lain telah lama terbuka, sementara kita memilih menutup mata terhadapnya?

Iduladha mengajarkan bahwa keikhlasan bukanlah ketidakpedulian. Tangan yang gemetar namun tetap membuka genggaman justru lebih mulia daripada tangan yang melepas sesuatu yang memang tidak pernah dicintai. Kesunyian terberat bukan terletak pada pisau yang jatuh, melainkan pada keputusan di dalam dada sebelum pisau itu diangkat.

Takbir masih bergema, dan mungkin ia bukan hanya untuk merayakan ketaatan Ibrahim ribuan tahun lalu. Ia juga hadir untuk menguatkan kita yang hari ini masih berdiri di lapangan yang sama, membawa beban yang tidak terlihat, dan berjuang mempelajari satu hal paling sulit dalam hidup adalah melepaskan karena cinta, bukan karena tidak peduli.


Penulis: Cut Saputri

Editor: Chalisa Najla Safira

30 Mei 2026

Sampai Mana Batas Sebuah Candaan?

Foto: Pixabay

www.lpmalkalam.com- Pernahkah kamu merasa tersinggung oleh candaan teman, lalu ditertawakan oleh banyak orang karena lelucon yang menurutmu menyinggung, tetapi justru dianggap “baperan”? Atau pernahkah kamu melontarkan candaan yang menurutmu lucu, tetapi ternyata membuat orang lain terdiam dan menjauh dengan raut wajah yang berubah seketika?

Belakangan ini, pembahasan tentang batas gurauan semakin sering muncul, terutama di media sosial dan dalam pergaulan sehari-hari. Banyak orang menutup argumen mereka dengan dalih gurauan, seolah-olah hal itu menjadi pembenaran atas segala ucapan. Batas antara bercanda dan menghina pun semakin tipis. Tidak sedikit yang berlindung di balik kalimat “kan cuma bercanda”, padahal kata-kata yang diucapkan bisa saja melukai perasaan orang lain.

Dalam sebuah unggahan akun @mudahbergaul, Dimas Alwin, S.Psi., menulis kalimat tegas, “Stop normalisasi bercanda dan malah bilang orang lain yang baperan!” Kalimat sederhana tersebut menyindir kebiasaan sebagian masyarakat yang kerap meremehkan perasaan orang lain dengan dalih “hanya bercanda”. Padahal, tidak semua orang memiliki batas kenyamanan yang sama dalam menerima candaan. Unggahan itu menjadi pengingat bahwa sebelum menilai orang lain terlalu sensitif, mungkin kita perlu terlebih dahulu mengukur kepekaan diri sendiri.

Di lingkungan kampus, candaan sering muncul sebagai bentuk keakraban. Namun, tidak semua candaan pantas dilontarkan. Lelucon tentang fisik, latar belakang keluarga, atau pengalaman pribadi dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat. Bahkan, korbannya bisa membawa beban tersebut jauh setelah tawa berhenti. Karena itu, empati dan kesadaran sosial menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan komunikasi yang sehat dan saling menghargai.

Bercanda bukan sekadar perkara benar atau salah, melainkan soal memahami tempat, waktu, dan perasaan orang lain. Cara kita memilih dan menyampaikan kata-kata akan menentukan apakah candaan itu menghadirkan tawa atau justru meninggalkan luka. Menghargai perasaan orang lain bukanlah bentuk sikap “baper”, melainkan bukti bahwa kita memahami sisi manusiawi dalam berkomunikasi.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menjadikan kata “baper” sebagai ejekan. Sebaliknya, anggaplah istilah itu sebagai pengingat bahwa setiap orang memiliki batas yang berbeda dalam menerima candaan. Sebab, dunia tidak kekurangan orang yang pandai melucu. Yang kita butuhkan adalah lebih banyak orang yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.


Penulis: Amanda Zuhra 

Editor: Chalisa Najla Safira

26 Mei 2026

Meugang: Bukan Sekadar Daging, tetapi Warisan Budaya

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Meugang, dalam masyarakat Aceh, dikenal sebagai hari yang dipenuhi oleh daging. Sebenarnya, tradisi ini bukan sekadar tentang daging, melainkan tradisi turun-temurun di Aceh ketika seluruh masyarakat memasak dan menghidangkan daging untuk keluarga mereka. Meugang biasanya berlangsung dua hari sebelum Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Masyarakat menyebutnya sebagai meugang kecil (dua hari sebelum Lebaran) dan meugang besar (satu hari sebelum Lebaran).

Tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh. Menurut masyarakat Aceh, daging yang dihidangkan merupakan bentuk rasa syukur sekaligus simbol kebersamaan dalam kehidupan sosial. Dahulu, pada masa Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau, dan hewan ternak lainnya disembelih untuk dibagikan kepada fakir miskin dan anak yatim. Hal tersebut menjadi bukti bahwa tradisi meugang sangat lekat dengan nilai keberkahan dan kepedulian sosial.

Setiap sudut kota maupun desa di Aceh merayakan hari besar ini. Meskipun terdapat sedikit perbedaan di beberapa daerah, tradisi meugang tetap memiliki makna yang sama bagi seluruh masyarakat Aceh. Menjelang hari meugang, masyarakat Aceh sangat antusias menyiapkan berbagai hewan ternak untuk diperjual belikan demi terciptanya pemerataan ekonomi. Ketika hari meugang tiba, banyak masyarakat dari berbagai profesi menghentikan aktivitas pekerjaan mereka untuk merayakan tradisi warisan leluhur ini.

Daging yang dibeli kemudian dimasak menjadi berbagai hidangan khas Aceh, seperti kari, kuah beulangong (gulai khas Aceh), sie reuboh (daging rebus asam pedas), dan sop daging. Uniknya, masyarakat Aceh tidak pernah menganggap tradisi ini sebagai beban. Baik kalangan atas maupun bawah tetap berusaha agar keluarga mereka dapat menikmati daging pada hari meugang.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Zahratul

23 Mei 2026

Ruang Diskusi atau Arena Konflik


Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Baru-baru ini, lingkungan Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, menjadi sorotan akibat terjadinya pertikaian antar mahasiswa dari Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian. Konflik tersebut diduga bermula dari cekcok antar oknum organisasi mahasiswa yang kemudian berkembang menjadi tindakan saling menyerang. Akibatnya, sejumlah fasilitas fakultas mengalami kerusakan bahkan terbakar, serta terdapat mahasiswa yang menjadi korban dalam insiden tersebut.

Peristiwa ini tentu sangat disayangkan, mengingat kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya pemikiran kritis, diskusi ilmiah, dan penyelesaian masalah secara dewasa. Mahasiswa sering disebut sebagai agen perubahan dan kaum intelektual. Namun, tindakan anarkis yang terjadi justru menunjukkan hilangnya sikap idealis dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi persoalan.

Tindakan menyerang fasilitas kampus maupun sesama mahasiswa bukanlah bentuk keberanian ataupun solidaritas. Sebaliknya, tindakan tersebut hanya memperlihatkan tingginya ego antar kelompok tanpa memikirkan dampak jangka panjang yang ditimbulkan. Kerusakan fasilitas bukan hanya merugikan satu pihak, melainkan seluruh civitas akademika. Kampus yang seharusnya menjadi ruang belajar bersama justru berubah menjadi arena konflik yang dipenuhi amarah.

Selain itu, konflik seperti ini mencerminkan rendahnya kemampuan dalam mengendalikan emosi dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Sebagai mahasiswa, seharusnya penyelesaian konflik dilakukan melalui dialog, mediasi, dan pemikiran rasional, bukan dengan kekerasan. Sikap kritis bukan berarti bertindak agresif, melainkan mampu mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan yang dilakukan.

Jika kasus seperti ini terus terjadi tanpa adanya pembenahan dari kedua belah pihak, maka nilai-nilai intelektualitas di lingkungan kampus akan semakin memudar. Mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu menunjukkan kedewasaan dalam bersikap dan bertindak.

Pada akhirnya, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa status 'mahasiswa' bukan sekadar identitas pendidikan, melainkan tanggung jawab moral untuk berpikir kritis, menjaga idealisme, dan menyelesaikan masalah secara bijaksana. Kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya solusi, bukan tempat tumbuhnya permusuhan.


Penulis: Daffa Alkausar

Editor: Chalisa Najla Safira


20 Mei 2026

Pencemaran Laut dan Rendahnya Kepedulian Manusia

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Laut dikenal sebagai simbol keindahan dan ketenangan alam. Hamparan air biru, suara ombak, serta angin pantai yang menjadi saksi bisu manusia dalam melepas peluh dan kesahnya. Namun di balik keindahannya, laut kini membawa pesan kepedulian kepada manusia karena kondisinya yang tercemar bahkan dirusak dengan keji tanpa kepedulian terhadap lingkungan alam.

Saat ini sampah plastik, menjadi masalah utama dalam merusak keindahan lautan. Banyak masyarakat yang membuang sampah ke pantai tanpa memikirkan risiko yang akan terjadi ke depannya. Akibatnya, sampah tersebut terbawa oleh arus ombak hingga mencemari laut dan juga membahayakan kehidupan di dalam laut. Sangat banyak hewan laut yang mati terjebak di antara limbah yang mengapung dan menjadi racun di lautan.

Masalah ini terjadi karena kurangnya kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan. Banyak orang masih beranggapan bahwa laut mampu membersihkan dirinya sendiri, padahal pencemaran lingkungan yang terus terjadi dapat menjadi dampak besar bagi kehidupan manusia ke depannya. Lautan yang tercemar tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memengaruhi mata pencaharian para nelayan dan juga sektor pariwisata.

Selain masyarakat, pemerintah juga menjadi peran penting dalam menjaga kelestarian laut. Aturan mengenai larangan pembuangan sampah dan limbah secara sembarangan harus ditertibkan agar pencemaran dapat dikurangi. Edukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian laut perlu dilakukan, terutama kepada generasi muda untuk meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui ombaknya, laut selalu memperingatkan pada manusia alam membutuhkan cinta dan kasih sayang. Jika manusia terus bersikap mengabaikan, maka keindahan laut perlahan akan pudar dan lenyap. Karena itu, menjaga laut bukan hanya tanggung jawab sebagian orang tetapi kewajiban bersama untuk masa depan lebih baik dan lingkungan terjaga.


Penulis: Rozatun Navais

Editor: Chalisa Najla Safira

19 Mei 2026

Tuntutan 18 Tahun Nadiem Makarim: Wujud Keadilan atau Pengadilan Kebijakan Pemerintah?

Foto: Kompas.Com

www.alkalam.com- Sidang pembacaan tuntutan terhadap mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim baru-baru ini mengguncang ruang publik. Dituntut 18 tahun penjara ditambah denda dan kewajiban mengembalikan kerugian negara senilai Rp2.100.000.000 (dua miliar seratus juta rupiah), kasus ini memunculkan kebingungan di masyarakat.

Publik bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang mantan menteri dituntut dengan angka yang lebih fantastis dibandingkan pelaku tindak pidana terorisme atau pembunuhan. Apakah ini murni penegakan keadilan hukum, atau sebuah pengadilan terhadap kebijakan pemerintah masa lalu.

Dari sudut pandang jaksa penuntut umum (JPU), tuntutan ini berakar pada dugaan penyalahgunaan wewenang dalam pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) yang dianggap merugikan negara hingga Rp2.100.000.000 (dua miliar seratus juta rupiah).

Jaksa menuding kebijakan tersebut sarat akan kepentingan bisnis untuk menggiring ekosistem pendidikan ke raksasa teknologi tertentu. Bagi penegak hukum, angka kerugian negara dan dugaan ketidakwajaran aset merupakan fakta yang tidak dapat dinegosiasikan.

Namun, narasi tersebut dibantah oleh pihak Nadiem dan para pendukungnya. Nadiem secara vokal menyatakan bahwa kebijakan digitalisasi pendidikan tersebut merupakan bagian dari mandat presiden untuk mempercepat transformasi digital nasional. Ironisnya, dalam persidangan tidak ditemukan bukti adanya aliran dana korupsi ke kantong pribadi mantan bos Gojek tersebut.

Banyak pengamat dan figur publik menilai bahwa mantan menteri tersebut sedang menghadapi risiko kriminalisasi akibat diskresi kebijakan di masa pandemi yang justru dapat menciptakan ketakutan bagi kaum profesional atau teknokrat untuk terjun membantu pemerintahan.

Pada akhirnya kasus ini harus menjadi refleksi bersama mengenai batas antara kebijakan publik dan tindak pidana. Jika sebuah kebijakan pemerintah di kemudian hari dapat dikriminalisasi tanpa adanya bukti niat jahat (mens rea) atau keuntungan pribadi maka ekosistem birokrasi berada dalam ancaman. Majelis hakim kini memegang palu penentu di mana putusan nanti tidak hanya mengadili Nadiem Makarim tetapi juga menjadi preseden bagaimana negara memandang inovasi dan kebijakan di masa depan.


Penulis: Cut Saputri

Editor: Putri Ruqaiyah


16 Mei 2026

Dilema Desil: Statistik Bernilai Kemelaratan


 Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Hidup di negara yang penuh dengan isu nasional, membuat masyarakat Indonesia tidak bisa menjalani aktivitas dengan tenang. Akhir-akhir ini muncul istilah "Desil" yang menambah kegundahan masyarakat. Desil merupakan tingkat kesejahteraan sosial masyarakat dibuat untuk membatasi pengeluaran negara baik dari segi pendidikan maupun jaminan kesehatan, yang dinilai berupa angka 1 (sangat miskin) sampai dengan 10 (sangat sejahtera). 

Kegundahan warga dimulai karena tidak sesuainya pembagian angka dengan realitas yang ada. Masyarakat golongan bawah tetap digolongkan ke dalam golongan tinggi sehingga sulit untuk menerima Bantuan Sosial (Bansos) dan juga ditolak jaminan kesehatan seperti Bantuan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS). 

Beberapa kelompok masyarakat merasakan adanya inflasi yang sangat berdampak negati karena mereka tetap patuh membayar pajak, tetapi tidak dapat menerima hubungan timbal balik dari pemerintah, seperti kenaikan harga pangan dan berkurangnya bantuan.

Kenyataannya, sampai saat ini masyarakat masih belum bisa menerima ketetapan angka yang diberikan oleh para pejabat melalui media digital yang dianggap tidak adil dan tidak sesuai dengan realita. Seharusnya para pemerintah tetap menyelidiki secara lebih mendalam tentang tingkatan sosial masyarakat sebelum menetapkan angka yang mengakibatkan runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap suatu hukum negara.

Namun, sampai saat ini masyarakat masih berharap angka desil yang sudah berlaku masih bisa diperbaiki sesuai dengan nilai-nilai keadilan masyarakat. 



Penulis: Annisa Maulianda


Editor: Chalisa Najla Safira


Ketika Ajang Akademik Kehilangan Nilai Keadilan

Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com- Sebuah perlombaan akademik seharusnya menjadi tempat bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan berpikir, keberanian menyampaikan pendapat, serta hasil dari proses belajar yang telah dijalani. Namun, belakangan ini muncul perdebatan dalam sebuah ajang pengetahuan yang membuat banyak orang mempertanyakan bagaimana sistem penilaian dijalankan. Situasi tersebut menjadi perhatian publik karena ada peserta yang dianggap memberikan jawaban tepat, tetapi tetap dinyatakan salah oleh pihak penilai. Perbedaan keputusan itu akhirnya memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat.

Hal ini bukan hanya soal menang atau kalah dalam perlombaan, melainkan juga menyangkut pentingnya keadilan dan profesionalisme dalam dunia pendidikan. Peserta tentu berharap setiap jawaban dinilai secara objektif dan konsisten. Ketika penjelasan dari pihak penilai kurang jelas atau keputusan terlihat berbeda antara satu peserta dan peserta lainnya, kepercayaan terhadap kompetisi dapat menurun. Apalagi, di era media sosial saat ini, sebuah kejadian dapat dengan cepat menyebar luas dan menjadi perhatian publik.

Di sisi lain, sikap peserta yang tetap tenang saat menyampaikan pendapat justru mendapat banyak apresiasi. Cara berbicara yang sopan, percaya diri, dan tetap menghargai pihak lain menunjukkan kedewasaan dalam bersikap. Perbedaan pendapat sebenarnya dapat disampaikan dengan baik tanpa harus menimbulkan suasana yang memanas. Sikap seperti ini juga menjadi contoh positif bagi pelajar lain dalam menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan.

Kejadian tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara kompetisi akademik agar lebih teliti, transparan, dan profesional dalam mengambil keputusan. Sebab, pada akhirnya tujuan utama perlombaan pendidikan bukan hanya menentukan siapa yang menjadi juara, tetapi juga membangun semangat belajar, sportivitas, dan rasa percaya diri para peserta.


Penulis: Lutfiatil Syaqirah


Editor: Chalisa Najla Safira

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.