![]() |
| Foto: Pixels |
Jika motivasi utama hanya memperoleh dokumen formal, maka makna pendidikan tinggi telah mengalami penyempitan yang sangat mendasar. Dampaknya langsung terasa pada ketatnya persaingan kerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengangguran lulusan universitas masih konsisten menembus angka 1 juta orang. Industri modern kini lebih memprioritaskan kemampuan memecahkan masalah (problem solving), komunikasi, kepemimpinan, dan ketahanan mental.
Kompetensi esensial ini sayangnya jarang didapat oleh mahasiswa yang pasif di kelas dan abai terhadap organisasi, penelitian, atau perlombaan. Akibatnya, terjadi kesenjangan besar (skill mismatch) antara teori kampus dan kebutuhan nyata lapangan kerja. Memiliki nilai akademik yang baik tentu patut diapresiasi, namun kuliah seharusnya menjadi laboratorium sosial untuk bereksperimen dan memperluas jaringan profesional.
Oleh karena itu, paradigma berpikir mahasiswa harus diubah sejak dini dengan mengambil langkah nyata. Mahasiswa harus berani keluar dari zona nyaman akademis melalui keterlibatan aktif dalam organisasi kampus, kompetisi ilmiah, hingga program praktis seperti magang bersertifikat di Kampus Merdeka. Kampus bukan tempat mencetak robot berijazah, melainkan wadah penempaan karakter. Dengan aktif membangun portofolio dan jejaring sejak semester awal, mahasiswa akan tumbuh menjadi lulusan yang matang, kompeten, dan siap berdampak nyata bagi masyarakat.
Penulis: Cut Saputri
Editor: Chalisa Najla Safira
