![]() |
| Foto: Pixabay |
www.lpmalkalam.com-
Kelak ketika musim kembali berganti
Namamu tak lagi mengetuk pintu pikiranku
Ia luruh seperti embun yang kalah oleh pagi
Meninggalkan daun tanpa jejak kehilangan
Barangkali aku akan lupa
Bagaimana suaramu pernah menjinakkan gaduh
Yang tersisa hanya lengang yang sederhana
Tanpa gema yang memanggilku pulang
Aku pun akan lupa caramu tersenyum
Yang dahulu meruntuhkan seluruh kewarasanku
Sebab waktu adalah sungai yang tekun
Mengikis batu tanpa pernah tergesa
Aku akan berhenti bertanya
Mengapa kau memilih pergi
Sebab ada jawaban yang tak ditulis kata
Melainkan disimpan oleh jarak
Pernah ada masa
Aku mengira kaulah muara
Padahal kau hanya persinggahan
Yang kupeluk lebih lama dari semestinya
Lucu rasanya mengenang hari-hari itu
Ketika kehilangan kusebut sebagai akhir
Kini kusadari yang benar-benar usai
Hanyalah harapan yang enggan berpamitan
Tak ada yang benar-benar abadi
Bahkan kenangan belajar menjadi debu
Ia terbang bersama angin yang diam
Lalu larut di langit yang tak bertanya
Jika suatu hari kita kembali berpapasan
Mungkin hanya seulas senyum yang kuberikan
Bukan karena luka telah lenyap
Melainkan karena ia telah pandai menjadi tenang
Dan saat hari itu benar-benar tiba
Aku tak sedang melupakanmu
Aku hanya selesai membawa beban
Yang sejak lama bukan lagi milikku
Penulis: Amanda Zuhra
Editor: Chalisa Najla Safira
