![]() |
| Foto: Bellivia Al-Kamariana |
Foto: Bellivia Al-Kamariana www.lpmalkalam.com- Di langit yang luas membiru, awan berjalan tanpa ragu. Kadang perlahan tertiup angin, kada...
![]() |
| Foto: Bellivia Al-Kamariana |
![]() |
| Foto: Media Indonesia |
Biarku bisikan pada algojo oligarki penguasa
Negeri nan elok ini sudah berkecamuk kala itu
Para kaparat duduk di atas kursi kuasa bebas hukum
Tak bergerak menanggapi seruan alam mematikan
Wahai para bedebah-bedebah sekalian
Kala nyawa sudah tak berharga bagimu tuan
Harapanku sudah kau buat mati ditelan dusta
Dusta akan ucapan keadaan sudah baik-baik saja
Kupandangi seonggok kayu digrogoti jamur angka
Ulah para bedebah oligarki kekuasaan tanah kosong
Dengan mengongkang kaki menutup mata dan telinga
Tak ada kepedulianmu atas imbas keserakahanmu
Sungguh elok rupamu kawan
Rupa yang menutup kejahatan
Rupa duka dipoles lakon dan kamera
Padahal kau adalah pelaku sebenarnya
Kini rakyat dan satwa menjemput ajalnya
ajal ulah sang bedebah oligarki
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
Ada hari-hari ketika aku menatap kaca,
bukan untuk melihat paras,
melainkan mencari alasan
mengapa aku layak tinggal di dunia ini.
Aku berdiri lama, diam,
seakan menunggu seseorang dari balik cermin
untuk berkata, “Hei, kamu cukup.”
Aku pernah membiarkan luka orang lain
menginjak harga diriku.
Aku menjadi terlalu baik
sampai lupa menanyakan pada diri sendiri,
“Apakah aku baik juga pada diriku?”
Aku pernah mencari cinta
di genggaman tangan yang tak ingin menggenggamku erat.
Aku berharap pelukan asing
dapat menyembuhkan patah hatiku sendiri,
tanpa kusadari bahwa pelukan paling tulus
mungkin justru berasal dari dada ini,
dari napasku yang masih setia pergi dan kembali.
Aku pernah letih mengejar standar yang tak kumengerti.
Selalu ingin dianggap hebat,
padahal aku hanya ingin diterima apa adanya.
Aku berdarah-darah membuktikan sesuatu
yang bahkan tak pernah kumau sejak awal.
Dan saat kelelahan itu menelan hatiku,
aku baru sadar:
aku tak sedang berlari demi mimpi,
aku sedang kabur dari diriku sendiri.
Namun di tengah gelap yang sunyi,
aku mulai berani bertanya:
“Apakah semua ini sepadan
jika akhirnya aku kehilangan diriku?”
Dari pertanyaan itu,
lahir keberanian untuk berhenti sementara.
Bukan karena menyerah,
tetapi karena aku ingin mengerti rasa sakitku sendiri.
Aku mulai berbicara pelan pada hati
yang selama ini kupaksa diam.
Dan untuk pertama kalinya,
aku menangis bukan karena lemah,
tetapi karena mulai berani jujur.
Perlahan, aku belajar menerima setiap retakanku.
Aku belajar bahwa tidak apa-apa
jika jalanku lebih lambat,
selama aku tetap melangkah.
Aku belajar bahwa tenang
lebih berarti daripada terlihat sempurna.
Aku belajar bahwa membahagiakan diri
bukan dosa, melainkan kewajiban.
Aku belajar menepuk pundakku sendiri
dan berkata, “Terima kasih, kamu sudah bertahan sejauh ini.”
Aku mulai mencintai kelelahan yang kupunya,
karena itu bukti bahwa aku berjuang.
Aku mulai memeluk setiap kecewa,
karena di baliknya tumbuh keikhlasan.
Kini, aku sedang membangun rumah
dari doa, penerimaan, dan harapan.
Bukan rumah mewah yang butuh pengakuan,
tetapi rumah yang hangat untuk jiwaku pulang kapan saja.
Di rumah itu, aku tidak harus kuat setiap waktu.
Aku bisa menangis tanpa takut dihakimi.
Aku bisa tertawa meski tak sempurna.
Aku bisa menjadi versi diriku
tanpa perlu menyamar menjadi orang lain.
Hari ini, aku belum selesai.
Aku masih rapuh, masih belajar,
masih menyusun serpih-serpih percaya pada diri.
Namun kini aku tahu,
meski terlambat pun tak masalah,
karena aku akhirnya pulang.
Pulang ke dalam diri
tempat cinta yang asli tumbuh,
dan tempat aku akhirnya mengerti
bahwa aku layak dicintai,
bahkan oleh diriku sendiri.
Penulis: Daffa Alkausar (Magang)
![]() |
| Foto: Pexels.com |
Di lembar-lembar makalah yang mulai lusuh,
Kutemukan jejak tinta yang menggigil lelah.
Ada coretan, ada silang merah, dan tak jarang, sisa air mata yang diam-diam luruh.
Di sana juga tertempel sisa-sisa semangat,
Tak terlihat, tapi melekat.
Hanya mataku yang mampu membaca luka-luka itu,
Sebab mata lain terlalu sibuk menilai angka,
Kucari inspirasi dalam debu buku-buku tua,
Kubuka lembar-lembar baru yang masih wangi tinta.
Kubaca bait demi bait,
Mengejar pemikiran di antara catatan kaki.
Wahai referensi...
Bisakah sekali saja kau lahir dari hatiku,
Bukan dari halaman yang dipaksakan?
Agar nanti kukatakan pada dosen,
"Bu, biarkan ini jadi ilham, Jangan lagi pulpenmu menyilang harapanku."
Tapi apalah daya...
Setelah semua ilham kutawarkan,
Dunia ini masih menuntut dengan mata dingin.
Kini aku, Mahasiswa,
Sedang bertarung melawan malas, pesimis
Dan takdir yang menulis,
Aku sebagai pengangguran Setelah keluar dari gedung penuh janji ini.
Tak kubiarkan kata-kata itu tumbuh jadi akar di benakku. Demi bara semangat yang kutemukan dari doa Ayah dan Mamak di kampung nun jauh di mata,
Mereka hanya punya sepetak ladang, tapi cukup luas untuk menanam harapan menyekolahkanku hingga ke bangku kuliah ini.
Di antara inspirasi yang tercerai Semangat yang nyaris habis Kutitipkan harap,
Semoga Allah berkenan Memberkahi tiap jengkal perjuangan ini.
Penulis: Zahratul (Magang)
Editor: Tiara Khalisna
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
Di antara rerumputan liar, kamu tumbuh
Berdiri tegak, tapi tak angkuh
Mereka bilang, kamu hanya semak yang bertumbuh
Namun, bagiku kau pahlawan bagi tubuh
Daun berbulu dan batang berjenis perdu
Membuatmu terlihat tidak seberharga itu
Dengan rasa penasaran, aku mendatangimu
Lalu ku amati dengan sendu
Ternyata, sempurna itu ada di dalam mu
Kubawa kamu ke gudangku
Biji kuning dari polong yang berbulu
Bersama ragi putih, partner-mu
Berhasil ku olah kau menjadi tempe dan tahu
Menjadi sumber protein bagi mereka yang membuangmu
Lalu, sisa cairan yang kau hasilkan dari tahu
tentu masih berharga bagiku
Karena akan ku jadikan kau sebagai susu
Kini, kamu menjadi kebutuhan bagi manusia
Setiap hari, mereka mencarimu di pasar raya
Tidak lagi harus di injak-injak hingga luka
Karena aku telah menemukan titik dirimu yang berharga
Tumbuhlah,
Terus tumbuh dengan indah
Karena engkau punya nutrisi yang melimpah
Keledaiku, engkau adalah anugerah
Karena hidupmu, juga hidup untuk mereka
Penulis: Annisa Maulianda (Magang)
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
Di gerbang sekolah, langkah dimulai,
Masa SMA penuh warna dan mimpi.
Seragam putih abu-abu saksi setia,
Kenangan terukir, takkan terlupa.
Kelas berisik, canda tawa menggema,
Belajar bersama, suka duka dirasa.
Guru-guru sabar membimbing kami,
Membuka cakrawala ilmu, tanpa henti.
Kantong bolong, jajan bareng di kantin,
Mie ayam dan es teh jadi andalan.
Saat ulangan, saling contek diam-diam,
Kenakalan remaja, penuh keceriaan.
Cinta monyet bersemi di koridor,
Surat cinta diselipkan di loker.
Malam minggu, nongkrong di kafe,
Mencari jati diri, penuh semangat.
Pramuka, PMR, OSIS, dan ekskul lainnya,
Mengasah bakat, mengembangkan diri.
Lomba-lomba, semangat kompetisi,
Meraih prestasi, bangga di hati.
Perpisahan sekolah, air mata berlinang,
Janji setia, takkan saling melupakan.
Kenangan SMA, terukir selamanya,
Dalam hati dan jiwa, abadi sentiasa.
Kini waktu telah berlalu,
Namun kenangan SMA tetap membara.
Sahabat sejati, guru tercinta,
Kenangan indah, takkan pernah sirna.
Penulis: Muhammad Iftal (Magang)
![]() |
| Foto: Daffa Alkausar (Magang) |
Di tanah Serambi Mekkah yang bersujud pada pagi,
berdiri megah kampus peradaban,
UIN Sultanah Nahrasiyah,
mutiara ilmu yang tak ternilai,
tempat di mana iman bertemu dengan kecerdasan,
dan akhlak berpadu dengan kemajuan zaman.
Langit Darussalam menjadi saksi,
tiap langkah mahasiswa membawa doa dan cita.
Mereka meniti jalan ilmu seperti para ulama masa lalu,
dengan hati yang tunduk dan pikiran yang merdeka.
Di ruang-ruang kuliah, kata dan makna beradu,
antara logika dan wahyu,
antara sains dan tafsir kehidupan—
semuanya berpadu dalam simfoni pengetahuan.
Di sini bukan hanya gelar yang dicari,
tetapi nilai yang diwariskan.
Bukan hanya cerdas berpikir,
melainkan juga lembut dalam sikap dan perilaku.
UIN Sultanah Nahrasiyah,
engkau bukan sekadar kampus,
engkau taman peradaban,
tempat akar iman menegakkan batang ilmu,
dan ranting amal berbuah keberkahan.
Di bawah rindangnya pepohonan kampus,
terdengar suara semangat mahasiswa memulai perkuliahan
Penulis: Daffa Alkausar (Magang)
Editor: Putri Ruqaiyah
![]() |
| Foto: Pexels.com |
Seiring berjalannya waktu
Kumerindukan akan sesuatu
Sesuatu yang telah usai
Yang kini tak dapat digapai
Padahal diriku mau mengulang akan hal itu
Walau sudah tak terpatri lagi untukku
Kini, hanya bisa tersemat di relung ingatan
Yang akan dikenang sepanjang zaman
Masa hidup yang penuh nan warna
Terlukiskan dengan selaksa
Harapan, keyakinan, kesenangan berbalut jadi satu
Namun, suatu waktu akhirnya menjadi semu
Terasa bagaikan hitam putih
Karena kenyataan yang pedih
Gelap lagi sendu
Bagai hidup yang pilu
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
Di pundak muda tersimpan cahaya,
menyala di antara debu dan doa.
Langkah kecilmu hari ini—
adalah jalan panjang menuju mimpi negeri
Bangsa ini bukan sekadar tanah dan bendera,
ia adalah harapan yang dijahit dari luka,
tetes keringat para pejuang,
dan doa ibu di setiap malam panjang
Masa depan tidak datang tiba-tiba,
ia tumbuh dari keberanian menatap langit,
dari tangan yang tak berhenti menulis,
dan hati yang tak jemu mencinta tanah air ini
Jangan biarkan waktu mencuri idealismemu,
jangan biarkan lelah memadamkan nyala api jiwamu.
Karena di setiap semangat yang kau jaga,
ada masa depan bangsa yang menunggu untuk bersinar
Maka berdirilah, wahai generasi muda,
bangun peradaban dengan pena dan karya,
jadilah cahaya di tengah gelapnya dunia—
sebab masa depan bangsa… adalah engkau yang percaya
Penulis: Razwa Syuib (Magang)
Editor: Zuhra