![]() |
| Foto: Pixels |
Fenomena ini bisa dilihat dari maraknya komentar kasar di media sosial, cyberbullying, hingga banyaknya warganet yang menghakimi seseorang tanpa mencari tahu kebenaran. Bahkan saat ada kecelakaan atau musibah lainnya, kebanyakan orang justru memilih untuk mengabadikan peristiwa tersebut daripada langsung memberikan pertolongan kepada korban.
Video atau foto tersebut kemudian diunggah ke media sosial demi mendapatkan viewers tanpa memikirkan perasaan korban atau keluarga korban. Ini menunjukkan bahwa empati telah tergeser oleh keinginan untuk menjadi yang pertama mengunggah kejadian dan mendapatkan banyak respon dari warganet.
Kebiasaan seperti ini sangatlah memprihatinkan. Perkembangan teknologi memang memudahkan seseorang untuk mendapatkan dokumentasi suatu peristiwa, tetapi tidak semua peristiwa layak untuk dijadikan konten. Dalam keadaan darurat, yang seharusnya menjadi prioritas utama adalah keselamatan manusia. Jika tidak mampu memberikan pertolongan secara langsung, setidaknya teknologi bisa digunakan untuk menghubungi pihak berwenang atau orang-orang di sekitar.
Penggunaan teknologi untuk menyebar kebencian, fitnah, dan cyberbullying juga merupakan hal yang seharusnya tidak dilakukan apalagi dinormalisasikan. Kedua hal ini dapat menjadi bukti nyata penyalahgunaan teknologi yang mengakibatkan hilangnya rasa empati.
Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk sarana membantu sesama, bukan malah digunakan untuk mengejar popularitas di atas penderitaan orang lain. Jangan sampai perkembangan teknologi malah mengurangi nilai-nilai kemanusiaan. Karena sebenarnya empati tidak diukur dari jumlah tayangan atau komentar orang-orang, melainkan dari tindakan nyata yang kita lakukan ketika orang lain membutuhkan pertolongan.
Penulis: Chalisa Najla Safira
Editor: Zahratul
