![]() |
| Foto: Pixels |
Menurut pendapat penulis, keadaan ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan meningkatnya kepedulian manusia. Kita semakin mudah mendapatkan informasi, tetapi juga semakin mudah menjadi penonton dari penderitaan orang lain. Masalahnya bukan terletak pada kamera, melainkan pada pilihan kita ketika menggunakannya. Saat melihat seseorang menjadi korban kekerasan, apakah hal pertama yang kita pikirkan adalah merekam atau mencari bantuan?
Sebuah rekaman terkadang memang diperlukan sebagai bukti. Namun, masalah muncul ketika rekaman tersebut disebarluaskan tanpa mempertimbangkan kondisi korban atau bahkan dijadikan bahan hiburan. Kita sering lupa bahwa rekaman yang hanya berlangsung beberapa menit bagi penonton dapat menjadi pengalaman traumatis bagi korban.
Yang lebih dikhawatirkan adalah respons setelah video tersebar. Kolom komentar sering menjadi ruang penghakiman. Korban disalahkan, pelaku dijadikan bahan lelucon, dan penonton berlomba-lomba memberikan pendapat hanya berdasarkan potongan video yang belum tentu menggambarkan keseluruhan kejadian.
Kebiasaan ini perlu dihentikan. Kita terlalu terbiasa mengabadikan setiap kejadian sampai lupa bahwa tidak semua hal layak dijadikan tontonan. Ketika seseorang sedang terluka atau ketakutan, yang dibutuhkan bukan banyaknya penonton, melainkan pertolongan.
Dalam situasi yang cukup berbahaya, keselamatan diri tetap menjadi pertimbangan utama. Sebagai penonton, kita juga memiliki tanggung jawab atas apa yang kita lakukan setelah melihat sebuah kejadian. Tidak semua hal harus direkam, dikomentari, dan disebarluaskan.
Teknologi seharusnya membantu manusia menjadi lebih peduli, bukan membuat kita terbiasa melihat penderitaan sebagai hiburan. Setiap tindakan kita di ruang digital turut menentukan hal-hal yang seharusnya mendapatkan perhatian.
Saat kekerasan terjadi di depan mata, merekam bukan satu-satunya pilihan karena kita masih bisa memilih untuk peduli.
Penulis: Julia Sabela
Editor: Redaksi
