![]() |
| Foto: Zahratul |
Kegiatan diawali dengan registrasi peserta di lobi Sekolah Sukma Bangsa, kemudian dibuka oleh pembawa acara dan dilanjutkan dengan pemutaran film yang mengulas perjalanan Sekolah Sukma Bangsa selama dua dekade.
Ketua Sukma Foundation, Lestari Moerdijat, menyampaikan sambutan bertajuk Twenty Years of Sekolah Sukma Bangsa: Nurturing Hope, Humanizing Education. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Rektor Sukma Foundation, Ahmad Baidhowi AR.
Webinar ini menghadirkan sejumlah pakar pendidikan dari berbagai negara, yakni Eero Ropo dari Tampere University, Finlandia; Tahir Shad dari Washington College, Amerika Serikat; Yuji Uesugi dari Waseda University, Jepang; serta Jean Greyling dan Ryan Le Roux dari LEVA Foundation, Afrika Selatan.
Selain pemateri internasional, kegiatan ini juga menghadirkan sesi Expert Respondent: Indonesian Perspectives yang diisi oleh Komaruddin Hidayat dan Ahmad Humam Hamid dari Universitas Syiah Kuala. Sementara itu, sesi Expert Respondent: Aceh Perspectives menghadirkan Iryana Muhammad dari Universitas Malikussaleh dan Baiquni dari Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.
Dalam webinar tersebut, para narasumber membahas berbagai isu pendidikan global, di antaranya tantangan perubahan iklim, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam dunia pendidikan, serta strategi membangun sistem pendidikan yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada kewargaan global.
Salah satu pemateri, Tahir Shad, menyampaikan bahwa hubungan Washington College dengan Sekolah Sukma Bangsa telah terjalin sejak 2012 melalui program kolaborasi yang melibatkan mahasiswa Washington College untuk tinggal dan mengajar di Sekolah Sukma Bangsa.
Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadikan Sekolah Sukma Bangsa sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai budaya, nilai, dan cara pandang sekaligus mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan. "Penting bagi Sekolah Sukma Bangsa untuk terus menjaga keberagaman, kolaborasi, dan komunikasi. Sekolah ini telah menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai budaya dan membuka peluang bagi siswa untuk berkembang di masa depan," ujar Tahir Shad.
Kegiatan ditutup dengan sesi penutup yang dipandu oleh Syamsir Alam selaku Dewan Pengawas Yayasan Sukma sekaligus Penasihat Kurikulum.
