Portal Berita Al-Kalam

Penyelenggaraan Pesta Adat Karo di Jambur Desa Penampen sebagai Wujud Pelestarian Budaya

  Foto: IST www.lpmalkalam.com- Kelompok 19 KPM Mandiri Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menghadiri sek...

HEADLINE

Latest Post

03 Agustus 2026

Penyelenggaraan Pesta Adat Karo di Jambur Desa Penampen sebagai Wujud Pelestarian Budaya

 

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Kelompok 19 KPM Mandiri Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menghadiri sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan penyelenggaraan pesta adat Karo yang dilaksanakan di Jambur Desa Penampen, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo pada Sabtu (25/7/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara pernikahan adat masyarakat Karo yang dihadiri oleh keluarga kedua mempelai, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta warga Desa Penampen. Prosesi adat berlangsung dengan tertib sesuai dengan tradisi masyarakat Karo dan dipimpin oleh para tetua adat yang memastikan setiap tahapan berjalan sesuai dengan nilai-nilai serta aturan adat yang berlaku.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Kelompok 19 KPM Mandiri turut menyaksikan secara langsung pelaksanaan budaya lokal sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat. Pesta adat tersebut tidak hanya menjadi bagian dari prosesi pernikahan, tetapi juga mencerminkan kuatnya nilai gotong royong, kebersamaan, dan rasa kekeluargaan yang masih terjaga di tengah masyarakat Desa Penampen.

Kehadiran mahasiswa KPM diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian budaya daerah. Melalui penyelenggaraan pesta adat di jambur desa, masyarakat Desa Penampen menunjukkan komitmennya untuk menjaga dan mewariskan budaya Karo kepada generasi muda agar tetap lestari sebagai identitas budaya yang memperkuat persatuan dan keharmonisan masyarakat.


Penulis: Rilis 

Editor: Redaksi

Meraih Mimpi

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com-

Di setiap fajar yang menyapa

Kutatap langit penuh harapan

Kuyakini setiap langkah kecil

Akan mengantarkanku menuju impian


Jalan yang kulalui tak selalu mudah

Kadang terjal, kadang berliku

Namun, semangat tak pernah padam

Karena mimpi selalu memanggilku


Kegagalan bukan akhir perjalanan

Melainkan pelajaran yang berharga

Air mata menjadi saksi perjuangan

Doa menguatkan setiap langkah yang ada


Aku belajar untuk tetap percaya

Bahwa usaha tak akan sia-sia

Dengan tekad yang terus menyala

Kubangun masa depan penuh makna


Tak peduli seberapa jauh tujuan

Tak gentar menghadapi tantangan

Selama hati tetap berani bermimpi

Harapan akan selalu menemani


Suatu hari nanti, saat mimpi terwujud

Kukenang setiap perjuangan yang kulalui

Karena keberhasilan tak datang seketika

Melainkan hadiah bagi mereka 

Yang pantang menyerah dan terus berusaha


Penulis: Zilfira

Editor: Chalisa Najla Safira

02 Agustus 2026

Kolaborasi KPM Mandiri Kelompok 05 UIN SUNA dan Duta Baca UIN SUNA Gerakkan Literasi di Dayah Tauthiatul Muttaqin

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri Kelompok 05 Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe dan Duta Baca UIN SUNA Lhokseumawe menyelenggarakan gerakan literasi dengan tema "Membangun Kegiatan Membaca Masyarakat"  yang bertempat di Dayah Tauthiatul Muttaqin, Gampong Ulee Pulo pada Sabtu (01/08/2026).

Kegiatan tersebut dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama dimulai dengan pembukaan oleh Duta baca yaitu Falsya Marchanda, Rafa Ananda, dan Zahratul. Selanjutnya, dilakukan pengenalan anggota KPM Mandiri Kelompok 05 UIN SUNA. Setelah sesi pengenalan, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking untuk mencairkan suasana serta membangun keakraban antara anggota KPM dan anak-anak di Dayah Tauthiatul Muttaqin.

Pada sesi kedua, kegiatan diawali dengan pembagian kelompok beserta mentor yang akan memandu masing-masing kelompok. Selanjutnya, Duta Baca membagikan buku bacaan kepada setiap kelompok. Kegiatan membaca berlangsung selama beberapa menit, kemudian dilanjutkan dengan sesi storytelling mengenai hasil bacaan yang telah dibaca sebelumnya. Anak-anak yang berani tampil dan menceritakan kembali isi bacaan diberikan reward sebagai bentuk apresiasi.

Sesi berikutnya dilaksanakan setelah salat Asar. Pada sesi ini, setiap anak ditanyakan mengenai cita-cita mereka. Selanjutnya, tangan anak-anak diberi warna menggunakan cat air, kemudian dicetak pada kain dan dilengkapi dengan tanda tangan masing-masing. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara KPM Mandiri Kelompok 05 UIN SUNA dan Duta Baca UIN SUNA.

Kegiatan gerakan literasi ini turut didukung oleh Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Cahaya Surga Meunasah Alue, Kota Lhokseumawe, melalui penyediaan beragam koleksi buku bacaan yang diperuntukkan bagi anak-anak.

Tyzhar Akmaluddin, selaku ketua KPM Mandiri Kelompok 05 UIN Sultanah Nahrasiyah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian dan kontribusi mahasiswa dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan masyarakat melalui penguatan budaya literasi. "Kegiatan ini bukan hanya sekadar membaca buku. Kami ingin menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan, penuh permainan, cerita, dan interaksi sehingga anak-anak merasa bahwa membaca adalah aktivitas yang mengasyikkan. Harapannya, setelah kegiatan ini mereka akan semakin akrab dengan buku dan menjadikan membaca sebagai kebiasaan yang dilakukan setiap hari," ujar Tyzhar.


Reporter: Zahratul 

Editor: Chalisa Najla Safira

31 Juli 2026

Antrian Panjang BBM di SPBU, Warga Rela Panas-Panasan Demi Mengisi Bensin

Foto: Luthfiah Iklima Panggabean
www.lpmalkalam.com- Antrean kendaraan roda dua mengular panjang di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Cunda, Lhokseumawe pada Jumat (31/7/2026).

Puluhan sepeda motor telah berbaris sejak siang hari untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM). Berdasarkan pantauan di lokasi, antrean dimulai dari depan gerbang SPBU hingga memanjang ke badan jalan. Mayoritas pengendara merupakan warga yang hendak beraktivitas, mulai dari pelajar, ibu rumah tangga, hingga para pekerja. Meski cuaca cukup terik, mereka tetap bertahan menunggu giliran untuk mengisi BBM.

Kondisi tersebut menyebabkan arus lalu lintas di sekitar lokasi sedikit melambat karena sebagian kendaraan yang mengantre hingga memakan bahu jalan. Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya antrean panjang tersebut. Pihak pengelola SPBU maupun instansi terkait juga belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab antrean ataupun kondisi pasokan BBM di lokasi.

Luthfiah Iklima Panggabean salah seorang mahasiswa yang ikut mengantre berharap kondisi tersebut dapat segera teratasi agar masyarakat tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM.


Reporter: Luthfiatil Syaqirah

Editor: Redaksi


30 Juli 2026

Pemkab Aceh Utara Salurkan 852 Unit Motor Operasional untuk Imum Gampong

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara resmi menyalurkan 852 unit sepeda motor operasional kepada para teungku imum gampong (desa) di Kabupaten Aceh Utara. Penyerahan kendaraan tersebut berlangsung di halaman Kantor Bupati Aceh Utara, Lhoksukon pada Senin (27/7/2026).

Berdasarkan informasi yang dimuat Portalsatu.com, sebanyak 852 unit sepeda motor diserahkan sesuai dengan jumlah desa di Kabupaten Aceh Utara. Program tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dalam meningkatkan layanan keagamaan serta memperkuat pelaksanaan syariat Islam di tingkat desa, sebagaimana dikutip dari Portalsatu.com. 

Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, yang akrab disapa Ayah Wa, mengatakan bahwa bantuan kendaraan operasional tersebut merupakan wujud komitmen pemerintah dalam mendukung peran strategis imum gampong. 
"Imum gampong memiliki peran penting dalam membina umat dan menjaga kehidupan religius di setiap desa. Karena itu, pemerintah hadir memberikan dukungan agar tugas tersebut dapat dijalankan secara lebih optimal," ujar Jalil, sebagaimana dikutip dari MeligoeAceh.com. 

Berdasarkan laporan IndonesiaInvestigasi.com, ratusan imum gampong mengikuti kegiatan penyerahan kendaraan dengan tertib sebelum membawa kendaraan operasional masing-masing. Program tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap peran strategis imum gampong sebagai tokoh agama dan pembina umat di tengah masyarakat.

Melalui bantuan sepeda motor tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara berharap para imum gampong dapat semakin optimal dalam menjalankan tugasnya, sebagaimana dikutip dari BuserSiaga.com.


Reporter: Intan Sarifah

Editor: Zahratul

Dompet Digital: Memudahkan atau Diam-Diam Menguras Uang?

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Sekarang ini, hampir semua orang sudah menggunakan dompet digital atau mobile banking. Mulai dari membeli makanan, minuman, belanja online, naik transportasi, bahkan bayar parkir pun bisa dilakukan hanya dengan membuka aplikasi di ponsel. Metode pembayaran seperti ini memang cukup membantu karena lebih cepat dan tidak perlu repot membawa uang tunai. 

Banyak orang lebih memilih menggunakan dompet digital daripada harus membawa uang tunai. Rasanya lebih praktis karena hanya perlu memindai kode QRIS dan pembayaran langsung selesai. Namun, semakin sering menggunakan dompet digital, banyak orang lebih mudah mengeluarkan uang tanpa berpikir panjang. 

Misalnya, saat pergi ke minimarket. Awalnya hanya ingin membeli beberapa kebutuhan saja, tetapi setelah melihat ada promo atau diskon akhirnya membeli barang-barang lain yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Karena pembayaran yang cukup mudah, banyak orang baru menyadari bahwa pengeluarannya sudah cukup banyak ketika melihat riwayat transaksi di aplikasi. 

Menurut penulis, hal seperti ini sering terjadi di kalangan mahasiswa. Banyak yang menggunakan dompet digital setiap hari karena lebih praktis. Sayangnya, kemudahan tersebut terkadang membuat kita lupa mengatur pengeluaran. 

Walaupun begitu, penulis tidak berpikir bahwa dompet digital adalah penyebab utama seseorang menjadi boros. Teknologi ini justru memberikan banyak manfaat dan membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih mudah. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara kita menggunakannya. Jika kita bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, tentu saja penggunaan dompet digital tidak akan menjadi masalah. 

Jadi, kita harus lebih bijak dalam menggunakan pembayaran digital. Sebelum membeli sesuatu, kita harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dompet digital merupakan salah satu bentuk perkembangan teknologi yang sangat bermanfaat. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kebiasaan mengelola keuangan yang baik. Jangan sampai karena mudahnya proses pembayaran kita justru menjadi lebih boros tanpa menyadarinya.


Penulis: Julia Sabela

Editor: Chalisa Najla Safira

29 Juli 2026

Rumah Rapuh

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Malam merayap terlalu pelan, menyisakan sunyi yang menggantung di antara dua cangkir teh yang telah kehilangan uapnya. Di sudut ruangan, lampu pijar membiaskan temaram yang menyedihkan, seolah enggan menyaksikan perpisahan yang sedang dikemas rapi dalam kata-kata.

​Senja memandang punggung Samudra, punggung yang biasanya menjadi tempatnya berteduh dari badai dunia, namun malam ini terasa sejauh cakrawala.

​"Kamu kenapa pergi?" tanya Senja, suaranya parau, nyaris tenggelam oleh desau angin di luar jendela. ​Samudra tidak segera berbalik. Jemarinya memainkan pinggiran cangkir, menatap kosong pada sisa-sisa air yang mengeruh. 

"Biar kamu nggak capek," jawab Samudra lirih, sebuah kalimat yang terdengar seperti hantaman ombak pada tebing karang yang rapuh.

​"Capek kenapa?" Senja mengejar, matanya menuntut kejelasan dari sepasang netra yang kini berbalik menatapnya dengan kelelahan yang teramat sangat.

​"Jagain aku yang nggak pernah sampai." Samudra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan luka paling dalam. Ada rasa bersalah yang mengkristal di sudut matanya. Ia tahu, perjalanan mereka selama ini hanyalah labirin tanpa ujung, di mana Senja terus berlari mengejar ketidakpastiannya.

​"Lalu aku harus apa?" Nada suara Senja bergetar, menahan sesak yang mendadak menghimpit dada.

​"Pulang ke yang bisa jagamu tanpa kamu minta."

​"Aku maunya kamu, Samudra!" Potong Senja cepat, seolah-olah dengan menegaskan nama itu, takdir akan melunak dan mengubah arah angin.

​Namun, Samudra menggeleng perlahan. Tatapannya meluruh, dipenuhi kelembutan yang menyakitkan. "Tapi aku bukan rumah yang kamu cari, Senja."

​Senja terpaku. Kalimat itu terasa asing, dingin, sekaligus mematikan. "Kok gitu?"

​Samudra menghela napas panjang, meresapi setiap jengkal kenangan yang berserakan di antara mereka sebelum akhirnya berkata, "Rumah itu tempat kamu nggak takut jadi berantakan. Dan kamu... masih rapi banget di depanku."

​Samudra menjeda sejenak, menatap gaun Senja yang tak pernah kusut, senyum perempuan itu yang selalu dipaksakan simetris, dan tangisnya yang selalu disembunyikan di balik punggung. "Kamu selalu berpura-pura utuh, padahal aku tahu kamu sedang patah. Bersamaku, kamu tidak pernah berani runtuh."

​Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga, membasahi pipi Senja. Sudut matanya memerah. "Lalu aku harus ke mana?" Tanyanya, kehilangan arah, seperti kompas yang kehilangan kutubnya.

​Samudra melangkah mendekat, menghapus air mata di pipi Senja untuk terakhir kalinya, lalu berbisik pelan, hampir menyerupai doa, "Ke seseorang yang waktu kamu diam, dia tahu kamu lagi nggak baik-baik saja. Yang tanpa tanya, udah nyiapin bahunya. Yang bikin kamu lupa caranya pura-pura kuat... dan orang itu bukan aku." ​Kata-kata itu menjadi penutup yang mutlak. Samudra berbalik, melangkah menuju pintu, dan hilang di balik kepekatan malam yang dingin.

​Seketika itu juga, keheningan kembali merajai ruangan. Terdengar lagi detak jam di dinding, begitu nyaring, menghitung detik-detik kehilangan yang merayap maju. Bersamaan dengan itu, suara hati Senja juga akhirnya mengerti, bahwa mencintai adakala adalah tentang melepaskan genggaman, agar ia bisa menemukan tempat di mana boleh rapuh tanpa takut dihakimi.


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Zahratul

28 Juli 2026

ICE 2026 Hadirkan Akademisi Internasional dan Bank Indonesia Bahas Inovasi Pendidikan di Era AI

Foto: Rozatun Navais
www.lpmalkalam.com- Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe berkolaborasi dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menggelar The 2nd International Conference on Education (ICE) 2026 di Aula Biro Lantai 3 kampus setempat pada Selasa (28/7/2026).

Konferensi yang mengusung tema Human-Centered Innovation for Education and Society in the Era of Artificial Intelligence ini diawali dengan pembukaan oleh Darmadi selaku Wakil Rektor III. Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri yang dibagi ke dalam dua sesi, yaitu pagi dan siang. Pada sesi pertama, panitia menghadirkan Ainol Mardhiah dari International Islamic University Malaysia sebagai pemateri pertama dengan moderator Rafika Nuzula.

Kegiatan berlangsung melalui pemaparan materi dan sesi tanya jawab serta diakhiri dengan praktik speaking menggunakan AI speaker. Setelah penyampaian materi selesai, panitia memberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi kepada pemateri atas kontribusinya dalam kegiatan tersebut.

Selain menghadirkan pemateri utama, kegiatan ini juga mengundang Irmansyah selaku Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Unit Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah (IPUR) Bank Indonesia. Dalam pemaparannya, Irmansyah menekankan pentingnya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan rupiah. Ia menjelaskan cara penyimpanan uang rupiah yang baik, peran Bank Indonesia dalam pengelolaan mata uang, serta proses distribusi uang hingga sampai kepada masyarakat. 

"Melalui The 2nd International Conference on Education 2026, FTIK UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe bersama FKIP UMSU berharap kegiatan ini mampu memperkuat kolaborasi akademik, memperluas jaringan kerja internasional, serta menjadi wadah lahirnya gagasan inovatif untuk mengembangkan pendidikan di era globalisasi dan teknologi kecerdasan buatan," ungkap Darmadi.

Pemateri kedua, Tariq Khan dari University of Malakand, Pakistan, dan pemateri ketiga, Khalsiah, hadir setelah Istirahat, Salat, dan Makan (ISOMA).

Reporter: Rozatun Navais

Editor: Zahratul

Surga Sampah

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Aku tinggal di sebuah daerah yang dijuluki Serambi Mekah. Tanah kaya akan sumber daya alam, penuh sejarah yang terpatri dalam setiap sudutnya. Masjid berdiri megah di tiap penjuru kota, menjadi saksi bisu perjalanan zaman.

Dari cerita orang tua, aku mendengar kisah tentang masa silam, ketika mata uang yang digunakan adalah koin emas, mereka menyebutnya dirham. Saat itu, Kerajaan Samudera Pasai tengah berada di puncak kejayaannya. Itulah gambaran masa lalu, sebuah nostalgia, tentang kejayaan yang pernah ada.

Kini aku menatap diriku sendiri, seorang bocah berusia 16 tahun, dengan baju lusuh, hasil pemberian orang baik hati. Di hadapanku, gunungan sampah seakan menyambut kedatanganku.

Sejak usia lima tahun, aku sudah ikut bapak bekerja, memilah satu per satu sampah yang bisa dijual, dan yang tidak. Dari sinilah kami menggantungkan hidup, sebagai pemulung.

Sejak pukul tiga pagi, tanpa perlu dibangunkan, kami otomatis terjaga. Itulah waktu kami mulai mencari rezeki.
 
Sejak saat itu, aku dan bapak sudah mengais sampah, di tempat pembuangan rumah sakit, penampungan sampah kota, hingga menyusuri jalanan. Bahkan, kami pernah memungut sampah di pesta orang kaya. Untungnya, mereka tidak mengusir kami.

Menjelang malam, bapak mengajakku memilah sampah di rumah-rumah makan. Saat pertama kali datang ke sana, hatiku sedih. Begitu banyak makanan terbuang, sementara di gubuk tempat kami tinggal, kadang kami harus menahan lapar karena tak ada yang bisa dimakan. 
Namun, lama-kelamaan aku mulai terbiasa. Kami datang ke rumah makan bukan untuk makan malam, melainkan untuk mencari sisa makanan yang bisa kami bawa pulang.

Tentang ibu, jangan tanyakan padaku, karena aku sendiri pun tak tahu. Bapak bilang, ibu meninggal saat melahirkanku. Namun, dari bisik-bisik tetangga di sekitar gubuk kami, aku mendengar cerita yang berbeda. Kata mereka, ibu pergi setelah aku lahir. Ia tak sanggup lagi menjalani hidup yang terlalu melarat, terlalu penuh kekurangan. 

Apa ibu tidak rindu padaku, bu? Apa karena aku bau sampah, makanya ibu tidak pernah kembali lagi ke sini sampai hari ini, bahkan mungkin selamanya.

Ah, aku tak ingin terlalu melankolis tentang ibuku yang wajahnya tak kuketahui,  lebih baik kuceritakan tentang sekolah saja. Setiap Senin sampai Jumat, aku pergi sekolah. Bapak selalu bilang, aku harus jadi anak yang sukses. “Supaya nanti kamu bisa jadi presiden,” katanya, “jangan jadi pemulung seperti bapak lagi. Capek, Nak.”

Maka aku pun pergi sekolah, duduk mendengarkan guru yang mendongeng di depan kelas, tentang simbiosis mutualisme dan hal-hal lain yang asing namun menarik.

Otakku berusaha menyerap semua materi itu, tapi perutku terus memberontak, meminta diisi nasi. Pagi hari, aku nyaris tak pernah sarapan. Siang pun begitu, kecuali jika ada sedikit rezeki. Malam hari? Hanya jika ada sisa makanan.

Dulu aku punya seorang kakak. Tapi Tuhan lebih dulu ingin memeluknya. Ia meninggal karena demam berdarah. Waktu itu, kami belum punya BPJS, Dan berobat terasa mustahil. Dalam kondisi seperti itu, mati seolah lebih mudah, daripada hidup yang terus terlunta-lunta.

Aku pernah bertanya pada bapak, kenapa aku tidak diizinkan menjadi pengamen atau pengemis saja. Lalu bapak menjawab, “Selama sampah masih berserakan, hasil buangan manusia itu, kenapa kita harus mengemis pada manusia? Mungkin saja mereka memberi karena terpaksa.” Ah, aku bersyukur sekali punya bapak sekuat dan seteguh itu.

Kini, bapak pun telah pergi. Bukan karena demam berdarah seperti kakakku dulu, tapi karena Tuberkulosis (TBC) yang perlahan-lahan menggerogoti tubuhnya, hingga akhirnya mengambilnya selamanya.

Sekarang aku sendiri, tinggal di gubuk  ini. Sepi. Sunyi.

Dingin.

Kadang aku bertanya, kepada siapa lagi aku harus bersandar? Pernah terlintas di benakku, mungkin lebih baik jika aku ikut mati saja, supaya bisa bertemu lagi dengan bapak dan kakak di surga. Di sana, mungkin kami tak perlu lagi memikirkan makan.

Tapi lalu aku teringat kata-kata ustaz dari kampung sebelah. Katanya, orang yang sengaja mengakhiri hidupnya sendiri, tempatnya bukan di surga, melainkan di neraka. Aduh... kenapa serba salah begini? Hidupku di dunia sudah semelarat  ini, masa akhirat pun harus penuh sengsara?

Lalu, dalam kesunyian itu, aku teringat satu pesan bapak yang tak pernah hilang dari ingatanku, “Kamu harus belajar, Nak… belajar yang sungguh-sungguh. Biar sukses. Biar bisa jadi presiden.”

Kadang aku berpikir, buat apa aku bersusah payah? Toh, bahkan ada wakil presiden yang ijazahnya saja dipertanyakan. Apa gunanya belajar mati-matian kalau dunia tetap berpihak pada yang curang?

Tapi… sekali lagi, aku teringat pesan bapak sebelum ia pergi, “Aku harus belajar, harus sukses, harus jadi presiden.” Itu bukan sekadar harapan, itu wasiat satu-satunya warisan paling berharga dari bapakku.

Saat aku berjalan ke warung dekat gubuk untuk mengutang beras seperti biasa, meski biasanya tak pernah diberikan, mataku tertumbuk pada televisi yang menyala di sudut warung.

Sekilas, aku menangkap berita tentang pejabat korupsi. Angka-angka uang yang disebutkan itu tak main-main, sangat besar, menggunung sampai sulit kubayangkan.

Di dalam kepalaku, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul, apakah aku akan menjadi seperti mereka suatu hari nanti?

Seorang pejabat yang korupsi, menghalalkan segala cara demi kekuasaan dan harta?

Gemetar, ragu, mimpi menjadi presiden yang dulu bapak tanamkan, tiba-tiba terasa berat dan penuh dilema. Aku tidak ingin kehilangan jati diriku, tapi aku juga tahu dunia ini tidak mudah untuk orang seperti aku. Namun, suara kecil di hatiku kembali mengingatkan, tentang pesan bapak. Jadilah pemimpin yang berbeda. Jangan biarkan diri terjerumus seperti mereka.


Penulis: Zahratul 

Editor: Chalisa Najla Safira

27 Juli 2026

Inspiratif! Sejahtra, Mahasiswa UIN SUNA, Sukses Gelar Seminar "Beyond the Search: Maksimalkan Produktivitas Mahasiswa dengan Google AI Mode & Gemini" sebagai Google Student Ambassador

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Berawal dari semangat untuk membagikan manfaat teknologi, Sejahtra, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe, sukses menggelar seminar "Beyond the Search: Maksimalkan Produktivitas Mahasiswa dengan Google AI Mode & Gemini" sebagai bagian dari kontribusinya sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Biro UIN SUNA ini dibuka langsung oleh Rektor UIN SUNA, Prof. Dr. Danial, M.Ag., yang memberikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan program edukasi teknologi Google di lingkungan kampus. Acara juga semakin semarak dengan penampilan Tari Saman yang menyambut para peserta.

Seminar ini menjadi semakin istimewa karena Sejahtra merupakan salah satu Google Student Ambassador 2026 yang berhasil meraih prestasi sebagai Top 40 Trailblazer dari sekitar 200 Google Student Ambassador yang terpilih di Indonesia. Pencapaian tersebut diraih melalui proses seleksi yang kompetitif serta berbagai kontribusi nyata dalam mengedukasi pemanfaatan teknologi AI di kalangan mahasiswa.

Dalam seminar tersebut, Sejahtra membawakan materi mengenai Google AI Mode dan Gemini sebagai AI companion untuk dunia akademik. Peserta diajak memahami cara memanfaatkan AI secara etis, menyusun prompt yang efektif, merangkum jurnal, mengembangkan ide penelitian, hingga meningkatkan produktivitas belajar tanpa mengesampingkan kemampuan berpikir kritis.

Melalui kegiatan ini, Sejahtra berharap semakin banyak mahasiswa yang tidak hanya mengenal teknologi AI, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara bertanggung jawab untuk belajar, berinovasi, dan menciptakan dampak positif. Seminar ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu membawa inovasi global ke lingkungan kampus sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya di era transformasi digital.


Penulis: Rilis (Sejahtra)

Editor: Redaksi

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.