Portal Berita Al-Kalam

Penyelenggaraan Pesta Adat Karo di Jambur Desa Penampen sebagai Wujud Pelestarian Budaya

  Foto: IST www.lpmalkalam.com- Kelompok 19 KPM Mandiri Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menghadiri sek...

HEADLINE

Latest Post

03 Agustus 2026

Meraih Mimpi

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com-

Di setiap fajar yang menyapa

Kutatap langit penuh harapan

Kuyakini setiap langkah kecil

Akan mengantarkanku menuju impian


Jalan yang kulalui tak selalu mudah

Kadang terjal, kadang berliku

Namun, semangat tak pernah padam

Karena mimpi selalu memanggilku


Kegagalan bukan akhir perjalanan

Melainkan pelajaran yang berharga

Air mata menjadi saksi perjuangan

Doa menguatkan setiap langkah yang ada


Aku belajar untuk tetap percaya

Bahwa usaha tak akan sia-sia

Dengan tekad yang terus menyala

Kubangun masa depan penuh makna


Tak peduli seberapa jauh tujuan

Tak gentar menghadapi tantangan

Selama hati tetap berani bermimpi

Harapan akan selalu menemani


Suatu hari nanti, saat mimpi terwujud

Kukenang setiap perjuangan yang kulalui

Karena keberhasilan tak datang seketika

Melainkan hadiah bagi mereka 

Yang pantang menyerah dan terus berusaha


Penulis: Zilfira

Editor: Chalisa Najla Safira

24 Juli 2026

Negeri yang Kucari

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Di layar kaca, wajah-wajah berjanji

Kata-kata manis mengalir tanpa henti

Namun di jalan, keringat masih membasahi

Harga terus naik, upah seakan tak berarti


Aku mendengar kisah pembangunan megah, 

Gedung-gedung menjulang, jalan tol terbentang

Namun, di sudut-sudut kota yang tak tersentuh

Masih ada perut lapar menunggu uluran


Masih ada harapan yang belum bertumbuh

Media ramai, tagar datang silih berganti

Suara rakyat perlahan tenggelam sendiri

Yang bertanya kerap dipandang curiga


Yang memilih diam justru dipuji adanya

Lalu, di manakah ruang untuk menyampaikan suara?

Namun aku masih percaya pada negeri ini

Pada anak-anak muda yang tak lelah berdiri


Pada tangan-tangan kecil yang terus bekerja

Merajut harapan di tengah luka yang tersisa

Sebab negeri ini belum kehilangan cahaya

Bukan karena semuanya telah sempurna


Melainkan karena kita belum menyerah

Negeri ini bukan hanya milik mereka yang berkuasa

Tetapi juga milik kita

Yang terus menjaga harapan dan asa


Penulis: Razwa Syuib

Editor: Chalisa Najla Safira

19 Juli 2026

Hujan yang Tak Pernah Kusesali

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com-

Langit kembali memeluk mendung

Sebelum sore sempat menjadi jingga

Sementara aku memeluk kenangan yang diam-diam bertumbuh

Di tempat yang tak pernah lagi kau singgahi


Gerimis jatuh begitu pelan

Seolah takut membangunkan rindu yang rapuh

Yang telah lama terlelap di dalam dada

Namun selalu terjaga setiap kali kau terlintas


Aku pernah percaya

Hujan selalu membawa kabar yang baik

Nyatanya, ia hanya membawa ingatan

Tentang seseorang yang dahulu pernah kupanggil rumah


Tak ada yang benar-benar berubah

Selain langkah kita yang memilih arah berbeda

Langit masih setia menaungi bumi

Sedang kita tak lagi berjalan di bawah doa yang sama


Barangkali menitipkan harap memang demikian

Tak selalu berakhir dengan saling memiliki

Kadang cukup dengan mengenang dalam diam

Tanpa menyalahkan waktu yang terus berlalu


Maka, bila hujan datang lagi

Biarlah ia jatuh setenang biasanya

Aku akan belajar melepaskanmu tanpa banyak kata

Sebab pada akhirnya, setiap hujan selalu tahu jalan pulangnya.


Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Zahratul

18 Juli 2026

Dunia: Satu Bola, Satu Dunia

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Dari Ujung Utara hingga Selatan

Suara sorak bergema di setiap benua

Satu bola membelah lapangan hijau

Menyatukan hati yang berbeda warna


Keringat menetes di bawah terik

Langkah kencang mengejar mimpi

Kaki yang lincah, mata yang tajam

Mengejar gawang, mengejar nama


Di atas rumput tak ada beda

Antara raja dan rakyat biasa

Hanya keberanian, kerja keras, dan doa

Yang menentukan siapa yang bertahan


Bola melayang seperti harapan

Menembus benteng, menembus waktu

Satu tendangan, satu jeritan

Dunia berhenti sejenak menyaksikan


Penulis: Muhamad Iftal Ghifari

Editor: Redaksi

Sisa Hangat yang Membeku

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Tadi pagi

aku menyeduh dua gelas susu

Yang satu kuminum sampai habis

Yang satunya kubiarkan dingin sendiri


Kau tahu

ada uap yang perlahan menghilang

ada suhu yang kian menurun

tetapi kenangan tak kunjung lekang


Gelas itu kini terdiam kaku

seperti janji yang belajar sunyi

seperti luka yang ditinggal pergi

tergeletak bisu di atas meja


Tanpa perlu lagi aku bertanya

ke mana pemiliknya melangkah pergi

Hanya sepi yang kini menemani

merayap pelan di sudut hati


Susu dingin yang tak tersentuh

menjadi saksi perpisahan yang senyap

Kini waktu terus berjalan

meninggalkan cerita kita yang layu


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Redaksi

15 Juli 2026

Jejak Menuju Mimpi

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com-

Tak semua jalan dipenuhi cahaya

Kadang gelap datang tanpa aba-aba

Namun kaki harus tetap melangkah

Meski hati lelah dan tak tahu arah


Air mata bukan tanda menyerah

Melainkan bukti sebuah perjuangan

Luka mungkin meninggalkan bekas

Tetapi waktu perlahan mengajarkan ikhlas


Tak harus menjadi terhebat

Cukup menjaga untuk terus kuat

Sebab mimpi yang dijaga dengan sabar

Akan menemukan waktu untuk terus mekar


Teruslah melangkah meski pelan

Karena harapan tak pernah hilang ditelan zaman

Selama ada doa yang dipanjatkan

Akan ada alasan untuk melanjutkan kehidupan


Penulis: Julia Sabela

Editor: Chalisa Najla Safira

13 Juli 2026

Retorika Luka

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- 

Duhai jiwa yang kini menjelma nista

Bersyukurlah jemariku gemar merawat aksara

Sebab saat kau runtuh kehilangan harga

Aku memilih diam dan menjauhkan prasangka


Ketika perangaimu mulai kehilangan pekerti

Dan laku tabiatmu tak lagi mampu kuhormati

Lidahku enggan mengotori diri dengan caci

Sebab amarah hanya akan merugikan hati


Alih-alih melumurkan makian yang sia-sia

Kupeluk sepi demi menenun bait-bait doa

Kuganti setiap perih menjadi baris diksi

Mengubur kecewa dalam sunyinya selembar puisi


Kusulam semua ini dengan sisa-sisa jemari

Sebagai penawar muak yang sempat menghampiri

Agar kelak saat ingatan memaksaku menoleh kembali

Bayangmu tak lagi menjelma racun di dalam diri


Kini biarlah aksara yang berbicara lirih

Mengganti benci menjadi penutup rasa perih

Sebab membalasmu hanya membuang waktu

Lebih baik kau lumat dalam keheningan baitku


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

09 Juli 2026

Kelak, Namamu Tak Lagi Bergema

Foto: Pixabay

www.lpmalkalam.com- 

Kelak ketika musim kembali berganti

Namamu tak lagi mengetuk pintu pikiranku

Ia luruh seperti embun yang kalah oleh pagi

Meninggalkan daun tanpa jejak kehilangan


Barangkali aku akan lupa

Bagaimana suaramu pernah menjinakkan gaduh

Yang tersisa hanya lengang yang sederhana

Tanpa gema yang memanggilku pulang


Aku pun akan lupa caramu tersenyum

Yang dahulu meruntuhkan seluruh kewarasanku

Sebab waktu adalah sungai yang tekun

Mengikis batu tanpa pernah tergesa


Aku akan berhenti bertanya

Mengapa kau memilih pergi

Sebab ada jawaban yang tak ditulis kata

Melainkan disimpan oleh jarak


Pernah ada masa

Aku mengira kaulah muara

Padahal kau hanya persinggahan

Yang kupeluk lebih lama dari semestinya


Lucu rasanya mengenang hari-hari itu

Ketika kehilangan kusebut sebagai akhir

Kini kusadari yang benar-benar usai

Hanyalah harapan yang enggan berpamitan


Tak ada yang benar-benar abadi

Bahkan kenangan belajar menjadi debu

Ia terbang bersama angin yang diam

Lalu larut di langit yang tak bertanya


Jika suatu hari kita kembali berpapasan

Mungkin hanya seulas senyum yang kuberikan

Bukan karena luka telah lenyap

Melainkan karena ia telah pandai menjadi tenang


Dan saat hari itu benar-benar tiba

Aku tak sedang melupakanmu

Aku hanya selesai membawa beban

Yang sejak lama bukan lagi milikku


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

03 Juli 2026

Jalan Kesuksesan

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- 

Di bawah lukisan abstrak langit yang membentang luas

Ada cita yang tersimpan dalam napas

Bukan tentang seberapa cepat diri berlari

Tapi tentang keberanian untuk terus berdiri


Sukses bukanlah sesuatu yang jatuh dari awan

Ia lahir dari keringat yang membasahi perjalanan

Tiap langkah adalah keberanian yang diuji

Melawan keraguan yang sering kali menghantui


Jangan biarkan lelah memadamkan api

Karena puncak gunung takkan bisa didaki

Jika tak berani melangkah di medan yang terjal

Dan hati menyerah pada cobaan yang menghadang


Ingatlah


Gagal adalah guru yang sabar

Mengajari kita agar menjadi lebih tegar

Karena pada akhirnya keberhasilan yang manis

Adalah buah dari jiwa yang tak pernah habis


Tetap berusaha

Meski rintangan menghadang

Karena masa depan adalah milik mereka yang mau berjuang

Yang menolak tunduk pada nasib yang kejam

Dan menyambut cahaya di balik malam yang kelam


Penulis: Ilham Dwi Temas Miwa

Editor: Chalisa Najla Safira

28 Juni 2026

Bahasa Langit

 

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com-

Bulan menggantung di cakrawala sunyi

Menjadi mata yang mengintip diam

Menjadi saksi bagaimana jarak memendek

Dalam percakapan yang enggan usai


Malam menadah sisa langkah

Langit merapikan gugusan cahaya

Ada tawa yang sengaja kutinggalkan

Bersemayam pada palung yang tak terjamah


Jalan menjelma sungai yang mengalir landai

Menghanyutkan hangat di muara tanpa nama

Angin menyimpan riwayat tanpa bunyi

Di balik daun yang menolak gugur


Semesta bekerja dalam diam

Menanam debar tanpa perlu tumbuh

Di ambang pintu aku merasa ganjil

Bukan sandang bukan pula aksara


Jiwa tertinggal di kedalaman matamu

Sejak itu langit tak lagi serupa

Bintang tetap menyala di kejauhan

Menjadi saksi doa yang pernah ada


Perjumpaan hanyalah musim yang singgah

Luruh bersama embun di pucuk waktu

Menyisakan aroma pada lembar ingatan

Sebagai jejak yang tak perlu dicari


Bila nanti kau kembali bertandang

Jangan mencari senyum yang lama

Ia telah menjadi bahasa langit

Yang hanya dikenang tanpa dipanggil


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

25 Juni 2026

Menyimpan dalam Kata

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Barangkali aku memilih menulis

Karena waktu pandai membawa pergi

Sedangkan aksara yang kutinggalkan

Selalu punya cara untuk abadi


Tak semua rasa sanggup diucapkan

Tak semua rindu dapat disampaikan

Ada yang memilih hidup dalam diam

Terkurung rapi di lembar yang kutuliskan


Manusia datang lalu berlalu

Meninggalkan jejak yang kian samar

Namun tulisan tetap setia menunggu

Menjaga kenangan agar tak pudar


Pada setiap kalimat yang lahir

Ada serpih diri yang kusimpan

Bukan untuk dipuja dunia

Melainkan untuk melawan kehilangan


Mungkin suatu hari semua berubah

Jarak menjadikan kita asing

Tetapi kata tak pernah berpindah

Ia menetap dalam sunyi yang bening


Aku percaya setiap tulisan

Adalah rumah bagi sebuah rasa

Tempat yang tak dapat disentuh waktu

Meski musim terus berganti arah


Maka jika kelak kau bertanya

Mengapa aku begitu gemar menulis

Jawabannya sesederhana ini

Aku ingin merawat apa yang nyaris habis


Sebab kenangan pasti memudar

Dan perjumpaan punya akhirnya

Namun selama kata masih bernapas

Akan selalu ada yang tetap hidup di dalamnya


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

24 Juni 2026

Putri Kecil di Hati Ayah

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Di genggaman tangan yang dahulu hangat

Aku belajar melangkah tanpa takut

Langkah kecilku yang sering tersesat

Kau arahkan perlahan tanpa pernah mengeluh


Suaramu tenang, tak pernah meninggi

Namun ketegasannya selalu sampai di hati

Dari caramu diam aku mengerti

Bahwa cinta tak selalu harus terucap setiap hari


Aku putri kecil di hatimu, Ayah

Meski waktu terus berlari menjauh

Di matamu aku tetap sederhana dan indah

Walau dunia perlahan mulai mengubahku


Dahulu aku selalu ada di sampingmu

Tertawa tanpa beban di setiap waktu

Kini jarak dan usia menuntunku

Menjadi seseorang yang dahulu tak pernah kuketahui


Pelukanmu adalah rumah ternyaman

Tempat segala lelahku luruh

Namun kini aku belajar perlahan

Berdiri sendiri meski hatiku rapuh


Ayah, ada rindu yang tak selalu tersampaikan

Ada lelah yang tak ingin kutunjukkan

Karena aku tahu, di balik perhatian yang diam

Kau selalu menyimpan doa yang tak terucapkan


Saat aku jatuh dan hampir menyerah

Aku teringat wajahmu yang sederhana

Yang mengajarkanku arti ketabahan

Meski hidup tak selalu ramah menyapa


Ayah, jika suatu hari aku terlihat kuat

Percayalah, itu karena ajaranmu yang melekat

Jika aku mampu bertahan meski penat

Itu karena dahulu kau tak pernah menyerah saat keadaan berat


Namun ada sedih yang diam-diam tinggal

Saat aku tak lagi duduk lama di sampingmu

Saat waktu kita mulai terpisah oleh jarak dan kesibukan

Dan aku sibuk mengejar tujuan hidupku


Maaf jika aku mulai jarang pulang

Maaf jika tawaku tak lagi seperti dahulu

Bukan karena hatiku menghilang

Melainkan karena aku sedang belajar menjadi pribadi yang kauharapkan


Karena aku tak pernah benar-benar pergi

Aku hanya tumbuh, seperti yang kauajarkan

Meski langkahku kini berjalan jauh

Hatiku tetap kembali kepadamu setiap hari


Dan di setiap doa yang kupanjatkan dalam diam

Ada namamu yang selalu kusebut perlahan

Ada harapan yang tak pernah tenggelam

Untuk membuatmu bangga, walau perlahan


Suatu hari nanti, saat aku berhasil berdiri

Dengan segala luka yang pernah kulewati

Aku ingin kembali dan berkata dengan pasti

“Ayah, aku berhasil, seperti yang kaupercayai.”


Penulis: Zilfira 

 Editor: Chalisa Najla Safira

18 Juni 2026

Cahaya dari Pasai

Foto: Zahratul
www.lpmalkalam.com- 

Harummu, Nahrasiyah

Masih tercium dalam pusaran waktu

Menjelma akan nama universitas

Tempatku mencapai ilmu


Sultanah Pasai

Dengan tanda-tanda tak menyerah

Meski abad telah berganti rupa 
bahkan arah

Berapa abad telah berlalu?


Namun indah itu masih hidup membahana 

Dikenang bukan hanya oleh batu nisan

Juga oleh semangat perempuan yang ingin digdaya


Wahai putri Pasai

Pinjamkan sedikit keberanianmu

Kepada pembelajar

Yang masih belajar meneguhkan langkah

Di tengah gelombang zaman yang penuh dilema



Kudatangi makammu yang berukir ayat-ayat suci

Kuresapi tiap hurufnya seperti doa yang menuntun diri

Di antara hingarnya semesta

Aku mendengar bisikanmu:

"Berjuanglah, takhta sejati adalah ilmu dan keteguhan hati"


Sultanahku

Aku pun melangkah lagi

Menjunjung namamu di dada

Bukan sebagai legenda

Melainkan cahaya yang menuntun gagahnya 


Perempuan masa kini

Sultanahku, pada kebesaran namamu sejarah kerap

Berbicara, akan perempuan dengan perjuangan

Dengan keanggunan yang mencerdaskan


Penulis: Zahratul 

Editor: Chalisa Najla Safira

17 Juni 2026

Tentang Aku

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- 

Aku adalah kisah yang belum usai

Terpahat sunyi di lembar waktu

Harapku bersemi di celah retak

Mimpiku hidup di balik ragu

Dan aku tetap memilih melangkah


Aku bukan langit yang selalu terang

Kadang mendung memeluk langkahku

Hujan luruh tanpa memberi tanda

Namun pelangi tak pernah lupa pulang

Membawa warna untuk jiwaku


Aku menyimpan banyak kata

Yang tak sempat menjadi suara

Kubisikkan pada angin senja

Lalu kubiarkan langit menjaganya

Hingga waktu mengerti maknanya


Aku belajar dari kehilangan

Yang datang tanpa mengetuk pintu

Air mata pernah menjadi teman

Namun harapan tak pernah pergi

Ia tinggal di dalam dadaku


Aku melangkah tanpa tergesa

Mengejar mimpi dengan tenang

Meski jalan penuh kerikil

Aku percaya setiap jejak

Akan menemukan tujuannya


Aku bukan manusia sempurna

Aku hanya hati yang bertahan

Dengan rapuh yang kusembunyikan

Dan kuat yang terus kutumbuhkan

Di setiap pagi yang datang


Aku memuja cakrawala luas

Laut yang menyimpan rahasia

Dan senja yang mengajarkan pulang

Dari mereka aku belajar

bahwa indah lahir dari kesabaran


Aku adalah aku yang sederhana

Dengan luka yang menjadi aksara

Dengan mimpi yang tak pernah padam

Dan doa yang selalu kupeluk

Hingga semesta memanggil namaku


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

15 Juni 2026

Cinta dan Cita-Cita

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Almamater ini menjadi saksi dalam sebuah perjuangan

Dibasuhi keringat, disinari kerasnya kehidupan

Aku meniti masa depan yang penuh dengan ketegangan

Menggapai cita sembari berbagi kasih dalam sebuah ikatan


Sering kali malam tidak cukup panjang untuk menyelesaikan bab

Tugas tertumpuk hingga badan tertunduk dan terkantuk

Tetapi hangat pesan darimu selalu menjadi obat yang paling tajam

Menghilangkan keresahan saat dunia terasa begitu kejam


Sukses takkan datang dengan sendirinya

Ia menuntut waktu, air mata, dan keberanian untuk mencoba

Maka biarlah jarak dan kesibukan menjadi penguji yang utama

Berdoa agar rasa ini cukup kuat agar kita terus bersama


Jangan melepaskan genggam tanganku saat puncak terlihat tinggi

Sebab kau adalah tujuan saat aku kehilangan arah

Cita-cita ini memang tinggi, namun cintamu membuatku tetap teguh

Untuk terus bermimpi, meski langkah kaki harus bersimbah peluh


Penulis: Ilham Dwi Temas Miwa

Editor: Chalisa Najla Safira

Selamat Milad, Kampusku

 

Foto: Rizki Ramadhani

www.lpmalkalam.com- 

Kala itu, langit mulai merekah di atas gedung

Angin-angin yang berembus pun tak terhitung

Menjadi pertanda awal suksesnya puncak acara

Yang akan menjadi kenangan sepanjang masa


Sudut kampus yang biasanya bergema karena riuhnya 
setiap tempat

Seketika hening karena perayaan penuh khidmat

Bukan seremonial biasa,

Melainkan bentuk syukur atas bertambahnya usia


Kini, memasuki lima puluh tujuh usiamu

Telah banyak engkau mencetak sejarah dalam lingkup ilmu

Kau bukan hanya sekilas gedung raya, 

Melainkan rumah bagi insan yang ingin cendekia


Selamat milad, kampusku

Semoga semakin banyak peradaban yang lahir darimu

Tetaplah menjadi kawah candradimuka

Walau rintangan terkadang menerpa


Penulis: Rizky Ramadhani

Editor: Chalisa Najla Safira

11 Juni 2026

Di Balik Senja yang Kupandangi

Foto: Amanda Zuhra
www.lpmalkalam.com- 

​Aku berdiri di tepian pantai

Membiarkan kaki dibasuh buih 

Menatap matahari yang perlahan luruh meredup

Memasuki pelukan ufuk dengan tenang

Aku terpaku dalam keheningan senja yang syahdu


Di balik senja yang kupandangi ini 

Aku menemukan jejak yang kini jadi cahaya

Angin laut berbisik tenang membawa pesan
 
Meski beberapa nama telah dilarung waktu entah kemana

Mereka tetap menetap abadi di tiap aksara yang kutuliskan


​Aku berjalan bersama mereka merayakan hal sederhana

Dengan tawa yang masih bergema manis ditelinga 

Lalu, musim pun berganti dengan lembut

Membawa kita ke persimpangan jalan yang berbeda

Bukan untuk saling melupakan dalam kesedihan


Melainkan untuk mekar di taman kehidupan masing-masing

​Rindu datang seperti ombak yang hadir dengan hangat

Lalu kembali ke samudera sebagai pengingat diri

Bahwa keindahan memang tidak selalu harus digenggam erat

Cukup disyukuri keberadaannya dalam sanubari


​Aku juga tidak menyalahkan waktu yang telah berlalu

Pun tak memohon masa lalu untuk kembali lagi

Sebab, ada pertemuan yang hadir bukan untuk menetap

Melainkan untuk menjadi kompas yang mengajariku cara mencintai 

Hidup dengan lebih bijak di sisa waktu ini


​Dan jika senja kembali mengingatkanku pada mereka

Aku akan mengenangnya dengan benderang cahaya

Seperti langit yang menerima matahari tenggelam dengan syukur

Perpisahan hanyalah cara semesta memberi ruang

Untuk esok yang indah dan penuh dengan harapan


Sebab pada akhirnya yang berharga kini terasa

Bukan durasi singkat atau lama ia menetap

Melainkan sedalam apa jejak hangat yang tertinggal di jiwa

Maka di balik senja aku tak mengeja kehilangan

Melainkan alasan merayakan luasnya semesta


​Aku sungguh beruntung dipertemukan dengan mereka

Yang membuat duniaku jauh lebih berwarna lagi

Seperti cahaya yang hadir memberi warna indah

Cerita yang tersimpan abadi dalam ingatan ini

Menjadi kenangan manis dalam perjalanan hidup


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.