Portal Berita Al-Kalam

Tentang Aku

Foto: IST www.lpmalkalam.com-  Aku adalah kisah yang belum usai Terpahat sunyi di lembar waktu Harapku bersemi di celah retak Mimpiku hidup ...

HEADLINE

Latest Post

17 Juni 2026

Tentang Aku

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- 

Aku adalah kisah yang belum usai

Terpahat sunyi di lembar waktu

Harapku bersemi di celah retak

Mimpiku hidup di balik ragu

Dan aku tetap memilih melangkah


Aku bukan langit yang selalu terang

Kadang mendung memeluk langkahku

Hujan luruh tanpa memberi tanda

Namun pelangi tak pernah lupa pulang

Membawa warna untuk jiwaku


Aku menyimpan banyak kata

Yang tak sempat menjadi suara

Kubisikkan pada angin senja

Lalu kubiarkan langit menjaganya

Hingga waktu mengerti maknanya


Aku belajar dari kehilangan

Yang datang tanpa mengetuk pintu

Air mata pernah menjadi teman

Namun harapan tak pernah pergi

Ia tinggal di dalam dadaku


Aku melangkah tanpa tergesa

Mengejar mimpi dengan tenang

Meski jalan penuh kerikil

Aku percaya setiap jejak

Akan menemukan tujuannya


Aku bukan manusia sempurna

Aku hanya hati yang bertahan

Dengan rapuh yang kusembunyikan

Dan kuat yang terus kutumbuhkan

Di setiap pagi yang datang


Aku memuja cakrawala luas

Laut yang menyimpan rahasia

Dan senja yang mengajarkan pulang

Dari mereka aku belajar

bahwa indah lahir dari kesabaran


Aku adalah aku yang sederhana

Dengan luka yang menjadi aksara

Dengan mimpi yang tak pernah padam

Dan doa yang selalu kupeluk

Hingga semesta memanggil namaku


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

15 Juni 2026

Cinta dan Cita-Cita

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Almamater ini menjadi saksi dalam sebuah perjuangan

Dibasuhi keringat, disinari kerasnya kehidupan

Aku meniti masa depan yang penuh dengan ketegangan

Menggapai cita sembari berbagi kasih dalam sebuah ikatan


Sering kali malam tidak cukup panjang untuk menyelesaikan bab

Tugas tertumpuk hingga badan tertunduk dan terkantuk

Tetapi hangat pesan darimu selalu menjadi obat yang paling tajam

Menghilangkan keresahan saat dunia terasa begitu kejam


Sukses takkan datang dengan sendirinya

Ia menuntut waktu, air mata, dan keberanian untuk mencoba

Maka biarlah jarak dan kesibukan menjadi penguji yang utama

Berdoa agar rasa ini cukup kuat agar kita terus bersama


Jangan melepaskan genggam tanganku saat puncak terlihat tinggi

Sebab kau adalah tujuan saat aku kehilangan arah

Cita-cita ini memang tinggi, namun cintamu membuatku tetap teguh

Untuk terus bermimpi, meski langkah kaki harus bersimbah peluh


Penulis: Ilham Dwi Temas Miwa

Editor: Chalisa Najla Safira

Selamat Milad, Kampusku

 

Foto: Rizki Ramadhani

www.lpmalkalam.com- 

Kala itu, langit mulai merekah di atas gedung

Angin-angin yang berembus pun tak terhitung

Menjadi pertanda awal suksesnya puncak acara

Yang akan menjadi kenangan sepanjang masa


Sudut kampus yang biasanya bergema karena riuhnya 
setiap tempat

Seketika hening karena perayaan penuh khidmat

Bukan seremonial biasa,

Melainkan bentuk syukur atas bertambahnya usia


Kini, memasuki lima puluh tujuh usiamu

Telah banyak engkau mencetak sejarah dalam lingkup ilmu

Kau bukan hanya sekilas gedung raya, 

Melainkan rumah bagi insan yang ingin cendekia


Selamat milad, kampusku

Semoga semakin banyak peradaban yang lahir darimu

Tetaplah menjadi kawah candradimuka

Walau rintangan terkadang menerpa


Penulis: Rizky Ramadhani

Editor: Chalisa Najla Safira

07 Juni 2026

Pusingnya Tanpa Duit

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- 

Saku kering tak ada sepeser pun

Kepala terasa berdenyut, berat terasa

Segala kebutuhan menanti di depan mata

Namun tangan kosong tak mampu berbuat apa

 
Ingin makan, kantong tak punya bekal

Ingin berobat, di mana uang dicari

Setiap langkah terasa terhalang tembok tinggi

Pikiran melayang, bingung tak bertepi

 
Orang lain lewat tersenyum tenang

Sedang aku di sini menahan gelisah

Dunia terasa sempit, jalan seolah tertutup

Hanya doa dan harapan jadi pegangan jiwa

 
Walau pusing melanda hati dan pikiran

Aku takkan diam terus terpuruk

Cari rezeki dengan jalan yang lurus

Semoga esok hari nasib lebih terang benderang


Penulis: Muhammad Iftal

Editor: Chalisa Najla Safira

06 Juni 2026

Di Balik Luka yang Tersenyum

Foto: Pixels
www.lpmalkalamcom- 

Di wajah tenang tersimpan sunyi

Ada kisah lama yang belum pergi

Senyum itu tampak begitu indah

Namun bukan bahagia yang sedang ia rasa


Ia melangkah seperti biasa

Menyapa hari tanpa banyak bicara

Seolah hidupnya baik baik saja

Padahal di dalam dada tersimpan luka


Langkahnya ringan di mata dunia

Seakan tak pernah disentuh nestapa

Namun di balik tatap yang biasa

Terdapat retak yang tak terlihat siapa siapa


Ia belajar kuat dari waktu ke waktu

Meski lelah tak pernah benar benar berlalu

Ia simpan rapuh jauh di dalam kalbu

Dan menutup pilu dengan senyum yang syahdu


Tak semua ingin ia ceritakan

Tak semua luka perlu diungkapkan

Ada duka yang cukup dipeluk sendirian

Dalam sepi yang panjang dan menyesakkan


Malam menjadi tempatnya kembali

Saat dunia terlelap dan sunyi

Air mata jatuh tanpa saksi

Membasuh letih yang mengendap di hati


Namun pagi selalu datang menyapa

Membawa cahaya di sela luka

Ia rapikan kembali hatinya yang terluka

Lalu melangkah tanpa banyak bertanya


Di balik luka yang tersenyum hari ini

Masih ada harapan yang tetap menemani

Meski jalannya tak selalu mudah dilalui

Ia percaya bahagia akan datang menghampiri


Dan saat waktu menjawab segalanya

Tak ada lagi luka yang harus disembunyikan

Senyumnya bukan sekadar topeng belaka

Melainkan tanda bahwa ia telah menemukan ketenangan


Penulis: Zilfira

Editor: Redaksi


03 Juni 2026

Aku

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Aku

Aku ini siapa?

Aku datang dari mana?


Aku

hanyalah seorang hamba

seluruh tubuhku berlumuran dosa


Aku

jua sosok yang hina

yang mendamba surga

tanpa ingat siapa diriku sebenarnya


Aku, aku, dan aku

Hanya ciptaan Tuhan semata

makhluk-Nya yang paling pelupa

dengan amal yang tak seberapa

namun enggan dekat pada neraka


Aku

sekali lagi berkata

bahwa aku mendamba surga

Walau diri ini terus bertanya

siapakah sebenarnya aku?


Penulis: Luthfiatil Syaqirah 

Editor: Putri Ruqaiyah

30 Mei 2026

Catatan Kaki Perjuangan

Foto: Zahratul
www.lpmalkalam.com-

Di lembar-lembar makalah yang mulai lusuh

Kutemukan jejak tinta yang menggigil lelah

Ada coretan, ada silang merah

Dan tak jarang, sisa air mata yang diam-diam luruh


Di sana juga tertempel sisa-sisa semangat

Tak terlihat, tapi melekat

Hanya mataku yang mampu membaca luka-luka itu

Sebab mata lain terlalu sibuk menilai angka


Kucari inspirasi dalam debu buku-buku tua

Kubuka lembar-lembar baru yang masih wangi tinta

Kubaca bait demi bait

Mengejar pemikiran di antara catatan kaki


Wahai referensi

Bisakah sekali saja kau lahir dari hatiku

Bukan dari halaman yang dipaksakan


Agar nanti kukatakan pada dosen

“Bu, biarkan ini jadi ilham

Jangan lagi pulpenmu menyilang harapanku.”


Tapi apalah daya

Setelah semua ilham kutawarkan

Dunia ini masih menuntut dengan mata dingin


Kini aku mahasiswa

Sedang bertarung melawan malas, pesimis

Dan takdir yang menulis

Aku sebagai pengangguran

Setelah keluar dari gedung penuh janji ini

Tak kubiarkan kata-kata itu tumbuh jadi akar di benakku


Demi bara semangat yang kutemukan

Dari doa ayah dan ibu di kampung nun jauh di mata

Mereka hanya punya sepetak ladang

Namun cukup luas untuk menanam harapan

Mengantarkanku hingga ke bangku kuliah ini


Di antara inspirasi yang tercerai

Semangat yang nyaris habis

Kutitipkan harap

Semoga Allah berkenan

Memberkahi tiap jengkal perjuangan ini


Penulis: Zahratul

Editor: Chalisa Najla Safira

25 Mei 2026

Ruang Kerinduan

 

Foto: Pixabay

 www.lpmalkalam.com- 

Di dalam kamar, buku-buku usang mengepung malam

dengan secangkir kopi, rindu ini tetap gagal kuredam

ada harum masakan ibu yang singgah dalam ingatan

sementara tiket pulang ke kampung halaman berganti 

tugas dan ujian.

Kabar selalu kudapat lewat layar handphone yang 

berpijar

suara ibu dan ayah membuat hati semakin bergetar

aku ingin pulang, tetapi harus tertahan

di dalam doa dan kenyataan yang memang harus 

diperjuangkan.


Kampung tempat kulahir terasa begitu jauh

di atas kasur sunyi, lelah perlahan runtuh

Ibu, buah hatimu ini belum bisa kembali

karena ada cita-cita yang masih harus kubeli.



Penulis: Ilham Dwi Temas Miwa 

Editor: Putri Ruqaiyah

24 Mei 2026

Awan

 

Foto: Bellivia Al-Kamariana

www.lpmalkalam.com-

Di langit yang luas membiru,

awan berjalan tanpa ragu.

Kadang perlahan tertiup angin,

kadang berlari saat badai datang.


Pagi hari ia tampak cerah,

putih lembut seperti kapas.

Menghias langit dengan indah,

membuat hati terasa lepas.


Saat senja mulai menyapa,

awan berubah warna perlahan.

Jingga, merah, lalu keemasan,

seolah langit sedang melukis harapan.


Kadang awan juga menangis,

menurunkan hujan ke bumi.

Membasahi jalan yang kering,

menenangkan hati yang sepi.


Dari awan aku belajar,

tidak semua mendung itu buruk.

Sebab setelah hujan turun,

pelangi datang dengan cantik dan lembut.


Awan tidak pernah memilih tempat,

ia datang kepada siapa saja.

Di laut, gunung, maupun kota,

ia tetap setia menghiasi angkasa.


Aku suka memandang awan,

karena di sana banyak cerita.

Tentang mimpi yang belum tercapai,

tentang harapan yang masih dijaga.


Andai aku bisa seperti awan,

bebas melangkah tanpa beban.

Tetap tenang meski diterpa angin,

tetap indah walau terus berubah arah.


Langit dan awan seakan bersahabat,

saling menemani tanpa kata.

Dan aku hanyalah manusia kecil,

yang diam-diam kagum melihatnya.



Penulis: Bellivia Al-Kamariana

Editor: Zahratul

07 Januari 2026

Para Bedebah Oligarki

Foto: Media Indonesia 

www.lpmalkalam.com– 

Biarku bisikan pada algojo oligarki penguasa

Negeri nan elok ini sudah berkecamuk kala itu

Para kaparat duduk di atas kursi kuasa bebas hukum

Tak bergerak menanggapi seruan alam mematikan


Wahai para bedebah-bedebah sekalian

Kala nyawa sudah tak berharga bagimu tuan

Harapanku sudah kau buat mati ditelan dusta

Dusta akan ucapan keadaan sudah baik-baik saja


Kupandangi seonggok kayu digrogoti jamur angka

Ulah para bedebah oligarki kekuasaan tanah kosong

Dengan mengongkang kaki menutup mata dan telinga

Tak ada kepedulianmu atas imbas keserakahanmu


Sungguh elok rupamu kawan

Rupa yang menutup kejahatan

Rupa duka dipoles lakon dan kamera

Padahal kau adalah pelaku sebenarnya

Kini rakyat dan satwa menjemput ajalnya

ajal ulah sang bedebah oligarki


Penulis: Ririn Dayanti Harahap 
 

25 November 2025

Pelukan dari Dalam Diri

Foto: Pixabay.com

www.lpmalkalam.com

Ada hari-hari ketika aku menatap kaca,

bukan untuk melihat paras,

melainkan mencari alasan

mengapa aku layak tinggal di dunia ini.

Aku berdiri lama, diam,

seakan menunggu seseorang dari balik cermin

untuk berkata, “Hei, kamu cukup.”


Aku pernah membiarkan luka orang lain

menginjak harga diriku.

Aku menjadi terlalu baik

sampai lupa menanyakan pada diri sendiri,

“Apakah aku baik juga pada diriku?”


Aku pernah mencari cinta

di genggaman tangan yang tak ingin menggenggamku erat.

Aku berharap pelukan asing

dapat menyembuhkan patah hatiku sendiri,

tanpa kusadari bahwa pelukan paling tulus

mungkin justru berasal dari dada ini,

dari napasku yang masih setia pergi dan kembali.


Aku pernah letih mengejar standar yang tak kumengerti.

Selalu ingin dianggap hebat,

padahal aku hanya ingin diterima apa adanya.

Aku berdarah-darah membuktikan sesuatu

yang bahkan tak pernah kumau sejak awal.

Dan saat kelelahan itu menelan hatiku,

aku baru sadar:

aku tak sedang berlari demi mimpi,

aku sedang kabur dari diriku sendiri.


Namun di tengah gelap yang sunyi,

aku mulai berani bertanya:

“Apakah semua ini sepadan

jika akhirnya aku kehilangan diriku?”


Dari pertanyaan itu,

lahir keberanian untuk berhenti sementara.

Bukan karena menyerah,

tetapi karena aku ingin mengerti rasa sakitku sendiri.

Aku mulai berbicara pelan pada hati

yang selama ini kupaksa diam.

Dan untuk pertama kalinya,

aku menangis bukan karena lemah,

tetapi karena mulai berani jujur.


Perlahan, aku belajar menerima setiap retakanku.

Aku belajar bahwa tidak apa-apa

jika jalanku lebih lambat,

selama aku tetap melangkah.

Aku belajar bahwa tenang

lebih berarti daripada terlihat sempurna.

Aku belajar bahwa membahagiakan diri

bukan dosa, melainkan kewajiban.


Aku belajar menepuk pundakku sendiri

dan berkata, “Terima kasih, kamu sudah bertahan sejauh ini.”

Aku mulai mencintai kelelahan yang kupunya,

karena itu bukti bahwa aku berjuang.

Aku mulai memeluk setiap kecewa,

karena di baliknya tumbuh keikhlasan.


Kini, aku sedang membangun rumah

dari doa, penerimaan, dan harapan.

Bukan rumah mewah yang butuh pengakuan,

tetapi rumah yang hangat untuk jiwaku pulang kapan saja.


Di rumah itu, aku tidak harus kuat setiap waktu.

Aku bisa menangis tanpa takut dihakimi.

Aku bisa tertawa meski tak sempurna.

Aku bisa menjadi versi diriku

tanpa perlu menyamar menjadi orang lain.


Hari ini, aku belum selesai.

Aku masih rapuh, masih belajar,

masih menyusun serpih-serpih percaya pada diri.

Namun kini aku tahu,

meski terlambat pun tak masalah,

karena aku akhirnya pulang.


Pulang ke dalam diri

tempat cinta yang asli tumbuh,

dan tempat aku akhirnya mengerti

bahwa aku layak dicintai,

bahkan oleh diriku sendiri.


Penulis: Daffa Alkausar (Magang)

Editor: Putri Ruqaiyah

Catatan Kaki Perjuangan

Foto: Pexels.com

www.lpmalkalam.com

Di lembar-lembar makalah yang mulai lusuh, 

Kutemukan jejak tinta yang menggigil lelah. 

Ada coretan, ada silang merah, dan tak jarang, sisa air mata yang diam-diam luruh. 

Di sana juga tertempel sisa-sisa semangat, 

Tak terlihat, tapi melekat. 

Hanya mataku yang mampu membaca luka-luka itu, 

Sebab mata lain terlalu sibuk menilai angka,


Kucari inspirasi dalam debu buku-buku tua, 

Kubuka lembar-lembar baru yang masih wangi tinta. 

Kubaca bait demi bait, 

Mengejar pemikiran di antara catatan kaki.

Wahai referensi...

Bisakah sekali saja kau lahir dari hatiku,

Bukan dari halaman yang dipaksakan?

Agar nanti kukatakan pada dosen, 

"Bu, biarkan ini jadi ilham, Jangan lagi pulpenmu menyilang harapanku."


Tapi apalah daya...

Setelah semua ilham kutawarkan, 

Dunia ini masih menuntut dengan mata dingin. 

Kini aku, Mahasiswa, 

Sedang bertarung melawan malas, pesimis 

Dan takdir yang menulis, 

Aku sebagai pengangguran Setelah keluar dari gedung penuh janji ini.

Tak kubiarkan kata-kata itu tumbuh jadi akar di benakku. Demi bara semangat yang kutemukan dari doa Ayah dan Mamak di kampung nun jauh di mata, 

Mereka hanya punya sepetak ladang, tapi cukup luas untuk menanam harapan menyekolahkanku hingga ke bangku kuliah ini.

Di antara inspirasi yang tercerai Semangat yang nyaris habis Kutitipkan harap, 

Semoga Allah berkenan Memberkahi tiap jengkal perjuangan ini.

 

Penulis: Zahratul (Magang)

Editor: Tiara Khalisna 

15 November 2025

Sang Trikoma untuk Dunia

Foto: Pixabay.com

www.lpmalkalam.com

Di antara rerumputan liar, kamu tumbuh

Berdiri tegak, tapi tak angkuh

Mereka bilang, kamu hanya semak yang bertumbuh

Namun, bagiku kau pahlawan bagi tubuh 


Daun berbulu dan batang berjenis perdu

Membuatmu terlihat tidak seberharga itu

Dengan rasa penasaran, aku mendatangimu

Lalu ku amati dengan sendu


Ternyata, sempurna itu ada di dalam mu

Kubawa kamu ke gudangku

Biji kuning dari polong yang berbulu

Bersama ragi putih, partner-mu

Berhasil ku olah kau menjadi tempe dan tahu

  

Menjadi sumber protein bagi mereka yang membuangmu

Lalu, sisa cairan yang kau hasilkan dari tahu 

tentu masih berharga bagiku

Karena akan ku jadikan kau sebagai susu 


Kini, kamu menjadi kebutuhan bagi manusia 

Setiap hari, mereka mencarimu di pasar raya 

Tidak lagi harus di injak-injak hingga luka

Karena aku telah menemukan titik dirimu yang berharga


Tumbuhlah, 

Terus tumbuh dengan indah 

Karena engkau punya nutrisi yang melimpah 

Keledaiku, engkau adalah anugerah 

Karena hidupmu, juga hidup untuk mereka


Penulis: Annisa Maulianda (Magang)

Editor: Tiara Khalisna 
 

31 Oktober 2025

Kenangan Waktu Masa SMA

Foto: Pixabay.com

www.lpmalkalam.com

Di gerbang sekolah, langkah dimulai,

Masa SMA penuh warna dan mimpi.

Seragam putih abu-abu saksi setia,

Kenangan terukir, takkan terlupa.

 

Kelas berisik, canda tawa menggema,

Belajar bersama, suka duka dirasa.

Guru-guru sabar membimbing kami,

Membuka cakrawala ilmu, tanpa henti.

 

Kantong bolong, jajan bareng di kantin,

Mie ayam dan es teh jadi andalan.

Saat ulangan, saling contek diam-diam,

Kenakalan remaja, penuh keceriaan.

 

Cinta monyet bersemi di koridor,

Surat cinta diselipkan di loker.

Malam minggu, nongkrong di kafe,

Mencari jati diri, penuh semangat.

 

Pramuka, PMR, OSIS, dan ekskul lainnya,

Mengasah bakat, mengembangkan diri.

Lomba-lomba, semangat kompetisi,

Meraih prestasi, bangga di hati.

 

Perpisahan sekolah, air mata berlinang,

Janji setia, takkan saling melupakan.

Kenangan SMA, terukir selamanya,

Dalam hati dan jiwa, abadi sentiasa.

 

Kini waktu telah berlalu,

Namun kenangan SMA tetap membara.

Sahabat sejati, guru tercinta,

Kenangan indah, takkan pernah sirna.


Penulis: Muhammad Iftal (Magang)

Editor: Putri Ruqaiyah 
 

Langit Nahrasiyah

Foto: Daffa Alkausar (Magang)

www.lpmalkalam.com

Di tanah Serambi Mekkah yang bersujud pada pagi,

berdiri megah kampus peradaban,

UIN Sultanah Nahrasiyah,

mutiara ilmu yang tak ternilai,

tempat di mana iman bertemu dengan kecerdasan,

dan akhlak berpadu dengan kemajuan zaman.


Langit Darussalam menjadi saksi,

tiap langkah mahasiswa membawa doa dan cita.

Mereka meniti jalan ilmu seperti para ulama masa lalu,

dengan hati yang tunduk dan pikiran yang merdeka.


Di ruang-ruang kuliah, kata dan makna beradu,

antara logika dan wahyu,

antara sains dan tafsir kehidupan—

semuanya berpadu dalam simfoni pengetahuan.


Di sini bukan hanya gelar yang dicari,

tetapi nilai yang diwariskan.

Bukan hanya cerdas berpikir,

melainkan juga lembut dalam sikap dan perilaku.


UIN Sultanah Nahrasiyah,

engkau bukan sekadar kampus,

engkau taman peradaban,

tempat akar iman menegakkan batang ilmu,

dan ranting amal berbuah keberkahan.


Di bawah rindangnya pepohonan kampus,

terdengar suara semangat mahasiswa memulai perkuliahan

 

Penulis: Daffa Alkausar (Magang)

Editor: Putri Ruqaiyah 

29 Oktober 2025

Hitam Putih

Foto: Pexels.com

www.lpmalkalam.com

Seiring berjalannya waktu

Kumerindukan akan sesuatu

Sesuatu yang telah usai

Yang kini tak dapat digapai


Padahal diriku mau mengulang akan hal itu

Walau sudah tak terpatri lagi untukku

Kini, hanya bisa tersemat di relung ingatan

Yang akan dikenang sepanjang zaman


Masa hidup yang penuh nan warna

Terlukiskan dengan selaksa

Harapan, keyakinan, kesenangan berbalut jadi satu

Namun, suatu waktu akhirnya menjadi semu


Terasa bagaikan hitam putih

Karena kenyataan yang pedih

Gelap lagi sendu

Bagai hidup yang pilu


Penulis: Rizky Ramadhani (Magang)
Editor: Zuhra
 

26 Oktober 2025

Masa Depan Bangsa

Foto: Pixabay.com

www.lpmalkalam.com

Di pundak muda tersimpan cahaya,

menyala di antara debu dan doa.

Langkah kecilmu hari ini—

adalah jalan panjang menuju mimpi negeri


Bangsa ini bukan sekadar tanah dan bendera,

ia adalah harapan yang dijahit dari luka,

tetes keringat para pejuang,

dan doa ibu di setiap malam panjang


Masa depan tidak datang tiba-tiba,

ia tumbuh dari keberanian menatap langit,

dari tangan yang tak berhenti menulis,

dan hati yang tak jemu mencinta tanah air ini


Jangan biarkan waktu mencuri idealismemu,

jangan biarkan lelah memadamkan nyala api jiwamu.

Karena di setiap semangat yang kau jaga,

ada masa depan bangsa yang menunggu untuk bersinar


Maka berdirilah, wahai generasi muda,

bangun peradaban dengan pena dan karya,

jadilah cahaya di tengah gelapnya dunia—

sebab masa depan bangsa… adalah engkau yang percaya ‎


Penulis: Razwa Syuib (Magang)

Editor: Zuhra

Hujan di Pagi Hari

Foto: Pixabay.com

www.lpmalkalam.com-

Selimut kutarik perlahan,

dingin menusuk kulitku.

Hujan tadi malam tak kunjung berhenti,

membuatku malas memulai hari.


Hujan di pagi hari,

waktu yang tenang,

merenung dan memikirkan

masa depan yang belum datang.


Hujan yang turun membawa harapan,

membawa kehidupan ke dalam hatiku.

Hujan di pagi hari, waktu yang tenang,

membuatku merasa hidup.

 

Penulis: Lutfhiyatil Syaqirah (Magang)

Editor: Putri Ruqaiyah 

Lelah

Foto: Pixabay.com

www.lpmalkalam.com

Jika kamu sudah lelah,

pamitlah!


Inilah aku dengan segala kurangku,

inilah aku yang terus memaksamu untuk tetap tinggal.


Aku…

tidak seegois itu mencintai seseorang.


Jika nanti kamu tidak menemukan sosok

yang sehangat pelukku,

setabah aku yang selalu memahamimu,

kumohon…

jangan ragu untuk pulang.


Penulis: Luthfiatil Syaqirah

Editor: Putri Ruqaiyah 

22 Oktober 2025

Rindu yang Abadi

Foto: Pixabay.com

www.lpmalkalam.com-

Di antara senja yang merangkul bumi,

Kucari jejakmu dalam sunyi.

Bayangmu hadir, namun tak tergapai,

Rindu ini abadi, takkan usai.


Setiap langkah adalah kenangan,

Saat bersamamu, hati penuh impian.

Tawa, canda, semua terpatri,

Dalam ingatan yang tak pernah mati.


Malam sunyi menjadi saksi bisu,

Rindu ini menggebu-gebu.

Bintang-bintang seolah mengerti,

Betapa dalamnya rindu di hati.


Di taman hati, namamu terukir,

Sebagai janji yang takkan pudar.

Meski jarak memisahkan kita,

Cinta ini abadi selamanya.


Ombak rindu terus berdeburan,

Menyapu pantai kenangan.

Setiap desiran adalah bisikan,

Rindu yang tak pernah terucapkan.


Dalam doa kusebut namamu,

Semoga kau merasakan rindu yang sama.

Karena di sini, di hatiku yang terdalam,

Rindu ini abadi, takkan pernah padam.


Mentari pagi datang menyapa,

Namun rindu ini tetap membara.

Karena kaulah melodi dalam jiwa,

Rindu yang abadi selamanya.


Penulis: Muhammad Iftal (Magang)

 

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.