![]() |
| Foto: Daffa Alkausar |
www.lpmalkalam.com- Bahasa Aceh merupakan bagian penting dari identitas dan warisan budaya masyarakat Aceh. Namun, di kawasan ibu kota seperti Banda Aceh, semakin banyak generasi muda yang enggan menggunakan bahasa Aceh dalam percakapan sehari-hari. Sebagian merasa lebih percaya diri menggunakan bahasa Indonesia, bahkan menganggap bahasa daerah terkesan kuno atau kurang modern. Akibatnya, bahasa Aceh mulai jarang terdengar di lingkungan sekolah, kampus, tempat kerja, hingga ruang publik.
Rasa malu menggunakan bahasa Aceh merupakan tantangan yang perlu disadari bersama. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan jati diri dan budaya suatu masyarakat. Jika generasi muda terus meninggalkan bahasa Aceh karena gengsi atau takut dianggap tidak keren, lambat laun bahasa tersebut akan semakin terpinggirkan.
Melestarikan bahasa Aceh bukan berarti menolak penggunaan bahasa Indonesia atau bahasa asing. Justru, kemampuan menguasai banyak bahasa merupakan kelebihan. Yang terpenting adalah tetap bangga menggunakan bahasa Aceh dalam lingkungan yang sesuai agar identitas budaya tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penulis: Daffa Alkausar
Editor: Chalisa Najla Safira
