![]() |
Foto: Zuhra |
Orasi dipimpin langsung oleh Munawir selaku Presiden Mahasiswa (Presma). Dalam orasinya, Munawir memfokuskan pada permasalahan seseorang berjaket ojol yang dilindas menggunakan mobil rantis polisi, Kamis (28/08/2025) di Jakarta Pusat. Para panitia juga turut membagikan beberapa kertas dengan tulisan yang mengarah pada POLRI sebagai bentuk protes mahasiswa dalam kasus ini. Tulisan tersebut seperti "1312," yang merupakan singkatan numerik dari frasa bahasa Inggris yaitu: angka "1312" merupakan singkatan numerik dari frasa bahasa Inggris "ACAB" yang berarti "All Cops Are Bastards" (Semua Polisi adalah Bajingan). Kode ini biasanya digunakan sebagai bentuk protes terhadap institusi kepolisian.
![]() |
Foto: Zuhra |
Selain itu, pihak DEMA-U menunjukan protesnya melalui tulisan yang dibuat pada spanduk, "Polisi untuk rakyat," yang kemudian menjadi "Polisi membunuh rakyat." Dengan didukung seluruh mahasiswa, orasi tersebut divideokan. Di akhir orasinya, Munawir menegaskan bahwa video tersebut nantinya akan dikirimkan kepada seluruh mahasiswa untuk kemudian disebarkanluaskan di media sosial masing-masing. Selain menyuarakan hak-hak rakyat, di akhir sesi orasi seluruh mahasiswa UIN SUNA Lhokseumawe juga menonton secara saksama aksi yang dilakukan oleh oknum kepolisian.
Saat menonton video tersebut para mahasiswa tampak bersorak akan aksi tersebut. Untuk membangkitkan semangat perjuangan, para panitia kemudian mengajak seluruh mahasiswa UIN SUNA Lhokseumawe yang berhadir saat itu untuk menyanyikan mars mahasiswa serta buruh tani. Saat itu tampak seluruh mahasiswa bernyanyi dan merangkul satu sama lain sebagai simbol kebersamaan dalam melawan. Sebagian mahasiswa juga tampak bernyanyi sambil meninggikan tulisan yang ada sebagai bentuk protesnya terhadap aparat kepolisian.
![]() |
Foto: Zuhra |
Dalam orasinya, Presma menegaskan bahwa ini bukanlah insiden ini bukanlah kecelakaan tapi cerminan brutalisme aparat dalam menghadapi rakyat. "Kami segenap mahasiswa UIN Sultanah Naharasiyah Lhokseumawe menyatakan sikap mengutuk keras insiden tragis masyarakat sipil dilindas oleh Brimob dengan kendaraan rantis yang dibeli dari uang rakyat. Ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan cerminan nyata dari brutalisme aparat dalam menghadapi rakyat. Insiden ini membuktikan bahwa kekerasan masih menjadi pendekatan utama kepolisian. Kami menuntut pertanggungjawaban penuh dan pengusutan tuntas. Tidak ada kompromi untuk kekerasan terhadap warga sipil. Keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu," ujarnya.
Reporter: Ririn Dayanti Harahap
Editor: Zuhra