![]() |
| Foto: IST |
Banjir yang sebelumnya merendam permukiman warga meninggalkan lumpur dan noda membandel di sejumlah fasilitas umum, termasuk meunasah sebagai pusat kegiatan ibadah masyarakat. Area yang paling terdampak adalah tempat wudu, dengan keramik lantai dan dinding yang tampak sangat kotor akibat endapan lumpur.
![]() |
| Foto: IST |
Fokus utama gotong royong diarahkan pada pembersihan keramik tempat wudu. Untuk membersihkan lantai dan dinding tersebut, mahasiswa KPM menggunakan delapan botol cairan pembersih, terdiri atas lima botol ukuran besar dan tiga botol ukuran sedang. Proses pembersihan dilakukan dengan menyikat secara menyeluruh hingga ke sela-sela keramik agar noda benar-benar hilang.
Kepala Desa (Geuchik) Cot Ara, Saifuddin, turut menyampaikan apresiasi atas keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut. “Sigolom awak droe neuh peugleh nyoe, kaleuh kamoe peugleh sit pakek soda api ngeun yang laen, tapi han item gleh. Wate awak droe neuh ka trok keuno, ka neu peugleh le awak droe neuh langsong gleh, lage male-male ngeun awak droe (Sebelum kalian mulai bersih-bersih ini, kami sudah lebih dahulu mencoba membersihkan dengan menggunakan soda api dan bahan lainnya, tetapi tetap tidak bersih. Ketika kalian datang dan ikut membersihkan, nodanya langsung hilang, seperti malu-malu kepada kalian),” ujarnya sambil tertawa.
Selain itu, papan imbauan bertuliskan “Stop Sandal/Sepatu” turut ditempelkan agar kebersihan tempat wudu tetap terjaga. Mahasiswa KPM berharap meunasah yang kini kembali bersih dan nyaman dapat digunakan untuk beribadah serta berbagai kegiatan keagamaan masyarakat lainnya di Desa Cot Ara.
Reporter: Alya Nadila
Editor: Putri Ruqaiyah

