Portal Berita Al-Kalam

Asap di Jalan, Racun di Rumah: Ketika Rokok Menguasai Tangan, Membutakan Nurani, dan Menjadi Simbol Kebodohan Kolektif

  Foto: Qonita Sholihat  Penulis: Muhammad Alif Maulana www.lpmalkalam.com- Ada dua pemandangan yang semakin hari semakin menjijikkan di neg...

HEADLINE

Latest Post

05 Mei 2026

Asap di Jalan, Racun di Rumah: Ketika Rokok Menguasai Tangan, Membutakan Nurani, dan Menjadi Simbol Kebodohan Kolektif

 

Foto: Qonita Sholihat 

Penulis: Muhammad Alif Maulana

www.lpmalkalam.com- Ada dua pemandangan yang semakin hari semakin menjijikkan di negeri ini, orang yang merokok sambil mengendarai kendaraan, dan orang tua yang dengan santainya menyebarkan asap di depan anak-anaknya, baik itu balita maupun yang sudah lebih besar. Padahal, kebiasaan orang tua merokok di depan anak dapat membuat anak meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Keduanya sama-sama mencerminkan rendahnya kesadaran dan tingginya egois.

Bayangkan, seseorang berkendara di jalan umum, menyalakan rokok, lalu tanpa pikir panjang menyebarkan asap ke udara atau lebih parah lagi membuang puntung rokok sembarangan. Asapnya bisa mengenai kendaraan di belakang, bahkan bisa mengenai wajah pengendara motor lain sehingga dapat membuat orang lain celaka. Ini bukan hanya tentang etika atau adab sebagai manusia, karena kita bukan hewan, tetapi juga soal keselamatan dan tanggung jawab moral etika. Tangan yang seharusnya fokus memegang setir justru digunakan untuk memegang rokok. Ketika puntung rokok jatuh, puntung tersebut bisa saja mengenai pengendara lain, menimbulkan luka bakar kecil atau bahkan memicu kecelakaan besar.

Ironisnya, sebagian dari mereka merasa itu hal biasa. Padahal, tidak ada yang lebih egois daripada mengorbankan keselamatan orang lain demi kepuasan menghisap asap beracun. Lebih menyedihkannya lagi, ketika seorang ayah dengan bangga merokok di depan anaknya, seperti sedang menunjukkan kedewasaan atau sesuatu yang wajar bagi mereka. Padahal, yang dilihat sang anak bukanlah sosok tangguh, tapi contoh nyata dari kebodohan dan ajaran sesat yang diwariskan. Asap yang dihirup anak-anak jauh lebih berbahaya. Paru-paru mereka masih bersih, namun perlahan diracuni oleh seorang yang seharusnya melindungi.

Kemudian ketika anak itu tumbuh dan ikut merokok, siapa yang harus disalahkan? Sekolah? Lingkungan? Tidak. Contoh pertama datang dari rumah, yaitu dari orang tua.

Kita hidup di masyarakat yang larangan merokok di ruang publik gencar diumumkan, tapi kesadaran masyarakat masih tetap rendah. Banyak yang merasa merokok itu hak pribadi, tapi lupa bahwa hak orang lain untuk menghirup udara bersih juga sama pentingnya. Sudah saatnya kita berbicara tegas.
  • Merokok di jalan adalah bentuk pelanggaran etika sosial dan potensi bahaya lalu lintas.
  • Merokok di depan anak adalah bentuk kekerasan pasif yang membunuh secara perlahan.
Jangan tunggu regulasi baru untuk berhenti bersikap bodoh. Kesadaran tidak perlu undang-undang, tapi hati nurani. Jika masih ada yang merasa bangga merokok sambil berkendara atau di depan anaknya, mungkin bukan hanya asap rokok yang menutup matanya tapi juga kesadaran kemanusiaannya yang sudah padam.



Editor: Chalisa Najla Safira
banner
Latest
Next Post
Comments
0 Comments

0 comments:

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.