![]() |
| Foto: Pixabay |
www.lpmalkalam.com- Pada malam hari raya, sudah menjadi kebiasaan bagi seseorang untuk berkumpul bersama orang-orang tersayang. Rini, seorang gadis yang ingin bercengkerama dan menghabiskan banyak waktu bersama keluarga, kini harus menghadapi realita yang menuntutnya memikul berbagai tanggung jawab, terutama sebagai pelajar. Tugas demi tugas, deadline demi deadline, datang silih berganti tanpa henti.
Suatu waktu di kampung, Mbah Aniah datang menghampirinya seraya berkata.
“Kamu mau kan bermalam di sini?”
“Lihat dulu, Mbah,” ucap Rini sambil tersenyum.
Awalnya, Rini tidak terlalu menghiraukan pertanyaan itu. Ia mengira ucapan tersebut hanyalah basa-basi. Padahal, wajar jika neneknya menanyakan hal seperti itu, mengingat Rini adalah salah satu cucu yang jarang pulang, dan kalau pun pulang hanya pada hari-hari besar saja. Sementara itu, pikirannya terus dipenuhi berbagai hal yang tidak kunjung usai.
Beberapa jam kemudian, Mbah Aniah kembali menghampiri Rini dengan pertanyaan yang sama.
“Kamu mau kan bermalam di sini?”
Rini tertegun sambil menatap raut wajah neneknya yang tampak sedih sekaligus penuh harap. Rasanya tak tega melihat perempuan tua itu berdiri menanti jawaban dari cucu yang begitu ia sayangi. Di sisi lain, jantung Rini berdebar, pikirannya berputar, dan rasa bingung membuatnya hanya mampu terdiam sesaat.
“Kapan lagi kamu mau bermalam di sini? Padahal cuma setahun sekali,” sahut Mbah Aniah pelan.
Setelah mendengar hal itu, Rini menyadari bahwa pertanyaan tersebut ternyata memiliki makna yang selama ini gagal ia pahami. Resah, sangat resah. Seolah terjadi pergulatan batin antara keinginan untuk berkumpul bersama keluarga dan tuntutan untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.
Namun, Rini teringat pesan ibunya yang pernah berkata bahwa jika ada kesempatan untuk berkumpul dengan orang tersayang, terutama dengan Mbah, maka lakukanlah. Jika tidak, pasti akan ada rasa sedih yang tertinggal. Apa yang dikatakan ibunya terasa benar. Meski begitu, Rini merasa ia tetap harus mencari cara agar dapat memanfaatkan waktunya sebaik mungkin demi menjalankan keduanya.
“Apa aku bermalam dua hari saja, ya? Kayaknya bisa,” gumamnya.
“Baiklah, Mbah,” ucap Rini akhirnya. Mbah Aniah pun tersenyum bahagia.
Jika dipikir-pikir, memang ada waktunya seseorang perlu menjeda diri dari segala aktivitas yang selama ini dijalani. Keluarga adalah tempat beristirahat dari penatnya kehidupan, agar hati tidak lelah dan ikatan kasih tetap tumbuh kuat. Dua hari mungkin terasa singkat, tetapi bisa menjadi sangat bermakna jika dimanfaatkan dengan baik.
Pada akhirnya, sekeras apa pun dunia, keluarga tetap menjadi tempat kita berpulang. Di sanalah cinta dan kasih selalu menunggu. Di tengah waktu yang terus berputar dan padatnya aktivitas, sudah sepatutnya kita meluangkan sedikit ruang untuk orang-orang tercinta. Sebab, terkadang yang mereka butuhkan bukan sekadar hangatnya sapaan atau panjangnya percakapan, melainkan kehadiran dan kebersamaan.
Penulis: Rizky Ramadhani
Editor: Zahratul
