![]() |
| Foto: Pixels |
www.lpmalkalam.com- Angin sore berembus pelan, menggoyangkan hamparan kelopak kuning di ladang bunga matahari yang membentang luas. Warna keemasan memantul hangat dari ufuk barat, menyapa dua insan yang berdiri bersisian di batas jalan setapak.
Aruna menyesuaikan posisi duduknya di atas kayu pembatas ladang, menatap hamparan awan yang perlahan berganti warna menjadi jingga keperakan. Di sebelahnya, Bara berdiri tenang, memperhatikan jemari Aruna yang bermain-main dengan tangkai bunga di dekatnya.
Keheningan di antara mereka terasa manis. Tidak ada riuh yang memaksa, hanya ada debar halus yang disimpan rapi dalam dada masing-masing.
“Kamu suka langit, Run?” tanya Bara, memecah hening. Suaranya lembut, berpadu dengan gesekan daun-daun di sekeliling mereka.
Aruna menoleh perlahan. Matanya berbinar menatap paras lelaki di sampingnya, lalu beralih menatap angkasa luas di atas sana.
“Suka,” jawabnya singkat.
Bara tersenyum tipis, ikut memandang cakrawala yang membiru di atas hamparan bunga matahari.
“Kenapa?”
Aruna menarik napas dalam-dalam, menikmati hembusan udara sore yang sejuk sebelum kembali menatap Bara.
“Karena meskipun jauh, dia selalu punya cara untuk membuat orang merasa tenang.”
Bara menatap Aruna lekat-lekat, membiarkan senyum hangat mengukir bibirnya. Namun, di dalam hati Aruna, ada satu kalimat yang tertahan di tenggorokan, satu kalimat yang tak sanggup ia utarakan secara langsung.
Dan entah kenapa, jawabanku selalu mengingatkanku padamu.
Bagi Aruna, kehadiran Bara tak ubahnya seperti langit yang menaungi bumi. Jarak atau kecanggungan apa pun yang membentang di antara mereka tak pernah mengurangi kehangatan yang dihadirkan sosok itu.
Cukup dengan berada di dekatnya, mendengarkan deru napas dan nada bicaranya yang tenang, seluruh riuh di kepala Aruna seolah lenyap seketika.
Bara melangkah satu pijakan lebih dekat, menatap hamparan kuning di depan mereka yang mulai meredup disapa senja.
“Run,” panggilnya pelan.
“Iya?”
“Langit mungkin memang jauh,” kata Bara seraya menoleh, menatap tepat ke dalam manik mata Aruna.
“Tapi sejauh apa pun dia membentang, dia bakal selalu ada di atas sini untuk menjaga kamu.”
Aruna menggigit bibir bawahnya, menahan simpul senyum yang mendadak mekar. Di bawah angkasa yang kian jingga, di tengah ladang bunga matahari yang berbisik ditiup angin, ia tahu bahwa kejujuran tak selalu harus diucapkan terang-terangan. Terkadang, rasa itu cukup bersemayam rapi dalam diam.
Penulis: Amanda Zuhra
Editor: Zahratul
