Portal Berita Al-Kalam

Teater Ketidakadilan

Foto: Pixels www.lpmalkalam.com- Tudung saji plastik warna merah di atas meja makan rumah Hana sudah retak di bagian gagangnya. Ibu selalu ...

HEADLINE

Latest Post

24 Agustus 2026

Teater Ketidakadilan

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Tudung saji plastik warna merah di atas meja makan rumah Hana sudah retak di bagian gagangnya. Ibu selalu menutup piring berisi ikan goreng atau sayur lodeh dengan benda itu.

“Biar nggak dihinggapi lalat, Han. Biar tetep bersih,” kata Ibu suatu hari.

Hana tidak pernah menyangka bahwa suatu saat, cara berpikir seperti tudung saji itu akan melekat pada tubuh perempuan.

Malam itu hujan gerimis. Hana berjalan tergesa dari halte bus menuju gang rumah. Rok panjangnya agak basah di bagian bawah, dan jilbab lebar yang dikenakannya ditarik sedikit ke depan untuk menghalau angin malam yang menusuk. Di persimpangan yang agak remang, langkahnya terhenti saat melihat Alea, tetangga sebelah rumahnya.

Alea sedang berdiri gemetar di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip. Kaus oblong dan celana jeans di atas lutut yang dikenakannya tampak kuyup. Di depannya, dua pemuda bermotor berhenti, melontarkan siulan godaan dan kalimat-kalimat vulgar yang membuat perut Hana mual.

“Cuih... makanan basi! Jam segini baru pulang pakai baju kurang bahan!” celetuk salah satu pemuda itu sebelum tertawa keras bersama temannya. Alea hanya menunduk rapat, menyilangkan kedua tangan di dada untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan dan ketakutan.

Hana berniat menghampiri Alea, tapi pergerakannya tertahan ketika motor itu justru berbalik arah dan mendekatinya. “Wah, kalau yang ini beda. Makanan siap saji, nih. Masih hangat dan tertutup rapat,” ujar si pengemudi motor dengan tatapan melecehkan. Tangannya terulur meraih ujung jilbab Hana.

Jantung Hana berdegup kencang seperti hendak melompat keluar. Ada rasa takut yang luar biasa mencekik lehernya. Kedua tangan Hana spontan menyilang di dada, menahan kebas dan gemetar yang menyapu seluruh tubuh. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak sekuat tenaga memanggil warga. Suara teriakan itu membuat kedua pemuda tadi terkejut dan langsung memacu motor pergi menghilang di kegelapan malam.

Hana segera menghampiri Alea. Mereka berdua berdiri di bawah remang lampu jalan, sama-sama gemetar, sama-sama menanggung rasa takut yang menyayat.

“Kamu nggak apa-apa, Al?” bisik Hana lirih.

Alea menatap Hana dengan mata berair. “Aku benci, Han. Kenapa mereka selalu merasa berhak menghakimi tubuh kita? Kamu pakai jilbab rapat dibilang ‘siap saji,’ aku pakai baju santai dibilang ‘basi.’ Mau pakai apa pun, kita selalu disalahkan.”

Kata-kata Alea menampar kesadaran Hana. Di mata para pemangsa di panggung pementasan ketidakadilan ini, tubuh perempuan hanyalah santapan. Jika tertutup rapat, dianggap menyajikan hidangan hangat; jika terbuka, dianggap barang sisa yang layak dihina. Padahal yang membusuk sebenarnya bukan pakaian mereka, melainkan pikiran orang-orang itu.

Malam itu, Hana dan Alea berjalan berdampingan menembus sisa gerimis. Mereka tidak sedang membarter nyawa untuk membeli tiket teater absurd ini, tetapi mereka memilih untuk terus melangkah dan saling menjaga.


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Zahratul

21 Agustus 2026

Kisah Milik Kita

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Mungkin selama ini kita terlalu sibuk bertanya, “Kenapa bukan aku yang dipilih?”

Kita terlalu sering menunggu seseorang menyadari keberadaan kita, menunggu seseorang memanggil nama kita, menunggu kisah yang kita inginkan akhirnya terjadi.

Padahal, hidup tidak selalu tentang bagaimana seseorang melihat kita. Ada hari saat kita hanya menjadi pemeran kecil dalam cerita orang lain. Datang sebentar, meninggalkan sesuatu, lalu pergi tanpa pernah tahu bagaimana kisah itu berakhir.

Tapi tidak apa-apa. Karena kita juga punya cerita sendiri. Cerita yang membuat kita tidak harus dipilih, tidak harus dikenang, dan tidak harus berakhir seperti yang kita inginkan.

Mungkin yang perlu kita lakukan bukan lagi mencari tempat dalam cerita orang lain, melainkan mulai pelan-pelan menulis halaman milik kita sendiri.

Karena pada akhirnya kita akan sadar, bahwa kita adalah tokoh utama dalam kisah kita sendiri, tidak dalam kisah orang lain. Setiap orang memiliki alur ceritanya masing-masing, dan hidup tidak pernah meminta kita menjadi bagian dari cerita siapapun kecuali milik kita sendiri.


Penulis: Chalisa Najla Safira 

Editor: Zahratul

20 Agustus 2026

Seperti Langit

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Angin sore berembus pelan, menggoyangkan hamparan kelopak kuning di ladang bunga matahari yang membentang luas. Warna keemasan memantul hangat dari ufuk barat, menyapa dua insan yang berdiri bersisian di batas jalan setapak.

Aruna menyesuaikan posisi duduknya di atas kayu pembatas ladang, menatap hamparan awan yang perlahan berganti warna menjadi jingga keperakan. Di sebelahnya, Bara berdiri tenang, memperhatikan jemari Aruna yang bermain-main dengan tangkai bunga di dekatnya.

Keheningan di antara mereka terasa manis. Tidak ada riuh yang memaksa, hanya ada debar halus yang disimpan rapi dalam dada masing-masing.

“Kamu suka langit, Run?” tanya Bara, memecah hening. Suaranya lembut, berpadu dengan gesekan daun-daun di sekeliling mereka.

Aruna menoleh perlahan. Matanya berbinar menatap paras lelaki di sampingnya, lalu beralih menatap angkasa luas di atas sana.

“Suka,” jawabnya singkat.

Bara tersenyum tipis, ikut memandang cakrawala yang membiru di atas hamparan bunga matahari.

“Kenapa?”

Aruna menarik napas dalam-dalam, menikmati hembusan udara sore yang sejuk sebelum kembali menatap Bara.

“Karena meskipun jauh, dia selalu punya cara untuk membuat orang merasa tenang.”

Bara menatap Aruna lekat-lekat, membiarkan senyum hangat mengukir bibirnya. Namun, di dalam hati Aruna, ada satu kalimat yang tertahan di tenggorokan, satu kalimat yang tak sanggup ia utarakan secara langsung.

Dan entah kenapa, jawabanku selalu mengingatkanku padamu.

Bagi Aruna, kehadiran Bara tak ubahnya seperti langit yang menaungi bumi. Jarak atau kecanggungan apa pun yang membentang di antara mereka tak pernah mengurangi kehangatan yang dihadirkan sosok itu.

Cukup dengan berada di dekatnya, mendengarkan deru napas dan nada bicaranya yang tenang, seluruh riuh di kepala Aruna seolah lenyap seketika.

Bara melangkah satu pijakan lebih dekat, menatap hamparan kuning di depan mereka yang mulai meredup disapa senja.

“Run,” panggilnya pelan.

“Iya?”

“Langit mungkin memang jauh,” kata Bara seraya menoleh, menatap tepat ke dalam manik mata Aruna.

“Tapi sejauh apa pun dia membentang, dia bakal selalu ada di atas sini untuk menjaga kamu.”

Aruna menggigit bibir bawahnya, menahan simpul senyum yang mendadak mekar. Di bawah angkasa yang kian jingga, di tengah ladang bunga matahari yang berbisik ditiup angin, ia tahu bahwa kejujuran tak selalu harus diucapkan terang-terangan. Terkadang, rasa itu cukup bersemayam rapi dalam diam.


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Zahratul

19 Agustus 2026

Api Semangat Para Pahlawan

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Setiap bulan Agustus, sekolah mengadakan berbagai kegiatan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah lomba membaca puisi dan pidato tentang perjuangan para pahlawan.

Clara mengikuti kegiatan tersebut. Clara berusaha mempelajari perjuangan para pahlawan yang rela berkorban demi kemerdekaan Indonesia. Guru kami menjelaskan bahwa kemerdekaan tidak diperoleh dengan mudah, tetapi melalui perjuangan, keberanian, dan pengorbanan.

Suatu sore, Clara melihat bendera Merah Putih berkibar di depan sekolah. Clara terdiam sejenak dan membayangkan bagaimana para pahlawan dahulu berjuang mempertahankan tanah air. Mereka tidak takut menghadapi bahaya demi masa depan bangsa.

Clara pun menyadari bahwa sebagai pelajar, Clara dan Lina juga dapat meneruskan semangat para pahlawan. Caranya bukan dengan mengangkat senjata, tetapi dengan rajin belajar, menghormati orang lain, menjaga persatuan, dan mengharumkan nama Indonesia.

Pada hari perlombaan, Clara tampil membacakan puisi tentang perjuangan para pahlawan. Awalnya, Clara merasa gugup, tetapi Clara mengingat pengorbanan para pahlawan. Clara pun membaca puisi dengan penuh semangat.

Setelah selesai, teman-teman dan guru memberikan tepuk tangan. Saat itu, Clara merasa bangga. Clara berjanji akan terus belajar dan berusaha menjadi generasi yang berguna bagi bangsa.

Sejak hari itu, Clara mengerti bahwa api semangat para pahlawan tidak boleh padam. Semangat itu harus terus hidup dalam diri generasi muda untuk menjaga dan membangun Indonesia.


Penulis: Zilfira

Editor: Redaksi

13 Agustus 2026

Jejak di Tepi Pelabuhan

Foto: Pixabay

www.lpmalkalam.com- Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah dan genangan air yang memantulkan lampu-lampu kapal. Aku berdiri di ujung dermaga, berteduh di bawah atap seng toko kelontong yang sudah tutup. Di sebelahku, seorang wanita tua berkerudung lusuh sedang merapikan jualan ikan asinnya ke dalam keranjang bambu. Kami berdua hening, hanya ditemani deburan ombak yang berulang dan dengung mesin kapal dari kejauhan.

Tanpa menatapku, ia memecah kesunyian dengan suara lembut namun dalam.

"Menurutmu, ke mana mengalirnya air laut yang dulu pernah kita seberangi?"

Aku terpaku. Bukan pertanyaan itu yang membuatku membisu, melainkan makna di baliknya: Ke mana perginya sosok muda kita yang dulu begitu berani menerjang badai? Ke mana perginya jiwa impian yang percaya bahwa seluruh lautan bisa ia taklukkan? Kita sering kehilangan versi terbaik dari diri sendiri saat sibuk mendayung menuruti arus kehidupan.

Wanita itu tersenyum tipis, usapan jarinya yang keriput dengan telaten merapikan sisa dagangan.

"Jika pada akhirnya kita selalu merindukan daratan yang kita tinggalkan," lanjutnya sambil mengikat keranjang, "mengapa kita begitu bernafsu berlayar sejauh ini?"

Pertanyaan kedua itu menghantamku lebih keras. Aku teringat betapa seringnya kita berpacu dengan waktu, mengorbankan hari ini demi mengejar esok, lalu saat esok itu tiba, kita justru menangisi hari kemarin yang telah hilang. Kita berlari agar tak tertinggal, tetapi di puncak perjalanan, kita justru merasa asing dengan tempat kita berdiri.

Wanita tua itu bangkit, memikul keranjangnya dengan perlahan, lalu menatap garis cakrawala yang kian kabur ditelan malam.

"Mungkin pelayaran ini bukan tentang menemukan pelabuhan yang sempurna," ucapnya lirih sebelum melangkah pergi. "Tapi tentang keberanian untuk terus berlayar, meski kita tak pernah benar-benar paham ke mana arah angin membawa kita."

Malam itu, di tengah hembusan angin laut yang dingin, aku tidak lagi berniat mencari arah atau jawaban pasti. Aku hanya berdiri di sana, membiarkan gelombang demi gelombang menghantam dermaga, dan belajar menerima setiap keraguan tanpa harus memaksa kehidupan memberikan alasannya.


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Chalisa Najla Safira

12 Agustus 2026

Makna di Balik Sebuah Pohon

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Dari sekian perjuangan yang dijalani, kali ini ia mencoba pantang mundur kembali. Terdapat seorang anak laki-laki bernama Bayu, sang pemimpi yang suka berkompetisi. Setiap ada perlombaan, ia selalu sigap mendaftarkan diri dan mengikuti lomba yang diminati. 

Dengan modal tekad dan keberanian yang kuat, diikutinya hingga selesai dan sampai pengumuman itu tiba rasanya tidak membuahkan hasil. Sekali... dua kali... bahkan berkali-kali rasanya nihil. Kekalahan yang terus-menerus itu yang harus ia terima. Lelah. Ingin berputus asa rasanya. 

Bayu merebahkan dirinya di kasur seraya menangis karena kegagalan yang dialami. Derai air mata terus membasahi pipinya. Hal tersebut membuatnya kehilangan daya untuk melakukan segalanya. 

Namun, ia teringat dan meresapi sebuah perumpamaan "Pohon walaupun diterpa angin kencang tetap berdiri kokoh." Jika direnungkan, kalimat tersebut benar adanya. Ia tetap berdiri kuat dan tidak pernah menyalahi angin atas terpaan terhadapnya bahkan pohon tersebut dapat memberikan manfaat untuk sekitar. 

Mengingat akan hal itu, ia akhirnya memetik banyak pelajaran berharga hanya dengan mengamati keteguhan sebuah pohon. Pohon itu seolah-olah bukan hanya sekadar tumbuh, melainkan mengajarkan pesan tersirat tentang pentingnya untuk terus bangkit, berdiri kokoh, memiliki keteguhan hati, prinsip hidup yang kuat, mental yang tangguh, dan bertahan hidup walau diterpa dengan situasi yang paling sulit sekalipun.


Penulis: Rizky Ramadhani

Editor: Chalisa Najla Safira

05 Agustus 2026

Halaman yang Tak Pernah Selesai

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Rintik hujan turun ketika Aluna masuk ke sebuah toko buku kecil di sudut jalan. Ia tidak benar-benar ingin membeli buku, hanya mencari tempat berteduh.

Tangannya berhenti di rak sastra. Seperti dulu, tanpa sadar ia membuka halaman terakhir sebuah novel sebelum kembali ke halaman pertama.

"Masih curang ternyata." 

Aluna membeku. Suara itu terlalu ia kenal.

Ia menoleh perlahan.

Aksa berdiri beberapa langkah di belakangnya, membawa sebuah buku yang bahkan belum sempat ia lihat judulnya.

Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.

"Lama ya," bisik Aluna pelan.

"Lima tahun."

"Kamu masih ngitung?"

"Ga sengaja," ujar Aksa sambil tersenyum kecil.

Aluna ikut tersenyum canggung.

Rasanya aneh.

Dulu mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa kehabisan bahan obrolan. Sekarang, memulai percakapan saja rasanya seperti sedang belajar mengenal satu sama lain dari awal.

Hening kembali menghampiri, hanya terdengar suara hujan yang mengetuk kaca dan langkah pelan beberapa pengunjung yang berlalu di antara rak-rak buku.

Tak lama kemudian, pemilik toko mengganti musik yang sejak tadi diputar. Petikan gitar memenuhi ruangan, disusul lagu "Dunia yang Nanti" milik Raim Laode.

Aluna refleks menoleh ke arah speaker.

Aksa tersenyum kecil.

"Masih sering denger lagu itu?"

Aluna menggeleng pelan.

"Ga sesering dulu."

"Padahal dulu setiap pulang, lagu ini ga pernah ketinggalan."

"Soalnya waktu itu aku percaya... kalau ga semua perpisahan berarti selesai."

Aksa mengangguk pelan.

"Dulu aku juga percaya begitu."

Beberapa detik berlalu.

"Aku sempat lama ga denger lagu itu," ujar Aksa kembali.

Aluna menoleh, "Kenapa?"

Aksa mengembuskan napas pelan.

"Setiap kali diputar, rasanya kayak ditarik balik ke masa itu lagi."

Aluna mengangguk kecil seolah mengerti.

"Aku juga pernah sengaja ngelewatin kalau lagu itu muncul."

"Kalo sekarang?"

"Sekarang udah bisa didengerin."

"Karena udah ikhlas?"

Aluna tersenyum tipis sambil menggeleng.

"Ga juga. Mungkin... karena sekarang aku udah mulai ngerti."

Aksa terdiam beberapa saat.

"Aku kira cuma aku yang butuh waktu lama."

Aluna menatap buku yang masih ada di tangannya.

"Ternyata kita sama-sama cuma lagi belajar buat nerima."

Tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Mereka sama-sama tahu mengapa dulu memilih berpisah. Karena saat itu, hidup meminta mereka mengejar arah yang berbeda. 

Di luar, hujan mulai reda.

Aksa melihat jam di tangannya.

"Aku duluan ya."

Aluna mengangguk.

"Hati-hati."

"Kamu juga."

Aksa melangkah menuju pintu.

Maka kudoakan kisah kita satu... di dunia yang nanti...

Sesaat sebelum keluar, tepat setelah lirik terakhir terputar, Aksa menoleh sebentar.

Aluna membalas dengan anggukan dan senyum kecil.

Lalu pintu toko kembali tertutup.

Lima tahun ternyata belum cukup untuk menghapus ingatan tentang sebuah lagu, juga tentang dua orang yang pernah percaya bahwa mereka akan sampai di tujuan yang sama.

Sore itu, di antara rak-rak buku, aroma kertas yang mulai lembap karena hujan, dan lagu yang dulu selalu mereka putar dalam perjalanan pulang, Aluna akhirnya memahami sesuatu.

Tidak semua "nanti" berarti terlambat.

Kadang, "nanti" hanyalah cara semesta memberi waktu agar dua orang bisa tumbuh tanpa harus saling menunggu.


Penulis: Chalisa Najla Safira 

Editor: Zahratul

29 Juli 2026

Rumah Rapuh

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Malam merayap terlalu pelan, menyisakan sunyi yang menggantung di antara dua cangkir teh yang telah kehilangan uapnya. Di sudut ruangan, lampu pijar membiaskan temaram yang menyedihkan, seolah enggan menyaksikan perpisahan yang sedang dikemas rapi dalam kata-kata.

​Senja memandang punggung Samudra, punggung yang biasanya menjadi tempatnya berteduh dari badai dunia, namun malam ini terasa sejauh cakrawala.

​"Kamu kenapa pergi?" tanya Senja, suaranya parau, nyaris tenggelam oleh desau angin di luar jendela. ​Samudra tidak segera berbalik. Jemarinya memainkan pinggiran cangkir, menatap kosong pada sisa-sisa air yang mengeruh. 

"Biar kamu nggak capek," jawab Samudra lirih, sebuah kalimat yang terdengar seperti hantaman ombak pada tebing karang yang rapuh.

​"Capek kenapa?" Senja mengejar, matanya menuntut kejelasan dari sepasang netra yang kini berbalik menatapnya dengan kelelahan yang teramat sangat.

​"Jagain aku yang nggak pernah sampai." Samudra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan luka paling dalam. Ada rasa bersalah yang mengkristal di sudut matanya. Ia tahu, perjalanan mereka selama ini hanyalah labirin tanpa ujung, di mana Senja terus berlari mengejar ketidakpastiannya.

​"Lalu aku harus apa?" Nada suara Senja bergetar, menahan sesak yang mendadak menghimpit dada.

​"Pulang ke yang bisa jagamu tanpa kamu minta."

​"Aku maunya kamu, Samudra!" Potong Senja cepat, seolah-olah dengan menegaskan nama itu, takdir akan melunak dan mengubah arah angin.

​Namun, Samudra menggeleng perlahan. Tatapannya meluruh, dipenuhi kelembutan yang menyakitkan. "Tapi aku bukan rumah yang kamu cari, Senja."

​Senja terpaku. Kalimat itu terasa asing, dingin, sekaligus mematikan. "Kok gitu?"

​Samudra menghela napas panjang, meresapi setiap jengkal kenangan yang berserakan di antara mereka sebelum akhirnya berkata, "Rumah itu tempat kamu nggak takut jadi berantakan. Dan kamu... masih rapi banget di depanku."

​Samudra menjeda sejenak, menatap gaun Senja yang tak pernah kusut, senyum perempuan itu yang selalu dipaksakan simetris, dan tangisnya yang selalu disembunyikan di balik punggung. "Kamu selalu berpura-pura utuh, padahal aku tahu kamu sedang patah. Bersamaku, kamu tidak pernah berani runtuh."

​Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga, membasahi pipi Senja. Sudut matanya memerah. "Lalu aku harus ke mana?" Tanyanya, kehilangan arah, seperti kompas yang kehilangan kutubnya.

​Samudra melangkah mendekat, menghapus air mata di pipi Senja untuk terakhir kalinya, lalu berbisik pelan, hampir menyerupai doa, "Ke seseorang yang waktu kamu diam, dia tahu kamu lagi nggak baik-baik saja. Yang tanpa tanya, udah nyiapin bahunya. Yang bikin kamu lupa caranya pura-pura kuat... dan orang itu bukan aku." ​Kata-kata itu menjadi penutup yang mutlak. Samudra berbalik, melangkah menuju pintu, dan hilang di balik kepekatan malam yang dingin.

​Seketika itu juga, keheningan kembali merajai ruangan. Terdengar lagi detak jam di dinding, begitu nyaring, menghitung detik-detik kehilangan yang merayap maju. Bersamaan dengan itu, suara hati Senja juga akhirnya mengerti, bahwa mencintai adakala adalah tentang melepaskan genggaman, agar ia bisa menemukan tempat di mana boleh rapuh tanpa takut dihakimi.


Penulis: Amanda Zuhra

Editor: Zahratul

28 Juli 2026

Surga Sampah

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Aku tinggal di sebuah daerah yang dijuluki Serambi Mekah. Tanah kaya akan sumber daya alam, penuh sejarah yang terpatri dalam setiap sudutnya. Masjid berdiri megah di tiap penjuru kota, menjadi saksi bisu perjalanan zaman.

Dari cerita orang tua, aku mendengar kisah tentang masa silam, ketika mata uang yang digunakan adalah koin emas, mereka menyebutnya dirham. Saat itu, Kerajaan Samudera Pasai tengah berada di puncak kejayaannya. Itulah gambaran masa lalu, sebuah nostalgia, tentang kejayaan yang pernah ada.

Kini aku menatap diriku sendiri, seorang bocah berusia 16 tahun, dengan baju lusuh, hasil pemberian orang baik hati. Di hadapanku, gunungan sampah seakan menyambut kedatanganku.

Sejak usia lima tahun, aku sudah ikut bapak bekerja, memilah satu per satu sampah yang bisa dijual, dan yang tidak. Dari sinilah kami menggantungkan hidup, sebagai pemulung.

Sejak pukul tiga pagi, tanpa perlu dibangunkan, kami otomatis terjaga. Itulah waktu kami mulai mencari rezeki.
 
Sejak saat itu, aku dan bapak sudah mengais sampah, di tempat pembuangan rumah sakit, penampungan sampah kota, hingga menyusuri jalanan. Bahkan, kami pernah memungut sampah di pesta orang kaya. Untungnya, mereka tidak mengusir kami.

Menjelang malam, bapak mengajakku memilah sampah di rumah-rumah makan. Saat pertama kali datang ke sana, hatiku sedih. Begitu banyak makanan terbuang, sementara di gubuk tempat kami tinggal, kadang kami harus menahan lapar karena tak ada yang bisa dimakan. 
Namun, lama-kelamaan aku mulai terbiasa. Kami datang ke rumah makan bukan untuk makan malam, melainkan untuk mencari sisa makanan yang bisa kami bawa pulang.

Tentang ibu, jangan tanyakan padaku, karena aku sendiri pun tak tahu. Bapak bilang, ibu meninggal saat melahirkanku. Namun, dari bisik-bisik tetangga di sekitar gubuk kami, aku mendengar cerita yang berbeda. Kata mereka, ibu pergi setelah aku lahir. Ia tak sanggup lagi menjalani hidup yang terlalu melarat, terlalu penuh kekurangan. 

Apa ibu tidak rindu padaku, bu? Apa karena aku bau sampah, makanya ibu tidak pernah kembali lagi ke sini sampai hari ini, bahkan mungkin selamanya.

Ah, aku tak ingin terlalu melankolis tentang ibuku yang wajahnya tak kuketahui,  lebih baik kuceritakan tentang sekolah saja. Setiap Senin sampai Jumat, aku pergi sekolah. Bapak selalu bilang, aku harus jadi anak yang sukses. “Supaya nanti kamu bisa jadi presiden,” katanya, “jangan jadi pemulung seperti bapak lagi. Capek, Nak.”

Maka aku pun pergi sekolah, duduk mendengarkan guru yang mendongeng di depan kelas, tentang simbiosis mutualisme dan hal-hal lain yang asing namun menarik.

Otakku berusaha menyerap semua materi itu, tapi perutku terus memberontak, meminta diisi nasi. Pagi hari, aku nyaris tak pernah sarapan. Siang pun begitu, kecuali jika ada sedikit rezeki. Malam hari? Hanya jika ada sisa makanan.

Dulu aku punya seorang kakak. Tapi Tuhan lebih dulu ingin memeluknya. Ia meninggal karena demam berdarah. Waktu itu, kami belum punya BPJS, Dan berobat terasa mustahil. Dalam kondisi seperti itu, mati seolah lebih mudah, daripada hidup yang terus terlunta-lunta.

Aku pernah bertanya pada bapak, kenapa aku tidak diizinkan menjadi pengamen atau pengemis saja. Lalu bapak menjawab, “Selama sampah masih berserakan, hasil buangan manusia itu, kenapa kita harus mengemis pada manusia? Mungkin saja mereka memberi karena terpaksa.” Ah, aku bersyukur sekali punya bapak sekuat dan seteguh itu.

Kini, bapak pun telah pergi. Bukan karena demam berdarah seperti kakakku dulu, tapi karena Tuberkulosis (TBC) yang perlahan-lahan menggerogoti tubuhnya, hingga akhirnya mengambilnya selamanya.

Sekarang aku sendiri, tinggal di gubuk  ini. Sepi. Sunyi.

Dingin.

Kadang aku bertanya, kepada siapa lagi aku harus bersandar? Pernah terlintas di benakku, mungkin lebih baik jika aku ikut mati saja, supaya bisa bertemu lagi dengan bapak dan kakak di surga. Di sana, mungkin kami tak perlu lagi memikirkan makan.

Tapi lalu aku teringat kata-kata ustaz dari kampung sebelah. Katanya, orang yang sengaja mengakhiri hidupnya sendiri, tempatnya bukan di surga, melainkan di neraka. Aduh... kenapa serba salah begini? Hidupku di dunia sudah semelarat  ini, masa akhirat pun harus penuh sengsara?

Lalu, dalam kesunyian itu, aku teringat satu pesan bapak yang tak pernah hilang dari ingatanku, “Kamu harus belajar, Nak… belajar yang sungguh-sungguh. Biar sukses. Biar bisa jadi presiden.”

Kadang aku berpikir, buat apa aku bersusah payah? Toh, bahkan ada wakil presiden yang ijazahnya saja dipertanyakan. Apa gunanya belajar mati-matian kalau dunia tetap berpihak pada yang curang?

Tapi… sekali lagi, aku teringat pesan bapak sebelum ia pergi, “Aku harus belajar, harus sukses, harus jadi presiden.” Itu bukan sekadar harapan, itu wasiat satu-satunya warisan paling berharga dari bapakku.

Saat aku berjalan ke warung dekat gubuk untuk mengutang beras seperti biasa, meski biasanya tak pernah diberikan, mataku tertumbuk pada televisi yang menyala di sudut warung.

Sekilas, aku menangkap berita tentang pejabat korupsi. Angka-angka uang yang disebutkan itu tak main-main, sangat besar, menggunung sampai sulit kubayangkan.

Di dalam kepalaku, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul, apakah aku akan menjadi seperti mereka suatu hari nanti?

Seorang pejabat yang korupsi, menghalalkan segala cara demi kekuasaan dan harta?

Gemetar, ragu, mimpi menjadi presiden yang dulu bapak tanamkan, tiba-tiba terasa berat dan penuh dilema. Aku tidak ingin kehilangan jati diriku, tapi aku juga tahu dunia ini tidak mudah untuk orang seperti aku. Namun, suara kecil di hatiku kembali mengingatkan, tentang pesan bapak. Jadilah pemimpin yang berbeda. Jangan biarkan diri terjerumus seperti mereka.


Penulis: Zahratul 

Editor: Chalisa Najla Safira

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.