www.lpmalkalam.com- Tudung saji plastik warna merah di atas meja makan rumah Hana sudah retak di bagian gagangnya. Ibu selalu menutup piring berisi ikan goreng atau sayur lodeh dengan benda itu.
“Biar nggak dihinggapi lalat, Han. Biar tetep bersih,” kata Ibu suatu hari.
Hana tidak pernah menyangka bahwa suatu saat, cara berpikir seperti tudung saji itu akan melekat pada tubuh perempuan.
Malam itu hujan gerimis. Hana berjalan tergesa dari halte bus menuju gang rumah. Rok panjangnya agak basah di bagian bawah, dan jilbab lebar yang dikenakannya ditarik sedikit ke depan untuk menghalau angin malam yang menusuk. Di persimpangan yang agak remang, langkahnya terhenti saat melihat Alea, tetangga sebelah rumahnya.
Alea sedang berdiri gemetar di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip. Kaus oblong dan celana jeans di atas lutut yang dikenakannya tampak kuyup. Di depannya, dua pemuda bermotor berhenti, melontarkan siulan godaan dan kalimat-kalimat vulgar yang membuat perut Hana mual.
“Cuih... makanan basi! Jam segini baru pulang pakai baju kurang bahan!” celetuk salah satu pemuda itu sebelum tertawa keras bersama temannya. Alea hanya menunduk rapat, menyilangkan kedua tangan di dada untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan dan ketakutan.
Hana berniat menghampiri Alea, tapi pergerakannya tertahan ketika motor itu justru berbalik arah dan mendekatinya. “Wah, kalau yang ini beda. Makanan siap saji, nih. Masih hangat dan tertutup rapat,” ujar si pengemudi motor dengan tatapan melecehkan. Tangannya terulur meraih ujung jilbab Hana.
Jantung Hana berdegup kencang seperti hendak melompat keluar. Ada rasa takut yang luar biasa mencekik lehernya. Kedua tangan Hana spontan menyilang di dada, menahan kebas dan gemetar yang menyapu seluruh tubuh. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak sekuat tenaga memanggil warga. Suara teriakan itu membuat kedua pemuda tadi terkejut dan langsung memacu motor pergi menghilang di kegelapan malam.
Hana segera menghampiri Alea. Mereka berdua berdiri di bawah remang lampu jalan, sama-sama gemetar, sama-sama menanggung rasa takut yang menyayat.
“Kamu nggak apa-apa, Al?” bisik Hana lirih.
Alea menatap Hana dengan mata berair. “Aku benci, Han. Kenapa mereka selalu merasa berhak menghakimi tubuh kita? Kamu pakai jilbab rapat dibilang ‘siap saji,’ aku pakai baju santai dibilang ‘basi.’ Mau pakai apa pun, kita selalu disalahkan.”
Kata-kata Alea menampar kesadaran Hana. Di mata para pemangsa di panggung pementasan ketidakadilan ini, tubuh perempuan hanyalah santapan. Jika tertutup rapat, dianggap menyajikan hidangan hangat; jika terbuka, dianggap barang sisa yang layak dihina. Padahal yang membusuk sebenarnya bukan pakaian mereka, melainkan pikiran orang-orang itu.
Malam itu, Hana dan Alea berjalan berdampingan menembus sisa gerimis. Mereka tidak sedang membarter nyawa untuk membeli tiket teater absurd ini, tetapi mereka memilih untuk terus melangkah dan saling menjaga.
Penulis: Amanda Zuhra
Editor: Zahratul








