![]() |
| Foto: Pixabay |
Foto: Putri Ruqaiyah www.lpmalkalam.com- Pelaksanaan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) Tahun 2026 di Universit...
![]() |
| Foto: Pixabay |
![]() |
| Foto: Pixels |
www.lpmalkalam.com- Museum seni dipenuhi dengan temaram lampu dan langkah pelan para pengunjung. Di setiap dinding tergantung lukisan dengan cerita masing-masing.
Sore itu, Kala datang sendirian, hanya untuk menghindari hiruk-pikuk kota dan pikirannya sendiri.
Langkahnya terhenti di depan sebuah lukisan besar.
Lukisan dua ekor burung yang sedang terbang di langit senja. Awalnya terlihat berdampingan, tetapi semakin ke atas, arah terbang mereka mulai berbeda. Yang satu menuju cahaya senja, satunya lagi ke langit gelap yang dipenuhi awan.
Di bawah lukisan itu tertulis:
“Tidak semua perjalanan yang dimulai bersama akan berakhir bahagia.”
Netra Kala terpaku cukup lama sampai suara seseorang terdengar di sampingnya.
“Masih suka ngeliatin lukisan sambil bengong?”
Napas Kala terasa berat sesaat.
Naren.
Nama yang selama ini berusaha Kala kubur dalam-dalam kini berdiri tepat di sampingnya.
Kala menoleh perlahan.Naren menatapnya dengan senyum kecil yang masih sama seperti dulu, hangat.
“Aku kira kamu ga suka museum,” bisik Kala pelan.
“Aku juga kira kamu udah ga suka tempat sepi.”
Mereka tertawa kecil, canggung, sangat canggung.
Sudah hampir tiga tahun sejak hubungan mereka berakhir. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kebencian. Hanya keadaan yang perlahan memaksa mereka berjalan ke arah berbeda, tetapi rasanya lebih menyakitkan dibanding berakhir karena pertengkaran.
Naren harus mengejar mimpinya ke luar kota, sedangkan Kala memilih tetap tinggal demi keluarganya.
Awalnya mereka berjanji akan bertahan.
Tetapi ternyata kadang janji akan kalah oleh jarak, waktu, dan impian yang tinggi.
Kini mereka dipertemukan lagi secara aneh di depan lukisan dua burung yang terbang menjauh satu sama lain.
“Lucu ya,” gumam Naren sambil menatap lukisan itu. “Kayak kita.”
Kala tersenyum tipis.
"Iya, kayak kita. Awalnya jalan bareng tapi harus pisah karena tujuannya beda."
“Aku sempat benci sama perpisahan kita,” lanjut Kala jujur. “Aku pikir semesta jahat banget.”
Naren diam beberapa detik sebelum akhirnya ikut berkata pelan, “Aku juga.”
Hening kembali datang.
Tetapi kali ini bukan hening yang canggung. Melainkan hening dua orang yang pernah saling mengenal terlalu dalam.
Dari speaker museum tiba-tiba terdengar alunan lagu lembut. Awalnya hanya instrumen pelan, sampai liriknya mengisi ruangan.
“Dipertemukan semesta… walau berakhir tak bahagia…”
Kala langsung menunduk kecil sambil tertawa getir.
“Semestanya nyindir ya?” katanya.
Naren ikut tertawa pelan, meski matanya tampak menyimpan banyak hal yang tidak bisa terucap.
Untuk sesaat, Kala berharap waktu berhenti di sana saja. Di ruangan sunyi itu, di depan lukisan dua burung yang pernah terbang berdampingan sebelum akhirnya memilih arah masing-masing.
Namun mereka sama-sama tahu, beberapa orang memang hanya ditakdirkan bertemu untuk menjadi cerita, bukan bersama selamanya.
Lampu museum mulai diredupkan tanda jam tutup hampir tiba.
“Aku harus pergi,” kata Naren akhirnya.
Kala mengangguk pelan. “Aku juga.”
Mereka berjalan ke arah pintu keluar bersama, tetapi tidak saling menyentuh lagi seperti dulu.
Sesampainya di persimpangan depan museum, langkah mereka berhenti.
“Kala,” panggil Naren.
“Hmm?”
“Makasih ya… pernah jadi rumah.”
Kala tersenyum kecil walau matanya mulai berkaca.
“Kamu juga.”
Setelah itu mereka benar-benar pergi ke arah berbeda. Sama seperti dua burung di dalam lukisan itu.
Penulis: Chalisa Najla Safira
Editor: Putri Ruqaiyah
![]() |
| Foto: Pexels |
![]() |
| Foto: Pexels |
www.lpmalkalam.com- Malam itu hujan mengguyur Kota Bandung. Lampu jalan memantul di genangan air, seperti serpihan kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai dipungut.
![]() |
| Foto: Pexels |
![]() |
| Foto: Pexels |
Pagi ini, guru wali kelas memberikan tugas sederhana untuk siswa. Seluruh siswa diberikan waktu untuk menuliskan cita-cita mereka pada selembar kertas dan kemudian diceritakan di depan kelas.
Suasana kelas sangat ramai. Teman-teman Zayyan sangat bersemangat menceritakan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi polisi, guru, bahkan pilot. Namun, Zayyan hanya diam sambil menatap kertas kosong di mejanya.
Guru wali kelas menyadari hal itu.
"Kenapa belum ditulis, Yan?" tanyanya.
"Saya takut cita-cita saya terlalu tinggi, Bu," ucap Zayyan sambil menunduk.
"Memangnya apa cita-citamu?"
Zayyan menarik napas pelan sebelum menjawab.
"Saya ingin jadi dokter. Saya ingin membantu orang sakit yang tidak punya biaya, seperti ibu saya."
Ibu guru tersenyum haru. "Gak ada cita-cita yang terlalu tinggi kalau kamu sertai dengan doa dan usaha," ucapnya sambil tersenyum.
Kalimat itu membuat Zayyan kembali bersemangat. Ia mulai menulis cita-citanya dengan penuh keyakinan.
Usai waktu yang diberikan habis, siswa diminta untuk membacakan apa yang mereka tulis di depan kelas.
Hingga tiba giliran Zayyan.
Dengan suara yang sedikit bergetar, Zayyan membacakan tulisannya.
"Saya belajar bahwa pendidikan tidak melihat siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang paling mau belajar dan berusaha. Saya percaya dengan doa dan usaha, suatu hari nanti bisa membawa saya menjadi dokter untuk membantu banyak orang dan membahagiakan keluarga saya."
Suasana kelas menjadi hening, banyak siswa yang tersentuh mendengar kalimat Zayyan.
Usai Zayyan membacakan tulisannya, Ibu guru menghampirinya.
"Jangan pernah berhenti bermimpi ya, Yan. Sekolah akan membantu siswa yang mau berjuang," ujarnya sambil tersenyum.
Hari ini, untuk pertama kalinya Zayyan merasa mimpinya bukanlah hal yang mustahil. Dari bangku paling belakang, Ia yakin bahwa pendidikan bisa membawanya ke masa depan yang menjanjikan.
Penulis: Chalisa Najla Safira
Editor: Tiara Khalisna
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
“Ada apa, Bu?” tanyaku pada ibuku.
“Tetangga kita, Pak Ilyas, pindah rumah. Sekarang Ibu sedang membantu mengangkat barang-barangnya ke truk,” jawab Ibu.
Mendengar jawaban tersebut, aku terkejut. Perasaanku campur aduk. Anak Pak Ilyas, Syifa, adalah sahabatku. Sejak kecil kami selalu bersama hingga sekarang, dan kami sudah saling memahami satu sama lain. Aku langsung bergegas mencarinya yang dari tadi tidak kutemui. Mataku berputar ke seluruh arah, dan kakiku melangkah ke sana kemari untuk mencari sahabatku itu.
“Tan!” Suara yang tidak asing terdengar dari kejauhan. Aku langsung membalikkan badan dan terlihat seorang anak perempuan berlari ke arahku.
“Maafkan aku, Tan,” ucap Syifa sambil meneteskan air mata. “Aku tidak tahu Ayah ditugaskan ke tempat lain, dan kami sekeluarga harus ikut pindah. Aku juga tidak tahu Ayah akan dipindahkan semendadak ini. Maaf ya, Tan, aku tidak sempat mengabarimu.” Syifa berkata sambil mendekat dan memelukku.
Mendengar itu, aku pun tidak sanggup menahan air mata yang sedikit demi sedikit menetes membasahi pipiku. “Emangnya kamu akan pindah ke mana? Apa kamu pindah jauh?” tanyaku sambil mengusap mataku.
“Ayahku akan dipindahkan ke Papua, Tan. Mungkin kita akan sangat jarang bertemu, atau mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi,” jelas Syifa.
“Serius itu? Terus aku gimana? Aku di sini sama siapa? Siapa yang akan selalu ada untukku?” jawabku sambil memeluknya lebih erat.
“Tenang saja, aku selalu ada kok. Kamu pasti terbiasa nanti. Ingat! Kamu jangan cengeng lagi. Kamu harus kuat. Kalau ada masalah, cerita saja sama aku, oke? Aku selalu ada,” jelas Syifa lagi, membuat air mataku semakin deras. Bagaimana tidak, kami dari kecil bersama sampai menginjak SMA. Namun saat kuliah, kami dipisahkan oleh keadaan yang tidak bisa kami kendalikan. Bahkan kami lahir hanya berbeda satu hari. Tidak heran banyak orang mengira kami ini anak kembar.
Syifa adalah anak tunggal, dan keluarganya sudah lama merantau ke desa kami. Ia anak yang sangat baik dan perhatian, meskipun sedikit egois. Tetapi darinya aku banyak belajar tentang banyak hal. Kini kami harus berpisah. Namun aku yakin, beberapa tahun ke depan, kami pasti akan bertemu lagi dengan versi yang lebih baik.
Penulis: Intan Sarifah (Magang)
Editor: Putri Ruqaiyah
![]() |
| Foto: Chalisa Najla Safira (Magang) |
"Aduh." Seorang lelaki terkejut dan menoleh cepat.
Anasera membeku, wajahnya langsung panik. “Eh, maaf! Aku kira nggak ada orang.”
Lelaki itu tidak marah. Hanya menunduk sebentar melihat batu kecil itu, lalu menatap Anasera dengan senyum yang membuat Anasera merasa dunianya hanya terfokus pada wajah tampan di depannya.
Senyum singkat, namun hangat. Hanya itu. Setelah itu, ia pergi begitu saja, menghilang di balik pepohonan.
Mereka tidak saling kenal. Tidak sempat bertanya nama.
Tapi, tatapan itu menetap jauh lebih lama daripada yang Anasera duga.
---
Hari ini, Anasera kembali setelah setahun berlalu. Ke tempat yang sama dengan suasana yang sama pula. Selesai hujan dan disertai awan menggumpal seperti gunung putih. Angin membawa bau basah yang familiar, seolah dunia diam-diam mengulang hari itu untuknya.
Ia berdiri di tempat yang sama, memegang batu kecil yang bentuknya mirip dengan batu lemparannya dulu.
Konyol, pikirnya.
Tapi, ada bagian dari dirinya yang berharap. Jika ia kembali, mungkin pria itu juga.
Ia menatap danau lama. Tidak ada siapa-siapa.
Hanya suara air, angin, dan detak hati yang pelan-pelan merasa kecewa.
Anasera hendak meletakkan batu itu lalu pulang. Namun, sebuah suara menghentikan langkahnya
“Hari ini mau lempar batu lagi? Semoga kali ini bukan ke aku.”
Anasera menoleh. Dan di sana—dia. Lelaki itu.
Dengan senyum yang sama seperti hari pertama, tapi kali ini lebih jelas, lebih dekat, dan lebih nyata.
Anasera refleks menutup wajahnya, malu. “Kamu masih inget itu?”
“Gimana mau lupa, kalau pertemuan pertama kita ninggalin kenangan di kepala?”
Nada suaranya bercanda, tanpa marah sedikit pun.
Mereka sama-sama tertawa canggung, tapi nyaman. Lelaki itu pun berjalan mendekat. Tidak terlalu dekat, hanya cukup untuk membuat Anasera tahu ia senang bertemu lagi.
“Aku balik ke sini dua-tiga kali. Takutnya kamu lempar batu lagi tanpa sengaja,” katanya.
“Berarti kamu… nyari aku?” Anasera bertanya pelan.
Lelaki itu menggaruk tengkuknya, senyumnya melebar.
“Mungkin. Atau mungkin aku cuma suka tempat ini kalau ada kamu.”
"Aku awan," ucapnya.
Danau terasa lebih tenang. Langit tampak lebih terang. Dan hati Anasera rasanya menemukan kembali sesuatu yang sempat ia pikir cuma kebetulan.
Tak ada lagi tatap singkat yang segera hilang. Kali ini, keduanya tinggal lebih lama, seolah sepakat memberi kesempatan pada pertemuan yang dulu terlalu cepat lewat.
Semuanya dimulai dari satu batu yang salah arah dan ternyata membawa arah yang tepat.
Penulis: Chalisa Najla Safira (Magang)
![]() |
| Foto: Muhammad Iftal (Magang) |
Di tengah kota, jalan-jalan mulai ramai. Pedagang kaki lima membuka lapak di pinggir Jalan Merdeka, menjual sarapan khas Aceh: nasi gurih, lontong, dan kopi hitam yang harum. Di warung kopi, para lelaki berkumpul, membahas berita dan berbagi cerita. Bagi warga Lhokseumawe, kopi bukan sekadar minuman, melainkan simbol kebersamaan dan tempat bertukar pikiran.
Namun, di balik keseharian yang tampak damai itu, banyak hal telah berubah. Dahulu, kota ini dikenal dengan julukan Kota Petro Dollar karena kejayaan industri gas alam di Arun. Perekonomian berputar cepat, dan banyak orang datang mencari rezeki. Kini, pipa-pipa besar yang dulu berdiri megah mulai berkarat. Aktivitas industri berkurang, dan sebagian masyarakat kehilangan pekerjaan.
Rahmat, seorang pemuda lulusan universitas, merasakan langsung perubahan itu. Setelah lulus, ia kesulitan mencari pekerjaan tetap. Setiap hari ia mengantar ibunya berjualan di Pasar Inpres, sambil berharap ada lowongan di kantor pemerintahan atau perusahaan kecil yang masih bertahan.
“Sabar saja, Mat,” kata ibunya lembut. “Kota ini masih punya harapan, asal kita tak menyerah.”
Sore hari, Rahmat sering berjalan di sekitar Masjid Islamic Center— bangunan megah yang menjadi kebanggaan warga Lhokseumawe. Di sana, ia melihat anak-anak mengaji, para pedagang menjajakan jajanan, dan wisatawan mengambil foto di halaman masjid. Kehidupan tetap berjalan, meski perlahan.
Di tepi jalan, ia melihat remaja-remaja nongkrong sambil memainkan gitar. Mereka bernyanyi tentang tanah kelahiran, tentang laut yang tenang dan angin yang membawa harapan. Lagu sederhana itu membuat Rahmat tersenyum. Ia sadar, meski kota ini tak lagi sepadat dulu, semangat warganya masih sama. Hangat dan pantang menyerah.
Malam datang perlahan. Lampu-lampu jalan menyala, memantulkan cahaya di genangan air setelah hujan sore tadi. Suara kendaraan mulai berkurang, digantikan oleh deru ombak yang terdengar dari kejauhan. Di rumahnya, Rahmat duduk di teras, memandangi langit Lhokseumawe yang cerah.
“Kota ini sudah berubah,” pikirnya, “Tapi perubahan bukan berarti kehilangan.”
Ia menatap jauh ke arah laut. Di sana, masa lalu dan masa depan seakan bertemu. Lhokseumawe mungkin tak lagi semegah dulu, tetapi kota ini tetap hidup dalam kerja keras, kesabaran, dan harapan orang-orangnya.
Angin laut berhembus lembut, membawa aroma asin dan suara malam yang tenang. Di bawah langit biru yang perlahan gelap, Lhokseumawe tetap berdiri sederhana, kuat, dan penuh kehidupan.
Penulis: Muhammad Iftal (Magang)