Portal Berita Al-Kalam

Ruang Kerinduan

  Foto: Pixabay   www.lpmalkalam.com-  Di dalam kamar, buku-buku usang mengepung malam dengan secangkir kopi, rindu ini tetap gagal kuredam ...

HEADLINE

Latest Post

21 Mei 2026

Arah yang Berbeda

 

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Museum seni dipenuhi dengan temaram lampu dan langkah pelan para pengunjung. Di setiap dinding tergantung lukisan dengan cerita masing-masing.

Sore itu, Kala datang sendirian, hanya untuk menghindari hiruk-pikuk kota dan pikirannya sendiri.

Langkahnya terhenti di depan sebuah lukisan besar.

Lukisan dua ekor burung yang sedang terbang di langit senja. Awalnya terlihat berdampingan, tetapi semakin ke atas, arah terbang mereka mulai berbeda. Yang satu menuju cahaya senja, satunya lagi ke langit gelap yang dipenuhi awan.

Di bawah lukisan itu tertulis:

“Tidak semua perjalanan yang dimulai bersama akan berakhir bahagia.”

Netra Kala terpaku cukup lama sampai suara seseorang terdengar di sampingnya.

“Masih suka ngeliatin lukisan sambil bengong?”

Napas Kala terasa berat sesaat.

Naren.

Nama yang selama ini berusaha Kala kubur dalam-dalam kini berdiri tepat di sampingnya.

Kala menoleh perlahan.Naren menatapnya dengan senyum kecil yang masih sama seperti dulu, hangat.

“Aku kira kamu ga suka museum,” bisik Kala pelan.

“Aku juga kira kamu udah ga suka tempat sepi.”

Mereka tertawa kecil, canggung, sangat canggung.

Sudah hampir tiga tahun sejak hubungan mereka berakhir. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kebencian. Hanya keadaan yang perlahan memaksa mereka berjalan ke arah berbeda, tetapi rasanya lebih menyakitkan dibanding berakhir karena pertengkaran.

Naren harus mengejar mimpinya ke luar kota, sedangkan Kala memilih tetap tinggal demi keluarganya.

Awalnya mereka berjanji akan bertahan.

Tetapi ternyata kadang janji akan kalah oleh jarak, waktu, dan impian yang tinggi.

Kini mereka dipertemukan lagi secara aneh di depan lukisan dua burung yang terbang menjauh satu sama lain.

“Lucu ya,” gumam Naren sambil menatap lukisan itu. “Kayak kita.”

Kala tersenyum tipis.

"Iya, kayak kita. Awalnya jalan bareng tapi harus pisah karena tujuannya beda." 

“Aku sempat benci sama perpisahan kita,” lanjut Kala jujur. “Aku pikir semesta jahat banget.”

Naren diam beberapa detik sebelum akhirnya ikut berkata pelan, “Aku juga.”

Hening kembali datang.

Tetapi kali ini bukan hening yang canggung. Melainkan hening dua orang yang pernah saling mengenal terlalu dalam.

Dari speaker museum tiba-tiba terdengar alunan lagu lembut. Awalnya hanya instrumen pelan, sampai liriknya mengisi ruangan.

“Dipertemukan semesta… walau berakhir tak bahagia…”

Kala langsung menunduk kecil sambil tertawa getir.

“Semestanya nyindir ya?” katanya.

Naren ikut tertawa pelan, meski matanya tampak menyimpan banyak hal yang tidak bisa terucap.

Untuk sesaat, Kala berharap waktu berhenti di sana saja. Di ruangan sunyi itu, di depan lukisan dua burung yang pernah terbang berdampingan sebelum akhirnya memilih arah masing-masing.

Namun mereka sama-sama tahu, beberapa orang memang hanya ditakdirkan bertemu untuk menjadi cerita, bukan bersama selamanya.

Lampu museum mulai diredupkan tanda jam tutup hampir tiba.

“Aku harus pergi,” kata Naren akhirnya.

Kala mengangguk pelan. “Aku juga.”

Mereka berjalan ke arah pintu keluar bersama, tetapi tidak saling menyentuh lagi seperti dulu.

Sesampainya di persimpangan depan museum, langkah mereka berhenti.

“Kala,” panggil Naren.

“Hmm?”

“Makasih ya… pernah jadi rumah.”

Kala tersenyum kecil walau matanya mulai berkaca.

“Kamu juga.”

Setelah itu mereka benar-benar pergi ke arah berbeda. Sama seperti dua burung di dalam lukisan itu.


Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Putri Ruqaiyah

19 Mei 2026

Bunga di Ujung Musim

Foto: Pexels 
www.alkalam.com- Pada suatu hari, di sebuah desa kecil, hiduplah seorang gadis yang bernama Alina yang sangat menyukai bunga. Setiap pagi ia selalu menyiram tanaman di halaman rumahnya dengan penuh perhatian, namun dari sekian banyak bunga yang ia tanam hanya satu yang paling dia sukai, yaitu sebuah bunga kecil berwarna kuning yang tumbuh di sudut taman.

Bunga itu tampak berbeda karena tidak seindah mawar, tidak seharum melati, dan sering kali layu saat musim kemarau datang. Namun setiap kali hujan pertama turun, bunga itu selalu mekar kembali dengan lebih indah dari sebelumnya.

Suatu hari, Alina merasa sedih karena gagal dalam sebuah perlombaan yang sangat ia harapkan, ia duduk termenung di dekat taman memandangi bunga kuning kesayangannya yang tampak layu. 

"Kenapa kamu masih bertahan?" bisiknya pelan. 

Beberapa hari kemudian, hujan turun deras setelah kemarau panjang. Alina berlari keluar rumah dan melihat bunga itu kembali mekar bahkan lebih cerah dari sebelumnya. Saat itu ia tersadar bahwa bunga kecil itu mengandung sebuah pelajaran penting baginya.

Bunga itu mengajarkan bahwa kegagalan dan kesulitan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses untuk tumbuh lebih kuat, seperti bunga yang layu lalu mekar kembali. Manusia pun bisa bangkit setelah jatuh. 

Sejak saat itu, Alina tidak lagi mudah menyerah, ia percaya bahwa setiap kesulitan yang ia hadapi adalah "musim kemarau" yang akan berlalu, dan suatu saat ia akan "mekar" kembali dengan lebih baik. 

Setiap kesulitan dalam hidup mengandung pelajaran dan harapan. Jangan menyerah karena setelah masa sulit akan selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali.


Penulis: Zilfira

Editor: Chalisa Najla Safira

13 Mei 2026

Malam, Hujan, dan Tangis yang Disembunyikan

Foto: Pexels 


www.lpmalkalam.comMalam itu hujan mengguyur Kota Bandung. Lampu jalan memantul di genangan air, seperti serpihan kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai dipungut.

Di halte tua dekat kampus, seorang gadis duduk sendiri sambil memeluk tasnya erat.

Namanya Kanaya.

Sudah hampir dua jam ia berada di sana, bukan karena menunggu seseorang, melainkan karena tidak tahu harus pulang ke mana dalam keadaan hatinya yang begitu berantakan.

Hari itu dosennya kembali menolak proposal skripsinya. Orang tuanya di rumah terus menanyakan kapan ia lulus. Teman-temannya satu per satu mulai sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Dan orang yang dulu selalu menjadi tempat pulangnya bahkan kini tidak lagi menanyakan bagaimana kabarnya.

Kadang hidup terasa aneh.
Kita tumbuh sambil kehilangan banyak hal, lalu dipaksa tetap berjalan seolah semuanya baik-baik saja.

Naya menatap langit gelap. Hujan belum juga berhenti.

“Aku capek,” bisiknya lirih, nyaris kalah oleh suara hujan. Kalimat sederhana yang selama ini selalu ia telan sendiri.

Di samping halte, ada seorang pria penjual kopi yang masih membuka gerobaknya. Uap panas dari cangkir kopi naik perlahan menembus dingin malam.

“Kenapa belum pulang?” tanyanya.

Naya hanya tersenyum kecil.

“Kadang orang bukan nggak mau pulang,” lanjut pria itu sambil menuang kopi. “Mereka cuma belum siap kalau setelah perjalanan sejauh ini, ternyata nggak ada lagi tempat yang bisa dipanggil rumah.”

Kalimat itu menghantam dada Naya begitu saja. Karena ternyata benar, yang paling melelahkan bukan tugas kuliah, bukan revisi, bukan pula hujan panjang malam itu.

Melainkan perasaan bahwa tak lagi punya tempat untuk dimengerti.

Naya menunduk. Matanya mulai panas. Ia selalu terlihat kuat di hadapan semua orang. Selalu berusaha jadi pendengar yang baik. Selalu bilang, “Aku nggak apa-apa,” bahkan ketika isi kepalanya berisik sepanjang malam.

Tak ada yang tahu betapa sering ia menangis diam-diam di kamarnya agar suaranya tidak terdengar.

Tak ada yang tahu kalau akhir-akhir ini ia bahkan malas membuka media sosial karena hidup orang lain terlihat begitu menyenangkan, sementara ia merasa dirinya tidak seberuntung itu.

“Nangis boleh kok,” kata pria itu pelan. “Manusia bukan robot.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Naya menangis tanpa menahannya sedikit pun.

Hujan masih turun. Kendaraan masih berlalu lalang. Orang-orang masih sibuk dengan urusannya. Tetapi malam itu, di halte kecil yang hampir terlupakan, ada seseorang yang akhirnya jujur pada dirinya sendiri bahwa ia lelah.

Beberapa menit kemudian, tangis Naya mulai mereda. Ia menghapus air matanya pelan.

“Kalau hidup seberat ini … nanti bakal membaik nggak, ya?”

Pria itu tersenyum kecil.

“Hujan aja tahu kapan harus berhenti. Masa luka manusia nggak sih?”

Naya terdiam.

Mungkin hidup tidak selalu menghadiahkan jawaban cepat. Kadang yang bisa dilakukan hanya bertahan dan terus melangkah.

Dan mungkin, dewasa memang tentang belajar menerima bahwa tidak semua kehilangan harus kembali, tidak semua luka harus segera sembuh. Beberapa rasa sakit hanya akan berubah menjadi bagian dari diri kita.

Malam semakin larut. Hujan mulai mereda.

Naya berdiri perlahan sambil menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Tidak sepenuhnya sembuh, namun tidak sepenuhnya membaik juga. Tapi setidaknya, cukup untuk melanjutkan hidupnya esok hari.


Penulis: Julia Sabela



Editor: Chalisa Najla Safira




08 Mei 2026

Sepasang Sepatu Usang dan Mimpi yang Tak Pernah Padam

 

Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com- Pagi itu, suasana di SMA Nusa Bangsa terlihat lebih ramai dari biasanya. Siswa-siswi berlarian di lapangan dengan semangat. Di tengah keramaian itu, tampak seorang siswa justru berjalan pelan sambil menunduk. Ia adalah Andre. Sepatu yang dipakainya tampak usang dengan tali yang hampir putus. 

Andre berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai sopir angkot, sedangkan ibunya pedagang kue kecil-kecilan di rumah. Keadaan itu sering membuat Andre merasa minder dengan teman-temannya. 

"Kenapa murung gitu, Dre?" tanya Raka, sahabatnya. 

Andre tersenyum kecil. "Kadang aku malu, Rak. Sepatuku begini, buku tugasku juga belum lengkap."

Raka menepuk pundaknya pelan. "Bukan soal apa yang kamu pakai, tapi sejauh mana kamu mau berjuang."

Ucapan itu membuat Andre terdiam. 

Dua hari lagi sekolah akan mengadakan lomba pidato antarsiswa. Pemenangnya akan menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti perlombaan tingkat kota. Melihat pengumuman di mading, Raka langsung menoleh ke arah Andre. 

"Kamu ikut, kan?"

Andre menggeleng cepat. "Aku nggak mungkin menang. Banyak yang lebih hebat, Rak."

"Jangan ngeremehin diri sendiri. Kamu punya kemampuan berbicara yang bagus," balas Raka yakin. 

Awalnya Andre ragu, tetapi akhirnya ia memberanikan diri untuk mendaftar. 

Tepat di hari perlombaan dimulai, aula sekolah terasa menegangkan. Satu per satu peserta tampil membawakan pidatonya. Andre yang duduk di kursi peserta terus menggenggam kertas dengan tangan gemetar. 

Ketika nomor undiannya dipanggil, ia berjalan perlahan menuju podium. Napasnya terasa berat. 

"Saya percaya..." ucap Andre pelan, "...bahwa mimpi tidak pernah memilih siapa yang pantas. Kadang justru mereka yang berjalan dengan keterbatasan adalah orang-orang yang paling kuat bertahan."

Suasana aula mendadak hening. 

Semakin lama suara Andre terdengar semakin mantap. Kata demi kata keluar dengan penuh keyakinan. Semua siswa memperhatikannya dengan serius, sementara beberapa guru terlihat tersenyum bangga dari bangku belakang. 

Saat pengumuman pemenang tiba, Andre hanya bisa menunduk pasrah. 

"Juara pertama lomba pidato diraih oleh...
Andre Bagaskara!"

Tepuk tangan langsung memenuhi aula. Andre terpaku sesaat, seolah tidak percaya namanya dipanggil. Raka berdiri paling depan sambil bersorak bangga. 

"Selamat, Dre!"

Andre tersenyum haru. Untuk pertama kalinya, ia merasa dirinya benar-benar berarti. 

Sebelum pulang, Pak Angga menghampirinya. 

"Kamu anak hebat, Andre," ujarnya. "Jangan pernah malu dengan keadaanmu. Tidak semua orang yang hidup sederhana kehilangan kesempatan untuk berhasil."

Andre mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. 

Hari itu, Andre belajar satu hal penting. Terkadang mimpi besar memang lahir dari langkah-langkah kecil dan perjuangan yang tiada henti.


Penulis: Julia Sabela


Editor: Chalisa Najla Safira

06 Mei 2026

Mimpi dari Bangku Paling Belakang

Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com- Zayyan, siswa yang selalu duduk di bangku paling belakang. Bukan karena malas, tetapi karena Zayyan sering datang terlambat ke sekolah sebab harus membantu ibunya menyiapkan jualan di pasar terlebih dahulu. 

Pagi ini, guru wali kelas memberikan tugas sederhana untuk siswa. Seluruh siswa diberikan waktu untuk menuliskan cita-cita mereka pada selembar kertas dan kemudian diceritakan di depan kelas. 

Suasana kelas sangat ramai. Teman-teman Zayyan sangat bersemangat menceritakan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi polisi, guru, bahkan pilot. Namun, Zayyan hanya diam sambil menatap kertas kosong di mejanya.

Guru wali kelas menyadari hal itu.

"Kenapa belum ditulis, Yan?" tanyanya.

"Saya takut cita-cita saya terlalu tinggi, Bu," ucap Zayyan sambil menunduk.

"Memangnya apa cita-citamu?" 

Zayyan menarik napas pelan sebelum menjawab.

"Saya ingin jadi dokter. Saya ingin membantu orang sakit yang tidak punya biaya, seperti ibu saya."

Ibu guru tersenyum haru. "Gak ada cita-cita yang terlalu tinggi kalau kamu sertai dengan doa dan usaha," ucapnya sambil tersenyum.

Kalimat itu membuat Zayyan kembali bersemangat. Ia mulai menulis cita-citanya dengan penuh keyakinan.

Usai waktu yang diberikan habis, siswa diminta untuk membacakan apa yang mereka tulis di depan kelas.

Hingga tiba giliran Zayyan.

Dengan suara yang sedikit bergetar, Zayyan membacakan tulisannya.

"Saya belajar bahwa pendidikan tidak melihat siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang paling mau belajar dan berusaha. Saya percaya dengan doa dan usaha, suatu hari nanti bisa membawa saya menjadi dokter untuk membantu banyak orang dan membahagiakan keluarga saya." 

Suasana kelas menjadi hening, banyak siswa yang tersentuh mendengar kalimat Zayyan.

Usai Zayyan membacakan tulisannya, Ibu guru menghampirinya.

"Jangan pernah berhenti bermimpi ya, Yan. Sekolah akan membantu siswa yang mau berjuang," ujarnya sambil tersenyum.

Hari ini, untuk pertama kalinya Zayyan merasa mimpinya bukanlah hal yang mustahil. Dari bangku paling belakang, Ia yakin bahwa pendidikan bisa membawanya ke masa depan yang menjanjikan.


Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Tiara Khalisna

25 November 2025

Belajar dari Perbedaan

Foto: Pixabay.com

www.lpmalkalam.com- Pagi-pagi sudah terdengar suara bising di depan rumahku, sehingga membuatku terbangun. Aku langsung melihat jam, lalu segera bangun dari tempat tidur dan menuju sumber suara itu. Di sana sudah ada ayahku, kakakku, ibuku, dan beberapa warga lainnya yang sedang berkumpul.

“Ada apa, Bu?” tanyaku pada ibuku.

“Tetangga kita, Pak Ilyas, pindah rumah. Sekarang Ibu sedang membantu mengangkat barang-barangnya ke truk,” jawab Ibu.

Mendengar jawaban tersebut, aku terkejut. Perasaanku campur aduk. Anak Pak Ilyas, Syifa, adalah sahabatku. Sejak kecil kami selalu bersama hingga sekarang, dan kami sudah saling memahami satu sama lain. Aku langsung bergegas mencarinya yang dari tadi tidak kutemui. Mataku berputar ke seluruh arah, dan kakiku melangkah ke sana kemari untuk mencari sahabatku itu.

“Tan!” Suara yang tidak asing terdengar dari kejauhan. Aku langsung membalikkan badan dan terlihat seorang anak perempuan berlari ke arahku.

“Maafkan aku, Tan,” ucap Syifa sambil meneteskan air mata. “Aku tidak tahu Ayah ditugaskan ke tempat lain, dan kami sekeluarga harus ikut pindah. Aku juga tidak tahu Ayah akan dipindahkan semendadak ini. Maaf ya, Tan, aku tidak sempat mengabarimu.” Syifa berkata sambil mendekat dan memelukku.

Mendengar itu, aku pun tidak sanggup menahan air mata yang sedikit demi sedikit menetes membasahi pipiku. “Emangnya kamu akan pindah ke mana? Apa kamu pindah jauh?” tanyaku sambil mengusap mataku.

“Ayahku akan dipindahkan ke Papua, Tan. Mungkin kita akan sangat jarang bertemu, atau mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi,” jelas Syifa.

“Serius itu? Terus aku gimana? Aku di sini sama siapa? Siapa yang akan selalu ada untukku?” jawabku sambil memeluknya lebih erat.

“Tenang saja, aku selalu ada kok. Kamu pasti terbiasa nanti. Ingat! Kamu jangan cengeng lagi. Kamu harus kuat. Kalau ada masalah, cerita saja sama aku, oke? Aku selalu ada,” jelas Syifa lagi, membuat air mataku semakin deras. Bagaimana tidak, kami dari kecil bersama sampai menginjak SMA. Namun saat kuliah, kami dipisahkan oleh keadaan yang tidak bisa kami kendalikan. Bahkan kami lahir hanya berbeda satu hari. Tidak heran banyak orang mengira kami ini anak kembar.

Syifa adalah anak tunggal, dan keluarganya sudah lama merantau ke desa kami. Ia anak yang sangat baik dan perhatian, meskipun sedikit egois. Tetapi darinya aku banyak belajar tentang banyak hal. Kini kami harus berpisah. Namun aku yakin, beberapa tahun ke depan, kami pasti akan bertemu lagi dengan versi yang lebih baik.


Penulis: Intan Sarifah (Magang)

Editor: Putri Ruqaiyah

Awan Anasera

Foto: Chalisa Najla Safira (Magang)

www.lpmalkalam.com- Awan besar menggantung di atas danau, sama seperti hari ketika semuanya dimulai. Hari ketika Anasera, tanpa sengaja melempar batu terlalu jauh. Seharusnya, batu itu masuk ke air. Tapi tidak. Batu itu malah memantul ke suatu objek yang mengeluarkan suara.

"Aduh." Seorang lelaki terkejut dan menoleh cepat. 

Anasera membeku, wajahnya langsung panik. “Eh, maaf! Aku kira nggak ada orang.”

Lelaki itu tidak marah. Hanya menunduk sebentar melihat batu kecil itu, lalu menatap Anasera dengan senyum yang membuat Anasera merasa dunianya hanya terfokus pada wajah tampan di depannya. 

Senyum singkat, namun hangat. Hanya itu. Setelah itu, ia pergi begitu saja, menghilang di balik pepohonan.

Mereka tidak saling kenal. Tidak sempat bertanya nama.

Tapi, tatapan itu menetap jauh lebih lama daripada yang Anasera duga.

---

Hari ini, Anasera kembali setelah setahun berlalu. Ke tempat yang sama dengan suasana yang sama pula. Selesai hujan dan disertai awan menggumpal seperti gunung putih. Angin membawa bau basah yang familiar, seolah dunia diam-diam mengulang hari itu untuknya.

Ia berdiri di tempat yang sama, memegang batu kecil yang bentuknya mirip dengan batu lemparannya dulu.

Konyol, pikirnya.

Tapi, ada bagian dari dirinya yang berharap. Jika ia kembali, mungkin pria itu juga.

Ia menatap danau lama. Tidak ada siapa-siapa.

Hanya suara air, angin, dan detak hati yang pelan-pelan merasa kecewa.

Anasera hendak meletakkan batu itu lalu pulang. Namun, sebuah suara menghentikan langkahnya 

“Hari ini mau lempar batu lagi? Semoga kali ini bukan ke aku.”

Anasera menoleh. Dan di sana—dia. Lelaki itu.

Dengan senyum yang sama seperti hari pertama, tapi kali ini lebih jelas, lebih dekat, dan lebih nyata.

Anasera refleks menutup wajahnya, malu. “Kamu masih inget itu?”

“Gimana mau lupa, kalau pertemuan pertama kita ninggalin kenangan di kepala?”

Nada suaranya bercanda, tanpa marah sedikit pun.

Mereka sama-sama tertawa canggung, tapi nyaman. Lelaki itu pun berjalan mendekat. Tidak terlalu dekat, hanya cukup untuk membuat Anasera tahu ia senang bertemu lagi.

“Aku balik ke sini dua-tiga kali. Takutnya kamu lempar batu lagi tanpa sengaja,” katanya.

“Berarti kamu… nyari aku?” Anasera bertanya pelan.

Lelaki itu menggaruk tengkuknya, senyumnya melebar.

“Mungkin. Atau mungkin aku cuma suka tempat ini kalau ada kamu.”

"Aku awan," ucapnya.

Danau terasa lebih tenang. Langit tampak lebih terang. Dan hati Anasera rasanya menemukan kembali sesuatu yang sempat ia pikir cuma kebetulan.

Tak ada lagi tatap singkat yang segera hilang. Kali ini, keduanya tinggal lebih lama, seolah sepakat memberi kesempatan pada pertemuan yang dulu terlalu cepat lewat.

Semuanya dimulai dari satu batu yang salah arah dan ternyata membawa arah yang tepat.


Penulis: Chalisa Najla Safira (Magang)

Editor: Tiara Khalisna
 

31 Oktober 2025

Keadaan di Kota Lhokseumawe

Foto: Muhammad Iftal (Magang)

www.lpmalkalam.com- Pagi menyapa Kota Lhokseumawe dengan semilir angin dari Laut Ujong Blang. Di tepi pantai, para nelayan mulai menyiapkan perahu. Burung camar berputar di udara, seolah ikut menyemangati mereka. Suara azan Subuh dari masjid-masjid kecil menggema di udara, mengiringi awal hari yang baru di kota kecil di pesisir utara Aceh ini.

Di tengah kota, jalan-jalan mulai ramai. Pedagang kaki lima membuka lapak di pinggir Jalan Merdeka, menjual sarapan khas Aceh: nasi gurih, lontong, dan kopi hitam yang harum. Di warung kopi, para lelaki berkumpul, membahas berita dan berbagi cerita. Bagi warga Lhokseumawe, kopi bukan sekadar minuman, melainkan simbol kebersamaan dan tempat bertukar pikiran.

Namun, di balik keseharian yang tampak damai itu, banyak hal telah berubah. Dahulu, kota ini dikenal dengan julukan Kota Petro Dollar karena kejayaan industri gas alam di Arun. Perekonomian berputar cepat, dan banyak orang datang mencari rezeki. Kini, pipa-pipa besar yang dulu berdiri megah mulai berkarat. Aktivitas industri berkurang, dan sebagian masyarakat kehilangan pekerjaan.

Rahmat, seorang pemuda lulusan universitas, merasakan langsung perubahan itu. Setelah lulus, ia kesulitan mencari pekerjaan tetap. Setiap hari ia mengantar ibunya berjualan di Pasar Inpres, sambil berharap ada lowongan di kantor pemerintahan atau perusahaan kecil yang masih bertahan.

“Sabar saja, Mat,” kata ibunya lembut. “Kota ini masih punya harapan, asal kita tak menyerah.”

Sore hari, Rahmat sering berjalan di sekitar Masjid Islamic Center— bangunan megah yang menjadi kebanggaan warga Lhokseumawe. Di sana, ia melihat anak-anak mengaji, para pedagang menjajakan jajanan, dan wisatawan mengambil foto di halaman masjid. Kehidupan tetap berjalan, meski perlahan.

Di tepi jalan, ia melihat remaja-remaja nongkrong sambil memainkan gitar. Mereka bernyanyi tentang tanah kelahiran, tentang laut yang tenang dan angin yang membawa harapan. Lagu sederhana itu membuat Rahmat tersenyum. Ia sadar, meski kota ini tak lagi sepadat dulu, semangat warganya masih sama. Hangat dan pantang menyerah.

Malam datang perlahan. Lampu-lampu jalan menyala, memantulkan cahaya di genangan air setelah hujan sore tadi. Suara kendaraan mulai berkurang, digantikan oleh deru ombak yang terdengar dari kejauhan. Di rumahnya, Rahmat duduk di teras, memandangi langit Lhokseumawe yang cerah.

“Kota ini sudah berubah,” pikirnya, “Tapi perubahan bukan berarti kehilangan.”

Ia menatap jauh ke arah laut. Di sana, masa lalu dan masa depan seakan bertemu. Lhokseumawe mungkin tak lagi semegah dulu, tetapi kota ini tetap hidup dalam kerja keras, kesabaran, dan harapan orang-orangnya.

Angin laut berhembus lembut, membawa aroma asin dan suara malam yang tenang. Di bawah langit biru yang perlahan gelap, Lhokseumawe tetap berdiri sederhana, kuat, dan penuh kehidupan.


Penulis: Muhammad Iftal (Magang)

Editor: Putri Ruqaiyah
 

28 Oktober 2025

Aachen City

Foto: Pixabay.com

www.lpmalkalam.com- Pagi itu, matahari bersinar cerah di Kota Aachen. Jalanan mulai ramai, suara burung berkicau, dan aroma kopi terhembus dari kedai di pojokan jalan. Suasananya hangat memenuhi kota tersebut. 

Fatiha, perempuan berhijab syar'i, sedang berjalan menuju kampus, FH Aachen University of Applied Sciences, kampus yang berfokus di bidang teknologi dan sains. Hari itu, ia sangat bersemangat dikarenakan adanya beberapa agenda yang akan dikerjakannya. 

Sebelum berangkat, Fatiha menyempatkan diri membaca basmallah, ia berharap harinya berjalan lancar. Dengan wajah ceria, ia berjalan sambil bersenandung kecil sampai akhirnya sampai di gedung perkuliahan yang menjulang tinggi. 

Sekarang Fatiha sudah semester lima. Tugasnya sangat banyak dan harus segera diselesaikan. Begitu masuk kelas, dia langsung membuka buku dan mencatat hal-hal penting yang dijelaskan oleh dosennya.

Selama tinggal dan berkuliah di Eropa, Fatiha memiliki banyak teman dari berbagai negara dan agama. Walaupun begitu, dia tetap berusaha menjalani hidup sesuai ajaran Islam seperti salat, berpakaian sopan, dan tetap menjaga sikap. Dari pengalaman itu, dia belajar banyak hal baru dan menjadi lebih terbuka perihal cara berpikir. Bahkan, sekarang dia bisa menyukai hal-hal yang dulu tidak ia minati.

Dua jam kemudian, kelasnya selesai. Fatiha lanjut mengikuti kelas tambahan dan mengerjakan tugas yang menumpuk. Setelah itu baru deh dia mutusin buat pulang.

Di dalam perjalanan pulang, ia melihat seorang nenek yang kelihatan kesusahan membawa barang-barangnya. Fatiha langsung menghampiri dan menawarkan bantuan.

“Nenek, mau saya bantu?” ucapnya. 

Awalnya nenek itu menolak seraya tersenyum, namun Fatiha tetep ngotot untuk membantunya dengan nada sopan. Akhirnya nenek tersebut mengalah dan mengizinkan Fatiha untuk membantunya. Sepanjang jalan mereka mengobrol santai, sesekali tertawa kecil. Tidak terasa, mereka sudah tiba di rumah sang nenek.

Sebagai tanda terima kasih, nenek tersebut memberikan Fatiha makanan kecil. Awalnya Fatiha menolak, namun karena memang lapar, akhirnya dia terima juga. Setelah pamit, Fatiha merasa sangat bahagia karena sudah bisa membantu orang lain. Dalam hati, dia berdoa semoga Allah juga membantu dirinya jikalau suatu saat dia dalam kesusahan.

Saat melanjutkan perjalanan pulang, matanya tertuju ke sebuah toko roti di sudut jalan. Di papan namanya tertulis “Boulangerie Maison,” yang artinya “Rumah Roti” dalam bahasa Prancis.

Fatiha langsung tersenyum, sudah sangat lama ia tidak mampir ke sana. Begitu masuk, aroma roti dari langsung membuat perutnya keroncongan.

“Wah, wanginya bikin makin laper aja,” gumamnya.

Dia duduk di kursi panjang di pojok ruangan, lalu menikmati roti dan coffee caramel favoritnya sambil menggoyang-goyangkan kaki saking senangnya. Setelah kenyang dan capek mulai terasa, dia pun pulang ke apartemen.

Malamnya, Fatiha menjalani rutinitas seperti biasa sebelum tidur. Nggak lama kemudian, dia pun terlelap, sementara Kota Aachen kembali diselimuti malam dan menunggu pagi berikutnya.


Penulis: Luthfiatil Syaqirah (Magang)

Editor: Zuhra

 

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.