Portal Berita Al-Kalam

Malam, Hujan, dan Tangis yang Disembunyikan

  Foto: Pixels www.lpmalkalam.com -  Malam, Hujan, dan Tangis yang Disembunyikan Malam itu hujan mengguyur Kota Bandung. Lampu jalan memantu...

HEADLINE

Latest Post

13 Mei 2026

Malam, Hujan, dan Tangis yang Disembunyikan

 

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com

Malam, Hujan, dan Tangis yang Disembunyikan

Malam itu hujan mengguyur Kota Bandung. Lampu jalan memantul di genangan air, seperti serpihan kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai dipungut.

Di halte tua dekat kampus, seorang gadis duduk sendiri sambil memeluk tasnya erat.

Namanya Kanaya.

Sudah hampir dua jam ia berada di sana, bukan karena menunggu seseorang, melainkan karena tidak tahu harus pulang ke mana dalam keadaan hatinya yang begitu berantakan.

Hari itu dosennya kembali menolak proposal skripsinya. Orang tuanya di rumah terus menanyakan kapan ia lulus. Teman-temannya satu per satu mulai sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Dan orang yang dulu selalu menjadi tempat pulangnya bahkan kini tidak lagi menanyakan bagaimana kabarnya.

Kadang hidup terasa aneh.
Kita tumbuh sambil kehilangan banyak hal, lalu dipaksa tetap berjalan seolah semuanya baik-baik saja.

Naya menatap langit gelap. Hujan belum juga berhenti.

“Aku capek,” bisiknya lirih, nyaris kalah oleh suara hujan. Kalimat sederhana yang selama ini selalu ia telan sendiri.

Di samping halte, ada seorang pria penjual kopi yang masih membuka gerobaknya. Uap panas dari cangkir kopi naik perlahan menembus dingin malam.

“Kenapa belum pulang?” tanyanya.

Naya hanya tersenyum kecil.

“Kadang orang bukan nggak mau pulang,” lanjut pria itu sambil menuang kopi. “Mereka cuma belum siap kalau setelah perjalanan sejauh ini, ternyata nggak ada lagi tempat yang bisa dipanggil rumah.”

Kalimat itu menghantam dada Naya begitu saja. Karena ternyata benar, yang paling melelahkan bukan tugas kuliah, bukan revisi, bukan pula hujan panjang malam itu.

Melainkan perasaan bahwa tak lagi punya tempat untuk dimengerti.

Naya menunduk. Matanya mulai panas. Ia selalu terlihat kuat di hadapan semua orang. Selalu berusaha jadi pendengar yang baik. Selalu bilang, “Aku nggak apa-apa,” bahkan ketika isi kepalanya berisik sepanjang malam.

Tak ada yang tahu betapa sering ia menangis diam-diam di kamarnya agar suaranya tidak terdengar.

Tak ada yang tahu kalau akhir-akhir ini ia bahkan malas membuka media sosial karena hidup orang lain terlihat begitu menyenangkan, sementara ia merasa dirinya tidak seberuntung itu.

“Nangis boleh kok,” kata pria itu pelan. “Manusia bukan robot.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Naya menangis tanpa menahannya sedikit pun.

Hujan masih turun. Kendaraan masih berlalu lalang. Orang-orang masih sibuk dengan urusannya. Tetapi malam itu, di halte kecil yang hampir terlupakan, ada seseorang yang akhirnya jujur pada dirinya sendiri bahwa ia lelah.

Beberapa menit kemudian, tangis Naya mulai mereda. Ia menghapus air matanya pelan.

“Kalau hidup seberat ini … nanti bakal membaik nggak, ya?”

Pria itu tersenyum kecil.

“Hujan aja tahu kapan harus berhenti. Masa luka manusia nggak sih?”

Naya terdiam.

Mungkin hidup tidak selalu menghadiahkan jawaban cepat. Kadang yang bisa dilakukan hanya bertahan dan terus melangkah.

Dan mungkin, dewasa memang tentang belajar menerima bahwa tidak semua kehilangan harus kembali, tidak semua luka harus segera sembuh. Beberapa rasa sakit hanya akan berubah menjadi bagian dari diri kita.

Malam semakin larut. Hujan mulai mereda.

Naya berdiri perlahan sambil menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Tidak sepenuhnya sembuh, namun tidak sepenuhnya membaik juga. Tapi setidaknya, cukup untuk melanjutkan hidupnya esok hari.


Penulis: Julia Sabela


Editor: Chalisa Najla Safira




banner
Previous Post
Next Post
Comments
0 Comments

0 comments:

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.