![]() |
| Foto: M. Rahul Gonzales |
www.lpmalkalam.com- Buat apa kuliah? Capek, buang waktu, uang, tenaga hanya untuk mendengar dosen, mengerjakan tugas, dan presentasi. Setelah lulus pun belum tentu dapat pekerjaan.”
Pandangan seperti ini semakin sering terdengar, terlebih ketika masih banyak sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan. Namun, apakah kuliah benar-benar hanya tentang ijazah dan pekerjaan?
Kuliah sejatinya bukan sekadar duduk di ruang kelas. Perguruan tinggi menjadi tempat seseorang belajar berpikir kritis, melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, mengatur waktu, berdiskusi, menerima perbedaan pendapat, serta mencari solusi secara matang. Pengalaman berorganisasi, intra maupun ekstra kampus, juga mengajarkan kepemimpinan, komunikasi, tanggung jawab, dan membangun jejaring dengan berbagai kalangan.
Kuliah tidak menjamin seseorang langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Gelar akademik bukan tiket otomatis menuju kesuksesan. Dunia kerja juga membutuhkan keterampilan, pengalaman, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar.
Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar “apakah kuliah itu scam?” tetapi “untuk apa kita kuliah?” jika hanya mengejar ijazah, mungkin kuliah terasa seperti pemborosan. Tetapi, kalau dimanfaatkan untuk membentuk pola pikir, karakter, keterampilan, dan jaringan, kuliah merupakan investasi jangka panjang.
Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya tentang mencari pekerjaan, tetapi tentang mempersiapkan diri agar mampu menghadapi kehidupan. Kuliah mungkin tidak menjamin kesuksesan, tetapi bagaimana seseorang menjalani proses di dalamnya dapat menentukan sejauh mana ia siap menciptakan peluang untuk masa depannya.
Penulis: Daffa Alkausar
Editor: Zahratul
