![]() |
| Foto: Pixels |
Pernahkah kau mendengar angin berbisik di telingamu?
Suara bagaikan gelombang air yang memerdukan telinga
Sang pengalih dari kenyataan pahit
Membuatku berada dalam lamunan indahmu
Mata cokelatku memandangi birumu
Wahai samudra, seberapa dalam dirimu?
Sudah berapa banyak yang engkau telan?
Kau begitu indah
Namun, menyimpan terlalu banyak rahasia
Hingga membuatku ragu untuk mengenalmu terlalu dalam
Bulan dan matahari
Mengapa hanya bintang-bintang itu yang berani tenggelam di laut cantikmu?
Bulan dapat mengendalikan caramu bertindak
Matahari membuatmu terlihat lebih menawan, memanjakan mataku
Wahai samudraku, sangat ingin rasanya aku mengenalmu lebih dalam
Sayangnya, fanaku tak akan sanggup menggapai dasarmu
Aku terkikis, tercekik saat mencoba mengenalmu lebih dalam
Mengapa? Mengapa aku tak bisa mengerti wujud dirimu yang sebenarnya
Wahai samudraku?
Aku seakan tersesat di dalam kedalaman birumu
Aku tenggelam begitu jauh
Salahkah jika aku ingin mengenalmu lebih dalam?
Kini, aku mengerti
Dirimu begitu penuh misteri
Tetapi terlihat begitu memesona pada saat yang bersamaan
Tak akan mampu aku kembali menyelam ke kedalamanmu
Dirimu yang memesona masih bisa kupandang melalui cermin yang berbeda
Tak akan pernah kulupakan caramu memanjakan telingaku
Caramu membuatku lupa akan kenyataan pahit ini, samudraku
Suara desiran ombak birumu membuatku nyaman
Oh, samudraku,
Engkau begitu indah, seperti namamu
Penulis: Rahma Salsabila (Magang)
Editor: Zahratul
