Portal Berita Al-Kalam

Globalisasi Pendidikan dan Krisis Identitas: Urgensi Strategi Selektif Berbasis Melayu Islam Beraja (MIB) di Brunei Darussalam

  Foto: Pexels  www.lpmalkalam.com- Penulis; Naufal El Fany, Muhammad Fahri Husaezi, Haura Lailatul Fitrah, Intan Sohipah, Azifah Azzrah, Na...

HEADLINE

Latest Post

04 Mei 2026

Globalisasi Pendidikan dan Krisis Identitas: Urgensi Strategi Selektif Berbasis Melayu Islam Beraja (MIB) di Brunei Darussalam

 

Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com-

Penulis; Naufal El Fany, Muhammad Fahri Husaezi, Haura Lailatul Fitrah, Intan Sohipah, Azifah Azzrah, Nadya Alfianuri Fauziah, Euis Ratna Hikmatussufa

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pendidikan tradisional dalam menjaga identitas nasional Brunei Darussalam yang berlandaskan falsafah Melayu Islam Beraja (MIB), serta mengkaji tantangan globalisasi terhadap sistem pendidikan Islam. Globalisasi mendorong perubahan dalam metode, kurikulum, dan orientasi pendidikan ke arah yang lebih pragmatis dan berorientasi pasar, yang berpotensi memicu pergeseran nilai moral dan spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), melalui analisis berbagai literatur yang relevan. Data diperoleh dari sumber primer berupa artikel ilmiah tentang pendidikan Islam di Brunei, serta sumber sekunder terkait globalisasi dan ideologi pendidikan. Analisis dilakukan dengan teknik content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan tradisional berperan sebagai penjaga identitas nasional melalui pembentukan adab, karakter, dan nilai spiritual yang berbasis relasi guru–murid yang kuat. Namun, globalisasi berpotensi menghadirkan tantangan berupa penetrasi ideologi sekuler, pergeseran orientasi pendidikan, serta risiko disrupsi moral dan etika. Hal ini menunjukkan adanya ketegangan antara nilai tradisional dan pengaruh global dalam sistem pendidikan. Kesimpulannya, diperlukan strategi selektif dalam mengadopsi inovasi global agar tetap selaras dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, sistem pendidikan di Brunei Darussalam dapat tetap adaptif tanpa kehilangan identitas dan integritas keislamannya.

Kata kunci: Pendidikan tradisional, globalisasi, identitas nasional, Melayu Islam Beraja, pendidikan Islam.

ABSTRACT

This study aims to analyze the role of traditional education in preserving the national identity of Brunei Darussalam, which is grounded in the philosophy of Malay Islamic Monarchy (MIB), as well as to examine the challenges of globalization on the Islamic education system. Globalization has driven changes in educational methods, curricula, and orientations toward more pragmatic and market-oriented approaches, which potentially lead to shifts in moral and spiritual values. This research employs a qualitative approach using a library research method, through the analysis of relevant literature. The data are derived from primary sources in the form of scholarly articles on Islamic education in Brunei, as well as secondary sources related to globalization and educational ideology. The data are analyzed using content analysis techniques. The findings indicate that traditional education plays a crucial role in maintaining national identity through the formation of adab (proper conduct), character, and spiritual values, which are rooted in strong teacher-student relationships. However, globalization presents significant challenges, including the penetration of secular ideologies, shifts in educational orientation, and the risk of moral and ethical disruption. This reflects a tension between traditional values and global influences within the education system. In conclusion, a selective approach is necessary in adopting global innovations to ensure alignment with Islamic values. Through this approach, the education system in Brunei Darussalam can remain adaptive while preserving its identity and Islamic integrity.

Keywords: Traditional education, globalization, national identity, Malay Islamic Monarchy, Islamic education.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Globalisasi telah membawa transformasi signifikan dalam sistem pendidikan, baik pada aspek metode, kurikulum, maupun orientasi nilai. Perkembangan teknologi dan arus informasi mendorong pendidikan bergerak ke arah yang lebih pragmatis, kompetitif, dan berorientasi pada pasar. Namun, di sisi lain, globalisasi juga memunculkan tantangan serius berupa pergeseran nilai moral, nilI spiritual, dan identitas budaya.

Dalam konteks Brunei Darussalam, pendidikan memiliki peran strategis karena berlandaskan falsafah Melayu Islam Beraja (MIB), yang menempatkan Islam sebagai inti kehidupan bernegara. Oleh karena itu, sistem pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai instrumen ideologis dalam menjaga keberlanjutan identitas nasional. Keterbukaan terhadap inovasi global yang tidak selektif berpotensi mengikis nilai-nilai inti tersebut.

Sejumlah penelitian terdahulu telah mengkaji pendidikan Islam di Brunei dari berbagai perspektif. Penelitian Thoriquttyas et al. (2021) menunjukkan bahwa integrasi nilai Islam dalam kurikulum nasional berperan penting dalam menjaga identitas bangsa. Sementara itu, Mahadi et al. (2023) menyoroti peran pendidikan tradisional sebagai mekanisme ketahanan budaya dalam menghadapi arus globalisasi.

Meskipun demikian, sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada deskripsi sistem pendidikan atau perannya dalam menjaga identitas, dan belum secara mendalam mengkaji ketegangan antara pendidikan tradisional dengan penetrasi ideologi global serta implikasinya terhadap disrupsi moral dan etika. Selain itu, kajian mengenai strategi selektif dalam merespons globalisasi pendidikan juga masih terbatas.

Berdasarkan celah tersebut, penelitian ini menawarkan kebaruan dengan mengintegrasikan analisis peran pendidikan tradisional sebagai penjaga identitas nasional dengan kajian kritis terhadap tantangan ideologi global serta risiko disrupsi moral dalam pendidikan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pendekatan selektif sebagai strategi adaptif, sehingga inovasi global dapat diadopsi tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam yang menjadi fondasi utama sistem pendidikan di Brunei Darussalam.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), yang berfokus pada analisis konseptual terhadap peran pendidikan tradisional dalam menjaga identitas nasional Brunei Darussalam di tengah arus globalisasi. Pendekatan ini dipilih karena penelitian tidak melibatkan pengumpulan data lapangan, melainkan mengkaji dan menafsirkan berbagai sumber literatur yang relevan.

Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari artikel ilmiah yang secara langsung membahas sistem pendidikan Islam di Brunei Darussalam, seperti Thoriquttyas et al., dan Mahadi et al., Sementara itu, data sekunder berasal dari literatur teoritis yang berkaitan dengan globalisasi dan pendidikan, termasuk pemikiran Anthony Giddens tentang globalisasi, Michael W. Apple mengenai ideologi pendidikan, serta Robert W. Hefner terkait dinamika pendidikan Islam dalam konteks modern.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan cara mengidentifikasi, menyeleksi, dan mengkaji sumber-sumber yang relevan dan kredibel. Analisis data menggunakan teknik analisis isi (content analysis), yang dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data secara tematik, serta penarikan kesimpulan secara interpretatif. Melalui metode ini, penelitian berupaya menghasilkan pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan antara pendidikan tradisional, identitas nasional, dan tantangan globalisasi dalam konteks Brunei Darussalam.

Rumusan Masalah

Bagaimana peran pendidikan tradisional dalam menjaga identitas nasional Brunei Darussalam yang berlandaskan falsafah Melayu Islam Beraja (MIB)?
Apa keunggulan metode pendidikan tradisional dalam pembentukan adab dan karakter peserta didik?
Bagaimana pengaruh globalisasi terhadap perubahan nilai moral dan orientasi pendidikan di Brunei Darussalam?
Apa saja tantangan ideologis yang dihadapi sistem pendidikan Brunei dalam menghadapi arus globalisasi?
Bagaimana strategi selektif yang dapat diterapkan untuk menjaga keseimbangan antara inovasi global dan nilai-nilai Islam.

Tujuan Penelitian

Menganalisis peran pendidikan tradisional sebagai penjaga identitas nasional Brunei Darussalam yang berbasis falsafah Melayu Islam Beraja (MIB).
Mengkaji keunggulan metode pendidikan tradisional dalam membentuk adab, karakter, dan nilai spiritual peserta didik.
Mengidentifikasi dampak globalisasi terhadap pergeseran nilai moral dan orientasi pendidikan.
Menganalisis tantangan ideologis yang muncul dalam sistem pendidikan akibat pengaruh globalisasi.
Merumuskan strategi selektif dalam mengadopsi inovasi global tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam.

PEMBAHASAN

Pendidikan Tradisional sebagai Penjaga Identitas Nasional

Dalam konteks Brunei Darussalam, pendidikan tradisional tidak dapat dipahami hanya sebagai sarana penyampaian ilmu, melainkan sebagai instrumen strategis dalam menjaga keberlanjutan identitas nasional. Sistem ini berfungsi secara aktif dalam mereproduksi nilai-nilai ideologis yang bersumber dari prinsip Melayu Islam Beraja (MIB), yang menjadi fondasi utama kehidupan bernegara. Jika sistem ini terlalu terbuka terhadap inovasi global yang sering berbasis nilai Barat atau sekuler, terdapat risiko besar nilai-nilai inti akan terkikis.

Peran tersebut tampak dalam kebijakan pendidikan yang mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam kurikulum nasional. Pendidikan agama tidak ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai inti dalam pembentukan karakter peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa negara memposisikan pendidikan sebagai alat ideologis untuk memastikan kesinambungan identitas bangsa di tengah perubahan zaman (Thoriquttyas et al., 2021: 198-200)

Lebih jauh, dalam menghadapi tekanan globalisasi, pendidikan tradisional berfungsi sebagai mekanisme ketahanan budaya. Arus global yang membawa nilai sekularisme dan individualisme berpotensi mengikis batas-batas nilai lokal yang berbasis Islam. Dalam situasi seperti ini, keberadaan sistem pendidikan tradisional menjadi penting sebagai benteng yang menjaga orisinalitas identitas keislaman dan budaya Melayu agar tidak larut dalam arus homogenisasi global (Mahadi et al., 2023: 338).

Keunggulan Metode Tradisional: Relasi Guru-Murid dan Pembentukan Adab

Keunggulan utama pendidikan tradisional Islam seperti halaqah, hafalan, dan kajian kitab terletak pada pendekatan pembelajarannya yang bersifat holistik, di mana proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai-nilai spiritual, hal ini sejalan dengan pandangan bahwa “The aim of education in Islam is therefore to produce a good man.” (Al-Attas, 1987: 150), yang menunjukkan bahwa tujuan utama pendidikan adalah pembentukan manusia beradab, bukan sekadar penguasaan ilmu. Pola pembelajaran ini menempatkan hubungan langsung antara guru dan murid sebagai pusat proses pendidikan, sehingga memungkinkan terjadinya internalisasi nilai, adab, dan etika secara lebih mendalam.

Dalam konteks ini, kedekatan relasional antara guru dan murid menjadi elemen penting yang membedakan pendidikan tradisional dengan sistem pendidikan modern yang cenderung bersifat impersonal dan berbasis sistem. Proses pembelajaran tidak hanya berlangsung secara kognitif, tetapi juga melalui keteladanan (uswah) yang diberikan oleh guru dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks Brunei Darussalam, karakteristik pendidikan tradisional tersebut masih dapat ditemukan dalam sistem pendidikan Islam yang terintegrasi dengan nilai-nilai Melayu Islam Beraja (MIB). Hal ini menunjukkan adanya komitmen untuk mempertahankan model pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan moral dan identitas keagamaan peserta didik. Dengan demikian, pendidikan berfungsi sebagai sarana pembentukan manusia yang beradab dan berakar pada nilai-nilai Islam, bukan sekadar sebagai mekanisme produksi tenaga kerja (Thoriquttyas et al., 2021: 200).

Risiko Disrupsi Moral dan Etika dalam Globalisasi Pendidikan

Transformasi pendidikan akibat globalisasi tidak hanya terjadi pada aspek teknis, tetapi juga menyentuh dimensi nilai. Digitalisasi, standardisasi kurikulum, serta orientasi pada pasar tenaga kerja telah menggeser arah pendidikan menjadi lebih pragmatis. Menurut Fazal Rizvi dan Bob Lingard, pendidikan global kini cenderung bergerak dalam logika kompetisi dan performativitas, sehingga dimensi pembentukan karakter sering kali terabaikan (Rizvi & Lingard, 2009: 98).

Dalam konteks Brunei Darussalam, kecenderungan ini menjadi persoalan serius karena bertentangan dengan tujuan pendidikan Islam yang menempatkan akhlak sebagai prioritas utama. Ketika pendidikan terlalu berorientasi pada efisiensi dan produktivitas, terdapat risiko bahwa nilai-nilai moral dan spiritual akan terpinggirkan. Padahal, aspek inilah yang justru menjadi inti dari sistem pendidikan berbasis MIB.

Oleh karena itu, tidak semua bentuk inovasi dapat diterima secara langsung. Diperlukan mekanisme seleksi yang cermat agar pengaruh global tidak merusak struktur nilai yang telah mapan. Tanpa sikap kritis, modernisasi pendidikan justru dapat menjadi pintu masuk bagi disrupsi moral dan etika dalam masyarakat (Mahadi et al., 2023: 338)

Tantangan Ideologi Global dalam Pendidikan
Globalisasi pendidikan pada dasarnya tidak hanya membawa inovasi, tetapi juga menyertakan nilai dan ideologi tertentu. Dalam pandangan Michael W. Apple, pendidikan selalu berada dalam kerangka kepentingan ideologis, sehingga tidak pernah benar-benar netral (Apple, 2004: 67). Artinya, adopsi sistem pendidikan global juga berarti menerima cara pandang yang melatarbelakanginya.

Bagi Brunei Darussalam, kondisi ini menghadirkan tantangan tersendiri. Ideologi global yang cenderung sekuler dapat berbenturan dengan prinsip Melayu Islam Beraja (MIB) yang menempatkan agama sebagai pusat kehidupan. Ketegangan ini menunjukkan bahwa globalisasi bukan sekadar fenomena teknis, melainkan juga ideologis.

Lebih lanjut, Robert W. Hefner menegaskan bahwa pendidikan Islam saat ini berada dalam tarik-menarik antara tradisi dan modernitas (Hefner, 2009: 212). Jika tidak dikelola dengan baik, penetrasi nilai global dapat mendorong terjadinya sekularisasi secara bertahap, di mana dimensi spiritual semakin tersisih dari sistem pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak hanya adaptif, tetapi juga kritis dan selektif dalam menghadapi arus global.

Pergeseran Nilai Moral-Spiritual dan Strategi Selektif

Globalisasi juga membawa dampak langsung terhadap perubahan orientasi nilai dalam masyarakat. Perkembangan teknologi informasi memungkinkan masuknya berbagai ide dan gaya hidup yang tidak selalu selaras dengan ajaran Islam. Dalam analisis Anthony Giddens, globalisasi menciptakan perubahan sosial yang mampu memengaruhi cara berpikir, pola hidup, serta sistem nilai masyarakat (Giddens, 2003: 64).

Dalam dunia pendidikan, kondisi ini tercermin pada meningkatnya kecenderungan materialisme, di mana keberhasilan lebih diukur melalui capaian ekonomi dibandingkan kualitas moral dan spiritual. Fenomena ini sejalan dengan temuan Rizvi dan Lingard yang menunjukkan dominasi logika ekonomi dalam sistem pendidikan global (Rizvi & Lingard, 2009: 98).

Jika dibiarkan, pergeseran ini dapat mengubah fungsi pendidikan dari pembentukan akhlak menjadi sekadar sarana produksi sumber daya manusia. Dalam konteks Brunei Darussalam, hal ini berpotensi melemahkan peran pendidikan sebagai penjaga identitas keislaman. Sebagai upaya menghadapi kondisi tersebut, pendekatan selektif menjadi pilihan yang paling rasional. Pendekatan ini menekankan pentingnya menyaring setiap pengaruh global berdasarkan kesesuaiannya dengan nilai Islam. Dengan demikian, inovasi yang bersifat teknis tetap dapat diadopsi, sementara nilai yang bertentangan dapat ditolak. Strategi ini memungkinkan Brunei untuk tetap terbuka terhadap perkembangan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai negara yang berlandaskan Melayu Islam Beraja (Mahadi et al., 2023: 338).

Kesimpulan

Pendidikan tradisional di Brunei Darussalam memiliki peran penting sebagai penjaga identitas nasional yang berlandaskan falsafah Melayu Islam Beraja (MIB). Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter, adab, dan nilai-nilai keislaman.

Keunggulan pendidikan tradisional terletak pada pendekatan holistik yang menekankan hubungan erat antara guru dan murid, sehingga memungkinkan internalisasi nilai secara mendalam. Hal ini sejalan dengan pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang baik (a good man).

Di sisi lain, globalisasi membawa tantangan berupa pergeseran nilai moral dan masuknya ideologi yang tidak selalu sejalan dengan prinsip MIB. Oleh karena itu, diperlukan strategi selektif dalam menyikapi pengaruh global, yaitu dengan mengambil aspek positifnya tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam. Dengan pendekatan ini, pendidikan di Brunei dapat tetap adaptif sekaligus menjaga identitas dan integritasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, S. M. N. (1987). Islam and Secularism (1st ed.). Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).

Apple, M. (2004). Ideology and Curriculum (3rd ed.). Routledge.

Giddens, A. (2003). Runaway World: how globalization is reshaping our lives. New York : Routledge.

Hefner, R. W. (2009). Making Modern Muslims: The Politics of Islamic Education in Southeast Asia. University of Hawai’i Press.

Mahadi, M., A. Rahman, S. K., & Jaidi, N. (2023). The Role of Brunei’s Philosophy in The Education System to Face the Challenges of Globalization (Peranan Falsafah Brunei Dalam Sistem Pendidikan Bagi Menghadapi Cabaran Globalisasi).

International Journal of Advanced Research in Education and Society, 5(4), 335–350.
Rizvi, F., & Lingard, B (2009).

Globalizing Education Policy. Routledge.
Thoriquttyas, T., Nasih, A. M., Sultoni, A., & Yani, A. (2021). 

Malay, Islam, Beraja and The [Islamic] Educational Philosophy in Brunei Darussalam. Edukasia : Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 16(2), 193. 


Penulis: Naufal El Fany, dkk. Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, UIN Sultanah Nahrasyiah Lhokseumawe.

Editor: Putri Ruqayyah 

banner
Latest
Next Post
Comments
0 Comments

0 comments:

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.