![]() |
| Foto: Pexels |
Foto: Qonita Sholihat Penulis: Muhammad Alif Maulana www.lpmalkalam.com- Ada dua pemandangan yang semakin hari semakin menjijikkan di neg...
![]() |
| Foto: Pexels |
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
Pada era abad pertengahan, tradisi ilmiah Islam mengalami fase peleburan dan penguatan. Pada masa ini fokus keilmuan tidak lagi hanya pada penemuan baru, tetapi juga pada pengembangan, kritik, dan integrasi ilmu-ilmu yang telah ada. Tokoh-tokoh seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiyah, dan Fakhruddin Al-Razi tampil dengan karya-karyanya yang mempertemukan rasionalitas dan spiritualitas. Kontribusi penting pada era ini adalah pematangan metodologi keilmuan, penguatan disiplin ushul fikih, tasawuf, dan kritik filsafat, serta usaha menjaga keseimbangan antara akal dan wahyu dalam tradisi ilmiah Islam.
Memasuki era modern, dunia Islam mulai berhadapan langsung dengan kolonialisme, modernitas barat, dan kemajuan sains modern. Kondisi ini melahirkan tokoh-tokoh pembaru seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rashid Rida, serta Muhammad Iqbal, yang mendorong kebangkitan intelektual dan reformasi pemikiran Islam. Kontribusi era modern tampak dalam upaya pembaruan pendidikan, reinterpretasi ajaran Islam agar selaras dengan perkembangan zaman, serta munculnya wacana integrasi antara ilmu agama dan ilmu modern. Tradisi ilmiah Islam pada masa ini bergerak dari pola tradisional menuju sistem pendidikan yang lebih formal dan institusional.
Sementara itu, era kontemporer ditandai oleh kompleksitas tantangan global, seperti globalisasi, digitalisasi, krisis moral, dan pluralitas pemikiran. Tokoh dalam gerakan kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi, Fazlur Rahman, Nurcholish Madjid, Quraish Shihab, serta lembaga-lembaga pendidikan dan gerakan intelektual Muslim, berusaha menanggapi tantangan tersebut dengan pendekatan kontekstual dan moderat. Tantangan tradisi ilmiah Islam di era ini adalah menjaga kemurnian keilmuan klasik sekaligus merespons realitas modern, menghindari perpecahan antara tradisionalisme dan liberalisme, serta membangun tradisi riset yang kuat dan juga relevan. Dalam pandangan penulis, keberlanjutan tradisi ilmiah Islam di era kontemporer sangat bergantung pada kemampuan umat Islam untuk merawat warisan intelektual klasik sambil terbuka terhadap dialog dan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Dalam dunia Islam Tradisi ilmiah merupakan warisan intelektual yang lahir dari perpaduan antara dorongan wahyu dan kesungguhan akal manusia dalam memahami kehidupan. Mulai dari era klasik hingga kontemporer, tradisi ini menunjukkan kemampuan Islam dalam melahirkan pemikiran yang sistematis, kritis, dan relevan dengan konteks zamannya. Tantangan yang dihadapi pada masa kini menuntut adanya sikap bijak dalam merawat khazanah keilmuan klasik tanpa menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan modern. Keberlanjutan tradisi ilmiah Islam tidak terletak pada romantisme masa lalu semata, tetapi pada kesanggupan umat Islam untuk menjadikan warisan intelektual tersebut sebagai landasan membangun pemikiran yang kontekstual, berimbang, dan berorientasi pada kemaslahatan umat di masa depan.
Penulis: Cut Nazar Mutia Hanum, Mahasiswi Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Editor: Zuhra
![]() |
| Foto: Cut Saputri (Magang) |
Sultanah Nahrasyiyah merupakan pemimpin yang pemurah dan bertanggung jawab. Pada saat beliau memimpin selama 22 tahun, Kesultanan Samudera Pasai selalu mencapai puncak kejayaannya. Fakta ini menantang anggapan yang sering dikaitkan dengan kepemimpinan perempuan, terutama dalam masalah pemerintahan kerajaan islam pada abad pertengahan.
1. Penyebaran Islam dan Perundingan Kebudayaan
Masa pemerintahan Sultanah Nahrasyiyah ditandai dengan cepatnya terjadi penyebaran agama Islam di kawasan Asia Tenggara. Samudera Pasai pada masa itu menjadi pedoman bagi kerajaan-kerajaan lain yang ada di Nusantara. Pencapaian ini membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan tidak akan menghalangi kemajuan nilai-nilai keagamaan. Bahkan sebaliknya, kepemimpinan perempuan justru lebih kuat dari perkiraan.
2. Peninggalan yang Harus Sama-sama Kita Hidupkan kembali
Salah satu peninggalan dari Sultanah Nahrasyiyah adalah Nisan Sultanah Nahrasyiyah yang masih utuh hingga kini, letaknya berada di Kuta Krueng, Samudera, Aceh Utara. Namun, warisan sesungguhnya yang perlu sama-sama kita jaga adalah nilai-nilai kepemimpinannya yaitu: Bagaimana ia bijaksana ketika memimpin, kasih sayangnya, dan kemampuannya yang mampu membawa kemajuan rakyatnya.
Malikah Nahrasyiyah binti Zainal Abidin adalah bukti untuk kita bahwa kepemimpinan perempuan bukanlah hal baru atau asing dalam budaya kita. Sudah saatnya kita mengembalikan Sultanah Nahrasyiyah ke tempat yang seharusnya dalam kesadaran bersama untuk bangsa ini, bukan hanya sebagai catatan kaki sejarah, tetapi juga sebagai bukti nyata bahwa perempuan Nusantara telah lama memiliki tempat di puncak kepemimpinan, dan ketika mereka memimpin dengan kebijaksanaan, maka kejayaan pun akan mengikuti.
Penulis: Cut Saputri (Magang)
Editor: Zuhra
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
Jika dilihat dari dekat, sampahnya beragam. Mulai dari plastik, botol, sampai bungkus makanan ringan. Hal seperti ini jelas mengganggu pemandangan dan bisa membuat air sungai menjadi kotor. Lama-kelamaan, ikan dan makhluk hidup lain pun bisa ikut terganggu, sehingga keindahan sungai mulai rusak.
Padahal, menjaga kebersihan itu sangat sederhana. Cukup dengan tidak membuang sampah sembarangan, membawa pulang sampah sendiri, atau yang paling mudah yaitu membuangnya di tempat yang sudah disediakan. Jika setiap orang punya kesadaran dan mau melakukan hal kecil seperti itu, kebersihan dan keindahan sungai Lhok Buloh pasti akan lebih terjaga.
Lhok Buloh bisa menjadi tempat yang lebih indah lagi kalau semua pengunjung ikut peduli. Jadi, mulai dari sekarang, mari biasakan diri menjaga kebersihan dimanapun dan kapanpun. Bukan hanya untuk kita, tapi juga agar keindahan alam bisa terus dinikmati oleh semua orang.
Penulis: Chalisa Najla Safira (Magang)
Editor: Tiara Khalisna
![]() |
| Foto: Tiktok/@berita_simeulue_official |
1. Surga Peselancar Dunia
Dikutip dari The Perfect Wave Travel dijelaskan bahwa ombak di Simeulue dikenal memiliki karakter dan konsisten sepanjang tahun. Spot-spot seperti Dylan's Right, Tea Bags, dan The Peak menjadi incaran peselancar dari Australia, Eropa dan Amerika.
Dilansir dari LUEX Surf Travel, dikatakan bahwa tidak sedikit yang menyebut Simeulue sebagai “The Next Mentawai” karena ombaknya yang sempurna namun masih sepi dari keramayan wisata misal. Bagi mereka yang mencari keaslian dan petualangan, Simeulue adalah surga yang tersembunyi di ujung barat Nusantara.
2. Pulau yang Selamat dari Tsunami Aceh
Dikutip dari ResearchGate, ketika tsunami dahsyat melanda Aceh pada 26 Desember 2004, hampir seluruh penduduk Simeulue berhasil selamat. Rahasianya terletak pada kearifan lokal bersama "Smong", sebuah cerita rakyat yang di wariskan terun temurun.
Cerita ini mengajarkan, jika terjadi gempa besar dan air laut tiba-tiba surut, maka segera lari ke tempat tinggi. Pengetahuan sederhana ini terbukti menyelamatkan ribuan nyawa dan kini di akui secara global sebagai warisan budaya mitigasi bencana.
3. Surga Penyu dan Ikan Tuna
Dikutip dari salah satu artikel dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Simeulue menjadi rumah bagi beragam spesies penyu langka, termasuk penyu hijau, penyu sisik dan penyu belimbing. Setiap tahun, penyu-penyu ini datang untuk bertelur di pantai berpasir putih yang masih alami. Selain itu, perairan Simeulue dikenal kaya dengan ikan tuna kualitas ekspor, yang menjadi andalan ekonomi bagi masyarakat pesisir.
4. Kaya Tradisi, Bahasa, dan Alam yang Lestari
Menurut Balai Bahasa Kemendikbud, selain alamnya yang indah, Simeulue juga memiliki kekayaan budaya yang unikunik, penduduknya menggunakan bahasa bahasa lokal seperti (Devayan, Sigulai, dan Leukon) yang berbeda dari bahasa Aceh di daratan. Tradisi musik, tari, dan adat istiadat masih dijaga dengan baik oleh masyarakat, mencerminkan keharmonisan antara manusia dan alam.
5. Alam yang Masih Lestari Penuh Kehidupan
Dikutip dari WWF Indonesia, Simeulue dikelilingi hutan tropis, mangrove, dan terumbu karang yang masih alami. Banyak spesies endemik hidup disana, termasuk burung laut, ikan karang, hingga mamalia langka.
Ekosistem yang terjaga ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Simeulue hidup Berdampingan dengan alam secara harmonis.
Penulis: Frendi Ashari (Magang)
Editor: Tiara Khalisna
![]() |
| Foto: IST |
Pendahuluan
Pendirian Dayah Darussa’adah pada tanggal 25 Rabi’ul Akhir 1388 H / 20 Juli 1968 M didasarkan pada cita-cita Al-Qur’an dan Hadits dengan berpegang pada i’tiqad ahlussunnah wal jama’ah dengan prinsip mura’atul adh-dhamir (prinsip mempersatukan ummat islam dalam ikatan yang hakiki, bukan pada ikatan suku, ras dan golongan tertentu) yang dikukuhkan dalam AD&ART Darussa’adah (15 Sya’ban 1388 H / 5 November 1968 M).
Darussa’adah merupakan dayah yang memiliki pendidikan formal seperti dayah/pesantren lainnya, Sekolah Menengah Umum Tingkat Pertama (SMP) Darussa’adah didirikan pada tahun 1984 dan Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (SMA/SMU) didirikan pada tahun 1986. Kedua jenis sekolah ini dibuka di kampus Darussa’adah pusat Teupin Raya. Fasilitas yang tersedia antara lain berupa ruang belajar, Sekretariat, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya untuk mendukung proses belajar mengajar di lingkungan Dayah Darussa’adah.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis secara mendalam peran Teungku Muhammad Ali Irsyad dalam pengembangan dakwah, pendidikan, dan karya ilmiah Islam di Aceh.
Hasil dan Pembahasan
Teungku Muhammad Ali Irsyad, atau lebih dikenal dengan Abu Teupin Raya, adalah ulama kharismatik dari Aceh yang lahir tahun 1921 di Kayee Jatoe, Teupin Raya, Glumpang Tiga, Pidie. Beliau berasal dari keluarga ulama dan pejuang, baik dari jalur ayah maupun ibu.
Peran dan kontribusi dalam dunia pendidikan Islam, beliau dikenal sangat aktif dalam pengembangan dakwah ilmiah dan pendidikan keislaman. Melalui penulisan kitab dan pengajaran di dayah, beliau membentuk generasi yang kuat dalam akidah dan keilmuan Islam.
Sejarah Dayah
Dayah yang diasuh oleh Teungku Muhammad Ali Irsyad dikenal sebagai pusat pendidikan Islam tradisional di Aceh. Didirikan di Teupin Raya, dayah ini menjadi tempat lahirnya banyak ulama dan cendekiawan Muslim. Didirikan sebagai bentuk pengabdian terhadap agama dan masyarakat, dayah ini awalnya merupakan tempat belajar kecil yang berkembang karena kharisma dan keilmuan sang pendiri.
Tradisi Kitab Kuning
- Awaluddin Ma’rifatullah (Tauhid)
- Al-Qaidah (Nahwu)
- Taqwimu Al-Hijri (Ilmu Falak)
- Ad-Da’watul Wahabiyah (Gerakan Dakwah Wahabi)
Kitab-kitab lain yang membahas fiqh, tasawuf, dan alat (bahasa Arab).
a.Tingkat Tsanawiyah
Tabel. 1 Pelajaran dan Judul dan Penulis Kitab di Tingkat Tsanawiyah
Penutup
Dayah Darussa’adah merupakan lembaga pendidikan Islam yang berdiri dengan dasar Al-Qur'an dan Hadits, berpegang pada manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah serta memiliki prinsip persatuan umat Islam tanpa memandang suku, ras, dan golongan. Lembaga ini telah memberikan kontribusi besar dalam bidang pendidikan agama dan umum sejak didirikan pada tahun 1968 oleh seorang ulama kharismatik, Teungku Muhammad Ali Irsyad, yang dikenal luas sebagai Abu Teupin Raya. Melalui perjuangan beliau, Dayah Darussa’adah tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi wadah pengembangan dakwah dan ilmu pengetahuan Islam.
Kesimpulan
Dayah Darussa’adah merupakan lembaga pendidikan Islam yang berdiri sejak tanggal 25 Rabi’ul Akhir 1388 H atau 20 Juli 1968 M, dengan visi membentuk umat Islam yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits sesuai dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Dayah ini tidak hanya fokus pada pendidikan agama, tetapi juga menyediakan pendidikan formal tingkat SMP dan SMA sejak tahun 1984 dan 1986. Pendirinya, Teungku Muhammad Ali Irsyad, adalah seorang ulama kharismatik asal Aceh yang dikenal aktif dalam dakwah dan penulisan karya-karya ilmiah dalam berbagai bahasa. Melalui perjuangan beliau, Dayah Darussa’adah telah berkembang menjadi pusat pendidikan dan dakwah yang berpengaruh di Aceh, dengan prinsip persatuan umat Islam tanpa memandang suku, ras, atau golongan tertentu. Peran besar beliau serta kontribusi Dayah Darussa’adah menjadikan lembaga ini sebagai salah satu pilar penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan syariat Islam di daerahnya.
Saran-saran
1. Pengembangan Sarana dan Prasarana: Dayah Darussa’adah diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas sarana dan prasarana guna menunjang pembelajaran yang lebih optimal.
2. Digitalisasi dan Dokumentasi: Penting untuk melakukan digitalisasi terhadap karya-karya tulis peninggalan Teungku Muhammad Ali Irsyad agar dapat diakses lebih luas dan tidak hilang dimakan zaman.
3. Peningkatan Kerjasama: Dayah ini disarankan menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan lain baik nasional maupun internasional untuk pengembangan mutu pendidikan dan pertukaran keilmuan.
4. Pemberdayaan Alumni: Perlu adanya wadah organisasi alumni yang aktif untuk memperkuat jejaring dakwah dan pendidikan Dayah Darussa’adah.
Sumber data: wawancara dengan alumni Dayah Yayasan Pendidikan Islam Darussa'adah Aceh Pusat
Karya: Nurul Maulita, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini UIN Sultanah Nahrasiyah
Editor: Indira Ulfa
![]() |
| Foto: IST |
Pendahuluan
Misbahul
Ulum adalah sebuah lembaga pendidikan Islam yang berfokus pada pengajaran ilmu
agama dan umum. Nama Misbahul Ulum sendiri berasal dari bahasa Arab yang
berarti “Pelita Ilmu,” mencerminkan tujuan lembaga ini dalam menyebarkan ilmu
pengetahuan dan mencetak generasi yang berakhlak mulia.
Lembaga
ini biasanya mengintegrasikan kurikulum berbasis keislaman dengan pendidikan
formal, seperti ilmu pengetahuan alam, sosial, dan teknologi. Beberapa
pesantren atau madrasah dengan nama Misbahul Ulum tersebar di berbagai daerah
di Indonesia, masing-masing dengan ciri khas dan metode pengajarannya sendiri.
Metode
Penelitian
Berdasarkan
beberapa penelitian yang dilakukan di Pesantren Modern Misbahul Ulum
Lhokseumawe, metode penelitian yang sering digunakan adalah metode kualitatif
dengan pendekatan deskriptif. Metode ini bertujuan untuk memahami dan
menafsirkan makna dari interaksi dan perilaku manusia dalam situasi tertentu,
sehingga dapat memberikan gambaran yang sistematis.
Sebagai
contoh, dalam penelitian mengenai strategi ustaz dan ustazah dalam meningkatkan
kemampuan public speaking santri, digunakan metode kualitatif deskriptif
untuk mengumpulkan dan menganalisis data melalui wawancara dan observasi.
Demikian
pula, penelitian tentang metode bimbingan akhlak bagi santri yang melakukan
pelanggaran peraturan pesantren juga menerapkan pendekatan kualitatif dengan
metode deskriptif. Teknik purposive sampling digunakan untuk menentukan
subjek penelitian, dan data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara.
Selain
itu, penelitian mengenai manajemen sarana dan prasarana dalam peningkatan
akreditasi di Pesantren Modern Misbahul Ulum menggunakan metode kualitatif
dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini melibatkan subjek seperti pimpinan
pesantren, kepala bidang sarana dan prasarana, serta guru, dengan teknik
pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Penggunaan
metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dalam penelitian-penelitian
tersebut memungkinkan peneliti untuk menggali informasi mendalam mengenai
fenomena yang terjadi di lingkungan Pesantren Modern Misbahul Ulum Lhokseumawe.
Hasil
dan Pembahasan
Pesantren
Modern Misbahul Ulum atau yang biasa disingkat PMMU terletak di Jalan Tgk. Chik
Di Paloh, Desa Meuria Paloh, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, yang
berada sejauh 800 meter dari Jalan Medan–Banda Aceh ke arah utara Desa Meuria
Paloh. Pesantren Modern Misbahul Ulum adalah pondok pesantren yang memadukan
unsur keagamaan tradisional yang kuat di Aceh dengan unsur kemajuan dan
modernisasi yang dipadukan melalui sistematika Pondok Pesantren Gontor,
menjadikan Pesantren Modern Misbahul Ulum sebagai pesantren terbesar di Kota
Lhokseumawe dengan beragam prestasi. PMMU adalah pondok pesantren yang memiliki
metode belajar-mengajar umum dan juga agama. Pesantren ini juga memiliki
berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan metode pembelajaran yang sangat praktis.
Tahun
ajaran 2019–2020, Pesantren Modern Misbahul Ulum memiliki jumlah santri kurang
lebih sebanyak 1.522 santri, di antaranya 817 santriwan dan sekitar 705
santriwati. PPMU juga memiliki 73 tenaga pengajar atau yang biasa disebut
“ustaz/ah”, di antaranya 43 ustaz dan sekitar 30 ustazah. Ustaz dan ustazah ada
yang menjadi guru tetap dan tinggal di lingkungan pesantren, ada juga yang
tidak tetap seperti halnya guru-guru di luar sana.
Strategi
dalam Membina Seni Berbicara dan Mental Santri
Pesantren
Modern Misbahul Ulum merupakan pesantren yang menerapkan pendidikan umum,
agama, serta aneka ragam kegiatan ekstrakurikuler. Pendidikan ekstrakurikuler
sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan masa depan. Kegiatan ini
diajarkan oleh ustaz dan ustazah. Pembinaan kegiatan ini pada santri dilaksanakan
dengan cara ustaz dan ustazah mengajarkan langsung bagaimana cara meningkatkan
seni berbicara dan membentuk mental pada diri santri, serta bagaimana cara
mengajarkan kepada santri-santri di bawah mereka.
Pelaksanaan
pembinaan ini terpusat pada seni berbicara dan mental masing-masing santri. Apa
pun yang dilakukan pondok pesantren berdasarkan kebutuhan dari santri tersebut,
demi membentuk karakter santri yang memiliki keterampilan dalam seni berbicara
dan mental untuk menjadi alumni yang berguna bagi masyarakat dan bangsa.
Pelaksanaan pembelajaran di Pesantren Modern Misbahul Ulum menggunakan sistem
salafiyah modern, yaitu selain mengaji, pesantren juga mengajarkan segala jenis
ekstrakurikuler yang bertujuan untuk terciptanya sosok santri yang memiliki ilmu
agama juga ilmu cara berorganisasi, berinovasi, berkreasi, dan mengajar apa
yang telah dikaji selama dari kelas satu hingga kelas lima, dan saat kelas enam
mereka harus mampu mengimplementasikan segala ilmu yang telah dikaji selama
kurang lebih lima tahun sebelumnya.
Semua
ini mengedepankan pembelajaran yang sistematis dan metodis dari kurikulum
pesantren tersendiri. Adapun kegiatan-kegiatan yang dapat mendukung pelaksanaan
pembelajaran ekstrakurikuler dalam meningkatkan seni berbicara dan mental
santri Pesantren Modern Misbahul Ulum yaitu Muhadharah, Muhadatsah, Darsul
Izhaf, Khutbah Jumat, dan Amaliah Tadris. Selain itu, juga ada beberapa
kegiatan lainnya yang muncul dari kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di
atas. Kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan dan dikemas oleh kurikulum
pesantren sangat efektif dalam meningkatkan seni berbicara dan mental santri
Pesantren Modern Misbahul Ulum. Segala kegiatan tersebut telah terbagi seperti
yang telah penulis jelaskan di atas, yaitu:
Pertama,
Muhadharah (محاضرة) adalah bahasa Arab yang berarti lecture/kuliah. Kata
yang sepadan dengan muhadharah dalam bahasa Arab adalah dars (درس) yang berarti lesson/pelajaran.
Secara sederhana, muhadharah adalah latihan pidato. Jadi, kegiatan muhadharah
yang selama ini digunakan di pesantren ternyata sangat berpengaruh bagi
anak-anak santri.
Dengan
pembekalan muhadharah yang lebih serius lagi, pastinya akan menjadi
tempat pembinaan yang lebih baik. Dalam kegiatan ini santri dituntut untuk
membuat sebuah pidato yang dirangkai oleh pribadi mereka masing-masing.
Rangkaian tersebut tercipta melalui ilmu pengetahuan mereka masing-masing dalam
kajian ilmu yang telah mereka pelajari setiap harinya di pesantren. Setelah itu
ustaz dan ustazah menyuruh mereka menghafalkan dan memahami apa yang telah
mereka rangkai sedemikian rupa sehingga mereka mampu berpidato di depan santri
lainnya.
Kedua,
Pesantren Modern Misbahul Ulum adalah salah satu pondok yang menerapkan muhadatsah
sebagai pembelajaran maharah kalam bagi santrinya. Pertama, di pesantren
setelah salat subuh setiap santri diajarkan bahasa Arab oleh para mudabbir
di setiap asrama masing-masing. Kemudian saat belajar-mengajar di pagi hari
juga diajarkan bahasa Arab dan beberapa pelajaran lain yang mencakup tentang
bahasa Arab oleh para ustaz dan ustazah. Pelajaran tersebut diimplementasikan
dalam bentuk muhadatsah sambil menunggu waktu magrib setiap seminggu
tiga kali.
Ketiga,
Darsul Izhaf ialah tempat santri tampil untuk mengajar di setiap kelas
yang ada di pondok pesantren saat siang menjelang sore. Kesempatan ini
diberikan untuk santri/ah kelas V dan VI yang telah hampir menyelesaikan tuntut
ilmu di pondok pesantren. Kesempatan ini didapatkan oleh seluruh santri saat
duduk di bangku kelas V dan VI untuk mengajar di setiap kelas I, II, III, dan
juga kelas IV. Darsul Izhaf ini memiliki keunikan tersendiri, karena
pelajaran yang diajarkan kepada adik-adik mereka harus pelajaran antara bahasa
Inggris dan Arab. Pelajaran tersebut juga digunakan melalui komunikasi bahasa
itu tersendiri. Misalnya, pelajaran yang berkaitan dengan bahasa Arab harus
menggunakan bahasa Arab dalam menjelaskan pelajaran tersebut atau saat proses
belajar-mengajar terjadi, begitu juga dengan bahasa Inggris.
Keempat,
mendengarkan kata dari khutbah Jumat pastinya tidak asing lagi di
telinga umat Islam tentang sebuah khutbah yang dilakukan pada hari Jumat
sebelum salat Jumat dilaksanakan. Khutbah Jumat bagi umat Islam adalah
kegiatan yang wajib dilakukan saat salat pada hari Jumat. Tetapi, yang dimaksud
dengan khutbah Jumat pada kegiatan di Pesantren Modern Misbahul
Ulum adalah sebuah kegiatan yang dilakukan seminggu sekali di malam Jumat.
Kegiatan ini ditetapkan oleh pembina muhadharah di setiap waktu muhadharah
pada jadwal malam Jumat. Kegiatan ini dibina langsung oleh Ustaz Zikri sendiri,
agar para santri bisa dilatih semaksimal mungkin, apalagi beliau adalah seorang
khatib yang telah diakui di tingkat Provinsi Aceh.
Kelima,
Amaliah Tadris ialah kegiatan yang dilakukan untuk menguji santri kelas
akhir dalam hal mengajar dengan tata cara yang benar. Kegiatan ini telah
disusun secara sistematis oleh ustaz-ustazah Pesantren Modern Misbahul Ulum,
dengan menguji santri/ah mengajar menggunakan bahasa Arab dan Inggris yang baik
dan benar.
Tradisi
Kitab Kuning
Tingkat
Tsanawiyah
Pelajaran
dan Judul dan Penulis Kitab di Tingkat Tsanawiyah
Karya: Hashilla Rihadatul Vahada, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Islam
Anak Usia Dini Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sultanah Nahrasiyah
Lhokseumawe
Editor: Putri Ruqaiyah
![]() |
| Foto: IST |
Pendahuluan
Pesantren
merupakan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) yang telah berakar kuat dalam sejarah dan perkembangan masyarakat
Indonesia. Selain berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama, pesantren juga
menjadi tempat pembentukan karakter, moral, dan budaya santri yang menjunjung
tinggi nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Salah satu pesantren yang turut
memainkan peran penting dalam pembinaan generasi muda adalah Pesantren Bustanul
Arifin.
Pesantren
Bustanul Arifin tidak hanya berfokus pada pendidikan keagamaan, tetapi juga
mendorong santri untuk aktif dalam kegiatan sosial, keterampilan hidup (life
skill), dan pengembangan intelektual. Dengan pendekatan yang menyeluruh,
pesantren ini menjadi wadah pembentukan insan yang tidak hanya taat secara
spiritual, tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman.
Melalui mini
riset ini, penulis berusaha menggali lebih dalam tentang efektivitas metode
pembelajaran kitab kuning, peran pesantren dalam pemberdayaan ekonomi santri,
atau pola pembinaan akhlak di lingkungan pesantren. Diharapkan hasil dari
penelitian kecil ini dapat memberikan gambaran nyata mengenai dinamika yang
terjadi di Pesantren Bustanul Arifin serta memberikan kontribusi positif bagi
pengembangan pesantren ke depan.
Metode Penelitian
Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh
gambaran secara mendalam mengenai metode pembelajaran, pola pembinaan akhlak, dan peran pesantren dalam kegiatan sosial. Pendekatan ini dipilih
karena sesuai untuk mengkaji fenomena sosial, perilaku, serta pengalaman para
subjek penelitian dalam konteks keseharian di lingkungan pesantren.
Lokasi dan
Waktu Penelitian
Penelitian ini
dilakukan di Pesantren Bustanul Arifin, yang berlokasi di Desa Bale Atu, Kecamatan
Bukit, Kabupaten Bener Meriah. Kegiatan
penelitian dilaksanakan selama satu minggu, mulai
dari tanggal 27 Maret s.d. selesai.
Subjek
Penelitian
Subjek dalam penelitian ini terdiri dari pengasuh/pimpinan pesantren, ustaz/ustazah, santri (dipilih secara purposive/sengaja, berdasarkan kriteria tertentu).
Teknik
Pengumpulan Data
Data dalam
penelitian ini dikumpulkan melalui beberapa teknik, yaitu:
a. Observasi:
Mengamati langsung kegiatan pembelajaran atau aktivitas santri di lingkungan
pesantren.
b. Wawancara:
Dilakukan secara semi-struktural kepada beberapa informan utama untuk menggali
informasi lebih dalam.
c. Dokumentasi:
Mengumpulkan dokumen atau catatan yang relevan, seperti jadwal kegiatan,
kurikulum, atau arsip pesantren.
Teknik Analisis
Data
Data yang
diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif-kualitatif.
Proses analisis dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan. Validitas data diperkuat melalui teknik triangulasi,
yaitu membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk
memastikan keakuratan informasi.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan
hasil observasi dan wawancara dengan pengasuh pesantren, ustadz, serta beberapa
santri, diperoleh informasi bahwa pembinaan akhlak di Pesantren Bustanul Arifin
dilakukan melalui beberapa pendekatan utama, yaitu:
1. Keteladanan:
Para ustaz dan pengasuh menjadi teladan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Santri
dibiasakan melihat langsung contoh akhlak mulia dari guru mereka, baik dalam
ibadah, sopan santun, maupun interaksi sosial.
2. Pembiasaan:
Kegiatan harian pesantren dirancang untuk menanamkan nilai-nilai akhlak seperti
disiplin, tanggung jawab, dan kebersamaan. Misalnya, salat berjamaah, gotong
royong, dan pembacaan wirid rutin.
3. Pengawasan
dan Teguran: Santri yang melanggar aturan atau menunjukkan sikap tidak terpuji
akan diberi teguran secara bertahap, mulai dari nasihat hingga sanksi edukatif.
Hal ini bertujuan untuk memperbaiki, bukan menghukum.
4. Kajian
Kitab Akhlak: Pesantren rutin mengadakan pengajian kitab-kitab klasik yang
membahas tentang akhlak, seperti Ta'lim Muta’allim, Bidayatul Hidayah,
dan Ihya Ulumuddin.
Pembahasan
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa metode pembinaan akhlak yang diterapkan di
Pesantren Bustanul Arifin menekankan pada pendekatan holistik, yakni menggabungkan teori (pengajaran kitab), praktik (pembiasaan), dan
contoh nyata (keteladanan). Ini sejalan dengan konsep tarbiyah Islamiyah
yang menekankan pendidikan secara menyeluruh, tidak hanya aspek kognitif,
tetapi juga afektif dan psikomotorik.
Keteladanan
dari para ustaz terbukti menjadi faktor dominan dalam membentuk karakter
santri. Santri mengaku lebih mudah mengikuti dan meniru perilaku yang mereka
lihat langsung setiap hari. Selain itu, pembiasaan kegiatan keagamaan secara
konsisten membentuk rutinitas positif yang menjadi bagian dari karakter santri.
Temuan ini juga
memperkuat teori pendidikan karakter yang menyebut bahwa lingkungan dan figur
panutan berperan besar dalam pembentukan kepribadian anak. Dengan sistem yang
teratur dan nilai-nilai yang diajarkan secara konsisten, pesantren dapat
menjadi wadah efektif dalam membentuk akhlak mulia pada generasi muda.
Sejarah Pesantren
Pesantren Busatanul Arifin merupakan Pesantren yang di bawah naungan
Yayasan Darul Muttakin yang didirikan pada tanggal 3 Agustus 2000 yang di
dipimpin oleh Tgk. Syarfawi Abd Shamad. Awalnya Pesantren ini hanya memberikan
pendidikan kitab klasik saja. Akan tetapi, seiring waktu dan tuntunan dari
masyarakat maka pada 2001 pesantren ini menjadi Pesantren Terpadu Bustanul
Arifin dengan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di dalamnya. MTs Bustanul Arifin di
kepalai oleh Tgk. Saidi M. Nurdin, S.Pd, kemudian pada tahun 2004, Pesantren
Bustanul Arifin juga mendirikan Madrasah Aliyah (MA) dengan maksud agar santri/santriwati
yang tamat dari MTs, bisa langsung melanjutkan ke jenjang selanjutnya tanpa
pindah.
Dalam perjalanan roda pendidikan, pada tahun 2005, MTs dan MA mengalami
perubahan nama menajdi SMP dan SMA Terpadu Bustanul Arifin. Atas dorongan dan
dukungan masyarakat Bener Meriah dan sekitarnya, Pesantren Bustanul Arifin
mendirikan dan mengelola penguruan tinggi, maka pada tahun 2011 Pesantren
Bustanul Arifin mengajukan permohonan pendirian Perguruan Tinggi kepada
Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI). Pada tanggal 3 April 2013
Pesantren Bustanul Arifin disetujui dan diberi kepercayaan oleh Kemenag RI
untuk mengelola Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Bustanul Arifin, prodi
Bahasa Arab dengan SK Dirjen Pendis
(Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam) Nomor 779 Tahun 2013.
Awalnya Pesantren Bustanul Arifin hanya memiliki areal 1,5 Ha di pondok
sayur (komplek putri sekarang), pada waktu itu masih digabung antara komplek
putra dan putri, dengan bertambahnya tahun maka bertambah juga santri di dayah
Bustanul Arifin, maka pada tahun 2012
sudah tidak memungkinkan lagi untuk di gabung jadi satu dan dipindahakan
di desa Bale Atu (+5 km) dari komplek
putri seluas areal tanah 6,5 hektar.
Pesantren Bustanul Arifin selalu melakukan kajian strategis dan
penenlitian untuk meningkatkan mutu pendidikan di Pesantren Bustanul Arifin
khususnya, dan pada seluruh pesantren umumnya.
Tradisi Kitab Kuning
Pelajaran dan Judul dan Penulis Kitab di Tingkat Tsanawiyah
Pelajaran, Judul dan Penulis Kitab di Tingkat Aliyah
Penutup
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Pesantren Bustanul
Arifin, dapat disimpulkan bahwa pembinaan akhlak santri dilaksanakan melalui
pendekatan yang terpadu, yaitu:
1. Keteladanan dari ustadz dan pengasuh, yang menjadi model nyata
dalam perilaku sehari-hari.
2. Pembiasaan aktivitas positif, seperti shalat berjamaah, gotong
royong, dan kegiatan keagamaan rutin.
3. Pengawasan dan penegakan disiplin, yang dilakukan secara bertahap
dan edukatif.
4. Pengajaran kitab-kitab akhlak, yang menanamkan nilai-nilai moral
melalui pemahaman keilmuan klasik.
Saran
1. Nilai-nilai moderasi beragama
di Pesantren
Bustanul Arifin.
2. Integrasi kurikulum penerapan
Diniyah dan Umum di Pesantren Bustanul Arifin.
3. Strategi pembinaan karakter
santri
melalui kegiatan
harian
pesantren.
4. Peran pesantren dalam pemberdayaan
masyarakat
sekitar.
5. Pengaruh kegiatan ekstrakurikuler
terhadap kedisiplinan santri.
Daftar Pustaka
Wati, R. (2023). Kebijakan Penguatan Bahasa Asing dalam Menghadapi
Era Digital di Pesantren Terpadu Bustanul Arifin di Bener Meriah. Skripsi, Universitas
Islam Negeri Ar-Raniry.
Mustaqim, M. H., & Abdussyukur. (2024). Pengembangan Budaya Keagamaan
Pesantren: Studi Kasus di Pondok Pesantren Terpadu Bustanul Arifin dan Nurul
Islam Bener Meriah. Jumper: Journal of Educational Multidisciplinary
Research, 3(2), 57–74.
Sejarah Singkat Pesantren Bustanul Arifin. Pesantren Bustanul
Arifin. Diakses dari: Pesantren Bustanul Arifin
Dayah Bustanul Arifin Putera. Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten
Bener Meriah. Diakses dari: Bener Meriah Education
Dayah Bustanul Arifin Puteri. Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten
Bener Meriah. Diakses dari: Bener Meriah Education
Karya:
Hairani, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas Tarbiyah dan
Ilmu Keguruan UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Editor: Tiara Khalisna