Portal Berita Al-Kalam

Asap di Jalan, Racun di Rumah: Ketika Rokok Menguasai Tangan, Membutakan Nurani, dan Menjadi Simbol Kebodohan Kolektif

  Foto: Qonita Sholihat  Penulis: Muhammad Alif Maulana www.lpmalkalam.com- Ada dua pemandangan yang semakin hari semakin menjijikkan di neg...

HEADLINE

Latest Post

04 Mei 2026

Globalisasi Pendidikan dan Krisis Identitas: Urgensi Strategi Selektif Berbasis Melayu Islam Beraja (MIB) di Brunei Darussalam

 

Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com-

Penulis; Naufal El Fany, Muhammad Fahri Husaezi, Haura Lailatul Fitrah, Intan Sohipah, Azifah Azzrah, Nadya Alfianuri Fauziah, Euis Ratna Hikmatussufa

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pendidikan tradisional dalam menjaga identitas nasional Brunei Darussalam yang berlandaskan falsafah Melayu Islam Beraja (MIB), serta mengkaji tantangan globalisasi terhadap sistem pendidikan Islam. Globalisasi mendorong perubahan dalam metode, kurikulum, dan orientasi pendidikan ke arah yang lebih pragmatis dan berorientasi pasar, yang berpotensi memicu pergeseran nilai moral dan spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), melalui analisis berbagai literatur yang relevan. Data diperoleh dari sumber primer berupa artikel ilmiah tentang pendidikan Islam di Brunei, serta sumber sekunder terkait globalisasi dan ideologi pendidikan. Analisis dilakukan dengan teknik content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan tradisional berperan sebagai penjaga identitas nasional melalui pembentukan adab, karakter, dan nilai spiritual yang berbasis relasi guru–murid yang kuat. Namun, globalisasi berpotensi menghadirkan tantangan berupa penetrasi ideologi sekuler, pergeseran orientasi pendidikan, serta risiko disrupsi moral dan etika. Hal ini menunjukkan adanya ketegangan antara nilai tradisional dan pengaruh global dalam sistem pendidikan. Kesimpulannya, diperlukan strategi selektif dalam mengadopsi inovasi global agar tetap selaras dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, sistem pendidikan di Brunei Darussalam dapat tetap adaptif tanpa kehilangan identitas dan integritas keislamannya.

Kata kunci: Pendidikan tradisional, globalisasi, identitas nasional, Melayu Islam Beraja, pendidikan Islam.

ABSTRACT

This study aims to analyze the role of traditional education in preserving the national identity of Brunei Darussalam, which is grounded in the philosophy of Malay Islamic Monarchy (MIB), as well as to examine the challenges of globalization on the Islamic education system. Globalization has driven changes in educational methods, curricula, and orientations toward more pragmatic and market-oriented approaches, which potentially lead to shifts in moral and spiritual values. This research employs a qualitative approach using a library research method, through the analysis of relevant literature. The data are derived from primary sources in the form of scholarly articles on Islamic education in Brunei, as well as secondary sources related to globalization and educational ideology. The data are analyzed using content analysis techniques. The findings indicate that traditional education plays a crucial role in maintaining national identity through the formation of adab (proper conduct), character, and spiritual values, which are rooted in strong teacher-student relationships. However, globalization presents significant challenges, including the penetration of secular ideologies, shifts in educational orientation, and the risk of moral and ethical disruption. This reflects a tension between traditional values and global influences within the education system. In conclusion, a selective approach is necessary in adopting global innovations to ensure alignment with Islamic values. Through this approach, the education system in Brunei Darussalam can remain adaptive while preserving its identity and Islamic integrity.

Keywords: Traditional education, globalization, national identity, Malay Islamic Monarchy, Islamic education.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Globalisasi telah membawa transformasi signifikan dalam sistem pendidikan, baik pada aspek metode, kurikulum, maupun orientasi nilai. Perkembangan teknologi dan arus informasi mendorong pendidikan bergerak ke arah yang lebih pragmatis, kompetitif, dan berorientasi pada pasar. Namun, di sisi lain, globalisasi juga memunculkan tantangan serius berupa pergeseran nilai moral, nilI spiritual, dan identitas budaya.

Dalam konteks Brunei Darussalam, pendidikan memiliki peran strategis karena berlandaskan falsafah Melayu Islam Beraja (MIB), yang menempatkan Islam sebagai inti kehidupan bernegara. Oleh karena itu, sistem pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai instrumen ideologis dalam menjaga keberlanjutan identitas nasional. Keterbukaan terhadap inovasi global yang tidak selektif berpotensi mengikis nilai-nilai inti tersebut.

Sejumlah penelitian terdahulu telah mengkaji pendidikan Islam di Brunei dari berbagai perspektif. Penelitian Thoriquttyas et al. (2021) menunjukkan bahwa integrasi nilai Islam dalam kurikulum nasional berperan penting dalam menjaga identitas bangsa. Sementara itu, Mahadi et al. (2023) menyoroti peran pendidikan tradisional sebagai mekanisme ketahanan budaya dalam menghadapi arus globalisasi.

Meskipun demikian, sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada deskripsi sistem pendidikan atau perannya dalam menjaga identitas, dan belum secara mendalam mengkaji ketegangan antara pendidikan tradisional dengan penetrasi ideologi global serta implikasinya terhadap disrupsi moral dan etika. Selain itu, kajian mengenai strategi selektif dalam merespons globalisasi pendidikan juga masih terbatas.

Berdasarkan celah tersebut, penelitian ini menawarkan kebaruan dengan mengintegrasikan analisis peran pendidikan tradisional sebagai penjaga identitas nasional dengan kajian kritis terhadap tantangan ideologi global serta risiko disrupsi moral dalam pendidikan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pendekatan selektif sebagai strategi adaptif, sehingga inovasi global dapat diadopsi tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam yang menjadi fondasi utama sistem pendidikan di Brunei Darussalam.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), yang berfokus pada analisis konseptual terhadap peran pendidikan tradisional dalam menjaga identitas nasional Brunei Darussalam di tengah arus globalisasi. Pendekatan ini dipilih karena penelitian tidak melibatkan pengumpulan data lapangan, melainkan mengkaji dan menafsirkan berbagai sumber literatur yang relevan.

Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari artikel ilmiah yang secara langsung membahas sistem pendidikan Islam di Brunei Darussalam, seperti Thoriquttyas et al., dan Mahadi et al., Sementara itu, data sekunder berasal dari literatur teoritis yang berkaitan dengan globalisasi dan pendidikan, termasuk pemikiran Anthony Giddens tentang globalisasi, Michael W. Apple mengenai ideologi pendidikan, serta Robert W. Hefner terkait dinamika pendidikan Islam dalam konteks modern.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan cara mengidentifikasi, menyeleksi, dan mengkaji sumber-sumber yang relevan dan kredibel. Analisis data menggunakan teknik analisis isi (content analysis), yang dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data secara tematik, serta penarikan kesimpulan secara interpretatif. Melalui metode ini, penelitian berupaya menghasilkan pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan antara pendidikan tradisional, identitas nasional, dan tantangan globalisasi dalam konteks Brunei Darussalam.

Rumusan Masalah

Bagaimana peran pendidikan tradisional dalam menjaga identitas nasional Brunei Darussalam yang berlandaskan falsafah Melayu Islam Beraja (MIB)?
Apa keunggulan metode pendidikan tradisional dalam pembentukan adab dan karakter peserta didik?
Bagaimana pengaruh globalisasi terhadap perubahan nilai moral dan orientasi pendidikan di Brunei Darussalam?
Apa saja tantangan ideologis yang dihadapi sistem pendidikan Brunei dalam menghadapi arus globalisasi?
Bagaimana strategi selektif yang dapat diterapkan untuk menjaga keseimbangan antara inovasi global dan nilai-nilai Islam.

Tujuan Penelitian

Menganalisis peran pendidikan tradisional sebagai penjaga identitas nasional Brunei Darussalam yang berbasis falsafah Melayu Islam Beraja (MIB).
Mengkaji keunggulan metode pendidikan tradisional dalam membentuk adab, karakter, dan nilai spiritual peserta didik.
Mengidentifikasi dampak globalisasi terhadap pergeseran nilai moral dan orientasi pendidikan.
Menganalisis tantangan ideologis yang muncul dalam sistem pendidikan akibat pengaruh globalisasi.
Merumuskan strategi selektif dalam mengadopsi inovasi global tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam.

PEMBAHASAN

Pendidikan Tradisional sebagai Penjaga Identitas Nasional

Dalam konteks Brunei Darussalam, pendidikan tradisional tidak dapat dipahami hanya sebagai sarana penyampaian ilmu, melainkan sebagai instrumen strategis dalam menjaga keberlanjutan identitas nasional. Sistem ini berfungsi secara aktif dalam mereproduksi nilai-nilai ideologis yang bersumber dari prinsip Melayu Islam Beraja (MIB), yang menjadi fondasi utama kehidupan bernegara. Jika sistem ini terlalu terbuka terhadap inovasi global yang sering berbasis nilai Barat atau sekuler, terdapat risiko besar nilai-nilai inti akan terkikis.

Peran tersebut tampak dalam kebijakan pendidikan yang mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam kurikulum nasional. Pendidikan agama tidak ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai inti dalam pembentukan karakter peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa negara memposisikan pendidikan sebagai alat ideologis untuk memastikan kesinambungan identitas bangsa di tengah perubahan zaman (Thoriquttyas et al., 2021: 198-200)

Lebih jauh, dalam menghadapi tekanan globalisasi, pendidikan tradisional berfungsi sebagai mekanisme ketahanan budaya. Arus global yang membawa nilai sekularisme dan individualisme berpotensi mengikis batas-batas nilai lokal yang berbasis Islam. Dalam situasi seperti ini, keberadaan sistem pendidikan tradisional menjadi penting sebagai benteng yang menjaga orisinalitas identitas keislaman dan budaya Melayu agar tidak larut dalam arus homogenisasi global (Mahadi et al., 2023: 338).

Keunggulan Metode Tradisional: Relasi Guru-Murid dan Pembentukan Adab

Keunggulan utama pendidikan tradisional Islam seperti halaqah, hafalan, dan kajian kitab terletak pada pendekatan pembelajarannya yang bersifat holistik, di mana proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai-nilai spiritual, hal ini sejalan dengan pandangan bahwa “The aim of education in Islam is therefore to produce a good man.” (Al-Attas, 1987: 150), yang menunjukkan bahwa tujuan utama pendidikan adalah pembentukan manusia beradab, bukan sekadar penguasaan ilmu. Pola pembelajaran ini menempatkan hubungan langsung antara guru dan murid sebagai pusat proses pendidikan, sehingga memungkinkan terjadinya internalisasi nilai, adab, dan etika secara lebih mendalam.

Dalam konteks ini, kedekatan relasional antara guru dan murid menjadi elemen penting yang membedakan pendidikan tradisional dengan sistem pendidikan modern yang cenderung bersifat impersonal dan berbasis sistem. Proses pembelajaran tidak hanya berlangsung secara kognitif, tetapi juga melalui keteladanan (uswah) yang diberikan oleh guru dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks Brunei Darussalam, karakteristik pendidikan tradisional tersebut masih dapat ditemukan dalam sistem pendidikan Islam yang terintegrasi dengan nilai-nilai Melayu Islam Beraja (MIB). Hal ini menunjukkan adanya komitmen untuk mempertahankan model pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan moral dan identitas keagamaan peserta didik. Dengan demikian, pendidikan berfungsi sebagai sarana pembentukan manusia yang beradab dan berakar pada nilai-nilai Islam, bukan sekadar sebagai mekanisme produksi tenaga kerja (Thoriquttyas et al., 2021: 200).

Risiko Disrupsi Moral dan Etika dalam Globalisasi Pendidikan

Transformasi pendidikan akibat globalisasi tidak hanya terjadi pada aspek teknis, tetapi juga menyentuh dimensi nilai. Digitalisasi, standardisasi kurikulum, serta orientasi pada pasar tenaga kerja telah menggeser arah pendidikan menjadi lebih pragmatis. Menurut Fazal Rizvi dan Bob Lingard, pendidikan global kini cenderung bergerak dalam logika kompetisi dan performativitas, sehingga dimensi pembentukan karakter sering kali terabaikan (Rizvi & Lingard, 2009: 98).

Dalam konteks Brunei Darussalam, kecenderungan ini menjadi persoalan serius karena bertentangan dengan tujuan pendidikan Islam yang menempatkan akhlak sebagai prioritas utama. Ketika pendidikan terlalu berorientasi pada efisiensi dan produktivitas, terdapat risiko bahwa nilai-nilai moral dan spiritual akan terpinggirkan. Padahal, aspek inilah yang justru menjadi inti dari sistem pendidikan berbasis MIB.

Oleh karena itu, tidak semua bentuk inovasi dapat diterima secara langsung. Diperlukan mekanisme seleksi yang cermat agar pengaruh global tidak merusak struktur nilai yang telah mapan. Tanpa sikap kritis, modernisasi pendidikan justru dapat menjadi pintu masuk bagi disrupsi moral dan etika dalam masyarakat (Mahadi et al., 2023: 338)

Tantangan Ideologi Global dalam Pendidikan
Globalisasi pendidikan pada dasarnya tidak hanya membawa inovasi, tetapi juga menyertakan nilai dan ideologi tertentu. Dalam pandangan Michael W. Apple, pendidikan selalu berada dalam kerangka kepentingan ideologis, sehingga tidak pernah benar-benar netral (Apple, 2004: 67). Artinya, adopsi sistem pendidikan global juga berarti menerima cara pandang yang melatarbelakanginya.

Bagi Brunei Darussalam, kondisi ini menghadirkan tantangan tersendiri. Ideologi global yang cenderung sekuler dapat berbenturan dengan prinsip Melayu Islam Beraja (MIB) yang menempatkan agama sebagai pusat kehidupan. Ketegangan ini menunjukkan bahwa globalisasi bukan sekadar fenomena teknis, melainkan juga ideologis.

Lebih lanjut, Robert W. Hefner menegaskan bahwa pendidikan Islam saat ini berada dalam tarik-menarik antara tradisi dan modernitas (Hefner, 2009: 212). Jika tidak dikelola dengan baik, penetrasi nilai global dapat mendorong terjadinya sekularisasi secara bertahap, di mana dimensi spiritual semakin tersisih dari sistem pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak hanya adaptif, tetapi juga kritis dan selektif dalam menghadapi arus global.

Pergeseran Nilai Moral-Spiritual dan Strategi Selektif

Globalisasi juga membawa dampak langsung terhadap perubahan orientasi nilai dalam masyarakat. Perkembangan teknologi informasi memungkinkan masuknya berbagai ide dan gaya hidup yang tidak selalu selaras dengan ajaran Islam. Dalam analisis Anthony Giddens, globalisasi menciptakan perubahan sosial yang mampu memengaruhi cara berpikir, pola hidup, serta sistem nilai masyarakat (Giddens, 2003: 64).

Dalam dunia pendidikan, kondisi ini tercermin pada meningkatnya kecenderungan materialisme, di mana keberhasilan lebih diukur melalui capaian ekonomi dibandingkan kualitas moral dan spiritual. Fenomena ini sejalan dengan temuan Rizvi dan Lingard yang menunjukkan dominasi logika ekonomi dalam sistem pendidikan global (Rizvi & Lingard, 2009: 98).

Jika dibiarkan, pergeseran ini dapat mengubah fungsi pendidikan dari pembentukan akhlak menjadi sekadar sarana produksi sumber daya manusia. Dalam konteks Brunei Darussalam, hal ini berpotensi melemahkan peran pendidikan sebagai penjaga identitas keislaman. Sebagai upaya menghadapi kondisi tersebut, pendekatan selektif menjadi pilihan yang paling rasional. Pendekatan ini menekankan pentingnya menyaring setiap pengaruh global berdasarkan kesesuaiannya dengan nilai Islam. Dengan demikian, inovasi yang bersifat teknis tetap dapat diadopsi, sementara nilai yang bertentangan dapat ditolak. Strategi ini memungkinkan Brunei untuk tetap terbuka terhadap perkembangan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai negara yang berlandaskan Melayu Islam Beraja (Mahadi et al., 2023: 338).

Kesimpulan

Pendidikan tradisional di Brunei Darussalam memiliki peran penting sebagai penjaga identitas nasional yang berlandaskan falsafah Melayu Islam Beraja (MIB). Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter, adab, dan nilai-nilai keislaman.

Keunggulan pendidikan tradisional terletak pada pendekatan holistik yang menekankan hubungan erat antara guru dan murid, sehingga memungkinkan internalisasi nilai secara mendalam. Hal ini sejalan dengan pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang baik (a good man).

Di sisi lain, globalisasi membawa tantangan berupa pergeseran nilai moral dan masuknya ideologi yang tidak selalu sejalan dengan prinsip MIB. Oleh karena itu, diperlukan strategi selektif dalam menyikapi pengaruh global, yaitu dengan mengambil aspek positifnya tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam. Dengan pendekatan ini, pendidikan di Brunei dapat tetap adaptif sekaligus menjaga identitas dan integritasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, S. M. N. (1987). Islam and Secularism (1st ed.). Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).

Apple, M. (2004). Ideology and Curriculum (3rd ed.). Routledge.

Giddens, A. (2003). Runaway World: how globalization is reshaping our lives. New York : Routledge.

Hefner, R. W. (2009). Making Modern Muslims: The Politics of Islamic Education in Southeast Asia. University of Hawai’i Press.

Mahadi, M., A. Rahman, S. K., & Jaidi, N. (2023). The Role of Brunei’s Philosophy in The Education System to Face the Challenges of Globalization (Peranan Falsafah Brunei Dalam Sistem Pendidikan Bagi Menghadapi Cabaran Globalisasi).

International Journal of Advanced Research in Education and Society, 5(4), 335–350.
Rizvi, F., & Lingard, B (2009).

Globalizing Education Policy. Routledge.
Thoriquttyas, T., Nasih, A. M., Sultoni, A., & Yani, A. (2021). 

Malay, Islam, Beraja and The [Islamic] Educational Philosophy in Brunei Darussalam. Edukasia : Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 16(2), 193. 


Penulis: Naufal El Fany, dkk. Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, UIN Sultanah Nahrasyiah Lhokseumawe.

Editor: Putri Ruqayyah 

16 Januari 2026

Napas Panjang Tradisi Ilmiah Dunia Islam

Foto: Pixabay.com

www.lpmalkalam.com– Dalam dunia Islam tradisi ilmiah merupakan warisan ilmuan yang tumbuh seiring dengan berkembangnya peradaban Muslim sejak masa awal. Pada era klasik, ilmu pengetahuan berkembang pesat seiring kuatnya dorongan Al-Qur’an dan hadis terhadap pencarian ilmu. Ilmu-ilmu agama seperti tafsir, hadis, fikih, dan ilmu kalam tumbuh beriringan dengan ilmu rasional seperti filsafat, kedokteran, matematika, dan astronomi. Tokoh-tokoh utama pada masa ini yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi‘i, dan Imam Ahmad bin Hanbal, dalam bidang fikih ada Al-Kindi dan Al-Farabi, dalam bidang filsafat dan sains ada Ibnu Sina, dalam bidang matematika ada Al-Khawarizmi. Kontribusi pada era klasik terlihat pada sistematisasi ilmu, lahirnya metodologi ilmiah, serta berdirinya pusat-pusat ilmu seperti Bayt Al-Hikmah yang menjadikan dunia Islam sebagai pusat peradaban global.

Pada era abad pertengahan, tradisi ilmiah Islam mengalami fase peleburan dan penguatan. Pada masa ini fokus keilmuan tidak lagi hanya pada penemuan baru, tetapi juga pada pengembangan, kritik, dan integrasi ilmu-ilmu yang telah ada. Tokoh-tokoh seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiyah, dan Fakhruddin Al-Razi tampil dengan karya-karyanya yang mempertemukan rasionalitas dan spiritualitas. Kontribusi penting pada era ini adalah pematangan metodologi keilmuan, penguatan disiplin ushul fikih, tasawuf, dan kritik filsafat, serta usaha menjaga keseimbangan antara akal dan wahyu dalam tradisi ilmiah Islam.

Memasuki era modern, dunia Islam mulai berhadapan langsung dengan kolonialisme, modernitas barat, dan kemajuan sains modern. Kondisi ini melahirkan tokoh-tokoh pembaru seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rashid Rida, serta Muhammad Iqbal, yang mendorong kebangkitan intelektual dan reformasi pemikiran Islam. Kontribusi era modern tampak dalam upaya pembaruan pendidikan, reinterpretasi ajaran Islam agar selaras dengan perkembangan zaman, serta munculnya wacana integrasi antara ilmu agama dan ilmu modern. Tradisi ilmiah Islam pada masa ini bergerak dari pola tradisional menuju sistem pendidikan yang lebih formal dan institusional.

Sementara itu, era kontemporer ditandai oleh kompleksitas tantangan global, seperti globalisasi, digitalisasi, krisis moral, dan pluralitas pemikiran. Tokoh dalam gerakan kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi, Fazlur Rahman, Nurcholish Madjid, Quraish Shihab, serta lembaga-lembaga pendidikan dan gerakan intelektual Muslim, berusaha menanggapi tantangan tersebut dengan pendekatan kontekstual dan moderat. Tantangan tradisi ilmiah Islam di era ini adalah menjaga kemurnian keilmuan klasik sekaligus merespons realitas modern, menghindari perpecahan antara tradisionalisme dan liberalisme, serta membangun tradisi riset yang kuat dan juga relevan. Dalam pandangan penulis, keberlanjutan tradisi ilmiah Islam di era kontemporer sangat bergantung pada kemampuan umat Islam untuk merawat warisan intelektual klasik sambil terbuka terhadap dialog dan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Dalam dunia Islam Tradisi ilmiah merupakan warisan intelektual yang lahir dari perpaduan antara dorongan wahyu dan kesungguhan akal manusia dalam memahami kehidupan. Mulai dari era klasik hingga kontemporer, tradisi ini menunjukkan kemampuan Islam dalam melahirkan pemikiran yang sistematis, kritis, dan relevan dengan konteks zamannya. Tantangan yang dihadapi pada masa kini menuntut adanya sikap bijak dalam merawat khazanah keilmuan klasik tanpa menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan modern. Keberlanjutan tradisi ilmiah Islam tidak terletak pada romantisme masa lalu semata, tetapi pada kesanggupan umat Islam untuk menjadikan warisan intelektual tersebut sebagai landasan membangun pemikiran yang kontekstual, berimbang, dan berorientasi pada kemaslahatan umat di masa depan.


Penulis: Cut Nazar Mutia Hanum, Mahasiswi Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe 

Editor: Zuhra

01 November 2025

Ketika Perempuan Memimpin: Kejayaan Samudera Pasai di Tangan Sultanah Nahrasyiyah

Foto: Cut Saputri (Magang)

www.lpmalkalam.com- Dalam lembaran sejarah Nusantara yang kaya akan sejarah, terdapat sosok pemimpin perempuan yang sayangnya sudah mulai terlupakan oleh remaja masa kini. Malikah Nahrasyiyah binti Zainal Abidin, ia merupakan seorang perempuan yang memimpin Kesultanan Samudera Pasai pada tahun 1406–1428 M. Ia menjadi bukti nyata bahwa kemimpinan perempuan di dunia Islam Nusantara telah ada sejak berabad-abad lalu.

Sultanah Nahrasyiyah merupakan pemimpin yang pemurah dan bertanggung jawab. Pada saat beliau memimpin selama 22 tahun, Kesultanan Samudera Pasai selalu mencapai puncak kejayaannya. Fakta ini menantang anggapan yang sering dikaitkan dengan kepemimpinan perempuan, terutama dalam masalah pemerintahan kerajaan islam pada abad pertengahan. 

1. Penyebaran Islam dan Perundingan Kebudayaan

Masa pemerintahan Sultanah Nahrasyiyah ditandai dengan cepatnya terjadi penyebaran agama Islam di kawasan Asia Tenggara. Samudera Pasai pada masa itu menjadi pedoman bagi kerajaan-kerajaan lain yang ada di Nusantara. Pencapaian ini membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan tidak akan menghalangi kemajuan nilai-nilai keagamaan. Bahkan sebaliknya, kepemimpinan perempuan justru lebih kuat dari perkiraan. 

2. Peninggalan yang Harus Sama-sama Kita Hidupkan kembali

Salah satu peninggalan dari Sultanah Nahrasyiyah adalah Nisan Sultanah Nahrasyiyah yang masih utuh hingga kini, letaknya berada di Kuta Krueng, Samudera, Aceh Utara. Namun, warisan sesungguhnya yang perlu sama-sama kita jaga adalah nilai-nilai kepemimpinannya yaitu: Bagaimana ia bijaksana ketika memimpin, kasih sayangnya, dan kemampuannya yang mampu membawa kemajuan rakyatnya. 

Malikah Nahrasyiyah binti Zainal Abidin adalah bukti untuk kita bahwa kepemimpinan perempuan bukanlah hal baru atau asing dalam budaya kita. Sudah saatnya kita mengembalikan Sultanah Nahrasyiyah ke tempat yang seharusnya dalam kesadaran bersama untuk bangsa ini, bukan hanya sebagai catatan kaki sejarah, tetapi juga sebagai bukti nyata bahwa perempuan Nusantara telah lama memiliki tempat di puncak kepemimpinan, dan ketika mereka memimpin dengan kebijaksanaan, maka kejayaan pun akan mengikuti.


Penulis: Cut Saputri (Magang)

Editor: Zuhra

Ayo Jaga Kebersihan Sungai Lhok Buloh!

Foto: Pixabay.com

www.lpmalkalam.com- Sungai Lhok Buloh adalah salah satu tempat wisata yang sering dikunjungi pengunjung untuk bersantai atau melepas penat. Suasananya tenang, udaranya sejuk, dan pemandangannya juga indah. Tapi sayangnya, masih ada sampah yang terlihat di sekitar sungai. Ada yang di tepi, ada juga yang hanyut terbawa air.

Jika dilihat dari dekat, sampahnya beragam. Mulai dari plastik, botol, sampai bungkus makanan ringan. Hal seperti ini jelas mengganggu pemandangan dan bisa membuat air sungai menjadi kotor. Lama-kelamaan, ikan dan makhluk hidup lain pun bisa ikut terganggu, sehingga keindahan sungai mulai rusak.

Padahal, menjaga kebersihan itu sangat sederhana. Cukup dengan tidak membuang sampah sembarangan, membawa pulang sampah sendiri, atau yang paling mudah yaitu membuangnya di tempat yang sudah disediakan. Jika setiap orang punya kesadaran dan mau melakukan hal kecil seperti itu, kebersihan dan keindahan sungai Lhok Buloh pasti akan lebih terjaga.

Lhok Buloh bisa menjadi tempat yang lebih indah lagi kalau semua pengunjung ikut peduli. Jadi, mulai dari sekarang, mari biasakan diri menjaga kebersihan dimanapun dan kapanpun. Bukan hanya untuk kita, tapi juga agar keindahan alam bisa terus dinikmati oleh semua orang.


Penulis: Chalisa Najla Safira (Magang)

Editor: Tiara Khalisna

 

5 Fakta Unik Pulau Simeulue

Foto: Tiktok/@berita_simeulue_official

www.lpmalkalam.com- Pulau Simeulue adalah pulau kecil di Barat Aceh yang menyimpan segudang keunikan, kreatifitas lokal, penyelamat tsunami, hingga ombak kelas dunia. Yuk kenali lebih dekat ke indahan dan kreatifitas Pulau Simeulue. 

1. Surga Peselancar Dunia

Dikutip dari The Perfect Wave Travel dijelaskan bahwa ombak di Simeulue dikenal memiliki karakter dan konsisten sepanjang tahun. Spot-spot seperti Dylan's Right, Tea Bags, dan The Peak menjadi incaran peselancar dari Australia, Eropa dan Amerika. 

Dilansir dari LUEX Surf Travel, dikatakan bahwa tidak sedikit yang menyebut Simeulue sebagai “The Next Mentawai” karena ombaknya yang sempurna namun masih sepi dari keramayan wisata misal. Bagi mereka yang mencari keaslian dan petualangan, Simeulue adalah surga yang tersembunyi di ujung barat Nusantara. 

2. Pulau yang Selamat dari Tsunami Aceh

Dikutip dari ResearchGate, ketika tsunami dahsyat melanda Aceh pada 26 Desember 2004, hampir seluruh penduduk Simeulue berhasil selamat. Rahasianya terletak pada kearifan lokal bersama "Smong", sebuah cerita rakyat yang di wariskan terun temurun. 

Cerita ini mengajarkan, jika terjadi gempa besar dan air laut tiba-tiba surut, maka segera lari ke tempat tinggi. Pengetahuan sederhana ini terbukti menyelamatkan ribuan nyawa dan kini di akui secara global sebagai warisan budaya mitigasi bencana. 

3. Surga Penyu dan Ikan Tuna 

Dikutip dari salah satu artikel dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Simeulue menjadi rumah bagi beragam spesies penyu langka, termasuk penyu hijau, penyu sisik dan penyu belimbing. Setiap tahun, penyu-penyu ini datang untuk bertelur di pantai berpasir putih yang masih alami. Selain itu, perairan Simeulue dikenal kaya dengan ikan tuna kualitas ekspor, yang menjadi andalan ekonomi bagi masyarakat pesisir. 

4. Kaya Tradisi, Bahasa, dan Alam yang Lestari 

Menurut Balai Bahasa Kemendikbud, selain alamnya yang indah, Simeulue juga memiliki kekayaan budaya yang unikunik, penduduknya menggunakan bahasa bahasa lokal seperti (Devayan, Sigulai, dan Leukon) yang berbeda dari bahasa Aceh di daratan. Tradisi musik, tari, dan adat istiadat masih dijaga dengan baik oleh masyarakat, mencerminkan keharmonisan antara manusia dan alam. 

5. Alam yang Masih Lestari Penuh Kehidupan 

Dikutip dari WWF Indonesia, Simeulue dikelilingi hutan tropis, mangrove, dan terumbu karang yang masih alami. Banyak spesies endemik hidup disana, termasuk burung laut, ikan karang, hingga mamalia langka. 

Ekosistem yang terjaga ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Simeulue hidup Berdampingan dengan alam secara harmonis. 


Penulis: Frendi Ashari (Magang)

Editor: Tiara Khalisna

 

22 Juli 2025

Yayasan Pendidikan Islam Darussa'adah Aceh Pusat

Foto: IST

www.lpmalkalam.com-

Pendahuluan

Pendirian Dayah Darussa’adah pada tanggal 25 Rabi’ul Akhir 1388 H / 20 Juli 1968 M didasarkan pada cita-cita Al-Qur’an dan Hadits dengan berpegang pada i’tiqad ahlussunnah wal jama’ah dengan prinsip mura’atul adh-dhamir (prinsip mempersatukan ummat islam dalam ikatan yang hakiki, bukan pada ikatan suku, ras dan golongan tertentu) yang dikukuhkan dalam AD&ART Darussa’adah (15 Sya’ban 1388 H / 5 November 1968 M).

Darussa’adah merupakan dayah yang memiliki pendidikan formal seperti dayah/pesantren lainnya, Sekolah Menengah Umum Tingkat Pertama (SMP) Darussa’adah didirikan pada tahun 1984 dan Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (SMA/SMU) didirikan pada tahun 1986. Kedua jenis sekolah ini dibuka di kampus Darussa’adah pusat Teupin Raya. Fasilitas yang tersedia antara lain berupa ruang belajar, Sekretariat, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya untuk mendukung proses belajar mengajar di lingkungan Dayah Darussa’adah.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis secara mendalam peran Teungku Muhammad Ali Irsyad dalam pengembangan dakwah, pendidikan, dan karya ilmiah Islam di Aceh.

Hasil dan Pembahasan

Teungku Muhammad Ali Irsyad, atau lebih dikenal dengan Abu Teupin Raya, adalah ulama kharismatik dari Aceh yang lahir tahun 1921 di Kayee Jatoe, Teupin Raya, Glumpang Tiga, Pidie. Beliau berasal dari keluarga ulama dan pejuang, baik dari jalur ayah maupun ibu.  

Peran dan kontribusi dalam dunia pendidikan Islam, beliau dikenal sangat aktif dalam pengembangan dakwah ilmiah dan pendidikan keislaman. Melalui penulisan kitab dan pengajaran di dayah, beliau membentuk generasi yang kuat dalam akidah dan keilmuan Islam.

Sejarah Dayah

Dayah yang diasuh oleh Teungku Muhammad Ali Irsyad dikenal sebagai pusat pendidikan Islam tradisional di Aceh. Didirikan di Teupin Raya, dayah ini menjadi tempat lahirnya banyak ulama dan cendekiawan Muslim. Didirikan sebagai bentuk pengabdian terhadap agama dan masyarakat, dayah ini awalnya merupakan tempat belajar kecil yang berkembang karena kharisma dan keilmuan sang pendiri.

Tradisi Kitab Kuning

- Awaluddin Ma’rifatullah (Tauhid)

- Al-Qaidah (Nahwu)

- Taqwimu Al-Hijri (Ilmu Falak)

- Ad-Da’watul Wahabiyah (Gerakan Dakwah Wahabi)

 Kitab-kitab lain yang membahas fiqh, tasawuf, dan alat (bahasa Arab).


a.Tingkat Tsanawiyah

Tabel. 1 Pelajaran dan Judul dan Penulis Kitab di Tingkat Tsanawiyah

Penutup

Dayah Darussa’adah merupakan lembaga pendidikan Islam yang berdiri dengan dasar Al-Qur'an dan Hadits, berpegang pada manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah serta memiliki prinsip persatuan umat Islam tanpa memandang suku, ras, dan golongan. Lembaga ini telah memberikan kontribusi besar dalam bidang pendidikan agama dan umum sejak didirikan pada tahun 1968 oleh seorang ulama kharismatik, Teungku Muhammad Ali Irsyad, yang dikenal luas sebagai Abu Teupin Raya. Melalui perjuangan beliau, Dayah Darussa’adah tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi wadah pengembangan dakwah dan ilmu pengetahuan Islam.

Kesimpulan

Dayah Darussa’adah merupakan lembaga pendidikan Islam yang berdiri sejak tanggal 25 Rabi’ul Akhir 1388 H atau 20 Juli 1968 M, dengan visi membentuk umat Islam yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits sesuai dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Dayah ini tidak hanya fokus pada pendidikan agama, tetapi juga menyediakan pendidikan formal tingkat SMP dan SMA sejak tahun 1984 dan 1986. Pendirinya, Teungku Muhammad Ali Irsyad, adalah seorang ulama kharismatik asal Aceh yang dikenal aktif dalam dakwah dan penulisan karya-karya ilmiah dalam berbagai bahasa. Melalui perjuangan beliau, Dayah Darussa’adah telah berkembang menjadi pusat pendidikan dan dakwah yang berpengaruh di Aceh, dengan prinsip persatuan umat Islam tanpa memandang suku, ras, atau golongan tertentu. Peran besar beliau serta kontribusi Dayah Darussa’adah menjadikan lembaga ini sebagai salah satu pilar penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan syariat Islam di daerahnya.

Saran-saran

1. Pengembangan Sarana dan Prasarana: Dayah Darussa’adah diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas sarana dan prasarana guna menunjang pembelajaran yang lebih optimal.

2. Digitalisasi dan Dokumentasi: Penting untuk melakukan digitalisasi terhadap karya-karya tulis peninggalan Teungku Muhammad Ali Irsyad agar dapat diakses lebih luas dan tidak hilang dimakan zaman.

3. Peningkatan Kerjasama: Dayah ini disarankan menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan lain baik nasional maupun internasional untuk pengembangan mutu pendidikan dan pertukaran keilmuan.

4. Pemberdayaan Alumni: Perlu adanya wadah organisasi alumni yang aktif untuk memperkuat jejaring dakwah dan pendidikan Dayah Darussa’adah.

Sumber data: wawancara dengan  alumni Dayah Yayasan Pendidikan Islam Darussa'adah Aceh Pusat 


Karya: Nurul Maulita, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini UIN Sultanah Nahrasiyah

Editor: Indira Ulfa

20 Juli 2025

Dayah Misbahul Ulum: Sejarah dan Tradisi Kitab Kuning

Foto: IST
www.lpmalkalam.com

Pendahuluan

Misbahul Ulum adalah sebuah lembaga pendidikan Islam yang berfokus pada pengajaran ilmu agama dan umum. Nama Misbahul Ulum sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “Pelita Ilmu,” mencerminkan tujuan lembaga ini dalam menyebarkan ilmu pengetahuan dan mencetak generasi yang berakhlak mulia.

Lembaga ini biasanya mengintegrasikan kurikulum berbasis keislaman dengan pendidikan formal, seperti ilmu pengetahuan alam, sosial, dan teknologi. Beberapa pesantren atau madrasah dengan nama Misbahul Ulum tersebar di berbagai daerah di Indonesia, masing-masing dengan ciri khas dan metode pengajarannya sendiri.

Metode Penelitian

Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan di Pesantren Modern Misbahul Ulum Lhokseumawe, metode penelitian yang sering digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode ini bertujuan untuk memahami dan menafsirkan makna dari interaksi dan perilaku manusia dalam situasi tertentu, sehingga dapat memberikan gambaran yang sistematis.

Sebagai contoh, dalam penelitian mengenai strategi ustaz dan ustazah dalam meningkatkan kemampuan public speaking santri, digunakan metode kualitatif deskriptif untuk mengumpulkan dan menganalisis data melalui wawancara dan observasi.

Demikian pula, penelitian tentang metode bimbingan akhlak bagi santri yang melakukan pelanggaran peraturan pesantren juga menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik purposive sampling digunakan untuk menentukan subjek penelitian, dan data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara.

Selain itu, penelitian mengenai manajemen sarana dan prasarana dalam peningkatan akreditasi di Pesantren Modern Misbahul Ulum menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini melibatkan subjek seperti pimpinan pesantren, kepala bidang sarana dan prasarana, serta guru, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Penggunaan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dalam penelitian-penelitian tersebut memungkinkan peneliti untuk menggali informasi mendalam mengenai fenomena yang terjadi di lingkungan Pesantren Modern Misbahul Ulum Lhokseumawe.

Hasil dan Pembahasan

Pesantren Modern Misbahul Ulum atau yang biasa disingkat PMMU terletak di Jalan Tgk. Chik Di Paloh, Desa Meuria Paloh, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, yang berada sejauh 800 meter dari Jalan Medan–Banda Aceh ke arah utara Desa Meuria Paloh. Pesantren Modern Misbahul Ulum adalah pondok pesantren yang memadukan unsur keagamaan tradisional yang kuat di Aceh dengan unsur kemajuan dan modernisasi yang dipadukan melalui sistematika Pondok Pesantren Gontor, menjadikan Pesantren Modern Misbahul Ulum sebagai pesantren terbesar di Kota Lhokseumawe dengan beragam prestasi. PMMU adalah pondok pesantren yang memiliki metode belajar-mengajar umum dan juga agama. Pesantren ini juga memiliki berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan metode pembelajaran yang sangat praktis.

Tahun ajaran 2019–2020, Pesantren Modern Misbahul Ulum memiliki jumlah santri kurang lebih sebanyak 1.522 santri, di antaranya 817 santriwan dan sekitar 705 santriwati. PPMU juga memiliki 73 tenaga pengajar atau yang biasa disebut “ustaz/ah”, di antaranya 43 ustaz dan sekitar 30 ustazah. Ustaz dan ustazah ada yang menjadi guru tetap dan tinggal di lingkungan pesantren, ada juga yang tidak tetap seperti halnya guru-guru di luar sana.

Strategi dalam Membina Seni Berbicara dan Mental Santri

Pesantren Modern Misbahul Ulum merupakan pesantren yang menerapkan pendidikan umum, agama, serta aneka ragam kegiatan ekstrakurikuler. Pendidikan ekstrakurikuler sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan masa depan. Kegiatan ini diajarkan oleh ustaz dan ustazah. Pembinaan kegiatan ini pada santri dilaksanakan dengan cara ustaz dan ustazah mengajarkan langsung bagaimana cara meningkatkan seni berbicara dan membentuk mental pada diri santri, serta bagaimana cara mengajarkan kepada santri-santri di bawah mereka.

Pelaksanaan pembinaan ini terpusat pada seni berbicara dan mental masing-masing santri. Apa pun yang dilakukan pondok pesantren berdasarkan kebutuhan dari santri tersebut, demi membentuk karakter santri yang memiliki keterampilan dalam seni berbicara dan mental untuk menjadi alumni yang berguna bagi masyarakat dan bangsa. Pelaksanaan pembelajaran di Pesantren Modern Misbahul Ulum menggunakan sistem salafiyah modern, yaitu selain mengaji, pesantren juga mengajarkan segala jenis ekstrakurikuler yang bertujuan untuk terciptanya sosok santri yang memiliki ilmu agama juga ilmu cara berorganisasi, berinovasi, berkreasi, dan mengajar apa yang telah dikaji selama dari kelas satu hingga kelas lima, dan saat kelas enam mereka harus mampu mengimplementasikan segala ilmu yang telah dikaji selama kurang lebih lima tahun sebelumnya.

Semua ini mengedepankan pembelajaran yang sistematis dan metodis dari kurikulum pesantren tersendiri. Adapun kegiatan-kegiatan yang dapat mendukung pelaksanaan pembelajaran ekstrakurikuler dalam meningkatkan seni berbicara dan mental santri Pesantren Modern Misbahul Ulum yaitu Muhadharah, Muhadatsah, Darsul Izhaf, Khutbah Jumat, dan Amaliah Tadris. Selain itu, juga ada beberapa kegiatan lainnya yang muncul dari kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas. Kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan dan dikemas oleh kurikulum pesantren sangat efektif dalam meningkatkan seni berbicara dan mental santri Pesantren Modern Misbahul Ulum. Segala kegiatan tersebut telah terbagi seperti yang telah penulis jelaskan di atas, yaitu:

Pertama, Muhadharah  (محاضرة) adalah bahasa Arab yang berarti lecture/kuliah. Kata yang sepadan dengan muhadharah dalam bahasa Arab adalah dars (درس) yang berarti lesson/pelajaran. Secara sederhana, muhadharah adalah latihan pidato. Jadi, kegiatan muhadharah yang selama ini digunakan di pesantren ternyata sangat berpengaruh bagi anak-anak santri.

Dengan pembekalan muhadharah yang lebih serius lagi, pastinya akan menjadi tempat pembinaan yang lebih baik. Dalam kegiatan ini santri dituntut untuk membuat sebuah pidato yang dirangkai oleh pribadi mereka masing-masing. Rangkaian tersebut tercipta melalui ilmu pengetahuan mereka masing-masing dalam kajian ilmu yang telah mereka pelajari setiap harinya di pesantren. Setelah itu ustaz dan ustazah menyuruh mereka menghafalkan dan memahami apa yang telah mereka rangkai sedemikian rupa sehingga mereka mampu berpidato di depan santri lainnya.

Kedua, Pesantren Modern Misbahul Ulum adalah salah satu pondok yang menerapkan muhadatsah sebagai pembelajaran maharah kalam bagi santrinya. Pertama, di pesantren setelah salat subuh setiap santri diajarkan bahasa Arab oleh para mudabbir di setiap asrama masing-masing. Kemudian saat belajar-mengajar di pagi hari juga diajarkan bahasa Arab dan beberapa pelajaran lain yang mencakup tentang bahasa Arab oleh para ustaz dan ustazah. Pelajaran tersebut diimplementasikan dalam bentuk muhadatsah sambil menunggu waktu magrib setiap seminggu tiga kali.

Ketiga, Darsul Izhaf ialah tempat santri tampil untuk mengajar di setiap kelas yang ada di pondok pesantren saat siang menjelang sore. Kesempatan ini diberikan untuk santri/ah kelas V dan VI yang telah hampir menyelesaikan tuntut ilmu di pondok pesantren. Kesempatan ini didapatkan oleh seluruh santri saat duduk di bangku kelas V dan VI untuk mengajar di setiap kelas I, II, III, dan juga kelas IV. Darsul Izhaf ini memiliki keunikan tersendiri, karena pelajaran yang diajarkan kepada adik-adik mereka harus pelajaran antara bahasa Inggris dan Arab. Pelajaran tersebut juga digunakan melalui komunikasi bahasa itu tersendiri. Misalnya, pelajaran yang berkaitan dengan bahasa Arab harus menggunakan bahasa Arab dalam menjelaskan pelajaran tersebut atau saat proses belajar-mengajar terjadi, begitu juga dengan bahasa Inggris.

Keempat, mendengarkan kata dari khutbah Jumat pastinya tidak asing lagi di telinga umat Islam tentang sebuah khutbah yang dilakukan pada hari Jumat sebelum salat Jumat dilaksanakan. Khutbah Jumat bagi umat Islam adalah kegiatan yang wajib dilakukan saat salat pada hari Jumat. Tetapi, yang dimaksud dengan khutbah Jumat pada kegiatan di Pesantren Modern Misbahul Ulum adalah sebuah kegiatan yang dilakukan seminggu sekali di malam Jumat. Kegiatan ini ditetapkan oleh pembina muhadharah di setiap waktu muhadharah pada jadwal malam Jumat. Kegiatan ini dibina langsung oleh Ustaz Zikri sendiri, agar para santri bisa dilatih semaksimal mungkin, apalagi beliau adalah seorang khatib yang telah diakui di tingkat Provinsi Aceh.

Kelima, Amaliah Tadris ialah kegiatan yang dilakukan untuk menguji santri kelas akhir dalam hal mengajar dengan tata cara yang benar. Kegiatan ini telah disusun secara sistematis oleh ustaz-ustazah Pesantren Modern Misbahul Ulum, dengan menguji santri/ah mengajar menggunakan bahasa Arab dan Inggris yang baik dan benar.

 

Tradisi Kitab Kuning

Tingkat Tsanawiyah

Pelajaran dan Judul dan Penulis Kitab di Tingkat Tsanawiyah

Sumber data: Dayah Misbahul Ulum, berlokasi di Desa Meuria Paloh, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, pada tahun 1987 - Wawancara dengan H. M. Yusuf Syeikh (Kepala di Dayah Misbahul Ulum), di Paloh, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe 28 Maret 2025


Karya: Hashilla Rihadatul Vahada, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

Editor: Putri Ruqaiyah

19 Juli 2025

Dayah Terpadu Bustanul Arifin: Sejarah dan Tradisi Kitab Kuning

 

Foto: IST
www.lpmalkalam.com 

Pendahuluan

Pesantren merupakan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) yang telah berakar kuat dalam sejarah dan perkembangan masyarakat Indonesia. Selain berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama, pesantren juga menjadi tempat pembentukan karakter, moral, dan budaya santri yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Salah satu pesantren yang turut memainkan peran penting dalam pembinaan generasi muda adalah Pesantren Bustanul Arifin.

Pesantren Bustanul Arifin tidak hanya berfokus pada pendidikan keagamaan, tetapi juga mendorong santri untuk aktif dalam kegiatan sosial, keterampilan hidup (life skill), dan pengembangan intelektual. Dengan pendekatan yang menyeluruh, pesantren ini menjadi wadah pembentukan insan yang tidak hanya taat secara spiritual, tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman.

Melalui mini riset ini, penulis berusaha menggali lebih dalam tentang efektivitas metode pembelajaran kitab kuning, peran pesantren dalam pemberdayaan ekonomi santri, atau pola pembinaan akhlak di lingkungan pesantren. Diharapkan hasil dari penelitian kecil ini dapat memberikan gambaran nyata mengenai dinamika yang terjadi di Pesantren Bustanul Arifin serta memberikan kontribusi positif bagi pengembangan pesantren ke depan.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran secara mendalam mengenai metode pembelajaran, pola pembinaan akhlak, dan peran pesantren dalam kegiatan sosial. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk mengkaji fenomena sosial, perilaku, serta pengalaman para subjek penelitian dalam konteks keseharian di lingkungan pesantren.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Pesantren Bustanul Arifin, yang berlokasi di Desa Bale Atu, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah. Kegiatan penelitian dilaksanakan selama satu minggu, mulai dari tanggal 27 Maret s.d. selesai.

Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini terdiri dari pengasuh/pimpinan pesantren, ustaz/ustazah, santri (dipilih secara purposive/sengaja, berdasarkan kriteria tertentu).

Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui beberapa teknik, yaitu:

a. Observasi: Mengamati langsung kegiatan pembelajaran atau aktivitas santri di lingkungan pesantren.

b. Wawancara: Dilakukan secara semi-struktural kepada beberapa informan utama untuk menggali informasi lebih dalam.

c. Dokumentasi: Mengumpulkan dokumen atau catatan yang relevan, seperti jadwal kegiatan, kurikulum, atau arsip pesantren.

Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif-kualitatif. Proses analisis dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Validitas data diperkuat melalui teknik triangulasi, yaitu membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk memastikan keakuratan informasi.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pengasuh pesantren, ustadz, serta beberapa santri, diperoleh informasi bahwa pembinaan akhlak di Pesantren Bustanul Arifin dilakukan melalui beberapa pendekatan utama, yaitu:

1. Keteladanan: Para ustaz dan pengasuh menjadi teladan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Santri dibiasakan melihat langsung contoh akhlak mulia dari guru mereka, baik dalam ibadah, sopan santun, maupun interaksi sosial.

2. Pembiasaan: Kegiatan harian pesantren dirancang untuk menanamkan nilai-nilai akhlak seperti disiplin, tanggung jawab, dan kebersamaan. Misalnya, salat berjamaah, gotong royong, dan pembacaan wirid rutin.

3. Pengawasan dan Teguran: Santri yang melanggar aturan atau menunjukkan sikap tidak terpuji akan diberi teguran secara bertahap, mulai dari nasihat hingga sanksi edukatif. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki, bukan menghukum.

4. Kajian Kitab Akhlak: Pesantren rutin mengadakan pengajian kitab-kitab klasik yang membahas tentang akhlak, seperti Ta'lim Muta’allim, Bidayatul Hidayah, dan Ihya Ulumuddin.

Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembinaan akhlak yang diterapkan di Pesantren Bustanul Arifin menekankan pada pendekatan holistik, yakni menggabungkan teori (pengajaran kitab), praktik (pembiasaan), dan contoh nyata (keteladanan). Ini sejalan dengan konsep tarbiyah Islamiyah yang menekankan pendidikan secara menyeluruh, tidak hanya aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik.

Keteladanan dari para ustaz terbukti menjadi faktor dominan dalam membentuk karakter santri. Santri mengaku lebih mudah mengikuti dan meniru perilaku yang mereka lihat langsung setiap hari. Selain itu, pembiasaan kegiatan keagamaan secara konsisten membentuk rutinitas positif yang menjadi bagian dari karakter santri.

Temuan ini juga memperkuat teori pendidikan karakter yang menyebut bahwa lingkungan dan figur panutan berperan besar dalam pembentukan kepribadian anak. Dengan sistem yang teratur dan nilai-nilai yang diajarkan secara konsisten, pesantren dapat menjadi wadah efektif dalam membentuk akhlak mulia pada generasi muda.

Sejarah Pesantren

Pesantren Busatanul Arifin merupakan Pesantren yang di bawah naungan Yayasan Darul Muttakin yang didirikan pada tanggal 3 Agustus 2000 yang di dipimpin oleh Tgk. Syarfawi Abd Shamad. Awalnya Pesantren ini hanya memberikan pendidikan kitab klasik saja. Akan tetapi, seiring waktu dan tuntunan dari masyarakat maka pada 2001 pesantren ini menjadi Pesantren Terpadu Bustanul Arifin dengan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di dalamnya. MTs Bustanul Arifin di kepalai oleh Tgk. Saidi M. Nurdin, S.Pd, kemudian pada tahun 2004, Pesantren Bustanul Arifin juga mendirikan Madrasah Aliyah (MA) dengan maksud agar santri/santriwati yang tamat dari MTs, bisa langsung melanjutkan ke jenjang selanjutnya tanpa pindah.

Dalam perjalanan roda pendidikan, pada tahun 2005, MTs dan MA mengalami perubahan nama menajdi SMP dan SMA Terpadu Bustanul Arifin. Atas dorongan dan dukungan masyarakat Bener Meriah dan sekitarnya, Pesantren Bustanul Arifin mendirikan dan mengelola penguruan tinggi, maka pada tahun 2011 Pesantren Bustanul Arifin mengajukan permohonan pendirian Perguruan Tinggi kepada Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI). Pada tanggal 3 April 2013 Pesantren Bustanul Arifin disetujui dan diberi kepercayaan oleh Kemenag RI untuk mengelola Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Bustanul Arifin, prodi Bahasa  Arab dengan SK Dirjen Pendis (Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam) Nomor 779 Tahun 2013.

Awalnya Pesantren Bustanul Arifin hanya memiliki areal 1,5 Ha di pondok sayur (komplek putri sekarang), pada waktu itu masih digabung antara komplek putra dan putri, dengan bertambahnya tahun maka bertambah juga santri di dayah Bustanul Arifin, maka pada tahun 2012  sudah tidak memungkinkan lagi untuk di gabung jadi satu dan dipindahakan di desa Bale  Atu (+5 km) dari komplek putri seluas areal tanah 6,5 hektar.

Pesantren Bustanul Arifin selalu melakukan kajian strategis dan penenlitian untuk meningkatkan mutu pendidikan di Pesantren Bustanul Arifin khususnya, dan pada seluruh pesantren umumnya.

Tradisi Kitab Kuning

Pelajaran dan Judul dan Penulis Kitab di Tingkat Tsanawiyah

Sumber data: Pesanren Busatanul Arifin, Kurikulum Pesantren Busatanul Arifin (Bener Meriah: Pesantren Busatanul Arifin, 2022) - Wawancara dengan Ustaz Aldasyah (Pimpinan Dayah di Pesantren Bustanul Arifin) di Bener Meriah, 27 Maret 2025

Pelajaran, Judul dan Penulis Kitab di Tingkat Aliyah

Sumber data: Pesantren Bustanul Arifin, Kurikulum Pesantren Bustanul Arifin (Bener Meriah: Pesantren Busatanul Arifin,2022) - Wawancara online dengan Ustaz Aldasyah (Pimpinan Dayah di Pesantren Bustanul Arifin) di Bener Meriah, 27 Maret 2025

Penutup

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Pesantren Bustanul Arifin, dapat disimpulkan bahwa pembinaan akhlak santri dilaksanakan melalui pendekatan yang terpadu, yaitu:

1. Keteladanan dari ustadz dan pengasuh, yang menjadi model nyata dalam perilaku sehari-hari.

2. Pembiasaan aktivitas positif, seperti shalat berjamaah, gotong royong, dan kegiatan keagamaan rutin.

3. Pengawasan dan penegakan disiplin, yang dilakukan secara bertahap dan edukatif.

4. Pengajaran kitab-kitab akhlak, yang menanamkan nilai-nilai moral melalui pemahaman keilmuan klasik.

Saran

1. Nilai-nilai moderasi beragama di Pesantren Bustanul Arifin.

2. Integrasi kurikulum penerapan Diniyah dan Umum di Pesantren Bustanul Arifin.

3. Strategi pembinaan karakter santri melalui kegiatan harian pesantren.

4. Peran pesantren dalam pemberdayaan masyarakat sekitar.

5. Pengaruh kegiatan ekstrakurikuler terhadap kedisiplinan santri.

Daftar Pustaka

Wati, R. (2023). Kebijakan Penguatan Bahasa Asing dalam Menghadapi Era Digital di Pesantren Terpadu Bustanul Arifin di Bener Meriah. Skripsi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.

Mustaqim, M. H., & Abdussyukur. (2024). Pengembangan Budaya Keagamaan Pesantren: Studi Kasus di Pondok Pesantren Terpadu Bustanul Arifin dan Nurul Islam Bener Meriah. Jumper: Journal of Educational Multidisciplinary Research, 3(2), 57–74.

Sejarah Singkat Pesantren Bustanul Arifin. Pesantren Bustanul Arifin. Diakses dari: Pesantren Bustanul Arifin

Dayah Bustanul Arifin Putera. Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Bener Meriah. Diakses dari: Bener Meriah Education

Dayah Bustanul Arifin Puteri. Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Bener Meriah. Diakses dari: Bener Meriah Education

 

Karya: Hairani, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

Editor: Tiara Khalisna

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.