![]() |
| Foto: ist/Waspada Aceh |
Ketua GDI, Saifuddin, menyebutkan bahwa pengelolaan SDA bukan hanya berkaitan dengan potensi ekonomi, melainkan juga tata kelola pemerintahan, kepastian hukum, dan arah kebijakan investasi. FGD tersebut digelar untuk mengkaji penyebab Aceh, yang kaya akan SDA, masih bergulat dengan persoalan kemiskinan, keterbatasan lapangan kerja, kerusakan lingkungan, serta pendapatan daerah yang belum optimal.
"FGD ini kita lakukan untuk mengkaji secara mendalam mengapa Aceh dengan kekayaan sumber daya alam yang begitu besar masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kemiskinan, keterbatasan lapangan kerja, persoalan lingkungan, hingga belum optimalnya pendapatan daerah," kata Saifuddin, dikutip dari Waspada Aceh.
Saifuddin menjelaskan bahwa tanpa tata kelola yang baik, investasi hanya akan menghasilkan keuntungan jangka pendek. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kebijakan yang transparan, kepastian hukum, pengawasan perizinan yang ketat, serta keberpihakan kepada masyarakat lokal.
Dalam diskusi tersebut, dampak investasi terhadap lingkungan juga menjadi sorotan. Sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan pembangunan infrastruktur dinilai harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan serta risiko bencana.
"Investasi memang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja. Namun, investasi tidak boleh mengabaikan lingkungan dan hak masyarakat," ujar Saifuddin.
GDI juga meminta Pemerintah Aceh mengevaluasi kontribusi para investor, mulai dari pendapatan asli daerah (PAD), penerimaan negara yang dikembalikan ke daerah, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan usaha masyarakat.
Selain itu, GDI mendorong hilirisasi agar Aceh tidak terus bergantung pada penjualan bahan mentah. Industri pengolahan dinilai dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat rantai usaha lokal.
Keterbukaan informasi disebut sebagai salah satu syarat penting agar masyarakat dapat turut melakukan pengawasan. Data yang perlu dibuka kepada publik meliputi perizinan, kewajiban perusahaan, produksi, tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR), penerimaan daerah, serta dampak lingkungan.
Menurut Saifuddin, pembenahan tata kelola SDA perlu melibatkan berbagai pihak, yakni pemerintah, DPRA, DPRK, akademisi, pelaku usaha, masyarakat sipil, serta warga yang tinggal di sekitar wilayah investasi. Ia mengingatkan bahwa minimnya transparansi dan keterlibatan masyarakat berpotensi memicu konflik lahan serta perselisihan antara perusahaan dan warga setempat.
Saifuddin menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan SDA tidak cukup diukur dari besarnya investasi atau nilai produksi.
"Ukuran keberhasilan pengelolaan sumber daya alam bukan hanya besarnya investasi atau nilai produksi, melainkan sejauh mana kekayaan tersebut mampu mengurangi kemiskinan, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, dan menjamin keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang," ujarnya.
FGD tersebut menghadirkan akademisi sekaligus praktisi lingkungan hidup Aceh, Dr. M. Zulfikar, serta Alfian dari Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA). Peserta lainnya berasal dari kalangan akademisi, praktisi lingkungan dan sosial ekonomi, Forum LSM, Gerak Aceh, aktivis lingkungan, serta media.
GDI berharap forum tersebut dapat menghasilkan kajian dan rekomendasi kebijakan berbasis data. Saifuddin menegaskan bahwa masyarakat Aceh tidak menolak investasi maupun pertambangan. Namun, investasi harus dijalankan secara legal, mematuhi hukum, bertanggung jawab terhadap lingkungan, dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.
Ia juga meminta agar pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap investasi ilegal serta perusahaan yang melanggar aturan atau merusak lingkungan.


.jpeg)


