Portal Berita Al-Kalam

PSGA UIN SUNA Gelar FUAD Bingkai Gender, Hadirkan Tiga Pemateri dari Unimal

Foto: Muhammad Rahul Gonzales www.lpmalkalam.com- Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (S...

HEADLINE

Latest Post

13 Juni 2026

Langkah di Balik Mimpi

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com- Pagi itu, kampus sudah ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang. Di antara mereka, ada seorang mahasiswa bernama Rizki, mahasiswa semester empat yang sedang berjuang menyelesaikan tugas kuliah, organisasi, dan pekerjaan sampingan sekaligus.

Rizki berasal dari keluarga sederhana di sebuah desa. Sejak diterima di perguruan tinggi, ia bertekad untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat membanggakan kedua orang tuanya. Namun, kehidupan mahasiswa ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.

Suatu hari, dosen memberikan tugas kelompok yang harus dikumpulkan dalam waktu satu minggu. Di saat yang sama, organisasi kampus tempat Rizki aktif sedang mempersiapkan sebuah acara besar. Belum lagi, ia harus bekerja paruh waktu pada malam hari untuk menambah uang saku.

“Bagaimana aku bisa menyelesaikan semuanya?” gumam Rizki sambil menatap daftar tugas di layar laptopnya.

Meski merasa lelah, Rizki tidak menyerah. Ia mulai menyusun jadwal harian dengan lebih teratur. Pagi hingga siang digunakan untuk kuliah, sore untuk rapat organisasi, dan malam hari untuk bekerja serta menyelesaikan tugas.

Hari demi hari berlalu. Rasa lelah sering datang, tetapi dukungan teman-teman membuatnya tetap semangat. Mereka saling membantu mengerjakan tugas dan mengingatkan satu sama lain ketika ada yang mulai kehilangan motivasi.

Akhirnya, hari presentasi tiba. Kelompok Rizki berhasil mempresentasikan tugas dengan baik dan mendapat apresiasi dari dosen. Acara organisasi yang mereka persiapkan juga berjalan lancar.

Sepulang dari kampus, Rizki duduk di taman sambil tersenyum. Ia menyadari bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mendapatkan nilai yang tinggi, tetapi juga belajar mengatur waktu, bekerja sama, dan bertanggung jawab.

Saat melihat pesan dari ibunya yang berbunyi, “Tetap semangat belajar, Nak. Kami bangga padamu,” mata Rizki berkaca-kaca. Semua rasa lelah yang ia rasakan seakan terbayar.

Sejak hari itu, Rizki semakin yakin bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, adalah langkah menuju mimpi yang ingin ia capai. Dan sebagai mahasiswa, ia percaya bahwa masa kuliah adalah tempat terbaik untuk belajar menjadi pribadi yang lebih kuat dan dewasa.


Penulis: Razwa Syuib 

Editor: Chalisa Najla Safira

12 Juni 2026

Meneguhkan Peran UIN SUNA di Usia 57 Tahun

Foto: Putri Ruqaiyah
www.lpmalkalam.com-
Usia ke-57 tahun menjadi tonggak penting dalam perjalanan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe. Peringatan yang jatuh pada 12 Juni 2026 ini bukan hanya menjadi momentum perayaan, tetapi juga ruang refleksi atas perjalanan panjang sebuah institusi pendidikan yang telah berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, dan kemajuan masyarakat selama lebih dari setengah abad.

Perjalanan tersebut tentu tidak ditempuh dalam waktu yang singkat. Sejak berdiri pada 12 Juni 1969, kampus ini tumbuh bersama perubahan zaman, menjawab berbagai tantangan, dan terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat. Berbagai capaian yang diraih hingga saat ini, mulai dari penguatan kelembagaan, peningkatan sarana dan prasarana, hingga lahirnya ribuan alumni yang berkiprah di berbagai bidang, menjadi bukti bahwa cita-cita besar yang dirintis para pendiri terus berkembang dan memberikan manfaat nyata.

Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, peran perguruan tinggi tidak lagi sebatas menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik. Dunia membutuhkan generasi yang mampu memadukan kecerdasan intelektual dengan kekuatan moral dan spiritual. Dalam konteks tersebut, UIN Sultanah Nahrasiyah memiliki posisi yang strategis sebagai institusi yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kehadiran kampus ini menjadi penting karena mampu menghadirkan ruang pembelajaran yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu, tetapi juga pembentukan karakter. Mahasiswa didorong untuk menjadi pribadi yang kritis, inovatif, dan profesional tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan tanggung jawab sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

Sebagai bagian dari keluarga besar UIN Sultanah Nahrasiyah, rasa syukur patut dipanjatkan atas perjalanan panjang yang telah dilalui. Penghargaan yang setinggi-tingginya layak diberikan kepada para pendiri yang telah meletakkan fondasi kampus ini dengan penuh ketulusan dan pengorbanan. Apresiasi yang sama juga patut disampaikan kepada para dosen, tenaga kependidikan, pimpinan, mahasiswa, serta seluruh sivitas akademika yang terus menjaga semangat pengabdian dan kualitas institusi dari masa ke masa.

Kontribusi mereka mungkin tidak selalu tercatat dalam setiap lembar sejarah, tetapi jejak pengabdiannya dapat dirasakan melalui berbagai kemajuan yang telah dicapai. Berkat kerja keras dan dedikasi yang berkelanjutan, UIN Sultanah Nahrasiyah mampu berkembang menjadi perguruan tinggi Islam yang terus berupaya menjawab kebutuhan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai yang menjadi jati dirinya.

Memasuki usia ke-57 tahun, UIN Sultanah Nahrasiyah tidak hanya merayakan capaian masa lalu, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk melangkah lebih maju pada masa yang akan datang. Tantangan dunia pendidikan akan terus berubah, namun semangat untuk melahirkan generasi unggul, memperkuat tradisi akademik, serta memberikan kontribusi bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan harus tetap menjadi arah perjuangan bersama.

Pada akhirnya, kampus ini bukan sekadar tempat menuntut ilmu. UIN Sultanah Nahrasiyah adalah ruang tumbuhnya harapan, lahirnya gagasan, dan terbangunnya masa depan yang lebih baik. Di usia emas ke-57 tahun, rasa syukur dan kebanggaan atas perjalanan yang telah ditempuh menjadi energi untuk terus merawat keunggulan dan menyalakan peradaban bagi generasi yang akan datang.


Penulis: Cut Saputri

Editor: Zahratul

11 Juni 2026

Lipstick Effect: Gaya Hidup di Tengah Tekanan Ekonomi

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Fenomena lipstick effect semakin sering terlihat di kalangan generasi muda. Banyak orang rela menghabiskan uang untuk nongkrong di coffee shop, membeli produk fashion, atau menimbun produk kecantikan dengan alasan stok dan mengikuti tren. Tidak jarang, pengeluaran untuk gaya hidup justru lebih diutamakan daripada kebutuhan yang lebih penting seperti menabung atau mempersiapkan masa depan.

Sekilas, tingginya konsumsi ini dianggap sebagai tanda bahwa kondisi ekonomi masyarakat sedang baik-baik saja. Namun, anggapan tersebut belum tentu benar. Dalam banyak kasus, lipstick effect justru muncul ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi. Karena sulit membeli aset besar atau mencapai tujuan finansial jangka panjang, mereka mencari kepuasan melalui konsumsi yang lebih terjangkau, seperti nongkrong, membeli pakaian baru, atau produk kecantikan.

Media sosial turut memperkuat fenomena ini. Banyak orang terdorong untuk menjaga citra dan gengsi agar terlihat mengikuti tren yang sedang berkembang. Akibatnya, keputusan membeli sering kali didasarkan pada keinginan, bukan kebutuhan.

Oleh karena itu, maraknya budaya nongkrong dan belanja bukan selalu pertanda ekonomi yang sehat. Ekonomi yang baik seharusnya ditandai dengan meningkatnya kesejahteraan, kemampuan menabung, dan stabilitas keuangan masyarakat. Jika gaya hidup lebih diprioritaskan daripada kebutuhan pokok dan perencanaan masa depan, maka fenomena tersebut justru menjadi cerminan adanya masalah dalam pola konsumsi masyarakat saat ini.


Penulis: Daffa Alkausar

Editor: Chalisa Najla Safira

08 Juni 2026

Selalu Ada Tempat untuk Pulang

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Ada hari-hari ketika dunia terasa terlalu ramai. Terlalu banyak suara yang meminta untuk didengarkan, terlalu banyak langkah yang memaksa kita berlari lebih kencang. Pada hari-hari seperti itu, manusia sering lupa bahwa lelah adalah bagian dari dirinya, dan beristirahat bukanlah sebuah kekalahan.

Lalu, kita pulang.

Bukan sekadar pulang ke sebuah bangunan beratap, tetapi pulang pada ketenangan yang selama ini dicari, pulang pada tempat yang menerima kita tanpa syarat. Tempat yang tidak bertanya tentang kekalahan, tidak mempermasalahkan berapa kali kita terjatuh, dan tidak menuntut sejauh mana kita telah melangkah. Tempat yang hanya hadir, membuka ruang, dan mempersilakan kita beristirahat dari dunia luar yang melelahkan.

Aneh, bukan? Di luar sana, kita sering dipaksa merangkai kata untuk menjelaskan diri. Menjelaskan pilihan yang kita ambil, menjelaskan mimpi yang sedang diperjuangkan, bahkan menjelaskan luka yang belum benar-benar sembuh dan tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Namun, ada tempat yang tidak membutuhkan penjelasan apa pun. Tempat yang mampu memahami lelah hanya dari sorot mata yang redup, mengerti sedih tanpa harus mendengar seluruh cerita. Di sana, diam terasa seperti bahasa yang dimengerti.

Mungkin karena itu manusia selalu mencari tempat untuk kembali. Sebab setinggi apa pun seseorang terbang, ia tetap membutuhkan tempat untuk mendarat. Sejauh apa pun seseorang menyelam, ia tetap membutuhkan daratan untuk bernapas.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa jauh kita berkelana. Setelah menempuh begitu banyak jalan, yang paling dicari bukanlah tepuk tangan atau pengakuan, melainkan sebuah tempat yang tetap membuka pintunya, menyediakan telinga untuk mendengar cerita, dan menerima tanpa peduli seberapa besar luka yang dibawa. Tempat yang tetap ada, bahkan ketika kita datang dengan hati yang lelah dan langkah yang hampir menyerah.

Ketika hari esok kembali datang dengan segala cerita dan tantangan barunya, kita memilih untuk melangkah lagi. Bukan karena sudah tidak lelah, melainkan karena kita tahu bahwa selalu ada tempat untuk pulang ketika dunia terasa terlalu berat untuk dihadapi sendirian.


Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Zahratul

01 Juni 2026

Sebilah Cinta di Hari Kurban

Foto: Pexels

www.lpmalkalam.com- Hari Raya Iduladha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan. Ia adalah cermin batin yang memaksa kita bertanya apa yang benar-benar kita pegang erat, dan apakah kita sanggup melepaskannya ketika Allah meminta?

Setiap tahun, di halaman rumah dan lapangan masjid kampung, pisau diasah dan takbir dikumandangkan. Kita menyaksikan proses itu dengan tenang, seolah maknanya sudah kita mengerti sejak kecil. Padahal, mungkin selama ini kita hanya melihat hewan yang disembelih, bukan pergulatan batin Ibrahim.

Nabi Ibrahim bukanlah manusia yang tidak memiliki perasaan. Justru sebaliknya, ia adalah seorang ayah yang sangat mencintai putranya, Ismail, yang lahir setelah penantian panjang. Maka, langkahnya menuju Mina bukanlah langkah yang ringan. Bebannya lebih berat daripada setiap batu yang diinjaknya di bukit itu. Kisah ini bukan tentang ketidakpedulian, melainkan tentang cinta yang begitu dalam hingga sanggup dikalahkan oleh kepatuhan.

Di sinilah letak salah paham yang sering kita bawa. Kita mengira bahwa orang yang berkorban adalah orang yang tidak mencintai apa yang ia korbankan. Padahal, yang benar justru sebaliknya. Pengorbanan yang sejati hanya mungkin lahir dari cinta yang nyata. Bila tidak ada kecintaan, tidak ada yang namanya pengorbanan. Yang ada hanyalah pelepasan biasa.

Pertanyaannya bukan soal hewan mana yang kita sembelih hari ini. Tetapi apa yang masih kita genggam terlalu erat? Nama seseorang yang sudah seharusnya kita ikhlaskan? Rencana lama yang terus kita pertahankan, bukan karena masih baik bagi kita, melainkan karena kita takut mengakui bahwa jalan lain telah lama terbuka, sementara kita memilih menutup mata terhadapnya?

Iduladha mengajarkan bahwa keikhlasan bukanlah ketidakpedulian. Tangan yang gemetar namun tetap membuka genggaman justru lebih mulia daripada tangan yang melepas sesuatu yang memang tidak pernah dicintai. Kesunyian terberat bukan terletak pada pisau yang jatuh, melainkan pada keputusan di dalam dada sebelum pisau itu diangkat.

Takbir masih bergema, dan mungkin ia bukan hanya untuk merayakan ketaatan Ibrahim ribuan tahun lalu. Ia juga hadir untuk menguatkan kita yang hari ini masih berdiri di lapangan yang sama, membawa beban yang tidak terlihat, dan berjuang mempelajari satu hal paling sulit dalam hidup adalah melepaskan karena cinta, bukan karena tidak peduli.


Penulis: Cut Saputri

Editor: Chalisa Najla Safira

30 Mei 2026

Sampai Mana Batas Sebuah Candaan?

Foto: Pixabay

www.lpmalkalam.com- Pernahkah kamu merasa tersinggung oleh candaan teman, lalu ditertawakan oleh banyak orang karena lelucon yang menurutmu menyinggung, tetapi justru dianggap “baperan”? Atau pernahkah kamu melontarkan candaan yang menurutmu lucu, tetapi ternyata membuat orang lain terdiam dan menjauh dengan raut wajah yang berubah seketika?

Belakangan ini, pembahasan tentang batas gurauan semakin sering muncul, terutama di media sosial dan dalam pergaulan sehari-hari. Banyak orang menutup argumen mereka dengan dalih gurauan, seolah-olah hal itu menjadi pembenaran atas segala ucapan. Batas antara bercanda dan menghina pun semakin tipis. Tidak sedikit yang berlindung di balik kalimat “kan cuma bercanda”, padahal kata-kata yang diucapkan bisa saja melukai perasaan orang lain.

Dalam sebuah unggahan akun @mudahbergaul, Dimas Alwin, S.Psi., menulis kalimat tegas, “Stop normalisasi bercanda dan malah bilang orang lain yang baperan!” Kalimat sederhana tersebut menyindir kebiasaan sebagian masyarakat yang kerap meremehkan perasaan orang lain dengan dalih “hanya bercanda”. Padahal, tidak semua orang memiliki batas kenyamanan yang sama dalam menerima candaan. Unggahan itu menjadi pengingat bahwa sebelum menilai orang lain terlalu sensitif, mungkin kita perlu terlebih dahulu mengukur kepekaan diri sendiri.

Di lingkungan kampus, candaan sering muncul sebagai bentuk keakraban. Namun, tidak semua candaan pantas dilontarkan. Lelucon tentang fisik, latar belakang keluarga, atau pengalaman pribadi dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat. Bahkan, korbannya bisa membawa beban tersebut jauh setelah tawa berhenti. Karena itu, empati dan kesadaran sosial menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan komunikasi yang sehat dan saling menghargai.

Bercanda bukan sekadar perkara benar atau salah, melainkan soal memahami tempat, waktu, dan perasaan orang lain. Cara kita memilih dan menyampaikan kata-kata akan menentukan apakah candaan itu menghadirkan tawa atau justru meninggalkan luka. Menghargai perasaan orang lain bukanlah bentuk sikap “baper”, melainkan bukti bahwa kita memahami sisi manusiawi dalam berkomunikasi.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menjadikan kata “baper” sebagai ejekan. Sebaliknya, anggaplah istilah itu sebagai pengingat bahwa setiap orang memiliki batas yang berbeda dalam menerima candaan. Sebab, dunia tidak kekurangan orang yang pandai melucu. Yang kita butuhkan adalah lebih banyak orang yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.


Penulis: Amanda Zuhra 

Editor: Chalisa Najla Safira

26 Mei 2026

Meugang: Bukan Sekadar Daging, tetapi Warisan Budaya

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Meugang, dalam masyarakat Aceh, dikenal sebagai hari yang dipenuhi oleh daging. Sebenarnya, tradisi ini bukan sekadar tentang daging, melainkan tradisi turun-temurun di Aceh ketika seluruh masyarakat memasak dan menghidangkan daging untuk keluarga mereka. Meugang biasanya berlangsung dua hari sebelum Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Masyarakat menyebutnya sebagai meugang kecil (dua hari sebelum Lebaran) dan meugang besar (satu hari sebelum Lebaran).

Tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh. Menurut masyarakat Aceh, daging yang dihidangkan merupakan bentuk rasa syukur sekaligus simbol kebersamaan dalam kehidupan sosial. Dahulu, pada masa Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau, dan hewan ternak lainnya disembelih untuk dibagikan kepada fakir miskin dan anak yatim. Hal tersebut menjadi bukti bahwa tradisi meugang sangat lekat dengan nilai keberkahan dan kepedulian sosial.

Setiap sudut kota maupun desa di Aceh merayakan hari besar ini. Meskipun terdapat sedikit perbedaan di beberapa daerah, tradisi meugang tetap memiliki makna yang sama bagi seluruh masyarakat Aceh. Menjelang hari meugang, masyarakat Aceh sangat antusias menyiapkan berbagai hewan ternak untuk diperjual belikan demi terciptanya pemerataan ekonomi. Ketika hari meugang tiba, banyak masyarakat dari berbagai profesi menghentikan aktivitas pekerjaan mereka untuk merayakan tradisi warisan leluhur ini.

Daging yang dibeli kemudian dimasak menjadi berbagai hidangan khas Aceh, seperti kari, kuah beulangong (gulai khas Aceh), sie reuboh (daging rebus asam pedas), dan sop daging. Uniknya, masyarakat Aceh tidak pernah menganggap tradisi ini sebagai beban. Baik kalangan atas maupun bawah tetap berusaha agar keluarga mereka dapat menikmati daging pada hari meugang.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Zahratul

23 Mei 2026

Ruang Diskusi atau Arena Konflik


Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Baru-baru ini, lingkungan Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, menjadi sorotan akibat terjadinya pertikaian antar mahasiswa dari Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian. Konflik tersebut diduga bermula dari cekcok antar oknum organisasi mahasiswa yang kemudian berkembang menjadi tindakan saling menyerang. Akibatnya, sejumlah fasilitas fakultas mengalami kerusakan bahkan terbakar, serta terdapat mahasiswa yang menjadi korban dalam insiden tersebut.

Peristiwa ini tentu sangat disayangkan, mengingat kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya pemikiran kritis, diskusi ilmiah, dan penyelesaian masalah secara dewasa. Mahasiswa sering disebut sebagai agen perubahan dan kaum intelektual. Namun, tindakan anarkis yang terjadi justru menunjukkan hilangnya sikap idealis dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi persoalan.

Tindakan menyerang fasilitas kampus maupun sesama mahasiswa bukanlah bentuk keberanian ataupun solidaritas. Sebaliknya, tindakan tersebut hanya memperlihatkan tingginya ego antar kelompok tanpa memikirkan dampak jangka panjang yang ditimbulkan. Kerusakan fasilitas bukan hanya merugikan satu pihak, melainkan seluruh civitas akademika. Kampus yang seharusnya menjadi ruang belajar bersama justru berubah menjadi arena konflik yang dipenuhi amarah.

Selain itu, konflik seperti ini mencerminkan rendahnya kemampuan dalam mengendalikan emosi dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Sebagai mahasiswa, seharusnya penyelesaian konflik dilakukan melalui dialog, mediasi, dan pemikiran rasional, bukan dengan kekerasan. Sikap kritis bukan berarti bertindak agresif, melainkan mampu mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan yang dilakukan.

Jika kasus seperti ini terus terjadi tanpa adanya pembenahan dari kedua belah pihak, maka nilai-nilai intelektualitas di lingkungan kampus akan semakin memudar. Mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu menunjukkan kedewasaan dalam bersikap dan bertindak.

Pada akhirnya, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa status 'mahasiswa' bukan sekadar identitas pendidikan, melainkan tanggung jawab moral untuk berpikir kritis, menjaga idealisme, dan menyelesaikan masalah secara bijaksana. Kampus seharusnya menjadi tempat lahirnya solusi, bukan tempat tumbuhnya permusuhan.


Penulis: Daffa Alkausar

Editor: Chalisa Najla Safira


20 Mei 2026

Pencemaran Laut dan Rendahnya Kepedulian Manusia

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Laut dikenal sebagai simbol keindahan dan ketenangan alam. Hamparan air biru, suara ombak, serta angin pantai yang menjadi saksi bisu manusia dalam melepas peluh dan kesahnya. Namun di balik keindahannya, laut kini membawa pesan kepedulian kepada manusia karena kondisinya yang tercemar bahkan dirusak dengan keji tanpa kepedulian terhadap lingkungan alam.

Saat ini sampah plastik, menjadi masalah utama dalam merusak keindahan lautan. Banyak masyarakat yang membuang sampah ke pantai tanpa memikirkan risiko yang akan terjadi ke depannya. Akibatnya, sampah tersebut terbawa oleh arus ombak hingga mencemari laut dan juga membahayakan kehidupan di dalam laut. Sangat banyak hewan laut yang mati terjebak di antara limbah yang mengapung dan menjadi racun di lautan.

Masalah ini terjadi karena kurangnya kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan. Banyak orang masih beranggapan bahwa laut mampu membersihkan dirinya sendiri, padahal pencemaran lingkungan yang terus terjadi dapat menjadi dampak besar bagi kehidupan manusia ke depannya. Lautan yang tercemar tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memengaruhi mata pencaharian para nelayan dan juga sektor pariwisata.

Selain masyarakat, pemerintah juga menjadi peran penting dalam menjaga kelestarian laut. Aturan mengenai larangan pembuangan sampah dan limbah secara sembarangan harus ditertibkan agar pencemaran dapat dikurangi. Edukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian laut perlu dilakukan, terutama kepada generasi muda untuk meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui ombaknya, laut selalu memperingatkan pada manusia alam membutuhkan cinta dan kasih sayang. Jika manusia terus bersikap mengabaikan, maka keindahan laut perlahan akan pudar dan lenyap. Karena itu, menjaga laut bukan hanya tanggung jawab sebagian orang tetapi kewajiban bersama untuk masa depan lebih baik dan lingkungan terjaga.


Penulis: Rozatun Navais

Editor: Chalisa Najla Safira

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.