HEADLINE

Latest Post
Loading...

12 April 2022

Membanggakan, Dua Mahasiswa IAIN Lhokseumawe Wakili Provinsi Aceh di Ajang Putra-Putri Remaja Nusantara 2022

Radian Putra dan Mardiana (Putra-Putri Remaja Nusantara Aceh 2022) Foto: M. Akbar/lpmalkalam.com

www.lpmalkalam.com - Mahasiswa IAIN Lhokseumawe, Radian Putra dan Mardiana, meraih prestasi membanggakan. Keduanya terpilih menjadi pasangan Putra-Putri Remaja Nusantara yang akan mewakili Provinsi Aceh di tingkat Nasional pada ajang Putra-Putri Remaja Nusantara tahun 2022.

Keduanya merupakan mahasiswa dan mahasiswi aktif Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam dan Ilmu Alquran dan Tafsir.

Kepada Kru LPM Al-Kalam, Selasa (5/4/2022) keduanya mengatakan bahwa ajang ini merupakan salah satu kesempatan mereka untuk memperkenalkan kebudayaan masyarakat Aceh di kancah Internasional.

Radian Putra, didampingi Mardiana mengatakan, "Insya Allah kami akan menjadi pelopor untuk mengembangkan dan memperkenalkan adat istiadat Aceh di mancanegara."

Sebagai putra-putri asli tanah Aceh, mereka merasa memiliki tanggung jawab yang besar untuk terus mempertahankan dan memperkenalkan kebudayaan Aceh khususnya kepada generasi muda. "Jangan sampai keberagaman yang elok ini punah atau terlupakan begitu saja, hanya karena perubahan gaya modern dan globalisasi yang begitu pesat," ucap Radian, pasangan Putra Remaja Nusantara, yang juga merupakan aktivis Kampus.

Laki-laki kelahiran Takengon ini juga bertekad untuk berusaha memberikan yang terbaik untuk Provinsi Aceh di ajang Putra-Putri Remaja Nusantara Tahun 2022 di tingkat Nasional.

Sementara itu Mardiana, dengan panggilan akrab Diana, pasangan wanita Putra-Putri Remaja Nusantara Provinsi Aceh ini menambahkan, "Ini bukan hanya ajang untuk berkompetisi, namun sejauh perjalanan ada begitu banyak pembelajaran, pengajaran, serta lingkup relasi baru yang selalu memberikan hal-hal yang positif".

Putri Aceh asal Panton Labu ini juga memiliki tekad yang kuat untuk terus belajar dan akan berusaha memberikan yang terbaik dalam ajang ini.

Keduanya berharap, ajang ini dapat menjadi suatu semangat, motivasi dan kebanggaan bagi masyarakat Aceh khususnya kepada Mahasiswa IAIN Lhokseumawe. Mereka berharap dukungan dan doa agar bisa sukses membawa kemenangan untuk Provinsi Aceh dan sukses memperkenalkan budaya Aceh pada khalayak luas.


Reporter: Wilda Putri Raihan dan Nur Asiah

Editor: Redaksi


 

02 January 2021

Tetesan Keringat Pengrajin Tembikar

 Tetesan Keringat Pengrajin Tembikar

Oleh: Rita Suryani

www.lpmalkalam.com


Foto : hahehozonk.blogspot.com

Tembikar merupakan benda unik berbahan dasar tanah liat dari sawah serta sekam bakar pabrik padi. Perkembangan zaman membuat tembikar tak lagi menjadi primadona. Memproduksi tembikar memang bukan hal mudah, membutuhkan tenaga yang besar, waktu yang lama, kesabaran yang kokoh, serta ketelitian dalam mengolahnya hingga menjadi sebuah benda yang unik. Keletihan melestarikan tembikar berdampak pada Desa Me, Kecamatan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara. Dulunya sebagian besar penduduk desa itu berprofesi sebagai pengrajin tembikar.

Mengingat tahapan pembuatannya yang membutuhkan tenaga serta waktu yang lama, membuat produksi tembikar hampir punah dan hanya tersisa dua orang di desa tersebut. Prosesnya membutuhkan waktu yang lama, mulai dari persiapan bahan, pembentukan, penjemuran, pembakaran hingga penyempurnaan. Sebagian pot cukup pada tahap pembakaran, vas dan celengan dapat dihiasi dengan aksesori dan pewarnaaan yang memikat mata pembelinya. Proses tahapan pembuatannya tergantung pada bentuk dan kegunaan tembikar tersebut.

Salah satunya Nur Hafifah yang kerap disapa Kak Fah merupakan salah satu yang bertahan dari sekian banyak pengrajin tembikar di Desa Me. Pekerjaan itu telah ia geluti selama puluhan tahun. Rumah produksi itu hanya membuat pot, vas, dan celengan saja, Mentari terbit dari arah timur menemani wanita pengrajin tembikar itu mengerjakan tugasnya. Proses persiapan tanah liat dengan sekam bakar dicampur secara merata, dan proses pembentukan yang sangat membutuhkan keahlian dalam membuatnya.

Potret lokasi pembentukan beralaskan tanah dan atap seadanya yang dibuat agar tetesan hujan tidak melintasi pot yang sedang diukir rapi. Kak Fah yang duduk di bangku kayu kecil memfokuskan kedua bola matanya kepada tembikar yang sedang dibuat. Tanah yang sudah ulet diletakkan di atas alat putar agar terkesan mudah dibentuk. Tanah itu berputar seiring berputarnya bidang lingkaran di bawahnya. Sinar mentari mulai terlihat dari celah-celah dedaunan, Kak Fah masih menyelesaikan pot bunga yang hampir menyerupai pot di sampingnya. Tangan dan kaki yang berlumuran tanah harus ia jalani untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Banyaknya pot yang dihasilkan tergantung pada ukuran dan bentuk pot, biasanya menghabiskan waktu satu hari sampai 3 hari dalam proses pembentukan. Harganya juga bervariasi mulai dari lima ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Wanita kelahiran 1971 itu, menjadikan tembikar sebagai mata pencahariannya. “Dulu hampir setengah penduduk di desa itu berprofesi sebagai pengrajin tembikar. Membutuhkan kesabaran serta waktu yang lama membuat masyarakat tidak lagi memproduksi pot tanah liat itu. Dari sekian banyak pengrajin tembikar, hanya saya dan tetangga saya di sebelah yang masih membuatnya. Kami belajar membuat tembikar dari pelatihan yang diadakan oleh pihak industri, pengajarnya langsung didatangkan dari Bandung. Proses belajarnya selama bertahun-tahun baru menghasilkan sebuah karya,” jelasnya.

Sang penerang siang mulai mengeluarkan aura panasnya hingga ke penjuru bumi desa itu. Langit cerah pertanda surya berpihak kepada seniman wanita itu untuk melakukan pembakaran di halaman rumah. Persiapan alat dan proses pembakaran dibantu oleh suami dan anaknya. Pembakaran itu bertujuan untuk mempertahankan ketahanan pot dan terkesan berwarna. Panasnya surya mengerjap dalam pori, membakar kulit yang sudah keriput dan kusam. Keringat di wajahnya melintasi pipi yang terbakar uap sijago merah, bagaikan dedaunan yang disapa tetesan hujan.

Sengatan matahari tidak mampu membakar semangatnya yang berkobar. Pot dan bahan bakarnya disusun rapi secara teliti supaya tidak berjatuhan dan uap panas meresap secara sempurna. Hembusan angin membuat asap tidak lagi serempak dalam gepulannya. Menaburkan aromanya ke pakaian dan kulit yang terpapar sinar surya. Suara letusan pot menandingi hembusan angin, letusan itu sebagai pertanda bahwa ada pot yang pecah karena tanah liat dengan sekam bakar tidak tercampur secara merata.

Pot yang retak sebelum proses pembakaran dapat dibentuk kembali, sedangkan pot yang pecah setelah pembakaran tidak dapat diolah lagi seperti semula. Kepungan asap membuat bola mata pengrajin pot tanah liat itu berkaca kaca. Menembus rongga pernafasan yang membuatnya harus menjauh dari serangan asap. Tetapi, ia harus tetap mengawasi supaya jilatan api tidak menguasai pot. Hal itu dilakukan supaya pot berwarna merah bata seperti yang diminati oleh kebanyakan pelanggan.

“Penjualan pot ada yang dipesan ada yang dibuat langsung tanpa dipesan. Banyak dari pelanggan yang menyukai pot warna merah bata, dan ada juga yang suka warna hitam, tetapi jarang. Padahal warna hitam lebih tahan lama,” ujar wanita kelahiran Me Matang Panyang tersebut. Ketika sijago merah mulai menguasai pot dan mengalahkan kepungan asap, Kak Fah dan suaminya mencoba memisahkan pot yang sudah berwarna merah bata dengan mengambil satu persatu menggunakan kayu ukuran panjang. Mengumpulkan dan merapikan pot yang sudah dingin dengan tenaga yang tersisa.

Editor : Redaksi


Alternatif Pembiayaan Terhadap Ketahanan Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM ) sebagai Penggerak Ekonomi melalui Permodalan Nasional Madani ( PNM ) di Aceh


Foto/ilustrasi : Timlo.net

www.lpmalkalam.com- Penulis: Mardiana

Penggerakak suatu Ekonomi daerah tidak terlepas dari sector UMKM ( Usaha Mikro Kecil dan Menengah ) untuk bisa membuat suatu daerah sejahterah. Lajunya pertumbuhan Ekonomi di bidang UMKM tersebut, menciptakan suatu persaingan Bisnis yang sangat ketat. UMKM yang dulunya hanya berfokus kepada produksi, sekarang tingkah kefokusannya harus lebih di tingkahkan lagi seperti di bagian pemasaran produk atau jasa. Dan kelebihan dari sector UMKM adalah, dapat membuka peluang kepada tenaga kerja dan berkontribusi menjadi penggerak Ekonomi daerah maupun Ekonomi negara.

Dari factor – factor di atas, ada satu factor yang cukup penting yang harus diperhatikan yaitu masalah pengaksesan modal. UMKM seringkali kesulitan untuk memperoleh modal untuk usahanya. Lembaga keuangan perbankan yang menjadi tumpuan utama dalam memperoleh pendanaan memiliki persyaratan yang cukup ketak yang tidak semua UMKM dapat memenuhi persyaratan tersebut, misalnya yang paling utama adalah ketersediaan agunan ataupun persyaratan untuk membuka rekening di bank dengan uang sejumlah tertentu yang nantinya menjadi sebuah jaminan cash. Apabila kita melihat dari sisi UMKM kita dapat mengerti kondisi mereka dimana mungkin mereka beranggapan bahwa “ kita baru mau mulai usaha dan membutuhkan modal, tetapi harus menyediakan uang dan jaminan”. Namun, apabila kita melihat dari sisi perbankan, kita juga mengerti bahwa perbankan harus menerapkan persyaratan 5 C4 dan prinsip kehati-hatian ( prudent banking ) dalam menyalurkan kredit. Kalau tidak, malah bank tersebut akan di kenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu kita harus mencari solusi, untuk membantu UMKM. 

UMKM adalah suatu lembaga yang sangat berpengaruh kepada kesejahteraah ekonomi masyarakat. Selain menjadi salah satu  peluang bagi tenaga kerja, UMKM juga menjadi salah satu pendorong berkembangannya ekonomi suatu daerah. Dengan banyaknya kendala terhadap Modal yang di hadapi oleh masyarakat dalam menjalankan UMKM  di Aceh.  Salah satu solusi yang harus di lakukan adalah, mengambil jalan alternatif pembiayaan terhadap ketahanan usaha mikro kecil dan menengah ( UMKM) sebagai penggerak ekonomi melalui permodalan nasional madani ( PNM ) di Aceh. Hal ini di maksudkan untuk berjalannya sector bidang UMKM tanpa kendala dengan Modal. Sehingga dengan adanya  permodalan nasional madani ( PNM ) , dapat meningkatkan produktivitas, serta menghapus pengangguran dan kemiskinan di daerah Aceh khususnya.

Dan pada saat ini, pemerintah terlibat langsung dengan sector UMKM, melalui berbagai macam program pengembangan atau pembinaan. Usaha-usaha yang telah dilakukan pemerintah ada yang melalui formal dan non formal. Kalau secara resmi yaitu melalui jalur formal yaitu melalui departemen ataupun dinas, maupun non formal yaitu melalui lembaga swadaya Masyarakat ( LSM ).  Permasalahan dengan kendala UMKM terhadap modal usaha. Ini adalah suatu masalah yang sangat besar bagi sector UMKM.

Dengan melihat permasalahan yang terjadi di kalangan UMKM ini, maka kita harus mengambil solusi  Alternatif  Pembiayaan Terhadap Ketahanan Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM ) sebagai Penggerak Ekonomi melalui Permodalan Nasional Madani ( PNM ) di Aceh. Dengan menjalankan salah satu alternatif ini maka permasalahan yang di hadapi oleh UMKM bisa terselesaikan. Apalagi di PNM bukan hanya di bantu lewat modal saja tapi juga di damping seperti pembenahan manajemen, peningkatan kualitan sumber manusianya dan sampai ke promosi produknya. Sehingga UMKM berjalan seperti semestinya. 

Pengembangan pembiayaan yang sangat alternatif ini juga harus di control untuk menjaga keseimbangannya, antara lain sebagai berikut: (1) membuat buku catatan pengeluaran. Di awal tahap memulai usaha. (2) siapkan buku catatan pemasukan usaha. (3) buatkan buku kas utama. (4) persiapkan buku khusus buku stok barang. (5) buat buku inventaris barang.(6) persiapkan buku laba rugi.

Sistem dan pola pembiayaan serta pendampingan perempuan-perempuan dari keluarga prasejahtera yang di berlakukan PNM pada program Mekaar, terbukti mampu mendidik mereka agar lepas dari kemiskinan. Para nasabah itu senantiasa diajak untuk melatih kedisplinan dalam mengelola pinjaman modal yang telah didapatkan. Dana yang didapatkan nasabah, tidak boleh di gunakan untuk konsumtif, harus digunakan untuk usaha. Tak sebatas memberi pinjaman lunak, PNM juga melatih mereka dalam mengembangkan usaha sehingga hasilnya dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Selain PNM, belum ada pihak manapun yang menyelenggarankan program serupa.

Menurut saya Kelebihan  pembiayaan dari alternatif PNM bagi UMKM adalah :

a. Permodalan nasional madani (PNM ) mengunakan sistem syariah

b. Kebebasan membuat kontrak berdasarkan kesepakatan bersama ( tijaratan’an taradhin minkum ) dan kewajiban memenuhi akad (aqd)

c. Adanya pelarangan dan penghindaran terhadap riba ( bunga ), maysir ( judi), dan gharar ( ketidakjelasan)

d. Adanya etika ( akhlak ) dalam melakukan transaksi

e. Dokumentasi ( perjanjian/ akad tertulis ) untuk transaksi tidak tunai

f. Di sini buka saja di beri pembiayaan modal tapi juga di dampingi langsung oleh mereka terhadap UMKM.

g. Menjadikan UMKM perusahaan yang sukses.



Bisa jadi UMKM adalah sebagai salah satu solusi di dalam memperbaiki pertumbuhan ekonomi daerah Aceh. Yang telah mampu menghapus mengurangi tingkat penggangguran dan kemiskinan. Data Kementerian Negara Koperasi dan UMKM menyebutkan sector UMKM di Indonesia menyerap 97 persen tenaga kerja dan kontribusinya bagi produk domestic bruto mencapai 55,56. Namun meskipun begitu, hambatan dan kendala tetap terjadi. 

Diantaranya seperti kurangnya keahlian di dalam mengelola dana secara professional, kesulitan di dalam melawan persaingan yang sangat ketat, hingga di dalam konsisten di dalam satu usaha. Oleh Karena itu solusi yang sangat ampuh adalah dengan mengambil langkah yang Alternatif Pembiayaan Terhadap Ketahanan Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM ) sebagai Penggerak Ekonomi melalui Permodalan Nasional Madani ( PNM ) di Aceh. Di ambilnya keputusan seperti ini, dengan tujuan dapat meningkatkan ekonomi Negara maupun ekonomi daerah.


Editor              : Redaksi 








09 April 2020

Bank Sampah Tak Bertuah di Tepi Jalan



Oleh : Putri Zuhra Furna

Detik berdetak tak terelakkan oleh tajamnya naluri, tubuh sebagai sahabat mampu menggerakkan seluruh jiwa untuk berimajinasi, dengan memompa segala kreasi serta alur fantasi yang berjalan secara normal maupun abnormal. Di penghujung sana ia memandang secara tajam tanpa berkedip hingga semerbak harum tak bertuah mulai menusuk kalbu yang mulai tertutup abu, dibalik jarak mampu menyingkap warna warni hingga menerawang yang semakin memudar dengan dilapisi abu-abu nan putih. Hingga seni tulisan tak lagi berfungsi.

Sampah, gelar yang dijuluki serta sumber masalah yang masih diperbincangkan namun tak kunjung usai. Namun tak jarang ia akan menjadi berkah apabila dimamfaatkan dengan memberi manfaat. Perihalnya, menumpuk hinga antah berantah di sepanjang tepi jalan yang hasilnya tak bisa dipungkiri sedemikian rupa. Bahwasanya sampah yang bertumpuk di pesisir jalan menuju Alue Lim, Blang Mangat Kota Lhokseumawe dan pesisir jalan Elak menuju SP 4  Alue Awee Lhokseumawe tersebut menjadi sumber masalah dalam kategori sosial dan budaya. Serta di beberapa tempat lainnya yang menjadi sasaran tempat pembuangan sampah hingga mengalami kendala dalam mengelola sampah baik organik maupun non organik. Terlebih dalam pengelolaan sampah yang menggunakan paradigm “ kumpul- angkut- buang- bakar”. Meskipun telah mengupayakan pengomposan dan daur ulang sampah, namun masih terbatas dan tidak sustainable.

Pembuangan sampah plastic dan sampah rumah tangga maupun sampah industry menjadi kebiasaan manusia dalam sehri-hari. Tangan-tangan kotor serta tangan yang tidak bertanggunga jawab dalam kebersihan menjadi cirri khas serta menjadi kebiasaan dalam turun menurun pada setiap generasi. Bukankah dalam hadist disebutkan “ kebersihan adalah sebagian dari iman” hadist riwayat At-Tirmidzi. Dalam QS. Ar-Rum:41 menyatakan yang artinya” telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali( ke jalan yang benar).”

Tanpa tulisan dan tanpa tempat bukan berarti sampah boleh dibuang dimana saja, seperti yang telah terjadi di tepi jalan tersebut. Sampah plastic rumah tangga berserakan bahkan menumpuk dan pada akhirnya menghasilkan bau yang tidak sedap serta menyengat. Pada akhirnya mengakibatkan pengguna jalan dan masyarakat sekitar terganggu akibat bau yang menyengat serta membuat lingkungan menjadi tidak sehat serta terjadinya pencemaran.


Adapun dampak yag ditimbulkan dari sampah tersebut ialah pencemaran lingkungan dan udara. Dikarenakan sampah yang sudah menumpuk akan menghasilkan bau yang menyengat setelah itu diterbangkan oleh angin ke udara dan akan berefek buruk khususnya pada daerah yang rawan serta sensitif terhadap sampah, baik itu di daerah pemukiman masyarakat, tempat wisata, dan lain sebagainya. Serta pembakaran sampah yang berlebihan juga akan berdampak buruk pada udara serta pernapasan manusia menjadi terganggu seperti CO, CO2, CH4, H2S, dan menjadi pemanasan global dikarenakan sampah yang dibakar akan memproduksi gas meta yag akan mengganggu daerah sekitar.

Selanjutnya akibat dari sampah ialah pencemaran air, terlebih air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Serta pembuangan sampah sembarangan ke sungai serta di laut maupun pinggiran laut dan tempat yang berair, dikarenakan binatang-binatang yang ada di laut akan mati dan terumbu karang akan rusak, dan ditempat berair akan menyebabkan sarang nyamuk.

Selanjutnya pembuangan sampah sembarangan akan berdampak pada sosial dan ekonomi. Karena sampah yang sudah menumpuk dan berceceran akan membuat pemandangan menjadi kotor dan kumuh, terlebih akan member pengaruh negatif bagi wisatawan yang berkunjung dan pengendara yang melewati tempat tersebut. Serta akan mengakibatkan banjir, yang pada akhirnya merusak pemukiman masyarakat serta berdampak buruk pada kesehatan masyarakat seperti timbulnya penyakit diare, kolera, tipus, dan jamur kulit, dikarenakan oleh virus sampah yang telah menumpuk dan pengololaan yang tidak tepat.

Adapun Abdul Halim Sari seorang Technical Advisor Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) mengatakan “ dalam ajaran Islam ada tiga relasi besar harus sinergis, pertama Tuhan, kedua manusia, dan ketiga alam”. Dan pepatah juga mengatakan “when we hell the earth we heal ourselves, yang artinya ketka kita menyembuhkan bumi, maka kita menyembuhkan diri sendiri”

10 January 2020

Asa di Balik Rangkaian Besi Tua

Foto: Putri Zuhra Furna/ lpmalkalam

www.lpmalkalam.com- Singsing mentari yang semakin menghilang menunjukkan seperempat waktu dari terbitnya fajar yang hampir didekap oleh senja. Dengan cahaya yang mulai memerah serta menciptakan gerah mengusik kenyamanan, seakan memberi isyarat bahwasanya lelaki menua tersebut beristirahat. Dengan becak uniknya ia keluar dari arah Simpang Jam Lhokseumawe.

Ia adalah seorang lelaki tua yang berprofesi sebagai tukang becak. Profesi tersebut telah digeluti puluhan tahun oleh bapak Ishak Ibrahim  dengan umur 71 tahun. Ia berasal dari Lhokseumawe dengan mempunyai 3 anak dari istrinya.

Menjadi tukang becak ia lakoni sejak tahun 1970 hingga kini. Diikuti dengan keterampilan celana kain hitam dan baju kemeja lengan pendek serta tali ikat pinggang dan sandal jepit menjadi ciri khasnya sehari hari. Dengan sigap ia siap mengantar setiap penumpangnya ketempat tujuan. Tak mengenal lelah meskipun kulitnya terbakar oleh teriknya matahari namun bukanlah suatu penghalang baginya untuk mencari sesuap nasi untuk keluarganya.

Lelaki berusia 71 tahun yang sudah memenuhi angka menua bukanlah suatu hambatan untuknya menjadi tukang becak. Tawa bahagia dalam menjalankan profesinya sebagai tukang becak terlihat jelas dalam raut wajahnya. Meskipun alat transportasi tradisional seperti becak kini mulai sepi akan penumpang, masyarakat sekarang sudah banyak memiliki kendaraan pribadi serta lebih senang dengan yang mudah dan praktis serta cepat seperti ojek online. Tentu saja hal ini akan mempengaruhi pendapatannya.

Kakek Ishak kerap disapa sehari hari. Pendapatan setiap hari biasanya rata-rata Rp. 60.000 sampai Rp. 80.000 dan ketika penumpangnya sedikit minimal Rp. 40.000. profesi yang ia lakoni setiap harinya terkadang untuk menghilangkan kejenuhannya dalam keseharinnya. Dikarenakan anak-anaknya juga ikut membantu perekonomian keluarganya. Dengan mencari sewaan yang tidak menentu akan waktunya hal itu tidak membuatnya untuk menyerah, hal itu terlihat dari garis-garis dahinya yang tampak masih bersinar.

Terlihat beda dari becak kakek Ishak  yang ia bawa sehari hari. Terlihat unik serta menarik pada becak bawaannya. Ia masih menggunakan becak pada tahun 1958 dengan merek DKW keluaran Jerman. Serta STNK dan buku sepeda motor masih lengkap dan masih bagus disimpannya rapi.  Selama ia memakai sepeda motor Era 1958 tersebut sangat jarang terdapat kerusakan, dengan bahan bakar apapun bisa diisi. Pak Ishak Ibrahim biasanya mengisi bahan bakar  bensin dicampur dengan minyak goreng. Serta becak tersebut sangat hemat dalam bahan bakar, sangat jarang ditemukan di zaman Era Millenial ini. Ia juga pernah bercerita ketika ia ke Lubuk Pakam, Sumatera Utara menggunakan becak Era 1958 tersebut tanpa ada kendala sedikit pun. Ia pergi jalan-jalan bersama teman-temannya ke Sumatera Utara.

Penulis | Putri Zuhra Furna
Editor    : Redaksi
Pers Mahasiswa AL-Kalam, IAIN Lhokseumawe Phone. 0852 6017 5841 (Pimpinan Umum). Powered by Blogger.