![]() |
| Foto: Pixabay |
Foto: Pixabay www.lpmalkalam.com- Kelak ketika musim kembali berganti Namamu tak lagi mengetuk pintu pikiranku Ia luruh seperti embun yang ...
![]() |
| Foto: Pixabay |
![]() |
| Foto: Pixels |
www.lpmalkalam.com- Museum seni dipenuhi dengan temaram lampu dan langkah pelan para pengunjung. Di setiap dinding tergantung lukisan dengan cerita masing-masing.
Sore itu, Kala datang sendirian, hanya untuk menghindari hiruk-pikuk kota dan pikirannya sendiri.
Langkahnya terhenti di depan sebuah lukisan besar.
Lukisan dua ekor burung yang sedang terbang di langit senja. Awalnya terlihat berdampingan, tetapi semakin ke atas, arah terbang mereka mulai berbeda. Yang satu menuju cahaya senja, satunya lagi ke langit gelap yang dipenuhi awan.
Di bawah lukisan itu tertulis:
“Tidak semua perjalanan yang dimulai bersama akan berakhir bahagia.”
Netra Kala terpaku cukup lama sampai suara seseorang terdengar di sampingnya.
“Masih suka ngeliatin lukisan sambil bengong?”
Napas Kala terasa berat sesaat.
Naren.
Nama yang selama ini berusaha Kala kubur dalam-dalam kini berdiri tepat di sampingnya.
Kala menoleh perlahan.Naren menatapnya dengan senyum kecil yang masih sama seperti dulu, hangat.
“Aku kira kamu ga suka museum,” bisik Kala pelan.
“Aku juga kira kamu udah ga suka tempat sepi.”
Mereka tertawa kecil, canggung, sangat canggung.
Sudah hampir tiga tahun sejak hubungan mereka berakhir. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kebencian. Hanya keadaan yang perlahan memaksa mereka berjalan ke arah berbeda, tetapi rasanya lebih menyakitkan dibanding berakhir karena pertengkaran.
Naren harus mengejar mimpinya ke luar kota, sedangkan Kala memilih tetap tinggal demi keluarganya.
Awalnya mereka berjanji akan bertahan.
Tetapi ternyata kadang janji akan kalah oleh jarak, waktu, dan impian yang tinggi.
Kini mereka dipertemukan lagi secara aneh di depan lukisan dua burung yang terbang menjauh satu sama lain.
“Lucu ya,” gumam Naren sambil menatap lukisan itu. “Kayak kita.”
Kala tersenyum tipis.
"Iya, kayak kita. Awalnya jalan bareng tapi harus pisah karena tujuannya beda."
“Aku sempat benci sama perpisahan kita,” lanjut Kala jujur. “Aku pikir semesta jahat banget.”
Naren diam beberapa detik sebelum akhirnya ikut berkata pelan, “Aku juga.”
Hening kembali datang.
Tetapi kali ini bukan hening yang canggung. Melainkan hening dua orang yang pernah saling mengenal terlalu dalam.
Dari speaker museum tiba-tiba terdengar alunan lagu lembut. Awalnya hanya instrumen pelan, sampai liriknya mengisi ruangan.
“Dipertemukan semesta… walau berakhir tak bahagia…”
Kala langsung menunduk kecil sambil tertawa getir.
“Semestanya nyindir ya?” katanya.
Naren ikut tertawa pelan, meski matanya tampak menyimpan banyak hal yang tidak bisa terucap.
Untuk sesaat, Kala berharap waktu berhenti di sana saja. Di ruangan sunyi itu, di depan lukisan dua burung yang pernah terbang berdampingan sebelum akhirnya memilih arah masing-masing.
Namun mereka sama-sama tahu, beberapa orang memang hanya ditakdirkan bertemu untuk menjadi cerita, bukan bersama selamanya.
Lampu museum mulai diredupkan tanda jam tutup hampir tiba.
“Aku harus pergi,” kata Naren akhirnya.
Kala mengangguk pelan. “Aku juga.”
Mereka berjalan ke arah pintu keluar bersama, tetapi tidak saling menyentuh lagi seperti dulu.
Sesampainya di persimpangan depan museum, langkah mereka berhenti.
“Kala,” panggil Naren.
“Hmm?”
“Makasih ya… pernah jadi rumah.”
Kala tersenyum kecil walau matanya mulai berkaca.
“Kamu juga.”
Setelah itu mereka benar-benar pergi ke arah berbeda. Sama seperti dua burung di dalam lukisan itu.
Penulis: Chalisa Najla Safira
Editor: Putri Ruqaiyah
![]() |
| Foto: Pexels |
![]() |
| Foto: Pexels |
www.lpmalkalam.com- Malam itu hujan mengguyur Kota Bandung. Lampu jalan memantul di genangan air, seperti serpihan kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai dipungut.
![]() |
| Foto: Pexels |
![]() |
| Foto: Pexels |
Pagi ini, guru wali kelas memberikan tugas sederhana untuk siswa. Seluruh siswa diberikan waktu untuk menuliskan cita-cita mereka pada selembar kertas dan kemudian diceritakan di depan kelas.
Suasana kelas sangat ramai. Teman-teman Zayyan sangat bersemangat menceritakan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi polisi, guru, bahkan pilot. Namun, Zayyan hanya diam sambil menatap kertas kosong di mejanya.
Guru wali kelas menyadari hal itu.
"Kenapa belum ditulis, Yan?" tanyanya.
"Saya takut cita-cita saya terlalu tinggi, Bu," ucap Zayyan sambil menunduk.
"Memangnya apa cita-citamu?"
Zayyan menarik napas pelan sebelum menjawab.
"Saya ingin jadi dokter. Saya ingin membantu orang sakit yang tidak punya biaya, seperti ibu saya."
Ibu guru tersenyum haru. "Gak ada cita-cita yang terlalu tinggi kalau kamu sertai dengan doa dan usaha," ucapnya sambil tersenyum.
Kalimat itu membuat Zayyan kembali bersemangat. Ia mulai menulis cita-citanya dengan penuh keyakinan.
Usai waktu yang diberikan habis, siswa diminta untuk membacakan apa yang mereka tulis di depan kelas.
Hingga tiba giliran Zayyan.
Dengan suara yang sedikit bergetar, Zayyan membacakan tulisannya.
"Saya belajar bahwa pendidikan tidak melihat siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang paling mau belajar dan berusaha. Saya percaya dengan doa dan usaha, suatu hari nanti bisa membawa saya menjadi dokter untuk membantu banyak orang dan membahagiakan keluarga saya."
Suasana kelas menjadi hening, banyak siswa yang tersentuh mendengar kalimat Zayyan.
Usai Zayyan membacakan tulisannya, Ibu guru menghampirinya.
"Jangan pernah berhenti bermimpi ya, Yan. Sekolah akan membantu siswa yang mau berjuang," ujarnya sambil tersenyum.
Hari ini, untuk pertama kalinya Zayyan merasa mimpinya bukanlah hal yang mustahil. Dari bangku paling belakang, Ia yakin bahwa pendidikan bisa membawanya ke masa depan yang menjanjikan.
Penulis: Chalisa Najla Safira
Editor: Tiara Khalisna
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
“Ada apa, Bu?” tanyaku pada ibuku.
“Tetangga kita, Pak Ilyas, pindah rumah. Sekarang Ibu sedang membantu mengangkat barang-barangnya ke truk,” jawab Ibu.
Mendengar jawaban tersebut, aku terkejut. Perasaanku campur aduk. Anak Pak Ilyas, Syifa, adalah sahabatku. Sejak kecil kami selalu bersama hingga sekarang, dan kami sudah saling memahami satu sama lain. Aku langsung bergegas mencarinya yang dari tadi tidak kutemui. Mataku berputar ke seluruh arah, dan kakiku melangkah ke sana kemari untuk mencari sahabatku itu.
“Tan!” Suara yang tidak asing terdengar dari kejauhan. Aku langsung membalikkan badan dan terlihat seorang anak perempuan berlari ke arahku.
“Maafkan aku, Tan,” ucap Syifa sambil meneteskan air mata. “Aku tidak tahu Ayah ditugaskan ke tempat lain, dan kami sekeluarga harus ikut pindah. Aku juga tidak tahu Ayah akan dipindahkan semendadak ini. Maaf ya, Tan, aku tidak sempat mengabarimu.” Syifa berkata sambil mendekat dan memelukku.
Mendengar itu, aku pun tidak sanggup menahan air mata yang sedikit demi sedikit menetes membasahi pipiku. “Emangnya kamu akan pindah ke mana? Apa kamu pindah jauh?” tanyaku sambil mengusap mataku.
“Ayahku akan dipindahkan ke Papua, Tan. Mungkin kita akan sangat jarang bertemu, atau mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi,” jelas Syifa.
“Serius itu? Terus aku gimana? Aku di sini sama siapa? Siapa yang akan selalu ada untukku?” jawabku sambil memeluknya lebih erat.
“Tenang saja, aku selalu ada kok. Kamu pasti terbiasa nanti. Ingat! Kamu jangan cengeng lagi. Kamu harus kuat. Kalau ada masalah, cerita saja sama aku, oke? Aku selalu ada,” jelas Syifa lagi, membuat air mataku semakin deras. Bagaimana tidak, kami dari kecil bersama sampai menginjak SMA. Namun saat kuliah, kami dipisahkan oleh keadaan yang tidak bisa kami kendalikan. Bahkan kami lahir hanya berbeda satu hari. Tidak heran banyak orang mengira kami ini anak kembar.
Syifa adalah anak tunggal, dan keluarganya sudah lama merantau ke desa kami. Ia anak yang sangat baik dan perhatian, meskipun sedikit egois. Tetapi darinya aku banyak belajar tentang banyak hal. Kini kami harus berpisah. Namun aku yakin, beberapa tahun ke depan, kami pasti akan bertemu lagi dengan versi yang lebih baik.
Penulis: Intan Sarifah (Magang)
Editor: Putri Ruqaiyah
![]() |
| Foto: Chalisa Najla Safira (Magang) |
"Aduh." Seorang lelaki terkejut dan menoleh cepat.
Anasera membeku, wajahnya langsung panik. “Eh, maaf! Aku kira nggak ada orang.”
Lelaki itu tidak marah. Hanya menunduk sebentar melihat batu kecil itu, lalu menatap Anasera dengan senyum yang membuat Anasera merasa dunianya hanya terfokus pada wajah tampan di depannya.
Senyum singkat, namun hangat. Hanya itu. Setelah itu, ia pergi begitu saja, menghilang di balik pepohonan.
Mereka tidak saling kenal. Tidak sempat bertanya nama.
Tapi, tatapan itu menetap jauh lebih lama daripada yang Anasera duga.
---
Hari ini, Anasera kembali setelah setahun berlalu. Ke tempat yang sama dengan suasana yang sama pula. Selesai hujan dan disertai awan menggumpal seperti gunung putih. Angin membawa bau basah yang familiar, seolah dunia diam-diam mengulang hari itu untuknya.
Ia berdiri di tempat yang sama, memegang batu kecil yang bentuknya mirip dengan batu lemparannya dulu.
Konyol, pikirnya.
Tapi, ada bagian dari dirinya yang berharap. Jika ia kembali, mungkin pria itu juga.
Ia menatap danau lama. Tidak ada siapa-siapa.
Hanya suara air, angin, dan detak hati yang pelan-pelan merasa kecewa.
Anasera hendak meletakkan batu itu lalu pulang. Namun, sebuah suara menghentikan langkahnya
“Hari ini mau lempar batu lagi? Semoga kali ini bukan ke aku.”
Anasera menoleh. Dan di sana—dia. Lelaki itu.
Dengan senyum yang sama seperti hari pertama, tapi kali ini lebih jelas, lebih dekat, dan lebih nyata.
Anasera refleks menutup wajahnya, malu. “Kamu masih inget itu?”
“Gimana mau lupa, kalau pertemuan pertama kita ninggalin kenangan di kepala?”
Nada suaranya bercanda, tanpa marah sedikit pun.
Mereka sama-sama tertawa canggung, tapi nyaman. Lelaki itu pun berjalan mendekat. Tidak terlalu dekat, hanya cukup untuk membuat Anasera tahu ia senang bertemu lagi.
“Aku balik ke sini dua-tiga kali. Takutnya kamu lempar batu lagi tanpa sengaja,” katanya.
“Berarti kamu… nyari aku?” Anasera bertanya pelan.
Lelaki itu menggaruk tengkuknya, senyumnya melebar.
“Mungkin. Atau mungkin aku cuma suka tempat ini kalau ada kamu.”
"Aku awan," ucapnya.
Danau terasa lebih tenang. Langit tampak lebih terang. Dan hati Anasera rasanya menemukan kembali sesuatu yang sempat ia pikir cuma kebetulan.
Tak ada lagi tatap singkat yang segera hilang. Kali ini, keduanya tinggal lebih lama, seolah sepakat memberi kesempatan pada pertemuan yang dulu terlalu cepat lewat.
Semuanya dimulai dari satu batu yang salah arah dan ternyata membawa arah yang tepat.
Penulis: Chalisa Najla Safira (Magang)
![]() |
| Foto: Muhammad Iftal (Magang) |
Di tengah kota, jalan-jalan mulai ramai. Pedagang kaki lima membuka lapak di pinggir Jalan Merdeka, menjual sarapan khas Aceh: nasi gurih, lontong, dan kopi hitam yang harum. Di warung kopi, para lelaki berkumpul, membahas berita dan berbagi cerita. Bagi warga Lhokseumawe, kopi bukan sekadar minuman, melainkan simbol kebersamaan dan tempat bertukar pikiran.
Namun, di balik keseharian yang tampak damai itu, banyak hal telah berubah. Dahulu, kota ini dikenal dengan julukan Kota Petro Dollar karena kejayaan industri gas alam di Arun. Perekonomian berputar cepat, dan banyak orang datang mencari rezeki. Kini, pipa-pipa besar yang dulu berdiri megah mulai berkarat. Aktivitas industri berkurang, dan sebagian masyarakat kehilangan pekerjaan.
Rahmat, seorang pemuda lulusan universitas, merasakan langsung perubahan itu. Setelah lulus, ia kesulitan mencari pekerjaan tetap. Setiap hari ia mengantar ibunya berjualan di Pasar Inpres, sambil berharap ada lowongan di kantor pemerintahan atau perusahaan kecil yang masih bertahan.
“Sabar saja, Mat,” kata ibunya lembut. “Kota ini masih punya harapan, asal kita tak menyerah.”
Sore hari, Rahmat sering berjalan di sekitar Masjid Islamic Center— bangunan megah yang menjadi kebanggaan warga Lhokseumawe. Di sana, ia melihat anak-anak mengaji, para pedagang menjajakan jajanan, dan wisatawan mengambil foto di halaman masjid. Kehidupan tetap berjalan, meski perlahan.
Di tepi jalan, ia melihat remaja-remaja nongkrong sambil memainkan gitar. Mereka bernyanyi tentang tanah kelahiran, tentang laut yang tenang dan angin yang membawa harapan. Lagu sederhana itu membuat Rahmat tersenyum. Ia sadar, meski kota ini tak lagi sepadat dulu, semangat warganya masih sama. Hangat dan pantang menyerah.
Malam datang perlahan. Lampu-lampu jalan menyala, memantulkan cahaya di genangan air setelah hujan sore tadi. Suara kendaraan mulai berkurang, digantikan oleh deru ombak yang terdengar dari kejauhan. Di rumahnya, Rahmat duduk di teras, memandangi langit Lhokseumawe yang cerah.
“Kota ini sudah berubah,” pikirnya, “Tapi perubahan bukan berarti kehilangan.”
Ia menatap jauh ke arah laut. Di sana, masa lalu dan masa depan seakan bertemu. Lhokseumawe mungkin tak lagi semegah dulu, tetapi kota ini tetap hidup dalam kerja keras, kesabaran, dan harapan orang-orangnya.
Angin laut berhembus lembut, membawa aroma asin dan suara malam yang tenang. Di bawah langit biru yang perlahan gelap, Lhokseumawe tetap berdiri sederhana, kuat, dan penuh kehidupan.
Penulis: Muhammad Iftal (Magang)
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
Fatiha, perempuan berhijab syar'i, sedang berjalan menuju kampus, FH Aachen University of Applied Sciences, kampus yang berfokus di bidang teknologi dan sains. Hari itu, ia sangat bersemangat dikarenakan adanya beberapa agenda yang akan dikerjakannya.
Sebelum berangkat, Fatiha menyempatkan diri membaca basmallah, ia berharap harinya berjalan lancar. Dengan wajah ceria, ia berjalan sambil bersenandung kecil sampai akhirnya sampai di gedung perkuliahan yang menjulang tinggi.
Sekarang Fatiha sudah semester lima. Tugasnya sangat banyak dan harus segera diselesaikan. Begitu masuk kelas, dia langsung membuka buku dan mencatat hal-hal penting yang dijelaskan oleh dosennya.
Selama tinggal dan berkuliah di Eropa, Fatiha memiliki banyak teman dari berbagai negara dan agama. Walaupun begitu, dia tetap berusaha menjalani hidup sesuai ajaran Islam seperti salat, berpakaian sopan, dan tetap menjaga sikap. Dari pengalaman itu, dia belajar banyak hal baru dan menjadi lebih terbuka perihal cara berpikir. Bahkan, sekarang dia bisa menyukai hal-hal yang dulu tidak ia minati.
Dua jam kemudian, kelasnya selesai. Fatiha lanjut mengikuti kelas tambahan dan mengerjakan tugas yang menumpuk. Setelah itu baru deh dia mutusin buat pulang.
Di dalam perjalanan pulang, ia melihat seorang nenek yang kelihatan kesusahan membawa barang-barangnya. Fatiha langsung menghampiri dan menawarkan bantuan.
“Nenek, mau saya bantu?” ucapnya.
Awalnya nenek itu menolak seraya tersenyum, namun Fatiha tetep ngotot untuk membantunya dengan nada sopan. Akhirnya nenek tersebut mengalah dan mengizinkan Fatiha untuk membantunya. Sepanjang jalan mereka mengobrol santai, sesekali tertawa kecil. Tidak terasa, mereka sudah tiba di rumah sang nenek.
Sebagai tanda terima kasih, nenek tersebut memberikan Fatiha makanan kecil. Awalnya Fatiha menolak, namun karena memang lapar, akhirnya dia terima juga. Setelah pamit, Fatiha merasa sangat bahagia karena sudah bisa membantu orang lain. Dalam hati, dia berdoa semoga Allah juga membantu dirinya jikalau suatu saat dia dalam kesusahan.
Saat melanjutkan perjalanan pulang, matanya tertuju ke sebuah toko roti di sudut jalan. Di papan namanya tertulis “Boulangerie Maison,” yang artinya “Rumah Roti” dalam bahasa Prancis.
Fatiha langsung tersenyum, sudah sangat lama ia tidak mampir ke sana. Begitu masuk, aroma roti dari langsung membuat perutnya keroncongan.
“Wah, wanginya bikin makin laper aja,” gumamnya.
Dia duduk di kursi panjang di pojok ruangan, lalu menikmati roti dan coffee caramel favoritnya sambil menggoyang-goyangkan kaki saking senangnya. Setelah kenyang dan capek mulai terasa, dia pun pulang ke apartemen.
Malamnya, Fatiha menjalani rutinitas seperti biasa sebelum tidur. Nggak lama kemudian, dia pun terlelap, sementara Kota Aachen kembali diselimuti malam dan menunggu pagi berikutnya.
Penulis: Luthfiatil Syaqirah (Magang)
Editor: Zuhra
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
Burung itu bernama Burung Pipit. Ia sangat menyukai waktu senja, saat langit berubah warna dan kota mulai menyala dengan lampu-lampu. Ia merasa damai ketika bertengger di ranting keringnya, memandang dunia dengan mata bulatnya yang jernih.
Ranting kering itu adalah tempat favorit Burung Pipit. Di sanalah ia beristirahat setelah seharian mencari makan, berlindung dari panasnya matahari, dan menikmati indahnya senja. Ranting itu memang tidak seindah dahan-dahan hijau yang penuh daun, tetapi bagi si Burung Pipit, ranting itu adalah tempat yang istimewa.
Suatu sore, saat senja sedang beranjak turun, datanglah seorang anak kecil. Anak itu menatap Burung Pipit dengan kagum.
“Burung kecil yang cantik,” bisiknya.
Burung Pipit merasa senang dipuji. Ia pun berkicau dengan riang, seolah menyapa anak itu.
Anak itu tersenyum. Ia mengambil sepotong roti dari sakunya dan memberikannya kepada Burung Pipit. Burung Pipit menerima roti itu dengan senang hati. Ia memakannya dengan lahap sambil terus berkicau. Si Pipit merasa bahagia, ia telah menemukan teman baru.
Sejak hari itu, setiap sore anak kecil itu selalu datang ke taman untuk menemui Burung Pipit. Mereka bermain bersama, berbagi cerita, dan menikmati indahnya senja. Burung Pipit dan anak kecil itu menjadi sahabat baik. Mereka saling menyayangi dan saling menghibur.
Penulis: Muhammad Iftal (Magang)
Editor: Putri Ruqaiyah
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
"Sampai kapan aku mau gini terus? Apa masih ada harapan untuk aku sembuh dari penyakit ini?" ucap Sera dengan suara lirih sembari menarik nafas panjang layaknya orang yang kelelahan.
Ia selalu mengulang kalimat itu setiap harinya. Gadis itu merasa hidupnya sudah sangat berantakan, dimulai dari kedua orang tuanya yang bercerai dan tidak lagi mempedulikannya, hingga kini penyakit yang dialaminya. Ia merasa bahwa semesta tidak menginginkan nya untuk bahagia.
Sera larut dalam lamunannya sehingga ia dikejutkan dengan suara decitan pintu yang terbuka perlahan. Sebuah tubuh tegap menghampirinya. Karel Liano Aditama, sahabat yang selalu ada dalam setiap perjuangan yang dilalui Sera. Karel memasuki ruangan dengan senyum yang merekah dengan membawa sebuket bunga matahari, bunga kesukaan Sera.
"Hai, Ser! Lihat aku bawa apa buat kamu." Karel memberikan bunga itu kepada Sera.
Sera tersenyum tipis "Rel... makasih, ya. Kamu selalu ada buat aku."
"Harus, dong, Ser. Kita kan sahabat." ucap Karel dengan senyuman.
"Ser, kok mukanya murung gitu? Ada yang sakit?"
Sera menatap ke luar jendela. "Senja lagi indah, yaa. Tapi aku nggak tau kapan aku bisa nikmatin senja tanpa mikirin apapun," ucapan Sera terdengar getir meski ia mencoba nya untuk tetap tersenyum.
Karel mendekat dan duduk di kursi samping ranjang Sera. "Hei, jangan ngomong gitu. Kamu pasti bisa lewatin ini semua. Kamu pasti sembuh," ucap Karel sembari menggenggam tangan Sera.
"Oh, iya. Dokter ada bilang apa hari ini?" tanya Karel.
Sera menghela nafas pelan. "Sama aja. Harus sabar, harus kuat... Tapi aku udah capek Rel, capek banget."
Gadis itu sudah begitu muak dengan tempat yang didudukinya saat ini. Melihat mesin cuci darah, bau obat yang menyengat seolah sudah menjadi sahabat nya sehari-hari.
Karel menatap mata gadis itu, terlihat begitu lelah dan putus asa.
"Oh, iya, Ser. Gimana kalau kita ke taman aja?" Pria itu terus mencoba untuk membuat sahabatnya tersenyum. Setidaknya untuk melupakan sejenak rasa sakit yang dialami gadis itu.
"Boleh deh! Aku juga bosen."
Karel membawa gadis itu ke taman kecil di dekat rumah sakit. Sera merasa sangat senang karena dapat menghirup udara segar di luar kamar rumah sakit.
Karel menjauh beberapa langkah dengan menggenggam kamera ditangannya.
"Ser, senyum lihat sini."
Karel menunjukkan hasil fotonya kepada Sera. "Lihat deh! Cantik."
"Lihat itu juga Ser, bunganya banyak yang lagi mekar, dan bunga yang itu mirip kamu, cerah dan indah," ucap Karel sembari menunjuk ke arah bunga yang ia maksud.
Sera tertawa kecil "Bisa aja kamu. Tapi makasih, ya, Rel. Setidaknya aku masih punya sedikit harapan karena kamu."
"Nah, gitu, dong! Jangan lupa, kamu itu ibarat matahari, kalau kamu redup, orang di sekitar kamu juga ikut gelap. Jadi, nggak boleh putus asa, harus selalu semangat. Ingat, aku selalu ada buat kamu," ucap Karel dengan senyum tulus sembari mengusap pucuk kepala Sera.
"Sekali lagi makasih, ya, Rel. Aku beruntung punya kamu." Sera menatap Karel dengan mata berkaca-kaca dan menyandarkan kepalanya di bahu Karel.
"Kita sama-sama beruntung. Sekarang, coba lihat senjanya. Siapa tau, besok kita bisa lihat senja bareng di pantai." ucap Karel dengan menggenggam erat tangan Sera.
Setiap ucapan yang Karel lontarkan seolah menjadi harapan baru yang membuat Sera menyadari bahwa hidupnya masih indah dan berharga.
Sera dan Karel terus menikmati senja bersama di taman rumah sakit. Mereka saling menggenggam untuk menguatkan dan memberikan harapan satu sama lain.
Penulis: Julia Sabela (Magang)
Editor: Zuhra
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
Meski masih pagi, suara-suara kehidupan di desa mulai terdengar: gemercik air, ayam berkokok, Pak Tani yang berjalan menuju sawah, serta burung-burung yang berkicauan riang.
Kahfa tiba-tiba teringat roti yang kemarin diberikan ibunya. Ia segera mengambil roti itu dari kamar, lalu kembali duduk di teras untuk menikmatinya. Hari ini, ia hanya ingin menikmati roti itu sambil melihat hujan.
Di tengah kenikmatan sederhana itu, datanglah seorang petani yang tampak sangat lesu, langkahnya gontai, dan wajahnya muram.
Kahfa bertanya pelan, “Paman, apakah Paman sudah makan?”
Petani itu hanya menggeleng dengan wajah sedih. Seketika Kahfa teringat pesan ibunya, “Jika bertemu orang yang membutuhkan, jangan pernah ragu untuk berbagi.”
Tanpa pikir panjang, Kahfa mengambil potongan roti terakhir dari bungkusnya dan memberikannya kepada petani itu.
Petani itu menerima dengan senyum dan mengucapkan terima kasih. Tak lama kemudian, hujan berhenti. Sinar matahari perlahan menembus awan, menampilkan pelangi di langit.
Kahfa tersenyum. Ia menyadari bahwa dalam kesederhanaan hidup pun, selalu ada kebahagiaan yang bisa ditemukan. Bahagia bisa datang dari roti yang manis, hujan yang menyejukkan, atau dari berbagi dengan sesama.
Kahfa akhirnya memutuskan untuk tetap di rumah saja. Ia melanjutkan harinya dengan menikmati suasana setelah hujan. Ia tidak perlu pergi ke mana pun untuk mencari kebahagiaan karena kebahagiaan itu sudah ada di depan matanya, dalam kesederhanaan hidupnya sendiri.
Penulis: Lutfhiatil Syaqirah (Magang)
Editor: Putri Ruqaiyah
![]() |
| Foto: Pexels.com |
“Aku masih suka tempat ini,” katanya pelan, menatap langit yang mulai berwarna jingga. Aku tersenyum tipis. “Tempat ini memang gak pernah berubah. Mungkin cuma kita yang berubah,” pelanku di kalimat akhir yang kuucapkan.
Dia terkekeh singkat, tapi sorot matanya sendu. “Kamu pernah kepikiran gak, gimana kalau waktu itu kita gak memutuskan untuk saling melepas?”
Aku menatap dedaunan kering yang jatuh satu-persatu. “Sering," aku menjeda ucapanku. "Tapi mungkin kita nggak akan jadi seperti sekarang. Kadang, cinta itu kayak pasir di laut, semakin kuat kita genggam, semakin berantakan pasirnya. Iya, kan?” Aku menoleh ke arahnya.
Dia mengangguk pelan seolah menyetujui ucapanku. “Jadi, kamu beneran gak nyesel?” Aku tersenyum, meski ada rasa aneh yang sedikit mengganjal di dada. “Gak. Karena sekarang aku masih bisa duduk di sini sama kamu, tanpa harus mencari alasan apa pun.”
Hening menyelimuti kami. Tak ada yang perlu diperjelas, tak perlu juga mengulang masa lalu. Kami tahu, cinta itu masih ada, masih sama besarnya, tapi kini tanpa tuntutan.
Sebelum pergi, dia berbisik, “Kamu tahu, rasaku masih sama.” Aku menatapnya, menahan kata-kata yang sebenarnya ingin terucap. “Aku juga. Tapi... gak selalu artinya harus bersama, kan?” Dia tersenyum, lalu berbalik pergi. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa kehilangan.
Langit sore itu terasa luas, mungkin karena akhirnya kami paham, bahwa cinta tak harus bersama, cukup dikenang dengan tenang.
Penulis: Chalisa Najla Safira (Magang)
Editor: Tiara Khalisna
![]() |
| Foto: Pixabay.com |
Waktu itu tak pernah terpikir di benakku untuk mengambil Jurusan Soshum. Yang penting bagiku adalah sekolah, belajar yang rajin, dan bisa ikut kegiatan positif. Saat masa pendaftaran peserta didik baru tiba, aku mulai mencari informasi dan mataku tertuju pada sebuah brosur bertuliskan “Kelas Intensif (Unggul).” Setelah kubaca, akhirnya aku tertarik karena di dalamnya ada kegiatan tambahan seperti bahasa Inggris, bahasa Arab, tahfiz, dan juga teknik informatika. Ayahku pun mendaftarkanku agar bisa menjadi siswa intensif. Aku sangat senang. Namun, ironisnya aku terlalu menyepelekan yang namanya jurusan. Padahal, jurusan itu sangat menentukan kita mau jadi apa ke depan.
Akhirnya aku menjadi siswa intensif yang mau tidak mau jurusannya ditentukan oleh pihak sekolah, yaitu MIA (IPA). Selama aku mengikuti pembelajaran di kelas tersebut, aku masih baik-baik saja. Namun, setelah pulang dari sekolah, tubuhku sangat lelah dan kehilangan energi karena padatnya kegiatan. Aku memutuskan untuk istirahat sebentar, tetapi setelah bangun tubuhku tetap terasa lemas. Walaupun begitu, aku tetap menjalankan tanggung jawabku sebagai siswa untuk hadir ke sekolah.
Sehari – dua hari kemudian aku tetap merasakan hal yang sama. Rasa lelah, jantungku berdebar kencang, dan rasa sakit seperti nyeri menggerogoti tubuhku hingga akhirnya aku hanya bisa terbaring lemah di atas kasur, bagaikan ikan yang terkapar di pinggir laut.
Melihat keadaanku, orang tuaku tak tega. Ibuku menghampiriku dan berkata, “Nak, ibu melihatmu sepertinya tak sanggup lagi ikut kelas intensif seperti itu, lebih baik kamu keluar saja. Bukannya ibu melarang, tapi ibu tak tega melihatmu seperti ini setiap hari.”
Lalu ayahku menimpali, “Iya, Nak, betul itu. Ambil saja kelas reguler agar kamu tidak terlalu banyak kegiatan, sehingga bisa cepat pulang.”
Mendengar perkataan mereka, akhirnya aku menuruti. Keesokan harinya aku akan dipindahkan ke kelas reguler. Tapi sebelum itu, guruku sempat bertanya,
“Mengapa kamu mau pindah kelas?”
Aku menjawab pelan, “Tidak sanggup lagi, Pak, saya kecapekan.”
Setelah melalui proses, akhirnya aku resmi menjadi siswa reguler. Uniknya, kelas itu belum memiliki penentuan jurusan, sehingga kami harus melalui masa matrikulasi terlebih dahulu — semacam pembekalan mengenai bidang studi pilihan. Saat menjalani masa itu, aku mulai mencari tahu siapa diriku, apa yang kusukai, dan apa yang sesuai denganku.
Aku mencoba tes minat dan bakat di aplikasi ponselku, dan hasilnya menunjukkan bahwa aku lebih condong ke soshum (IPS). Lalu aku bertanya lagi pada diriku sendiri, sebenarnya apa tujuan hidupku. Dan ternyata, aku menemukan jawabannya: aku ingin menjadi orang yang bermanfaat!
Untuk bisa menuju ke sana tentu harus ada ilmunya, apalagi hal itu berkaitan dengan bertemu banyak orang. Akhirnya aku membulatkan tekad untuk masuk jurusan IPS, dan melalui prosesnya hingga akhirnya aku resmi menjadi siswa IPS.
Mengingat masa itu, aku sangat bersyukur. Jika Tuhan tidak membuatku sakit saat itu, mungkin sekarang aku akan kesulitan bertahan di jurusanku, karena tidak ada dasar dari sebelumnya serta tidak berhubungan dengan jurusan yang pertama kali kuambil di SMA.
Yang paling kusukai sekarang adalah aku berada di titik di mana aku bisa berpeluang untuk berkarya dan bermanfaat. Aku percaya bahwa rencana-Nya tidak pernah salah, hanya saja kita belum mengerti maksud Tuhan atas jalan hidup yang sudah ditetapkan-Nya. Dia lebih tahu mana yang kita butuhkan, bukan mana yang kita inginkan.
Penulis: Rizky Ramadhani (Magang)
Editor: Zuhra