HEADLINE

Latest Post
Loading...

22 January 2022

Presiden Mahasiswa IAIN Lhokseumawe Serukan Pentingnya Sejarah Keacehan

 
Foto : IST

www.lpmalkalam.com - Presiden Mahasiswa IAIN Lhokseumawe menyerukan agar pemerintah Aceh memberikan edukasi terbaik kepada generasi-generasi yang sedang dibanjiri oleh era digitalisasi, Sabtu (22/01/2022).

Hari ini Aceh menjadi pusat sejarah sekaligus sebagai pusat peradaban Islam yang dikemuka, bahkan berdatangan banyak orang dari segenap penjuru dunia ke tempat-tempat bersejarah yang ada di Aceh. Kita melihat hari ini bagaimana perkembangan Aceh yang begitu pesat baik pembangunan fisiknya maupun pembangunan sumber daya manusianya.

Kita berharap Aceh menjadi pusat sejarah selamanya, tidak hanya situs-situs yang berharga yang ditinggalkan tetapi ada manusia-manusia yang mampu meneruskan kehebatan, kegagahan dan kemegahan Aceh di masa depan.

Seluruhnya apa-apa yang bisa kita elaborasikan dan persiapkan selain dari pada pembangunan fisik semata, namun kita juga harus mempersiapkan generasi-generasi yang bisa memberikan kebermanfaatan baik kepada lingkungan sekitarnya maupun kepada Aceh khususnya.

Hari ini sebagian besarnya kita tidak mengenal sejarah masa lalu, sejarah kegemilangan Aceh dan bahkan nyaris di sekolah-sekolah dalam buku-buku pelajaran tidak pernah diceritakan penuh bagaimana Aceh di masa dulu.

"Saya sendiri sampai hari ini masih banyak yang perlu dipelajari dari sejarah aceh," ujar Maulana selaku Presiden Mahasiswa IAIN Lhokseumawe.

Perjuangan-perjuangan pahlawan yang telah mendahului kita yang sangat berharga mestilah diajarkan kepada seluruh masyarakat Aceh khususnya bagi pelajar, mahasiswa, dan pemuda. Jika sejarah tidak pernah diajarkan maka kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang maju di masa yang akan datang sebab tidak punya role model dalam menata dan melangkah. Orang yang tidak mengenal sejarah maka tidak pernah mengenal siapa dirinya, sejarahlah yang membuat secara simbolis kita menjadi bangsa yang punya martabat di mata dunia.

Pemuda-pemuda hari ini ini sibuk melayani diri sendiri. Pertanyaanya apakah mereka peduli bagaimana Aceh di masa depan?

Era disrupsi ini telah menghadirkan mesin-mesin digital yang serba canggih sehingga kita berkembang karena kita bergantung pada alat.

"Saya berharap kepada seluruh elemen yang ada di Aceh untuk kembali memberikan edukasi terbaik kepada generasi Aceh yang akan datang," seru Maulana.

Ada banyak hal yang perlu dituntaskan dan diselesaikan tidak hanya pembangunannya tetapi juga yang paling sakral adalah manusianya. Perlu adanya edukasi terbaik sehingga mampu memberikan output terbaik bagi Aceh nantinya. Selaku mahasiswa, Maulana mengaku menginginkan adanya kurikulum keacehan khususnya yang di dalamnya terdapat banyak sejarah Aceh yang bisa diakses sampai pelosok-pelosok.

Tanggung jawab kita bersama bangsa aceh untuk memperkenalkan siapa Aceh dan bagaimana Aceh di masa depan. "Saya berharap literasi sejarah tidak hanya historis tetapi juga secara sentralistis bisa dijangkau dengan mudah oleh setiap generasi gemilang aceh," tutupnya.


Sumber : Rilis

Editor : Redaksi

DEMA IAIN Lhokseumawe Turut Memperingati Wafatnya Tgk Abdullah Syafi’i

Foto : IST
www.lpmalkalam.com - Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Lhokseumawe turut memperingati hari wafatnya panglima Gerakan Aceh Merdeka Tengku Abdullah Syafi’i, Sabtu (22/01/2022).

Maulana, selaku Presiden mahasiswa IAIN Lhokseumawe menghimbau kepada seluruh rakyat Aceh agar mengenang kembali tokoh-tokoh perjuangan Aceh di masa silam, yang mana pada saat itu kita pernah berjaya mulai dari kerajaan sampai timbulnya gerakan-gerakan pembaharuan di Aceh yang dengan itu telah mewarnai Aceh dengan variasi yang baru.

Aceh pernah mempunyai raja yang membawa pengaruh bagi Aceh yang berdaulat dan bersahaja. "Saya begitu mengagumi Syiah Kuala, Iskandar Muda, Sultan Malikussaleh dari tokoh perjuangan Teungku Muhammad Daud Beureueh, Tengku Hasan di Tiro," ujar Maulana.

Bertepatan tanggal 22 Januari 2002 Tengku Abdullah Syafii kembali kepada yang kuasa. Beliau wafat dalam perjuangan dan meninggalkan marwah perjuangan dan beribu-ribu harapan kepada kita semua. Duka cita yang besar ini pada saat berkabung Aceh 44 hari, di mana Aceh berduka telah kehilangan tokoh bangsa yang telah membersamai perjuangan Aceh pada waktu itu.

Melalui ini kita perlu mempelajari kembali sejarah Aceh di masa silam sebagai tonggak untuk  melangkah ke masa depan.

Kepada pemerintah Aceh terkhusus, seharusnya memberikan edukasi terbaik kepada generasi-generasi tentang bagaimana perjuangan Aceh di masa dahulu. Sampai hari ini kita menginginkan perubahan-perubahan besar tetapi juga kita harus memperbaiki sejarah masa lalu untuk memperkenalkannya kepada seluruh rakyat Aceh secara menyeluruh.

Sejarah ini bisa ditemukan dalam buku-buku sejarah dalam lembaran-lembaran manuskrip kuno yang ada di Aceh dan kita tidak bisa melupakan hal tersebut, karena sejarah itu adalah marwah yang harus kita jaga, yang harus kita proteksi bersama agar orientasi Aceh bisa kembali berdaulat seperti di masa silam.


Sumber : Rilis

Editor : Redaksi

01 December 2021

Civilization Campus Fest 2021, Ini Kegiatannya

 

Foto: Dahlia Suryani Siregar/lpmalkalam.com


www.lpmalkalam.com - Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Lhokseumawe laksanakan kegiatan Civilization Campus Fest 2021 (C2F) hari kedua di area Auditorium IAIN Lhokseumawe pada Selasa (30/11/2021).

Kegiatan hari kedua ini meliputi stand bazar dan berbagai perlombaan, diantaranya fahmil qur’an, orasi ilmiah, dan vocal solo. Sementara itu, cabang lomba tilawatil qur’an dan qira’atul kutub telah dilaksanakan pada hari pertama.

Adapun total peserta yang mengikuti perlombaan dalam kegiatan ini berjumlah 87 orang. Terdiri dari peserta cabang fahmil qur’an berjumlah 24 orang yang terbagi dalam 8 tim, orasi ilmiah berjumlah 7 orang, vocal solo berjumlah 23 orang, tilawatil qur’an berjumlah 13 orang, cabang qira’atul kutub diikuti oleh 12 orang peserta, dan stand bazar terdiri dari 8 stand.

Filzan Naufal Akram, mahasiswa semester 1 prodi Hukum keluarga Islam (HKI) IAIN Lhokseumawe sebagai salah satu peserta cabang Fahmil Qur’an mengaku, dirinya bersama rekan timnya memutuskan untuk mengikuti perlombaan ini karena ingin mencari pengalaman, yang mana ini merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti lomba tersebut. 

“Awalnya ketika diadakan acara ini kami tidak ada niat untuk mengikuti lomba, tetapi kami ingin mencari pengalaman dan akhirnya kami mempelajari kisi-kisi soalnya. Bagi teman-teman saya rasa harus coba ikut lomba fahmil qur’an karena lomba ini sangat menarik dan mudah untuk diikuti”. Ujarnya. 

Salah seorang peserta Stand Bazar “19 Street Food”, Riski Darmansyah Putra Manurung dari Fakultas tarbiyah dan Ilmu keguruan (FKIP) berharap agar kedepannya kegiatan seperti ini bisa tetap dilaksanakan untuk dapat membangkitkan semangat mahasiswa. 

“Semoga untuk kedepannya tetap ada kegiatan seperti ini, karena selain merupakan kegiatan positif tetapi juga dapat membangkitkan semangat kita sebagai mahasiswa. Lebih baik berjalan satu langkah kedepan daripada mundur satu langkah ke belakang”. Ungkapnya.

Selain itu, penanggung jawab stand bazar Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (HMJ-PBA) Marsal Arija kepada LPM Al-Kalam mengaku, HMJ-PBA juga memutuskan ikut mendirikan stand bazar dalam kegiatan C2F ini untuk dapat menjalin kerjasama dalam Organisasi Mahasiswa (Ormawa) tersebut dan berharap timnya dapat memenangkan kategori stand bazar terbaik.

Perlombaan dalam kegiatan ini dilaksanakan di dua tempat yakni gedung auditorium IAIN Lhokseumawe untuk cabang qira’atul kutub, fahmil qur’an dan vocal solo, serta panggung utama yang terletak di samping gedung auditorium untuk cabang tilawatil qur’an dan orasi ilmiah. Kemudian untuk stand bazar didirikan di sekitar area auditorium.


Reporter: Dahlia Suryani Siregar

Editor : Redaksi

29 November 2021

Wakil Rektor III IAIN Lhokseumawe : Mahasiswa Harus Mampu Mengenal Jati Dirinya

 

Foto: Dahlia Suryani Siregar/lpmalkalam.com


www.lpmalkalam.com - Wakil Rektor III IAIN Lhokseumawe berikan pendapat tentang kegiatan Civilization Campus Fest 2021 yang diadakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa IAIN Lhokseumawe pada acara pembukaan di gedung auditorium IAIN Lhokseumawe, Senin (29/11/2021)

Dr. Al Husaini M. Daud, S.Ag., M.A dalam wawancara bersama LPM Al-Kalam mengatakan, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan sosok-sosok mahasiswa yang prima dalam belajar maupun bekerja, karena mahasiswa tidak cukup hanya berkutat dengan buku saja, tetapi harus dapat mengaktualisasikan nilai-nilai kebukuan tersebut di luar.

“Sebenarnya ini adalah acara yang sangat prestisius di kalangan mahasiswa karena bisa melambungkan kesempatan belajar mereka di kelas dan ketika belajar di luar. Karena itu diharapkan mampu melahirkan sosok-sosok yang tidak hanya prima dalam belajar tetapi juga prima dalam bekerja”. Ujarnya.

Dirinya berharap kegiatan ini mampu menjadi wadah pembuktian jati diri mahasiswa yang dapat belajar di dalam maupun di luar kelas, hal tersebut yang membedakan antara mahasiswa dengan siswa yang proses belajar mengajarnya hanya di dalam kelas.

“Hal inilah yang dapat menjadi pembanding antara siswa dan mahasiswa, dan salah satu yang dijadikan sebagai sarana penyepuhan jati diri mahasiswa adalah aktivitas di luar perkuliahan dan festival ini merupakan bagian daripada itu”. Tuturnya.

Yang menjadi permasalahan utama bagi mahasiswa berdasarkan pandangan Wakil Rektor III IAIN Lhokseumawe tersebut, terkadang mahasiswa hanya mampu berkutat pada jati diri mereka sendiri tetapi tidak mampu bergaul dengan jadi diri lainnya. Oleh karena itu diharapkan mampu mengaktualisasikan nilai-nilai persahabatan dan mahasiswa akan menemukan bahwa sesungguhnya jati dirinya bukan di kelas tapi juga di alam bebas, dan hal tersebut mampu mengembangkan kemampuan intelektual, spiritual, dan karya.

“Saya berharap kompetisi ini bukan hanya sebagai ajang kompetisi intelektual saja tetapi juga ajang silaturahmi antar mahasiswa, ketika muncul tali ikatan kemahasiswaan maka disitulah munculnya sebuah peradaban yang luar biasa”. Tutup nya


Reporter : Dahlia Suryani Siregar

Editor   : Redaksi

28 October 2021

Pelantikan Pengurus Ormawa FEBI IAIN Lhokseumawe Periode 2021 Sukses Digelar

Foto: IST


www.lpmalkalam.com - Lhokseumawe | Telah dilaksanakan pelantikan organisasi mahasiswa (SEMA, DEMA, HMJ, KSES) Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam (FEBI) IAIN Lhokseumawe dengan menerapkan protokol kesehatan.

Acara pelantikan ini dihadiri oleh Dekan, Wakil Dekan I, II, III, Kabag-Kasubbag, Kajur-Sekjur di ruang lingkup FEBI IAIN Lhokseumawe serta turut dihadiri Oleh DEMA-SEMA IAIN Lhokseumawe dan seluruh komisaris unit di jurusan yang ada di lingkungan Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam IAIN Lhokseumawe di aula Fakultas setempat pada selasa, (27/10/2021).

Tema dari pelantikan tersebut ialah “Berbenah Bersama dalam Proses Mengaktualisasikan Profesionalisme Mahasiswa Menuju FEBI Unggul”.

Menurut penjelasan ketua panitia,”Dengan tema ini kami ingin melakukan perbaikan dan berbenah bersama dalam kepengurusan yang sekarang karena sangat banyak kekurangan dan kesalahan yang terjadi pada kepengurusan sebelumnya serta mengingatkan bahwa jabatan yang diemban adalah amanat dari seluruh mahasiswa. Hal tersebut harus menjadi momentum untuk melayani mahasiswa dan mendengarkan aspirasi mereka.”

Sementara itu, acara dilakukan secara tatap muka dengan menerapkan Protokol Kesehatan (ProKes), acara dimulai pada pukul 9.30 – 12.15 WIB, dibuka dengan sambutan dari ketua panitia Rahman Hidayah, sambutan dari DEMA IAIN Lhokseumawe, pembacaan SK oleh kabag TU FEBI IAIN Lhokseumawe bapak Fauzan, pengukuhan oleh Dekan Bapak Dr. Mukhtasar, MA. dilanjutkan dengan serah terima jabatan dan juga memberikan selamat kepada Ketua dan seluruh pengurus terlantik.

Adapun Ketua Ormawa yang dilantik antara lain, Ketua SEMA FEBI Muhammad Abrar, Ketua DEMA FEBI Muhammad Agustami, Ketua HMJ ES Muhammad Fachrurazi, Ketua HMJ AKS Dedi Setiawan, Ketua HMJ PBS Muhammad Alhafiz, dan Ketua KSEI KSES Muhammad Fadhil.

“Saya mengucapkan selamat kepada seluruh ketua ormawa FEBI terpilih semoga menjadi organisasi yang mampu membawa nama baik FEBI IAIN Lhokseumawe dan mampu memberikan yang terbaik di tingkat Internal maupun eksternal menuju FEBI unggul”. Ucap Rahman Hidayah selaku ketua panitia.

Hal serupa disampaikan oleh Ketua DEMA, dalam sambutannya Muhamad Agustami mengatakan Hal penting yang menjadi penentu kemajuan organisasi, kerja keras, kerja ikhlas, dan yakin usaha sampai pada tujuan yang telah kita tetapkan. Karena jika hanya diam atau hanya berbicara tidak akan mengubah apa-apa, yang di butuhkan adalah pergerakan untuk menciptakan perubahan. Mari kedepan kita bangun kembali  organisasi ini dengan karya-karya nyata, berkarya yang lebih baik untuk ormawa FEBI dan untuk kampus kita tercinta, tuturnya.

Berikutnya para ketua mewakili sebagai SEMA-DEMA terpilih menandatangani berita acara serah terima jabatan sebagai bukti yang sah pergantian kepemimpinan.

Acara Pelantikan dan Pengukuhan Jabatan Organisasi Mahasiswa Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam IAIN Lhokseumawe Periode 2021 dipimpin oleh Bapak Dekan Dr. Mukhtasar MA. Selanjutnya ditutup dengan sesi foto bersama.



Sumber : Rilis

Editor   : Redaksi

17 June 2021

Demisioner FUAD Minta ORMAWA Terpilih Tetap Solid


Foto : IST


www.lpmalkalam.com - Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Lhokseumawe adakan Musyawarah Mahasiswa ( MusMa) Secara Daring (Online) pada Kamis (17/06/2021). 


Pendaftaran calon bakal ketua dibuka selama tiga hari, di mulai dari tanggal 14 sampai dengan 16 Juni 2021.


"Selama tanggal yang telah ditetapkan, calon yang mendaftar setiap ormawa hanya satu kandidat. Maka hari ini kami hadirkan seluruh calon ketua ke ruang rapat akademik Fakultas dengan tetap menetapkan ProKes," jelas ketua panitia, Saiful Hidayat.


Meski dilaksanakan secara Daring, panitia juga meminta dua delegasi dari setiap unit untuk menjadi peserta penuh dan peninjau agar ikut berpartisipasi melalui via zoom dalam kegiatan MusMa periode 2021-2022.



"Sehubungan dengan calon ketua yang mendaftar hanya satu kandidat per ormawa, maka pemilihan tersebut dapat disahkan secara aklamasi serta kesepakatan forum," tambahnya.


Ia juga berharap semoga kedepannya Ormawa yang terpilih semakin kompak sebagaimana ruang lingkup ormawa FUAD dan semoga bisa membawa perubahan kedepannya.


Adapun pasangan yang terpilih ialah Ali Muhajir dan Saiful Hidayat sebagai ketua dan wakil SEMA FUAD, Muhammad Ihsan dan Arham Bunayya sebagai Ketua dan Wakil Ketua Dema FUAD, Yolanda Hariva dan Azhar Fachri Iskandar sebagai Ketua dan Wakil Ketua HMJ KPI, Muhammad Hafiz dan Muhammad Boyhaqi sebagai Ketua dan Wakil Ketua  HMJ BKI, serta Fachrurrazi dan Muhammad Gema Istiqlal sebagai Ketua dan Wakil Ketua HMJ IAT. 


Dinda Maghfirah selaku ketua DEMA-F Demisioner 2020/2021  mengatakan hampir seluruh ormawa ikut berpartisipasi dan hadir dalam acara MusMa dan alhamdulillah  berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apapun. 


"Saya berharap kedepannya Ormawa yang terpilih dapat mengemban amanah dan tanggung jawab dengan sepenuhnya sebagaimana yang telah ditetapkan dan diharuskan," lanjutnya.


 Muhammad Ihsan selaku ketua DEMA-F terpilih periode 2021/2022 berharap semoga nantinya dapat membawa DEMA kearah yang baru dan dapat menyongsong kedepan yang lebih baik serta unggul dalam bidang pengkaderan dan  intelektual secara akademik dan menerapkan program kerja dalam skala jangka panjang dan jangka pendek.

 

"Seperti membentuk karakter dengan membuat Training Dasar Organisasi (TDO). Membuat kegiatan seperti Lawyer Club sehingga nantinya hadir kader-kader yang penuh dengan argumen dan statement yang luar biasa, dan semoga kedepannya IAIN Lhokseumawe dapat menjadi tuan rumah dalam kegiatan Kongres," ucapnya.


Ramazana juga berharap kedepannya bisa mengembangkan potensi mahasiswa lebih progresif, aktif dan lebih kritis. Mengembangkan pola mahasiswa keruang diskusi yang lebih interaktif dengan mahasiswa serta nantinya ormawa yang telah terpilih terus membangun integritas antar Ormawa di Fakultas sehingga tetap dalam satu ikatan dan satu tujuan." Tutup Ketua DEMA-F Demisioner 2019.


Reporter || Putri Zuhra Furna

Editor || Redaksi

28 February 2021

Pentingnya Mahasiswa Berorganisasi




Foto : IST



Organisasi adalah suatu wadah untuk tempat berkumpul, bertukar pikiran dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Terdapat banyak organisasi di lingkungan kampus maupun masyarakat. Namun kurangnya kesadaran mahasiswa dalam berorganisasi menyebabkan minimnya minat untuk bergabung di organisasi. Kebanyakan mahasiswa menjadi Kupu-Kupu (Kuliah-pulang Kuliah- pulang) atau Kunang-Kunang (Kuliah nangkring- Kuliah nangkring). Tak banyak yang pandai menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat seperti berorganisasi. 


Sebagian besar mahasiswa sekarang hanya datang ke kampus untuk sekadar mendengarkan materi yang diberikan dosen kemudian pulang dan duduktduduk dengan teman-teman nya.  Ketika sebuah pertanyaan, mengapa tidak berorganisasi? Jawaban mereka ratrtBerorga sama. Mau fokus kuliah, tidak sempat, tidak bisa bagi waktu, takut karena suka demo-demo, dan lain sebagainya. Sebagai mahasiswa yang dikatakan bagian dari kaum intelektual seharusnya bisa menghabiskan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat. Tidak hanya kuliah, pulang, atau sekadar hangout bareng teman. Hal itu hanya menghabiskan waktu dan menghabiskan uang tentunya. 


Berorganisasi juga bukan karna ikut-ikutan saja. Kesadaran berorganisasi membawa banyak manfaat yang bisa diperoleh. Seperti memperluas pergaulan, dapat meningkatkan wawasan (pengetahuan), meningkatkan kemampuan komunikasi, melatih kepemimpinan (leadership), memperluas jaringan, belajar mengatur waktu, membentuk pola pikir yang baik, dan banyak manfaat lainnya yang kita dapatkan. Di era globalisasi seperti sekarang ini, untuk memperoleh pekerjaan tak cukup hanya dengan mengandalkan gelar dan ijazah serta IPK tinggi. Setiap tahun semua Universitas, baik negeri maupun swasta banyak meluluskan wisudawan/ti terbaiknya. Untuk itu kita dituntut untuk mampu bersaing sebagaimana tuntutan zaman. Tidak pula cukup dengan hanya mengandalkan hard skills melainkan juga mempunyai soft skills yang akan menjadi perbedaan dengan yang lainnya. 


Berorganisasi, kita juga dapat menemukan jati diri. Sebagaimana menjadi mahasiswa intelektual, tidak hanya duduk mendengarkan teman mempresentasikan makalahnya atau duduk mendengar dosen berbicara. Kita bisa mengenal dunia kampus lebih luas. Dalam berorganisasi kita dilatih akan hal kepemimpinan, Karena pada dasarnya setiap diri adalah pemimpin terutama pemimpin untuk diri sendiri. Yang tadinya tidak bisa atau gugup ketika berbicara didepan orang banyak, maka di organisasi inilah dilatih. Kita juga dapat menjadi mahasiswa yang kritis terhadap sesuatu, sebagai mahasiswa yang intelektual kita harus kreatif dan inovatif. Berbeda dengan orang-orang yang tidak pernah berorganisasi, mereka pasti malu untuk berbicara didepan orang banyak bahkan untuk sekadar memberikan pendapat di dalam diskusi. Berorganisasi sangat banyak memberikan manfaat, kita bisa mendapatkan teman yang banyak, dari yang tidak kenal menjadi kenal, berteman tidak hanya dari satu kelas atau jurusan saja , tapi juga mempunyai teman dari berbagai jurusan, fakultas bahkan universitas yang berbeda. Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu atau kunang-kunang, bahkan jadi batu. Kita juga harus memberikan dampak positif untuk diri kita sendiri dan orang lain. 


berorganisasi kita juga harus pandai memilih dan memilah organisasi yang cocok dengan kita. Memang pada dasarnya semua organisasi itu baik , yang tidak baik adalah ketika orang tersebut malah menyalahgunakannya sehingga dapat merugikan dirinya dan orang-orang dalam organisasi tersebut. Ketika kita masuk disebuah organisasi kita juga harus menunaikan hak dan kewajiban kita, harus sadar akan fungsi dan peranan kita didalam sebuah organisasi. Jangan hanya datang ketika dipanggil saja. Bahkan kadang menghilang begitu saja setelah mendapat apa yang diinginkan di organisasi tersebut. Mahasiswa yang berorganisasi juga harus bisa menyeimbangkan antara organisasi dengan akademiknya. 


Terkadang ada orang yang tidak bisa menyeimbangkan, maka akademiknya akan terganggu. Namun bukan organisasinya yang salah melainkan orangnya yang tidak bisa membagi waktu antara organisasi dengan akademik. Maka dari itu, marilah berorganisasi, apapun itu organisasinya, yang terpenting apa tujuan kita untuk mengembangkan persyarikatan dalam Berorganisasi dengan baik. Dan Manfaatkan waktu dengan berorganisasi guna mencari jati diri.


 Penulis : Rizki Maulizar, Kabid Keagamaan HMJ KPI IAIN Lhokseumawe 


 Editor : Redaksi

02 January 2021

Tetesan Keringat Pengrajin Tembikar

 Tetesan Keringat Pengrajin Tembikar

Oleh: Rita Suryani

www.lpmalkalam.com


Foto : hahehozonk.blogspot.com

Tembikar merupakan benda unik berbahan dasar tanah liat dari sawah serta sekam bakar pabrik padi. Perkembangan zaman membuat tembikar tak lagi menjadi primadona. Memproduksi tembikar memang bukan hal mudah, membutuhkan tenaga yang besar, waktu yang lama, kesabaran yang kokoh, serta ketelitian dalam mengolahnya hingga menjadi sebuah benda yang unik. Keletihan melestarikan tembikar berdampak pada Desa Me, Kecamatan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara. Dulunya sebagian besar penduduk desa itu berprofesi sebagai pengrajin tembikar.

Mengingat tahapan pembuatannya yang membutuhkan tenaga serta waktu yang lama, membuat produksi tembikar hampir punah dan hanya tersisa dua orang di desa tersebut. Prosesnya membutuhkan waktu yang lama, mulai dari persiapan bahan, pembentukan, penjemuran, pembakaran hingga penyempurnaan. Sebagian pot cukup pada tahap pembakaran, vas dan celengan dapat dihiasi dengan aksesori dan pewarnaaan yang memikat mata pembelinya. Proses tahapan pembuatannya tergantung pada bentuk dan kegunaan tembikar tersebut.

Salah satunya Nur Hafifah yang kerap disapa Kak Fah merupakan salah satu yang bertahan dari sekian banyak pengrajin tembikar di Desa Me. Pekerjaan itu telah ia geluti selama puluhan tahun. Rumah produksi itu hanya membuat pot, vas, dan celengan saja, Mentari terbit dari arah timur menemani wanita pengrajin tembikar itu mengerjakan tugasnya. Proses persiapan tanah liat dengan sekam bakar dicampur secara merata, dan proses pembentukan yang sangat membutuhkan keahlian dalam membuatnya.

Potret lokasi pembentukan beralaskan tanah dan atap seadanya yang dibuat agar tetesan hujan tidak melintasi pot yang sedang diukir rapi. Kak Fah yang duduk di bangku kayu kecil memfokuskan kedua bola matanya kepada tembikar yang sedang dibuat. Tanah yang sudah ulet diletakkan di atas alat putar agar terkesan mudah dibentuk. Tanah itu berputar seiring berputarnya bidang lingkaran di bawahnya. Sinar mentari mulai terlihat dari celah-celah dedaunan, Kak Fah masih menyelesaikan pot bunga yang hampir menyerupai pot di sampingnya. Tangan dan kaki yang berlumuran tanah harus ia jalani untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Banyaknya pot yang dihasilkan tergantung pada ukuran dan bentuk pot, biasanya menghabiskan waktu satu hari sampai 3 hari dalam proses pembentukan. Harganya juga bervariasi mulai dari lima ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Wanita kelahiran 1971 itu, menjadikan tembikar sebagai mata pencahariannya. “Dulu hampir setengah penduduk di desa itu berprofesi sebagai pengrajin tembikar. Membutuhkan kesabaran serta waktu yang lama membuat masyarakat tidak lagi memproduksi pot tanah liat itu. Dari sekian banyak pengrajin tembikar, hanya saya dan tetangga saya di sebelah yang masih membuatnya. Kami belajar membuat tembikar dari pelatihan yang diadakan oleh pihak industri, pengajarnya langsung didatangkan dari Bandung. Proses belajarnya selama bertahun-tahun baru menghasilkan sebuah karya,” jelasnya.

Sang penerang siang mulai mengeluarkan aura panasnya hingga ke penjuru bumi desa itu. Langit cerah pertanda surya berpihak kepada seniman wanita itu untuk melakukan pembakaran di halaman rumah. Persiapan alat dan proses pembakaran dibantu oleh suami dan anaknya. Pembakaran itu bertujuan untuk mempertahankan ketahanan pot dan terkesan berwarna. Panasnya surya mengerjap dalam pori, membakar kulit yang sudah keriput dan kusam. Keringat di wajahnya melintasi pipi yang terbakar uap sijago merah, bagaikan dedaunan yang disapa tetesan hujan.

Sengatan matahari tidak mampu membakar semangatnya yang berkobar. Pot dan bahan bakarnya disusun rapi secara teliti supaya tidak berjatuhan dan uap panas meresap secara sempurna. Hembusan angin membuat asap tidak lagi serempak dalam gepulannya. Menaburkan aromanya ke pakaian dan kulit yang terpapar sinar surya. Suara letusan pot menandingi hembusan angin, letusan itu sebagai pertanda bahwa ada pot yang pecah karena tanah liat dengan sekam bakar tidak tercampur secara merata.

Pot yang retak sebelum proses pembakaran dapat dibentuk kembali, sedangkan pot yang pecah setelah pembakaran tidak dapat diolah lagi seperti semula. Kepungan asap membuat bola mata pengrajin pot tanah liat itu berkaca kaca. Menembus rongga pernafasan yang membuatnya harus menjauh dari serangan asap. Tetapi, ia harus tetap mengawasi supaya jilatan api tidak menguasai pot. Hal itu dilakukan supaya pot berwarna merah bata seperti yang diminati oleh kebanyakan pelanggan.

“Penjualan pot ada yang dipesan ada yang dibuat langsung tanpa dipesan. Banyak dari pelanggan yang menyukai pot warna merah bata, dan ada juga yang suka warna hitam, tetapi jarang. Padahal warna hitam lebih tahan lama,” ujar wanita kelahiran Me Matang Panyang tersebut. Ketika sijago merah mulai menguasai pot dan mengalahkan kepungan asap, Kak Fah dan suaminya mencoba memisahkan pot yang sudah berwarna merah bata dengan mengambil satu persatu menggunakan kayu ukuran panjang. Mengumpulkan dan merapikan pot yang sudah dingin dengan tenaga yang tersisa.

Editor : Redaksi


Alternatif Pembiayaan Terhadap Ketahanan Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM ) sebagai Penggerak Ekonomi melalui Permodalan Nasional Madani ( PNM ) di Aceh


Foto/ilustrasi : Timlo.net

www.lpmalkalam.com- Penulis: Mardiana

Penggerakak suatu Ekonomi daerah tidak terlepas dari sector UMKM ( Usaha Mikro Kecil dan Menengah ) untuk bisa membuat suatu daerah sejahterah. Lajunya pertumbuhan Ekonomi di bidang UMKM tersebut, menciptakan suatu persaingan Bisnis yang sangat ketat. UMKM yang dulunya hanya berfokus kepada produksi, sekarang tingkah kefokusannya harus lebih di tingkahkan lagi seperti di bagian pemasaran produk atau jasa. Dan kelebihan dari sector UMKM adalah, dapat membuka peluang kepada tenaga kerja dan berkontribusi menjadi penggerak Ekonomi daerah maupun Ekonomi negara.

Dari factor – factor di atas, ada satu factor yang cukup penting yang harus diperhatikan yaitu masalah pengaksesan modal. UMKM seringkali kesulitan untuk memperoleh modal untuk usahanya. Lembaga keuangan perbankan yang menjadi tumpuan utama dalam memperoleh pendanaan memiliki persyaratan yang cukup ketak yang tidak semua UMKM dapat memenuhi persyaratan tersebut, misalnya yang paling utama adalah ketersediaan agunan ataupun persyaratan untuk membuka rekening di bank dengan uang sejumlah tertentu yang nantinya menjadi sebuah jaminan cash. Apabila kita melihat dari sisi UMKM kita dapat mengerti kondisi mereka dimana mungkin mereka beranggapan bahwa “ kita baru mau mulai usaha dan membutuhkan modal, tetapi harus menyediakan uang dan jaminan”. Namun, apabila kita melihat dari sisi perbankan, kita juga mengerti bahwa perbankan harus menerapkan persyaratan 5 C4 dan prinsip kehati-hatian ( prudent banking ) dalam menyalurkan kredit. Kalau tidak, malah bank tersebut akan di kenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu kita harus mencari solusi, untuk membantu UMKM. 

UMKM adalah suatu lembaga yang sangat berpengaruh kepada kesejahteraah ekonomi masyarakat. Selain menjadi salah satu  peluang bagi tenaga kerja, UMKM juga menjadi salah satu pendorong berkembangannya ekonomi suatu daerah. Dengan banyaknya kendala terhadap Modal yang di hadapi oleh masyarakat dalam menjalankan UMKM  di Aceh.  Salah satu solusi yang harus di lakukan adalah, mengambil jalan alternatif pembiayaan terhadap ketahanan usaha mikro kecil dan menengah ( UMKM) sebagai penggerak ekonomi melalui permodalan nasional madani ( PNM ) di Aceh. Hal ini di maksudkan untuk berjalannya sector bidang UMKM tanpa kendala dengan Modal. Sehingga dengan adanya  permodalan nasional madani ( PNM ) , dapat meningkatkan produktivitas, serta menghapus pengangguran dan kemiskinan di daerah Aceh khususnya.

Dan pada saat ini, pemerintah terlibat langsung dengan sector UMKM, melalui berbagai macam program pengembangan atau pembinaan. Usaha-usaha yang telah dilakukan pemerintah ada yang melalui formal dan non formal. Kalau secara resmi yaitu melalui jalur formal yaitu melalui departemen ataupun dinas, maupun non formal yaitu melalui lembaga swadaya Masyarakat ( LSM ).  Permasalahan dengan kendala UMKM terhadap modal usaha. Ini adalah suatu masalah yang sangat besar bagi sector UMKM.

Dengan melihat permasalahan yang terjadi di kalangan UMKM ini, maka kita harus mengambil solusi  Alternatif  Pembiayaan Terhadap Ketahanan Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM ) sebagai Penggerak Ekonomi melalui Permodalan Nasional Madani ( PNM ) di Aceh. Dengan menjalankan salah satu alternatif ini maka permasalahan yang di hadapi oleh UMKM bisa terselesaikan. Apalagi di PNM bukan hanya di bantu lewat modal saja tapi juga di damping seperti pembenahan manajemen, peningkatan kualitan sumber manusianya dan sampai ke promosi produknya. Sehingga UMKM berjalan seperti semestinya. 

Pengembangan pembiayaan yang sangat alternatif ini juga harus di control untuk menjaga keseimbangannya, antara lain sebagai berikut: (1) membuat buku catatan pengeluaran. Di awal tahap memulai usaha. (2) siapkan buku catatan pemasukan usaha. (3) buatkan buku kas utama. (4) persiapkan buku khusus buku stok barang. (5) buat buku inventaris barang.(6) persiapkan buku laba rugi.

Sistem dan pola pembiayaan serta pendampingan perempuan-perempuan dari keluarga prasejahtera yang di berlakukan PNM pada program Mekaar, terbukti mampu mendidik mereka agar lepas dari kemiskinan. Para nasabah itu senantiasa diajak untuk melatih kedisplinan dalam mengelola pinjaman modal yang telah didapatkan. Dana yang didapatkan nasabah, tidak boleh di gunakan untuk konsumtif, harus digunakan untuk usaha. Tak sebatas memberi pinjaman lunak, PNM juga melatih mereka dalam mengembangkan usaha sehingga hasilnya dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Selain PNM, belum ada pihak manapun yang menyelenggarankan program serupa.

Menurut saya Kelebihan  pembiayaan dari alternatif PNM bagi UMKM adalah :

a. Permodalan nasional madani (PNM ) mengunakan sistem syariah

b. Kebebasan membuat kontrak berdasarkan kesepakatan bersama ( tijaratan’an taradhin minkum ) dan kewajiban memenuhi akad (aqd)

c. Adanya pelarangan dan penghindaran terhadap riba ( bunga ), maysir ( judi), dan gharar ( ketidakjelasan)

d. Adanya etika ( akhlak ) dalam melakukan transaksi

e. Dokumentasi ( perjanjian/ akad tertulis ) untuk transaksi tidak tunai

f. Di sini buka saja di beri pembiayaan modal tapi juga di dampingi langsung oleh mereka terhadap UMKM.

g. Menjadikan UMKM perusahaan yang sukses.



Bisa jadi UMKM adalah sebagai salah satu solusi di dalam memperbaiki pertumbuhan ekonomi daerah Aceh. Yang telah mampu menghapus mengurangi tingkat penggangguran dan kemiskinan. Data Kementerian Negara Koperasi dan UMKM menyebutkan sector UMKM di Indonesia menyerap 97 persen tenaga kerja dan kontribusinya bagi produk domestic bruto mencapai 55,56. Namun meskipun begitu, hambatan dan kendala tetap terjadi. 

Diantaranya seperti kurangnya keahlian di dalam mengelola dana secara professional, kesulitan di dalam melawan persaingan yang sangat ketat, hingga di dalam konsisten di dalam satu usaha. Oleh Karena itu solusi yang sangat ampuh adalah dengan mengambil langkah yang Alternatif Pembiayaan Terhadap Ketahanan Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM ) sebagai Penggerak Ekonomi melalui Permodalan Nasional Madani ( PNM ) di Aceh. Di ambilnya keputusan seperti ini, dengan tujuan dapat meningkatkan ekonomi Negara maupun ekonomi daerah.


Editor              : Redaksi 








08 March 2020

Bertuhan, menebarkan misi ketauhidan atau kemurtadan?

Ilustrator.Net
Penulis: Maulana
www.lpmalkalam.com-Mereka terus saja berpikir bahwa menerima doktrinisasi sesuatu dengan sebuah kesungguhan akan dipertahankan sampai titik darah penghabisan

Membacalah agar apa yang tergiang dan terbayangkan segera terpuaskan dengan pengetahuan yang telah dan sudah ditemukan, hal ini buah dari kajian dan perenungan yang kian memuncak dan memundak

Mengkaji jalan kiri dan mengambil pintasan kanan adalah sistematika dan proses biasa yang dilalu oleh seseorang yang punya prinsip berkehidupan, bahwa barat adalah kebayakan salah dan kalah tentunya perihal ini adalah kesimpulan dari buah otak/pikir masing-masing individu, sebaliknya menjustifikasi timur dengan kebenaran dan kereaslistisan adalah sebuah kemandekan yang sudah menjadi kebiasaan orang-orang yang apatistik dan agnotisistik dengan mengedepankan pro terhadap sepihak dan keyakinan yang sudah berakar sedari dahulu ketika pertama melihat cerah dan indahnya dunia yang dipenuhi estetika dan dinamika

Beragama seharusnya menjadi landasan awal dalam melangkah dan menapaki kerasnya kehidupan. Agama tidak mengajarkan kekerasan dan penjustifikasian sekalipun terhadap yang berbeda pemahaman dan haluan, bukan agamanya yang salah justru orang yang menganut agama yang terlanjur mengembangkan propaganda petaka yang pada akhirnya tersematlah gelar bahwa agama musuh terbesar semua manusia

Patut dipertanyakan kepada penganut agama yang setia mengikuti dan mengimaninya ''Kenapa sebagian orang yang beragama tidak lantas menjadikan agama sebagai wadah untuk menebarkan kedamaian dan toleransi yang indah dan ramah?''

Nah, dizaman yang edan ini yang dibutuhkan adalah para pemikir dan pemuka agama yang progresif, artinya mereka yang mengedepankan jalan pikirannya tidak untuk menyudutkan pihak yang salah karena lantas dia benar ataupun sebaliknya membenarkan yang salah dengan cara yang anarkis dan repsesif

Indonesia khususnya dan umumnya dunia yang memiliki budaya dan tradisi beragama yang kuat dan benar pasti berkenan dan ingin untuk memiliki generasi yang progresif positif dan kritis namun lurus dan mulus, mereka yang percaya sains tidak membenci agama dan mereka yang mengimani agama namun tidak mencaci sains

Banyak orang ketika mendapakan pendapat dan argumentasi yang sedikit paradoks dengannya lantas langsung mencoba mempertanyakan isi pikiran dan pusaran teks tersebut, terkadang juga sampai kepada mengeluarkan perkataaan yang melewati norma sosial dan dalil agama karena tak sesuai dengan ekspekstasi dan pemahaman yang dianutnya

Pernah satu ketika saya menulis di sosial media tentang pemikiran tokoh yang berbeda agama dengan islam, seorang mengingatkan bahwa "Baca saja bukunya asalkan jangan salah meletakkannya, karena pemikiran orang yang tidak begama islam bebas!", ada benarnya memang, tetapi apa salahnya jika membaca hanya sebatas untuk menambahkan pengetahuan dalam artian memperkaya wawasan dan sebagai pendukung referensi terhadap diri sendiri dan kiranya kepada siapa saja yang membutuhkan

Proses mendapatkan ilmu pemgetahuan (epistemologi) menurut filsafat ada beberapa cara, salah satunya adalah dengan membaca, membaca apapun dan dimanapun agar gelepnya pikiran tergantikan dengan cahanya (Nur) kepengetahuanan dan pencerahan yang terluruskan

Membaca dan menelusuri sampai kepada tahap meneliti adalah langkah efektif yang perlu di galakkkan oleh pemikir dan generasi islam yang progreaif dan optimis, perihalnya ketika mengkaji pemikiran tokoh yang sekuler, liberal, sosialis, kapitalis, dan marxisme tidak serta-merta menjadikan satu pemahaman yang harus dan wajib diyakini seketika itu juga tentunya

Setiap orang ada filterisasi yang dianugerahkan oleh tuhan untuk membedakan dan mengkomprasikan benar dan salah terhadap kevaliditasannya sebuah pengetahuan yang didapatkan, membaca yang setengan-setengah itulah yang memilukan dan menyesatkan.

Penulis merupakan mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam, Anggota aktif di  Lembaga Pers Mahasiswa Al-kalam IAIN Lhokseumawe.

04 March 2020

Indonesia Negara Bertuhankan Keberagaman

Ilustrator.Net
Penulis: Hasanun Basri

Agama adalah sebuah kewajiban dan harus dimiliki, terlepas dari doktrin apa yang ditawarkan dan disuguhkan. Agama adalah jalan panjang yang menjurusi dan menunjuki kepada kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan hidup. Religiusitas-historisnya akan menghubungkan manusia dengan tatanan peraturan perintah-larangan dan rambu-rambu dari kehidupan.

Setiap wajah agama memiliki narasi, simbol, dan sejarah suci berdasarkan fakta historis-filosofis bermaksud untuk menjelaskan makna hidup yang sesuai antropologi manusia dan kosmologi semesta, disamping itu agama juga sebagai pondasi dalam menentukan arah pijakan dalam berkehidupan kemana kita harus melangkah dan memerintah.

Setiap keyakinan atau kepercayaan yang diimani oleh masing-masing umat beragama pastinya manusia memiliki moralitas, etika hukum, gaya hidup yang tidak kalah penting juga. Meskipun di beberapa negara manusia tidak beragama, karena ada keraguan yang berlebihan terhadap kepercayaannya dan trauma masa lalu yang kian menghalusinasi setiap kerangka berpikirnya.

Berbalik dengan indonesia, di negara ini beragama adalah suatu kewajiban yang sudah tercantum dalam dasar hukum negara dan ini adalah amanat pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara yang harus ditaati dan diikuti bersama.

Agama dan keyakinan merupakan objek yang tidak bisa dipisahkan ibarat dua mata koin, karena keduanya tidak muncul dari alasan yang sama. Agama muncul sebagai aturan bagi umat manusia dengan beberapa media sebagai “Alat” pengaturnya, salah satunya Kitab Suci dan keyakinan muncul sebagai suatu sikap alamiah manusia dalam mempercayai sesuatu.

Dalam kehidupan bernegara kita sudah tentu memiliki bermacam-macam agama, suku, adat, ras, dan agama, karenanya tidak menutup kemungkinan kita akan menjalin hubungan dengan seseorang ataupun sekelompok orang yang berbeda dengan persepsi dan pemahaman terkhusus dalam keyakinan dan keimanan.

Sudah sepatutnya menggalakkan budaya toleransi antar agama agar kiranya dapat terwujud kerukunan dalam menghamba kepada doktrin yang telah ada. Toleransi adalah sebuah bentuk sikap dari adanya persinggungan hak individu dalam masyarakat atau hak masyarakat dalam negara, sehingga pada akhir-akhir ini memang banyak orang memberi makna toleransi yang rancu dan kaku terhadap agama sehingga membuat masyarakat tidak paham harus darimana dan bagaimana cara memulainya.

Toleransi bukanlah menyemarakan seluruh agama yang ada, melainkan dengan patuh terhadap agama sendiri dan selalu menghormati keyakinan orang lain. Meskipun kita mengetahui agama yang kita yakini adalah yang benar, setidaknya biarlah mereka tetap pada keyakinan masing-masing.

Berbicara islam, bahwa kehadiran islam sebagai rahmatal lil’alamin yang sangat menganjurkan agar umatnya hidup kultur qanaah dan tasamuh baik sesama muslim maupun terhadap agama yang berseberangan dengannya, agar tercipta kehidupan yang damai, rukun dan tentram. Islam sangat mengajarkan agar umatnya hidup saling memenuhi atau memperhatikan hak orang lain.

Pandangan islam yang demikian sangat logis, mengingat keesaan tuhan merupakan suatu keyakinan dasar bagi ahli kitab.

Telah banyak pernyataan Al-quran yang menjelaskan landasan utama dalam beragama, islam khususnya. lalu dapat megambil satu konklusi bahwa etika islam dalam hal hubungan antar agama sudah sangat sesuai tata norma dan tata nilai agama.

Perbedaan agama tidak perlu diperdebabatkan mengapa ada agama Kristen, Budha, Hindu, Islam serta berbagai suku dimuka bumi ini, karena hal itu merupakan ketentuan Allah SWT yang telah di tetapkan.

Pernyataan ini mengutip firman Allah dalam Al-quran pada surah Al-Maidah Ayat ke 48 yang berbunyi, “ Kapan allah mengkehendaki niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah handak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu maka berloma-lombalah berbuat kebajikan.

Maka atas dasar itulah, jangan sekali-kali menghina satu sama lain meskipun keyakinan dan agama berbeda, tumbuhkanlah sikap toleransi sesama manusia dibenak jiwa kita karena dengan ini kita akan hidup.

Penulis adalah mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, anggota aktif di LPM Al-Kalam IAIN Lhokseumawe.

23 January 2020

Paradigma Kritis dan Kebebasan Mahasiswa

Ilustrator.Net
Penulis: Maulana
www.lpmalkalam.com-Semestinya kampus menjadi ladang yang subur untuk menaburi benih pikiran kritis para mahasiswa. Sebagai mahasiswa yang mengemban tugas dan tanggungjawab besar dan berat, dari semua proses yang dilalui oleh seorang mahasiswa menyebabkan expert dibidangnya.

Kini, setiap harinya kita dijajaki oleh berbagai pikiran yang tidak menghujung apalagi berpangkal kuat. Berkembangnya sarang feodalisme dan keotoriteran dilingkungan kampus telah menyebabkan pikiran mahasiswa seakan terkekang dan terkukung dalam kotak kosong tak berisi. Kekangan itu telah mematikan rasa dalam menyungguhkan pikiran kritis mahasiswa itu sendiri yang entah-berantah berlangsung sampai pada saat ini.

Disebabkan terbatasnya pemahaman para petinggi dan penguasa terhadap kemerdekaan dan kebebasan yang universal, peristiwa yang semacam ini menjadi salah satu isu terhebat sekaligus terburuk yang pernah ada. Miris, sebagian mereka salah dalam memahami dan memaknai kebebasan di dunia kampus.

Pergolakan pemikiran tersebut menjadi perihal yang sudah biasa terjadi dalam berbagai lini diskusi, tapi pikiran yang tidak berputar dan berjalan yang sekiranya perlu dihidupkan kembali, supaya tingkatan pemahaman terhadap kebebasan sampai kepada universalitas.

Lalu, timbul satu pertanyaan mendasar yang harus kita jawab bersama "Bukankah kampus merupakan salah satu miniatur dunia yang mempu melahirkan insan akdemis di dunia pendidikan, insan pencipta dalam mengkreasikan sebuah karya yang ada, dan insan pengabdi terhadap agama dan negeri ini?"

Zaman sekarang ini, sistem sedemikian otoriter telah menghantarkan mahasiswa kepada pintu bermalas-malasan dan apatis dalam bertindak dan bersikap terhadap ketimpangan yang terjadi di tengah-tengah ummat. Sedang mereka para mahasiswa yang terkena imbasnya berbisik "Untuk apa saya bersikap, toh pada akhirnya tindakan dan sikap yang terapkan sekalipun itu benar akan terlihat salah dimata mereka para pejabat."

Paradigma pola pikir kebanyakan mahasiswa telah berubah drastis disebakan buntunya pembelajaran yang didapatkan di ruang kelas sebagian perguruan tinggi, takut kepada dosen adalah hal yang wajar, mungkin saja sebagai rasa hormat kepada yang tua dan lebih berilmu, ditambah dengan menghormati dan menghargai ataukah simbolisasi mistik yang menyimpan misteri penyebahan belaka yang kalau berjumpa dengan para penguasa seakan menghamba sepanjang masa.

Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Lhokseumawe.

16 January 2020

Kebenaran dalam Perspektif Media Sosial di Era Globalisasi

Foto: Maulana/ lpmalkalam

www.lpmalkalam.com- Derasnya arus globalisasi menjadikan manusia mudah untuk melakukan tindakan apapun atas dasar kebebasan berekspresi. Meskipun memiliki dampak positif yang besar namun dibarengi juga dampak negatif yang tidak kalah besarnya.

Banyaknya pengguna media sosial, tidak berarti menunjukkan bahwa negara tersebut semakin maju. Justru yang terjadi sebaliknya, karena mereka lebih asyik menjadikan media sosialnya untuk berbangga diri dan menyiarkan berita-berita hoax serta menyebabkan provokasi yang berunsur SARA, politik, maupun perseorangan.

Segala macam aktivitas di Internet tersebut dapat disalahgunakan atau mengandung resiko mengenai kemanannya. Hal yang harus kita ingat pada saat ini adalah media sosial juga merupakan suatu alat yang sebenarnya diperuntukkan bagi manusia untuk mendukung kebutuhan sehari-hari.

Ibarat sebuah pisau, baik atau buruknya kegunaan pisau itu bergantung kepada siapa yang menggunakannya. Baik ketika orang tersebut menggunakannya untuk memasak, mengupas buah, memotong buah, dan lain sebagainya. Tetapi menjadi buruk ketika pisau itu digunakan untuk melukai seseorang. Nah, sama seperti pisau, begitu jugalah media sosial di tangan manusia.

Media sosial dapat menjadi sesuatu yang baik ketika orang bijak menggunakannya. Contohnya, menyebarkan kalimat-kalimat motivasi yang membangun spirit orang lain di sekitarnya. Namun nyatanya, hal seperti apakah yang lebih banyak kita jumpai di media sosial?

Berdasarkan beberapa potensi yang dimiliki media, seyogyanya kita memanfaatkan media secara bijak untuk kepentingan positif. Hendaknya media tidak menjadi alat provokasi, memecah kesatuan, menanamkan kebencian, atau sekadar menjadi corong kepentingan pihak-pihak oportunis.

Media harus digunakan semata kepentingan yang mengarah kepada perubahan baik dan memberikan kebaikan kepada pembaca dan masyarakat umum.

Jangan sampai terprovokasi isu murahan, Mari cerdas dan selektif dengan berbagai isu.

Reporter | Maulana
Editor      : Redaksi

04 September 2019

Aceh Melawan Narkoba

Oleh: Fahrul Razi


Gaya hidup masyarakat Aceh yang semakin plural menghadapkan masyarakat pada suatu titik pergeseran budaya, narkoba yang serharusnya menjadi musuh bersama masyarakat Aceh bagi kaum muda, akan tetapi banyak pemuda  masih suka coba- coba bahkan tegiur dengan bisnis peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika tersebut.

Bukan hal yang asing lagi bagi kita tatkala mendengar kata narkoba, narkoba sebutan dari narkotika atau NAPZA (Narkotika, Piskotropika dan Zat adektif Lainnya),  kini menjadi ancaman yang nyata bagi masyarakat Aceh, kurun waktu 2 tahun terakhir Narkoba semakin menghantui masyarakat Aceh dengan penyebaran yang hampir merata di seluruh wilayah provinsi Aceh. Berdasarkan data BNN terdapat 73. 201 jiwa pecandu narkoba dari total 5,2 juta jiwa, artinya 1,3% masyarakat aceh yang terkontaminasi narkoba.

Pada tahun 2018 Polda Aceh  mecatat 1.600  kasus narkotika yang ditangani polda Aceh dan 2.213 tersangka diamankan yang terdiri 2.143 laki-laki dan 56 diantaranya perempuan, dengan barang bukti 52.947 kg ganja, 58.646 gram sabu – sabu, 5.685 butir ekstasi, dan 86 botol minumal keras selain itu polda aceh juga mengungkap 20,5 Ha yang menepati 73.590 batang ganja.

sampai Mei 2019 seperti yang dilansirkan detik.com pada tanggal 18/05/2019 telah di tangkap 173 tersangka terdiri 157 tersangka sabu-sabu dan 16 tersangka narkoba jenis ganja, dengan total 108 kasus dalam wilayah banda aceh, belum lagi wilayah Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur.

Bukan hanya itu, pada tahun 2018 Polda Aceh  mencatat 1.600 yang ditangani polda Aceh dan 2.213 tersangka diamankan yang terdiri 2.143 laki-laki dan 56 perempuan.  Polda Aceh telah meberhentikan pada tahun 2018 telah meberhentikan 17 personelnya terkait narkoba, dari data yang kami uraikan di atas maka jelas aceh harus memiliki srategis khusus untuk pemberasan Narkoba di provinsi Aceh.

Strategi Pemberatasan Narkoba
Aceh daerah dalam Wilayah Negara Kesatuan Indonesia, memiliki karaktetersendiri, kratelistik itu menjadi entitas masyarakat aceh,  dalam semua masalah,  Aceh punya cara yang berbada untuk penyelesaiannya, termasuk narkoba. Penerapan strategi khusus untuk Aceh akan bebas dari peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika.  jika marujuk pada defenisi strategi dapat artikan sebagai alat yang digunakan untuk mendapat tujuan (H.S. Gedion:2015),secara fundamental pemberatasan peredaran gelap dan penyalahan narkotika dapat berjalan dengan mulus. Jika pengunaan strategi mampu memangkas waktu dan dapat diukur tingkat keberhasilan. Strategi yang konkrit akan menghasikan taktik yang terbaik dengan rencana aksi yang langsung menyentuh pada akar permasalahan.

Maka Srategi yang ditawarkan dengan pola pemutusan mata rantai distribusi dan penyadaran pasar (konsumen) dengan pendekatan spiritual, pola pendekatan spiritual lebih mudah menyentuh hati para pengedar bahkan penguna, untuk menjahui dari dari barang haram narkotika,  pendekatan ini diyakini mampu membernatas narkoba di bumi serambi mekkah, dalam penerapannya harus dengan pola kampanye yang secara masif dan tersruktur, kampanye yang masif dan terstruktur telah membebaskan china dari perang candu. lalu sejauh mana pola ini akan efektif?. Pendekatan ini harus dilakukan secara kesatuan tanpa menhilangkan satu komponen. Penegakan hukum semata tidak akan dapat memutuskan rantai peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika di Aceh.

Peran Masyarakat
Selain pengunaan strategi yang kami utarakan di atas, masyarakat juga sangat berperan,  masyarakat yang merupakan kesatuan dari individu – individu memiliki peranan penting dalam pemberantasan narkotika, masyarakat mengambil peran penting dikarenakan masyarakat bersentuhan langsung dengan pengedar maupun penguna narkotika, bangsa pasar narkotika jelas berhadapan langsung dengan masyarakat, dan masyarakat menjadi garda terdepan dalam pemberatasanya, jika tidak diantisipasi, maka akan menjadi korban, dua hal yang paling penting dilakukan masyarakat.

Pertama mengenali narkotika, sejauh ini masih banyak masyarakat terutama pemuda yang belum mengenal jelas dengan narkotika. Bahkan masih banyak masyarakat yang abstrak dengan narkotika. Sunguh sangat penting bagi masyarakat untuk mengenal narkotika dan jenis - jenisnya, karena merujuk dari srategi Sun Zhu kenali musuhmu maka kamu telah memenangi setengah petertempuran, narkoba merupakan musuh yang harus diperangi secara bersama.

Kedua mengetahui pengguna/pengedar narkoba, peran lain masyarakat dalam pemberatasan narkotika dengan mengenali dengan mencolok pelaku penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, dikarenakan para penguna dan pengedar akan berubah sikap jika sudah terjebak dalam lingkaran hitam narkotika, hal yang paling menonjol dari perubahan sikap para mafia narkotika yaitu  mulai mengasingkan diri dari lingkungan sekitar dan sering didatangi tamu dari luar lingkungan. 

Masih banyak ciri-ciri lain para pelaku peredaran gelap dan penyalahan narkotika. dengan mengenali narkoba dan pelaku sangat mudah kita menyelamatkan saudara kita dari bahaya  yang menghantui kita.

Maka sangat penting masyarakat dapat mendeteksi dini agar keluarga, tetangga bahkan kita tersalamatkan dari narkotika dan  akhirnya tujuan pemberatas narkotika dapat terwujud. amin

Fahrul Razi Ketua Bidang Pembinaan Aparatur Organisasi ( PAO) Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Lhokseumawe-Aceh Utara dan Merupakan Mahasiswa Hukum Keluarga Islam IAIN Lhokseumawe.

24 July 2019

Indah Itu Ketika Semuanya Damai dan Saling Menghargai Keberagaman

Oleh: Siti Jelita


www.lpmalkalam.com- Sadar atau tidak, terkadang kita lupa bahwa keberagaman itu ada dan harus dijunjung tinggi. Keberagaman merupakan wujud dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dimana kita berbeda tapi tetap satu bangsa, memiliki banyak etnis namun kita satu bahasa, dan tentunya bertumpah darah yang satu yaitu tanah air Indonesia. Di dalam Al-Qur'an pun telah dijelaskan bahwa manusia diciptakan dari latar belakang yang beragam. Allah berfirman yang artinya: "Hai manusia! Sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal." (QS. Al-Hujarat: 13).

Kendati memiliki beragam suku, agama, ras dan antar golongan (SARA), kita diajarkan untuk menghargai setiap perbedaan. Perbedaan justru membuat kita bertambah dekat dan membuat Indonesia semakin kuat. Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari seperti saling menyapa, saling menoleransi kegiatan agama, memahami perbedaan persepsi serta menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Agar semuanya terealisasi, maka kita membutuhkan langkah cerdas untuk mengasuh dan mengasih keberagaman tersebut. Kita memang tidak sempurna, tapi paling tidak kita mampu melakukan hal positif bagi sesama.

Seperti di Aceh misalnya, meski Aceh berstatus daerah Islam, kenyamanan beribadah masyarakat non-muslim amat terjamin. Penduduk Aceh memang minoritas Muslim, namun ada juga Nasrani, Budha, dan Hindu. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), keberagaman agama di Aceh menunjukkan sebanyak 4.413.244 atau 98,18 persen penduduk Aceh beragama Islam. Sedangkan pemeluk Kristen berjumlah 50.309 jiwa, Katholik 3.315 jiwa, Budha 7.062 jiwa, Hindu 136 jiwa, dan Khong Hu Chu 36 jiwa. (Detiktravel:2017)

Kho Khi Siong, ketua umum perkumpulan HAKKA Banda Aceh mengungkapkan bahwa penduduk China paling banyak tinggal di Peunayong, Banda Aceh. Hal itulah yang menyebabkan masyarakat Banda Aceh melabelkan Peunayong sebagai kampung China dan telah dideklarasikan oleh yayasan HAKKA sebagai kampung keberagaman pada perayaan tahun baru Imlek 2566 atau tahun 2015. Kehidupan masyarakat etnis China dan suku asli Aceh terbilang harmonis. Kerukunan umat beragama disana hingga kini masih terjaga. Contohnya saat bulan ramadhan, warga etnis Tionghoa ikut menjajakan penganan berbuka. Begitu juga saat hari-hari besar agama lain, warga non-muslim tetap leluasa merayakannya.

Pada hari besar Imlek 2568 atau tahun baru China 2017 lalu, perayaan Imlek yang dinamakan dengan Ayam Api tersebut berlangsung damai, ramai, dan lancar. Asap pembakaran dupa memenuhi seisi ruangan Vihara Dharma Bhakti Banda Aceh. Aromanya yang khas menusuk hidung. Warga etnis Tionghoa datang silih berganti untuk beribadah dan memanjatkan doa. Semakin menarik ketika gadis pribumi bernama Rati Puspasari (19) yang mengenakan jilbab merah, baju dan celana berwarna serupa ikut ambil bagian memainkan alat musik Simbal bahkan sudah empat tahun bergabung dengan tim barongsai Golden Dragon. Sementara warga pribumi lainnya memenuhi luar pagar dan melihat langsung jalannya ibadah.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah, dalam beberapa kesempatan pernah menyinggung soal toleransi di tanah Rencong. Beliau mencontohkan, di Banda Aceh berdiri gereja sejak puluhan tahun silam yang letaknya tidak jauh dari masjid Raya Baiturrahman. Keberadaan rumah ibadah umat Kristiani tersebut tidak pernah diganggu oleh masyarakat mayoritas karena telah memiliki izin resmi dari pemerintah sehingga tetap di jaga keberadaannya. Selain itu, di kawasan Peunayong juga terdapat kuil dan kelenteng. Umat non-muslim bebas beribadah disana tanpa ada yang mengusiknya.

Selain keberagaman agama, menghadirkan keberagaman politik juga merupakan poin penting guna menciptakan generasi Aceh yang terbuka dan tidak "alergi" dengan perbedaan. Keberagaman politik harus dipandang sebagai sebuah hiasan atau pernak-pernik yang indah, yang mana satu sama lain saling melengkapi sehingga keberagaman akan terjalin dan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat di Aceh.

Lantas apa yang harus dilakukan dalam mencapai kehidupan yang lebih baik dengan kondisi keberagaman ini? Tentunya dengan cara saling memahami antar sesama, saling menjaga dan melindungi, saling mempelajari bahasa dan budaya serta tidak menggangu keyakinan orang lain. Dengan demikian, kehidupan akan semakin damai dan indah tanpa adanya pertikaian atau konflik yang dapat menimbulkan perpecahan.


Penulis Merupakan Anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam IAIN Lhokseumawe Divisi reporter, tulisan ini telah lulus uji Serikat jurnalis keberagaman (Sejuk) dan telah di presentasikan di Yogyakarta.

19 July 2019

Pemaksaan dan Keyakinan Agama Masih Terjadi di Indonesia

Ilustrasi: Net/ mozaik.inilah.com
Oleh: Tia Safarina


www.lpmalkalam.com- 
Agama adalah suatu keyakinan yang mengatur aturan keimanan dan peribadatan pada Tuhan Yang Maha Kuasa serta hubungan antar manusia dan makhluknya. Asal nama Agama berasal dari sangskerta berarti tradisi, sedangkan dalam kata lain religi yaitu mengikat dirinya dengan Tuhan.

Di samping itu, agama merupakan segala sesuatu yang diyakini dan dijadikan sebagai falsafah hidup dalam berbangsa dengan didasari oleh kesatuan pandangan serta ideologi. Namun apa terjadi, justru agama malah dijadikan pemicu  pertama oleh sebagian besar sebagai perdebatan sampai terjadinya konflik yang disebabkan adanya antagonisme agama. Bukan agama saja yang menjadi serotan tetapi antar suku, ras, budaya, juga terjadi pemasalahan lantaran tidak terima satu sama lain itu.

Secara fitrah, perbedaan antar keagamaan tidak dikenai namanya paksaan sama sekali karena itu mencangkup pada personal, tidak ada hak orang lain untuk mencampurinya. Pada pandangan agama, mengajarkan bahwa seseorang harus bisa menghargai dan saling toleransi sesama. Tidak ada pungutan seseorang untuk memaksa orang lain meyakini apa yang diyakini malahan menyuruh untuk toleransi, termasuk juga dengan perbedaan lainnya seperti suku, ras, budaya dan sebagainya yang merupakan kepercayaan oleh sebagian kelompok. Orang lain tidak boleh mengklaim orang untuk mengikuti apa yang diikutinya karena dia berbeda. Tiap individu mempunyai hak untuk mempercayai apa yang dipercayanya hanya saja sikap saling menghormati yang harus diterapnya tanpa melihat sisi perbedaan.


Dunia ini begitu banyak sekali perbedaan pada tiap-tiap negera seperti halnya di Indonesia banyak sekali perbedaan bukan agama saja tetapi budaya, bahasa, tradisi, suku, dan sebagainya dalam satu negara. Tetapi bedanya, Indonesia ber-ideologi dengan satu pandangan saja yaitu pancasila. Namun, dibalik perbedaan pasti adanya konflik seperti yang terjadi pada berita “Komnas HAM: Pemaksaan Agama Masih terjadi.“ Kompas.com.

Dalam berita tersebut pemaksaan agama masih terus terjadi di Indonesia. Kejadian tersebut terjadi pada enam kota yang berada provinsi di Indonesia yaitu Kota Tangerang, Lebak, Sukabumi, Tasik, Blora, dan Solo. Adapum kasus pemaksaan agama dan keyakinan terjadi melalui aspek pendidikan, kesehatan, ketenaga kerjaan, dan administrasi kependudukan. Dari perihal tersebut, maka akan tejadinya kerusuhan serta pemusuhan sesamanya, dan pancasila yang seharusnya dijadikan sebagai ideologi pertama malah tidak berlaku lagi. Itu membuat warga tidak lagi hidup secara hukum dan banyak yang akan melanggar HAM.

Lantaran pemeluk agama yang paling banyak dianut di Indonesia adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu dan lainnya. Membuat seseorang kadang tidak bisa menerima satu sama lain, meskipun begitu seseorang harus bisa menerima adanya perbedaan tersebut. Karena hidup di dunia bukan kita saja tetapi orang berbeda pun berhak untuk hidup dan memilih.

Menurut survei yang di dapatkan pada data Sensus Penduduk tahun 2010, agama yang paling banyak pemeluk di Indonesia adalah agama Islam. Pemeluk agama Islam mencapai 207, 2 juta jiwa atau 87,18 persen, kemudian agama Kristen sebesar 16,5 juta jiwa atau 2,91 persen, selanjutnya Katolik 6,9 juta jiwa atau 2,91 persen, lalu agama Hindu 4,01 juta jiwa atau ,69 persen, dan Budha sebesar 1,7 juta jiwa atau 0,72 persen, sedangkan terakhir agama Kong Hu Cu 127,1 ribu jiwa atau 0,05 persen.

Mungkin karena data tersebut, membuat para oknum tertentu melakukan pemaksaan dan keyakinan tersebut karena tidak bisa menerima agama lain di satu negara yang sama dengannya. Jika begitu, pemerintah harus turun langsung dan memberikan hukuman setimpa padanya sebab melakukan tindakan tak wajar, serta melakukan pecegahan agar hal tersebut tidak terulang lagi, kalau bisa tidak memandang siapapun pelakunya.

Oleh karena itu, agama adalah suatu keyakinan yang ada pada tiap manusia tanpa adanya pemaksaan, hanya saja menerapkan sikap saling hormat  sesamanya. Terutama Indonesia, meski hidup berbeda-beda namun harus ada sikap hormat tanpa ada antagonisme. Tiap pandangan agama juga, mengajarkan bahwa seseorang harus bisa menghargai dan saling toleransi tanpa melihat sisi perbedaan. Hidup itu akan damai jika tidak ada musuh, maka jangan cari musuh. Hiduplah secara toleransi dan menghargai selayaknya saudara sendiri.

Penulis merupakan mahasiswa bahasa Indonesia dan Anggota Pers Mahasiswa Al-Kalam dan tulisan ini telah lulus seleksi Sejuk.

Pers Mahasiswa AL-Kalam, IAIN Lhokseumawe Phone. 0852 6017 5841 (Pimpinan Umum). Powered by Blogger.