Portal Berita Al-Kalam

Klasik Goes to SMA Negeri 1 Syamtalira Bayu Raih Antusias Siswa Pelajari Cara Penulisan Berita

Foto: Nurul Fadilah   www.lpmalkalam.com - Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) L...

HEADLINE

Latest Post

05 Januari 2026

Banjir dan Longsor Melanda Tiga Provinsi di Pulau Sumatera: Sapu Rumah hingga Infrastruktur, Tinggalkan Trauma bagi Warga Terdampak

Foto: Abdul Aziz Perangin-angin 

www.lpmalkalam.com– Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah provinsi di Pulau Sumatera, meliputi Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh sejak Selasa (26/11/2025) masih menyisakan luka yang cukup mendalam bagi warga yang terdampak. Hingga saat ini, Senin (05/1/2026), infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang rusak di beberapa wilayah masih belum mendapatkan perbaikan dan menjadi salah satu kendala untuk mengakses lokasi terdampak. Mereka yang terdampak masih harus melewati masa pemulihan dengan logistik, pakaian, alas tidur, dan air bersih seadanya yang disalurkan oleh para relawan dan pemerintah. Di beberapa daerah, posko pengungsian masih dipenuhi oleh korban yang kehilangan tempat tinggal. 

Wawancara yang dilakukan oleh tim LPM Al-Kalam melalui pesan WhatsApp dengan salah satu korban banjir di Desa Paloh, Kecamatan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara, Amanda Zuhra, ia mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya turut terdampak banjir dengan ketinggian air yang hanya menyisakan atap rumahnya. "Awalnya hujan terus, tapi air hanya di halaman rumah (di kawasan tempat tinggal) yang rendah. Sore sampai magrib masih aman. Malam hari saat listrik padam dan kami sudah tidur, air tiba-tiba naik tanpa peringatan. Sekitar jam 12 malam, Ibu menyadari air sudah di depan pintu. Kami langsung keluar rumah saat air masih deras tanpa sempat menyelamatkan banyak barang. Lalu (kami) mengungsi ke balai desa kampung sebelah yang bertingkat dua," jelasnya menceritakan kronologi kejadian. 

Selain hujan terus menerus, menurut Amanda dan warga desa tersebut, banjir diduga akibat kiriman (tanggul bendungan jebol) dari Desa Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Butuh waktu sekitar tujuh hari untuk menunggu air banjir di wilayah tempat tinggalnya surut. Pasca banjir, rasa takut kerap menyelimutinya ketika hujan deras turun, was-was jika akan terjadi banjir yang sama. Namun, kabar bahagia disampaikan oleh Amanda, dirinya dan keluarga telah kembali ke rumah dan kehidupan lingkungan sekitarnya telah berjalan normal meski pemulihan masih tetap berjalan.

Raja Oktariansyah, salah satu relawan yang mengunjungi lokasi terdampak di Desa Kuala Cangkoi, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara pada hari ke-14 pasca bencana Selasa (13/12/2025), mengatakan bahwa terdapat 70 rumah yang terdampak banjir dan kurang lebih 40 rumah dinyatakan tidak layak huni. Sepanjang jalan menuju lokasi, terlihat dampak banjir yang masih tersisa, seperti jalur transportasi yang rusak sehingga membutuhkan jalur alternatif, lumpur yang sepenuhnya belum terkikis, serta warga terdampak yang masih tinggal di posko-posko pengungsian.

Relawan lainnya, Haniffatu Azqa, yang mengunjungi beberapa desa dalam kurun waktu satu bulan di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara mengatakan bahwa kondisi di lokasi pasca bencana terlihat cukup jelas seperti pemandangan rumah yang hancur parah, jembatan gantung yang tersapu oleh banjir, sekolah, fasilitas umum, dan jalanan yang dipenuhi lumpur, sungai yang semakin melebar, dan sawah tempat mata pencaharian warga kini sudah mencapai hamparan daratan. 

Azqa turut menceritakan kondisi warga di lokasi tersebut. "Warga yang terdampak (banjir) sebagian masih berada di pengungsian. Mereka yang rumahnya masih ada membuat tenda di depan rumahnya sembari membersihkan, sedangkan beberapa warga yang rumahnya sudah hilang tersapu air, dibuatkan tempat pengungsian di lokasi yang awalnya sebagai tempat pengumpulan hasil tani kini dialihfungsikan menjadi tempat ngungsi," jelasnya saat diwawancarai. 

Foto: IST

Selain menjadi relawan yang menyalurkan bantuan logistik kepada warga di Kecamatan Sawang, Azqa juga turut mengambil peran dalam mengatasi trauma yang dialami oleh warga terdampak, terutama anak-anak. Ia mengatakan, setiap hujan turun, warga di lokasi tersebut merasa was-was, bahkan ia menceritakan ada anak kecil yang selalu meminta dibelikan perahu oleh ibunya karena takut akan terjadi banjir susulan. "Anak-anak memiliki gangguan psikologis ringan, seperti sering termenung, takut hujan, sering menangis, sensitif, dan sulit tidur. Sebagian dari mereka bercerita takut kehilangan rumah serta aktivitas mengaji dan sekolahnya terganggu," sambungnya. 

Azqa sangat berharap peran dari seluruh pihak untuk membantu memulihkan kondisi mereka yang terdampak. "Jadilah bagian sembuh dari saudara-saudara kita ini. Kehadiran kita bukan hanya bantuan, tapi juga jadi semangat dan harapan untuk mereka yang terdampak secara fisik maupun emosional," pesannya.


Reporter: Abdul Aziz Perangin-angin

Editor: Zuhra

31 Desember 2025

Presma UIN SUNA Tanggapi Banjir Bandang Aceh, Soroti Kerusakan Hutan

Foto: www.detik.com

www.lpmalkalam.com– Presiden Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe, Munawir, menanggapi serius banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara khusus melalui WhatsApp yang dilakukan oleh tim LPM Al-Kalam pada Senin (29/12/2025).

Munawir menilai bencana tersebut tidak dapat dipandang sebagai peristiwa alam semata, melainkan sebagai dampak dari kerusakan lingkungan dan kebijakan yang abai terhadap perlindungan hutan. Munawir menegaskan bahwa beredarnya video gelondongan kayu yang diduga berasal dari kawasan hutan Aceh harus dipandang sebagai persoalan serius. Ia menyebut, jika aktivitas tersebut benar merupakan hasil dari deforestasi demi kepentingan oligarki sawit, maka negara telah gagal melindungi lingkungan dan rakyatnya.

“Kami memandang serius beredarnya video gelondongan kayu yang diduga kuat berasal dari praktik deforestasi masif. Jika benar ini merupakan dampak pembukaan hutan demi kepentingan oligarki sawit, maka ini adalah kejahatan ekologis yang terstruktur dan dibiarkan negara. Banjir hari ini bukan sekadar bencana alam, melainkan bencana kebijakan akibat eksploitasi hutan yang rakus, abai terhadap daya dukung lingkungan, dan mengorbankan rakyat Aceh,” tegasnya saat diwawancarai melalui WhatsApp.

Terkait kondisi masyarakat terdampak, Munawir menyampaikan bahwa mahasiswa tidak tinggal diam menghadapi musibah tersebut. Melalui Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA-U), mahasiswa telah melakukan berbagai langkah nyata di lapangan.

“Sebagai Presiden Mahasiswa, kami tidak tinggal diam. DEMA UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe telah melakukan konsolidasi mahasiswa, penggalangan bantuan, distribusi logistik, serta advokasi suara korban melalui kanal publik dan media. Namun kami menegaskan bahwa solidaritas mahasiswa tidak boleh dijadikan pengganti tanggung jawab negara. Bantuan darurat memang penting, tetapi yang lebih penting adalah menghentikan akar persoalan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Munawir menyampaikan bahwa DEMA UIN SUNA terus mendorong langkah advokasi kebijakan terhadap pemerintah daerah maupun pusat, khususnya terkait kerusakan hutan di Aceh. “Kami mendorong langkah advokasi yang serius, mulai dari pernyataan sikap, desakan investigasi independen atas kerusakan hutan, hingga tuntutan evaluasi dan pencabutan izin perusahaan yang terbukti merusak lingkungan. Pemerintah harus bertanggung jawab secara kebijakan, hukum, dan moral, bukan sekadar hadir secara simbolik di tengah penderitaan rakyat,” katanya.

Munawir juga menyoroti belum ditetapkannya status bencana nasional atas banjir yang terjadi. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan minimnya kepekaan pemerintah pusat terhadap situasi darurat di Aceh. “Kami menilai lambannya penetapan status bencana nasional sebagai bentuk minimnya _sense of crisis_ pemerintah pusat terhadap Aceh. Padahal dampak banjir telah meluas, melumpuhkan aktivitas masyarakat, dan menimbulkan kerugian besar. Negara seolah menunggu korban bertambah baru bergerak. Ini mencerminkan ketimpangan perhatian dan ketidakadilan dalam penanganan bencana,” tegas Munawir.

Selain itu, ia juga menyayangkan sikap pemerintah pusat yang menahan bantuan luar negeri di tengah kondisi darurat yang masih dialami masyarakat terdampak. “Kami sangat menyayangkan sikap pemerintah pusat yang menahan bantuan luar negeri dengan dalih mampu menangani sendiri, sementara di lapangan rakyat masih kekurangan logistik dan layanan dasar. Jika rakyat menderita, ego negara harus ditanggalkan. Bantuan kemanusiaan tidak boleh dipolitisasi. Yang utama adalah keselamatan dan pemulihan korban, bukan citra pemerintah,” ujarnya.

Sebagai penutup, Munawir mengajak mahasiswa dan seluruh masyarakat Aceh untuk tetap bersatu dan tidak bersikap apatis terhadap ketidakadilan yang terus berulang. “Kami mengajak mahasiswa dan seluruh masyarakat Aceh untuk tetap kuat, saling menjaga, dan tidak apatis. Musibah ini harus menjadi momentum perlawanan bersama terhadap ketidakadilan ekologis dan kebijakan yang merugikan rakyat. Aceh tidak boleh terus dijadikan wilayah eksploitasi, lalu ditinggalkan saat bencana datang. Mahasiswa akan terus berada di barisan rakyat, bersuara, bergerak, dan melawan ketidakadilan,” pungkasnya.


Reporter: Ririn Dayanti Harahap & Meutia Rahma

Penulis: Meutia Rahma

Editor: Zuhra

27 Desember 2025

Ketika Bencana Mengisolasi, Pengabdian Tetap Berjalan di Bale Atu

Foto: Intan Nuraini

www.lpmalkalam.com– Pelaksanaan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di Desa Bale Atu, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah yang diikuti oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe awalnya berjalan aman dan terkendali. Namun, hujan berintensitas tinggi yang turun tanpa henti selama beberapa hari memicu bencana di sejumlah wilayah sekitar. Akses jalan terputus akibat longsor dan banjir bandang yang melanda beberapa daerah.

Meski Desa Bale Atu tidak terdampak langsung, kondisi tersebut menyebabkan keterisolasian. Terputusnya akses distribusi berdampak pada kelangkaan logistik, mulai dari habisnya bahan bakar, padamnya listrik, terganggunya jaringan komunikasi, hingga sulitnya memperoleh kebutuhan pokok seperti beras dan sembako. Situasi ini turut dirasakan oleh mahasiswa KPM yang sedang menjalankan pengabdian.

Memasuki satu minggu pascabencana, kesulitan masyarakat semakin terasa. Sejumlah toko tutup akibat keterbatasan pasokan, bahkan salah satu gerai ritel dilaporkan dijarah karena kondisi masyarakat yang mulai mengalami kelaparan. Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah mendirikan dapur umum serta membuka akses jaringan komunikasi di Kantor Bupati dengan memanfaatkan jaringan satelit Starlink.

Dalam situasi tersebut, mahasiswa KPM dari UIN SUNA dan UIN Ar-Raniry turut menjadi bagian sebagai relawan di dapur umum. Mereka membantu berbagai aktivitas, mulai dari menyiapkan bahan makanan, mencuci peralatan makan, membagikan makanan kepada warga, hingga terlibat langsung dalam proses memasak.

Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal. Di tengah keterbatasan akibat bencana, kehadiran mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat menjadi wujud nyata kepedulian dan solidaritas sosial.


Penulis: Intan Nuraini 

Editor: Tiara Khalisna

26 Desember 2025

Harumkan UIN SUNA, Muqsal Mina Resmi Dinobatkan Menjadi Agam Aceh 2025

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe. Pasalnya, usai dinobatkan menjadi Agam Aceh Utara 2025 pada Sabtu (31/05/2025), Muqsal Mina, mahasiswa jurusan Ekonomi Syariah (ES), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), kini dinobatkan menjadi Agam Aceh 2025 di Taman Budaya Banda Aceh pada Selasa (23/12/2025).

Acara ini mengusung tema Sustainable Journey, Lasting Legacies yang berarti “Perjalanan yang Berkelanjutan, Warisan yang Abadi.” Hal ini bermaksud bahwa peran duta tidak sebatas masa jabatan saja, namun juga meninggalkan jejak positif ke depannya, baik untuk pariwisata, lingkungan, maupun masyarakat Aceh.

Kepada Tim LPM Al-Kalam, Muqsal menjelaskan bahwa dari 23 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Aceh, hanya 16 yang berpartisipasi dalam acara ini, dan hal tersebut tidak disebabkan oleh faktor banjir. "Karena banjir itu di tanggal 26 (November), sedangkan Agam Inong Aceh telah memulai acara dari tanggal 22," ujarnya ketika diwawancarai Kamis (25/12) via WhatsApp. 

Disebabkan kondisi bencana alam yang terjadi di Aceh, kegiatan karantina sempat ditunda. "Benar. Acara karantina itu (sempat) ditunda, gak langsung malam penobatan, dikarenakan malam penobatan kan biasanya berlangsung ceria. Cuma, karena kondisi kita sekarang yang lagi bencana di Aceh, jadi Agam Inong Aceh mengambil kebijakan untuk menunda kegiatan ini," jelasnya.

Muqsal menjelaskan bahwa acara dilanjutkan pada Selasa (23/12) dengan konsep yang berbeda dari biasanya. Jika biasanya berlangsung ceria, namun kali ini berlangsung sakral. Tak hanya itu, Agam Inong Aceh juga membuat acara penggalangan dana untuk disalurkan ke korban banjir. 

Menurut penuturan Muqsal, program yang akan coba dilakukan dalam waktu dekat adalah mendirikan sekolah darurat dan hadir di tengah pengungsian untuk membuat anak-anak yang terdampak lebih ceria.

"Melihat kondisi Aceh yang saat ini sedang tidak baik-baik saja, baik banjir maupun longsor, sehingga mengakibatkan banyak sekolah yang rusak dan membuat anak-anak tidak bisa bersekolah. Maka, dari Saya sebagai Agam Aceh terpilih, punya inisiasi untuk bisa menghadirkan sekolah darurat untuk anak-anak," tuturnya.

"(Program) umumnya, kami juga akan mengembangkan semua potensi yang ada di Aceh, baik dari segi pariwisata maupun lainnya," tambahnya.


Reporter: Tiara Khalisna 

Editor: Zuhra

14 Desember 2025

KRI Semarang dan KRI Banda Aceh Hadir dalam Misi Kemanusiaan: UKK Menwa UIN SUNA Turut Menjadi Relawan di Mako Lanal Lhokseumawe

Foto: IST 
www.lpmalkalam.com– Unit Kegiatan Kampus (UKK) Resimen Mahasiswa (Menwa) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe terlibat sebagai relawan dalam kegiatan bantuan kemanusiaan atas permintaan Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) dan Komando Resor Militer (Korem), khususnya dalam proses pengangkutan barang bantuan dari Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Semarang 594 dan KRI Banda Aceh di Pelabuhan Krueng Geukueh pada Sabtu (13/12/2025). 

Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat serta dukungan terhadap Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi kemanusiaan. Menwa berperan sebagai relawan pengangkut logistik, membantu personel Lanal agar proses bongkar muat berjalan lancar dan tertib.

Foto: IST

Menwa mengangkat dan memindahkan barang-barang bantuan dari kapal KRI Semarang 595 dan KRI Banda Aceh menuju Markas Komando (Mako) Lanal untuk selanjutnya dilakukan pendataan dan pendistribusian. Seluruh barang bantuan yang telah diangkut ke Mako Lanal akan didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan sesuai mekanisme instansi terkait. 

Turunnya Menwa sebagai relawan ini bermanfaat untuk mempercepat proses bongkar muat bantuan, meringankan tugas personel TNI, serta meningkatkan kepedulian sosial dan jiwa pengabdian mahasiswa. "Keterlibatan menwa dalam kegiatan ini merupakan bentuk sinergi nyata antara mahasiswa dan TNI dalam kegiatan kemanusiaan serta komitmen Menwa dalam pengabdian kepada masyarakat," ungkap Rainaldo selaku salah satu pasukan Menwa yang turut andil menjadi relawan. 


Reporter: Zuhra

Editor: Tiara Khalisna

01 Desember 2025

Tindak Lanjuti Status Tanggap Darurat, UIN SUNA Terapkan Kuliah Daring: Mahasiswa Mengeluh Kendala Jaringan

Foto: IST

www.lpmalkalam.com– Sehubungan dengan Keputusan Gubernur Aceh Nomor 100.3.3/1416/2025 tentang Penetapan Status Keadaan Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi di Aceh Tahun 2025 yang ditetapkan selama 14 hari, terhitung sejak 28 November s.d. 11 Desember 2025, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe kembali mengeluarkan Surat Pengumuman Nomor B-1493/Un.35/R/KP.01.2/11/2025 tentang Penyesuaian Kegiatan Akademik dan Layanan Administrasi UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe pada Masa Status Darurat Bencana Hidrometeorologi di Aceh pada Minggu (30/11/2025). 

Adapun sebanyak tujuh poin yang tercantum dalam surat pengumuman, dua diantaranya adalah:

1. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara daring dan/atau online, menggunakan EdLink sebagai sarana pembelajaran mencakup pengelolaan materi kuliah, interaksi antara dosen dan mahasiswa, sesuai dengan Keputusan Rektor Nomor 29 Tahun 2025 tentang Penerapan Sistem Perkuliahan Berbasis Blended Learning Menggunakan Sarana Pembelajaran EdLink. 

2. Bagi mahasiswa atau dosen yang terkendala akses internet, maka diperkenankan untuk melaksanakan pembelajaran secara worksheet learning (pembelajaran berbasis tugas). 

Melalui surat edaran ini, tuai tanggapan dari mahasiswa. Yudha, mahasiswa rantau asal Batu Bara sekaligus Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tadris Matematika (TMA) menyampaikan perspektifnya terhadap surat pengumuman ini. Ia menilai poin yang dituangkan dalam surat sedikit menggantung. "Menurut saya, keputusan yang dituangkan di surat edaran tersebut sedikit menggantung, tidak memiliki keputusan yang on point, dan sedikit bertele-tele, mengingat yang terdampak banjir bukan hanya mahasiswa, melainkan juga seluruh tenaga pendidik dan seluruh tenaga kerja yang berkerja di UIN. Sebaiknya kampus memberikan solusi yang paling tepat akibat bencana alam ini. Karena jika perkuliahan dilakukan secara daring, jaringan yang tersedia juga hanya Telkomsel. Dan jika memaksa menggunakan Wi-Fi di coffee shop atau tempat lain itu akan mengeluarkan uang di tengah-tengah masa sulit ini." Ia juga menyampaikan bahwa Organisasi Mahasiswa (Ormawa) UIN SUNA tengah membantu mencari solusi yang paling relevan terkait hal tersebut. 

Mahasiswa lainnya, Izzat, asal Desa Trieng Meudurou, Kecamatan Syamtalira Bayu, mengatakan bahwa ia kurang setuju dengan perkuliahan yang dilaksanakan secara daring, mengingat masih ada mahasiswa yang di wilayahnya mengalami kendala jaringan. Meski sebagian wilayah listriknya sudah menyala, Izzat mengaku tempat tinggalnya yang berjarak 3 kilometer dari jalan lintas, listrik masih padam. Menurutnya, pembelajaran berbasis tugas cukup baik, namun diberikan tenggat waktu pengumpulan yang lebih lama dari biasanya.

Izzat menambahkan, pembelajaran yang akan dilaksanakan secara daring selama 14 hari ini merupakan waktu yang cukup untuknya. Namun, ia juga memikirkan mahasiswa yang tinggal di wilayah sangat terdampak, "Untuk orang yang memang terkena dampak bencana (banjir/longsor) itu kayak di Geudong, sampai rumah hanyut, keluarganya meninggal, itu (waktunya) nggak cukup. Orang itu masih memikirkan yang lain daripada kuliah. Dia memikirkan hidupnya sendiri dulu harus stabil. Soalnya orang (yang tinggal) di Lhoksukon, Matangkuli, Geudong, itu lumayan parah," jelasnya melalui pesan suara WhatsApp yang diterima oleh Kru Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam, Minggu (30/11/2025). 

Qonita, mahasiswi asal Gayo yang baru mendapatkan kabar setelah empat hari terputus komunikasi dengan keluarganya mengatakan, "Sebenarnya itu (kuliah daring) sangat membantu di tengah kondisi yang seperti ini. Banyak kawan-kawan saya juga yang rumahnya sampai saat ini masih kebanjiran, bahkan ada yang barangnya gak tersisa satu pun, habis dibawa air banjir. Tapi tetap aja, walau kuliah daring, sayangnya saya tidak bisa pulang (ke kampung halaman) karena semua akses (perjalanan) putus." Ia mengaku pikirannya saat ini masih tertuju pada keluarga.


Reporter: Alya Nadila

Editor: Zuhra

30 November 2025

KPM 52 UIN SUNA Desa Paya Teungoh Data dan Salurkan Bantuan Sembako untuk Warga Terdampak Banjir

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Kelompok 52 Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Desa Paya Teungoh melaksanakan aksi sosial dengan menyalurkan bantuan paket sembako serta pendataan kebutuhan mendesak bagi warga yang terdampak banjir di Desa Paya Teungoh pada Sabtu (29/11/2025).

Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat yang sedang menghadapi musibah banjir menyusul curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah rumah warga dilaporkan terendam dan aktivitas harian terganggu.

Ketua KPM 52 Paya Teungoh, Muhammad Haikal Alif mengatakan bahwa program ini bertujuan meringankan beban masyarakat sekaligus memastikan data warga terdampak dapat digunakan untuk penanganan lanjutan.

Foto: IST

“Kami tidak hanya menyerahkan bantuan sembako, tetapi juga melakukan pendataan agar kebutuhan warga dapat diketahui dengan jelas. Kami berharap bantuan kecil ini dapat membantu masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan,” ujarnya.

Bantuan yang disalurkan berupa beras, mie instan, telur. Seluruh paket sembako diserahkan langsung ke rumah-rumah warga yang terdampak banjir dibantu oleh perangkat gampong.

Sementara itu, Geuchik Gampong Paya Teungoh, Bakhtiar, menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa KPM Kelompok 52 atas kepedulian mereka.

“Kami sangat terbantu dengan adanya mahasiswa KPM yang turun langsung ke lapangan. Selain memberikan sembako, mereka juga mendata warga yang membutuhkan bantuan lanjutan. Ini sangat berarti bagi kami,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, KPM Kelompok 52 Paya Teungoh berharap dapat terus menjadi bagian dari masyarakat dan memberikan kontribusi nyata selama masa pengabdian berlangsung.


Reporter: Siti Raihani 

Editor: Zuhra

29 November 2025

Menwa UIN SUNA Ikut Serta Jadi Relawan BPBD Lhokseumawe: Proses Evakuasi Warga Gampong Ujong Pacu

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Unit Kegiatan Khusus (UKK) Resimen Mahasiswa (Menwa) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe ikut serta menjadi relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lhokseumawe dalam proses evakuasi warga Gampong Ujong Pacu, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe pada Kamis s.d. Jumat (27–28/11/2025). 

Dalam proses evakuasi, tim BPBD Lhokseumawe dan personel Menwa UIN SUNA; Rainaldo Purba, mahasiswa Jurusan Tadris Matematika (TMA), diikuti oleh Akmal dan Ilham Syah mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI) menemukan masyarakat gampong setempat yang tengah menunggu bantuan di bangunan bertingkat dan ruangan rumah yang masih terbilang aman dari banjir. 

Tingginya debit air yang mencapai ± 5 meter menutupi sebagian pemukiman warga dan menghambat akses menuju lokasi. Tak sedikit rumah yang terendam oleh banjir hingga menyisakan atap, sejumlah infrastruktur turut tidak dapat digunakan, serta ketiadaan jaringan komunikasi dan padamnya listrik secara menyeluruh di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat juga dirasakan oleh warga Gampong Ujong Pacu. 

Foto: IST

Rainaldo menjelaskan bahwa evakuasi dilakukan dengan sejumlah peralatan seperti perahu fiber, pelampung, dan tali evakuasi. "Semua warga yang berada di titik rawan berhasil dievakuasi dan dinyatakan aman. Selain itu, dua warga dalam kondisi sakit telah dipindahkan lebih dulu untuk mendapatkan penanganan lebih cepat. Pemantauan kondisi terus dilakukan oleh BPBD, Dinas Sosial, dan relawan lapangan," tulis Rainaldo melalui pesan WhatsApp pada Sabtu (29/11/2025). Ia juga menambahkan warga tetap dimobilisasi di sekitar Gampong Ujong Pacu dengan memberikan bantuan logistik secara langsung berupa beras, mi instan, makanan ringan, air mineral, tilam bantuan, pampers, hingga pembalut.

Komandan Satuan (Dansat) 109/WSU UIN SUNA, Ilham Darmawan mengatakan, "Sebagai mahasiswa, saya berharap Wira dapat mengaplikasikan ilmu dan pelatihan yang telah diperoleh untuk membantu warga bersama aparat serta BPBD." Ilham menambahkan, dalam situasi tersebut, mereka telah membagi dua tim agar Wira lainnya dapat membantu mahasiswa di sekitar kampus yang turut terdampak banjir dan membutuhkan dukungan.

BPBD Lhokseumawe turut mengapresiasi Menwa UIN SUNA atas bantuan evakuasi, distribusi logistik, dan keikutsertaan memastikan pemantauan kondisi banjir yang berlangsung. 


Reporter: Alya Nadila

Editor: Zuhra

26 November 2025

Mahasiswa UIN SUNA Tanggapi Surat Pengumuman Tentang Penyesuaian Kegiatan Akademik dan Administrasi Terkait Kondisi Hujan Deras dan Banjir

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe terbitkan Surat Pengumuman Nomor B-1488/Un.35/R/KP.01.2/11/2025 Tentang Penyesuaian Kegiatan Akademik dan Administrasi Terkait Kondisi Hujan Deras dan Banjir pada Rabu (26/11/2025).

Tujuh poin tercantum pada surat tersebut disampaikan dan ditandatangani oleh Rektor UIN SUNA Lhokseumawe, Prof. Dr. Danial, M.Ag., salah satunya adalah: pelaksanaan kegiatan akademik dan administrasi pada tanggal 26 s.d. 28 November 2025 disesuaikan dengan kondisi dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan yang berdampak banjir dengan tetap menjaga kelancaran layanan akademik. Hal ini diberlakukan dalam rangka menjaga keselamatan, keamanan, dan kelancaran seluruh civitas academica UIN SUNA sejalan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah Kota Lhokseumawe dan sekitarnya.

Hujan lebat yang mengguyur wilayah Indonesia, khususnya pulau Sumatera, Aceh, menyebabkan beberapa wilayah di Kota Lhokseumawe dan sekitarnya mengalami banjir, longsor, hingga padamnya arus listrik. Salah satu rumah mahasiswi yang terkena dampak banjir di kawasan Ulee Jalan, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe menceritakan kondisi rumahnya. "Di rumah saya sekarang ini udah masuk (air). Awal-awalnya (air) gak masuk, cuma di samping, nggak sampai masuk rumah. Cuma karena beberapa hari ini, kan, hujannya deras, nggak berhenti juga, apalagi dua malam ini. Hari keempat hujan itu, lah, baru masuk airnya, bukan cuma di rumahku aja, tapi tetangga-tetangga juga gitu. Jadi, dengan banjir ini juga aktivitas sehari-hari sangat terganggu. Kami sekeluarga juga perlu angkat-angkat barang untuk memindahkan ke tempat yang lebih tinggi biar (supaya) nggak terkena air. Kemudian, kami juga harus berjaga malam karena takutnya air makin naik, karena di sekitar rumah juga udah tergenang air. Mau keluar rumah juga agak sulit, ya. Kemudian motor cepet mogok juga karena banjir. Air (banjir) nya juga hampir selutut," kata Maiza melalui pesan suara WhatsApp yang diterima oleh Kru LPM Al-Kalam pada Rabu (26/11/2025).

Maiza mengaku, pengumuman dari kampus sangat membantunya di kondisi yang seperti ini. Ia mengatakan bahwa akses jalan yang harus dilewatinya untuk dapat ke kampus yakni Jalan Medan – Banda Aceh yang semula berlubang, kini semakin parah dan tidak terlihat karena tergenang oleh banjir. Bahkan di beberapa titik jalan, seperti Batuphat, PIM, terbilang hampir lumpuh total dengan genangan air. "Jadi, waktu lihat kampus ngasi kebijakan kuliah daring, itu aku merasa sangat terbantu, sih. Setidaknya aku bisa tetap kuliah tanpa harus memaksakan diri untuk keluar rumah. Menurut aku ini bentuk perhatian kampus terhadap keamanan kami yang terkena banjir. Semoga cuaca ini cepat membaik, tapi untuk sekarang kebijakan ini benar-benar ngeringanin kami yang terdampak banjir," tambahnya. 

Mahasiswi lainnya yang juga terkena dampak banjir di kawasan Mongeudong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, mengungkapkan bahwa adanya surat pengumuman ini menjadi keputusan terbaik yang diambil oleh kampus. "Menurut Putri, pengumuman dari kampus ini memang udah paling bijak, apalagi untuk kondisi lagi parah kali, banyak yang kebanjiran. Jadi, belajar online menurut Putri jauh lebih aman dan membantu," tulis Putri melalui pesan WhatsApp, Rabu (26/11/2025). 

Putri turut menceritakan kondisi rumahnya, "Kondisi di rumah Putri sendiri juga ikut kena banjir. Air sempat masuk ke dalam rumah, tapi nggak parah cuma setinggi mata kaki aja. Yang lebih parah itu sebenarnya di depan rumah, air lumayan tinggi dan susah untuk lewat. Jadi, dengan adanya kebijakan kuliah daring ini, Putri bisa tetap ikut kelas tanpa harus keluar rumah dan mengambil risiko di jalan." Ia berharap supaya cuaca dapat segera membaik dan kondisi kembali normal. 


Reporter: Alya Nadila

Editor: Zuhra

23 November 2025

Membanggakan! Empat Mahasiswa UIN SUNA Raih Juara di MTQ Aceh XXXVII

Foto: liputangampongnews.id

www.lpmalkalam.com- Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe. Prestasi kali ini diraih oleh empat mahasiswa dari Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Aceh ke-37 yang berlangsung di Lapangan Kantor Bupati Kabupaten Pidie Jaya pada Sabtu (08/11/2025).

Menurut kutipan dari laman line1.news, terdapat 1.212 peserta musabaqah dari 23 kabupaten/kota di Aceh dengan 11 arena perlombaan. Acara ini berlangsung selama delapan hari, mulai 1–8 November 2025. Dilansir dari situs mtq.pidiejayakab.go.id, terdapat sembilan cabang lomba dengan golongan dan tingkatan usia yang berbeda, yang diikuti oleh peserta putra dan putri. Di antaranya sebagai berikut:

1. Tilawah Al-Qur’an

2. Tahfiz Al-Qur’an (Hafalan)

3. Tafsir Al-Qur’an

4. Khattil Qur’an

5. Fahmil Qur’an

6. Syarhil Qur’an

7. Qira’ah Sab’ah

8. Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ)

9. Hafalan Hadis

Keempat mahasiswa UIN SUNA Lhokseumawe yang berhasil meraih penghargaan adalah sebagai berikut:

1. Fauzan Azima, jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), meraih Juara 2 cabang Qiraat Murattal Remaja Putra.

2. Yuli Aulia, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), meraih Juara 2 cabang Hifzil 100 Hadis Putri.

3. Jihan Fanyra (KPI), meraih Juara Harapan 2 cabang KTIQ Putri.

4. Nadya Maghfirah (IAT), meraih Juara Harapan 3 cabang Qiraat Mujawwad Remaja Putri.

Fauzan Azima mengungkapkan bahwa MTQ ini lebih menantang dibandingkan MTQ mahasiswa. Jika pada MTQ mahasiswa hanya melalui seleksi kampus dan langsung ke tingkat nasional, maka MTQ provinsi harus melalui beberapa tahapan sebelum ke tingkat provinsi. “Mungkin tantangan di MTQ ini lebih besar karena perjuangannya dimulai dari tingkat kampung hingga provinsi. Setelah menang tingkat provinsi, baru kita mewakili Aceh ke kancah nasional,” ungkapnya pada Kamis (13/11/2025).

Jihan Fanyra juga menyampaikan bahwa MTQ ini sangat menantang bagi dirinya. “Kalau boleh jujur, memang mengikuti MTQ ini sangat challenge bagi saya, karena ini adalah cabang baru setelah sebelumnya menjadi pensyarah di cabang Syarhil Qur’an. Namun karena sudah lewat umur, jadi bingung beralih ke cabang yang mana. Yang dekat dan masih relevan, sehingga beralihlah ke cabang KTIQ,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Jihan juga mengatakan bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri. “Siapapun role model (panutan) kita, jika tips mereka hanya kita pegang sebagai acuan teori tanpa dipraktikkan langsung, maka teori-teori hebat yang disampaikan itu tidak akan menghasilkan perubahan dalam diri kita,” tambahnya.


Reporter: Tiara Khalisna

Editor: Putri Ruqaiyah

20 November 2025

Rumah Adat Cut Mutia: Simbol Warisan yang Tetap Hidup di Era Modernisasi

Foto: Daffa Alkausar (Magang)

www.lpmalkalam.com- Di tengah padatnya permukiman masyarakat, terdapat sebuah rumah adat Aceh yang menawarkan keotentikan serta daya tarik besar sebagai kediaman salah satu pahlawan perempuan Aceh, yaitu Cut Mutia. Rumah adat tersebut terletak di Mesjid Perak, Kecamatan Matang Kuli, Kabupaten Aceh Utara.

Rumah panggung menjadi daya tarik tersendiri karena merupakan ciri khas dari keberagaman rumah adat di Indonesia. Rumah Adat Cut Mutia tidak hanya menyimpan kisah tentang keberanian seorang pahlawan perempuan Aceh, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi sejarah itu sendiri.

Para pengurus melakukan perawatan secara berkala, memperbarui fasilitas, serta melakukan pendataan wisatawan secara rutin untuk dilaporkan kepada pihak pusat agar penyaluran dana sesuai dengan kebutuhan dan data yang masuk. Pengelola juga menekankan bahwa rumah adat ini bukan sekadar museum kuno yang tergerus arus modernisasi, tetapi ingin tetap hadir sebagai ruang budaya yang dekat dengan kehidupan masa kini.

Di saat banyak museum lain berusaha menonjolkan diri melalui koleksi yang lebih lengkap dan otentik, Rumah Cut Mutia justru membuktikan bahwa sejarah tidak hanya terletak pada benda-benda lama, melainkan juga pada cara kita merawat, mengelola, dan menghidupkannya agar tetap relevan.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan, Rumah Adat Cut Mutia layak menjadi model pelestarian budaya lokal karena sederhana, terawat, dan tidak seseram atau sekuno yang sering dibayangkan wisatawan. Ini menjadi bukti bahwa apabila dikelola dengan baik tanpa praktik korupsi dan dengan penggunaan dana yang bertanggung jawab maka situs budaya sekecil apa pun dapat menjadi destinasi yang hidup dan dicintai masyarakat.


Penulis: Daffa Alkausar (Magang)

Editor: Putri Ruqaiyah
 

16 November 2025

Kelompok 4 Magang Cakru LPM Al-Kalam Kunjungi Rumah Adat Cut Meutia, Kenali Sejarah dan Arsitektur Aceh

Foto: Intan Sarifah (Magang)

www.lpmalkalam.com- Empat Calon Kru (Cakru) Magang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe melakukan kunjungan sejarah ke Rumah Adat Cut Meutia di Desa Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara, pada Sabtu (15/11/2025).

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan lebih dekat warisan budaya Aceh kepada para peserta magang. Rumah Adat Cut Meutia merupakan bangunan tradisional Aceh yang dibangun untuk mengenang pahlawan nasional Cut Nyak Meutia, tokoh perempuan Aceh yang dikenal berani memimpin perlawanan terhadap penjajah Belanda. Rumah ini berdiri dengan struktur khas rumoh Aceh, ditopang oleh 16 tiang kayu besar dan beratapkan daun rumbia.

Bagian dalam rumah terbagi atas sejumlah ruang, seperti seuramoe keu (serambi depan), anjong (kamar anak perempuan), seuramoe likoet (ruang belakang), ruang keluarga, dan dapur. Beberapa foto sejarah, lukisan, serta benda tradisional Aceh seperti jeungki dan lumbung padi turut dipamerkan di dalamnya.

Selain struktur bangunan, Rumah Adat Cut Meutia juga memiliki kekayaan ragam hias tradisional Aceh yang menghiasi bagian dinding dan atap. Ragam ukiran tersebut meliputi apak catoe (papan catur), dheun (ranting), on kayee (daun), bungong awan-awan, bungong seulupok (bunga teratai), bungong cane’ awan (bunga putih), gigo buya (gigi buaya), bintang, taloe ie (tali lurus), pucok reubong (pucuk rebung), awan si on (daun), on sirih (daun sirih), pohon beringin, bungong sago (bunga sudut), bungong meulu (bunga melati), serta motif burung merpati. Ragam hias tersebut menjadi ciri estetika rumah adat Aceh yang sarat makna budaya.

Idris, penanggung jawab Rumah Adat Cut Meutia, mengatakan bahwa rumah tersebut rutin dikunjungi masyarakat, pelajar, hingga wisatawan yang ingin melihat langsung bentuk rumah adat Aceh dan mempelajari kisah perjuangan Cut Nyak Meutia “Banyak masyarakat dan tamu berkunjung untuk mengenang pahlawan, karena tempat ini menyimpan banyak kenangan masa lalu yang berkaitan dengan perjuangan mereka,” ujarnya.

Rumah Adat Cut Meutia dapat dijangkau dengan jarak sekitar 31 kilometer dari Kota Lhokseumawe, atau sekitar satu jam perjalanan. Akses menuju lokasi cukup baik, melewati area persawahan dan perkampungan yang menjadi ciri khas wilayah tersebut.

Idris juga menyampaikan harapannya. “Semoga dengan banyaknya tamu yang datang, mereka bisa lebih mengenal dan mencintai sejarah,” katanya.


Penulis: Luthfiatil Syaqirah dan Intan Sarifah (Magang)

Editor: Putri Ruqaiyah

11 November 2025

Kelompok Dua Cakru Magang LPM Al-Kalam Terjun Langsung ke Stasiun Krueng Geukueh, Pelajari Operasional Kereta Api

Foto: Irozatun Navais

www.lpmalkalam.com- Kelompok Dua Calon Kru (Cakru) magang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe melakukan kunjungan lapangan ke Stasiun Kereta Api yang terletak di Gampong Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (10/11/2025).

Dalam kegiatan kunjungan lapangan tersebut, para peserta magang menelusuri berbagai area di sekitar stasiun dan melakukan wawancara langsung dengan warga setempat. Salah seorang warga yang ditemui menyampaikan bahwa layanan Kereta Api (KA) Cut Meutia resmi beroperasi pada tahun 2023 sebagai bagian dari proyek pembangunan kembali jalur kereta api di Aceh. “Kereta api ini resmi beroperasi pada tahun 2023 sebagai bagian dari pembangunan kembali jalur kereta api. Layanan KA Cut Meutia memudahkan aktivitas warga sekitar, terutama bagi siswa yang berangkat sekolah dan masyarakat yang beraktivitas setiap hari. Kehadirannya sangat membantu,” ungkap salah satu warga sekitar stasiun.

Kereta Api Cut Meutia melayani rute perjalanan dari Krueng Geukueh hingga Kuta Blang dengan tarif Rp2.000 per orang untuk satu kali perjalanan. Namun, warga juga mengungkapkan bahwa di sekitar area rel stasiun sempat terjadi beberapa kecelakaan beberapa tahun lalu. “Dulu pernah terjadi kecelakaan di sekitar rel kereta api, mungkin karena kelalaian warga yang melanggar aturan. Alhamdulillah, sekarang masyarakat sudah lebih berhati-hati ketika berada di dekat stasiun saat kereta lewat. Semoga ke depan tidak terjadi lagi hal-hal yang merugikan warga,” ujar warga tersebut menambahkan.

Melalui kunjungan ini, para Cakru LPM Al-Kalam mendapatkan wawasan baru mengenai operasional dan manfaat sosial dari KA Cut Meutia sebagai sarana transportasi yang terjangkau dan bermanfaat bagi masyarakat Aceh Utara.


Reporter: Cut Saputri

Editor: Putri Ruqaiyah

Menjalin Asa dan Kekeluargaan: KPM 61 UIN SUNA Lhokseumawe Disambut Hangat di Desa Waq Toweren

Foto: nadiyatul Rahimah Sinaga

www.lpmalkalam.com- Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM), Kelompok 61, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menyelenggarakan kegiatan temu ramah bersama para warga desa Waq Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah di Meunasah desa setempat pada Senin (10/11/2025). 

Kegiatan temu ramah merupakan salah satu bentuk upaya menjalin silaturahmi dan mempererat hubungan antara mahasiswa dengan masyarakat setempat. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Reje (Kepala Desa) Waq Toweren, Abdul Habir, serta aparatur kampung yang terdiri dari sekretaris, bendahara, kepala dusun, dan para Kepala Urusan (Kaur).

Acara diawali dengan kata sambutan dari Ketua KPM Kelompok 61, M. Dhuha Masyhuri, yang menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat dari pihak desa serta menjelaskan tujuan dan Program Kerja (Proker) selama masa pengabdian. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian arahan dan bimbingan oleh Abdul, selaku Reje, yang menekankan pentingnya kerja sama dan sinergi antara mahasiswa dan masyarakat dalam melaksanakan berbagai program KPM guna memberikan manfaat nyata bagi desa.

Foto: nadiyatul Rahimah Sinaga
“Adik-adik mahasiswa yang sudah bergabung di desa Waq Toweren kami ucapkan selamat datang. Begitu adik-adik telah bergabung di kampung ini, maka secara tidak langsung telah menjadi bagian dari keluarga besar Desa Waq Toweren," ujar Abdul. 

Para aparatur kampung Waq Toweren juga berharap semoga mahasiswa yang telah KPM di desa Waq Toweren bisa mencapai kesuksesan dan bisa bermanfaat untuk negara dan masyarakat luas.

Setelah penyampaian kata sambutan dari Reje, acara dilanjutkan dengan penyampaian Proker KPM Kelompok 61. Program ini disampaikan langsung oleh Muhammad Syahru, selaku divisi Program dan humas. Syahru menyampaikan bahwa terdapat 18 program yang akan dilaksanakan di desa Waq Toweren. Salah satu program unggulan yang akan dilaksanakan adalah Pemasangan Lampu Solar Panel Jalan dan program sosialisasi lainnya. 


Reporter: Fitdaturrahmi 

Editor: Tiara Khalisna

Kelompok KPM 61 Siap Bersinergi dengan Polsek Lut Tawar Untuk Menguatkan Kearifan Lokal

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM), Kelompok 61, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe, melaksanakan Koordinasi Program sekaligus Forum Group Discussion (FGD) bersama jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Lut Tawar di Kantor Polsek Lut Tawa pada Senin (10/112025).

Koordinasi dan FGD diselenggarakan untuk mengonfirmasi pelaksanaan program pengabdian sekaligus memastikan seluruh kegiatan dapat berjalan tertib, terarah, serta sejalan dengan kebutuhan masyarakat desa Waq Toweren. KPM tahun ini mengusung tema Menata Potensi Gampong Mandiri, Berkearifan Lokal, Bernilai Islami.

Dalam sesi diskusi, Ketua Kelompok 61 memaparkan sejumlah Program Kerja (Proker) wajib yang akan dijalankan, seperti manajemen masjid/meunasah, penguatan sosial media desa, sosialisasi mengenai pernikahan dini dan kurikulum cinta, serta beberapa program pemberdayaan lainnya. Seluruh program dirancang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan menumbuhkan kemandirian desa sesuai nilai dan karakter lokal.

Kegiatan FGD ini mendapat dukungan penuh dari Polsek Lut Tawar. Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Desa Waq Toweren Polsek Lut Tawar, Ajun Inspektur Polisi Dua (AIPDA) Usman, memberikan arahan mengenai pentingnya kolaborasi yang harmonis antara mahasiswa dan aparat keamanan. Usman juga turut mengatakan bahwa Polsek Lut Tawar turut mendukung seluruh kegiatan KPM dari UIN SUNA Lhokseumawe. “Kami sangat menyambut baik kehadiran mahasiswa KPM. Semoga program-program yang dijalankan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak nyata. Polsek Lut Tawar siap mendukung setiap kegiatan selama berada di wilayah kami,” ujarnya.

Inspektur Polisi Dua (IPDA), Aji Agus Rianto, S.Psi., selaku Wakil Kepala (Waka) Polsek Lut Tawar, juga turut memberikan bimbingan kepada para mahasiswa KPM kelompok 61. "Mahasiswa merupakan bagian dari agen perubahan di tengah masyarakat. Kami berharap keberadaan adik-adik mahasiswa dapat membawa suasana positif dan bermanfaat bagi warga. Silakan berkoordinasi dengan kami kapan saja, jika membutuhkan bantuan,” ungkapnya.

Melalui FGD ini, terjalin kolaborasi antara mahasiswa, aparat kepolisian, dan masyarakat Desa Waq Toweren untuk mendorong pemberdayaan berbasis nilai keislaman dan kearifan lokal. Kegiatan ini menjadi pijakan awal bagi mahasiswa dalam menjalankan pengabdian selama satu bulan dengan dukungan penuh dari Polsek Lut Tawar dan warga setempat.


Reporter: Fitdaturrahmi

Editor: Tiara Khalisna

08 November 2025

Mahasiswa UIN SUNA Lhokseumawe Laksanakan Kegiatan Pengabdian Masyarakat di Gampong Dayah Meunara

Foto: IST

www.lpmalkalam.com- Sebanyak sebelas mahasiswa dari kelompok 11, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe, yang terdiri atas sembilan perempuan dan dua laki-laki, resmi memulai kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di Gampong Dayah Meunara, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (07/11/2025).

Kegiatan pembukaan KPM dilaksanakan pada Jumat malam usai salat Magrib. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh mahasiswa peserta KPM, perangkat gampong, serta tokoh masyarakat setempat.

Acara dimulai dengan sambutan dari Ketua Hubungan Masyarakat (Humas) Mahasiswa KPM, M. Dedi Syahputra, yang kemudian dilanjutkan oleh Ketua KPM, Riski Bayu, untuk memperkenalkan diri sekaligus seluruh anggota lainnya. Dalam sambutannya, Riski juga memaparkan Program Kerja (Proker) yang akan dilaksanakan selama masa pengabdian berlangsung.

Foto: IST
Selanjutnya, Sekretaris Desa (Sekdes) memberikan sambutan dan memperkenalkan seluruh perangkat desa kepada mahasiswa peserta KPM. Suasana keakraban semakin terasa ketika Ketua Tuha Peut Gampong turut menyampaikan pesan hangat kepada para mahasiswa. “Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh mahasiswa. Harap menjadi contoh yang baik, saling menjaga, dan mengikuti adat yang berlaku di kampung ini, seperti kegiatan pengajian di pesantren. Kami menganggap kalian sebagai anak-anak kami sendiri,” ujarnya.

Selain itu, mantan Kepala Desa (Keuchik) Gampong Dayah Meunara juga turut memberikan sambutan dengan penuh kehangatan. “Kami, seluruh masyarakat, mengucapkan ahlan wa sahlan kepada adik-adik mahasiswa KPM UIN. Kami berharap kalian dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat serta menjalin hubungan baik dengan warga, terutama dengan ibu-ibu setempat,” tuturnya.

Kegiatan pembukaan ini berlangsung penuh keakraban dan menjadi awal yang baik bagi mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe untuk berkolaborasi dan berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat Gampong Dayah Meunara selama masa pengabdian berlangsung.


Rilis

Editor: Putri Ruqaiyah

30 Oktober 2025

Fakta Unik Bumi Samudera, Aceh Utara: Masyarakat Masih Sering Menemukan Koin Emas Dinar dan Piring Cap Naga Milik Kerajaan?

Foto: Razwa Syuib (Magang)

www.lpmalkalam.com- Dalam menjalankan masa magang, Kelompok Tiga Calon Kru (Cakru) Magang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam mengunjungi Kompleks Makam Sultan Malik As-Shalih di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara pada Jumat (17/10/2025). 

Berbagai fakta unik dan menarik di temukan dari cerita sang pemandu, Marzuki. Penjaga makam bersama tiga orang lainnya mengaku tidak digaji langsung oleh pemerintah. Namun, keempatnya tetap menjalankan tugas tersebut menganggap sebagai kewajiban yang harus dijaga.

Samudera Pasai, nama sebuah kerajaan yang terletak di Aceh Utara pada tahun 1270-1297 Masehi. Dulunya, Kerajaan Samudera Pasai dikenal sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia, nomor dua di dunia setelah Arab. Samudera Pasai dikenal dengan sejarah sosok Raja pendiri Kerajaan Islam pertama di Indonesia. 

Makam Sultan Malik As-Shalih dikenal sampai ke penjuru dunia. Banyak keistimewaan di tempat tersebut. "Namanya juga seorang yang alim, ya. Jadi Allah mengistimewakan mereka walaupun sudah tiada. Ramai orang datang berziarah untuk meminta doa di sini, dengan mengharapkan keberkahan beliau mereka berdoa. Alhamdulillah, semuanya terkabulkan," ujar Marzuki.

Samudera Pasai memiliki kekayaan yang luar biasa dimana alat tukar barangnya (uang) terbuat langsung dari emas yang disebut dinar. Dinar sebutan koin emas sebagai alat transaksi di Arab. Raja Samudera (Meurah Silu) berasal dari Yaman dan merupakan yang membawa Islam dari Arab. "Mungkin kalian pernah baca di internet bahwa Meurah Silu membangun kerajaan ini setelah masuk Islam. Itu perspektif yang salah. Beliau bukan keturunan orang biasa, tetapi sangat dimuliakan bahkan dari buyutnya," tambahnya.  

Foto: Razwa Syuib (Magang)

Sampai saat ini, masyarakat Samudera masih memiliki harta koin tersebut. "Kami biasanya ketemu di tambak, atau di tanah kalau ada pembangunan. Masyarakat jual ke saya, harganya menurut ukuran. Kalau kecil bisa satu juta lima ratus atau dua jutaan. Nanti kami jual ke luar negeri," jelasnya.

Menjual koin dinar yang ditemukan sudah menjadi sumber ekonomi warga sekitar. Awalnya mereka tidak paham untuk menjual ke luar negeri. "Dulu, waktu kecil-kecil kami gak paham tentang barang yang ditemukan begitu. Sering kita ketemu barang antik seperti piring cap Naga, biasanya dipakai oleh raja dan keluarga. Banyak manfaat dari piring tersebut salah satunya bisa menghilangkan racun pada makanan. Dulu, kalau ada musuh bisa saja diracun. Nah, keluarga raja menggunakan piring tersebut jadinya tidak beracun," lanjut Marzuki.

Saat Aceh dilanda tsunami pada tahun 2004, pesisir Aceh Utara termasuk Samudera juga terkena bencana tersebut. Namun, uniknya pembatas Makam Sultan Samudera Pasai tidak tersentuh air sedikitpun. Sementara itu, warga sekitar bisa menangkap ikan yang berserakan di dekat makam akibat terbawa air laut. "Banyak orang yang tidak tau kalau sebenarnya Sultan Malik Adh-Dhahir tidak dimakamkan. Itu yang ada disamping makam ayah beliau, Sultan Malik Ash-Shalih hanya monumen sebagai bukti bahwa beliau patut dikenang. Beliau tidak syahid, tetapi raib saat hendak dibunuh oleh musuh sampai sekarang tidak ada berita tentang beliau. Itulah kelebihan orang alim," terangnya.

Marzuki berharap agar anak muda mau mengulik kembali sejarah para leluhur, terutama tentang agama dan keimanan.


Penulis: Annisa Maulianda (Magang)

Editor: Tiara Khalisna

 

Makam Sultanah Nahrisyah: Saksi Kejayaan Islam dan Peran Perempuan dalam Sejarah Aceh

Foto: Chalisa Najla Safira (Magang)

www.lpmalkalam.com- Kompleks Makam Putroe Nahrisyah merupakan salah satu peninggalan penting dari Kerajaan Samudra Pasai yang menjadi bukti kejayaan Islam pada masa lampau dan masih tertinggal hingga kini. Kompleks ini terletak di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara. Untuk mewawancarai langsung, Kelompok Satu Calon Kru (Cakru) Magang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe melakukan kunjungan pada Minggu (26/10/2025).

Sultanah Nahrasiyah binti Zainal Abidin bin Ahmad bin Muhammad bin Malikussaleh. Sultanah Nahrasiyah merupakan keturunan ke-4 dari Sultan Malikussaleh. Ia dikenal sebagai pemimpin perempuan bijaksana dan berpegang teguh pada ajaran Islam. Batu nisannya dihiasi dengan ukiran kaligrafi Arab yang mengandung doa serta ayat-ayat Al-Qur’an. "Salah satu ukiran yang ada di Makam Sultanah Nahrasiyah itu ukiran Surah Yasin. Ukiran itu dibuat untuk melambangkan kepemimpin perempuan yang berhasil mencapai kejayaan Islam dengan keemasan dan gemilang," jelas pengurus makam.  

"Yang besar ini merupakan monumennya yang didatangkan langsung dari Gujarat, India, sedangkan kuburnya yang asli ada di sampingnya. Disampingnya adalah makam ayahnya Zainal Abidin. Sama juga, yang besar ini monumennya dan makamnya ada di samping," tambahnya.

Menurut penuturan pengurus makam, hingga saat ini masih banyak pengunjung yang datang ke Makam Sultanah Nahrasiyah, mulai dari siswa SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa. Mereka berkunjung untuk melihat secara langsung dan mempelajari nilai sejarah serta edukasi yang terdapat di makam tersebut.

Dengan renovasi, semoga makam ini dapat terus menjadi tempat edukasi, penelitian, dan wisata sejarah yang memperkenalkan peran penting perempuan dalam sejarah Islam khususnya di Aceh.


Penulis: Chalisa Najla Safira (Magang)

Editor: Tiara Khalisna
 

Dua Rumah Warga Gampong Meunasah Keh, Meurah Mulia, Terbakar Diduga Akibat Arus Listrik

Foto: Muhammad Alif Maulana 

www.lpmalkalam.com- Kebakaran melanda dua unit rumah berdempetan milik dua keluarga di Gampong Meunasah Keh, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, tepat setelah waktu salat Asar. Api pertama kali muncul di ruang tamu salah satu rumah yang dalam keadaan kosong, diduga akibat arus pendek listrik, pada Kamis (30/10/2025).

Menurut keterangan warga sekitar, kedua rumah tersebut memiliki ukuran total sekitar 16 x 6 meter. Salah satunya terbuat dari bahan kayu, sedangkan satu rumah lainnya bersifat setengah permanen. Karena posisi rumah berdempetan dan kondisi cuaca cukup panas, api dengan cepat membesar dan menjalar ke rumah di sebelahnya hingga membakar seluruh bangunan.

Saat kejadian, pemilik rumah tidak berada di tempat. Warga yang melihat asap tebal dari kejauhan segera berlarian ke lokasi untuk membantu memadamkan api dengan alat seadanya sambil menunggu petugas pemadam kebakaran tiba.

“Api tiba-tiba sudah besar, kami hanya sempat menyelamatkan sedikit barang-barang,” ujar salah seorang warga yang ikut membantu memadamkan.

Sebanyak tiga unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi untuk mencegah agar kobaran api tidak meluas ke rumah di sekitarnya.

Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian material diperkirakan mencapai Rp140 juta. Beberapa perabotan, pakaian, kasur, dan lemari hangus terbakar tanpa sisa.

Foto: Muhammad Alif Maulana 

Menurut warga, kebakaran bermula dari ruang tamu akibat arus listrik, kemudian menyebar ke atap dan menjalar ke rumah di depannya. Menjelang waktu Magrib, petugas pemadam bersama warga berhasil memadamkan api sepenuhnya.

Untuk membantu korban, aparatur gampong dan unsur Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) Kecamatan Meurah Mulia turut hadir di lokasi. Hingga saat ini, penyelidikan tambahan masih dilakukan untuk memastikan penyebab kebakaran dan menghitung total kerugian.


Reporter: Muhammad Alif Maulana

Editor: Putri Ruqaiyah
 

28 Oktober 2025

Belajar Melalui Tempat Bersejarah: Kunjungi Makam Malikussaleh

Foto: Razwa Syuib 

www.lpmalkalam.com- Kelompok Tiga Calon Kru (Cakru) Magang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe mengunjungi Makam Sultan Malikussaleh yang terletak di kawasan Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara pada Jumat (17/10/2025).

Tujuannya adalah untuk menjadi menelusuri lebih dalam sejarah yang melekat pada makam pendiri pertama Kerajaan Samudra Pasai yang menjadi salah satu situs bersejarah di Aceh Utara. Dalam kunjungan tersebut, Marzuki selaku penjaga situs bersejarah itu menjelaskan bahwa terdapat dua makam utama di komplek tersebut; makam pertama adalah Meurah Silu, bergelar Sultan Malikussaleh, pendiri pertama kerajaan Islam Samudra Pasai. Di sebelahnya terdapat makam putranya yang bernama Muhammad, Sultan kedua Samudra Pasai yang bergelar Sultan Muhammad Al- Malik Adz-Zahir.

Sultan Malikussaleh memerintah sejak 1267 M hingga 1297 M. Di masa kepemimpinannya, Samudra Pasai berkembang pesat menjadi kerajaan Islam pertama di Nusantara dengan pusat perdagangan yang ramai di pesisir utara Sumatera. Namun, kejayaan Samudra Pasai mulai memudar pada abad ke-14 akibat serangan dari Kerajaan Majapahit serta persaingan dagang dengan kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya. Runtuhnya Samudra Pasai juga dipengaruhi oleh melemahnya pemerintahan dan konflik internal di kalangan bangsawan kerajaan.

Sultan Malikussaleh dikenal dengan sebutan Al-Fatih, yang berarti penakluk. Namun, penaklukan yang dimaksud bukan melalui peperangan atau pertumpahan darah, melainkan melalui akhlakul karimah atau budi pekerti. Dengan keteladanan beliaulah penduduk lokal tersentuh hatinya untuk memeluk islam dengan suka rela tanpa adanya paksaan.

Foto: Razwa Syuib 

Marzuki menuturkan, ”Sekarang banyak buku sejarah yang isinya bercampur, ada yang mengatakan bahwa Sultan Malikussaleh baru memeluk Islam. Padahal, itu tidak benar,” ujarnya. Jika di perhatikan, di batu nisan beliau tertulis gelar Al-Hasib An-Nasib yang berarti beliau berasal dari keturunan mulia dan terhormat. Bahkan, kakeknya berasal dari Yaman, sehingga dapat dipastikan beliau telah memeluk Islam sejak awal.

Selain berbagi kisah sejarah, Marzuki juga menyampaikan harapan agar pemerintah lebih peduli terhadap situs Makam Sultan Malikussaleh. Marzuki berharap makam tersebut dapat dilestarikan dan dikelola dengan baik sebagai warisan sejarah Islam di Nusantara. "Kalau di Jawa, tempat-tempat bersejarah dirawat dan dijaga dengan baik. Kami berharap Makam Sultan Malikussaleh juga mendapat perhatian yang sama dari pemerintah karena nilai sejarahnya sangat besar bagi generasi muda," ungkapnya

Kegiatan kunjungan seperti ini menjadi sarana pembelajaran untuk mengenal lebih dekat sejarah Islam di Nusantara. Melalui penjelasan yang disampaikan, pengunjung tidak hanya memahami perjalanan sejarah Sultan Malikussaleh, tetapi juga meneladani sifat-sifat beliau yang patut kita contoh, seperti keadilan, keteladanan, dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. 

Kunjungan ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan tokoh-tokoh Islam terdahulu di bumi Aceh.


Penulis: Razwa Syuib (Magang)

Editor: Tiara Khalisna
 

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0823-6508-3003 (Pemimpin Redaksi) 0852-6227-8755 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.