![]() |
| Foto: IST |
Foto: Nurul Fadilah www.lpmalkalam.com - Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) L...
![]() |
| Foto: IST |
![]() |
| Foto: Fika Munayya |
Bagi penulis, acara ini bukanlah kegiatan biasa. Penulis menganggap pelatihan ini sebagai kesempatan untuk memperoleh dan memahami ilmu-ilmu jurnalistik yang disampaikan langsung oleh para jurnalis profesional. Di sini, para peserta dapat bertanya secara langsung mengenai hal-hal yang ingin mereka ketahui dan pelajari terkait dunia penulisan jurnalistik.
Acara berlangsung dengan lancar. Berbagai peserta aktif bertanya kepada pemateri selama kegiatan ini berlangsung. Jam mulai menunjukkan pukul 11.00, menandakan bahwa acara telah berlangsung cukup lama tanpa terasa. Penulis tersenyum bahagia. Ia berharap suatu saat nanti dapat kembali bertemu dengan para jurnalis hebat untuk terus mencari ilmu tentang jurnalistik. Penulis juga yakin akan ada banyak cerita bermakna yang akan ia temui di hari-hari mendatang.
Penulis: Cut Saputri (Magang)
![]() |
| Foto: Razwa Syuib (magang) |
Ketika aku bertanya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu karya, ibu itu hanya tersenyum dan bilang, ”Tergantung nak. Kalau gantungan, ga lama buatnya, paling sejaman. Kalau kotak tisu kaktus, itu bisa sehari, soalnya agak rumit." Setiap hasil rajutannya punya bentuk dan fugsi berbeda-beda, ada gantungan mobil, tempat tisu, dompet, dan lainnya. Uniknya, pembeli yang datang kebanyakan dari luar daerah, misalnya dari jakarta yang beli buat oleh-oleh karena bentuknya lucu dan beda dari yang lain.
Dari cerita ibu itu, aku jadi sadar bahwa sesuatu yang kita suka bisa jadi jalan rezeki kalau ditekuni. Hobi yang awalnya cuma buat senang-senang malah bisa bantu ekonomi keluarga. Di zaman sekarang, karya buatan tangan seperti ini, justru punya nilai tersendiri karena di buat dengan sabar dan penuh cinta. Makanya, penting banget buat kita menghargai dan mendukung para pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang berkreasi dari hal-hal sederhana seperti merajut.
Penulis: Razwa Syuib (Magang)
Editor: Tiara Khalisna
![]() |
| Foto: Daffa Alkausar (magang) |
Waduk Jeulikat mulai dibangun pada tahun 2014 dan resmi beroperasi pada 2016. Pada masa awal pembukaan, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan lokal hingga luar daerah karena menawarkan pemandangan indah dan suasana tenang. Kawasan wisata tersebut juga dilengkapi fasilitas seperti bebek dayung, jembatan, dan taman bunga yang menjadi daya tarik utama pengunjung.
Namun, sejak pandemi Covid-19 melanda pada 2019, aktivitas wisata di waduk tersebut terhenti total. Tidak ada lagi pengunjung, dan pengelolaan pun berhenti karena keterbatasan dana. Akibatnya, fasilitas rusak, tumbuhan liar menutupi sebagian area, dan waduk berubah menjadi kawasan sunyi tanpa aktivitas.
Salah seorang pengunjung asal Aceh Tamiang, Samsiah, mengaku kecewa setelah melihat langsung kondisi Waduk Jeulikat. “Waktu saya lihat di Google Maps itu bagus, tapi setelah datang ke lokasi, sangat mengecewakan. Sunyi, tidak terawat, dan tampak berantakan. Jadi saya tidak tertarik lagi,” ujarnya.
Kondisi waduk yang tidak terurus itu juga menimbulkan kekhawatiran warga sekitar. Minimnya pengawasan membuat kawasan tersebut berisiko menjadi lokasi berbahaya, bahkan sempat menelan korban jiwa akibat area yang tidak terjaga.
Penjaga waduk, Mirsa Arianda, menjelaskan bahwa Waduk Jeulikat bukan milik pemerintah daerah, melainkan milik pribadi. Hal tersebut membuat pengelolaan dan pembiayaan sepenuhnya bergantung pada pemilik. “Sebenarnya waduk ini bukan ditelantarkan, tapi berhenti beroperasi sejak pandemi karena tidak ada pengunjung. Setelah itu, dana pengelolaan habis, jadi tidak bisa lagi membayar petugas dan menjaga kebersihan,” jelasnya.
Mirsa menambahkan, pemilik waduk kini berencana menghidupkan kembali kawasan wisata tersebut. “Ada rencana untuk membangun ulang dan menata kembali area wisata ini. Kami menunggu waktu dan kondisi yang tepat agar bisa dikelola kembali secara aman dan baik,” ujarnya dengan optimistis.
Meski terbengkalai, Waduk Jeulikat masih menyimpan potensi besar. Pemandangan alam yang dikelilingi perbukitan hijau menawarkan keindahan yang layak dikembangkan kembali. Warga berharap agar Pemerintah Kota Lhokseumawe dapat memberikan perhatian lebih, baik melalui kerja sama, pendampingan, maupun promosi wisata. “Dengan penataan ulang dan dukungan yang tepat, Waduk Jeulikat berpotensi kembali menjadi destinasi unggulan Lhokseumawe bukan hanya untuk rekreasi, tetapi juga sebagai sumber ekonomi baru bagi masyarakat setempat melalui usaha kecil dan layanan wisata,” harap salah satu warga sekitar.
Penulis: Intan Sarifah, Daffa Alkausar, Muhammad Iftal, Luthfiatil Syaqirah (magang)
Editor: Putri Ruqaiyah
![]() |
| Foto: Rizky Ramadhani (Magang) |
Seluruh pedagang dan mahasiswa lainnya ikut memeriahkan acara ini dan bahkan beberapa mahasiswa berpartisipasi untuk turun langsung berjualan. Barang yang dijual pun beraneka ragam, sesuai dengan kebutuhan anak muda zaman sekarang.
Acara ini menjadi wadah bagi para pedagang dan mahasiswa dalam memajukan Unit Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta menjadi tempat untuk melatih kreativitas mahasiswa dalam berwirausaha. Hal tersebut merupakan wujud dari tujuan organisasi mahasiswa yang dapat memberikan kontribusi. Dari hal tersebut terciptalah dampak positif yang akan berdampak untuk masyarakat.
Melalui acara ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam meningkatkan keterampilan berwirausaha sekaligus mempererat silahturahmi antar pedagang dengan mahasiswa. "Semoga semakin maju dan semakin sukses lagi acara ini untuk ke depannya serta semoga hasil jualan kami bisa laku keras," ujar salah satu mahasiswa yang turut bergabung dalam kegiatan ini.
Penulis: Rizky Ramadhani (Magang)
Editor: Zuhra
![]() |
| Foto: Intan Sarifah (Magang) |
Semangat itu tampak nyata dalam kegiatan Musabaqah Jami’ah yang digelar oleh Ma’had Al-Jami’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe. Lomba yang meliputi Musabaqah Baca Kitab Kuning, Debat Bahasa Arab, dan Debat Bahasa Inggris ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi cerminan bahwa santri masa kini tidak hanya berkutat pada kitab kuning, melainkan juga mampu menguasai bahasa dan berpikir kritis.
Tema yang diusung, “Santri Cerdas Literasi Turats, Unggul Berdebat, dan Tangguh dalam Akhlak,” mengandung pesan yang sangat relevan. Santri dituntut untuk tidak kehilangan akar tradisi keilmuan Islam (turats), tetapi juga harus berani menatap dunia luar dengan kemampuan intelektual dan keterampilan global.
Kecerdasan literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca teks klasik, tetapi juga memahami konteks zaman. Penguasaan bahasa Arab dan Inggris menjadi bukti bahwa santri siap berdialog dengan dunia, menyampaikan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tengah arus globalisasi yang sering kali menantang moralitas dan akhlak.
Namun, di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, santri harus tetap tangguh menjaga akhlak. Ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan generasi pintar yang kehilangan arah. Di sinilah letak keistimewaan seorang santri: ilmu dan adab berjalan seiring, bukan saling meniadakan.
Perayaan Hari Santri seharusnya menjadi refleksi, bukan hanya peringatan. Sudah sejauh mana santri berperan di masyarakat? Apakah santri hanya menjadi simbol kesalehan, atau benar-benar menjadi agen perubahan sosial?
Jika santri mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas, antara ilmu dan akhlak, maka tidak diragukan lagi — merekalah generasi yang akan membawa cahaya Islam ke tengah kegelapan zaman.
![]() |
| Foto: IST |
Fokus pada materi yang dipilih berupa bullying, keamanan seksual, dan etika menghargai guru, bukan hanya sekadar tema yang populer tetapi respons terhadap realitas sosial yang mendesak. Program BKI Saweu memahami urgensi ini dan mengemas ilmu konseling yang sering terasa berat dan akademis menjadi edukasi yang aplikatif, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
1. Lebih dari Sekadar Program Pengabdian Masyarakat
BKI Saweu menciptakan ekosistem perlindungan anak yang inklusif. Program ini tidak hanya mengedukasi, tetapi juga membuka ruang dialog di mana anak-anak merasa aman untuk bertanya, berbagi, dan belajar mengenali risiko tanpa stigma. Dalam jangka panjang, dampaknya bisa jauh melampaui sesi edukasi: anak-anak yang terliterasi dengan baik tentang batasan diri dan hak-hak mereka akan tumbuh menjadi individu yang lebih tangguh, kritis, dan mampu melindungi diri sendiri maupun orang lain.
2. Model Program Kemahasiswaan yang Inspiratif
BKI Saweu layak menjadi model bagi program kemahasiswaan lainnya, ia membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan menara gading, melainkan sumber daya yang harus mengalir ke masyarakat. Ketika ilmu konseling dibawa keluar dari ruang kelas dan diterjemahkan menjadi aksi nyata, di situlah perubahan sosial yang bermakna dimulai.
Penulis: Cut Saputri (Magang)
Editor: Zuhra
![]() |
| Foto: Intan Sarifah (Magang) |
Tema yang diangkat, yaitu “Potensi dan Strategi Pengelolaan Migas Aceh dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Regional dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat” menegaskan bahwa energi bukan hanya soal produksi minyak dan gas, tetapi juga bagaimana pengelolaannya dapat memberi dampak nyata terhadap kesejahteraan rakyat. Kehadiran Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Aceh sebagai inisiator menunjukkan bahwa mahasiswa ingin mengambil bagian dalam membangun paradigma energi yang berkeadilan, transparan, dan berkelanjutan.
Dari suasana acara terlihat bahwa ruang ini bukan hanya tempat bertanya, tetapi juga tempat lahirnya kesadaran kolektif: Aceh memiliki potensi besar, namun tanpa pengelolaan yang tepat, kekayaan migas hanya akan menjadi angka dalam laporan tanpa menyentuh kehidupan masyarakat. Diskusi semacam ini menjadi penting karena membuka cakrawala mahasiswa tentang hubungan strategis antara energi dan ekonomi regional. Mahasiswa yang hadir bukan hanya sebagai pendengar, tetapi juga sebagai agen perubahan yang akan mengawal agar pengelolaan energi Aceh tidak jatuh pada eksploitasi tanpa keberpihakan.
Melalui acara ini, terbentuklah jembatan antara ilmu, kesadaran sosial, dan aksi. Jika kesadaran ini terus dijaga, maka generasi muda Aceh tidak hanya menjadi saksi atas eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga menjadi bagian dari pengelolaannya yang adil dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Kini, tugas utama mahasiswa adalah menjaga agar semangat ini tidak berhenti di ruang seminar, melainkan terus hidup dalam langkah-langkah nyata menuju kemandirian energi Aceh yang berkelanjutan.
Penulis: Daffa Alkausar (Magang)
![]() |
| Foto: Pexels |
Bagi sebagian mahasiswa, membaca lewat aplikasi digital lebih disukai karena praktis dan tidak membutuhkan biaya tambahan. Inayah Assyifa, mahasiswa semester 1, mengaku lebih nyaman membaca secara digital.
“Lewat aplikasi digital karena tidak harus membayar, kalau buku kan harus beli dulu dan bisa saja rusak. Selain itu, lebih mempermudah saat ingin membaca karena nggak perlu repot bawa buku lagi,” ujarnya.
Meski demikian, Inayah juga menyadari risiko dari kebiasaan membaca digital. “HP itu ada radiasinya, bisa bikin mata cepat rusak kalau terlalu lama dipakai,” tambahnya.
Di sisi lain, ada juga mahasiswa yang tetap setia dengan buku cetak. Yuli Sabila Geubrina, mahasiswa semester 3, mengaku lebih nyaman membaca dari buku cetak.
“Aku lebih suka baca buku cetak karena lebih nyaman. Dari kecil udah terbiasa baca buku, apalagi dulu buku pelajaran pasti bentuknya cetak. Sejak SMP juga sering baca cerita atau novel. Menurutku, kalau baca buku cetak lebih mudah konsentrasi, dan gampang kalau mau tandai bagian yang sudah dibaca,” jelasnya.
Menurut Yuli, tren membaca digital wajar saja karena lebih praktis dan mudah diakses. Namun, ia menegaskan bahwa buku cetak tetap memiliki keistimewaan tersendiri.
“Menurutku wajar aja kalau digital lebih praktis. Tapi tetap ada sisi positif dari buku cetak, karena pengalaman membacanya beda dan lebih berkesan,” ujarnya.
Fenomena perbedaan preferensi ini menunjukkan adanya kelebihan dan kekurangan pada masing-masing media. Membaca digital menawarkan kemudahan, akses cepat, dan biaya lebih murah, namun berisiko membuat mata cepat lelah serta mengurangi fokus. Sementara itu, membaca buku cetak memberikan kenyamanan, konsentrasi lebih baik, serta pengalaman yang lebih berkesan, meski cenderung lebih mahal dan kurang praktis dibawa ke mana-mana.
Dengan semakin berkembangnya era digital, pergeseran budaya membaca ini menegaskan bahwa literasi mahasiswa kian beragam. Pilihan antara buku cetak maupun digital kembali pada kenyamanan masing-masing individu. Yang terpenting, semangat literasi tetap terjaga agar budaya membaca terus tumbuh seiring dengan kemampuan generasi muda beradaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dari pengalaman membaca itu sendiri.
Penulis: Amanda Zuhra