![]() |
| Foto: Putri Ruqaiyah |
Kegiatan diawali dengan penampilan Rapai dan Debus, kemudian dibuka secara resmi oleh pembawa acara (MC) serta dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Rangkaian acara turut menampilkan tari tradisional dan pembacaan puisi oleh Jihan Fahyra yang diiringi aransemen musik.
Seminar menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Tgk. Yusdedi, Reza, Raihan Ansuri, serta pengrajin alat musik Canang, Junaidi. Dalam sesi diskusi, salah satu peserta mengajukan pertanyaan mengenai kondisi Generasi Z yang dinilai mulai kurang mengenal adat dan budaya daerah, khususnya Canang Cereukeh.
Menanggapi pertanyaan tersebut, narasumber menyampaikan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui pendidikan, seni, dan nilai-nilai agama. Dalam pemaparannya, salah satu narasumber menyampaikan, “Dengan ilmu menjadi mudah, dengan seni menjadi indah, dan dengan agama menjadi terarah.” Narasumber juga menjelaskan bahwa adat istiadat tidak hanya digunakan dalam kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Selain itu, narasumber menyinggung pentingnya pelestarian budaya daerah melalui berbagai upaya, termasuk penguatan regulasi daerah. Menurut pemateri, setiap daerah memiliki identitas budaya yang perlu dipertahankan sebagai bagian dari karakter masyarakat setempat. Acara ini kemudian ditutup dengan penampilan seni budaya yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Canang Ceureukeuh. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara narasumber, panitia, dan peserta yang hadir.
Penulis: Daffa Alkausar


















