HEADLINE

Latest Post
Loading...

22 January 2022

Presiden Mahasiswa IAIN Lhokseumawe Serukan Pentingnya Sejarah Keacehan

 
Foto : IST

www.lpmalkalam.com - Presiden Mahasiswa IAIN Lhokseumawe menyerukan agar pemerintah Aceh memberikan edukasi terbaik kepada generasi-generasi yang sedang dibanjiri oleh era digitalisasi, Sabtu (22/01/2022).

Hari ini Aceh menjadi pusat sejarah sekaligus sebagai pusat peradaban Islam yang dikemuka, bahkan berdatangan banyak orang dari segenap penjuru dunia ke tempat-tempat bersejarah yang ada di Aceh. Kita melihat hari ini bagaimana perkembangan Aceh yang begitu pesat baik pembangunan fisiknya maupun pembangunan sumber daya manusianya.

Kita berharap Aceh menjadi pusat sejarah selamanya, tidak hanya situs-situs yang berharga yang ditinggalkan tetapi ada manusia-manusia yang mampu meneruskan kehebatan, kegagahan dan kemegahan Aceh di masa depan.

Seluruhnya apa-apa yang bisa kita elaborasikan dan persiapkan selain dari pada pembangunan fisik semata, namun kita juga harus mempersiapkan generasi-generasi yang bisa memberikan kebermanfaatan baik kepada lingkungan sekitarnya maupun kepada Aceh khususnya.

Hari ini sebagian besarnya kita tidak mengenal sejarah masa lalu, sejarah kegemilangan Aceh dan bahkan nyaris di sekolah-sekolah dalam buku-buku pelajaran tidak pernah diceritakan penuh bagaimana Aceh di masa dulu.

"Saya sendiri sampai hari ini masih banyak yang perlu dipelajari dari sejarah aceh," ujar Maulana selaku Presiden Mahasiswa IAIN Lhokseumawe.

Perjuangan-perjuangan pahlawan yang telah mendahului kita yang sangat berharga mestilah diajarkan kepada seluruh masyarakat Aceh khususnya bagi pelajar, mahasiswa, dan pemuda. Jika sejarah tidak pernah diajarkan maka kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang maju di masa yang akan datang sebab tidak punya role model dalam menata dan melangkah. Orang yang tidak mengenal sejarah maka tidak pernah mengenal siapa dirinya, sejarahlah yang membuat secara simbolis kita menjadi bangsa yang punya martabat di mata dunia.

Pemuda-pemuda hari ini ini sibuk melayani diri sendiri. Pertanyaanya apakah mereka peduli bagaimana Aceh di masa depan?

Era disrupsi ini telah menghadirkan mesin-mesin digital yang serba canggih sehingga kita berkembang karena kita bergantung pada alat.

"Saya berharap kepada seluruh elemen yang ada di Aceh untuk kembali memberikan edukasi terbaik kepada generasi Aceh yang akan datang," seru Maulana.

Ada banyak hal yang perlu dituntaskan dan diselesaikan tidak hanya pembangunannya tetapi juga yang paling sakral adalah manusianya. Perlu adanya edukasi terbaik sehingga mampu memberikan output terbaik bagi Aceh nantinya. Selaku mahasiswa, Maulana mengaku menginginkan adanya kurikulum keacehan khususnya yang di dalamnya terdapat banyak sejarah Aceh yang bisa diakses sampai pelosok-pelosok.

Tanggung jawab kita bersama bangsa aceh untuk memperkenalkan siapa Aceh dan bagaimana Aceh di masa depan. "Saya berharap literasi sejarah tidak hanya historis tetapi juga secara sentralistis bisa dijangkau dengan mudah oleh setiap generasi gemilang aceh," tutupnya.


Sumber : Rilis

Editor : Redaksi

DEMA IAIN Lhokseumawe Turut Memperingati Wafatnya Tgk Abdullah Syafi’i

Foto : IST
www.lpmalkalam.com - Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Lhokseumawe turut memperingati hari wafatnya panglima Gerakan Aceh Merdeka Tengku Abdullah Syafi’i, Sabtu (22/01/2022).

Maulana, selaku Presiden mahasiswa IAIN Lhokseumawe menghimbau kepada seluruh rakyat Aceh agar mengenang kembali tokoh-tokoh perjuangan Aceh di masa silam, yang mana pada saat itu kita pernah berjaya mulai dari kerajaan sampai timbulnya gerakan-gerakan pembaharuan di Aceh yang dengan itu telah mewarnai Aceh dengan variasi yang baru.

Aceh pernah mempunyai raja yang membawa pengaruh bagi Aceh yang berdaulat dan bersahaja. "Saya begitu mengagumi Syiah Kuala, Iskandar Muda, Sultan Malikussaleh dari tokoh perjuangan Teungku Muhammad Daud Beureueh, Tengku Hasan di Tiro," ujar Maulana.

Bertepatan tanggal 22 Januari 2002 Tengku Abdullah Syafii kembali kepada yang kuasa. Beliau wafat dalam perjuangan dan meninggalkan marwah perjuangan dan beribu-ribu harapan kepada kita semua. Duka cita yang besar ini pada saat berkabung Aceh 44 hari, di mana Aceh berduka telah kehilangan tokoh bangsa yang telah membersamai perjuangan Aceh pada waktu itu.

Melalui ini kita perlu mempelajari kembali sejarah Aceh di masa silam sebagai tonggak untuk  melangkah ke masa depan.

Kepada pemerintah Aceh terkhusus, seharusnya memberikan edukasi terbaik kepada generasi-generasi tentang bagaimana perjuangan Aceh di masa dahulu. Sampai hari ini kita menginginkan perubahan-perubahan besar tetapi juga kita harus memperbaiki sejarah masa lalu untuk memperkenalkannya kepada seluruh rakyat Aceh secara menyeluruh.

Sejarah ini bisa ditemukan dalam buku-buku sejarah dalam lembaran-lembaran manuskrip kuno yang ada di Aceh dan kita tidak bisa melupakan hal tersebut, karena sejarah itu adalah marwah yang harus kita jaga, yang harus kita proteksi bersama agar orientasi Aceh bisa kembali berdaulat seperti di masa silam.


Sumber : Rilis

Editor : Redaksi

28 February 2021

Pentingnya Mahasiswa Berorganisasi




Foto : IST



Organisasi adalah suatu wadah untuk tempat berkumpul, bertukar pikiran dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Terdapat banyak organisasi di lingkungan kampus maupun masyarakat. Namun kurangnya kesadaran mahasiswa dalam berorganisasi menyebabkan minimnya minat untuk bergabung di organisasi. Kebanyakan mahasiswa menjadi Kupu-Kupu (Kuliah-pulang Kuliah- pulang) atau Kunang-Kunang (Kuliah nangkring- Kuliah nangkring). Tak banyak yang pandai menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat seperti berorganisasi. 


Sebagian besar mahasiswa sekarang hanya datang ke kampus untuk sekadar mendengarkan materi yang diberikan dosen kemudian pulang dan duduktduduk dengan teman-teman nya.  Ketika sebuah pertanyaan, mengapa tidak berorganisasi? Jawaban mereka ratrtBerorga sama. Mau fokus kuliah, tidak sempat, tidak bisa bagi waktu, takut karena suka demo-demo, dan lain sebagainya. Sebagai mahasiswa yang dikatakan bagian dari kaum intelektual seharusnya bisa menghabiskan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat. Tidak hanya kuliah, pulang, atau sekadar hangout bareng teman. Hal itu hanya menghabiskan waktu dan menghabiskan uang tentunya. 


Berorganisasi juga bukan karna ikut-ikutan saja. Kesadaran berorganisasi membawa banyak manfaat yang bisa diperoleh. Seperti memperluas pergaulan, dapat meningkatkan wawasan (pengetahuan), meningkatkan kemampuan komunikasi, melatih kepemimpinan (leadership), memperluas jaringan, belajar mengatur waktu, membentuk pola pikir yang baik, dan banyak manfaat lainnya yang kita dapatkan. Di era globalisasi seperti sekarang ini, untuk memperoleh pekerjaan tak cukup hanya dengan mengandalkan gelar dan ijazah serta IPK tinggi. Setiap tahun semua Universitas, baik negeri maupun swasta banyak meluluskan wisudawan/ti terbaiknya. Untuk itu kita dituntut untuk mampu bersaing sebagaimana tuntutan zaman. Tidak pula cukup dengan hanya mengandalkan hard skills melainkan juga mempunyai soft skills yang akan menjadi perbedaan dengan yang lainnya. 


Berorganisasi, kita juga dapat menemukan jati diri. Sebagaimana menjadi mahasiswa intelektual, tidak hanya duduk mendengarkan teman mempresentasikan makalahnya atau duduk mendengar dosen berbicara. Kita bisa mengenal dunia kampus lebih luas. Dalam berorganisasi kita dilatih akan hal kepemimpinan, Karena pada dasarnya setiap diri adalah pemimpin terutama pemimpin untuk diri sendiri. Yang tadinya tidak bisa atau gugup ketika berbicara didepan orang banyak, maka di organisasi inilah dilatih. Kita juga dapat menjadi mahasiswa yang kritis terhadap sesuatu, sebagai mahasiswa yang intelektual kita harus kreatif dan inovatif. Berbeda dengan orang-orang yang tidak pernah berorganisasi, mereka pasti malu untuk berbicara didepan orang banyak bahkan untuk sekadar memberikan pendapat di dalam diskusi. Berorganisasi sangat banyak memberikan manfaat, kita bisa mendapatkan teman yang banyak, dari yang tidak kenal menjadi kenal, berteman tidak hanya dari satu kelas atau jurusan saja , tapi juga mempunyai teman dari berbagai jurusan, fakultas bahkan universitas yang berbeda. Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu atau kunang-kunang, bahkan jadi batu. Kita juga harus memberikan dampak positif untuk diri kita sendiri dan orang lain. 


berorganisasi kita juga harus pandai memilih dan memilah organisasi yang cocok dengan kita. Memang pada dasarnya semua organisasi itu baik , yang tidak baik adalah ketika orang tersebut malah menyalahgunakannya sehingga dapat merugikan dirinya dan orang-orang dalam organisasi tersebut. Ketika kita masuk disebuah organisasi kita juga harus menunaikan hak dan kewajiban kita, harus sadar akan fungsi dan peranan kita didalam sebuah organisasi. Jangan hanya datang ketika dipanggil saja. Bahkan kadang menghilang begitu saja setelah mendapat apa yang diinginkan di organisasi tersebut. Mahasiswa yang berorganisasi juga harus bisa menyeimbangkan antara organisasi dengan akademiknya. 


Terkadang ada orang yang tidak bisa menyeimbangkan, maka akademiknya akan terganggu. Namun bukan organisasinya yang salah melainkan orangnya yang tidak bisa membagi waktu antara organisasi dengan akademik. Maka dari itu, marilah berorganisasi, apapun itu organisasinya, yang terpenting apa tujuan kita untuk mengembangkan persyarikatan dalam Berorganisasi dengan baik. Dan Manfaatkan waktu dengan berorganisasi guna mencari jati diri.


 Penulis : Rizki Maulizar, Kabid Keagamaan HMJ KPI IAIN Lhokseumawe 


 Editor : Redaksi

02 January 2021

Tetesan Keringat Pengrajin Tembikar

 Tetesan Keringat Pengrajin Tembikar

Oleh: Rita Suryani

www.lpmalkalam.com


Foto : hahehozonk.blogspot.com

Tembikar merupakan benda unik berbahan dasar tanah liat dari sawah serta sekam bakar pabrik padi. Perkembangan zaman membuat tembikar tak lagi menjadi primadona. Memproduksi tembikar memang bukan hal mudah, membutuhkan tenaga yang besar, waktu yang lama, kesabaran yang kokoh, serta ketelitian dalam mengolahnya hingga menjadi sebuah benda yang unik. Keletihan melestarikan tembikar berdampak pada Desa Me, Kecamatan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara. Dulunya sebagian besar penduduk desa itu berprofesi sebagai pengrajin tembikar.

Mengingat tahapan pembuatannya yang membutuhkan tenaga serta waktu yang lama, membuat produksi tembikar hampir punah dan hanya tersisa dua orang di desa tersebut. Prosesnya membutuhkan waktu yang lama, mulai dari persiapan bahan, pembentukan, penjemuran, pembakaran hingga penyempurnaan. Sebagian pot cukup pada tahap pembakaran, vas dan celengan dapat dihiasi dengan aksesori dan pewarnaaan yang memikat mata pembelinya. Proses tahapan pembuatannya tergantung pada bentuk dan kegunaan tembikar tersebut.

Salah satunya Nur Hafifah yang kerap disapa Kak Fah merupakan salah satu yang bertahan dari sekian banyak pengrajin tembikar di Desa Me. Pekerjaan itu telah ia geluti selama puluhan tahun. Rumah produksi itu hanya membuat pot, vas, dan celengan saja, Mentari terbit dari arah timur menemani wanita pengrajin tembikar itu mengerjakan tugasnya. Proses persiapan tanah liat dengan sekam bakar dicampur secara merata, dan proses pembentukan yang sangat membutuhkan keahlian dalam membuatnya.

Potret lokasi pembentukan beralaskan tanah dan atap seadanya yang dibuat agar tetesan hujan tidak melintasi pot yang sedang diukir rapi. Kak Fah yang duduk di bangku kayu kecil memfokuskan kedua bola matanya kepada tembikar yang sedang dibuat. Tanah yang sudah ulet diletakkan di atas alat putar agar terkesan mudah dibentuk. Tanah itu berputar seiring berputarnya bidang lingkaran di bawahnya. Sinar mentari mulai terlihat dari celah-celah dedaunan, Kak Fah masih menyelesaikan pot bunga yang hampir menyerupai pot di sampingnya. Tangan dan kaki yang berlumuran tanah harus ia jalani untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Banyaknya pot yang dihasilkan tergantung pada ukuran dan bentuk pot, biasanya menghabiskan waktu satu hari sampai 3 hari dalam proses pembentukan. Harganya juga bervariasi mulai dari lima ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Wanita kelahiran 1971 itu, menjadikan tembikar sebagai mata pencahariannya. “Dulu hampir setengah penduduk di desa itu berprofesi sebagai pengrajin tembikar. Membutuhkan kesabaran serta waktu yang lama membuat masyarakat tidak lagi memproduksi pot tanah liat itu. Dari sekian banyak pengrajin tembikar, hanya saya dan tetangga saya di sebelah yang masih membuatnya. Kami belajar membuat tembikar dari pelatihan yang diadakan oleh pihak industri, pengajarnya langsung didatangkan dari Bandung. Proses belajarnya selama bertahun-tahun baru menghasilkan sebuah karya,” jelasnya.

Sang penerang siang mulai mengeluarkan aura panasnya hingga ke penjuru bumi desa itu. Langit cerah pertanda surya berpihak kepada seniman wanita itu untuk melakukan pembakaran di halaman rumah. Persiapan alat dan proses pembakaran dibantu oleh suami dan anaknya. Pembakaran itu bertujuan untuk mempertahankan ketahanan pot dan terkesan berwarna. Panasnya surya mengerjap dalam pori, membakar kulit yang sudah keriput dan kusam. Keringat di wajahnya melintasi pipi yang terbakar uap sijago merah, bagaikan dedaunan yang disapa tetesan hujan.

Sengatan matahari tidak mampu membakar semangatnya yang berkobar. Pot dan bahan bakarnya disusun rapi secara teliti supaya tidak berjatuhan dan uap panas meresap secara sempurna. Hembusan angin membuat asap tidak lagi serempak dalam gepulannya. Menaburkan aromanya ke pakaian dan kulit yang terpapar sinar surya. Suara letusan pot menandingi hembusan angin, letusan itu sebagai pertanda bahwa ada pot yang pecah karena tanah liat dengan sekam bakar tidak tercampur secara merata.

Pot yang retak sebelum proses pembakaran dapat dibentuk kembali, sedangkan pot yang pecah setelah pembakaran tidak dapat diolah lagi seperti semula. Kepungan asap membuat bola mata pengrajin pot tanah liat itu berkaca kaca. Menembus rongga pernafasan yang membuatnya harus menjauh dari serangan asap. Tetapi, ia harus tetap mengawasi supaya jilatan api tidak menguasai pot. Hal itu dilakukan supaya pot berwarna merah bata seperti yang diminati oleh kebanyakan pelanggan.

“Penjualan pot ada yang dipesan ada yang dibuat langsung tanpa dipesan. Banyak dari pelanggan yang menyukai pot warna merah bata, dan ada juga yang suka warna hitam, tetapi jarang. Padahal warna hitam lebih tahan lama,” ujar wanita kelahiran Me Matang Panyang tersebut. Ketika sijago merah mulai menguasai pot dan mengalahkan kepungan asap, Kak Fah dan suaminya mencoba memisahkan pot yang sudah berwarna merah bata dengan mengambil satu persatu menggunakan kayu ukuran panjang. Mengumpulkan dan merapikan pot yang sudah dingin dengan tenaga yang tersisa.

Editor : Redaksi


Alternatif Pembiayaan Terhadap Ketahanan Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM ) sebagai Penggerak Ekonomi melalui Permodalan Nasional Madani ( PNM ) di Aceh


Foto/ilustrasi : Timlo.net

www.lpmalkalam.com- Penulis: Mardiana

Penggerakak suatu Ekonomi daerah tidak terlepas dari sector UMKM ( Usaha Mikro Kecil dan Menengah ) untuk bisa membuat suatu daerah sejahterah. Lajunya pertumbuhan Ekonomi di bidang UMKM tersebut, menciptakan suatu persaingan Bisnis yang sangat ketat. UMKM yang dulunya hanya berfokus kepada produksi, sekarang tingkah kefokusannya harus lebih di tingkahkan lagi seperti di bagian pemasaran produk atau jasa. Dan kelebihan dari sector UMKM adalah, dapat membuka peluang kepada tenaga kerja dan berkontribusi menjadi penggerak Ekonomi daerah maupun Ekonomi negara.

Dari factor – factor di atas, ada satu factor yang cukup penting yang harus diperhatikan yaitu masalah pengaksesan modal. UMKM seringkali kesulitan untuk memperoleh modal untuk usahanya. Lembaga keuangan perbankan yang menjadi tumpuan utama dalam memperoleh pendanaan memiliki persyaratan yang cukup ketak yang tidak semua UMKM dapat memenuhi persyaratan tersebut, misalnya yang paling utama adalah ketersediaan agunan ataupun persyaratan untuk membuka rekening di bank dengan uang sejumlah tertentu yang nantinya menjadi sebuah jaminan cash. Apabila kita melihat dari sisi UMKM kita dapat mengerti kondisi mereka dimana mungkin mereka beranggapan bahwa “ kita baru mau mulai usaha dan membutuhkan modal, tetapi harus menyediakan uang dan jaminan”. Namun, apabila kita melihat dari sisi perbankan, kita juga mengerti bahwa perbankan harus menerapkan persyaratan 5 C4 dan prinsip kehati-hatian ( prudent banking ) dalam menyalurkan kredit. Kalau tidak, malah bank tersebut akan di kenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu kita harus mencari solusi, untuk membantu UMKM. 

UMKM adalah suatu lembaga yang sangat berpengaruh kepada kesejahteraah ekonomi masyarakat. Selain menjadi salah satu  peluang bagi tenaga kerja, UMKM juga menjadi salah satu pendorong berkembangannya ekonomi suatu daerah. Dengan banyaknya kendala terhadap Modal yang di hadapi oleh masyarakat dalam menjalankan UMKM  di Aceh.  Salah satu solusi yang harus di lakukan adalah, mengambil jalan alternatif pembiayaan terhadap ketahanan usaha mikro kecil dan menengah ( UMKM) sebagai penggerak ekonomi melalui permodalan nasional madani ( PNM ) di Aceh. Hal ini di maksudkan untuk berjalannya sector bidang UMKM tanpa kendala dengan Modal. Sehingga dengan adanya  permodalan nasional madani ( PNM ) , dapat meningkatkan produktivitas, serta menghapus pengangguran dan kemiskinan di daerah Aceh khususnya.

Dan pada saat ini, pemerintah terlibat langsung dengan sector UMKM, melalui berbagai macam program pengembangan atau pembinaan. Usaha-usaha yang telah dilakukan pemerintah ada yang melalui formal dan non formal. Kalau secara resmi yaitu melalui jalur formal yaitu melalui departemen ataupun dinas, maupun non formal yaitu melalui lembaga swadaya Masyarakat ( LSM ).  Permasalahan dengan kendala UMKM terhadap modal usaha. Ini adalah suatu masalah yang sangat besar bagi sector UMKM.

Dengan melihat permasalahan yang terjadi di kalangan UMKM ini, maka kita harus mengambil solusi  Alternatif  Pembiayaan Terhadap Ketahanan Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM ) sebagai Penggerak Ekonomi melalui Permodalan Nasional Madani ( PNM ) di Aceh. Dengan menjalankan salah satu alternatif ini maka permasalahan yang di hadapi oleh UMKM bisa terselesaikan. Apalagi di PNM bukan hanya di bantu lewat modal saja tapi juga di damping seperti pembenahan manajemen, peningkatan kualitan sumber manusianya dan sampai ke promosi produknya. Sehingga UMKM berjalan seperti semestinya. 

Pengembangan pembiayaan yang sangat alternatif ini juga harus di control untuk menjaga keseimbangannya, antara lain sebagai berikut: (1) membuat buku catatan pengeluaran. Di awal tahap memulai usaha. (2) siapkan buku catatan pemasukan usaha. (3) buatkan buku kas utama. (4) persiapkan buku khusus buku stok barang. (5) buat buku inventaris barang.(6) persiapkan buku laba rugi.

Sistem dan pola pembiayaan serta pendampingan perempuan-perempuan dari keluarga prasejahtera yang di berlakukan PNM pada program Mekaar, terbukti mampu mendidik mereka agar lepas dari kemiskinan. Para nasabah itu senantiasa diajak untuk melatih kedisplinan dalam mengelola pinjaman modal yang telah didapatkan. Dana yang didapatkan nasabah, tidak boleh di gunakan untuk konsumtif, harus digunakan untuk usaha. Tak sebatas memberi pinjaman lunak, PNM juga melatih mereka dalam mengembangkan usaha sehingga hasilnya dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Selain PNM, belum ada pihak manapun yang menyelenggarankan program serupa.

Menurut saya Kelebihan  pembiayaan dari alternatif PNM bagi UMKM adalah :

a. Permodalan nasional madani (PNM ) mengunakan sistem syariah

b. Kebebasan membuat kontrak berdasarkan kesepakatan bersama ( tijaratan’an taradhin minkum ) dan kewajiban memenuhi akad (aqd)

c. Adanya pelarangan dan penghindaran terhadap riba ( bunga ), maysir ( judi), dan gharar ( ketidakjelasan)

d. Adanya etika ( akhlak ) dalam melakukan transaksi

e. Dokumentasi ( perjanjian/ akad tertulis ) untuk transaksi tidak tunai

f. Di sini buka saja di beri pembiayaan modal tapi juga di dampingi langsung oleh mereka terhadap UMKM.

g. Menjadikan UMKM perusahaan yang sukses.



Bisa jadi UMKM adalah sebagai salah satu solusi di dalam memperbaiki pertumbuhan ekonomi daerah Aceh. Yang telah mampu menghapus mengurangi tingkat penggangguran dan kemiskinan. Data Kementerian Negara Koperasi dan UMKM menyebutkan sector UMKM di Indonesia menyerap 97 persen tenaga kerja dan kontribusinya bagi produk domestic bruto mencapai 55,56. Namun meskipun begitu, hambatan dan kendala tetap terjadi. 

Diantaranya seperti kurangnya keahlian di dalam mengelola dana secara professional, kesulitan di dalam melawan persaingan yang sangat ketat, hingga di dalam konsisten di dalam satu usaha. Oleh Karena itu solusi yang sangat ampuh adalah dengan mengambil langkah yang Alternatif Pembiayaan Terhadap Ketahanan Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM ) sebagai Penggerak Ekonomi melalui Permodalan Nasional Madani ( PNM ) di Aceh. Di ambilnya keputusan seperti ini, dengan tujuan dapat meningkatkan ekonomi Negara maupun ekonomi daerah.


Editor              : Redaksi 








01 June 2020

Serah Bantuan Peduli Korban Banjir Desa Paya Tumpi

Foto: IST/ lpmalkalam

www.lpmalkalam.com-Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe salurkan bantuan ke rumah-rumah warga korban banjir bandang dan longsor di desa Paya Tumpi, kecamatan Kebayakan, kabupaten Aceh Tengah, Minggu (31/5/2020)

ORMAWA FEBI membantu masyarakat daerah sekitar banjir bandang dan longsor  desa tersebut, banjir bandang diperkirakan terjadi akibat hujan lebat yang berlangsung selama beberapa hari hingga robohkan sebagian rumah warga.

Ketua DEMA FEBI IAIN Lhokseumawe Fauzan Ummam mengatakan bantuan yang disalurkan berupa peralatan masak, selimut dan beberapa pakaian layak pakai.
Bantuan tersebut di berikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar.

“Ormawa FEBI meyalurkan bantuan kesetiap rumah yang roboh akibat banjir dan longsor, terutama bagi yang mengalami dampak cukup parah atas kejadian bencana alam tersebut. Sebagian masyarakat masih menginap di rumah sewaan untuk sementara waktu”, ujarnya.

“Sebelumnya ormawa FEBI melaksanakan kegiatan galang dana di seputaran Kota Lhokseumawe dan membuka open donasi bagi donatur yang ingin berbagi”, Ujar  koordinator ORMAWA FEBI Muhammad Uzeyfa.

Pihak Ormawa FEBI juga menyampaikan terimakasih kepada seluruh pihak donatur yang telah memiliki kepedulian untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah.

Rilis



Editor : Redaksi

09 April 2020

Bank Sampah Tak Bertuah di Tepi Jalan



Oleh : Putri Zuhra Furna

Detik berdetak tak terelakkan oleh tajamnya naluri, tubuh sebagai sahabat mampu menggerakkan seluruh jiwa untuk berimajinasi, dengan memompa segala kreasi serta alur fantasi yang berjalan secara normal maupun abnormal. Di penghujung sana ia memandang secara tajam tanpa berkedip hingga semerbak harum tak bertuah mulai menusuk kalbu yang mulai tertutup abu, dibalik jarak mampu menyingkap warna warni hingga menerawang yang semakin memudar dengan dilapisi abu-abu nan putih. Hingga seni tulisan tak lagi berfungsi.

Sampah, gelar yang dijuluki serta sumber masalah yang masih diperbincangkan namun tak kunjung usai. Namun tak jarang ia akan menjadi berkah apabila dimamfaatkan dengan memberi manfaat. Perihalnya, menumpuk hinga antah berantah di sepanjang tepi jalan yang hasilnya tak bisa dipungkiri sedemikian rupa. Bahwasanya sampah yang bertumpuk di pesisir jalan menuju Alue Lim, Blang Mangat Kota Lhokseumawe dan pesisir jalan Elak menuju SP 4  Alue Awee Lhokseumawe tersebut menjadi sumber masalah dalam kategori sosial dan budaya. Serta di beberapa tempat lainnya yang menjadi sasaran tempat pembuangan sampah hingga mengalami kendala dalam mengelola sampah baik organik maupun non organik. Terlebih dalam pengelolaan sampah yang menggunakan paradigm “ kumpul- angkut- buang- bakar”. Meskipun telah mengupayakan pengomposan dan daur ulang sampah, namun masih terbatas dan tidak sustainable.

Pembuangan sampah plastic dan sampah rumah tangga maupun sampah industry menjadi kebiasaan manusia dalam sehri-hari. Tangan-tangan kotor serta tangan yang tidak bertanggunga jawab dalam kebersihan menjadi cirri khas serta menjadi kebiasaan dalam turun menurun pada setiap generasi. Bukankah dalam hadist disebutkan “ kebersihan adalah sebagian dari iman” hadist riwayat At-Tirmidzi. Dalam QS. Ar-Rum:41 menyatakan yang artinya” telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali( ke jalan yang benar).”

Tanpa tulisan dan tanpa tempat bukan berarti sampah boleh dibuang dimana saja, seperti yang telah terjadi di tepi jalan tersebut. Sampah plastic rumah tangga berserakan bahkan menumpuk dan pada akhirnya menghasilkan bau yang tidak sedap serta menyengat. Pada akhirnya mengakibatkan pengguna jalan dan masyarakat sekitar terganggu akibat bau yang menyengat serta membuat lingkungan menjadi tidak sehat serta terjadinya pencemaran.


Adapun dampak yag ditimbulkan dari sampah tersebut ialah pencemaran lingkungan dan udara. Dikarenakan sampah yang sudah menumpuk akan menghasilkan bau yang menyengat setelah itu diterbangkan oleh angin ke udara dan akan berefek buruk khususnya pada daerah yang rawan serta sensitif terhadap sampah, baik itu di daerah pemukiman masyarakat, tempat wisata, dan lain sebagainya. Serta pembakaran sampah yang berlebihan juga akan berdampak buruk pada udara serta pernapasan manusia menjadi terganggu seperti CO, CO2, CH4, H2S, dan menjadi pemanasan global dikarenakan sampah yang dibakar akan memproduksi gas meta yag akan mengganggu daerah sekitar.

Selanjutnya akibat dari sampah ialah pencemaran air, terlebih air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Serta pembuangan sampah sembarangan ke sungai serta di laut maupun pinggiran laut dan tempat yang berair, dikarenakan binatang-binatang yang ada di laut akan mati dan terumbu karang akan rusak, dan ditempat berair akan menyebabkan sarang nyamuk.

Selanjutnya pembuangan sampah sembarangan akan berdampak pada sosial dan ekonomi. Karena sampah yang sudah menumpuk dan berceceran akan membuat pemandangan menjadi kotor dan kumuh, terlebih akan member pengaruh negatif bagi wisatawan yang berkunjung dan pengendara yang melewati tempat tersebut. Serta akan mengakibatkan banjir, yang pada akhirnya merusak pemukiman masyarakat serta berdampak buruk pada kesehatan masyarakat seperti timbulnya penyakit diare, kolera, tipus, dan jamur kulit, dikarenakan oleh virus sampah yang telah menumpuk dan pengololaan yang tidak tepat.

Adapun Abdul Halim Sari seorang Technical Advisor Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) mengatakan “ dalam ajaran Islam ada tiga relasi besar harus sinergis, pertama Tuhan, kedua manusia, dan ketiga alam”. Dan pepatah juga mengatakan “when we hell the earth we heal ourselves, yang artinya ketka kita menyembuhkan bumi, maka kita menyembuhkan diri sendiri”

29 January 2020

Dirimu Adalah Aku

Foto: Pixabay/ Dirimu Adalah Aku, Cerpen karya Tia Safarina/ lpmalkalam

  Aku menatap tubuh yang sama di cermin dengan ukuran cermin seukuranku. Seorang gadis sebayaku menatap bengis ke arahku. Tatapannya sangat menusuk membuat bulu kudukku merinding, apa maksud dari tatapannya itu? Siapa dia? Kenapa dia menantapku seperti itu? Pikiranku menerka-nerka mencoba mencari tahu. Dia memiliki wajah yang sama tetapi pribadi yang berbeda. 

Aku berdiri mematung tanpa bergerak sedetik pun. Senyuman pongah tersungging dari bibir manis gadis itu. Gadis itu berambut ikal yang panjangnya sedada, pakaiannya yang dipakai adalah pakaian tidur berwarna putih dan tingginya pun sama denganku. Lagi, dia tersenyum remeh padaku seolah-olah dia menentangku untuk berkelahi. Aku mendengus kesal, apa sih maunya gadis ini?

Aku menutup mata sejenak, mencoba menenangkan diriku. 
        “Kau siapa? 
“Aku?” Tunjuknya pada dirinya sendiri dengan tawa. 
       “Aku bukan siapa-siapa tapi aku adalah bagian darimu.”
Aku dibuat bingung olenya, 
       “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Coba jelaskan padaku.”

Dia ketawa getir. Aku heran dengan gadis di depanku bukannya dijawab pertanyaan melainkan ketawa. Apa dia tidak waras ketawa aneh macam itu? ketawanya pun sangat mengerikan membuatku takut saja.

“Kau takut padaku,” ucapnya dingin melihat wajahku yang ketakutan. “Kamu akan tahu siapa aku sesungguhnya.” Setelah mengatakan itu, gadis tersebut pun menghilang. Mataku terbelalak melihat gadis itu  tidak ada lagi dalam cermin. Langsung saja aku mengingsut mundur dengan tubuh bergetar ketakutan. Aku celingak-celinguk mencari ke mana gadis itu menghilang.
Aku bangkit dari tidur dengan nafas terengah-engah, keringat dingin membanjari tubuhku. Deru nafas memburu kencang tidak teratur. Aku mengelap keringat di dahiku dengan kasar. Mimpi sangat buruk.

“Mimpi itu lagi.”
Sudah seminggu, aku bermimpi aneh secara berturut-turut. Aku dibuat kewalahan dengan mimpi tersebut seolah mimpi itu hantu bagiku, tiap malam selalu saja dihantui dengan mimpi aneh.

Aku mengelap keringat pada leherku, rasanya aku seperti berlari maraton. Kemudian, aku bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Aku membersihkan diri setelah itu keluar dan kembali tidur. Namun, ketika hendak menutup mata aku mendengar suara. Aku bangun lagi, apa aku sedang berhalusinasi? Kenapa aku selalu mendengar suara aneh sedangkan suara tersebut tidak ada. 

“Tolong aku.”
Aku terlonjak kaget, aku tidak berhalusinasi. Aku mencubit tangannku refleks aku merasakan sakit. “Aku tidak bermimpi.” 

Aku menutup mataku mencoba menangkap suara tersebut. Dahiku berkerut ketika aku menangkap suara. Batinku bertanya-tanya siapa kau?

“Tolong keluarkan aku. Keluarkan aku dari sini.” Dia memohon padaku sambil menangis. Aku iba padanya tetapi aku merasa perasaan tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu jika aku membantunya.

“Ka-kau sangat mirip denganku?” Aku terkejut sambil menunjuknya. Aku mengingsut mundur.

“Aku adalah bagian darimu.” 
“Apa maksudmu?”
“Akan kuceritakan setelah kau keluarkanku dari sini.” 

Di sisi lain, aku ingin mengeluarkannya tetapi sisi lain pula aku tidak bisa melakukannya. Namun, aku penasaran dengannya. Lantaran rasa penasaranku lebih dominan aku melangkah mendekatinya.
“Bagaimana aku mengeluarkanmu.”
“Kau hanya perlu menempel kedua tanganmu pada cermin.” 
Dengan ragu-ragu aku menempelkan kedua tanganku pada cermin tersebut dan dia pun juga ikut menempelkan kedua tangannya. Sejurus kemudian, muncullah sebuah cahaya putih terang yang melingkupi cermin tersebut. Tiba-tiba saja, tubuhku terasa sakit seolah jiwaku tertarik olehnya. Aku berjerit merasakan sakit yang menjalar seluruh tubuhku.
Aku terhenyak saat menyadari tempat yang berbeda. Aku melihat gadis itu berdiri depanku seolah ia sedang bercermin. Di mana aku sekarang? Aku kebingungan melihat keadaan sekitarku yang berbeda. Aku melangkah beberapa langkah ke depan seketika tubuhku tersengat listrik semacam ada perisai menghalangiku. Oh tidak! Apa yang terjadi padaku? Apa mungkin aku dalam cermin? Benar, aku berada dalam cermin. 
“Apa yang kau lakukan padaku? Keluarkan aku!” murkaku sambil menggedor cermin yang dihalangi oleh gelombang biru.
Gadis itu tersenyum bahagia karena kebebasannya, ia merenggangkan otot tangannya. “Akhirnya aku bebas.” Ia menghirup napas lalu mengeluarkannya. “Makasih kau sudah mengeluarkanku. Aku hutang budi padamu, tapi aku hanya bisa membalas ini saja. Aku harap kau bahagia di tempat barumu.” Setelah mengucapkan itu, dia melenggang pergi.
“Keluarkan aku dari sini!” jeritku.
***

Penulis | Tia Safarina
Editor  : Redaksi

10 January 2020

Asa di Balik Rangkaian Besi Tua

Foto: Putri Zuhra Furna/ lpmalkalam

www.lpmalkalam.com- Singsing mentari yang semakin menghilang menunjukkan seperempat waktu dari terbitnya fajar yang hampir didekap oleh senja. Dengan cahaya yang mulai memerah serta menciptakan gerah mengusik kenyamanan, seakan memberi isyarat bahwasanya lelaki menua tersebut beristirahat. Dengan becak uniknya ia keluar dari arah Simpang Jam Lhokseumawe.

Ia adalah seorang lelaki tua yang berprofesi sebagai tukang becak. Profesi tersebut telah digeluti puluhan tahun oleh bapak Ishak Ibrahim  dengan umur 71 tahun. Ia berasal dari Lhokseumawe dengan mempunyai 3 anak dari istrinya.

Menjadi tukang becak ia lakoni sejak tahun 1970 hingga kini. Diikuti dengan keterampilan celana kain hitam dan baju kemeja lengan pendek serta tali ikat pinggang dan sandal jepit menjadi ciri khasnya sehari hari. Dengan sigap ia siap mengantar setiap penumpangnya ketempat tujuan. Tak mengenal lelah meskipun kulitnya terbakar oleh teriknya matahari namun bukanlah suatu penghalang baginya untuk mencari sesuap nasi untuk keluarganya.

Lelaki berusia 71 tahun yang sudah memenuhi angka menua bukanlah suatu hambatan untuknya menjadi tukang becak. Tawa bahagia dalam menjalankan profesinya sebagai tukang becak terlihat jelas dalam raut wajahnya. Meskipun alat transportasi tradisional seperti becak kini mulai sepi akan penumpang, masyarakat sekarang sudah banyak memiliki kendaraan pribadi serta lebih senang dengan yang mudah dan praktis serta cepat seperti ojek online. Tentu saja hal ini akan mempengaruhi pendapatannya.

Kakek Ishak kerap disapa sehari hari. Pendapatan setiap hari biasanya rata-rata Rp. 60.000 sampai Rp. 80.000 dan ketika penumpangnya sedikit minimal Rp. 40.000. profesi yang ia lakoni setiap harinya terkadang untuk menghilangkan kejenuhannya dalam keseharinnya. Dikarenakan anak-anaknya juga ikut membantu perekonomian keluarganya. Dengan mencari sewaan yang tidak menentu akan waktunya hal itu tidak membuatnya untuk menyerah, hal itu terlihat dari garis-garis dahinya yang tampak masih bersinar.

Terlihat beda dari becak kakek Ishak  yang ia bawa sehari hari. Terlihat unik serta menarik pada becak bawaannya. Ia masih menggunakan becak pada tahun 1958 dengan merek DKW keluaran Jerman. Serta STNK dan buku sepeda motor masih lengkap dan masih bagus disimpannya rapi.  Selama ia memakai sepeda motor Era 1958 tersebut sangat jarang terdapat kerusakan, dengan bahan bakar apapun bisa diisi. Pak Ishak Ibrahim biasanya mengisi bahan bakar  bensin dicampur dengan minyak goreng. Serta becak tersebut sangat hemat dalam bahan bakar, sangat jarang ditemukan di zaman Era Millenial ini. Ia juga pernah bercerita ketika ia ke Lubuk Pakam, Sumatera Utara menggunakan becak Era 1958 tersebut tanpa ada kendala sedikit pun. Ia pergi jalan-jalan bersama teman-temannya ke Sumatera Utara.

Penulis | Putri Zuhra Furna
Editor    : Redaksi
Pers Mahasiswa AL-Kalam, IAIN Lhokseumawe Phone. 0852 6017 5841 (Pimpinan Umum). Powered by Blogger.