Portal Berita Al-Kalam

Pusingnya Tanpa Duit

Foto: Pixels www.lpmalkalam.com-  S aku kering tak ada sepeser pun Kepala terasa berdenyut, berat terasa Segala kebutuhan menanti di depan m...

HEADLINE

Latest Post

07 Juni 2026

Pusingnya Tanpa Duit

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- 

Saku kering tak ada sepeser pun

Kepala terasa berdenyut, berat terasa

Segala kebutuhan menanti di depan mata

Namun tangan kosong tak mampu berbuat apa

 
Ingin makan, kantong tak punya bekal

Ingin berobat, di mana uang dicari

Setiap langkah terasa terhalang tembok tinggi

Pikiran melayang, bingung tak bertepi

 
Orang lain lewat tersenyum tenang

Sedang aku di sini menahan gelisah

Dunia terasa sempit, jalan seolah tertutup

Hanya doa dan harapan jadi pegangan jiwa

 
Walau pusing melanda hati dan pikiran

Aku takkan diam terus terpuruk

Cari rezeki dengan jalan yang lurus

Semoga esok hari nasib lebih terang benderang


Penulis: Muhammad Iftal

Editor: Chalisa Najla Safira

06 Juni 2026

Di Balik Luka yang Tersenyum

Foto: Pixels
www.lpmalkalamcom- 

Di wajah tenang tersimpan sunyi

Ada kisah lama yang belum pergi

Senyum itu tampak begitu indah

Namun bukan bahagia yang sedang ia rasa


Ia melangkah seperti biasa

Menyapa hari tanpa banyak bicara

Seolah hidupnya baik baik saja

Padahal di dalam dada tersimpan luka


Langkahnya ringan di mata dunia

Seakan tak pernah disentuh nestapa

Namun di balik tatap yang biasa

Terdapat retak yang tak terlihat siapa siapa


Ia belajar kuat dari waktu ke waktu

Meski lelah tak pernah benar benar berlalu

Ia simpan rapuh jauh di dalam kalbu

Dan menutup pilu dengan senyum yang syahdu


Tak semua ingin ia ceritakan

Tak semua luka perlu diungkapkan

Ada duka yang cukup dipeluk sendirian

Dalam sepi yang panjang dan menyesakkan


Malam menjadi tempatnya kembali

Saat dunia terlelap dan sunyi

Air mata jatuh tanpa saksi

Membasuh letih yang mengendap di hati


Namun pagi selalu datang menyapa

Membawa cahaya di sela luka

Ia rapikan kembali hatinya yang terluka

Lalu melangkah tanpa banyak bertanya


Di balik luka yang tersenyum hari ini

Masih ada harapan yang tetap menemani

Meski jalannya tak selalu mudah dilalui

Ia percaya bahagia akan datang menghampiri


Dan saat waktu menjawab segalanya

Tak ada lagi luka yang harus disembunyikan

Senyumnya bukan sekadar topeng belaka

Melainkan tanda bahwa ia telah menemukan ketenangan


Penulis: Zilfira

Editor: Redaksi


03 Juni 2026

Aku

Foto: Pixabay
www.lpmalkalam.com-

Aku

Aku ini siapa?

Aku datang dari mana?


Aku

hanyalah seorang hamba

seluruh tubuhku berlumuran dosa


Aku

jua sosok yang hina

yang mendamba surga

tanpa ingat siapa diriku sebenarnya


Aku, aku, dan aku

Hanya ciptaan Tuhan semata

makhluk-Nya yang paling pelupa

dengan amal yang tak seberapa

namun enggan dekat pada neraka


Aku

sekali lagi berkata

bahwa aku mendamba surga

Walau diri ini terus bertanya

siapakah sebenarnya aku?


Penulis: Luthfiatil Syaqirah 

Editor: Putri Ruqaiyah

30 Mei 2026

Catatan Kaki Perjuangan

Foto: Zahratul
www.lpmalkalam.com-

Di lembar-lembar makalah yang mulai lusuh

Kutemukan jejak tinta yang menggigil lelah

Ada coretan, ada silang merah

Dan tak jarang, sisa air mata yang diam-diam luruh


Di sana juga tertempel sisa-sisa semangat

Tak terlihat, tapi melekat

Hanya mataku yang mampu membaca luka-luka itu

Sebab mata lain terlalu sibuk menilai angka


Kucari inspirasi dalam debu buku-buku tua

Kubuka lembar-lembar baru yang masih wangi tinta

Kubaca bait demi bait

Mengejar pemikiran di antara catatan kaki


Wahai referensi

Bisakah sekali saja kau lahir dari hatiku

Bukan dari halaman yang dipaksakan


Agar nanti kukatakan pada dosen

“Bu, biarkan ini jadi ilham

Jangan lagi pulpenmu menyilang harapanku.”


Tapi apalah daya

Setelah semua ilham kutawarkan

Dunia ini masih menuntut dengan mata dingin


Kini aku mahasiswa

Sedang bertarung melawan malas, pesimis

Dan takdir yang menulis

Aku sebagai pengangguran

Setelah keluar dari gedung penuh janji ini

Tak kubiarkan kata-kata itu tumbuh jadi akar di benakku


Demi bara semangat yang kutemukan

Dari doa ayah dan ibu di kampung nun jauh di mata

Mereka hanya punya sepetak ladang

Namun cukup luas untuk menanam harapan

Mengantarkanku hingga ke bangku kuliah ini


Di antara inspirasi yang tercerai

Semangat yang nyaris habis

Kutitipkan harap

Semoga Allah berkenan

Memberkahi tiap jengkal perjuangan ini


Penulis: Zahratul

Editor: Chalisa Najla Safira

25 Mei 2026

Ruang Kerinduan

 

Foto: Pixabay

 www.lpmalkalam.com- 

Di dalam kamar, buku-buku usang mengepung malam

dengan secangkir kopi, rindu ini tetap gagal kuredam

ada harum masakan ibu yang singgah dalam ingatan

sementara tiket pulang ke kampung halaman berganti 

tugas dan ujian.

Kabar selalu kudapat lewat layar handphone yang 

berpijar

suara ibu dan ayah membuat hati semakin bergetar

aku ingin pulang, tetapi harus tertahan

di dalam doa dan kenyataan yang memang harus 

diperjuangkan.


Kampung tempat kulahir terasa begitu jauh

di atas kasur sunyi, lelah perlahan runtuh

Ibu, buah hatimu ini belum bisa kembali

karena ada cita-cita yang masih harus kubeli.



Penulis: Ilham Dwi Temas Miwa 

Editor: Putri Ruqaiyah

24 Mei 2026

Awan

 

Foto: Bellivia Al-Kamariana

www.lpmalkalam.com-

Di langit yang luas membiru,

awan berjalan tanpa ragu.

Kadang perlahan tertiup angin,

kadang berlari saat badai datang.


Pagi hari ia tampak cerah,

putih lembut seperti kapas.

Menghias langit dengan indah,

membuat hati terasa lepas.


Saat senja mulai menyapa,

awan berubah warna perlahan.

Jingga, merah, lalu keemasan,

seolah langit sedang melukis harapan.


Kadang awan juga menangis,

menurunkan hujan ke bumi.

Membasahi jalan yang kering,

menenangkan hati yang sepi.


Dari awan aku belajar,

tidak semua mendung itu buruk.

Sebab setelah hujan turun,

pelangi datang dengan cantik dan lembut.


Awan tidak pernah memilih tempat,

ia datang kepada siapa saja.

Di laut, gunung, maupun kota,

ia tetap setia menghiasi angkasa.


Aku suka memandang awan,

karena di sana banyak cerita.

Tentang mimpi yang belum tercapai,

tentang harapan yang masih dijaga.


Andai aku bisa seperti awan,

bebas melangkah tanpa beban.

Tetap tenang meski diterpa angin,

tetap indah walau terus berubah arah.


Langit dan awan seakan bersahabat,

saling menemani tanpa kata.

Dan aku hanyalah manusia kecil,

yang diam-diam kagum melihatnya.



Penulis: Bellivia Al-Kamariana

Editor: Zahratul

07 Januari 2026

Para Bedebah Oligarki

Foto: Media Indonesia 

www.lpmalkalam.com– 

Biarku bisikan pada algojo oligarki penguasa

Negeri nan elok ini sudah berkecamuk kala itu

Para kaparat duduk di atas kursi kuasa bebas hukum

Tak bergerak menanggapi seruan alam mematikan


Wahai para bedebah-bedebah sekalian

Kala nyawa sudah tak berharga bagimu tuan

Harapanku sudah kau buat mati ditelan dusta

Dusta akan ucapan keadaan sudah baik-baik saja


Kupandangi seonggok kayu digrogoti jamur angka

Ulah para bedebah oligarki kekuasaan tanah kosong

Dengan mengongkang kaki menutup mata dan telinga

Tak ada kepedulianmu atas imbas keserakahanmu


Sungguh elok rupamu kawan

Rupa yang menutup kejahatan

Rupa duka dipoles lakon dan kamera

Padahal kau adalah pelaku sebenarnya

Kini rakyat dan satwa menjemput ajalnya

ajal ulah sang bedebah oligarki


Penulis: Ririn Dayanti Harahap 
 

25 November 2025

Pelukan dari Dalam Diri

Foto: Pixabay.com

www.lpmalkalam.com

Ada hari-hari ketika aku menatap kaca,

bukan untuk melihat paras,

melainkan mencari alasan

mengapa aku layak tinggal di dunia ini.

Aku berdiri lama, diam,

seakan menunggu seseorang dari balik cermin

untuk berkata, “Hei, kamu cukup.”


Aku pernah membiarkan luka orang lain

menginjak harga diriku.

Aku menjadi terlalu baik

sampai lupa menanyakan pada diri sendiri,

“Apakah aku baik juga pada diriku?”


Aku pernah mencari cinta

di genggaman tangan yang tak ingin menggenggamku erat.

Aku berharap pelukan asing

dapat menyembuhkan patah hatiku sendiri,

tanpa kusadari bahwa pelukan paling tulus

mungkin justru berasal dari dada ini,

dari napasku yang masih setia pergi dan kembali.


Aku pernah letih mengejar standar yang tak kumengerti.

Selalu ingin dianggap hebat,

padahal aku hanya ingin diterima apa adanya.

Aku berdarah-darah membuktikan sesuatu

yang bahkan tak pernah kumau sejak awal.

Dan saat kelelahan itu menelan hatiku,

aku baru sadar:

aku tak sedang berlari demi mimpi,

aku sedang kabur dari diriku sendiri.


Namun di tengah gelap yang sunyi,

aku mulai berani bertanya:

“Apakah semua ini sepadan

jika akhirnya aku kehilangan diriku?”


Dari pertanyaan itu,

lahir keberanian untuk berhenti sementara.

Bukan karena menyerah,

tetapi karena aku ingin mengerti rasa sakitku sendiri.

Aku mulai berbicara pelan pada hati

yang selama ini kupaksa diam.

Dan untuk pertama kalinya,

aku menangis bukan karena lemah,

tetapi karena mulai berani jujur.


Perlahan, aku belajar menerima setiap retakanku.

Aku belajar bahwa tidak apa-apa

jika jalanku lebih lambat,

selama aku tetap melangkah.

Aku belajar bahwa tenang

lebih berarti daripada terlihat sempurna.

Aku belajar bahwa membahagiakan diri

bukan dosa, melainkan kewajiban.


Aku belajar menepuk pundakku sendiri

dan berkata, “Terima kasih, kamu sudah bertahan sejauh ini.”

Aku mulai mencintai kelelahan yang kupunya,

karena itu bukti bahwa aku berjuang.

Aku mulai memeluk setiap kecewa,

karena di baliknya tumbuh keikhlasan.


Kini, aku sedang membangun rumah

dari doa, penerimaan, dan harapan.

Bukan rumah mewah yang butuh pengakuan,

tetapi rumah yang hangat untuk jiwaku pulang kapan saja.


Di rumah itu, aku tidak harus kuat setiap waktu.

Aku bisa menangis tanpa takut dihakimi.

Aku bisa tertawa meski tak sempurna.

Aku bisa menjadi versi diriku

tanpa perlu menyamar menjadi orang lain.


Hari ini, aku belum selesai.

Aku masih rapuh, masih belajar,

masih menyusun serpih-serpih percaya pada diri.

Namun kini aku tahu,

meski terlambat pun tak masalah,

karena aku akhirnya pulang.


Pulang ke dalam diri

tempat cinta yang asli tumbuh,

dan tempat aku akhirnya mengerti

bahwa aku layak dicintai,

bahkan oleh diriku sendiri.


Penulis: Daffa Alkausar (Magang)

Editor: Putri Ruqaiyah

Catatan Kaki Perjuangan

Foto: Pexels.com

www.lpmalkalam.com

Di lembar-lembar makalah yang mulai lusuh, 

Kutemukan jejak tinta yang menggigil lelah. 

Ada coretan, ada silang merah, dan tak jarang, sisa air mata yang diam-diam luruh. 

Di sana juga tertempel sisa-sisa semangat, 

Tak terlihat, tapi melekat. 

Hanya mataku yang mampu membaca luka-luka itu, 

Sebab mata lain terlalu sibuk menilai angka,


Kucari inspirasi dalam debu buku-buku tua, 

Kubuka lembar-lembar baru yang masih wangi tinta. 

Kubaca bait demi bait, 

Mengejar pemikiran di antara catatan kaki.

Wahai referensi...

Bisakah sekali saja kau lahir dari hatiku,

Bukan dari halaman yang dipaksakan?

Agar nanti kukatakan pada dosen, 

"Bu, biarkan ini jadi ilham, Jangan lagi pulpenmu menyilang harapanku."


Tapi apalah daya...

Setelah semua ilham kutawarkan, 

Dunia ini masih menuntut dengan mata dingin. 

Kini aku, Mahasiswa, 

Sedang bertarung melawan malas, pesimis 

Dan takdir yang menulis, 

Aku sebagai pengangguran Setelah keluar dari gedung penuh janji ini.

Tak kubiarkan kata-kata itu tumbuh jadi akar di benakku. Demi bara semangat yang kutemukan dari doa Ayah dan Mamak di kampung nun jauh di mata, 

Mereka hanya punya sepetak ladang, tapi cukup luas untuk menanam harapan menyekolahkanku hingga ke bangku kuliah ini.

Di antara inspirasi yang tercerai Semangat yang nyaris habis Kutitipkan harap, 

Semoga Allah berkenan Memberkahi tiap jengkal perjuangan ini.

 

Penulis: Zahratul (Magang)

Editor: Tiara Khalisna 

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.