![]() |
| Foto: Pexels |
www.lpmalkalam.com- Hari Raya Iduladha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan. Ia adalah cermin batin yang memaksa kita bertanya apa yang benar-benar kita pegang erat, dan apakah kita sanggup melepaskannya ketika Allah meminta?
Setiap tahun, di halaman rumah dan lapangan masjid kampung, pisau diasah dan takbir dikumandangkan. Kita menyaksikan proses itu dengan tenang, seolah maknanya sudah kita mengerti sejak kecil. Padahal, mungkin selama ini kita hanya melihat hewan yang disembelih, bukan pergulatan batin Ibrahim.
Nabi Ibrahim bukanlah manusia yang tidak memiliki perasaan. Justru sebaliknya, ia adalah seorang ayah yang sangat mencintai putranya, Ismail, yang lahir setelah penantian panjang. Maka, langkahnya menuju Mina bukanlah langkah yang ringan. Bebannya lebih berat daripada setiap batu yang diinjaknya di bukit itu. Kisah ini bukan tentang ketidakpedulian, melainkan tentang cinta yang begitu dalam hingga sanggup dikalahkan oleh kepatuhan.
Di sinilah letak salah paham yang sering kita bawa. Kita mengira bahwa orang yang berkorban adalah orang yang tidak mencintai apa yang ia korbankan. Padahal, yang benar justru sebaliknya. Pengorbanan yang sejati hanya mungkin lahir dari cinta yang nyata. Bila tidak ada kecintaan, tidak ada yang namanya pengorbanan. Yang ada hanyalah pelepasan biasa.
Pertanyaannya bukan soal hewan mana yang kita sembelih hari ini. Tetapi apa yang masih kita genggam terlalu erat? Nama seseorang yang sudah seharusnya kita ikhlaskan? Rencana lama yang terus kita pertahankan, bukan karena masih baik bagi kita, melainkan karena kita takut mengakui bahwa jalan lain telah lama terbuka, sementara kita memilih menutup mata terhadapnya?
Iduladha mengajarkan bahwa keikhlasan bukanlah ketidakpedulian. Tangan yang gemetar namun tetap membuka genggaman justru lebih mulia daripada tangan yang melepas sesuatu yang memang tidak pernah dicintai. Kesunyian terberat bukan terletak pada pisau yang jatuh, melainkan pada keputusan di dalam dada sebelum pisau itu diangkat.
Takbir masih bergema, dan mungkin ia bukan hanya untuk merayakan ketaatan Ibrahim ribuan tahun lalu. Ia juga hadir untuk menguatkan kita yang hari ini masih berdiri di lapangan yang sama, membawa beban yang tidak terlihat, dan berjuang mempelajari satu hal paling sulit dalam hidup adalah melepaskan karena cinta, bukan karena tidak peduli.
Penulis: Cut Saputri
Editor: Chalisa Najla Safira
