![]() |
| Foto: Pixels |
www.lpmalkalam.com- Rintik hujan turun ketika Aluna masuk ke sebuah toko buku kecil di sudut jalan. Ia tidak benar-benar ingin membeli buku, hanya mencari tempat berteduh.
Tangannya berhenti di rak sastra. Seperti dulu, tanpa sadar ia membuka halaman terakhir sebuah novel sebelum kembali ke halaman pertama.
"Masih curang ternyata."
Aluna membeku. Suara itu terlalu ia kenal.
Ia menoleh perlahan.
Aksa berdiri beberapa langkah di belakangnya, membawa sebuah buku yang bahkan belum sempat ia lihat judulnya.
Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.
"Lama ya," bisik Aluna pelan.
"Lima tahun."
"Kamu masih ngitung?"
"Ga sengaja," ujar Aksa sambil tersenyum kecil.
Aluna ikut tersenyum canggung.
Rasanya aneh.
Dulu mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa kehabisan bahan obrolan. Sekarang, memulai percakapan saja rasanya seperti sedang belajar mengenal satu sama lain dari awal.
Hening kembali menghampiri, hanya terdengar suara hujan yang mengetuk kaca dan langkah pelan beberapa pengunjung yang berlalu di antara rak-rak buku.
Tak lama kemudian, pemilik toko mengganti musik yang sejak tadi diputar. Petikan gitar memenuhi ruangan, disusul lagu "Dunia yang Nanti" milik Raim Laode.
Aluna refleks menoleh ke arah speaker.
Aksa tersenyum kecil.
"Masih sering denger lagu itu?"
Aluna menggeleng pelan.
"Ga sesering dulu."
"Padahal dulu setiap pulang, lagu ini ga pernah ketinggalan."
"Soalnya waktu itu aku percaya... kalau ga semua perpisahan berarti selesai."
Aksa mengangguk pelan.
"Dulu aku juga percaya begitu."
Beberapa detik berlalu.
"Aku sempat lama ga denger lagu itu," ujar Aksa kembali.
Aluna menoleh, "Kenapa?"
Aksa mengembuskan napas pelan.
"Setiap kali diputar, rasanya kayak ditarik balik ke masa itu lagi."
Aluna mengangguk kecil seolah mengerti.
"Aku juga pernah sengaja ngelewatin kalau lagu itu muncul."
"Kalo sekarang?"
"Sekarang udah bisa didengerin."
"Karena udah ikhlas?"
Aluna tersenyum tipis sambil menggeleng.
"Ga juga. Mungkin... karena sekarang aku udah mulai ngerti."
Aksa terdiam beberapa saat.
"Aku kira cuma aku yang butuh waktu lama."
Aluna menatap buku yang masih ada di tangannya.
"Ternyata kita sama-sama cuma lagi belajar buat nerima."
Tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Mereka sama-sama tahu mengapa dulu memilih berpisah. Karena saat itu, hidup meminta mereka mengejar arah yang berbeda.
Di luar, hujan mulai reda.
Aksa melihat jam di tangannya.
"Aku duluan ya."
Aluna mengangguk.
"Hati-hati."
"Kamu juga."
Aksa melangkah menuju pintu.
Maka kudoakan kisah kita satu... di dunia yang nanti...
Sesaat sebelum keluar, tepat setelah lirik terakhir terputar, Aksa menoleh sebentar.
Aluna membalas dengan anggukan dan senyum kecil.
Lalu pintu toko kembali tertutup.
Lima tahun ternyata belum cukup untuk menghapus ingatan tentang sebuah lagu, juga tentang dua orang yang pernah percaya bahwa mereka akan sampai di tujuan yang sama.
Sore itu, di antara rak-rak buku, aroma kertas yang mulai lembap karena hujan, dan lagu yang dulu selalu mereka putar dalam perjalanan pulang, Aluna akhirnya memahami sesuatu.
Tidak semua "nanti" berarti terlambat.
Kadang, "nanti" hanyalah cara semesta memberi waktu agar dua orang bisa tumbuh tanpa harus saling menunggu.
Penulis: Chalisa Najla Safira
Editor: Zahratul
