![]() |
| Foto: IST |
Zuyyina, salah satu warga Desa Ceubo yang menjadi korban, menceritakan detik-detik mencekam saat air bah datang. Menurutnya, kerusakan fatal pada rumah-rumah warga disebabkan oleh arus air yang sangat deras yang datang dari berbagai arah, disusul dengan material lumpur.
"Jujur kalau diingat-ingat lagi masih gemetar. Cepat sekali, tiba-tiba arus kencang menghantam tembok rumah hingga jebol. Airnya datang bukan dari satu arah saja," ungkap Zuyyina saat ditemui di lokasi. Ia menambahkan bahwa warga mengalami kerusakan ganda. "Dihantam air dulu sampai jebol, terus sisa perabotan yang tidak hanyut malah tertimbun lumpur pelan-pelan. Kami cuma sempat lari menyelamatkan diri," tambahnya.
Pasca surutnya air, warga kini dihadapkan pada kendala pembersihan material sisa banjir. Berdasarkan pantauan dan pengakuan warga, lumpur yang tertinggal memiliki karakteristik lengket dan cepat mengeras menyerupai semen jika didiamkan, sehingga sulit dibersihkan hanya dengan peralatan manual. "Kendala utamanya jelas di alat. Kami cuma modal cangkul dan sekop seadanya, badan rasanya remuk semua. Padahal untuk lumpur setebal ini butuh semprotan air kencang (water pump) untuk mendorong lumpur keluar," keluh Zuyyina mewakili warga lainnya. Hampir seluruh perabotan rumah tangga seperti kasur, lemari, dan alat elektronik dilaporkan rusak total. Warga hanya mampu menyelamatkan diri beserta pakaian yang melekat di badan atau sekadar dokumen penting seperti ijazah dan surat tanah.
Terkait penanganan pengungsian, warga berinisiatif menumpang di rumah kerabat yang lebih aman atau mengungsi ke meunasah (surau) setempat karena belum ada instruksi relokasi khusus. Bantuan logistik berupa beras, mi instan, dan telur dari pemerintah daerah serta relawan mahasiswa sudah mulai tersalurkan, namun warga menyayangkan belum masuknya bantuan alat berat ke lorong-lorong pemukiman warga.
Reporter: Arahmadan Jaminur Berutu


