![]() |
| Foto: Bellivia Al-Kamariana |
www.lpmalkalam.com-
Di langit yang luas membiru,
awan berjalan tanpa ragu.
Kadang perlahan tertiup angin,
kadang berlari saat badai datang.
Pagi hari ia tampak cerah,
putih lembut seperti kapas.
Menghias langit dengan indah,
membuat hati terasa lepas.
Saat senja mulai menyapa,
awan berubah warna perlahan.
Jingga, merah, lalu keemasan,
seolah langit sedang melukis harapan.
Kadang awan juga menangis,
menurunkan hujan ke bumi.
Membasahi jalan yang kering,
menenangkan hati yang sepi.
Dari awan aku belajar,
tidak semua mendung itu buruk.
Sebab setelah hujan turun,
pelangi datang dengan cantik dan lembut.
Awan tidak pernah memilih tempat,
ia datang kepada siapa saja.
Di laut, gunung, maupun kota,
ia tetap setia menghiasi angkasa.
Aku suka memandang awan,
karena di sana banyak cerita.
Tentang mimpi yang belum tercapai,
tentang harapan yang masih dijaga.
Andai aku bisa seperti awan,
bebas melangkah tanpa beban.
Tetap tenang meski diterpa angin,
tetap indah walau terus berubah arah.
Langit dan awan seakan bersahabat,
saling menemani tanpa kata.
Dan aku hanyalah manusia kecil,
yang diam-diam kagum melihatnya.
Penulis: Bellivia Al-Kamariana
Editor: Zahratul
