![]() |
| Foto: Pixabay |
Dari cerita orang tua, aku mendengar kisah tentang masa silam, ketika mata uang yang digunakan adalah koin emas, mereka menyebutnya dirham. Saat itu, Kerajaan Samudera Pasai tengah berada di puncak kejayaannya. Itulah gambaran masa lalu, sebuah nostalgia, tentang kejayaan yang pernah ada.
Kini aku menatap diriku sendiri, seorang bocah berusia 16 tahun, dengan baju lusuh, hasil pemberian orang baik hati. Di hadapanku, gunungan sampah seakan menyambut kedatanganku.
Sejak usia lima tahun, aku sudah ikut bapak bekerja, memilah satu per satu sampah yang bisa dijual, dan yang tidak. Dari sinilah kami menggantungkan hidup, sebagai pemulung.
Sejak pukul tiga pagi, tanpa perlu dibangunkan, kami otomatis terjaga. Itulah waktu kami mulai mencari rezeki.
Sejak saat itu, aku dan bapak sudah mengais sampah, di tempat pembuangan rumah sakit, penampungan sampah kota, hingga menyusuri jalanan. Bahkan, kami pernah memungut sampah di pesta orang kaya. Untungnya, mereka tidak mengusir kami.
Menjelang malam, bapak mengajakku memilah sampah di rumah-rumah makan. Saat pertama kali datang ke sana, hatiku sedih. Begitu banyak makanan terbuang, sementara di gubuk tempat kami tinggal, kadang kami harus menahan lapar karena tak ada yang bisa dimakan.
Namun, lama-kelamaan aku mulai terbiasa. Kami datang ke rumah makan bukan untuk makan malam, melainkan untuk mencari sisa makanan yang bisa kami bawa pulang.
Tentang ibu, jangan tanyakan padaku, karena aku sendiri pun tak tahu. Bapak bilang, ibu meninggal saat melahirkanku. Namun, dari bisik-bisik tetangga di sekitar gubuk kami, aku mendengar cerita yang berbeda. Kata mereka, ibu pergi setelah aku lahir. Ia tak sanggup lagi menjalani hidup yang terlalu melarat, terlalu penuh kekurangan.
Apa ibu tidak rindu padaku, bu? Apa karena aku bau sampah, makanya ibu tidak pernah kembali lagi ke sini sampai hari ini, bahkan mungkin selamanya.
Ah, aku tak ingin terlalu melankolis tentang ibuku yang wajahnya tak kuketahui, lebih baik kuceritakan tentang sekolah saja. Setiap Senin sampai Jumat, aku pergi sekolah. Bapak selalu bilang, aku harus jadi anak yang sukses. “Supaya nanti kamu bisa jadi presiden,” katanya, “jangan jadi pemulung seperti bapak lagi. Capek, Nak.”
Maka aku pun pergi sekolah, duduk mendengarkan guru yang mendongeng di depan kelas, tentang simbiosis mutualisme dan hal-hal lain yang asing namun menarik.
Otakku berusaha menyerap semua materi itu, tapi perutku terus memberontak, meminta diisi nasi. Pagi hari, aku nyaris tak pernah sarapan. Siang pun begitu, kecuali jika ada sedikit rezeki. Malam hari? Hanya jika ada sisa makanan.
Dulu aku punya seorang kakak. Tapi Tuhan lebih dulu ingin memeluknya. Ia meninggal karena demam berdarah. Waktu itu, kami belum punya BPJS, Dan berobat terasa mustahil. Dalam kondisi seperti itu, mati seolah lebih mudah, daripada hidup yang terus terlunta-lunta.
Aku pernah bertanya pada bapak, kenapa aku tidak diizinkan menjadi pengamen atau pengemis saja. Lalu bapak menjawab, “Selama sampah masih berserakan, hasil buangan manusia itu, kenapa kita harus mengemis pada manusia? Mungkin saja mereka memberi karena terpaksa.” Ah, aku bersyukur sekali punya bapak sekuat dan seteguh itu.
Kini, bapak pun telah pergi. Bukan karena demam berdarah seperti kakakku dulu, tapi karena Tuberkulosis (TBC) yang perlahan-lahan menggerogoti tubuhnya, hingga akhirnya mengambilnya selamanya.
Sekarang aku sendiri, tinggal di gubuk ini. Sepi. Sunyi.
Dingin.
Kadang aku bertanya, kepada siapa lagi aku harus bersandar? Pernah terlintas di benakku, mungkin lebih baik jika aku ikut mati saja, supaya bisa bertemu lagi dengan bapak dan kakak di surga. Di sana, mungkin kami tak perlu lagi memikirkan makan.
Tapi lalu aku teringat kata-kata ustaz dari kampung sebelah. Katanya, orang yang sengaja mengakhiri hidupnya sendiri, tempatnya bukan di surga, melainkan di neraka. Aduh... kenapa serba salah begini? Hidupku di dunia sudah semelarat ini, masa akhirat pun harus penuh sengsara?
Lalu, dalam kesunyian itu, aku teringat satu pesan bapak yang tak pernah hilang dari ingatanku, “Kamu harus belajar, Nak… belajar yang sungguh-sungguh. Biar sukses. Biar bisa jadi presiden.”
Kadang aku berpikir, buat apa aku bersusah payah? Toh, bahkan ada wakil presiden yang ijazahnya saja dipertanyakan. Apa gunanya belajar mati-matian kalau dunia tetap berpihak pada yang curang?
Tapi… sekali lagi, aku teringat pesan bapak sebelum ia pergi, “Aku harus belajar, harus sukses, harus jadi presiden.” Itu bukan sekadar harapan, itu wasiat satu-satunya warisan paling berharga dari bapakku.
Saat aku berjalan ke warung dekat gubuk untuk mengutang beras seperti biasa, meski biasanya tak pernah diberikan, mataku tertumbuk pada televisi yang menyala di sudut warung.
Sekilas, aku menangkap berita tentang pejabat korupsi. Angka-angka uang yang disebutkan itu tak main-main, sangat besar, menggunung sampai sulit kubayangkan.
Di dalam kepalaku, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul, apakah aku akan menjadi seperti mereka suatu hari nanti?
Seorang pejabat yang korupsi, menghalalkan segala cara demi kekuasaan dan harta?
Gemetar, ragu, mimpi menjadi presiden yang dulu bapak tanamkan, tiba-tiba terasa berat dan penuh dilema. Aku tidak ingin kehilangan jati diriku, tapi aku juga tahu dunia ini tidak mudah untuk orang seperti aku. Namun, suara kecil di hatiku kembali mengingatkan, tentang pesan bapak. Jadilah pemimpin yang berbeda. Jangan biarkan diri terjerumus seperti mereka.
Penulis: Zahratul
Editor: Chalisa Najla Safira
