Portal Berita Al-Kalam

Merajut Rasi, Memeluk Mimpi

Foto: Pixabay www.lpmalkalam.com- Sejak kecil, Launa selalu menatap langit malam dari jendela kamarnya yang sempit, menghitung bintang seol...

HEADLINE

Latest Post

31 Agustus 2026

Merajut Rasi, Memeluk Mimpi

Foto: Pixabay

www.lpmalkalam.com- Sejak kecil, Launa selalu menatap langit malam dari jendela kamarnya yang sempit, menghitung bintang seolah sedang merajut masa depannya sendiri. Baginya, setiap kerlip di atas sana adalah janji sebuah cita-cita yang harus ia gapai suatu hari nanti.

Memiliki tekad yang bulat adalah modal utamanya untuk terbang tinggi dan menggapai kesuksesan yang awalnya terasa mustahil. Namun, kenyataan tidak seindah hamparan rasi bintang di langit. Pintu studio seninya terkunci pagi itu, menyisakan tumpukan surat tagihan sewa yang belum dibayar. Fase keterpurukan, kelelahan, dan rasa tidak mampu menjadi ujian batin yang nyata dalam perjuangannya. Di depan pintu terkunci inilah keraguan sering kali berbisik, mencoba meyakinkan Launa bahwa impian yang sedang dikejarnya hanyalah sebuah khayalan yang terlalu tinggi. 

Langkah kaki yang tergesa memecah keheningan koridor saat Kafka, sahabat sekaligus rekan kerjanya, datang dengan napas memburu dan tertegun melihat segel merah di gagang pintu. "Lau... mereka benar-benar menguncinya?" tanya Kafka dengan suara bergetar.

Launa menyerahkan selembar kertas tagihan sewa kepada Kafka yang membacanya dengan tangan gemetar. Kafka bersandar pada dinding koridor yang dingin, tampak putus asa. "Mungkin ini tanda kalau kita harus berhenti, Lau. Kita sudah mencoba segalanya selama setahun ini, tapi hasilnya? Ambisi kita mungkin terlalu muluk." 

Namun, saat menatap kembali kertas di tangan sahabatnya, sebersit kilat keteguhan muncul di mata Launa. Ia sadar badai keputusasaan ini bukan tanda baginya untuk berhenti, melainkan gerbang menuju keteguhan hati. "Tidak, Kaf. Kegagalan atau kesalahan langkah ini adalah hal biasa yang harus kita evaluasi, bukan ditangisi," balas Launa mantap sambil menepuk pundak Kafka. 

"Setiap peluh yang menetes dan waktu yang kita korbankan selama ini adalah investasi berharga. Studio ini mungkin dikunci hari ini, tapi kreativitas kita tidak bisa dipenjara. Kita belum kalah, Kaf." 

Mendengar ketegasan Launa, perlahan garis-garis keputusasaan di wajah Kafka mengendur hingga sebuah senyuman tipis muncul di bibirnya, "Kamu benar. Rasi bintang yang kita rancang sejak dulu tidak boleh redup hanya karena satu tagihan ini." 

Pada akhirnya, waktu membuktikan bahwa Launa yang memilih bertahan tidak akan lagi merasa kecil di tengah luasnya dunia. Kerja keras yang dievaluasi bersama Kafka perlahan membuahkan hasil hingga karya seni mereka mulai dikenal luas. Cita-cita yang awalnya terasa sejauh jutaan tahun cahaya, kini berubah menjadi realitas yang berhasil digenggamnya. Menatap masa depan yang cerah, jiwa tangguh Launa tersenyum menyadari bahwa perjuangan panjangnya selama ini telah membuahkan hasil.


Penulis: Cut Saputri

Editor: Chalisa Najla Safira

banner
Latest
Next Post
Comments
0 Comments

0 comments:

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.