![]() |
| Foto: Pixabay.com |
Pada era abad pertengahan, tradisi ilmiah Islam mengalami fase peleburan dan penguatan. Pada masa ini fokus keilmuan tidak lagi hanya pada penemuan baru, tetapi juga pada pengembangan, kritik, dan integrasi ilmu-ilmu yang telah ada. Tokoh-tokoh seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiyah, dan Fakhruddin Al-Razi tampil dengan karya-karyanya yang mempertemukan rasionalitas dan spiritualitas. Kontribusi penting pada era ini adalah pematangan metodologi keilmuan, penguatan disiplin ushul fikih, tasawuf, dan kritik filsafat, serta usaha menjaga keseimbangan antara akal dan wahyu dalam tradisi ilmiah Islam.
Memasuki era modern, dunia Islam mulai berhadapan langsung dengan kolonialisme, modernitas barat, dan kemajuan sains modern. Kondisi ini melahirkan tokoh-tokoh pembaru seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rashid Rida, serta Muhammad Iqbal, yang mendorong kebangkitan intelektual dan reformasi pemikiran Islam. Kontribusi era modern tampak dalam upaya pembaruan pendidikan, reinterpretasi ajaran Islam agar selaras dengan perkembangan zaman, serta munculnya wacana integrasi antara ilmu agama dan ilmu modern. Tradisi ilmiah Islam pada masa ini bergerak dari pola tradisional menuju sistem pendidikan yang lebih formal dan institusional.
Sementara itu, era kontemporer ditandai oleh kompleksitas tantangan global, seperti globalisasi, digitalisasi, krisis moral, dan pluralitas pemikiran. Tokoh dalam gerakan kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi, Fazlur Rahman, Nurcholish Madjid, Quraish Shihab, serta lembaga-lembaga pendidikan dan gerakan intelektual Muslim, berusaha menanggapi tantangan tersebut dengan pendekatan kontekstual dan moderat. Tantangan tradisi ilmiah Islam di era ini adalah menjaga kemurnian keilmuan klasik sekaligus merespons realitas modern, menghindari perpecahan antara tradisionalisme dan liberalisme, serta membangun tradisi riset yang kuat dan juga relevan. Dalam pandangan penulis, keberlanjutan tradisi ilmiah Islam di era kontemporer sangat bergantung pada kemampuan umat Islam untuk merawat warisan intelektual klasik sambil terbuka terhadap dialog dan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Dalam dunia Islam Tradisi ilmiah merupakan warisan intelektual yang lahir dari perpaduan antara dorongan wahyu dan kesungguhan akal manusia dalam memahami kehidupan. Mulai dari era klasik hingga kontemporer, tradisi ini menunjukkan kemampuan Islam dalam melahirkan pemikiran yang sistematis, kritis, dan relevan dengan konteks zamannya. Tantangan yang dihadapi pada masa kini menuntut adanya sikap bijak dalam merawat khazanah keilmuan klasik tanpa menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan modern. Keberlanjutan tradisi ilmiah Islam tidak terletak pada romantisme masa lalu semata, tetapi pada kesanggupan umat Islam untuk menjadikan warisan intelektual tersebut sebagai landasan membangun pemikiran yang kontekstual, berimbang, dan berorientasi pada kemaslahatan umat di masa depan.
Penulis: Cut Nazar Mutia Hanum, Mahasiswi Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Editor: Zuhra


