Portal Berita Al-Kalam

Menelusuri Jejak Sejarah: Kelompok Dua Kru Magang LPM Al-Kalam Mengunjungi Makam Putroe Neng

Foto: M. Rahul Gonzales www.lpmalkalam.com- Kelompok dua kru magang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Su...

HEADLINE

Latest Post

27 Oktober 2026

Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Tempat Aman Bagi Anak

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang. Namun, dugaan kekerasan seksual terhadap seorang anak perempuan berusia 3,5 tahun di Bandung, Jawa Barat, sebagaimana diberitakan Popmama.com, menjadi pengingat bahwa ancaman dapat datang dari orang terdekat sekalipun.

Kasus ini semakin memprihatinkan karena ayah kandung korban yang diduga terlibat diketahui berprofesi sebagai dokter umum serta memiliki klinik dan apotek. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dan profesi terhormat tidak otomatis menjamin seseorang memiliki perilaku yang baik. Meski demikian, dugaan tersebut tetap harus dibuktikan melalui proses hukum yang adil.

Perlindungan anak tidak cukup hanya mengandalkan kepercayaan kepada keluarga. Pemerintah dan aparat penegak hukum harus menangani kasus ini secara profesional, sementara korban perlu mendapatkan pendampingan medis dan psikologis. Edukasi tentang batasan tubuh, pengasuhan tanpa kekerasan, serta jalur pelaporan yang aman juga perlu diperkuat.

Menurut penulis, kehormatan seseorang tidak semestinya hanya dinilai dari profesi atau kedudukannya, tetapi juga dari tanggung jawab dan perilakunya. Perlindungan anak harus menjadi prioritas bersama, sebab tidak ada anak yang pantas kehilangan rasa aman, terlebih di rumahnya sendiri.


Penulis: Chilla Puspita Aura (Magang)

Editor: Chalisa Najla Safira

25 Oktober 2026

Membongkar Basis Narkoba di Pidie, Alarm Keras bagi Kehidupan Sosial Aceh

Foto: web BERITAKINI
www.lpmalkalam.com- Penggerebekan laboratorium gelap narkotika di Gampong Beureueh Dua, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, baru-baru ini menjadi peringatan keras sekaligus alarm bahaya bagi masyarakat Aceh. Operasi gabungan yang berhasil mengamankan sekitar 1,2 ton sabu cair dan kristal serta 11 orang tersangka, termasuk warga negara asing, menunjukkan bahwa persoalan narkotika bukan lagi sekadar kasus kriminal biasa, melainkan ancaman serius bagi kehidupan sosial masyarakat.

Menurut penulis, peristiwa ini menandai babak baru yang semakin mengkhawatirkan dalam persoalan peredaran narkoba di Aceh. Wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu jalur transit narkotika kini menghadapi dugaan munculnya aktivitas produksi narkotika di daerahnya sendiri. Perubahan pola operasi sindikat tersebut menjadi ancaman serius bagi ketahanan sosial masyarakat, terutama karena berpotensi memperluas jangkauan peredaran narkoba dan meningkatkan risiko bagi generasi muda.

Selama bertahun-tahun, jalur laut dan pelabuhan tikus di pesisir Aceh kerap diidentifikasi sebagai pintu masuk narkotika dari kawasan Golden Triangle. Keberadaan laboratorium gelap di Kabupaten Pidie menunjukkan bahwa ancaman narkotika dapat berkembang lebih jauh dari sekadar penyelundupan melalui jalur perairan. Menurut penulis, dugaan aktivitas produksi narkotika di tengah lingkungan masyarakat memperlihatkan pentingnya kewaspadaan terhadap pergerakan sindikat yang dapat menyamarkan kegiatan ilegal di balik aktivitas yang tampak biasa. Ancaman terhadap masa depan generasi muda tidak selalu datang dari tempat yang jauh, tetapi juga dapat muncul di sekitar lingkungan tempat mereka tinggal.

Keberhasilan aparat penegak hukum dalam mengungkap kasus ini patut diapresiasi sekaligus menjadi bahan evaluasi bersama. Menurut penulis, keberadaan lokasi yang diduga digunakan sebagai laboratorium narkotika di tengah masyarakat menunjukkan pentingnya memperkuat pengawasan lingkungan. Masyarakat, aparatur gampong, dan pihak terkait perlu membangun komunikasi serta meningkatkan kepedulian agar aktivitas mencurigakan dapat dilaporkan melalui jalur yang tepat. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan harus tetap mengedepankan kehati-hatian dan menghormati asas praduga tak bersalah.

Pemberantasan narkotika bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian, melainkan juga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Menurut penulis, sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, Aceh memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk menjaga nilai-nilai keagamaan, ketahanan keluarga, dan masa depan generasi muda. Terungkapnya dugaan laboratorium narkotika berskala besar di Pidie seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan antinarkoba, meningkatkan kepedulian sosial, serta membangun sistem pengawasan lingkungan yang lebih efektif. Kerja sama yang berkelanjutan antara pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi ancaman narkotika secara serius dan terarah.


Penulis: Cut Saputri

Editor: Redaksi

24 Oktober 2026

Makna dan Peran Hari Santri di Indonesia

Foto: M. Rahul Gonzales
www.lpmalkalam.com- Hari Santri Nasional (HSN) merupakan peringatan untuk mengenang, menghargai, dan meneladani peran besar para kiai, ulama, dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hari Santri diperingati setiap tanggal 22 Oktober dan memiliki makna penting bagi bangsa Indonesia, khususnya kalangan pesantren. Peringatan ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang jasa para pejuang agama dan bangsa, tetapi juga untuk memperkuat sikap saling menghormati, memperdalam ilmu agama, serta menjaga persatuan.

Di Indonesia, peringatan Hari Santri biasanya diisi dengan upacara, terutama di lingkungan pesantren. Berbagai perlombaan juga diselenggarakan untuk mempererat hubungan antarsantri sekaligus melestarikan tradisi keagamaan. Menurut saya, kegiatan tersebut tidak seharusnya hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai perjuangan, kedisiplinan, dan kebersamaan.

Hari Santri berperan penting dalam menumbuhkan nilai religius dan nasionalisme. Kedua nilai tersebut seharusnya menjadi kekuatan untuk saling mendukung, bukan untuk merendahkan satu sama lain. Pada masa kini, perjuangan santri tidak hanya diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui upaya melawan kebodohan, menjaga moral, serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi syariah.

Menurut saya, santri tidak hanya bertugas menjaga tradisi keagamaan dan mewarisi semangat perjuangan bangsa. Mereka juga memiliki tanggung jawab untuk menjadi bagian dari perubahan dan kemajuan Indonesia. Dengan bekal ilmu agama, akhlak yang baik, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman, santri diharapkan mampu menghadirkan gagasan yang kreatif, inovatif, dan inspiratif demi kemajuan bangsa.

Di tengah dunia yang semakin kompetitif, santri perlu membuktikan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada sesama. Ilmu yang disertai akhlak dan keikhlasan akan memberikan nilai lebih bagi kehidupan. Oleh karena itu, santri perlu menyeimbangkan penguasaan ilmu pengetahuan dengan pembentukan karakter yang baik.

Hari Santri bukan sekadar peringatan untuk mengenang sejarah, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen dalam menjaga agama, bangsa, dan nilai-nilai kemanusiaan. Semangat santri harus diwujudkan melalui tindakan nyata agar mereka mampu berkontribusi dalam membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.


Penulis: Tanisha Nailah (Magang)

Editor: Zahratul


19 Oktober 2026

Di Balik Pemerintahan yang Tampak Aman, Tersembunyi Penderitaan Masyarakat

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Indonesia menghadapi persoalan lingkungan yang serius, salah satunya kebakaran hutan yang berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon dioksida dan menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kehidupan masyarakat. Upaya penanganan yang dilakukan pemerintah dinilai masih perlu ditingkatkan agar lebih berkelanjutan dan memberikan hasil yang nyata. 

Dampak kebakaran hutan tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat. Banyak petugas pemadam kebakaran yang mempertaruhkan nyawa saat menjalankan tugas. Anak-anak yang tinggal di sekitar kawasan terdampak harus menghirup asap yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan. Sebagian masyarakat mengalami gangguan kesehatan, sedangkan kegiatan belajar mengajar di sejumlah wilayah terpaksa dihentikan sementara atau dialihkan ke pembelajaran daring.

Masalah lingkungan yang dianggap sepele dapat membawa dampak besar bagi masa depan bangsa. Kepentingan generasi muda seharusnya menjadi salah satu prioritas utama dalam setiap pengambilan kebijakan. Slogan Indonesia Emas 2045 yang menjadi harapan bagi terciptanya generasi unggul berisiko hanya menjadi wacana apabila pemerintah tidak serius menjamin kesehatan, pendidikan, dan kelestarian lingkungan. Generasi mendatang membutuhkan lingkungan yang sehat dan kesempatan untuk berkembang agar mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik. Tanpa upaya yang sungguh-sungguh, cita-cita tersebut akan semakin sulit diwujudkan.

Janji mengenai pembukaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat harus dibuktikan melalui kebijakan yang nyata. Visi dan misi pemerintah tidak seharusnya berhenti sebagai rangkaian kata dalam pidato atau dokumen perencanaan. Masyarakat membutuhkan kesempatan kerja yang layak, perlindungan sosial, serta kebijakan yang mengutamakan kepentingan rakyat. Ketidaksesuaian antara janji dan pelaksanaan dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Pejabat publik juga perlu menunjukkan tanggung jawab dan komitmen dalam memastikan setiap kebijakan berjalan sesuai dengan kepentingan masyarakat.

Keberhasilan pemerintah tidak cukup diukur dari janji, slogan, ataupun citra yang dibangun di hadapan publik. Keberhasilan sejati tercermin melalui tindakan nyata yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjamin keamanan, melindungi kesehatan, serta menjaga kelestarian lingkungan. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap kebijakan memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Kepentingan rakyat harus menjadi dasar dalam menentukan arah pembangunan dan pelaksanaan program pemerintah.

Pemerintahan yang tampak aman dan terkendali tidak selalu mencerminkan kehidupan masyarakat yang sejahtera. Penderitaan rakyat dapat tersembunyi di balik citra positif yang ditampilkan apabila permasalahan mendasar tidak ditangani dengan serius. Cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud apabila pemerintah lebih mengutamakan pencitraan daripada tanggung jawab melindungi rakyat. Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh megahnya janji yang disampaikan, melainkan oleh kepedulian, ketegasan dalam mengambil keputusan, dan konsistensi tindakan nyata demi kesejahteraan seluruh masyarakat.


Penulis: Daffa Alkausar

Editor: Redaksi

18 Oktober 2026

Jejak Kelabu Karhutla: Ribuan Hektare Hutan Musnah, Ekosistem Terancam Lumpuh

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung padam memusnahkan ribuan hektare kawasan hutan dan mengancam kelumpuhan ekosistem di Indonesia. Bencana ini tidak hanya menghancurkan vegetasi dan merusak kualitas udara, tetapi juga memicu krisis habitat yang mengancam keselamatan satwa langka.

Jejak kelabu kini menyelimuti hamparan hijau yang dulunya dipenuhi kehidupan. Akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung padam, ribuan hektare hutan musnah dan berubah menjadi arang. Tidak hanya merenggut pepohonan tua, amukan si jago merah ini juga membuat ekosistem lokal terancam lumpuh total.

Bagi manusia, kawasan tersebut mungkin hanyalah sekumpulan pohon. Namun, bagi satwa liar, hutan adalah satu-satunya tempat tinggal mereka. Maraknya kebakaran hutan dan lahan membuat para penghuni hutan kehilangan habitat, mengalami krisis sumber makanan dan udara bersih, hingga terpisah dari keluarganya. Tidak sedikit pula satwa yang mati mengenaskan akibat terjebak dalam kobaran api.

Menurut penulis, Kebakaran hutan yang terus berulang di Tanah Air bukan lagi sekadar isu lingkungan di atas kertas, melainkan krisis moral yang kasatmata. Ira, seekor orangutan betina berusia 20 tahun, dievakuasi di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dalam keadaan lemas akibat kekurangan makanan dan udara bersih setelah terjebak di hutan bekas kebakaran. Hal ini menjadi cermin retaknya cara kita memperlakukan alam dan para penghuninya.

Alam yang dahulu asri dengan udara segar serta panorama hijau kini berubah menjadi lautan api dan asap pekat. Bencana ini tidak hanya menghancurkan kehidupan flora dan fauna, tetapi juga mengancam kesehatan serta aktivitas masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.


Penulis: Keyla Afrida Rahmaissheina (Magang)

Editor: Redaksi

16 Oktober 2026

Pentingnya Penggunaan AI yang Bijak bagi Mahasiswa di Era Digital

Foto: Intan Sarifah

www.lpmalkalam.com- Di era digital, penggunaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sudah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. AI sering dimanfaatkan untuk mencari informasi, memahami materi kuliah, hingga membantu menyelesaikan tugas. Menurut penulis, kehadiran AI merupakan kemudahan yang patut dimanfaatkan oleh mahasiswa. Namun, kemudahan tersebut jangan sampai membuat mahasiswa terlalu bergantung pada teknologi dan kehilangan kebiasaan berpikir secara mandiri.

Menurut penulis, AI seharusnya menjadi teman belajar, bukan sekadar alat untuk mendapatkan jawaban secara instan. Misalnya, ketika mahasiswa kesulitan memahami materi kuliah, AI dapat digunakan untuk menjelaskan konsep dengan bahasa yang lebih sederhana, memberikan contoh, atau membuat latihan soal. Dengan cara ini, mahasiswa dapat lebih mudah memahami materi dan mengetahui bagian yang belum dikuasai. Sebaliknya, jika mahasiswa hanya menyalin jawaban AI tanpa memahami isinya, tugas memang dapat selesai lebih cepat, tetapi pengetahuan yang seharusnya diperoleh selama proses belajar justru terabaikan.

Penulis berpandangan bahwa mahasiswa tetap perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan mandiri. Jawaban yang diberikan AI tidak selalu benar sehingga mahasiswa perlu memeriksa kembali informasi melalui sumber yang tepercaya. Penulis menilai bahwa proses mencari informasi, menganalisis masalah, dan menyusun pendapat sendiri merupakan bagian penting dari perkuliahan. Kemampuan tersebut tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada teknologi karena mahasiswa juga perlu memahami dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya.

Hal ini juga berkaitan dengan persiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Menurut penulis, kemampuan menggunakan teknologi memang penting, tetapi kemampuan mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab tetap diperlukan. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi mahasiswa harus tetap mampu menentukan apakah informasi dan hasil yang diberikan AI sudah tepat untuk digunakan.

Pada akhirnya, penulis berpendapat bahwa mahasiswa tidak perlu menghindari AI, tetapi harus memahami batas penggunaannya. Gunakan AI untuk membantu memahami materi, mencari penjelasan tambahan, dan mengevaluasi hasil belajar, bukan untuk menggantikan seluruh proses berpikir. Bagi penulis, penggunaan AI yang bijak bukan tentang seberapa sering teknologi digunakan, melainkan bagaimana mahasiswa memanfaatkannya tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis, mandiri, dan bertanggung jawab.


Penulis: Magfirah (Magang)

Editor: Chalisa Najla Safira

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.