![]() |
| Foto: IST |
Foto: IST www.lpmalkalam.com- Kelompok 19 KPM Mandiri Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe menghadiri sek...
![]() |
| Foto: IST |
![]() |
| Foto: Luthfiah Iklima Panggabean |
![]() |
| Foto: IST |
![]() |
| Foto: Pixels |
![]() |
| Foto: Rozatun Navais |
![]() |
| Foto: Pixabay |
![]() |
| Foto: IST |
Kegiatan yang berlangsung di Aula Biro UIN SUNA ini dibuka langsung oleh Rektor UIN SUNA, Prof. Dr. Danial, M.Ag., yang memberikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan program edukasi teknologi Google di lingkungan kampus. Acara juga semakin semarak dengan penampilan Tari Saman yang menyambut para peserta.
Seminar ini menjadi semakin istimewa karena Sejahtra merupakan salah satu Google Student Ambassador 2026 yang berhasil meraih prestasi sebagai Top 40 Trailblazer dari sekitar 200 Google Student Ambassador yang terpilih di Indonesia. Pencapaian tersebut diraih melalui proses seleksi yang kompetitif serta berbagai kontribusi nyata dalam mengedukasi pemanfaatan teknologi AI di kalangan mahasiswa.
Dalam seminar tersebut, Sejahtra membawakan materi mengenai Google AI Mode dan Gemini sebagai AI companion untuk dunia akademik. Peserta diajak memahami cara memanfaatkan AI secara etis, menyusun prompt yang efektif, merangkum jurnal, mengembangkan ide penelitian, hingga meningkatkan produktivitas belajar tanpa mengesampingkan kemampuan berpikir kritis.
Melalui kegiatan ini, Sejahtra berharap semakin banyak mahasiswa yang tidak hanya mengenal teknologi AI, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara bertanggung jawab untuk belajar, berinovasi, dan menciptakan dampak positif. Seminar ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu membawa inovasi global ke lingkungan kampus sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya di era transformasi digital.
Penulis: Rilis (Sejahtra)
Editor: Redaksi
![]() |
| Foto: IST |
Sejak menjadi mahasiswa, Sejahtra percaya bahwa masa kuliah bukan hanya tentang memperoleh nilai yang baik, tetapi juga tentang menciptakan dampak bagi lingkungan sekitar. Keyakinan itulah yang mendorongnya aktif mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri, perlombaan, organisasi, hingga mempelajari teknologi yang dapat membantu proses belajar mahasiswa.
Kesempatan menjadi Google Student Ambassador menjadi salah satu titik penting dalam perjalanannya. Proses seleksi yang ketat mempertemukannya dengan mahasiswa-mahasiswa terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mulai dari menyusun portofolio, menyelesaikan berbagai tantangan, hingga menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan kepemimpinan menjadi bagian dari perjalanan yang harus dilalui. Semua proses tersebut mengajarkannya bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar jika disertai usaha yang sungguh-sungguh.
Namun, bagi Sejahtra, pencapaian tidak berhenti ketika dinyatakan lolos sebagai Google Student Ambassador. Justru setelah itu muncul tanggung jawab yang lebih besar, yaitu bagaimana ilmu dan kesempatan yang diperoleh dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Berangkat dari semangat tersebut, ia menginisiasi workshop Google AI Mode & Gemini di kampusnya agar mahasiswa dapat mengenal kecerdasan buatan secara lebih bijak, produktif, dan bertanggung jawab.
Menurutnya, kecerdasan buatan bukanlah alat untuk mencari jalan pintas dalam menyelesaikan tugas, melainkan partner belajar yang mampu membantu mahasiswa memahami materi, merangkum jurnal, menyusun ide penelitian, hingga meningkatkan produktivitas. Ia ingin mengubah cara pandang mahasiswa terhadap AI, dari sekadar mesin pencari jawaban menjadi alat yang mendukung proses berpikir kritis dan kreativitas.
Perjalanan ini juga mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Berasal dari daerah tidak menghalangi seseorang untuk memperoleh kesempatan di tingkat nasional maupun internasional. Selama ada kemauan untuk terus belajar, mencoba hal-hal baru, dan berani keluar dari zona nyaman, peluang akan selalu terbuka.
Sejahtra percaya bahwa kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari banyaknya penghargaan yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Karena itu, setiap pengalaman, prestasi, dan kesempatan yang diraihnya selalu ia usahakan menjadi jalan untuk berbagi ilmu, menginspirasi mahasiswa lain, dan menghadirkan perubahan positif di lingkungan sekitarnya.
Baginya, perjalanan ini masih sangat panjang. Menjadi Google Student Ambassador bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus belajar, berinovasi, dan mengajak lebih banyak mahasiswa memanfaatkan teknologi secara cerdas. Ia berharap kisahnya dapat menjadi pengingat bahwa mimpi besar bisa diraih oleh siapa saja yang berani memulai, tetap konsisten, dan tidak pernah menyerah dalam menghadapi setiap tantangan.
Penulis: Rilis (Sejahtra)
Editor: Redaksi
![]() |
| Foto: IST |
![]() |
| Foto: IST |
Berdasarkan informasi yang dimuat pada laman resmi KBA News, jembatan gantung sepanjang 26 meter itu dibangun untuk mempermudah akses masyarakat Kampung Kemerleng yang selama ini menghadapi keterbatasan mobilitas akibat kondisi geografis. Kehadiran jembatan tersebut diharapkan dapat memangkas waktu tempuh warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Pembangunan Jembatan Titian Persatuan Kemerleng didanai melalui donasi masyarakat yang dihimpun oleh Humanies Project dan Aksi Bersama. Proses pembangunannya juga melibatkan partisipasi aktif warga setempat hingga jembatan berhasil diselesaikan dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Dalam peresmian tersebut, Anies Baswedan menyampaikan bahwa jembatan tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antarwilayah, tetapi juga memiliki makna sosial bagi masyarakat. "Jembatan ini bukan sekadar menyambungkan dua tepi sungai. Jembatan ini menyambungkan keputusasaan dengan harapan, ketertinggalan dengan kemajuan, serta kesulitan dengan kemudahan," ujar Anies dalam keterangan yang diterima KBA News.
Anies Baswedan juga berharap Jembatan Titian Persatuan Kemerleng dapat dirawat dan dimanfaatkan secara bersama oleh masyarakat. Ia mengajak warga untuk menjaga jembatan tersebut serta menyelesaikan setiap permasalahan yang mungkin muncul melalui musyawarah. Menurutnya, jembatan itu diharapkan dapat menjadi penghubung menuju masa depan yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.
Reporter: Cut Saputri
Editor: Redaksi
![]() |
| Foto: IST |
Workshop yang berlangsung antusias ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dan program studi. Tingginya angka partisipasi peserta menunjukkan besarnya rasa ingin tahu serta kebutuhan mahasiswa terhadap pemanfaatan teknologi AI yang tepat guna untuk mendukung aktivitas perkuliahan sehari-hari.
Dalam pemaparannya, materi difokuskan pada pengenalan dasar Large Language Models (LLM), prinsip kerja AI modern, hingga teknik penyusunan instruksi (prompting) yang efektif dan presisi. Peserta tidak hanya diperkenalkan pada konsep teoretis, tetapi juga diajak mengeksplorasi berbagai fitur unggulan Google Gemini yang dirancang khusus untuk mempermudah produktivitas akademik.
Sebagai penyelenggara utama sekaligus Google Student Ambassador yang memprakarsai acara ini, Nurul Ghaffari menegaskan bahwa pemahaman akan teknologi AI saat ini bukan lagi sekadar tren atau pilihan opsional, melainkan sebuah kompetensi dasar yang wajib dimiliki oleh mahasiswa di era transformasi digital.
"Melalui workshop ini, tujuannya adalah mengubah cara pandang dan pendekatan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi. Google Gemini hadir bukan untuk menggantikan proses berpikir kritis ataupun kreativitas manusia, melainkan sebagai asisten cerdas (partner) yang dapat melipatgandakan efisiensi belajar, mengolah data riset, hingga membantu penyusunan ide-ide inovatif secara lebih terstruktur," ujar Nurul di sela-sela kegiatan.
Rangkaian acara ini juga dirancang dengan pendekatan praktis melalui sesi hands-on workshop. Pada sesi ini, para peserta diajak untuk mencoba secara langsung berbagai simulasi penggunaan Google Gemini. Beberapa studi kasus yang dipraktikkan, antara lain penyusunan kerangka tulisan ilmiah, pemrosesan data sederhana, pencarian referensi belajar, hingga pembuatan draf presentasi yang efektif. Suasana workshop terasa sangat hidup dengan tingginya dinamika diskusi dan interaksi sesi tanya jawab antara peserta dan penyelenggara.
Tidak hanya fokus pada kemudahan teknis, workshop ini juga menyelipkan penekanan penting mengenai etika penggunaan AI (AI Ethics). Para peserta diingatkan untuk selalu menjaga integritas akademik, menghindari plagiarisme, serta menggunakan AI secara bijak sebagai alat bantu analisis, bukan sebagai jalan pintas yang mengabaikan kejujuran ilmiah.
Melalui suksesnya penyelenggaraan workshop mandiri ini, diharapkan para mahasiswa mampu mengintegrasikan teknologi Google Gemini ke dalam rutinitas akademik mereka secara bertanggung jawab. Inisiatif ini sekaligus menjadi bukti nyata kepemimpinan serta komitmen Google Student Ambassador dalam menciptakan ekosistem kampus yang siap beradaptasi dan berdaya saing di tengah arus pesat perkembangan teknologi masa depan.
Penulis: Rilis (Nurul Ghaffari)
Editor: Redaksi
![]() |
| Foto: IST |
Jihan Fanyra berhasil meraih juara II, sementara Muhammad Khalilullah dan Andika Bayu Kurnia menduduki Top 10 Besar pada ajang tersebut. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UIN SUNA memiliki potensi besar dalam mengedukasi masyarakat terkait pejuang rupiah. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mencari para pemuda Lhokseumawe sebagai fasilitator dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap fungsi rupiah dan sebagai agen edukasi dalam menjelaskan simbol identitas bangsa.
Jihan menyampaikan bahwa ia merasa bangga atas diri sendiri karena sudah melawan keraguan saat pertama kali memulai. Jihan juga berkata di balik kejuaraannya, sangat banyak tantangan yang dihadapi mulai dari padatnya jadwal kuliah dan tugas pada ajang perlombaan, tetapi itu tidak menjadi alasan agar ia mundur. Sejak awal memulai, Jihan tidak merasa kalah, karena berani memulai sudah menjadi kemenangan baginya.
Menurutnya, kunci dari kejuaraan tersebut adalah belajar. Karena banyak perbedaan ajang Duta CBP Rupiah dengan Duta lainnya. Duta CBP Rupiah mutlak difokuskan pada uang rupiah mulai dari filosofis, metode melihat keaslian uang rupiah, dan hal-hal yang ada didalamnya.
Jihan menyampaikan bahwa sekecil apapun langkah yang kita ambil jangan pernah lupakan rida dan doa orang tua serta guru. Ia juga berpesan kepada para mahasiswa agar percaya pada potensi yang dimiliki, melakukan apa yang mampu dilakukan, jangan pernah merasa minder atau takut gagal, serta selalu bersyukur jika dikelilingi oleh orang-orang hebat.
"Kampus sangat support, baik itu dosen, pimpinan fakultas serta pimpinan kampus yang selalu memberikan dukungan mulai dari awal sampai saya akhirnya alhamdulillah mendapatkan juara 2 pada ajang Duta Muda CBP Rupiah," tambahnya.
Setelah pencapaian pada ajang ini, Jihan memiliki target agar terus menjadi fasilitator terbaik dalam agen paham rupiah sebagai penyampai edukasi kepada anak muda supaya bisa memandang rupiah bukan sekadar bernilai transaksi tetapi juga sebagai kedaulatan negara.
Reporter: Annisa Maulianda
Editor: Chalisa Najla Safira
![]() |
| Foto: Pixabay |
![]() |
| Foto: IST |
Namun, seiring bertambahnya usia, aku mulai bertanya-tanya. Apakah nama ini hanya sebuah harapan, atau justru menjadi beban?
Hidupku tidak selalu berjalan seperti arti namaku. Aku pernah menghadapi banyak kesulitan, tekanan, kegagalan, rasa lelah, dan masa-masa ketika aku merasa jauh dari kata "sejahtera." Ada hari-hari ketika aku mempertanyakan diri sendiri: mengapa seseorang yang bernama Sejahtra justru harus melalui begitu banyak ujian?
Lalu, aku menyadari sesuatu.
Mungkin orang tuaku tidak sedang menamai siapa aku saat itu. Mereka sedang mendoakan siapa aku akan menjadi.
Nama bukanlah cerminan keadaan hari ini. Nama adalah arah perjalanan.
Karena itu, aku memilih untuk terus belajar. Aku menulis, mengikuti perlombaan, aktif berorganisasi, mencoba hal-hal baru, dan tidak berhenti berkembang. Setiap langkah kecil menjadi cara untuk mendekatkan diriku pada makna nama yang telah diberikan sejak lahir.
Hari ini, ketika aku dipercaya menjadi Google Student Ambassador, aku merasa perjalanan itu mulai menemukan maknanya. Amanah ini bukan sekadar gelar, tetapi pengingat bahwa aku harus menjadi pribadi yang mampu membawa manfaat melalui teknologi, pendidikan, dan inovasi.
Menjadi Google Student Ambassador membuatku percaya bahwa kesejahteraan bukan hanya tentang memiliki banyak hal. Sejahtera adalah ketika ilmu yang dimiliki bisa dibagikan, kesempatan yang diterima bisa membuka jalan bagi orang lain, dan setiap pencapaian menjadi alasan untuk terus rendah hati.
Kini, aku tidak lagi bertanya apakah namaku adalah harapan, doa, atau beban.
Aku percaya namaku adalah ketiganya.
Harapan yang ditanamkan oleh orang tuaku.
Doa yang terus menyertaiku di setiap langkah.
Dan beban yang berubah menjadi tanggung jawab untuk terus bertumbuh.
Aku mungkin belum sepenuhnya menjadi "Sejahtra." Masih banyak mimpi yang ingin kuraih dan tantangan yang harus kulewati. Tetapi, setiap hari aku berusaha sedikit demi sedikit agar hidupku benar-benar mencerminkan namaku.
Karena pada akhirnya, seseorang tidak dikenang karena nama yang ia miliki, melainkan karena bagaimana ia memberi makna pada nama itu.
Dan aku memilih untuk menjadikan "Sejahtra" bukan sekadar nama, melainkan tujuan hidup.
Penulis: Rilis (Sejahtera)
Editor: Redaksi
![]() |
| Foto: Bellivia A-Kamariana |