Portal Berita Al-Kalam

PSGA UIN SUNA Raih Juara Harapan I Perguruan Tinggi Responsif Gender Se-Indonesia

Foto: IST www.lpmalkalam.com- Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe mera...

HEADLINE

Latest Post

29 Juni 2026

Tradisi Kenduri Blang: Menjaga Budaya, Mengikat Solidaritas

Foto: Pixels
www.lpmalkalam.com- Aceh dikenal dengan adat dan budaya yang masih sangat kental. Di era modern ini, masyarakat Aceh masih melestarikan tradisi leluhur, salah satunya Kenduri Blang. Kenduri berarti jamuan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur, sedangkan blang dalam bahasa Aceh berarti sawah.

Tradisi ini dilaksanakan dengan cara masyarakat memasak dan makan bersama di area persawahan menjelang musim tanam padi sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang telah diberikan.

Kenduri Blang dipercaya sebagai bentuk doa dan ikhtiar masyarakat agar terhindar dari berbagai rintangan ketika memulai musim tanam. Masyarakat meyakini bahwa setiap usaha hendaknya diawali dengan doa dan ikhtiar kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar memperoleh hasil yang terbaik.

Selain itu, Kenduri Blang juga menjadi tradisi memasak dan makan bersama di dekat area persawahan yang bertujuan mempererat hubungan antarmasyarakat. Melalui tradisi ini, nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas sosial terus dipupuk dan dilestarikan.

Di era modern, Kenduri Blang bukan sekadar kenduri dan doa bersama, tetapi juga menjadi wadah musyawarah para petani menjelang musim tanam. Dalam musyawarah tersebut dibahas berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan persawahan, seperti pembagian air irigasi secara adil dan penentuan jadwal tanam padi.

Pelestarian Kenduri Blang kini menjadi tantangan tersendiri, terutama karena banyak generasi muda yang kurang tertarik pada bidang pertanian dan menganggap tradisi tersebut tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Padahal, Kenduri Blang mengandung nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan musyawarah yang penting dalam membentuk karakter generasi muda. Oleh karena itu, pelestarian tradisi ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mendukung keberlanjutan sektor pertanian sebagai penopang ketahanan pangan masyarakat.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Zahratul

03 Juni 2026

Pante Bahagia Tetap Ramai Dikunjungi Meski Libur Lebaran Telah Usai

Foto: IST
www.lpmalkalam.com- Objek wisata Pante Bahagia yang berlokasi di Gampong Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, masih ramai dikunjungi wisatawan meskipun masa libur Lebaran telah usai pada Rabu (03/06/2026).

Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah wisatawan tampak datang bersama keluarga dan kerabat untuk menikmati suasana alam serta kejernihan air sungai yang menjadi daya tarik utama kawasan wisata tersebut.

Keramaian terlihat dari banyaknya pengunjung yang bermain air di sungai serta padatnya area parkir kendaraan roda dua dan roda empat. Tidak hanya berasal dari Aceh Utara, sejumlah pengunjung juga datang dari berbagai daerah untuk menghabiskan waktu libur akhir pekan di destinasi wisata yang tengah populer tersebut.

Ramainya kunjungan wisatawan turut memberikan dampak positif bagi para pedagang di sekitar kawasan wisata. Mereka mengaku mengalami peningkatan pendapatan dari penjualan makanan dan minuman serta penyewaan perlengkapan wisata, seperti perahu karet yang digunakan pengunjung untuk menikmati wahana air.

Salah seorang pengunjung, Molinda Yanti, menilai Pante Bahagia memiliki potensi wisata yang terus berkembang dan mampu menarik minat masyarakat untuk berkunjung. “Harapan saya, Pante Bahagia semakin maju dan semakin banyak dikunjungi wisatawan karena selain menjadi tempat rekreasi, lokasi ini juga menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat sekitar,” ujar Molinda Yanti.


Penulis: Rozatun Navais

Editor: Zahratul

01 Juni 2026

Siswa SD Negeri 10 Linge Masih Belajar di Tenda Darurat Enam Bulan Pascabencana

Foto: Julia Sabela

www.lpmalkalam.com- Sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 10 Linge di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah masih mengikuti kegiatan belajar mengajar di tenda darurat pada Jumat (30/5/2026).

Kondisi tersebut terjadi setelah bangunan sekolah mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut sekitar enam bulan lalu. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar terpaksa dipindahkan ke tenda darurat yang digunakan sebagai ruang kelas sementara. Meski belajar dengan fasilitas terbatas, para siswa tetap mengikuti pembelajaran setiap hari.

Salah seorang guru SD Negeri 10 Linge, Siti Rahma, S.Pd., mengatakan bahwa para siswa tetap menunjukkan semangat belajar meskipun harus belajar di tenda darurat. Menurutnya, para siswa tetap hadir dan mengikuti pelajaran dengan baik meskipun kondisi belajar belum memadai.

Ia berharap fasilitas sekolah yang rusak dapat segera diperbaiki agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan lebih nyaman. Selain itu, para guru terus berupaya memberikan materi pembelajaran agar siswa tidak tertinggal selama masa pemulihan pascabencana.

Hingga kini, tenda darurat masih digunakan sebagai tempat belajar sementara bagi para siswa. Pemerintah daerah masih mengupayakan pemulihan fasilitas pendidikan yang terdampak banjir dan longsor.

Nurhayati, warga yang tinggal di sekitar sekolah, berharap pemerintah segera mempercepat pembangunan kembali gedung sekolah yang rusak. "Kami sedih melihat anak-anak masih harus belajar di tenda darurat setelah berbulan-bulan. Semoga pembangunan sekolah segera dilakukan supaya mereka bisa belajar dengan aman dan nyaman," katanya.


Penulis: Julia Sabela

Editor: Zahratul

26 Mei 2026

Meugang: Bukan Sekadar Daging, tetapi Warisan Budaya

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Meugang, dalam masyarakat Aceh, dikenal sebagai hari yang dipenuhi oleh daging. Sebenarnya, tradisi ini bukan sekadar tentang daging, melainkan tradisi turun-temurun di Aceh ketika seluruh masyarakat memasak dan menghidangkan daging untuk keluarga mereka. Meugang biasanya berlangsung dua hari sebelum Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Masyarakat menyebutnya sebagai meugang kecil (dua hari sebelum Lebaran) dan meugang besar (satu hari sebelum Lebaran).

Tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh. Menurut masyarakat Aceh, daging yang dihidangkan merupakan bentuk rasa syukur sekaligus simbol kebersamaan dalam kehidupan sosial. Dahulu, pada masa Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau, dan hewan ternak lainnya disembelih untuk dibagikan kepada fakir miskin dan anak yatim. Hal tersebut menjadi bukti bahwa tradisi meugang sangat lekat dengan nilai keberkahan dan kepedulian sosial.

Setiap sudut kota maupun desa di Aceh merayakan hari besar ini. Meskipun terdapat sedikit perbedaan di beberapa daerah, tradisi meugang tetap memiliki makna yang sama bagi seluruh masyarakat Aceh. Menjelang hari meugang, masyarakat Aceh sangat antusias menyiapkan berbagai hewan ternak untuk diperjual belikan demi terciptanya pemerataan ekonomi. Ketika hari meugang tiba, banyak masyarakat dari berbagai profesi menghentikan aktivitas pekerjaan mereka untuk merayakan tradisi warisan leluhur ini.

Daging yang dibeli kemudian dimasak menjadi berbagai hidangan khas Aceh, seperti kari, kuah beulangong (gulai khas Aceh), sie reuboh (daging rebus asam pedas), dan sop daging. Uniknya, masyarakat Aceh tidak pernah menganggap tradisi ini sebagai beban. Baik kalangan atas maupun bawah tetap berusaha agar keluarga mereka dapat menikmati daging pada hari meugang.


Penulis: Annisa Maulianda

Editor: Zahratul

01 Mei 2026

Day Care tanpa Izin Marak di Yogyakarta dan Banda Aceh: Pengasuh Tidak Bersertifikat


Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com- Maraknya kasus day care (tempat pengasuhan anak) yang tersebar di media masa akibat perizin yang tidak resmi di Yogyakarta dan Banda Aceh menjadi peringatan akan bahaya trauma pada anak sejak dini. Kasus ini telah menarik perhatian serius berbagai pihak. Salah satu bentuk kekerasan yang terjadi adalah pengikatan kaki anak saat tidur dengan alasan agar tidak mengganggu anak lain dan tidak rewel.

Di Yogyakarta, tepatnya di Day Care Little Aresha terdapat 13 tersangka pelaku kekerasan terhadap anak. Di antaranya terdapat ketua yayasan dan kepala sekolah, serta 11 orang lainnya yang merupakan pengasuh. Para pengasuh mengungkapkan bahwa tindakan kekerasan tersebut dilakukan atas perintah kedua pihak tersebut.

Selain itu, tempat penitipan anak tersebut diketahui tidak memiliki izin operasional. Lembaga tersebut juga tidak terdaftar sebagai satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maupun Taman Kanak-Kanak (TK). Para ahli menyatakan bahwa kekerasan seperti ini dapat berdampak pada gangguan kesehatan mental anak. Oleh karena itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Kota Yogyakarta melakukan terapi psikologis terhadap korban serta bekerja sama dengan dinas kesehatan untuk melakukan skrining tumbuh kembang anak.

Sementara itu di Banda Aceh, tepatnya di Baby Preneur, terdapat enam pelaku kekerasan terhadap anak. Salah satu dari enam tersangka tersebut merupakan pengelola yayasan. Akibat kejadian ini, tempat pengasuhan anak tersebut telah ditutup oleh Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Kalilullah. Ia memastikan bahwa kasus ini akan ditangani hingga tuntas.

Kasus ini menjadi peringatan bahwa perlindungan anak tidak boleh diabaikan. Perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama. Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga pengasuhan, dan orang tua, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang aman serta mendukung tumbuh kembang optimal bagi generasi penerus bangsa.

Penulis: Cut Saputri
Editor: Putri Ruqaiyah

05 Maret 2026

Dukung Pemulihan dan Pertumbuhan Ekonomi Warga Cot Ara, Mahasiswa KPM UIN SUNA Daftarkan Usaha Warga ke Google Maps

Foto: IST 

www.lpmalkalam.com– Upaya mendukung pemulihan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat pascabanjir, mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri Tematik Kebencanaan Kelompok 03 Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe laksanakan program "Lensa Lokal: Eksplorasi, Promosi, dan Pembuatan Titik Lokasi di Google Maps" pemilik usaha di Desa Cot Ara, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara pada Selasa (02/03/2026). 

‎Sebanyak lima usaha berhasil didaftarkan dan dibuatkan titik lokasi usahanya di Google Maps, dengan mayoritas berupa toko kelontong yang melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat. Selain itu, beberapa usaha lain seperti Seblak Prasmanan dan Mie Aceh juga turut dibantu proses pendataan dan pembuatan profil usahanya agar lebih mudah ditemukan oleh pelanggan, baik dari dalam maupun luar desa.

Foto: IST

‎Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KPM melakukan wawancara singkat seperti pendataan identitas usaha, nama usaha, jam buka-tutup toko, pengambilan dokumentasi lokasi, serta membantu proses pembuatan dan verifikasi akun Google Maps. Langkah ini bertujuan agar usaha yang ada di Desa Cot Ara memiliki visibilitas digital yang lebih luas dan dapat dijangkau oleh masyarakat secara daring.

‎Pemilik usaha Toko Keluarga merespon baik kedatangan mahasiswa KPM yang ingin mempromosikan dagangannya. Selain menyambut dan menawarkan dagangannya untuk dibeli, ia dan sang ayah juga berinteraksi cukup lama dengan mahasiswa KPM. Hal itu juga terjadi pada salah satu pemilik toko kelontong dan sayuran, Kedai Syarkawi, "Kalau (digitalisasi) ini untuk mudah dijangkau (kedainya) sama orang luar, gas (ayo) aja," ujarnya.

‎Program ini menjadi salah satu jembatan untuk menjalin keakraban dengan warga desa setempat. Digitalisasi sederhana yang digunakan mahasiswa KPM berupaya memberikan dampak positif terhadap peningkatan promosi dan daya saing usaha di desa yang mendorong pelaku usaha untuk mulai memanfaatkan platform digital sebagai sarana pengembangan usaha di Desa Cot Ara.

‎Reporter: Alya Nadila

‎Editor: Tiara Khalisna

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.