![]() |
| Foto: Pixabay |
Foto: Putri Ruqaiyah www.lpmalkalam.com- Usia ke-57 tahun menjadi tonggak penting dalam perjalanan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah ...
![]() |
| Foto: Pixabay |
![]() |
| Foto: Pixels |
www.lpmalkalam.com- Museum seni dipenuhi dengan temaram lampu dan langkah pelan para pengunjung. Di setiap dinding tergantung lukisan dengan cerita masing-masing.
Sore itu, Kala datang sendirian, hanya untuk menghindari hiruk-pikuk kota dan pikirannya sendiri.
Langkahnya terhenti di depan sebuah lukisan besar.
Lukisan dua ekor burung yang sedang terbang di langit senja. Awalnya terlihat berdampingan, tetapi semakin ke atas, arah terbang mereka mulai berbeda. Yang satu menuju cahaya senja, satunya lagi ke langit gelap yang dipenuhi awan.
Di bawah lukisan itu tertulis:
“Tidak semua perjalanan yang dimulai bersama akan berakhir bahagia.”
Netra Kala terpaku cukup lama sampai suara seseorang terdengar di sampingnya.
“Masih suka ngeliatin lukisan sambil bengong?”
Napas Kala terasa berat sesaat.
Naren.
Nama yang selama ini berusaha Kala kubur dalam-dalam kini berdiri tepat di sampingnya.
Kala menoleh perlahan.Naren menatapnya dengan senyum kecil yang masih sama seperti dulu, hangat.
“Aku kira kamu ga suka museum,” bisik Kala pelan.
“Aku juga kira kamu udah ga suka tempat sepi.”
Mereka tertawa kecil, canggung, sangat canggung.
Sudah hampir tiga tahun sejak hubungan mereka berakhir. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kebencian. Hanya keadaan yang perlahan memaksa mereka berjalan ke arah berbeda, tetapi rasanya lebih menyakitkan dibanding berakhir karena pertengkaran.
Naren harus mengejar mimpinya ke luar kota, sedangkan Kala memilih tetap tinggal demi keluarganya.
Awalnya mereka berjanji akan bertahan.
Tetapi ternyata kadang janji akan kalah oleh jarak, waktu, dan impian yang tinggi.
Kini mereka dipertemukan lagi secara aneh di depan lukisan dua burung yang terbang menjauh satu sama lain.
“Lucu ya,” gumam Naren sambil menatap lukisan itu. “Kayak kita.”
Kala tersenyum tipis.
"Iya, kayak kita. Awalnya jalan bareng tapi harus pisah karena tujuannya beda."
“Aku sempat benci sama perpisahan kita,” lanjut Kala jujur. “Aku pikir semesta jahat banget.”
Naren diam beberapa detik sebelum akhirnya ikut berkata pelan, “Aku juga.”
Hening kembali datang.
Tetapi kali ini bukan hening yang canggung. Melainkan hening dua orang yang pernah saling mengenal terlalu dalam.
Dari speaker museum tiba-tiba terdengar alunan lagu lembut. Awalnya hanya instrumen pelan, sampai liriknya mengisi ruangan.
“Dipertemukan semesta… walau berakhir tak bahagia…”
Kala langsung menunduk kecil sambil tertawa getir.
“Semestanya nyindir ya?” katanya.
Naren ikut tertawa pelan, meski matanya tampak menyimpan banyak hal yang tidak bisa terucap.
Untuk sesaat, Kala berharap waktu berhenti di sana saja. Di ruangan sunyi itu, di depan lukisan dua burung yang pernah terbang berdampingan sebelum akhirnya memilih arah masing-masing.
Namun mereka sama-sama tahu, beberapa orang memang hanya ditakdirkan bertemu untuk menjadi cerita, bukan bersama selamanya.
Lampu museum mulai diredupkan tanda jam tutup hampir tiba.
“Aku harus pergi,” kata Naren akhirnya.
Kala mengangguk pelan. “Aku juga.”
Mereka berjalan ke arah pintu keluar bersama, tetapi tidak saling menyentuh lagi seperti dulu.
Sesampainya di persimpangan depan museum, langkah mereka berhenti.
“Kala,” panggil Naren.
“Hmm?”
“Makasih ya… pernah jadi rumah.”
Kala tersenyum kecil walau matanya mulai berkaca.
“Kamu juga.”
Setelah itu mereka benar-benar pergi ke arah berbeda. Sama seperti dua burung di dalam lukisan itu.
Penulis: Chalisa Najla Safira
Editor: Putri Ruqaiyah
![]() |
| Foto: Pexels |
![]() |
| Foto: Pexels |
www.lpmalkalam.com- Malam itu hujan mengguyur Kota Bandung. Lampu jalan memantul di genangan air, seperti serpihan kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai dipungut.
![]() |
| Foto: Pexels |
![]() |
| Foto: Pexels |
Pagi ini, guru wali kelas memberikan tugas sederhana untuk siswa. Seluruh siswa diberikan waktu untuk menuliskan cita-cita mereka pada selembar kertas dan kemudian diceritakan di depan kelas.
Suasana kelas sangat ramai. Teman-teman Zayyan sangat bersemangat menceritakan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi polisi, guru, bahkan pilot. Namun, Zayyan hanya diam sambil menatap kertas kosong di mejanya.
Guru wali kelas menyadari hal itu.
"Kenapa belum ditulis, Yan?" tanyanya.
"Saya takut cita-cita saya terlalu tinggi, Bu," ucap Zayyan sambil menunduk.
"Memangnya apa cita-citamu?"
Zayyan menarik napas pelan sebelum menjawab.
"Saya ingin jadi dokter. Saya ingin membantu orang sakit yang tidak punya biaya, seperti ibu saya."
Ibu guru tersenyum haru. "Gak ada cita-cita yang terlalu tinggi kalau kamu sertai dengan doa dan usaha," ucapnya sambil tersenyum.
Kalimat itu membuat Zayyan kembali bersemangat. Ia mulai menulis cita-citanya dengan penuh keyakinan.
Usai waktu yang diberikan habis, siswa diminta untuk membacakan apa yang mereka tulis di depan kelas.
Hingga tiba giliran Zayyan.
Dengan suara yang sedikit bergetar, Zayyan membacakan tulisannya.
"Saya belajar bahwa pendidikan tidak melihat siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang paling mau belajar dan berusaha. Saya percaya dengan doa dan usaha, suatu hari nanti bisa membawa saya menjadi dokter untuk membantu banyak orang dan membahagiakan keluarga saya."
Suasana kelas menjadi hening, banyak siswa yang tersentuh mendengar kalimat Zayyan.
Usai Zayyan membacakan tulisannya, Ibu guru menghampirinya.
"Jangan pernah berhenti bermimpi ya, Yan. Sekolah akan membantu siswa yang mau berjuang," ujarnya sambil tersenyum.
Hari ini, untuk pertama kalinya Zayyan merasa mimpinya bukanlah hal yang mustahil. Dari bangku paling belakang, Ia yakin bahwa pendidikan bisa membawanya ke masa depan yang menjanjikan.
Penulis: Chalisa Najla Safira
Editor: Tiara Khalisna