Portal Berita Al-Kalam

Meneguhkan Peran UIN SUNA di Usia 57 Tahun

Foto: Putri Ruqaiyah www.lpmalkalam.com- Usia ke-57 tahun menjadi tonggak penting dalam perjalanan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah ...

HEADLINE

Latest Post

27 Mei 2026

Waktu yang Perlu Dijeda

 

Foto: Pixabay 

www.lpmalkalam.com- Pada malam hari raya, sudah menjadi kebiasaan bagi seseorang untuk berkumpul bersama orang-orang tersayang. Rini, seorang gadis yang ingin bercengkerama dan menghabiskan banyak waktu bersama keluarga, kini harus menghadapi realita yang menuntutnya memikul berbagai tanggung jawab, terutama sebagai pelajar. Tugas demi tugas, deadline demi deadline, datang silih berganti tanpa henti.

Suatu waktu di kampung, Mbah Aniah datang menghampirinya seraya berkata.

“Kamu mau kan bermalam di sini?”

“Lihat dulu, Mbah,” ucap Rini sambil tersenyum.

Awalnya, Rini tidak terlalu menghiraukan pertanyaan itu. Ia mengira ucapan tersebut hanyalah basa-basi. Padahal, wajar jika neneknya menanyakan hal seperti itu, mengingat Rini adalah salah satu cucu yang jarang pulang, dan kalau pun pulang hanya pada hari-hari besar saja. Sementara itu, pikirannya terus dipenuhi berbagai hal yang tidak kunjung usai.

Beberapa jam kemudian, Mbah Aniah kembali menghampiri Rini dengan pertanyaan yang sama.
“Kamu mau kan bermalam di sini?”

Rini tertegun sambil menatap raut wajah neneknya yang tampak sedih sekaligus penuh harap. Rasanya tak tega melihat perempuan tua itu berdiri menanti jawaban dari cucu yang begitu ia sayangi. Di sisi lain, jantung Rini berdebar, pikirannya berputar, dan rasa bingung membuatnya hanya mampu terdiam sesaat.

“Kapan lagi kamu mau bermalam di sini? Padahal cuma setahun sekali,” sahut Mbah Aniah pelan.

Setelah mendengar hal itu, Rini menyadari bahwa pertanyaan tersebut ternyata memiliki makna yang selama ini gagal ia pahami. Resah, sangat resah. Seolah terjadi pergulatan batin antara keinginan untuk berkumpul bersama keluarga dan tuntutan untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.

Namun, Rini teringat pesan ibunya yang pernah berkata bahwa jika ada kesempatan untuk berkumpul dengan orang tersayang, terutama dengan Mbah, maka lakukanlah. Jika tidak, pasti akan ada rasa sedih yang tertinggal. Apa yang dikatakan ibunya terasa benar. Meski begitu, Rini merasa ia tetap harus mencari cara agar dapat memanfaatkan waktunya sebaik mungkin demi menjalankan keduanya.

“Apa aku bermalam dua hari saja, ya? Kayaknya bisa,” gumamnya.

“Baiklah, Mbah,” ucap Rini akhirnya. Mbah Aniah pun tersenyum bahagia.

Jika dipikir-pikir, memang ada waktunya seseorang perlu menjeda diri dari segala aktivitas yang selama ini dijalani. Keluarga adalah tempat beristirahat dari penatnya kehidupan, agar hati tidak lelah dan ikatan kasih tetap tumbuh kuat. Dua hari mungkin terasa singkat, tetapi bisa menjadi sangat bermakna jika dimanfaatkan dengan baik.

Pada akhirnya, sekeras apa pun dunia, keluarga tetap menjadi tempat kita berpulang. Di sanalah cinta dan kasih selalu menunggu. Di tengah waktu yang terus berputar dan padatnya aktivitas, sudah sepatutnya kita meluangkan sedikit ruang untuk orang-orang tercinta. Sebab, terkadang yang mereka butuhkan bukan sekadar hangatnya sapaan atau panjangnya percakapan, melainkan kehadiran dan kebersamaan.


Penulis: Rizky Ramadhani 

Editor: Zahratul

21 Mei 2026

Arah yang Berbeda

 

Foto: Pixels

www.lpmalkalam.com- Museum seni dipenuhi dengan temaram lampu dan langkah pelan para pengunjung. Di setiap dinding tergantung lukisan dengan cerita masing-masing.

Sore itu, Kala datang sendirian, hanya untuk menghindari hiruk-pikuk kota dan pikirannya sendiri.

Langkahnya terhenti di depan sebuah lukisan besar.

Lukisan dua ekor burung yang sedang terbang di langit senja. Awalnya terlihat berdampingan, tetapi semakin ke atas, arah terbang mereka mulai berbeda. Yang satu menuju cahaya senja, satunya lagi ke langit gelap yang dipenuhi awan.

Di bawah lukisan itu tertulis:

“Tidak semua perjalanan yang dimulai bersama akan berakhir bahagia.”

Netra Kala terpaku cukup lama sampai suara seseorang terdengar di sampingnya.

“Masih suka ngeliatin lukisan sambil bengong?”

Napas Kala terasa berat sesaat.

Naren.

Nama yang selama ini berusaha Kala kubur dalam-dalam kini berdiri tepat di sampingnya.

Kala menoleh perlahan.Naren menatapnya dengan senyum kecil yang masih sama seperti dulu, hangat.

“Aku kira kamu ga suka museum,” bisik Kala pelan.

“Aku juga kira kamu udah ga suka tempat sepi.”

Mereka tertawa kecil, canggung, sangat canggung.

Sudah hampir tiga tahun sejak hubungan mereka berakhir. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kebencian. Hanya keadaan yang perlahan memaksa mereka berjalan ke arah berbeda, tetapi rasanya lebih menyakitkan dibanding berakhir karena pertengkaran.

Naren harus mengejar mimpinya ke luar kota, sedangkan Kala memilih tetap tinggal demi keluarganya.

Awalnya mereka berjanji akan bertahan.

Tetapi ternyata kadang janji akan kalah oleh jarak, waktu, dan impian yang tinggi.

Kini mereka dipertemukan lagi secara aneh di depan lukisan dua burung yang terbang menjauh satu sama lain.

“Lucu ya,” gumam Naren sambil menatap lukisan itu. “Kayak kita.”

Kala tersenyum tipis.

"Iya, kayak kita. Awalnya jalan bareng tapi harus pisah karena tujuannya beda." 

“Aku sempat benci sama perpisahan kita,” lanjut Kala jujur. “Aku pikir semesta jahat banget.”

Naren diam beberapa detik sebelum akhirnya ikut berkata pelan, “Aku juga.”

Hening kembali datang.

Tetapi kali ini bukan hening yang canggung. Melainkan hening dua orang yang pernah saling mengenal terlalu dalam.

Dari speaker museum tiba-tiba terdengar alunan lagu lembut. Awalnya hanya instrumen pelan, sampai liriknya mengisi ruangan.

“Dipertemukan semesta… walau berakhir tak bahagia…”

Kala langsung menunduk kecil sambil tertawa getir.

“Semestanya nyindir ya?” katanya.

Naren ikut tertawa pelan, meski matanya tampak menyimpan banyak hal yang tidak bisa terucap.

Untuk sesaat, Kala berharap waktu berhenti di sana saja. Di ruangan sunyi itu, di depan lukisan dua burung yang pernah terbang berdampingan sebelum akhirnya memilih arah masing-masing.

Namun mereka sama-sama tahu, beberapa orang memang hanya ditakdirkan bertemu untuk menjadi cerita, bukan bersama selamanya.

Lampu museum mulai diredupkan tanda jam tutup hampir tiba.

“Aku harus pergi,” kata Naren akhirnya.

Kala mengangguk pelan. “Aku juga.”

Mereka berjalan ke arah pintu keluar bersama, tetapi tidak saling menyentuh lagi seperti dulu.

Sesampainya di persimpangan depan museum, langkah mereka berhenti.

“Kala,” panggil Naren.

“Hmm?”

“Makasih ya… pernah jadi rumah.”

Kala tersenyum kecil walau matanya mulai berkaca.

“Kamu juga.”

Setelah itu mereka benar-benar pergi ke arah berbeda. Sama seperti dua burung di dalam lukisan itu.


Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Putri Ruqaiyah

19 Mei 2026

Bunga di Ujung Musim

Foto: Pexels 
www.alkalam.com- Pada suatu hari, di sebuah desa kecil, hiduplah seorang gadis yang bernama Alina yang sangat menyukai bunga. Setiap pagi ia selalu menyiram tanaman di halaman rumahnya dengan penuh perhatian, namun dari sekian banyak bunga yang ia tanam hanya satu yang paling dia sukai, yaitu sebuah bunga kecil berwarna kuning yang tumbuh di sudut taman.

Bunga itu tampak berbeda karena tidak seindah mawar, tidak seharum melati, dan sering kali layu saat musim kemarau datang. Namun setiap kali hujan pertama turun, bunga itu selalu mekar kembali dengan lebih indah dari sebelumnya.

Suatu hari, Alina merasa sedih karena gagal dalam sebuah perlombaan yang sangat ia harapkan, ia duduk termenung di dekat taman memandangi bunga kuning kesayangannya yang tampak layu. 

"Kenapa kamu masih bertahan?" bisiknya pelan. 

Beberapa hari kemudian, hujan turun deras setelah kemarau panjang. Alina berlari keluar rumah dan melihat bunga itu kembali mekar bahkan lebih cerah dari sebelumnya. Saat itu ia tersadar bahwa bunga kecil itu mengandung sebuah pelajaran penting baginya.

Bunga itu mengajarkan bahwa kegagalan dan kesulitan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses untuk tumbuh lebih kuat, seperti bunga yang layu lalu mekar kembali. Manusia pun bisa bangkit setelah jatuh. 

Sejak saat itu, Alina tidak lagi mudah menyerah, ia percaya bahwa setiap kesulitan yang ia hadapi adalah "musim kemarau" yang akan berlalu, dan suatu saat ia akan "mekar" kembali dengan lebih baik. 

Setiap kesulitan dalam hidup mengandung pelajaran dan harapan. Jangan menyerah karena setelah masa sulit akan selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali.


Penulis: Zilfira

Editor: Chalisa Najla Safira

13 Mei 2026

Malam, Hujan, dan Tangis yang Disembunyikan

Foto: Pexels 


www.lpmalkalam.comMalam itu hujan mengguyur Kota Bandung. Lampu jalan memantul di genangan air, seperti serpihan kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai dipungut.

Di halte tua dekat kampus, seorang gadis duduk sendiri sambil memeluk tasnya erat.

Namanya Kanaya.

Sudah hampir dua jam ia berada di sana, bukan karena menunggu seseorang, melainkan karena tidak tahu harus pulang ke mana dalam keadaan hatinya yang begitu berantakan.

Hari itu dosennya kembali menolak proposal skripsinya. Orang tuanya di rumah terus menanyakan kapan ia lulus. Teman-temannya satu per satu mulai sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Dan orang yang dulu selalu menjadi tempat pulangnya bahkan kini tidak lagi menanyakan bagaimana kabarnya.

Kadang hidup terasa aneh.
Kita tumbuh sambil kehilangan banyak hal, lalu dipaksa tetap berjalan seolah semuanya baik-baik saja.

Naya menatap langit gelap. Hujan belum juga berhenti.

“Aku capek,” bisiknya lirih, nyaris kalah oleh suara hujan. Kalimat sederhana yang selama ini selalu ia telan sendiri.

Di samping halte, ada seorang pria penjual kopi yang masih membuka gerobaknya. Uap panas dari cangkir kopi naik perlahan menembus dingin malam.

“Kenapa belum pulang?” tanyanya.

Naya hanya tersenyum kecil.

“Kadang orang bukan nggak mau pulang,” lanjut pria itu sambil menuang kopi. “Mereka cuma belum siap kalau setelah perjalanan sejauh ini, ternyata nggak ada lagi tempat yang bisa dipanggil rumah.”

Kalimat itu menghantam dada Naya begitu saja. Karena ternyata benar, yang paling melelahkan bukan tugas kuliah, bukan revisi, bukan pula hujan panjang malam itu.

Melainkan perasaan bahwa tak lagi punya tempat untuk dimengerti.

Naya menunduk. Matanya mulai panas. Ia selalu terlihat kuat di hadapan semua orang. Selalu berusaha jadi pendengar yang baik. Selalu bilang, “Aku nggak apa-apa,” bahkan ketika isi kepalanya berisik sepanjang malam.

Tak ada yang tahu betapa sering ia menangis diam-diam di kamarnya agar suaranya tidak terdengar.

Tak ada yang tahu kalau akhir-akhir ini ia bahkan malas membuka media sosial karena hidup orang lain terlihat begitu menyenangkan, sementara ia merasa dirinya tidak seberuntung itu.

“Nangis boleh kok,” kata pria itu pelan. “Manusia bukan robot.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Naya menangis tanpa menahannya sedikit pun.

Hujan masih turun. Kendaraan masih berlalu lalang. Orang-orang masih sibuk dengan urusannya. Tetapi malam itu, di halte kecil yang hampir terlupakan, ada seseorang yang akhirnya jujur pada dirinya sendiri bahwa ia lelah.

Beberapa menit kemudian, tangis Naya mulai mereda. Ia menghapus air matanya pelan.

“Kalau hidup seberat ini … nanti bakal membaik nggak, ya?”

Pria itu tersenyum kecil.

“Hujan aja tahu kapan harus berhenti. Masa luka manusia nggak sih?”

Naya terdiam.

Mungkin hidup tidak selalu menghadiahkan jawaban cepat. Kadang yang bisa dilakukan hanya bertahan dan terus melangkah.

Dan mungkin, dewasa memang tentang belajar menerima bahwa tidak semua kehilangan harus kembali, tidak semua luka harus segera sembuh. Beberapa rasa sakit hanya akan berubah menjadi bagian dari diri kita.

Malam semakin larut. Hujan mulai mereda.

Naya berdiri perlahan sambil menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Tidak sepenuhnya sembuh, namun tidak sepenuhnya membaik juga. Tapi setidaknya, cukup untuk melanjutkan hidupnya esok hari.


Penulis: Julia Sabela



Editor: Chalisa Najla Safira




08 Mei 2026

Sepasang Sepatu Usang dan Mimpi yang Tak Pernah Padam

 

Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com- Pagi itu, suasana di SMA Nusa Bangsa terlihat lebih ramai dari biasanya. Siswa-siswi berlarian di lapangan dengan semangat. Di tengah keramaian itu, tampak seorang siswa justru berjalan pelan sambil menunduk. Ia adalah Andre. Sepatu yang dipakainya tampak usang dengan tali yang hampir putus. 

Andre berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai sopir angkot, sedangkan ibunya pedagang kue kecil-kecilan di rumah. Keadaan itu sering membuat Andre merasa minder dengan teman-temannya. 

"Kenapa murung gitu, Dre?" tanya Raka, sahabatnya. 

Andre tersenyum kecil. "Kadang aku malu, Rak. Sepatuku begini, buku tugasku juga belum lengkap."

Raka menepuk pundaknya pelan. "Bukan soal apa yang kamu pakai, tapi sejauh mana kamu mau berjuang."

Ucapan itu membuat Andre terdiam. 

Dua hari lagi sekolah akan mengadakan lomba pidato antarsiswa. Pemenangnya akan menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti perlombaan tingkat kota. Melihat pengumuman di mading, Raka langsung menoleh ke arah Andre. 

"Kamu ikut, kan?"

Andre menggeleng cepat. "Aku nggak mungkin menang. Banyak yang lebih hebat, Rak."

"Jangan ngeremehin diri sendiri. Kamu punya kemampuan berbicara yang bagus," balas Raka yakin. 

Awalnya Andre ragu, tetapi akhirnya ia memberanikan diri untuk mendaftar. 

Tepat di hari perlombaan dimulai, aula sekolah terasa menegangkan. Satu per satu peserta tampil membawakan pidatonya. Andre yang duduk di kursi peserta terus menggenggam kertas dengan tangan gemetar. 

Ketika nomor undiannya dipanggil, ia berjalan perlahan menuju podium. Napasnya terasa berat. 

"Saya percaya..." ucap Andre pelan, "...bahwa mimpi tidak pernah memilih siapa yang pantas. Kadang justru mereka yang berjalan dengan keterbatasan adalah orang-orang yang paling kuat bertahan."

Suasana aula mendadak hening. 

Semakin lama suara Andre terdengar semakin mantap. Kata demi kata keluar dengan penuh keyakinan. Semua siswa memperhatikannya dengan serius, sementara beberapa guru terlihat tersenyum bangga dari bangku belakang. 

Saat pengumuman pemenang tiba, Andre hanya bisa menunduk pasrah. 

"Juara pertama lomba pidato diraih oleh...
Andre Bagaskara!"

Tepuk tangan langsung memenuhi aula. Andre terpaku sesaat, seolah tidak percaya namanya dipanggil. Raka berdiri paling depan sambil bersorak bangga. 

"Selamat, Dre!"

Andre tersenyum haru. Untuk pertama kalinya, ia merasa dirinya benar-benar berarti. 

Sebelum pulang, Pak Angga menghampirinya. 

"Kamu anak hebat, Andre," ujarnya. "Jangan pernah malu dengan keadaanmu. Tidak semua orang yang hidup sederhana kehilangan kesempatan untuk berhasil."

Andre mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. 

Hari itu, Andre belajar satu hal penting. Terkadang mimpi besar memang lahir dari langkah-langkah kecil dan perjuangan yang tiada henti.


Penulis: Julia Sabela


Editor: Chalisa Najla Safira

06 Mei 2026

Mimpi dari Bangku Paling Belakang

Foto: Pexels 

www.lpmalkalam.com- Zayyan, siswa yang selalu duduk di bangku paling belakang. Bukan karena malas, tetapi karena Zayyan sering datang terlambat ke sekolah sebab harus membantu ibunya menyiapkan jualan di pasar terlebih dahulu. 

Pagi ini, guru wali kelas memberikan tugas sederhana untuk siswa. Seluruh siswa diberikan waktu untuk menuliskan cita-cita mereka pada selembar kertas dan kemudian diceritakan di depan kelas. 

Suasana kelas sangat ramai. Teman-teman Zayyan sangat bersemangat menceritakan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi polisi, guru, bahkan pilot. Namun, Zayyan hanya diam sambil menatap kertas kosong di mejanya.

Guru wali kelas menyadari hal itu.

"Kenapa belum ditulis, Yan?" tanyanya.

"Saya takut cita-cita saya terlalu tinggi, Bu," ucap Zayyan sambil menunduk.

"Memangnya apa cita-citamu?" 

Zayyan menarik napas pelan sebelum menjawab.

"Saya ingin jadi dokter. Saya ingin membantu orang sakit yang tidak punya biaya, seperti ibu saya."

Ibu guru tersenyum haru. "Gak ada cita-cita yang terlalu tinggi kalau kamu sertai dengan doa dan usaha," ucapnya sambil tersenyum.

Kalimat itu membuat Zayyan kembali bersemangat. Ia mulai menulis cita-citanya dengan penuh keyakinan.

Usai waktu yang diberikan habis, siswa diminta untuk membacakan apa yang mereka tulis di depan kelas.

Hingga tiba giliran Zayyan.

Dengan suara yang sedikit bergetar, Zayyan membacakan tulisannya.

"Saya belajar bahwa pendidikan tidak melihat siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang paling mau belajar dan berusaha. Saya percaya dengan doa dan usaha, suatu hari nanti bisa membawa saya menjadi dokter untuk membantu banyak orang dan membahagiakan keluarga saya." 

Suasana kelas menjadi hening, banyak siswa yang tersentuh mendengar kalimat Zayyan.

Usai Zayyan membacakan tulisannya, Ibu guru menghampirinya.

"Jangan pernah berhenti bermimpi ya, Yan. Sekolah akan membantu siswa yang mau berjuang," ujarnya sambil tersenyum.

Hari ini, untuk pertama kalinya Zayyan merasa mimpinya bukanlah hal yang mustahil. Dari bangku paling belakang, Ia yakin bahwa pendidikan bisa membawanya ke masa depan yang menjanjikan.


Penulis: Chalisa Najla Safira

Editor: Tiara Khalisna

Mengenai Saya

Foto saya
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al – Kalam adalah salah satu lembaga pers mahasiswa guna mengembangkan bakat jurnalis muda yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.

Redaksi Al-Kalam

Nama

Email *

Pesan *

LPM AL-Kalam UIN SUNA Lhokseumawe, 0812-6983-7115 (Pemimpin Redaksi) 0853-5944-2144 (Sekretaris Redaksi) Alamat:Jl. Medan Banda Aceh,Alue Awe,Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Diberdayakan oleh Blogger.