![]() |
| Foto: Kompas.com |
Kondisi tersebut diduga dipengaruhi asap kiriman dari provinsi lain, terutama Sumatera Selatan dan Jambi, di tengah meningkatnya jumlah titik panas di Pulau Sumatera. Dikutip dari Kompas.com dalam pemberitaan mengenai kabut asap pekat yang menyelimuti Pekanbaru pada Kamis (8/10).
Kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru berdampak pada kualitas udara dan aktivitas masyarakat, terutama warga yang beraktivitas di luar ruangan. Kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, orang lanjut usia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, Warjono, mengatakan bahwa kabut asap yang menyelimuti Riau merupakan kiriman dari wilayah lain.
“Kabut asap di Riau (kiriman) dari provinsi sebelah bagian selatan,” kata Warjono saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Selasa.
Sementara itu, jumlah titik panas di Pulau Sumatera mengalami peningkatan. Berdasarkan laporan Kompas.com, jumlah titik panas yang terdeteksi pada Rabu (7/10) mencapai 4.845 titik, meningkat dari sebelumnya sebanyak 3.157 titik. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 3.847 titik.
Titik panas atau hotspot merupakan indikasi adanya suhu permukaan yang relatif tinggi dan dapat berkaitan dengan kebakaran hutan maupun lahan. Meskipun demikian, keberadaan titik panas tidak selalu memastikan terjadinya kebakaran sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh petugas di lapangan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan, sebanyak 3.311 titik panas terdeteksi di wilayah tersebut dalam periode 24 jam hingga Kamis (8/10/2026) pukul 06.00 WIB. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 2.063 titik, disusul Kabupaten Musi Banyuasin dengan 643 titik. Dikutip dari Kompas.com dalam pemberitaan mengenai 3.311 titik panas yang terdeteksi di Sumatera Selatan dan Kabupaten OKI sebagai wilayah dengan titik panas terbanyak pada 9 Oktober 2026.
Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumatera Selatan, Sudirman, membenarkan data tersebut berdasarkan hasil pemantauan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumsel.
“Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumsel total ada 3.311 titik panas (hotspot) di wilayah Sumsel,” kata Sudirman, Jumat (9/10/2026).
Tingginya jumlah titik panas di Sumatera Selatan menjadi perhatian karena kebakaran hutan dan lahan berpotensi menyebabkan asap menyebar ke daerah lain. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pemantauan dan penanganan karhutla secara berkelanjutan untuk mengurangi dampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Penulis: Zilfira
Editor: Redaksi







.png)

