![]() |
| Foto: IST |
Adapun sebanyak tujuh poin yang tercantum dalam surat pengumuman, dua diantaranya adalah:
1. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara daring dan/atau online, menggunakan EdLink sebagai sarana pembelajaran mencakup pengelolaan materi kuliah, interaksi antara dosen dan mahasiswa, sesuai dengan Keputusan Rektor Nomor 29 Tahun 2025 tentang Penerapan Sistem Perkuliahan Berbasis Blended Learning Menggunakan Sarana Pembelajaran EdLink.
2. Bagi mahasiswa atau dosen yang terkendala akses internet, maka diperkenankan untuk melaksanakan pembelajaran secara worksheet learning (pembelajaran berbasis tugas).
Melalui surat edaran ini, tuai tanggapan dari mahasiswa. Yudha, mahasiswa rantau asal Batu Bara sekaligus Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tadris Matematika (TMA) menyampaikan perspektifnya terhadap surat pengumuman ini. Ia menilai poin yang dituangkan dalam surat sedikit menggantung. "Menurut saya, keputusan yang dituangkan di surat edaran tersebut sedikit menggantung, tidak memiliki keputusan yang on point, dan sedikit bertele-tele, mengingat yang terdampak banjir bukan hanya mahasiswa, melainkan juga seluruh tenaga pendidik dan seluruh tenaga kerja yang berkerja di UIN. Sebaiknya kampus memberikan solusi yang paling tepat akibat bencana alam ini. Karena jika perkuliahan dilakukan secara daring, jaringan yang tersedia juga hanya Telkomsel. Dan jika memaksa menggunakan Wi-Fi di coffee shop atau tempat lain itu akan mengeluarkan uang di tengah-tengah masa sulit ini." Ia juga menyampaikan bahwa Organisasi Mahasiswa (Ormawa) UIN SUNA tengah membantu mencari solusi yang paling relevan terkait hal tersebut.
Mahasiswa lainnya, Izzat, asal Desa Trieng Meudurou, Kecamatan Syamtalira Bayu, mengatakan bahwa ia kurang setuju dengan perkuliahan yang dilaksanakan secara daring, mengingat masih ada mahasiswa yang di wilayahnya mengalami kendala jaringan. Meski sebagian wilayah listriknya sudah menyala, Izzat mengaku tempat tinggalnya yang berjarak 3 kilometer dari jalan lintas, listrik masih padam. Menurutnya, pembelajaran berbasis tugas cukup baik, namun diberikan tenggat waktu pengumpulan yang lebih lama dari biasanya.
Izzat menambahkan, pembelajaran yang akan dilaksanakan secara daring selama 14 hari ini merupakan waktu yang cukup untuknya. Namun, ia juga memikirkan mahasiswa yang tinggal di wilayah sangat terdampak, "Untuk orang yang memang terkena dampak bencana (banjir/longsor) itu kayak di Geudong, sampai rumah hanyut, keluarganya meninggal, itu (waktunya) nggak cukup. Orang itu masih memikirkan yang lain daripada kuliah. Dia memikirkan hidupnya sendiri dulu harus stabil. Soalnya orang (yang tinggal) di Lhoksukon, Matangkuli, Geudong, itu lumayan parah," jelasnya melalui pesan suara WhatsApp yang diterima oleh Kru Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam, Minggu (30/11/2025).
Qonita, mahasiswi asal Takengon yang baru mendapatkan kabar setelah empat hari terputus komunikasi dengan keluarganya mengatakan, "Sebenarnya itu (kuliah daring) sangat membantu di tengah kondisi yang seperti ini. Banyak kawan-kawan saya juga yang rumahnya sampai saat ini masih kebanjiran, bahkan ada yang barangnya gak tersisa satu pun, habis dibawa air banjir. Tapi tetap aja, walau kuliah daring, sayangnya saya tidak bisa pulang (ke kampung halaman) karena semua akses (perjalanan) putus." Ia mengaku pikirannya saat ini masih tertuju pada keluarga.
Reporter: Alya Nadila
Editor: Zuhra


