HEADLINE

Latest Post
Loading...

18 August 2018

Asa Di Tanah Pasir

Foto: Ist

www.lpmalkalam.com- Pertemuan yang diimpikan kini hanyalah hayalan. Kehilangan mungkin dapat menyadarkan tatkala  penantian kosong mengusik rasa dalam kalbu. Penantian, kata itu yang selalu terbisik di telingaku, hanya berharap dan menanti pertemuan manis kembali terjadi. Awal bulan Agustus telah berlalu hampir dua minggu lebih aku merasakan perih namun tak pernah kukatakan. Semuanya diluar dugaanku, kau telah pulang ke rumah orang tuamu karena talak cerai yang telah kujatuhkan padamu.

Tak tahu harus berbuat apa saat tutur kata itu keluar dari mulutku diselimuti rasa cemburu dan emosi. Saat ku berjalan di jalan perkampungan, penduduk kampung juga merindukanmu serta menanyakanmu padaku. Diam membisu itulah ijabahku. Ku tahu bahwa kau sudah dekat dengan masyarakat di desaku, bahkan orang tuaku memarahiku karena sayang kepada menantu mereka.


Lagi-lagi hanya terdiam bisu dengan apa yang telah terjadi. Sesekali berpikir mungkin ini hanyalah mimpi bukan kenyataan. Kesalahpahamanku telah menjebak diriku sendiri, padahal ku tak ingin kehilanganmu. Kau ikhlas hidup bersahaja namun bahagia. Kau ingin agar setiap perjumpaan kita menjadi perjumpaan manis, dihiasi selalu dengan senyuman tulusku karena bahagiamu. 

Doaku adalah sebuah keridhaan bagimu. Keluargaku dan orang-orang kampung seolah tak peduli kepadaku lagi atas apa yang telah kuperbuat. Mereka masih saja memikirkan sikap baikmu begitu juga aku. Kata mereka, aku telah membuang payung yang selalu memayungiku tatkala hujan. Masih ingatkah kau rangkuman senyuman orang saat itu? Ketika gerimis mengguyur Tanah Pasir. Kau datang dari rumah kita menjemputku ke tempat penyembelihan hewan kurban untuk makmeugang,  sore itu, kau berjalan dengan payung berwarna abu-abu di tangan kirimu, bapak-bapak yang ikut menyembelih bersamaku tersenyum ingin seperti kita berharap agar istri mereka juga datang menjemput dengan membawa payung.

Penduduk Tanah Pasir juga masih mengingat keramah-tamahanmu, memang kau menantu orang tuaku tetapi mereka juga ingin memiliki menantu sepertimu yang bersikap lemah lembut, cantik, berpakaian muslimah menutupi aurat sungguh indah berpadu dengan dirimu. Sedangkan Ayah dan Ibuku serta adik-adikku, mereka masih mengingat sekilas kisah pertemuan kita saat pertama bertemu yang kuceritakan pada mereka.

Ketika itu suasana hujan, sorotan mataku memperhatikanmu berjilbab biru langit dengan payung berwarna pelangi di tangan kanan. Wajah elok, anggun nan indah berpadu menjadi satu. Hatiku berbunga-bunga dan tubuhku terasa kaku karenamu. Lalu kakakmu Aldi, dosen di salah satu universitas ternama datang menjemputmu. Aku hanya berdiri di halte memperhatikanmu. Lantas aku mengucapkan Astaghfirullah karena terlalu memperhatikanmu yang bukan mahramku lalu ku tersenyum sendiri. 

Tak terasa seminggu kemudian, aku datang bersama orang tuaku menempuh perjalanan yang amat jauh beranjak dari Tanah Pasir ke kampung halamanmu, bermaksud ku ingin meminangmu tetapi melakukan ta’aruf terlebih dahulu. Beberapa hari kemudian berangkat ke penghulu dan membawamu ke rumah orang tuaku.

Sempat ku bertanya mengapa kau memilihku padahal sudah banyak pria mapan dan lebih tampan dariku yang datang ingin meminangmu. Tetapi kata orang tuamu dan kakak-kakakmu, kau menginginkan suami yang bisa menjadi imammu. Kau tersipu malu saat bertemu denganku.

Kini, Ayah dan Ibuku marah kepadaku. Dari hari ke hari ibuku melihatku terpuruk dan bisa membaca sikapku yang amat mencintaimu namun kesalahpahaman datang mengusik pikiranku saat membaca pesan dari pria lain yang ternyata adik laik-laki sepupumu yang ingin menikah.

Tak ada angin tak ada hujan, api cemburu membara kukira itu pesan  dari pria lain untuk dirimu. Lantas lantang saja kusebutkan talak itu. Sekejap kau heran dengan apa yang terjadi. Air mata menetes di atas pipimu. Kau berusaha menjelaskan bahwa pria itu adik sepupumu yang ingin meminang seorang wanita dan membicarakan hal itu kepadamu lalu ke orang tuanya.

     Namun kukira kau hanya berbohong, kau bekemas memasukkan pakaianmu ke dalam tas dan beranjak keluar rumah pulang ke orang tuamu. Suara tangisanmu itu masih terekam dalam memoriku. Ingin rasanya ku memelukmu tetapi aku masih dalam keadaan emosi, kebetulan saat itu hanya ada kita berdua di rumah. Saat orang rumah pulang dan menanyakanmu, suasana rumah terasa sepi dan sunyi seketika tanpa jawaban dariku. Lalu ku mulai memberitahukan mereka apa yang telah terjadi. Terlihat ukiran kecewa di wajah mereka.

     Masih ingatkah kau? Saat kita berpayung berdua di derasnya air  hujan yang mengguyur. Kita pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Ayah dan Ibu tersenyum melihat kita seperti kenangan mereka masa muda dulu. Kita berjalan dengan payung di tangan kananku dan kuletakkan di atas bahumu tangan kiriku sedangkan kau seolah menikmati setiap langkah dalam pelukanku yang berjalan dengan gagah penuh wibawa.  Kau hanya berjalan memegang kantong plastik berisi daging makmeugang.

Sikapmu tidak dapat kuperjelaskan dengan kata-kata. Firasatku mengatakan bahwa aku mencintaimu, menyayangimu dan sakinah rasanya bersamamu. Setiap pagi sebelum ku berangkat ke kantor, kau menyalamiku, kuberikan sebuah ciuman di dahimu. Dan biasnya juga kau membuatkan kopi untuk ayahku di pagi hari, berbelanja ke pasar bersama ibuku, rasa sayang kepada menantu mereka semakin tumbuh saja namun apa yang telah kuperbuat.

Jalanan di desa Tanah Pasir semakin terasa sepi. Suara gerimis hujan terdengar jelas. Kini hanya genangan rindu yang ada. ‘’Syahril, mengapa kau lakukan itu pada istrimu, nak.’’ Tanya ibuku dengan sedih. Beliau tahu bahwa aku mencintaimu bahkan saat talak itu sudah kujatuhkan seolah ada sesuatu yang hilang dari diriku. 

‘’Syahril....Syahril...., kau telah mengecewakan bapak!’’ ucap ayahku lalu masuk ke kamar setelah mengatakan hal itu di koredor depan rumah.

Air mata pun jatuh membasahi pipiku. Lalu ibuku mengatakan ‘’laki-laki boleh menangis tapi ingat nak....tangisan seorang laki-laki hanya untuk sesuatu yang dianggapnya berharga.’’ 
‘’Berilah aku saran, Bu. Aku ingin Aicha kembali kepadaku, Bu....aku benar-benar pusing apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya. Aku khawatir akan berdampak buruk terhadap diriku. Maafkan aku, Bu....!’’
‘’Mintalah maaf pada Aicha. Pergilah mintalah maaf padanya, pinang dia kembali.’’ tutur Ibuku.

Kemudian beranjak dari kafilah timur ke barat dimana kampung Aicha. Tanpa sepengetahuanku juga orang tuaku menghubungimu sebelum aku tiba di rumah orang tuamu. Semuanya telah di beritahukan orang tuaku padamu Aicha apa sebab peristiwa terjadi.

Ayah dan ibuku hanya ingin melihat bagaimana tindakanku. Semua kucurahkan di depanmu. ‘’Jika kesabaran tak cukup mengingatkan mungkin kehilangan dapat menyadarkan.’’ Kau hanya berdiri memperhatikanku yang meminta maaf dan kembali meminangmu disekelilingi keluarga kita. Kau menetekan air mata dan berjalan ingin memelukku namun sekejap langkahmu terhenti, kita harus berijab-kabul  terlebih dahulu.

Orang-orang tertawa bahagia melihat tingkah kita saat itu. Memang ku tidak salah memilih. Sebagaimana hujan mengikis sampah, tangis pun dapat membuang emosi hingga kembali bersih lalu tersenyum dan bangkit menyambut harapan. Maafkan aku jika tidak bisa sempurna karena aku bukan lelaki yang turun dari surga. Ketulusan hatimu anugerah hidupku. Doakan langkah kita tak terpisah untuk selamanya. 

Khairizad Akmal, Mahasiswa IAIN Lhokseumawe jurusan Bahasa Inggris serta Cerpenis dan merupakan alumni Pesantren Modern Misbahul Ulum.
banner
Previous Post
Next Post
Comments
0 Comments

0 comments:

Pers Mahasiswa AL-Kalam, IAIN Lhokseumawe Phone. 0852 6017 5841 (Pimpinan Umum). Powered by Blogger.